REFLEKSI : MENGEJAR TANDA YANG TAK PERNAH SIRNA
Wawan Supriatna
Seminggu yang lalu, berbincang dengan teman yang menyukai ragam keunikan dari benda-benda keramat – keris, pedang, dan perkakas zaman dulu - dengan penuh semangat menjelaskan keterkaitan keris dengan tipologi seorang manusia, hal ini mungkin selalu memiliki tanda berkelindan antara tanda yang satu dengan tanda lainnya.
Tentu saja, membahas tentang tanda atau semiotika akan membawa kita pada pemikiran tokoh-tokoh seperti Ferdinand De Saussure, Charles Sanders Pierce, atau Roland Barthes. Karena pada waktu itu bukan kelas diskusi terkait metode penelitian, saya lebih menggaris bawahi “hakikat semiotika” dalam kehidupan sehari-hari, ketimbang aspek teknis dalam membaca teks.
Hakikat tanda dibatasi oleh kebermaknaan. Sesuatu baru disebut tanda jika memiliki makna. Ini batasan yang sangat luas tentu saja, mengingat rasanya sulit mencari sesuatu yang tak bermakna. Tapi tetap saja ada yang tak bermakna, misalnya objek atau benda-benda di sekitar kita yang luput dari perhatian orang. Begitu objek tersebut mendapat perhatian, kemudian disematkan makna atasnya, maka dia menjadi tanda.
Bunga-bunga yang tumbuh di kebun misalnya, awalnya tak berarti apa-apa. Begitu dipetik salah satu dan dipakai untuk mengungkapkan perasaan, maka bunga itu adalah tanda. Atau kebun itu sendiri kemudian bisa menjadi tanda, ketika dimaknai bahwa sang pemilik orangnya romantis, suka kedamaian, atau penikmat keindahan.
Saussure menyebut bunga atau kebun itu sebagai penanda (signifier) yang merujuk pada suatu. Sedangkan konsep tentang rasa, romantisme, kedamaian atau keindahan yang dirujuknya (yang ada di benak kita) disebut sebagai petanda (signified).
Semua bisa menjadi penanda bagi orang yang cermat dan pengetahuannya luas. Apalagi kalau dibawa dalam pemikiran post-strukturalis yang mengandaikan makna adalah milik sang penafsir sepenuhnya, betapa tanda-tanda itu sangat dinamis. Satu tanda bisa beragam makna (polisemik) atau sebaliknya, satu makna bisa diwakili oleh berbagai tanda.
Dalam kehidupan sehari-hari, semua bisa dianggap sebagai teks yang bisa dibaca atau ditafsirkan secara semiotis, baik dalam dimensi personal atau kelembagaan. Pilihan warna, gaya penataan ruang, mode baju, sepatu, tas, lokasi pertemuan, teman makan, atau gaya bicara bisa dianggap sebagai tanda yang multitafsir.
Alam semesta raya ini, bukankah juga sebuah tanda? Mereka ada karena ada penciptanya. Mereka membentuk harmoni, karena ada yang mengaturnya. Wujud dan harmoni alam adalah penanda keberadaan Sang Pencipta. Begitulah orang beragama membaca tanda alam.
Fenomena wabah Corona Virus Disease (COVID-19) yang melanda dunia internasional, sampai sanggup memberhentikan aktifitas manusia dalam berbagai hal. Mungkin ini juga menjadi sebuah tanda, bahwa saat manusia selalu begitu banyak bergerak dan tidak terkontrol hanya bisa diberhentikan oleh “makhluk halus” yang tak nampak secara kasat mata bernama Virus. Efek berhentinya aktifitas manusia adalah adanya penanda dari Sang Pencipta juga, jika ditilik secara teologis.
Dalam kehidupan praktis, pembacaan tanda-tanda itu bahkan telah lama dimanfaatkan sejak zaman lampau dalam bentuk kearifan-kearifan lokal. Seperti para leluhur kita yang menyimpulkan pola tanda-tanda alam menjadi sebuah panduan bagi petani dalam wujud pranata mangsa ( ketentuan musim).
Di luar kenyataan ada orang yang sok tahu (sehingga semua ditafsirkan), kenapa ada orang bisa memberi makna lebih banyak dibanding yang lain? Ada orang yang bisa 'melihat' lebih banyak dibanding yang lain. Ini yang saya lupa tekankan dalam obrolan waktu itu, sebuah kaidah lama, semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang bisa kita lihat. Artinya, kemampuan kita memaknai tanda akan berbanding lurus dengan akumulasi pengetahuan dan pengalaman kita.
Lalu, apa nilai filsafat dari semiotika? Jika filsafat berarti berpikir mendalam yang akan melahirkan kearifan, pemahaman akan tanda sejatinya adalah dorongan bagi orang untuk peka terhadap sekitar. Responsif terhadap situasi. Berjuta tanda di sekitar kita. Semakin dikejar akan semakin banyak dan tak pernah sirna. Menjadi orang bijak, adalah mereka yang sadar tanda. Marilah terus belajar, agar kelak semakin banyak sisi dunia yang bisa kita simak. ***
Wallohu’alam bishowwab
Purwakarta, di Penghujung Maret 2020