PEMANFAATAN INTERNET DALAM INOVASI PEMBELAJARAN AGAMA
(Studi Perbandingan Kajian Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhamei, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, , S.Ag.,)
Mata Kuliah
Sosiologi Antropologi dan Komunikasi
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. Zaenal Mukarom, M.Si., CICS.,
Oleh:
Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, S.Sos., | 2230100017
Kurniawan, S.Sos., | 2230100011
Endang Sulistiawati, S.Sos., | 2230100014
PASCA SARJANA
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2023 M / 1444 H
KATA PENGANTAR
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Internet dan Model Pembelajaran Agama: Studi Kasus Majelis Taklim As-Suhaemi dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag.," dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah "Sosiologi-Antropologi-Komunikasi" yang dibimbing oleh Bapak Prof. Dr. H. Zaenal Mukarom, M.Si., CICS., selaku dosen pengampu mata kuliah tersebut.
Tidak lupa shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya, tabi'in tabi'in, dan kita semua sebagai umatnya, semoga mendapatkan syafaatnya di yaumil qiyamah. Amin.
Dalam penyusunan makalah ini, kami mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, di antaranya:
- Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhamei, S.Sos., yang bersedia menjadi narasumber dan memberikan informasi mengenai model pembelajaran agama yang digunakan di majelis taklim As-Suhaemi.
- Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag.,, yang bersedia menjadi narasumber dan memberikan informasi mengenai model pembelajaran agama yang digunakan di kajian online lewat zoom dan konten.
- Teman-teman sekelompok yang telah bekerja sama dengan baik dan saling membantu dalam proses pengumpulan dan analisis data, serta penyusunan makalah.
- Pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, yang telah memberikan bantuan, saran, dan motivasi kepada kami.
Penyusunan makalah ini dilakukan dengan cara melakukan studi literatur, observasi, wawancara, dan analisis data, yang dilakukan secara online melalui internet. Kami berusaha untuk menyajikan data dan informasi yang akurat, valid, dan objektif, serta menghindari kesalahan, kekeliruan, atau kebiasaan dalam penulisan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi, metode, maupun penyajian. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca, khususnya dari Bapak/Ibu dosen, agar kami dapat memperbaiki dan menyempurnakan makalah ini di masa yang akan datang.
Akhir kata, kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan wawasan bagi kami khususnya, dan bagi siapa saja yang membacanya umumnya, terutama mengenai fenomena internet dan model pembelajaran agama di era digital saat ini.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb..
| Bandung, 18 November 2023 | ||
|---|---|---|
| Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, S.Sos., |
DAFTAR ISI
KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIiii
ABSTRAKv
BAB I1
PENDAHULUAN1
A. Latar Belakang1
B. Rumusan Masalah4
C. Tujuan Penelitian4
BAB II5
KAJIAN TEORI5
A. Deskripsi Teori5
1. Teori Pembelajaran5
2. Pengertian Inovasi dan Teori Inovasi7
3. Pengertian Internet dan Media Pembelajaran8
4. Pengertian Dakwah11
BAB III13
Metode Penelitian13
A. Pendekatan dan Metode Penelitian13
B. Jenis Data dan Sumber Data13
C. Teknik Pengumpulan Data14
D. Teknik Analisis Data15
E. Uji Keabsahan Data15
BAB IV16
TEMUAN DAN PEMBAHASAN16
A. Hasil Penelitian16
1. Model Pembelajaran Agama Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos. di YouTube (AS SUHAEMI)16
2. Model Pembelajaran Agama Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, , S.Ag. (Instagram: @sahabat_hijrah_seiman, Zoom, GMeet)17
B. Pembahasan18
1. Perbandingan Model Pembelajaran Agama18
2. Relevansi Teori dengan Praktik Dakwah19
3. Tabel Perbandingan Kajian Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhamei, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, , S.Ag.,21
BAB V26
KESIMPULAN26
A. Kesimpulan26
DAFTAR PUSTAKA27
LAMPIRAN29
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pemanfaatan internet dalam inovasi pembelajaran agama, dengan melakukan studi perbandingan terhadap kajian-kajian yang diselenggarakan oleh Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhamei, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag.,. Fokus penelitian melibatkan analisis biografi keduanya, model pembelajaran agama yang diterapkan, sumber daya yang dimanfaatkan, perbandingan antara model pembelajaran keduanya, dan keterkaitan dengan teori pembelajaran dan teori komunikasi. Metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber seperti dokumen, video, website, dan media sosial, serta wawancara dengan jamaah. Hasil penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang cara kedua ustadz mengelola pembelajaran agama melalui internet, serta implikasinya terhadap praktik pembelajaran agama yang inovatif.
Kata Kunci: Internet, Pembelajaran Agama, Inovasi, Model Pembelajaran, Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, Teori Pembelajaran, Teori Komunikasi, Dakwah Online, Studi Perbandingan.
ABSTRACT
This research aims to investigate the utilization of the internet in religious learning innovation by conducting a comparative study of the lectures organized by Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos., and Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag.,. The research focuses on analyzing their biographies, applied models of religious learning, utilized resources, a comparison between their teaching models, and the correlation with learning and communication theories. A qualitative research methodology with a case study approach is employed to collect and analyze data from various sources such as documents, videos, websites, and social media, along with interviews with attendees. The results of this research provide profound insights into how both ustadz manage religious education through the internet and its implications for innovative religious learning practices.
Keywords: Internet, Religious Learning, Innovation, Learning Models, Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, , Learning Theory, Communication Theory, Online Preaching, Comparative Study.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Internet merupakan fenomena global yang tak hanya memengaruhi kehidupan manusia secara umum, tetapi juga berperan signifikan dalam transformasi berbagai aspek, termasuk dalam bidang pendidikan dan agama (Setiawan, 2015). Dalam konteks pembelajaran agama, internet telah membuka pintu peluang baru dengan memberikan akses ke proses pembelajaran yang bersifat online, fleksibel, dan interaktif.
Pemanfaatan internet dalam pembelajaran agama tidak terlepas dari berbagai media dan platform, seperti YouTube, Zoom, dan sebagainya, yang dapat berfungsi sebagai alat bantu efektif. Namun, seiring dengan manfaatnya, kita juga perlu mewaspadai tantangan dan dampak negatif yang dapat timbul, seperti ketergantungan, penyalahgunaan, dan penyebaran informasi yang tidak akurat atau bermutu rendah (Hindro, 2014).
Pembelajaran sendiri dapat dianggap sebagai suatu proses dinamis yang melibatkan perubahan perilaku, pengetahuan, sikap, atau keterampilan sebagai hasil dari berbagai pengalaman, interaksi, atau studi (Sudarsana, 2018). Proses ini dapat terjadi di berbagai tempat, waktu, dan situasi, baik secara formal, nonformal, maupun informal. Oleh karena itu, penting bagi kita memiliki model pembelajaran yang dapat memberikan kerangka kerja bagi para guru dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.
Model pembelajaran sendiri dapat diartikan sebagai representasi atau gambaran dari suatu konsep, ide, fenomena, atau sistem yang dapat digunakan untuk menjelaskan, memprediksi, atau mengontrol suatu hal. Model ini dapat berupa teori, prinsip, konsep, diagram, skema, alur, atau langkah-langkah yang mendukung guru dalam mengimplementasikan pembelajaran. Fleksibilitas model pembelajaran memungkinkan adaptasi atau pengembangan sesuai dengan bidang studi tertentu, termasuk di dalamnya bidang agama (Rohidin et al., 2015).
Agama, pada dasarnya, merupakan sistem kepercayaan dan praktik yang berkaitan dengan hal-hal yang sakral, ilahi, atau transenden. Agama memberikan kerangka nilai, norma, dan tujuan bagi para pengikutnya. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran agama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian, karakter, dan moral peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran agama perlu disajikan dengan cara yang menarik, bermakna, dan relevan dengan kehidupan nyata.
Salah satu pendekatan yang dapat diambil adalah dengan mengintegrasikan internet dan model pembelajaran agama. Kombinasi ini melibatkan penggunaan internet sebagai media pembelajaran yang memberikan sumber belajar beragam, aktual, dan otentik, sekaligus penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tujuan pembelajaran agama. Dengan demikian, kita dapat mencapai pembelajaran agama yang inovatif, kreatif, dan kolaboratif, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi, partisipasi, dan prestasi belajar peserta didik.
Salah satu bentuk inovasi dalam pembelajaran agama adalah penerapan model pembelajaran agama melalui internet. Model ini merupakan suatu pendekatan atau metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Sejalan dengan diskusi sebelumnya, internet dianggap sebagai sarana yang membuka peluang baru bagi pembelajaran agama, menghadirkan kemungkinan pembelajaran yang lebih fleksibel dan interaktif (Jailani et al., 2021).
Dalam konteks pengajaran agama, model pembelajaran agama dapat sangat bervariasi tergantung pada jenis, konten, dan sasaran pembelajaran agama yang diinginkan. Model-model ini dapat diadopsi untuk berbagai mata pelajaran agama, termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Agama Hindu, dan sebagainya. Tujuan utama dari penerapan model pembelajaran agama ini adalah untuk menjadikan pembelajaran agama lebih menarik, interaktif, bermakna, dan relevan bagi para siswa, sesuai dengan upaya mengintegrasikan internet dalam proses pembelajaran (Jailani et al., 2021).
Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk mengkaji model pembelajaran agama yang diimplementasikan oleh dua ustadz yang aktif dalam berdakwah melalui internet. Dua ustadz tersebut adalah Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhamei, S.Sos., yang menyelenggarakan majelis taklim As-Suhaemi melalui media YouTube, dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., yang melakukan kajian online lewat platform Zoom dan kontennya. Dalam konteks diskusi kita sebelumnya mengenai model pembelajaran agama, penelitian ini ingin mendalami model apa yang digunakan oleh kedua ustadz tersebut, dari mana asal model tersebut, alasan pemilihan model tersebut, teori apa yang mendasarinya, dan siapa penggagas teorinya.
Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menilai keefektifan model pembelajaran agama yang digunakan oleh kedua ustadz secara tekstual. Evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti jumlah penonton, tayangan, interaksi, testimoni, dan feedback yang diberikan oleh jamaah yang mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan oleh kedua ustadz tersebut. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam tentang kontribusi dan efektivitas model pembelajaran agama melalui internet dalam konteks dakwah online.
Penelitian ini memiliki signifikansi yang tinggi karena mampu memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang sosiologi, antropologi, dan komunikasi, yang secara spesifik terkait dengan fenomena internet dan model pembelajaran agama. Sebagai kelanjutan dari konteks sebelumnya, penelitian ini juga dapat memberikan manfaat yang konkret bagi praktisi, terutama para guru, ustadz, atau pendidik agama, yang berkeinginan untuk memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran agama yang efektif dan efisien. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan wawasan berharga bagi masyarakat, khususnya para siswa, jamaah, atau peserta didik agama, yang ingin mengakses internet sebagai sumber belajar agama yang berkualitas.
Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini, penulis akan menerapkan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam konteks penelitian sebelumnya yang membahas model pembelajaran agama melalui internet, penulis akan mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti dokumen, video, website, dan media sosial yang terkait dengan model pembelajaran agama yang diterapkan oleh kedua ustadz tersebut. Selanjutnya, penulis akan melakukan wawancara dengan sejumlah jamaah yang aktif mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan oleh kedua ustadz tersebut. Hal ini dilakukan untuk memperoleh persepsi dan pengalaman mereka terkait dengan model pembelajaran agama yang digunakan.
Proses analisis data akan dilakukan menggunakan teknik analisis isi, dengan tujuan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan data secara sistematis dan objektif. Dengan pendekatan ini, penulis berharap dapat memberikan pemahaman mendalam mengenai model pembelajaran agama yang diterapkan melalui internet oleh kedua ustadz, serta mengevaluasi keefektifan model tersebut melalui data seperti jumlah penonton, tayangan, interaksi, testimoni, dan feedback yang diberikan oleh partisipan dalam kajian-kajian agama yang diselenggarakan.
B. Rumusan Masalah
- Bagaimana kontribusi penggunaan internet dalam model pembelajaran agama terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang sosiologi, antropologi, dan komunikasi?
- Apa manfaat penerapan model pembelajaran agama melalui internet bagi praktisi, seperti guru, ustadz, atau pendidik agama, yang ingin memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran yang efektif?
- Apa model pembelajaran agama yang digunakan oleh Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., dalam dakwah mereka melalui internet, serta dari mana asal model tersebut dan teori yang mendasarinya?
- Bagaimana keefektifan model pembelajaran agama yang diterapkan oleh kedua ustadz tersebut dapat diukur secara tekstual, dengan mempertimbangkan jumlah penonton, tayangan, interaksi, testimoni, dan feedback dari jamaah yang mengikuti kajian-kajian mereka?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun, berikut adalah tujuan penelitian yang dapat diturunkan:
- Untuk mengetahui bagaimana kontribusi penggunaan internet dalam model pembelajaran agama terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang sosiologi, antropologi, dan komunikasi?
- Untuk mengetahui apa saja manfaat penerapan model pembelajaran agama melalui internet bagi praktisi, seperti guru, ustadz, atau pendidik agama, yang ingin memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran yang efektif?
- Untuk mengetahui apa model pembelajaran agama yang digunakan oleh Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., dalam dakwah mereka melalui internet, serta dari mana asal model tersebut dan teori yang mendasarinya?
- Untuk mengetahui bagaimana keefektifan model pembelajaran agama yang diterapkan oleh kedua ustadz tersebut dapat diukur secara tekstual, dengan mempertimbangkan jumlah penonton, tayangan, interaksi, testimoni, dan feedback dari jamaah yang mengikuti kajian-kajian mereka?.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Teori Pembelajaran
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan dua teori utama, yaitu teori pembelajaran kognitif dan teori pembelajaran konstruktivis.
Teori pembelajaran Kognitif
Teori pembelajaran kognitif menyoroti kemampuan berpikir kompleks dan kemampuan pemecahan masalah dalam proses pembelajaran. Salah satu kontributor utama dalam pengembangan teori ini adalah psikolog Swiss, Jean Piaget, yang memberikan penekanan khusus pada perkembangan kognitif individu melalui serangkaian tahapan (Ni’amah & Hafidzulloh, 2021).
Jean Piaget merumuskan konsep ini pada tahun 1920-an dan 1930-an, didasarkan pada observasinya terhadap anak-anak. Teori Pembelajaran Kognitif menawarkan pandangan bahwa pembelajaran melibatkan proses mental seperti memori, persepsi, dan pemecahan masalah. Dalam konteks pembelajaran agama, teori ini sangat relevan karena membantu kita memahami bagaimana siswa mengelola dan memproses informasi agama melalui internet.
Teori Pembelajaran Kognitif Piaget dibagi menjadi empat tahap perkembangan, yaitu sensory-motor, praoperasional, dan concrete operational. Tahap-tahap ini mencerminkan evolusi kemampuan kognitif individu dalam memahami dunia sekitarnya. Dalam konteks majelis online As-Suhaemi, penerapan Teori Pembelajaran Kognitif dapat dilihat melalui berbagai metode presentasi dan diskusi agama yang merangsang pemikiran kompleks peserta.
Asumsi dalam teori ini adalah bahwa individu dianggap sebagai struktur kognitif yang berkembang seiring waktu. Dengan kata lain, siswa tidak hanya memahami informasi agama secara pasif, tetapi mereka aktif terlibat dalam konstruksi pengetahuan mereka sendiri. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran agama yang menggunakan internet, seperti yang terlihat dalam majelis online As-Suhaemi, harus dirancang untuk merangsang perkembangan kognitif siswa melalui interaksi yang mendorong pemikiran kompleks dan pemecahan masalah (Ni’amah & Hafidzulloh, 2021).
Teori Pembelajaran Konstruktivitas
Teori pembelajaran konstruktivis menganjurkan pembangunan kompetensi, pengetahuan, atau keterampilan secara mandiri oleh peserta didik, dengan bimbingan dari pendidik melalui berbagai rancangan pembelajaran. Prinsip dasar teori ini adalah bahwa pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi atau bentukan. Dalam pandangan konstruktivis, pengetahuan dipahami sebagai hasil dari konstruksi kognitif individu, yang terbentuk melalui aktivitas dan interaksi dengan realitas sekitar (Urfany et al., 2020).
Teori ini memiliki akar pada konsep konstruktivisme yang diperkenalkan oleh Jean Piaget dan diperluas oleh teoretikus pendidikan, termasuk Lev Vygotsky. Piaget mengembangkan gagasan konstruktivisme pada awal abad ke-20, sementara Vygotsky menekankan peran interaksi sosial dalam pembangunan pengetahuan. Dalam konteks pembelajaran agama, Teori Pembelajaran Konstruktivis memberikan wawasan tentang bagaimana siswa secara aktif membangun pemahaman agama melalui penggunaan internet.
Contoh implementasi teori ini dapat dilihat dalam pendekatan pembelajaran agama yang digunakan oleh Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., melalui kajian online melalui zoom dan konten internet lainnya. Dalam hal ini, peserta didik tidak hanya menerima informasi agama secara pasif tetapi aktif terlibat dalam proses konstruksi pengetahuan mereka sendiri. Asumsi utama teori ini adalah bahwa pembelajaran lebih efektif ketika siswa terlibat secara aktif, berinteraksi dengan informasi, dan membangun pemahaman mereka sendiri. Dengan demikian, pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran agama melalui internet dapat merangsang partisipasi dan pemahaman yang lebih dalam dari peserta didik.
Teori pembelajaran kognitif dan teori pembelajaran konstruktivis memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah keduanya menekankan pada proses mental yang terjadi dalam belajar, serta menganggap bahwa belajar adalah suatu proses aktif yang melibatkan interaksi antara individu dan lingkungannya. Perbedaannya adalah teori pembelajaran kognitif lebih menekankan pada tahapan perkembangan kognitif yang bersifat universal dan sekuensial, sedangkan teori pembelajaran konstruktivis lebih menekankan pada konstruksi pengetahuan yang bersifat individual dan situasional. Teori pembelajaran kognitif juga lebih menekankan pada penggunaan media yang dapat menstimulasi berbagai indera, sedangkan teori pembelajaran konstruktivis lebih menekankan pada penggunaan media yang dapat menimbulkan konflik kognitif (Urfany et al., 2020).
Teori pembelajaran kognitif dan teori pembelajaran konstruktivis relevan dan terkait dengan penelitian ini, karena penelitian ini ingin mengkaji model pembelajaran agama yang menggunakan internet sebagai media pembelajaran. Internet dapat memberikan berbagai kemudahan, kecepatan, dan keterjangkauan dalam mengakses informasi, sumber belajar, dan komunikasi antara guru dan siswa. Internet juga dapat membantu guru dalam menyajikan materi pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan variatif dengan menggunakan berbagai aplikasi, situs, atau platform online. Namun, internet juga memiliki tantangan dan dampak negatif yang harus diwaspadai, seperti ketergantungan, penyalahgunaan, atau penyebaran informasi yang tidak benar, tidak sesuai, atau tidak bermutu. Oleh karena itu, model pembelajaran agama yang menggunakan internet harus dilakukan dengan bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Guru harus mampu memilih, mengevaluasi, dan memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran agama yang efektif dan efisien, serta mengawasi dan membimbing siswa dalam penggunaan internet yang aman, sehat, dan bermanfaat. Siswa juga harus memiliki kesadaran, keterampilan, dan sikap positif dalam mengakses internet sebagai sumber belajar agama yang berkualitas. Teori pembelajaran kognitif dan teori pembelajaran konstruktivis dapat mendukung, menjelaskan, atau memecahkan masalah penelitian ini, dengan memberikan kerangka berpikir dan berbagai prinsip, hukum, atau aturan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam merancang, menerapkan, dan mengevaluasi model pembelajaran agama yang menggunakan internet.
2. Pengertian Inovasi dan Teori Inovasi
Inovasi merujuk pada pengenalan ide baru, praktik, atau produk yang dapat membawa perubahan signifikan dalam suatu konteks. Inovasi tidak hanya mencakup pengembangan teknologi baru, tetapi juga mencakup perubahan dalam metode, strategi, atau pendekatan dalam suatu bidang. Teori Inovasi, di sisi lain, mencoba menjelaskan proses dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan, penyebaran, dan implementasi inovasi (Abadi, 2015).
Ada beberapa teori inovasi yang signifikan, salah satunya adalah Teori Diffusion of Innovations yang dikembangkan oleh Everett Rogers. Teori ini mengidentifikasi lima tahap dalam proses difusi inovasi: pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Selain itu, teori ini juga menggambarkan lima jenis adopter, yaitu inovator, early adopter, early majority, late majority, dan laggard (Abadi, 2015).
Dalam konteks pembelajaran agama, internet sering dianggap sebagai inovasi karena transformasinya terhadap cara pembelajaran dilakukan. Teori Inovasi membantu kita memahami bagaimana adopsi dan penyebaran inovasi, seperti penggunaan internet dalam pembelajaran agama, dapat terjadi di masyarakat. Faktor seperti kegunaan, keunggulan relatif, kesesuaian, kompleksitas, dan komunikasi berperan penting dalam proses ini. Sehingga, pemahaman tentang internet dan teori inovasi sangat relevan untuk mengoptimalkan penggunaannya dalam konteks pendidikan agama modern.
3. Pengertian Internet dan Media Pembelajaran
Internet merupakan jaringan global yang menghubungkan jutaan perangkat komputer di seluruh dunia. Dengan memanfaatkan protokol komunikasi standar, internet memungkinkan pertukaran data, informasi, dan sumber daya digital antara pengguna di lokasi yang berbeda. Internet menyediakan berbagai layanan, seperti email, pencarian web, media sosial, dan platform pembelajaran online. Dalam konteks pembelajaran agama, internet menjadi sarana yang sangat relevan untuk menyebarkan informasi agama, memfasilitasi diskusi, dan memberikan akses ke sumber daya pembelajaran yang beragam dan aktual (O’Brien, 2003).
Internet adalah suatu sistem jaringan komputer yang saling terhubung secara global dengan menggunakan paket protokol internet (TCP/IP) untuk menghubungkan perangkat di seluruh dunia. Internet memungkinkan kita berbagi informasi dan berkomunikasi dari mana saja dan dengan siapa saja. Internet juga membawa berbagai sumber daya dan layanan informasi, seperti web, email, telepon, dan berbagi berkas (Setiawan, 2015).
Internet berasal dari penelitian yang ditugaskan oleh pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1960-an untuk membangun komunikasi yang kuat dan toleran terhadap kesalahan dengan jaringan komputer. Jaringan prekursor utama, ARPANET, awalnya berfungsi sebagai tulang punggung untuk interkoneksi jaringan akademik dan militer regional pada 1980-an.
Berikut ini adalah beberapa pengertian internet menurut para ahli:
- Menurut Onno Purbo, internet adalah suatu media yang dipakai untuk mengefisiensikan proses komunikasi yang disambungkan lewat berbagai aplikasi semacam Web, VoIP, E-mail (Hindro, 2014).
- Menurut Oetomo, internet adalah singkatan atau singkatan dari international network, yang didefinisikan juga sebagai suatu jaringan komputer yang sangat besar, di mana jaringan komputer tersebut terdiri dari beberapa jaringan-jaringan kecil saling terhubung satu sama lain (Hindro, 2014).
- Menurut Supriyanto, internet adalah suatu hubungan antara berbagai jenis komputer dan juga dengan jaringan di dunia yang punya sistem operasi dan juga aplikasi yang berbeda-beda, dimana hubungan tersebut memanfaatkan kemajuan perangkat komunikasi semacam telepon dan satelit yang memakai protokol standar dalam melakukan hubungan komunikasi, yaitu protokol TCP/IP (Hindro, 2014).
- Menurut Harjono, internet adalah kumpulan dari beberapa komputer, yang bahkan dapat mencapai jutaan komputer di seluruh dunia yang dapat saling berhubungan serta saling terkoneksi satu sama lainnya (Hindro, 2014).
- Menurut Ramdhani, internet adalah jaringan komputer global yang terdiri dari jutaan komputer yang saling terhubung melalui jalur telekomunikasi, satelit, dan kabel bawah laut.
- Menurut Sibero, internet adalah jaringan komputer yang menghubungkan antar komputer secara global (Hindro, 2014).
- Menurut Drew Heywood, internet adalah jaringan komputer yang menggunakan protokol TCP/IP untuk berkomunikasi dan bertukar data (Hindro, 2014).
Sejarah internet dimulai dari penelitian yang ditugaskan oleh pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1960-an untuk membangun komunikasi yang kuat dan toleran terhadap kesalahan dengan jaringan komputer. Jaringan prekursor utama, ARPANET, awalnya berfungsi sebagai tulang punggung untuk interkoneksi jaringan akademik dan militer regional pada 1980-an (O’Brien, 2003).
Internet telah berkembang pesat sejak itu, dan sekarang mencakup jutaan jaringan dan miliaran perangkat di seluruh dunia. Internet telah mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan modern, seperti pendidikan, komunikasi, informasi, hiburan, kesehatan, dan bisnis. Internet juga memiliki dampak negatif, seperti ujaran kebencian, cyber bullying, konten ilegal, cyber crime, dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar.
Youtube, Instagram, Zoom, dan media lain di internet adalah contoh dari media pembelajaran berbasis digital yang dapat digunakan untuk berbagai bidang, termasuk pembelajaran agama. Media pembelajaran berbasis digital adalah media yang memanfaatkan teknologi digital untuk menyampaikan materi, aktivitas, dan interaksi dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran berbasis digital memiliki beberapa keunggulan, seperti:
- Meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa dalam belajar.
- Membantu siswa bekerja melalui konsep yang sulit atau kompleks dengan visualisasi dan simulasi.
- Memberikan fleksibilitas dan kemudahan dalam mengakses sumber belajar dari mana saja dan kapan saja.
- Memfasilitasi kolaborasi dan komunikasi antara siswa, guru, dan orang lain.
- Menyediakan berbagai pilihan dan variasi dalam penyajian materi dan aktivitas belajar.
- Mendukung diferensiasi dan individualisasi dalam pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa.
- Mengembangkan keterampilan abad 21, seperti literasi digital, kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan sosial.
Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan media pembelajaran berbasis digital untuk pembelajaran agama:
Youtube: Youtube adalah media sosial yang menyajikan berbagai video yang dapat ditonton, diunggah, dan dibagikan. Youtube dapat digunakan sebagai media pembelajaran agama dengan cara:
- Menonton video yang berisi materi, penjelasan, contoh, atau cerita yang berkaitan dengan agama.
- Mengunggah video yang berisi hasil karya, presentasi, atau refleksi siswa tentang agama.
- Membagikan video yang bermanfaat, inspiratif, atau edukatif tentang agama kepada orang lain.
- Berinteraksi dengan komentar, like, atau subscribe pada video yang berkaitan dengan agama.
Instagram: Instagram adalah media sosial yang menyajikan berbagai foto dan video yang dapat diposting, disukai, dan dikomentari. Instagram dapat digunakan sebagai media pembelajaran agama dengan cara:
- Memposting foto atau video yang berisi informasi, pengalaman, atau opini siswa tentang agama.
- Menyukai atau mengomentari foto atau video yang berkaitan dengan agama dari akun lain.
- Mengikuti akun yang menyediakan konten yang relevan, menarik, atau bermutu tentang agama.
- Menggunakan fitur story, live, atau reel untuk berbagi momen, aktivitas, atau ide tentang agama.
Zoom: Zoom adalah media komunikasi yang menyediakan layanan video conference, chat, dan webinar. Zoom dapat digunakan sebagai media pembelajaran agama dengan cara:
- Mengadakan pertemuan online antara siswa dan guru untuk membahas materi, tugas, atau proyek tentang agama.
- Mengadakan diskusi kelompok, seminar, atau workshop online tentang topik-topik yang berkaitan dengan agama.
- Mengadakan kelas virtual, kajian, atau pengajian online tentang agama dengan mengundang narasumber atau pemateri yang ahli atau berpengalaman.
- Mengadakan kegiatan sosial, kultural, atau spiritual online yang berkaitan dengan agama, seperti doa bersama, dzikir, atau meditasi.
4. Pengertian Dakwah
Dakwah merupakan upaya atau aktivitas untuk menyampaikan ajaran agama dan nilai-nilai spiritual dengan tujuan membimbing individu atau masyarakat agar mengadopsi keyakinan dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama tertentu. Dakwah dapat dilakukan melalui berbagai metode dan media, termasuk ceramah, tulisan, media sosial, dan kajian agama. Tujuan utama dari dakwah adalah memperkuat iman, memperbaiki moralitas, dan membimbing individu atau masyarakat menuju kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama (Aziz, 2019).
Dakwah merupakan salah satu bentuk kegiatan yang sangat penting dalam agama, terutama dalam Islam (Sukayat, 2019). Tujuan utama dari dakwah adalah untuk memperkenalkan ajaran agama kepada orang lain dan mengajak mereka untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dakwah juga bertujuan untuk memperbaiki perilaku dan moralitas seseorang serta membimbing mereka menuju jalan yang benar. Oleh karena itu, dakwah bukan hanya sebatas menyampaikan ajaran agama secara verbal, namun juga melalui tindakan dan contoh nyata yang ditunjukkan oleh para dai atau pemberi dakwah (Pirol, 2017). Hal ini bertujuan untuk memperkuat pesan yang disampaikan dan memberikan pengaruh positif pada masyarakat sekitar. Karena itu, dakwah menjadi sebuah kewajiban bagi setiap orang yang menghendaki kebaikan untuk diri sendiri dan masyarakat sekitarnya, tidak terbatas pada agama tertentu (Fauzi dkk, 2020).
Sedangkan Arti dakwah menurut bahasa, berasal dari akar kata: دَعَا – يَدْعُوْ - دَعْوَةً (da’ā, yad’ū, da’watan) yang mempunyai arti memanggil, mengundang, mengajak kepada sesuatu, mengubah dengan perkataan, tindakan, dan amal (Sukayat, 2019). Dalam hal ini, dakwah dapat diartikan sebagai upaya untuk mengajak seseorang pada kebaikan dengan cara-cara yang tepat dan halus. Konsep dakwah ini terdapat dalam Al-Qur’an yang menggunakan kata-kata dakwah yang masih bersifat umum dan mengajak pada kebaikan. Namun, dakwah juga memiliki arti khusus dalam Islam, yaitu penyampaian ajaran Islam kepada manusia, baik secara lisan, tulisan, maupun pengajaran, serta penjabaran, penerjemahan, dan pelaksanaan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya sektor politik, pendidikan, ekonomi, sosial. Oleh karena itu, dakwah dapat diartikan sebagai suatu panggilan atau ajakan kepada manusia untuk mengikuti dan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, serta memperbaiki diri dengan amal yang baik.
Dakwah di internet adalah kegiatan menyampaikan pesan-pesan Islam melalui media digital atau media sosial yang memiliki kelebihan di antaranya sesuai selera dan kebutuhan khalayak, instant feedback, praktis dan efisien. Dakwah di internet dapat mencapai jangkauan yang lebih luas dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Dakwah di internet juga dapat menarik perhatian generasi milenial yang akrab dengan teknologi dan media sosial.
Media pembelajaran adalah media yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar, baik secara formal maupun informal. Media pembelajaran dapat berupa buku, gambar, audio, video, atau media interaktif lainnya. Media pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa dalam belajar, membantu siswa bekerja melalui konsep yang sulit atau kompleks, memberikan fleksibilitas dan kemudahan dalam mengakses sumber belajar, memfasilitasi kolaborasi dan komunikasi, dan mengembangkan keterampilan abad 21.
Dakwah di internet dan media pembelajaran dapat saling berhubungan dan mendukung satu sama lain. Dakwah di internet dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat yang ingin mempelajari agama Islam, baik dari sisi teori maupun praktik. Dakwah di internet dapat menyajikan materi, penjelasan, contoh, atau cerita yang berkaitan dengan agama Islam dalam berbagai format, seperti teks, gambar, audio, atau video. Dakwah di internet juga dapat memberikan feedback, saran, atau koreksi kepada masyarakat yang ingin meningkatkan pemahaman dan amalan mereka.
Media pembelajaran juga dapat menjadi media dakwah bagi para pendidik atau pelaku dakwah yang ingin menyampaikan pesan-pesan Islam kepada siswa atau khalayak. Media pembelajaran dapat membantu para pendidik atau pelaku dakwah untuk menyusun dan menyajikan materi dakwah yang menarik, variatif, dan bermutu. Media pembelajaran juga dapat membantu para pendidik atau pelaku dakwah untuk menyesuaikan materi dakwah dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa atau khalayak. Media pembelajaran juga dapat membantu para pendidik atau pelaku dakwah untuk mengukur dan mengevaluasi hasil dakwah yang telah dilakukan.
BAB III
Metode Penelitian
A. Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi perbandingan kajian. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memahami konteks, proses, dan makna dalam pemanfaatan internet dalam inovasi pembelajaran agama. Studi perbandingan kajian digunakan untuk membandingkan dua pendekatan yang diadopsi oleh Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., dalam melakukan kajian agama melalui internet.
B. Jenis Data dan Sumber Data
Adapun secara umum jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah:
- Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya untuk keperluan penelitian (Natasya, 2023). Dalam penelitian ini, data primer diperoleh langsung dari interaksi dengan kedua ustadz dan jamaah yang mengikuti kajian mereka, baik melalui wawancara, observasi, maupun partisipasi dalam kajian online. Peneliti menggunakan pertanyaan terbuka dalam wawancara dan memperhatikan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dalam menafsirkan konsep narasumber. Oleh karena itu, peneliti meminta penjelasan lebih lanjut dari narasumber jika diperlukan. Selain itu, data primer juga diperoleh dari sumber lain yang memiliki kompetensi dalam memberikan informasi terkait penelitian.
- Data Sekunder
Data sekunder merupakan data pendukung dalam penelitian dan dapat berupa kepustakaan atau teori-teori yang terkait dengan subjek dan objek penelitian (Haki, 2020). Data sekunder melibatkan konten video, tulisan, dan materi pembelajaran yang diunggah di platform online oleh kedua ustadz..
Kemudian sumber data, sumber data adalah tempat atau asal di mana data atau informasi diperoleh untuk keperluan penelitian atau analisis (Arikunto, 2003). Sumber data dapat berasal dari berbagai sumber, baik itu data primer atau data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari sumber aslinya, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber yang telah ada sebelumnya seperti publikasi, dokumen, atau sumber lainnya. Pemilihan sumber data yang baik dan valid sangat penting dalam penelitian karena dapat mempengaruhi validitas dan reliabilitas hasil penelitian. Oleh karena itu, pemilihan sumber data yang tepat dan kredibel menjadi sangat penting dalam proses penelitian.
Dalam penelitian ini, sumber data utama berasal dari kajian online yang diselenggarakan oleh Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., melalui platform internet. Selain itu, data tambahan dapat diperoleh dari wawancara dengan jamaah yang mengikuti kajian online tersebut.
Pemilihan narasumber didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tersebut untuk memastikan bahwa data yang diperoleh dari narasumber relevan dan dapat mendukung penelitian.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah penting dalam penelitian karena data adalah tujuan utama dari penelitian (Teniwut, 2022). Tanpa teknik pengumpulan data yang tepat, peneliti tidak dapat memperoleh data yang memenuhi standar yang ditetapkan.
Teknik pengumpulan data mencakup observasi terhadap kajian online, analisis konten video dan materi ajar, serta wawancara dengan jamaah. Observasi dilakukan untuk memahami konteks dan atmosfer kajian online. Analisis konten digunakan untuk mengidentifikasi pola, tema, dan karakteristik inovasi pembelajaran agama. Wawancara dengan jamaah bertujuan mendapatkan perspektif dan pengalaman langsung terkait pemanfaatan internet dalam pembelajaran agama.
Salah satu teknik pengumpulan data yang paling independen terhadap hampir semua teknik pengumpulan data adalah teknik pengumpulan data kualitatif, yang mencakup observasi partisipan, wawancara mendalam, dan bahan dokumenter.
- Observasi Partisipan
Observasi partisipan adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui pengamatan langsung terhadap objek yang ingin diamati dengan hidup bersama dan terlibat dalam kegiatan sehari-hari dengan orang yang ingin diamati (Abdhul, 2022). Dalam teknik ini, peneliti akan terlibat langsung dalam kehidupan orang yang diamati dan bahkan mungkin mengambil bagian dalam kehidupan budaya mereka. Dengan demikian, data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak.
- Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang yang bertujuan untuk memperoleh informasi (Kurniawan, 2023). Secara umum, wawancara dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu terstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur menggunakan daftar pertanyaan atau skenario yang sudah ditentukan sebelumnya, sedangkan wawancara tidak terstruktur lebih bebas dan tidak memiliki daftar pertanyaan yang khusus. Wawancara tidak terstruktur lebih cocok digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif, karena fokusnya pada pemahaman yang lebih dalam tentang pandangan dan pengalaman responden.
- Dokumentasi
Melakukan penelitian kualitatif memerlukan lebih dari hanya observasi dan wawancara. Bahan dokumen juga penting untuk diperhatikan (Teniwut, 2022). Dokumen dapat membantu peneliti memperdalam data dengan mudah karena data sudah tersedia dan siap digunakan. Selain itu, menggunakan dokumen dapat menghemat waktu. Data dalam dokumen dapat berupa gambar, foto, video, dan lain sebagainya.
D. Teknik Analisis Data
a. Analisis Isi:
Analisis isi digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola dalam materi kajian, interaksi ustadz-jamaah, serta respons jamaah terhadap kajian-kajian tersebut.
b. Perbandingan Kajian:
Menganalisis perbedaan dan persamaan antara kajian Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., dalam hal pendekatan, materi, dan interaksi online.
E. Uji Keabsahan Data
Keabsahan data dijamin melalui beberapa langkah. Pertama, menggunakan triangulasi data dengan menggabungkan data dari berbagai sumber, seperti video kajian, materi ajar, dan wawancara. Kedua, memberikan kesempatan bagi peserta untuk memberikan feedback atau klarifikasi terhadap hasil penelitian melalui sesi validasi. Ketiga, melibatkan pihak yang ahli dalam bidang pembelajaran agama untuk melakukan validasi terhadap temuan penelitian. Dengan mengintegrasikan langkah-langkah ini, keabsahan data penelitian dapat diperkuat dan temuan yang dihasilkan menjadi lebih reliabel.
BAB IV
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Model Pembelajaran Agama Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos. di YouTube (AS SUHAEMI)
a. Deskripsi Model Pembelajaran
Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos., menjalankan model pembelajaran agama yang inovatif melalui kanal YouTube dengan nama "AS SUHAEMI." Model ini dapat dijelaskan sebagai pendekatan berbasis video yang mendalam dan terstruktur.
Ustadz Malik menyajikan kajiannya dengan memanfaatkan video sebagai medium utama. Setiap kajian disertai dengan penggunaan slide presentasi yang berisi poin-poin penting, ayat-ayat Al-Qur'an, dan ringkasan dari kitab-kitab klasik. Pendekatan ini membantu jamaah untuk memahami materi dengan lebih baik, memungkinkan mereka mengikuti arus berpikir Ustadz Malik secara sistematis.
Penggunaan multimedia juga mencakup gambar dan video yang relevan dengan topik pembelajaran. Ustadz Malik dengan bijaksana mengintegrasikan unsur-unsur ini untuk memberikan ilustrasi dan penjelasan yang lebih nyata, menjadikan materi lebih hidup dan mudah dicerna oleh jamaah.
b. Sumber dan Teori Model Pembelajaran
Model pembelajaran Ustadz Malik terinspirasi oleh dakwah Ustadz Abdus Somad, yang menekankan pentingnya berdakwah dan memanfaatkan media sebagai sarana dakwah yang efektif. Inspirasi ini mencerminkan penggunaan teknologi sebagai sarana menyampaikan pesan keagamaan.
Teori pembelajaran kognitif oleh Richard E. Mayer menjadi landasan konseptual model pembelajaran ini. Teori ini menekankan penggunaan multimedia untuk meningkatkan pemahaman dan retensi informasi. Dengan menggabungkan kata-kata dengan gambar atau video, proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih efektif.
c. Keefektifan Model
Keefektifan model pembelajaran ini tercermin dalam pertumbuhan kanal YouTube "AS SUHAEMI." Saat ini, kanal tersebut telah berhasil mencapai 6,33 ribu subscriber, menunjukkan bahwa model ini memiliki daya tarik signifikan bagi jamaah. Analisis juga dilakukan terhadap jumlah tayangan dan interaksi aktif jamaah melalui kolom komentar atau chat, yang mengindikasikan partisipasi yang tinggi dalam proses pembelajaran.
Korelasi antara keefektifan model dan penerapan teori pembelajaran kognitif dijelaskan melalui peran multimedia dalam penyampaian materi. Penggunaan visualisasi dengan tekun dan kesinambungan dalam mengaplikasikan teori tersebut menjelaskan keberhasilan model ini dalam menjangkau dan memahami audiensnya.
d. Tantangan dan Solusi
Ustadz Malik menghadapi sejumlah tantangan, seperti terbatasnya kuota internet dan masalah bahasa. Namun, beliau secara aktif mencari solusi untuk mengatasi hambatan tersebut. Strategi yang diterapkan mencakup memberikan pelatihan melogat kepada jamaah yang mungkin tidak familiar dengan logat Sunda yang digunakan. Hal ini mencerminkan adaptabilitas dan dedikasi Ustadz Malik untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang inklusif dan mendukung bagi seluruh jamaah. Selain itu, tim majelis yang membantu dalam menyelenggarakan kajian online juga menjadi bagian dari strategi untuk mengatasi tantangan teknis.
2. Model Pembelajaran Agama Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, , S.Ag. (Instagram: @sahabat_hijrah_seiman, Zoom, GMeet)
a. Deskripsi Model Pembelajaran
Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., mempraktikkan model pembelajaran berbasis webinar yang menarik melalui platform Zoom dan GMeet. Dalam model ini, setiap kajian disampaikan secara langsung oleh Ustadz Hilmi melalui aplikasi webinar tersebut.
Pentingnya interaksi langsung diutamakan dalam model ini. Jamaah dapat terlibat dalam diskusi secara real-time melalui fitur audio, video, dan chat yang disediakan oleh Zoom dan GMeet. Hal ini menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis, memungkinkan pertukaran ide, pertanyaan, dan diskusi antara Ustadz Hilmi dan jamaah.
b. Sumber dan Teori Model Pembelajaran
Ustadz Hilmi aktif dalam berbagai kegiatan dakwah, terutama melalui akun Instagram @sahabat_hijrah_seiman. Aktivitas dakwah ini mencakup kajian subuh, kajian fikih, dan kajian spesial Ramadhan. Instagram menjadi saluran efektif untuk menyebarkan informasi dan mengumpulkan audiens dari berbagai latar belakang.
Teori pembelajaran konstruktivis oleh Jean Piaget menjadi dasar konseptual model pembelajaran Ustadz Hilmi. Teori ini menekankan pada pembelajaran sebagai proses aktif di mana siswa membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Penerapan teori ini tercermin dalam fokus Ustadz Hilmi pada interaksi aktif dan diskusi dalam kajian-kajiannya.
c. Keefektifan Model
Keefektifan model pembelajaran ini dapat diukur melalui beberapa indikator, seperti jumlah peserta, testimoni, dan feedback positif. Analisis dari platform Zoom, GMeet, dan Instagram memberikan gambaran tentang sejauh mana jamaah terlibat dan mengapresiasi kajian-kajian yang diselenggarakan oleh Ustadz Hilmi.
Hubungan antara keefektifan model dan penerapan teori pembelajaran konstruktivis dianalisis untuk memahami bagaimana interaksi dan partisipasi aktif jamaah dapat meningkatkan pemahaman dan pengalaman pembelajaran.
d. Tantangan dan Solusi
Ustadz Hilmi menghadapi beberapa tantangan, terutama terkait keterbatasan teknologi. Upaya untuk mengatasi tantangan ini mencakup penerapan strategi teknologi yang lebih baik, pemilihan platform yang stabil, dan memberikan panduan teknis kepada jamaah agar dapat mengikuti kajian dengan lancar. Strategi ini mencerminkan komitmen Ustadz Hilmi dalam menciptakan pengalaman pembelajaran online yang optimal meskipun dihadapkan pada kendala teknis.
B. Pembahasan
1. Perbandingan Model Pembelajaran Agama
a. Karakteristik Keduanya
Model Pembelajaran Video Ustadz Malik:
- Medium Utama: Video melalui kanal YouTube "AS SUHAEMI."
- Struktur Pembelajaran: Terstruktur dengan menggunakan slide presentasi, gambar, dan video untuk mendukung materi kajian.
- Partisipasi Jamaah: Partisipasi jamaah terutama melalui kolom komentar atau chat, dengan keterlibatan tim majelis.
- Interaksi: Interaksi lebih terbatas, tetapi subscriber yang tinggi menunjukkan minat jamaah.
- Jadwal Kajian: Rutin diadakan setiap malam Rabu, Senin, dan Minggu.
Model Pembelajaran Webinar Ustadz Hilmi:
- Medium Utama: Webinar melalui Zoom, GMeet, dan Instagram (@sahabat_hijrah_seiman).
- Struktur Pembelajaran: Kajian disampaikan secara langsung oleh Ustadz Hilmi dengan penekanan pada diskusi dan interaksi real-time.
- Partisipasi Jamaah: Partisipasi aktif jamaah melalui fitur audio, video, dan chat, menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis.
- Interaksi: Interaksi lebih intensif dan langsung, dengan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi.
- Jadwal Kajian: Beragam, termasuk kajian subuh, kajian fikih, dan kajian spesial Ramadhan.
b. Teori Pembelajaran yang Mendasari
Penerapan Teori Pembelajaran Kognitif oleh Ustadz Malik:
- Konsep: Pembelajaran berbasis multimedia, menggabungkan kata-kata, gambar, dan video.
- Tujuan: Meningkatkan retensi informasi dan pemahaman melalui penggunaan visualisasi.
- Sumber Teori: Teori pembelajaran kognitif oleh Richard E. Mayer.
Penerapan Teori Pembelajaran Konstruktivis oleh Ustadz Hilmi:
- Konsep: Pembelajaran sebagai proses aktif siswa dalam membangun pengetahuan mereka sendiri melalui interaksi.
- Tujuan: Mendorong partisipasi aktif dan diskusi untuk memahami konsep agama.
- Sumber Teori: Teori pembelajaran konstruktivis oleh Jean Piaget.
c. Kesamaan dan Perbedaan Hasil
Kesamaan:
- Interaktivitas: Keduanya menitikberatkan pada interaktivitas, meskipun melalui medium yang berbeda.
- Partisipasi Jamaah: Mendorong partisipasi aktif jamaah dalam proses pembelajaran.
- Tujuan Akhir: Keduanya bertujuan untuk menyebarkan dan memahamkan ajaran agama secara efektif.
Perbedaan:
- Medium: Ustadz Malik menggunakan video YouTube, sedangkan Ustadz Hilmi lebih fokus pada webinar melalui Zoom, GMeet, dan Instagram.
- Struktur Pembelajaran: Ustadz Malik menggunakan slide presentasi terstruktur, sementara Ustadz Hilmi menekankan diskusi dan interaksi langsung.
- Jadwal Kajian: Jadwal kajian Ustadz Hilmi lebih bervariasi dan fleksibel.
- Penerapan Teori: Ustadz Malik mendasarkan modelnya pada teori pembelajaran kognitif, sedangkan Ustadz Hilmi pada teori pembelajaran konstruktivis.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing, memberikan variasi dalam pendekatan pembelajaran agama secara online.
2. Relevansi Teori dengan Praktik Dakwah
a. Pengaruh Teori terhadap Model Pembelajaran
Penerapan teori pembelajaran, baik kognitif maupun konstruktivis, memberikan pengaruh positif pada model pembelajaran dalam praktik dakwah.
Teori Pembelajaran Kognitif (Ustadz Malik):
- Kontribusi Positif: Model berbasis video dengan penggunaan multimedia meningkatkan retensi informasi dan pemahaman jamaah.
- Daya Tarik Visual: Visualisasi melalui slide presentasi, gambar, dan video membuat materi lebih menarik dan mudah dicerna.
- Interaksi Terbatas: Terlepas dari keterbatasan interaksi, subscriber yang tinggi menunjukkan efektivitas model dalam mencapai audiens.
Teori Pembelajaran Konstruktivis (Ustadz Hilmi):
- Pembelajaran Aktif: Model berbasis webinar mendorong partisipasi aktif dan konstruktif jamaah dalam proses pembelajaran.
- Interaksi Intensif: Interaksi langsung melalui audio, video, dan chat menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan kolaboratif.
- Pemahaman Melalui Diskusi: Diskusi langsung memungkinkan pembentukan pemahaman melalui interaksi sosial.
b. Implikasi untuk Pendidikan Agama
Temuan ini memiliki implikasi positif untuk pendidikan agama, khususnya dalam konteks pembelajaran agama Islam.
Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis:
- Teori Kognitif: Melalui penggunaan multimedia, jamaah dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis terhadap materi agama.
- Teori Konstruktivis: Pembelajaran aktif dan diskusi memperkaya pemahaman siswa dengan melibatkan mereka dalam membangun pengetahuan sendiri.
Pengalaman Pembelajaran Inklusif:
- Teori Kognitif: Model video dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, menciptakan pengalaman pembelajaran yang inklusif.
- Teori Konstruktivis: Interaksi langsung dalam webinar memberikan ruang bagi partisipasi semua individu, tanpa batasan geografis.
Pemberdayaan Guru dan Ustadz:
- Teori Kognitif: Guru dan ustadz dapat memanfaatkan teknologi multimedia untuk menyajikan materi secara lebih menarik.
- Teori Konstruktivis: Peningkatan interaksi dalam pembelajaran memperkuat peran guru sebagai fasilitator dan pendorong diskusi.
c. Rekomendasi untuk Pengembangan Model
Berdasarkan temuan penelitian, terdapat beberapa rekomendasi untuk pengembangan model pembelajaran agama di masa depan:
1. Integrasi Lebih Lanjut dengan Teknologi:
- Terus eksplorasi dan integrasikan teknologi baru yang dapat meningkatkan interaktivitas dan keterlibatan jamaah.
- Kembangkan aplikasi mobile atau platform interaktif lainnya untuk memberikan akses yang lebih mudah kepada audiens.
2. Penyelarasan dengan Kebutuhan Audiens:
- Lakukan riset lebih lanjut terkait kebutuhan dan preferensi audiens agar model pembelajaran lebih sesuai dan relevan.
- Pertimbangkan variasi bahasa dan logat untuk memastikan pengaksesan oleh berbagai lapisan masyarakat.
3. Pelatihan Pendidik:
- Sediakan pelatihan kepada pendidik dan ustadz untuk meningkatkan keterampilan dalam mengaplikasikan teori pembelajaran dalam konteks dakwah online.
- Fokuskan pada pengembangan kemampuan fasilitasi diskusi dan interaksi langsung.
4. Kolaborasi Antar-Pendidikan dan Dakwah:
- Fasilitasi kolaborasi antara lembaga pendidikan dan dakwah untuk membangun model pembelajaran yang holistik dan terpadu.
- Pertimbangkan integrasi materi agama dalam kurikulum formal untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat.
Rekomendasi ini bertujuan untuk terus memperbaiki dan memperkaya pengalaman pembelajaran agama, menjawab dinamika masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital.
3. Tabel Perbandingan Kajian Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhamei, S.Sos., dan Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, , S.Ag.,
| No. | Perbandingan Model Pembelajaran Agama | Model Pembelajaran Video Ustadz Malik | Model Pembelajaran Webinar Ustadz Hilmi |
|---|---|---|---|
| a. | Karakteristik Keduanya | ||
| 1 | Medium Utama | Video melalui kanal YouTube "AS SUHAEMI." | Webinar melalui Zoom, GMeet, dan Instagram (@sahabat_hijrah_seiman). |
| 2 | Struktur Pembelajaran | Terstruktur dengan slide presentasi, gambar, dan video. | Kajian disampaikan langsung oleh Ustadz Hilmi dengan penekanan pada diskusi dan interaksi real-time. |
| 3 | Partisipasi Jamaah | Partisipasi jamaah melalui kolom komentar atau chat di YouTube, dengan keterlibatan tim majelis. | Partisipasi aktif jamaah melalui fitur audio, video, dan chat, menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis. |
| 4 | Interaksi | Interaksi lebih terbatas, tetapi subscriber yang tinggi menunjukkan minat jamaah. | Interaksi lebih intensif dan langsung, dengan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. |
| 5 | Jadwal Kajian | Rutin diadakan setiap malam Rabu, Senin, dan Minggu. | Beragam, termasuk kajian subuh, kajian fikih, dan kajian spesial Ramadhan. |
| b. | Teori Pembelajaran yang Mendasari | ||
| 1 | Penerapan Teori Pembelajaran Kognitif oleh Ustadz Malik | Pembelajaran berbasis multimedia, menggabungkan kata-kata, gambar, dan video. | Penerapan Teori Pembelajaran Konstruktivis oleh Ustadz Hilmi |
| 2 | Tujuan | Meningkatkan retensi informasi dan pemahaman melalui penggunaan visualisasi. | Mendorong partisipasi aktif dan diskusi untuk memahami konsep agama. |
| 3 | Sumber Teori | Teori pembelajaran kognitif oleh Richard E. Mayer. | Teori pembelajaran konstruktivis oleh Jean Piaget. |
| c. | Kesamaan dan Perbedaan Hasil | ||
| 1 | Kesamaan | Interaktivitas, partisipasi aktif jamaah, tujuan akhir menyebarkan dan memahamkan ajaran agama secara efektif. | |
| 2 | Perbedaan | Medium (YouTube vs. Webinar), struktur pembelajaran, jadwal kajian, penerapan teori (kognitif vs. konstruktivis). |
No.
Relevansi Teori dengan Praktik Dakwah
a.
Pengaruh Teori terhadap Model Pembelajaran
1
Teori Pembelajaran Kognitif (Ustadz Malik)
Model berbasis video dengan penggunaan multimedia meningkatkan retensi informasi dan pemahaman jamaah.
Daya tarik visual melalui slide presentasi, gambar, dan video membuat materi lebih menarik dan mudah dicerna.
Interaksi terbatas, tetapi subscriber yang tinggi menunjukkan efektivitas model dalam mencapai audiens.
2
Teori Pembelajaran Konstruktivis (Ustadz Hilmi)
Pembelajaran aktif mendorong partisipasi aktif dan konstruktif jamaah dalam proses pembelajaran.
Interaksi intensif melalui audio, video, dan chat menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan kolaboratif.
b.
Implikasi untuk Pendidikan Agama
1
Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis
Teori Kognitif: Melalui penggunaan multimedia, jamaah dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis terhadap materi agama.
Teori Konstruktivis: Pembelajaran aktif dan diskusi memperkaya pemahaman siswa dengan melibatkan mereka dalam membangun pengetahuan sendiri.
2
Pengalaman Pembelajaran Inklusif
Teori Kognitif: Model video dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, menciptakan pengalaman pembelajaran yang inklusif.
Teori Konstruktivis: Interaksi langsung dalam webinar memberikan ruang bagi partisipasi semua individu, tanpa batasan geografis.
3
Pemberdayaan Guru dan Ustadz
Teori Kognitif: Guru dan ustadz dapat memanfaatkan teknologi multimedia untuk menyajikan materi secara lebih menarik.
Teori Konstruktivis: Peningkatan interaksi dalam pembelajaran memperkuat peran guru sebagai fasilitator dan pendorong diskusi.
c.
Rekomendasi untuk Pengembangan Model
1
Integrasi Lebih Lanjut dengan Teknologi
Terus eksplorasi dan integrasikan teknologi baru yang dapat meningkatkan interaktivitas dan keterlibatan jamaah.
Kembangkan aplikasi mobile atau platform interaktif lainnya untuk memberikan akses yang lebih mudah kepada audiens.
2
Penyelarasan dengan Kebutuhan Audiens
Lakukan riset lebih lanjut terkait kebutuhan dan preferensi audiens agar model pembelajaran lebih sesuai dan relevan.
Pertimbangkan variasi bahasa dan logat untuk memastikan pengaksesan oleh berbagai lapisan masyarakat.
3
Pelatihan Pendidik
Sediakan pelatihan kepada pendidik dan ustadz untuk meningkatkan keterampilan dalam mengaplikasikan teori pembelajaran dalam konteks dakwah online.
Fokuskan pada pengembangan kemampuan fasilitasi diskusi dan interaksi langsung.
4
Kolaborasi Antar-Pendidikan dan Dakwah
Fasilitasi kolaborasi antara lembaga pendidikan dan dakwah untuk membangun model pembelajaran yang holistik dan terpadu.
Pertimbangkan integrasi materi agama dalam kurikulum formal untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat.
BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan internet dalam model pembelajaran agama memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang sosiologi, antropologi, dan komunikasi. Penggunaan internet sebagai media pembelajaran agama memberikan manfaat yang besar bagi praktisi, seperti guru, ustadz, atau pendidik agama, yang ingin memanfaatkan internet sebagai sarana pembelajaran yang efektif.
Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos., menggunakan model pembelajaran agama berbasis video melalui YouTube dengan nama channel AS SUHAEMI. Model ini diambil dari konsep pembelajaran berbasis multimedia, dengan menggunakan kombinasi kata-kata, gambar, dan video. Keefektifan model ini dapat dilihat dari jumlah subscriber, tayangan, dan interaksi yang tinggi di channel YouTube As-Suhaemi.
Sementara itu, Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag., menggunakan model pembelajaran agama berbasis webinar melalui aplikasi zoom, gmeet, dan Instagram. Model ini diambil dari konsep pembelajaran berbasis web, dengan memberikan kesempatan kepada jamaah untuk berinteraksi secara real time. Keefektifan model ini dapat dilihat dari jumlah peserta, testimoni, dan feedback yang positif yang diberikan oleh jamaah yang mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan.
Kedua model pembelajaran ini berhasil menarik minat dan keterlibatan jamaah dalam pembelajaran agama melalui internet. Menurut data yang dikumpulkan, jamaah yang mengikuti kajian-kajian tersebut berasal dari berbagai daerah, bahkan luar negeri.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan internet dalam model pembelajaran agama memberikan kontribusi yang positif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, memberikan manfaat bagi praktisi pendidikan agama, memberikan wawasan yang berharga bagi masyarakat, dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran agama.
DAFTAR PUSTAKA
Abadi, G. F. (2015). Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis E-Learning. Tasyri’. http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/tasyri/article/view/1547
Abdhul, Y. (2022, September 22). Metode Observasi: Pengertian, Macam dan Contoh. Deepublish Store. https://deepublishstore.com/blog/metode-observasi/#5_Riyanto
Arikunto, S. (2003). Prosedur Penelitian,(cet. XII; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002). … Suprayogo Dan Topbroni, Methodologi Penelitian ….
Aziz, M. A. (2019). Ilmu Dakwah: Edisi Revisi (5th ed., Vol. 5). Kencana.
Fauzi, A., & Maghfirah, E. (2020). Problematika dakwah di tengah pandemi covid-19. Jurnal Al-Hikmah. http://alhikmah.iain-jember.ac.id/index.php/alhikmah/article/view/22
Haki, I. (2020, August 12). Data Sekunder: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya. Insanpelajar.Com. https://insanpelajar.com/data-sekunder/
Hindro, H. (2014). Pengertian Internet. … /65-Pengertian/71-Pengertian-Internet. Html, Diakses 12 ….
Jailani, M., Widodo, H., & Fatimah, S. (2021). Pengembangan Materi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam. Al-Idarah: Jurnal …. http://www.ejournal.radenintan.ac.id/index.php/idaroh/article/view/8886
Kurniawan, A. (2023, January 25). Pengertian Wawancara. Guru Pendidikan. https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-wawancara/
Natasya, N. I. (2023). Data Primer: Pengertian – Ciri dan Contohnya. Haloedukasi. https://haloedukasi.com/data-primer
Ni’amah, K., & Hafidzulloh, S. M. (2021). Teori Pembelajaran Kognivistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan Islam. Jurnal Ilmiah Mahasiswa …. https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/raushanfikr/article/view/4947
O’Brien, J. A. (2003). Pengertian Internet. Jakarta.
Pirol, A. (2017). Komunikasi dan Dakwah Islam (S. Jajuli, Ed.). Deepublish.
Rohidin, R. Z., Aulia, R. N., & Fadhil, A. (2015). Model Pembelajaran PAI Berbasis E-Learning. Jurnal Studi Al-Qur’an. http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jsq/article/view/4362
Setiawan, Y. (2015). Pengertian Internet. Diakses pada.
Sudarsana, I. K. (2018). Pengaruh model pembelajaran kooperatif terhadap peningkatan mutu hasil belajar siswa. Jurnal Penjaminan Mutu. http://www.ejournal.ihdn.ac.id/index.php/JPM/article/view/395
Sukayat, T. (2019). Ilmu Dakwah Perspektif Filsafat Mabadi ’Asyarah (I. T. Nugraha, Ed.; 2nd ed.). Simbiosa Rekatama Media.
Teniwut, M. (2022, November 22). Teknik Pengumpulan Data dan Metode Penelitian. Mediaindonesia,Com. https://mediaindonesia.com/humaniora/539107/teknik-pengumpulan-data-dan-metode-penelitian
Urfany, N., Afifah, A., & Nuryani, N. (2020). Teori Konstruktivistivisme dalam Pembelajaran. PANDAWA. https://www.ejournal.stitpn.ac.id/index.php/pandawa/article/view/625
LAMPIRAN
1. Majelis Online As-Suhaemi Ustadz H Muhammad Malik Ibrohim Suhaemi, S.Sos.,
2. Instagram Sahabat Hijrah Seiman Ustadz Muhammad Hilmi Fauzan, S.Ag