Langsung ke isi

Resensi Kitab Dakwah Berbahasa Arab

Buku "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" karya Abdullah bin Alawi Al-Haddad merupakan sebuah karya penting yang menyoroti hakikat dakwah Islam (dakwah) melalui kacamata Imam.

Al-Dakwah Al-Tammah wa Al-Tadzkirah Al-'Ammah

(Ajakan yang Sempurna dan Peringatan yang Menyeluruh)

karya Sayyid 'Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad

Kelompok 3

Mata Kuliah Filsafat dan Etika Dakwah

(Tugas Resensi Kitab/Buku Dakwah Berbahasa Arab)

Peresensi

  • Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

2230100017

  • Natsar Tasywilurrahman

2230100018

  • Ujang Asep Nasrulloh

2230100024

Resensi Buku/Kitab

Penulis:Sayyid 'Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad
Judul:“الدعوة التامة والتذكرة العامة” (Ad-Dakwah At-Tammah wa At-Tazkirah al-Ammah)
Tahun:2000 M – 1421 H
Penerbit:Dar al-Hawi Beirut
Edisi:Revisi
Ketebalan:303 Halaman

Buku "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" karya Abdullah bin Alawi Al-Haddad merupakan sebuah karya penting yang menyoroti hakikat dakwah Islam (dakwah) melalui kacamata Imam.

الدعوة التامة والتذكرة العامة (Al-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah Al-'Ammah) memiliki arti sebagai berikut:

الدعوة (al-Da'wah)= Seruan, ajakan

التامة (at-Tammah)= Yang sempurna

التذكرة (at-Tazkirah)= Peringatan

العامة (al-'Ammah)= Yang universal, menyeluruh "

Al-Da'wah At-Tammah= "Seruan/Ajakan yang Sempurna"

Wa At-Tazkirah Al-'Ammah= "Dan Peringatan yang Menyeluruh"

Jadi jika diartikan secara utuh, teks Arabnya adalah "Al-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah Al-'Ammah" bermakna "Seruan/Ajakan yang Sempurna dan Peringatan yang Menyeluruh".

Berdasarkan judul ini, dapat dipahami bahwa kitab ini mengandung ajakan kepada kebaikan serta peringatan bagi seluruh umat manusia agar senantiasa mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kitab ini dianggap sebagai karya agung dalam khazanah tasawuf dan akhlak Islam karena membahas secara mendalam tentang aqidah, ibadah, akhlak terpuji, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pendekatan diri kepada Allah melalui jalan spiritual yang sesuai syariat.

Pendekatan al-Haddad yang moderat dan fleksibel sehingga menyampaikan pesan dakwah sesuai kadar akal mad'u serta menyampaikan ilmu tata cara bergaul kepada orang-orang Islam berdasarkan lapisan dan derajat mereka, oleh sebab itu ia dijuluki Qutb al Da'wah wa al-Irsyad. Buku ini merupakan panduan praktis yang menekankan pentingnya menyampaikan risalah dakwah sesuai kapasitas khalayak dan menanamkan ilmu adab islami berdasarkan status sosialnya.

Buku ini ditulis sebagai respons terhadap krisis spiritual yang melanda masyarakat Tarim, dimana masyarakat mulai mengabaikan kewajiban agama dan kehilangan semangat untuk mempelajari agamanya. Imam al-Haddad mengamati kemunduran ini dan menulis buku ini sebagai sarana untuk memberikan bimbingan dan inspirasi kepada umat. Buku ini bertujuan untuk memberikan nasehat, kemauan, dan pelajaran bagi diri penulis sendiri dan rekan-rekan seiman dari semua lapisan masyarakat, khususnya masyarakat Hadramaut yang berada dalam bahaya kehilangan semangat spiritual.

Buku ini menggunakan pendekatan sistematis, membahas tentang kapabilitas dan kapasitas seorang da'i (pendakwah), kriteria mad'u (pendengar atau orang yang didakwahi), isi dakwah (maddah ad-da'wah), metode dakwah (tariqah ad-da'wah), sarana dakwah (wasilah ad-da'wah), dan tujuan dakwah (maqasid ad-da'wah).

  • Latar Belakang Pengarang

Sayyid 'Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad (1634-1720 M) adalah seorang ulama, sufi, dan penyair besar dari Hadhramaut, Yaman. Beliau dilahirkan di desa Ghurfat Sayhun, sebuah daerah yang terletak di Hadhramaut. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki kecintaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan.

Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam tradisi tasawuf Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah. Beliau merupakan seorang sufi yang menganut paham tasawuf moderat, yang menekankan keseimbangan antara aspek lahir dan batin dalam beribadah kepada Allah SWT. Karya-karya beliau banyak dijadikan referensi dalam studi tasawuf dan akhlak Islam, terutama di kawasan Hadhramaut dan sekitarnya.

Salah satu karya monumental beliau adalah kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" yang membahas secara mendalam tentang prinsip-prinsip dakwah dan akhlak mulia dalam Islam. Kitab ini menjadi panduan praktis bagi para da'i (pendakwah) dalam menyampaikan risalah Islam sesuai dengan kondisi dan kapasitas khalayak yang dihadapi. Selain itu, kitab ini juga menekankan pentingnya penyucian diri (tazkiyatun nafs) dan pendekatan spiritual yang sesuai dengan syariat Islam.

Kontribusi besar Al-Haddad dalam bidang tasawuf dan akhlak Islam telah membuat beliau menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dan dihormati, tidak hanya di Hadhramaut, tetapi juga di seluruh dunia Islam. Karya-karya beliau telah menjadi warisan intelektual yang berharga dan terus dipelajari hingga saat ini.

  • Isi dan Tema Kitab

Kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" karya Sayyid 'Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad membahas secara komprehensif tentang ajaran tasawuf dan akhlak dalam Islam. Tema utama yang diangkat dalam kitab ini adalah penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs) dan pendekatan diri kepada Allah SWT melalui ibadah dan mujahadah (perjuangan spiritual).

Kitab ini diawali dengan Khutbah (Mukadimah) yang merupakan pembukaan. Kemudian dilanjutkan dengan Muqaddimah (Pendahuluan) yang membahas tentang keutamaan ilmu dan akhlak.

Setelah itu, kitab ini terbagi menjadi 8 bagian utama (Asnaf) sebagai berikut:

  • Asnaf Pertama - Dakwah kepada Para Ulama (الصنف الأول - دعوة العلماء بالدين)

Bagian ini membahas tentang dakwah yang ditujukan kepada para ulama atau ahli agama, menekankan peran dan tanggung jawab mereka dalam membimbing umat.

  • Asnaf Kedua - Dakwah kepada Para Abid (Ahli Ibadah) dan Zuhud (Zuhud) (الصنف الثاني - دعوة العباد والزهاد)

Membahas dakwah untuk para ahli ibadah dan zuhud, serta menyorot kedudukan dan peran mereka dalam mengingatkan akhirat.

  • Asnaf Ketiga - Dakwah kepada Para Pemimpin, Raja, dan Penguasa Umat Islam (الصنف الثالث - دعوة الأمراء والسلاطين وولاة أمور المسلمين)

Fokus pada dakwah kepada para pemimpin dan penguasa, menjelaskan kewajiban mereka terhadap rakyat dan prinsip kepemimpinan yang adil.

  • Asnaf Keempat - Dakwah kepada Para Pedagang, Petani, dan Pengrajin (الصنف الرابع - دعوة التجار والزراع والصناع)

Membahas cara berdakwah kepada kalangan pedagang, petani, dan para pekerja di bidang kerajinan.

  • Asnaf Kelima - Dakwah kepada Kaum Miskin, Lemah, dan Para Penderita (الصنف الخامس - دعوة الفقراء والضعفاء وأهل البلاء)

Bagian ini mengupas dakwah yang ditujukan kepada kaum miskin, kaum lemah, dan mereka yang mengalami kesulitan dalam hidup.

  • Asnaf Keenam - Dakwah kepada Para Pengikut yaitu Anak-anak, Perempuan, dan Para Budak (الصنف السادس - دعوة الاتباع من الأولاد والنساء والمماليك)

Membahas cara berdakwah kepada kalangan anak-anak, perempuan, serta para budak/hamba sahaya.

  • Asnaf Ketujuh - Dakwah kepada Orang-orang yang Sibuk Beribadah dan Orang-orang yang Sibuk Bermaksiat (الصنف السابع - دعوة المشغولين بطاعة الله، ودعوة الملابسين لمعصية الله)

Bagian ini mengupas dakwah untuk dua kelompok, yaitu mereka yang sibuk beribadah dan mereka yang sibuk bermaksiat.

  • Asnaf Kedelapan - Dakwah kepada Orang-orang Musyrik dan Kafir (الصنف الثامن - دعوة المشركين وأهل الكفر)

Membahas dakwah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik dan kafir (non-Muslim).

Setelah 8 bagian utama tersebut, kitab ini ditutup dengan Khâtimah yang berisi nasihat dan peringatan. Kemudian diakhiri dengan Khâtimah al-Kitâb tentang Khawaatim al-Ummahaat as-Sab'ah li Kutub al-Hadits (Penutup Induk Tujuh Kitab Hadits).

Jadi secara keseluruhan, kitab ini mengupas secara mendalam metode dakwah kepada berbagai kalangan masyarakat dalam bingkai ajaran Islam yang komprehensif.

Dalam kitab ini, Al-Haddad menekankan pentingnya keseimbangan antara syariat (hukum Islam) dan hakikat (realitas spiritual). Beliau menjelaskan bahwa tasawuf yang benar adalah tasawuf yang berpegang teguh pada syariat Islam dan tidak menyimpang darinya. Kitab ini mengajarkan bahwa untuk mencapai kesempurnaan spiritual, seorang Muslim harus menjalani kehidupan yang seimbang antara aspek lahir (syariat) dan aspek batin (hakikat).

وضع في المسألة المسئولية عن الدعوة والأنواع المختلفة للدعوة وتوقعاتها على الأعمال. يلعب هذا الدعوة دورا حائزا للاهتمام والعلم. فإن أكبر وعداد الأدعية في السورة الثامنة من النساء يوضعونها في قواعد عملهم. في ذلك الأدعية التي تروي المؤمنين ليعاموا ما يجدوهم من العرف والتوحيد والإتقان. تركز الأدعية على أهمية الدعوة والأنواع المختلفة للدعوة التي يلعبها دورا حائزا للاهتمام والعلم. يمكن توسيع هذا الدعوة إلى مختلف المجالات والمواقع. مثلاً، يمكن للأدعية أن تتضمن أحداث عملية للتحول إلى الإسلام أو أحداث مهمة توجب على المسلمين أن يدعووا بعد وجودهم أو تجاربهم في مواقع مختلفة. توجد أدعية متنوعة تركز على مواقع مختلفة في الدعوة وأنواع الدعوة وأهدافها. مثلاً، يمكن أن يكون أحد الأدعية يتحدث عن مثل بعده أو عدد مرات تقدم إليه. ويمكن أن يكون آخر يتحدث عن مواقع مختلفة في الدعوة أو أنواع الدعوة أو أهداف الدعوة. تتمثل مهمة الدعوة في تشجيع المؤمنين ليعاموا ما يجدوهم من العرف والتوحيد والإتقان وتروي المعلومات عن الأخلاق المسلمة وتقدموا إليها. تعمل الأدعية على تشجيع المسلمين ليعملوا بصراحة وإبتداء الحركات الصحيحة وتروي عليهم ما يحتاجونه للإبراز بأكمل المعرفة والتعامل مع المواقف المعقدة والمواجهات الصحيحة بالنسب

Dalam kitab ini, Syaikh Al-Haddad meletakkan tanggung jawab dakwah di pundak para da'i (pendakwah), menjelaskan berbagai jenis dakwah, serta harapan atas amal perbuatan mereka. Beliau menempatkan dakwah sebagai tugas yang sangat penting dan bernilai ilmiah. Bahkan dalam surah An-Nisa' ayat 8, terdapat anjuran untuk berdakwah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Pada kitab ini, terdapat doa-doa yang mengingatkan kaum mukminin untuk memahami tuntunan akidah, tauhid, dan akhlak yang mulia.

Beberapa poin penting dari isi kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" karya Sayyid 'Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad diantaranya:

  • Perlunya Dakwah Islam

Penulis menyoroti pentingnya dakwah Islam dalam menyebarkan risalah Islam yang sebenarnya dan mengatasi tantangan yang dihadapi umat (komunitas Islam).

Ia menekankan pentingnya pemahaman konsep dakwah dan berbagai jenis dakwah yang penting dalam menyebarkan risalah Islam.

Penulis memberikan contoh keberhasilan penerapan dakwah Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat Nabi SAW.

  • Tugas Dakwah dan Tujuannya

Penulis menjelaskan tentang kewajiban dakwah bagi seluruh umat Islam, dengan menekankan bahwa kewajiban ini merupakan kewajiban seluruh ummat dan tidak dapat dibatasi pada individu atau kelompok tertentu saja.

Ia juga menyoroti tujuan dakwah, yang meliputi penguatan komunitas Muslim, mengatasi tantangan yang dihadapi masyarakat, dan melestarikan prinsip-prinsip Islam.

  • Adab Da'i dan Tanggung Jawab Muqallid (Pendengar)

Penulis memberikan panduan tata krama yang baik bagi da'i dan pendengarnya, antara lain cara berpakaian, duduk, dan bertingkah laku saat berdakwah.

Beliau juga membahas tentang tanggung jawab para muqallid, menekankan kewajiban mereka untuk memperhatikan dakwah yang disampaikan, mencari ilmu dari sumber terpercaya, dan menerapkan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

  • Peran Da'i dalam Dakwah dan Kualifikasinya

Penulis membahas peran da'i dalam proses dakwah, menyoroti pentingnya ilmu, ketakwaan, dan kesucian dalam pelaksanaan tugas ini.

Beliau juga memberikan penjelasan rinci tentang kualifikasi yang diperlukan untuk seorang dai yang sukses, menekankan pentingnya takwa (kesadaran Tuhan), ikhlaas (ketulusan), dan ilm (ilmu) dalam hal ini.

  • Peran Para Sahabat dalam Dakwah dan Perbedaan Dakwah dan Al-Hadath

Penulis memberikan panduan tentang peran para sahabat Nabi (saw) dalam dakwah, menekankan peran penting mereka dalam menyebarkan pesan Islam dan status mereka sebagai otoritas tertinggi dalam semua masalah iman dan amalan.

Ia juga menyoroti perbedaan antara dakwah dan al-hadath, menekankan pentingnya hadis Nabi (saw) sebagai otoritas terakhir dalam semua masalah keimanan dan amalan.

  • Metode Dakwah dan Khasiatnya

Penulis membahas berbagai metode dakwah, antara lain penggunaan argumentasi, penyampaian hikmah, dan pelaksanaan amal shaleh.

Ia juga menyoroti pentingnya menggunakan metode-metode ini secara efektif, menekankan perlunya kesabaran, ketekunan, dan ketulusan dalam melaksanakan tugas ini.

  • Kewajiban Dakwah di Masyarakat dan Dampaknya

Penulis membahas tentang kewajiban dakwah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, antara lain dakwah terhadap diri sendiri, anggota keluarga, dan orang lain dalam masyarakat.

Ia juga menyoroti dampak dakwah yang efektif, menekankan pentingnya perubahan dan transformasi baik pada individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

  • Prinsip Etika dan Nilai Akhlak Islam serta Perannya dalam Dakwah

Penulis memberikan panduan tentang prinsip-prinsip etika dan nilai-nilai moral Islam, menekankan pentingnya prinsip-prinsip tersebut dalam membentuk kehidupan umat Islam dan masyarakatnya.

Ia juga menyoroti peran prinsip-prinsip dan nilai-nilai ini dalam proses dakwah, menekankan perlunya para da'i menyampaikan pesan ini secara efektif dan konsisten.

  • Struktur Masyarakat Islam dan Komponennya

Penulis memberikan gambaran komprehensif tentang struktur masyarakat Islam, termasuk dimensi politik, hukum, ekonomi, dan sosial.

Ia juga menyoroti peran masing-masing komponen dalam keseluruhan sistem masyarakat Islam dan pentingnya mereka dalam mempromosikan dan melestarikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.

  • Masa Depan Umat dan Pentingnya Dakwah dalam Konteks Ini

Penulis memberikan visi masa depan umat, menekankan perlunya kebangkitan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam guna menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Ia juga menyoroti peran penting dakwah dalam proses ini, menekankan perlunya generasi da'i baru untuk menyampaikan pesan ini secara efektif dan tulus.

Kitab ini menekankan urgensi dakwah serta ragam metodenya yang menarik untuk dipelajari dan diamalkan. Dakwah dapat dilakukan di berbagai bidang dan tempat. Misalnya, terdapat doa-doa yang berisi peristiwa aktual keislaman seseorang atau pengalaman penting yang mendorong umat Islam untuk berdakwah setelah merasakan atau berada di situasi tertentu.

Terdapat pula doa-doa yang berfokus pada posisi dakwah yang berbeda-beda, macam-macam dakwah, serta tujuan-tujuannya. Ada doa yang membahas tentang metode dakwah tertentu atau seberapa sering metode itu diaplikasikan. Ada juga yang membahas lokasi dakwah yang beragam, jenis-jenis dakwah, atau tujuan-tujuan dakwah.

Esensi dari dakwah ini adalah untuk mengajak kaum mukminin memahami dan mengamalkan nilai-nilai akidah, tauhid, dan akhlak mulia serta menginformasikan moralitas Islami untuk diimplementasikan. Doa-doa tersebut mendorong umat Islam untuk berterus terang, mengawali gerakan kebaikan, serta memberi panduan agar mereka memiliki pengetahuan sempurna dalam menghadapi situasi rumit dan mengupayakan solusi proporsional.

Salah satu keistimewaan kitab ini adalah penjelasan yang detail mengenai adab (etika) dalam menuntut ilmu dan berdakwah. Al-Haddad memberikan panduan lengkap tentang bagaimana seorang da'i (pendakwah) seharusnya bersikap, bertutur kata, dan berinteraksi dengan mad'u (orang yang didakwahi) sesuai dengan kondisi dan status sosial mereka. Beliau menekankan pentingnya menyampaikan dakwah dengan cara yang bijaksana, lembut, dan sesuai dengan kadar kemampuan mad'u dalam menerima pesan-pesan kebaikan.

Selain itu, kitab ini juga membahas secara mendalam tentang akhlak terpuji yang harus dimiliki oleh seorang Muslim, seperti sabar, syukur, tawakal (berserah diri), zuhud (tidak terlalu mencintai dunia), dan lain sebagainya. Al-Haddad menekankan bahwa akhlak mulia merupakan salah satu tanda keberhasilan dalam penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Dengan pembahasan yang luas dan mendalam, kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" menjadi karya monumental dalam tradisi tasawuf dan akhlak Islam. Kitab ini telah menjadi sumber inspirasi dan panduan bagi banyak orang dalam menjalani kehidupan spiritual yang seimbang dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

  • Sistematika dan Gaya Penulisan

Kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" ditulis dalam satu jilid utuh yang membahas secara komprehensif topik dakwah dan akhlak dalam Islam. Meskipun hanya terdiri dari satu jilid, pembahasan di dalamnya sangat luas dan mendalam.

Salah satu keistimewaan kitab ini adalah gaya bahasa yang indah, puitis, dan memukau pembaca. Al-Haddad merupakan seorang penyair yang memiliki kemampuan sastra yang tinggi. Beliau mampu menggunakan diksi yang tepat dan merangkai kalimat dengan apik sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih berkesan dan mudah dipahami.

Selain gaya bahasanya yang memukau, kitab ini juga kuat dari sisi sumber rujukannya. Al-Haddad senantiasa menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai landasan utama dalam setiap pembahasannya. Beliau menyelipkan kutipan-kutipan dari kedua sumber utama Islam tersebut sebagai dasar argumentasi dan pedoman dalam menyampaikan nasihat serta bimbingannya.

Dari segi sistematika penulisan, kitab ini menggunakan pendekatan yang runtut dan terstruktur. Pembahasan dimulai dari penjelasan tentang hakikat dakwah, diikuti dengan pembahasan adab dan etika dakwah, metode-metode dakwah yang tepat, hingga akhlak dan budi pekerti mulia seorang da'i dan mad'u (audiens dakwah). Setiap topik diuraikan dengan jelas, rinci, dan disertai contoh-contoh yang relevan sehingga pembaca dapat memahami isi kitab dengan baik.

Dengan demikian, kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" karya Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad ini menjadi karya masterpiece dalam bidang dakwah dan akhlak Islam, yang tidak hanya kaya isi, tetapi juga disajikan dengan bahasa sastra yang indah dan merujuk kepada sumber-sumber utama Islam.

  • Signifikansi dan Pengaruh

Kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" dianggap sebagai salah satu karya agung dalam khazanah tasawuf Ahl Sunnah wal Jamaah. Meskipun bukan kitab tasawuf murni, namun pembahasan yang mendalam tentang penyucian jiwa (tazkiyat an-nafs) dan pendekatan diri kepada Allah SWT dalam kitab ini menjadikannya sebagai referensi penting dalam bidang tersebut.

Kitab ini tidak hanya menjadi rujukan utama bagi para pengikut tarekat sufi di berbagai belahan dunia, tetapi juga dijadikan pedoman oleh kaum muslimin pada umumnya dalam mengamalkan nilai-nilai spiritualitas Islam secara benar. Nasihat dan bimbingan Al-Haddad yang tertuang dalam kitab ini mampu mencerahkan hati dan membangkitkan semangat untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Signifikansi kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" juga terletak pada perannya yang besar dalam perkembangan pemikiran tasawuf dan akhlak Islam. Karya ini memberikan kontribusi penting dalam menjaga kemurnian ajaran tasawuf agar tetap berpijak pada prinsip-prinsip Ahl Sunnah wal Jamaah dan tidak menyimpang dari syariat Islam.

Selain itu, penekanan Al-Haddad pada pentingnya menyebarkan dakwah dengan cara yang bijak, santun, serta disesuaikan dengan kondisi mad'u (audiens) telah menjadi inspirasi bagi gerakan dakwah Islam di berbagai belahan dunia. Prinsip-prinsip yang digariskan dalam kitab ini memastikan bahwa dakwah Islam disampaikan dengan hikmah dan mauizatul hasanah, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an.

Hingga saat ini, kitab "Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-'Ammah" masih terus dipelajari dan menjadi rujukan bagi para pengamal spiritual, aktivis dakwah, serta pencinta ilmu Islam di seluruh penjuru dunia. Karya monumental ini meninggalkan pengaruh yang luar biasa dalam mencerahkan hati dan membimbing umat manusia menuju jalan yang lurus dan diridhai Allah SWT.

  • Telaah Kitab Ad-Da’wah At-Tammah wa At-Tazkirah al-Ammah

Menurut Syaikh Abdullah bin Alawi Al-Haddad, dakwah kepada Allah adalah sifat para nabi dan rasul serta merupakan tradisi mereka. Atas dasar tugas dakwah inilah, Allah SWT mengutus mereka. Oleh sebab itu, para pewaris nabi senantiasa melanjutkan jejak mereka dari waktu ke waktu dan dari satu kondisi ke kondisi lain dengan bersemangat dan bersungguh-sungguh mengajak manusia ke jalan Allah SWT melalui perkataan dan perbuatan karena mengharapkan ridha-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa Imam Al-Haddad menyatakan dakwah adalah tradisi para rasul dan setiap orang Muslim harus melanjutkan tradisi agung ini. Namun, beliau memberikan catatan penting bahwa tradisi agung tersebut harus dijalankan dengan niat mengharap ridha Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasul-Nya. Pengertian dakwah ini secara tidak langsung menjelaskan tentang motivasi berdakwah yang dalam pandangan Imam Al-Haddad menjadi hal sangat penting sebagai langkah awal menjalankan dakwah.

Selanjutnya, Imam Al-Haddad mengkritisi fenomena di mana ketika masyarakat melihat orang berpredikat ulama mengabaikan perintah Allah SWT dan tidak bersegera melaksanakannya, hal ini mendorong mereka untuk melalaikan perintah-perintah agama, bahkan terkadang membuat mereka berani berbuat dosa. Tanpa disadari, orang tersebut menjadi pengajak kejahatan dan pemimpin kesesatan. Di sisi lain, ulama yang ikhlas semakin sedikit dan kurang aktif berdakwah karena meyakini anggapan-anggapan keliru, di antaranya:

  • Orang yang berilmu tetapi belum mengajarkannya sehingga ia tidak mau berdakwah karena ada ancaman bagi orang yang menyembunyikan ilmu dan tidak perlu ada tambahan lagi. Imam Al-Haddad menolak dugaan yang lemah tersebut dengan menegaskan bahwa mengajarkan ilmu adalah bagian dari mengamalkan ilmu. Orang yang mau mengajarkan tetapi belum mengamalkan ilmu adalah lebih baik daripada orang yang belum mengajarkan ilmu dan tidak mau mengajar. Apabila tidak bisa melakukan seluruh kebaikan, maka tidak ada alasan untuk meninggalkan sebagian kebaikan.
  • Dakwah dan membimbing hamba-hamba Allah merupakan martabat tinggi yang termasuk sikap dan tugas para pemuka agama. Lalu ada orang yang menganggap dirinya bukan pemuka agama dan ahli berdakwah. Atas dasar rendah diri, ia meninggalkan dakwah. Ia mengira rasa rendah diri dalam hal tersebut adalah rendah diri yang terpuji dan orang lain pun mengetahui batasan kemampuannya. Namun, Imam Al-Haddad mengingatkan bahwa kebenaran tidak menghalangi kebenaran yang lain dan kebaikan tidak menyimpangkan kebaikan yang lain. Seharusnya ia tetap berdakwah atas dasar rendah diri dan mengakui kekurangan dirinya.
  • Seorang yang berilmu selalu menyibukkan diri dengan berbagai wirid dan ibadah. Ia beranggapan hal tersebut lebih utama daripada berdakwah. Imam Al-Haddad menegaskan bahwa yang benar adalah dakwah dan menyebarkan ilmu bermanfaat dengan dasar ikhlas adalah lebih utama daripada ibadah yang bersifat pribadi, karena menyebarkan ilmu, manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Syaikh Al-Haddad mengkritik fenomena merebaknya kelalaian terhadap agama di tengah masyarakat, yang menyebabkan majelis ilmu seakan menjadi berkumpulnya orang-orang lalai yang hanya sibuk membahas urusan duniawi. Akibatnya, bencana menimpa semua kalangan, baik kalangan tertentu maupun awam, kebodohan terhadap ilmu agama semakin meluas, serta demoralisasi semakin menjadi-jadi.

Kondisi ini diperparah oleh orang-orang jahil yang mengaku sebagai ulama dan menyeru umat, padahal justru mereka lebih berbahaya daripada orang jahil yang diam. Ditambah lagi dengan para ulama yang berdakwah dengan motif keduniawian sehingga terjadi kontradiksi antara ucapan dan perbuatan mereka. Imam Al-Haddad menilai hal tersebut sebagai kelemahan yang terjadi dalam Islam yang harus ditangani dengan serius.

Oleh karena itu, beliau menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi ulama untuk meninggalkan medan dakwah, khususnya bagi mereka yang seharusnya berdakwah hanya untuk mengharap ridha Allah SWT. Al-Haddad mewajibkan seorang da'i untuk memiliki niat yang baik, yaitu mencari ridha Allah, memiliki rasa simpati terhadap sesama hamba-Nya, mengharap pahala dari-Nya, dan berdakwah karena mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Dalam pandangan Al-Haddad, seseorang yang terlalu memperdalam ilmu kalam secara terperinci, terlalu terobsesi dengan ilmu fikih yang bersifat furu' (cabang) dan jarang terjadi, serta ilmu tata bahasa dan sastra, tidak termasuk dalam kategori ilmu dakwah kepada Allah. Meskipun secara umum merupakan ilmu pengetahuan, namun bukan ilmu yang bermanfaat bagi kalangan khusus maupun awam, serta bukan yang sangat dibutuhkan manusia.

Namun, Al-Haddad tidak melarang mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Beliau justru menyarankan agar seorang da'i menyandingkan ilmu-ilmu itu, terutama ilmu syariat, dengan ilmu agama yang bersifat ukhrawi. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tasawuf, yaitu ilmu yang dapat menimbulkan rasa takut kepada Allah, sarat dengan janji baik dan ancaman, mendorong zuhud (tidak terlalu mencintai dunia), dan menggiatkan beramal untuk akhirat.

Dalam pembahasan ini, Syaikh Al-Haddad menekankan urgensi dakwah yang benar dan ikhlas semata-mata karena Allah. Beliau mengkritik fenomena negatif di masyarakat seperti kelalaian beragama, ulama yang berdakwah dengan motif duniawi, serta orang-orang jahil yang mengaku ulama. Al-Haddad mewajibkan da'i untuk berniat baik dan berdakwah sesuai sunnah Rasulullah Saw. Dalam pandangannya, ilmu-ilmu seperti kalam, fikih furu', tata bahasa, dan sastra bukanlah ilmu dakwah yang sesungguhnya. Seorang da'i sebaiknya mempelajari ilmu tasawuf agar dakwahnya berdampak mendalam bagi jiwa mad'u.

Syaikh Al-Haddad secara implisit menekankan bahwa sifat kepekaan harus dimiliki oleh seorang da'i. Pada dasarnya, beliau menghendaki agar da'i memiliki sifat empati dan tidak mudah merasa puas terhadap objek dakwah, sehingga senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dan mampu mengidentifikasi dirinya dalam keadaan atau pola pikir yang sama dengan objek dakwah. Al-Haddad menjelaskan, para da'i harus sangat bersabar, menahan diri, lapang dada, bersikap lemah lembut, rendah hati, dan berperilaku baik dalam perkumpulan.

Dalam kitab "Ad-Da'wah At-Tammah", Al-Haddad mengklasifikasikan langkah-langkah dakwah ke dalam unsur-unsur dakwah sebagai berikut:

  • Da'i (Pendakwah)

Sifat-sifat kepribadian yang dipandang konstruktif dan positif oleh masyarakat harus dimiliki seorang da'i, yaitu:

  • Niat, merupakan pondasi amal bagi seseorang. Para ulama sepakat bahwa perbuatan seorang mukmin tidak akan diterima dan tidak akan mendapatkan pahala kecuali jika diiringi dengan niat yang ikhlas.
  • Ilmu, dalam konteks dakwah, Al-Haddad tidak menganggap ilmu-ilmu seperti ilmu kalam yang terlalu detail, ilmu fikih cabang yang jarang terjadi, serta ilmu tata bahasa dan sastra termasuk ilmu dakwah kepada Allah. Meskipun secara umum termasuk ilmu pengetahuan, namun bukan ilmu yang bermanfaat bagi orang khusus maupun awam, serta bukan yang sangat diperlukan manusia. Namun, bukan berarti Al-Haddad melarang mempelajari ilmu-ilmu tersebut.
  • Peka, secara implisit Al-Haddad menjelaskan pentingnya sifat kepekaan atau dalam istilah Muhammad Sayyid Al-Wakil, tanggap dan mengerti tentang kondisi dan lingkungan sekitar. Ada sebagian orang yang mampu bertanya langsung dan ada pula yang malu bertanya atau tidak sadar berbuat kesalahan, maka seorang da'i harus memiliki kepekaan dalam hal tersebut dan memberikan peringatan serta arahan.
  • Empati, sesuai dengan pandangan Syaikh Al-Haddad, seorang da'i harus memiliki sifat empati dan tidak mudah merasa puas terhadap objek dakwah, sehingga senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dan mampu mengidentifikasi dirinya dalam keadaan atau pola pikir yang sama dengan objek dakwah.
  • Mentalitas, beberapa sifat yang dianjurkan Al-Haddad bagi seorang da'i adalah aș-șabr al-iḥtimāl yang berarti sabar, sa'ah aș-șadr yang berarti lapang dada, lin al-janāḥ dan khafḍ al-janāḥ yang bermakna bersikap lemah lembut, serta ḥusn at-ta'līf yang berarti berperilaku baik dalam perkumpulan.
  • Problem solving, Al-Haddad mengharapkan seorang da'i yang menyandang predikat ulama mampu menjadi tempat berkeluh kesah dan rujukan utama ketika masyarakat mendapat permasalahan pelik, terutama masalah keagamaan. Dengan kata lain, sesuai kaidah dakwah dalam kitab Fiqh ad-Da'wah ilallāh, seorang pembawa risalah Islamiyah yang mengajak ke jalan Allah SWT hendaknya menyerupai dokter penyayang dan suka menasihati. Ia tidak memandang orang yang melanggar aturan sebagai musuh yang harus dihindari, tetapi sebaliknya, memandangnya sebagai orang sakit yang ingin sembuh dari penyakitnya.
  • Mad'u (Objek Dakwah)

Dalam kitabnya, Syaikh Al-Haddad mengkategorisasikan objek dakwah ke dalam delapan golongan, yaitu:

  • Ulama, yang secara garis besar dibagi menjadi dua; Ahlu al-'ilmi ila muntafi' bihi (Golongan berilmu yang mengamalkan ilmunya) dan Ahlu al-'ilmi ila ghairi muntafi' bihi (Golongan berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya).
  • Ahli zuhud dan ibadah, golongan ini merupakan orang-orang pilihan Allah di antara hamba-Nya, menjadi tempat pandangan-Nya dari makhluk-Nya, dan mereka dikenal sebagai Auliya' Allah.
  • Penguasa, yang sangat dibutuhkan dan menjadi keniscayaan bagi masyarakat. Namun, jabatan itu sangat membahayakan dan para penguasa berada dalam bahaya. Jika mereka melaksanakan kewajiban berupa hak Allah maupun hak manusia, mereka akan merasa lelah dan kesulitan. Sebaliknya, jika mengabaikan tugas, mereka akan rusak dan hancur.
  • Pedagang dan pekerja, di mana usaha seseorang mencari rejeki halal untuk keperluannya sendiri dan orang yang menjadi tanggungannya seperti istri dan anak adalah diperintahkan agama.
  • Fakir miskin dan kaum lemah.
  • Keluarga dan pembantu.
  • Orang taat dan orang bermaksiat dari golongan awam.
  • Orang yang tidak menjawab dakwah Allah dan Rasul-Nya serta orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang dimaksud pada golongan ini adalah orang musyrik, orang yang tidak bertuhan, dan orang yang mengingkari adanya Allah.
  • Maddah

Secara garis besar, dalam kitab Ad Da’wah at-Tammah, Imam Al-Haddad menguraikan tiga aspek maddah dakwah, yakni akidah, syariah, dan akhlak.

  • Tariqah Ad-Da’wah

Dalam kitab ini, Sayyid Abdullah Al-Haddad menjelaskan bahwa thariqah (metode) dalam berdakwah menjadi penting agar dakwah dapat diterima dengan baik oleh mad'u (objek dakwah). Beliau menekankan beberapa prinsip dalam metode dakwah, diantaranya:

  • Hikmah (Kebijaksanaan) Berdakwah dengan cara yang bijaksana, lembut, dan persuasif, bukan dengan kekerasan atau paksaan. (Kutipan teks: وَادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ)
  • Mau'izah Hasanah (Nasihat yang Baik) Menyampaikan nasihat dan peringatan dengan cara yang baik, menyentuh kalbu, bukan dengan cercaan atau celaan.
  • Bersabar dan Bertahap Bersabar menghadapi tantangan dakwah dan memberikan bimbingan secara bertahap sesuai kemampuan mad'u.
  • Meneladani Rasulullah Mengikuti teladan Rasulullah SAW dalam berdakwah dengan akhlak mulia dan cara yang bijaksana.
  • Wasilah Ad-Da’wah

Wasilah Ad-Da’wah yang digunakan oleh Imam Al-Haddad dalam konteks ini adalah melalui kitab. Dengan kata lain, Imam Al-Haddad melaksanakan dakwah bi tadwin, yakni melalui media tulis seperti kitab, majalah, dan tulisan-tulisan dakwah lainnya. Penggunaan media dakwah berupa kitab memiliki signifikansi besar bagi masyarakat Muslim, karena dianggap sebagai cara untuk mencerdaskan generasi bangsa melalui dua aktivitas mendasar, yaitu menulis dan membaca.

  • Maqasid Ad-Da’wah

Berkenaan dengan tujuan dakwah Imam Al-Haddad yang didasarkan pada Ad-Da’wah at-Tammah, beliau menyatakan bahwa kebodohan terhadap ajaran agama menghinggapi generasi saat ini. Situasi semakin memburuk, dan jalan yang benar tampaknya telah hilang, sehingga banyak dari mereka yang tidak mengetahui kebenaran dan agama. Mereka juga tidak mengetahui bagaimana cara menuju akhirat dan kembali kepada Allah.

Ketidaktahuan terhadap ajaran agama telah menjadi bencana yang merata menimpa berbagai lapisan masyarakat, baik orang bodoh, berilmu, awam, maupun orang-orang yang memiliki pengetahuan khusus. Kitab ini memiliki keistimewaan tersendiri yang dapat dilihat dari empat segi. Pertama, dari segi bahasa, karya-karya Imam Al-Haddad menggunakan bahasa Arab fusha yang tinggi, termasuk kitab Ad-Da’wah at-Tammah wa al-Tazkirah al-‘Ammah, yang tidak menggunakan logat Hadramaut sebagai bahasa sehari-hari. Hal ini membuatnya mudah dipahami bagi mereka yang telah memiliki pendidikan menengah, termasuk santri atau cendekiawan Muslim di Indonesia yang biasanya menggunakan bahan bacaan berbahasa Arab fusha.

Kedua, dari segi pendekatan, kitab ini menghadapi masalah secara rasional dan tetap mengacu pada Al-Quran dan Hadis, serta menggambarkan pengalaman Nabi, sahabat, dan ulama sebagai tolok ukur dan teladan bagi pembaca, khususnya delapan golongan yang disebutkan. Ketiga, dari segi sifat, kitab ini menunjukkan sikap berani dengan melakukan koreksi total terhadap delapan golongan tersebut, dengan sorotan-sorotan yang sesuai dengan realitas dan diungkapkan dengan kata-kata hikmah, untuk meningkatkan kesadaran dan memperbaiki diri. Keempat, dari segi materi, Imam Al-Haddad menjelaskan secara terperinci tentang susunan masyarakat secara Islam dalam kitab Ad-Da’wah at-Tammah wa al-Tazkirah al-‘Ammah, tidak mengabaikan berbagai lapisan masyarakat, baik yang berpotensi berbahaya maupun yang bermanfaat, dan memberikan arahan yang jelas tentang peran mereka dalam pembangunan.

Namun, terdapat keterbatasan pada kitab ini, yaitu dalam pengutipan hadis. Terkadang Imam Al-Haddad tidak mencantumkan sanad, perawi, atau menjelaskan kedudukan hadis tersebut. Padahal, hal ini sangat penting untuk menunjukkan validitas data dan menghilangkan keraguan pembaca.

  • Penutup

Kitab Ad-Da’wah at-Tammah wa at-Tazkirah al-‘Ammah dikarang bertepatan dengan kondisi masyarakat Hadramaut yang mengalami degradasi moral dan krisis iman. Kitab tersebut merupakan karya totalitas Imam al-Haddad yang sarat dengan nasihat dan adab-adab penting. Tujuan mendasar penulisan kitab ini untuk memberikan nasihat, wasiat, dan pelajaran kepada diri pribadi pengarang dan saudara seagama dari segenap lapisan masyarakat muslim. Pemikiran dakwah berarti sebuah proses pendayagunaan akal budi secara maksimal dalam memikirkan suatu permasalahan dakwah sebagai upaya pencarian problem solving demi tercapainya tujuan dakwah. pada kitab pemikiran Imam al-Haddad berlandaskan pada prinsip tasawuf sehingga pemikiran dakwah yang ditawarkan sejuk, toleran, mencari jalan tengah, menghindari pertentangan, kekerasan dan sikap emosional serta menekankan memperbaiki akhlak. Ringkas kata, Imam al-Haddad menyuguhkan materi dakwah yang bersesuaian dengan kerangka kehidupan delapan golongan tersebut serta sangat berkorelasi terhadap nama kitab yang ia berikan Ad-Da’wah at-Tammah wa at-Tazkirah al-‘Ammah (Kompleksitas Dakwah Sebagai Peringatan Terhadap Komponen Umat)

Buku ini memiliki beberapa keunikan, antara lain penggunaan bahasa Arab yang tinggi, pendekatan rasional yang berakar kuat pada Al-Quran dan Hadits, sikap berani mengoreksi delapan kelompok masyarakat dengan hikmah, dan cakupan yang komprehensif tentang struktur Islam. masyarakat, mengatasi aspek-aspek yang merugikan dan menguntungkan serta memberikan panduan yang jelas mengenai peran mereka dalam membangun masyarakat.

Namun, buku ini mempunyai beberapa keterbatasan, khususnya dalam pengutipan hadis. Imam al-Haddad terkadang tidak memberikan rangkaian narasi, perawi, atau menjelaskan status hadis, yang penting untuk menetapkan validitas data dan menghilangkan keraguan dari benak pembaca.

Secara ringkas, kitab “Ad-Dakwah At-Tammah wa At-Tazkirah al-Ammah” merupakan karya komprehensif Imam al-Haddad yang kaya akan nasehat dan adab-adab penting. Tujuan utama dari buku ini adalah untuk memberikan nasehat, kemauan, dan hikmah kepada diri penulis sendiri dan rekan-rekan seiman dari seluruh lapisan masyarakat. Buku ini mengikuti pendekatan terstruktur, membahas berbagai aspek dakwah dan memberikan panduan tentang cara menyebarkan agama Islam secara efektif. Namun, buku ini mempunyai beberapa keterbatasan dalam pengutipan hadits, yang merupakan aspek penting dalam menetapkan validitas data dan menghilangkan keraguan dari benak pembaca.

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Resensi Kitab Dakwah Berbahasa Arab. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca