Langsung ke isi

Al-Qur'an dan Komunikasi

Al-Qur’an dan komunikasi merupakan dua hal yang saling berhubungan di mana Al-Qur’an ialah pedoman bagi seluruh alam beserta isinya termasuk pedoman dalam berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tafsir ayat-ayat tentang bahasa dan konsep terjadinya komunikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan berbasis pada kajian pustaka dengan pendekatan tafsir tematik. Hasil penelitian menunjukan Dari enam penafsiran ayat-ayat mengenai komunikasi Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada manusia untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang berbekas pada jiwa, pantas, mulia, baik, lemah-lembut, benar, berat/bermakna, dan bahasa yang tidak mengandung dosa / haram. Sedangkan cara atau proses komunikasi berlangsung yaitu; komunikasi intrapersonal yang terletak pada penglihatan, pendengaran dan hati. Komunikasi interpersonal terletak pada etika atau cara berbicara. Komunikasi massa ialah komunikasi yang harus memiliki nilai kejujuran, keadilan, keakuratan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Terakhir ialah konsep komunikasi antar budaya atau antar agama yaitu perintah untuk saling mengenal (berkomunikasi) dengan berbagai latar belakang agama, suku,01000 bangsa, etnik dan lalin sebagainya.

Abstrak

Al-Qur’an dan komunikasi merupakan dua hal yang saling berhubungan di mana Al-Qur’an ialah pedoman bagi seluruh alam beserta isinya termasuk pedoman dalam berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tafsir ayat-ayat tentang bahasa dan konsep terjadinya komunikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan berbasis pada kajian pustaka dengan pendekatan tafsir tematik. Hasil penelitian menunjukan Dari enam penafsiran ayat-ayat mengenai komunikasi Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada manusia untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang berbekas pada jiwa, pantas, mulia, baik, lemah-lembut, benar, berat/bermakna, dan bahasa yang tidak mengandung dosa / haram. Sedangkan cara atau proses komunikasi berlangsung yaitu; komunikasi intrapersonal yang terletak pada penglihatan, pendengaran dan hati. Komunikasi interpersonal terletak pada etika atau cara berbicara. Komunikasi massa ialah komunikasi yang harus memiliki nilai kejujuran, keadilan, keakuratan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Terakhir ialah konsep komunikasi antar budaya atau antar agama yaitu perintah untuk saling mengenal (berkomunikasi) dengan berbagai latar belakang agama, suku,01000 bangsa, etnik dan lalin sebagainya.

Kata kunci: Al-Quran, Komunikasi, Bahasa Komunikasi Al-Qur’an, dan Konsep Komunikasi

Al-Qur’an.

PENDAHULUAN

Mengimani Al-Qur’an merupakan bagian rukun dalam beragama. Manusia yang di dalam hidupnya dilandasi dengan keimanan kepada Al-Qur’an akan membuahkan tutur kata yang baik. Hal demikian merupakan suatu keniscayaan atas representasi Al-Qur’an yang mengandung nilai baik yang agung. Keagungan Al-Qur’an tidak bisa disandingkan dengan tutur kata manusia bagaimanapun baiknya, alasannnya adalah bahwa sebaik-baiknya perkataan manusia merupakan pancaran kebaikan dari apa yang dituliskan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT lebih dulu mengajarkan manusia untuk berkata tidak hanya baik, namun manusia harus berbahasa yang benar, mulia, pantas, lembut dan menyentuh jiwa. Adanya Al-Quran memberikan arti bahwa bukan Allah SWT membutuhkan manusia melainkan manusia akan butuh terhadap Allah oleh karenanya manusia dibekali dasar-dasar nilai dalam bertutur kata atau berkomunikasi.

Subhan Afifi menyampaikan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat penting pada urusan komunikasi. Dalam Al-Qur’an banyak sekali disinggung terkait komunikasi misalnya pada surah Ash-Shaff ayat 2-3 membicarakan bahwa komunikasi membutuhkan pembuktian, perkataan yang diikuti dengan perbuatan.

Setiap perkataan harus memiliki konsekuensi untuk diri. Subhan juga menambahkan bahwa komunikasi verbal dalam Al-Qur’an mengandung makna berkata baik tersebut erat dengan keimanan seseorang. Orang yang beriman kata-katanya baik, terpilih, dan rapi. Adapun ragam komunikasi verbal dalam Al-Qur’an setidaknya diwakili oleh enam istilah dalam Al-Qur’an.

Istilah ini diawali dengan kata qaulan (perkataan) yaitu Qaulan Balighan atau kata yang menyentuh jiwa (Q.S An-nisa’ :63), Qaulan Maysuran atau kata yang pantas (Q.S. Al-Isra’: 28), Qaulan Kariman atau kata yang mulia (Q.S. Al-Isra’: 23), Qaulan Ma’rufan atau kata yang mulia  (Q.S An-Nissa: 5 dan 8, Q.S Al-Baqarah:235 dan 263, serta Q.S Al-Ahzab: 32, Qaulan Layiinan atau kata yang lembut (Q.S At-Thaha: 44), Qaulan Sadidan atau kata yang benar (Q.S An-nisa’: 9), Qaulan Tsaqilan atau ucapan yang berat/bermakna (Q.S Al-Muzzammil: 5), dan dan Qaulan ‘Azdiman atau perkataan yang besar (dosanya) (Q.S Al-Isra: 40).

Komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Komunikasi dibutuhkan untuk mengatur tata krama hubungan antar manusia. Dengan demikian komunikasi merupakan salah satu aktivitas yang sangat fundamental dalam kehidupan umat manusia, sebab dengan komunikasi yang baik akan memberi pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat.

Fenomena inilah yang menarik untuk dikaji dan dijadikan sebagai pedoman dalam komunikasi yang berlandaskan dan berprinsip pada komunikasi Islami. Sesungguhnya Allah SWT sejak menurunkan wahyu pertamanya dalam surat Al-‘Alaq adalah perintah untuk membaca. Hal ini mengindikasikan bahwa pada setiap manusia diberikan anugrah berupa kemampuan untuk membaca dirinya dan juga lingkungan sekelilingnya. Proses membaca ini merupakan salah satu implementasi dari komunikasi intrapersonal yang berproses pada diri manusia.

Al-Qur’an telah banyak memberikan petunjuk berkaitan dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Bahkan jumlah ayat-ayat tersebut lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat ibadah mahdhah. Jumlahnya berbanding 228 : 140. Memang dalam Islam tidak mengenal kata atau defenisi komunikasi dan ilmu komunikasi. Baik di dalam Al-Qur’an maupun Hadits tidak akan ditemui kata dan pengertian tersebut. Namun demikian, dari kedua sumber ajaran Islam tersebut, dapat ditemukan beberapa prinsip dasar yang berkaitan dengan komunikasi.

Al-Qur’an sering menggunakan metode dialog dari cara Allah memanggil manusia, orang-orang beriman, ahli kitab, Bani Israil dan lain sebagainya serta dari redaksi para nabi dan rasul memanggil kaum, anak, bapak mereka dan lain sebagainya. Istilah-istilah yang dipergunakan adalah ya dan ya ayyuha yang artinya wahai, hai. Metode dialog di dalam Al-Qur’an sebagian juga dapat diketahui dari kisah para nabi dan rasul. Para nabi dan rasul berdialog dengan kaum, penguasa, sesama nabi dan rasul, bahkan di antara mereka berdialog langsung dengan Allah. Salah satu ayat yang menunjukkan hal tersebut adalah dialog antara Nabi Ibrahim dengan anaknya (nabi Isma’il) dalam surat Ash Shaffaat ayat 102 (Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fi kirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”).

Fenomena komunikasi dalam Al-Qur’an sesungguhnya telah lama ada sejak wahyu tersebut diiturunkan pertama kali. Namun karena perkembangan dan istilah ilmu komunikasi tersebut lahir dan berkembang di negara-negara barat, maka sentuhan komunikasi ilahiyahnya menjadi berkurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Oleh karena itu penelitian ini mencoba menjelaskan klasifikasi ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan tema-tema komunikasi. Penelitian ini juga akan menjelaskan peristiwa-peristiwa komunikasi dan klasifi - kasinya yang terjadi dalam al-Qur’an dan konteks yang melingkupinya. Dengan demikian penelitian ini sangatlah penting dilakukan sebagai upaya membangun kerangka berpikir dan paradigma baru tentang komunikasi yang bersumber dan berlandaskan pada Al-Qur’an.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran Al-Qur’an dan komunikasi, baik dari tafsir bahasa yang digunakan dan dari segi konsep komunikasi yang terjalin. Sementara metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan berbasis pada kajian pustaka dengan pendekatan tafsir tematik. Sumber data utama dan pertama dalam penelitian ini adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Sumber-sumber lainnya adalah kitab-kitab Tafsir yang dibatasi pada kitab-kitab yang dipandang representatif dan tersedia, yaitu: Tafsir Al-Qur’an Al-Mishbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian AlQur’an) karangan M. Quraish Shihab dan Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim karangan Isma’il Ibnu Al-Katsir al Quraishi Al-Dimashqi yang lebih dikenal dengan Ibnu Katsir, dan lain-lain yang relevan.

PEMBAHASAN

  • Penafsiran Ayat-ayat Komunikasi
  • Qaulan Balighan (Berbekas Pada Jiwa)

Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan balighan artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit. Agar komunikasi tepat sasaran dan menyentuh jiwa komunikan, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh peserta komunikan. “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim). Sedangkan dalam ayat lainnya dijelaskan,”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengann bahasa kaumnya” (QS.Ibrahim:4). Berikut adalah ayat Al-Quran mengenai komunikasi dalam bentuk Qaulan Baligha yang terdapat dalam Q.S Anisa’ ayat 63:

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَعِظۡهُمۡ وَقُل لَّهُمۡ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَوۡلَۢا بَلِيغٗا ٦٣

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.

  • Qaulan Maysuran (Ucapan Yang Pantas)

Kata qaulan maysuran hanya satu kali disebutkan dalam Al-Qur’an. Berdasarkan sebab-sebab turunnya (ashab al-nuzulnya) ayat tersebut, Allah memberikan pendidikan kepada nabi Muhammad SAW untuk menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana dalam menghadapi keluarga dekat, orang miskin dan musafir. Secara etimologis, kata maysuran berasal dari kata yasara yang artinya mudah atau gampang. Ketika kata maysuran digabungkan dengan kata qaulan menjadi qaulan maysuran yang artinya berkata dengan mudah, gampang atau pantas. Ucapan yang pantas atau mudah maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami oleh komunikan. Salah satu prinsip komunikasi dalam Islam adalah setiap berkomunikasi harus bertujuan mendekatkan manusia dengan Tuhannya dan hamba-hambanya yang lain. Islam mengharamkan setiap komunikasi yang membuat manusia terpisah dari Tuhannya dan hamba-hambanya seperti yang terkandung dalam QS. Al-Isra ayat 40 yang akan kemudian di bahas pada qaulan terakhir pada bagian ini. Berikut adalah ayat Al-Quran mengenai komunikasi dalam bentuk Qaulan Maysuran yang terdapat dalam Q.S Al-Isra ayat 28:

وَإِمَّا تُعۡرِضَنَّ عَنۡهُمُ ٱبۡتِغَآءَ رَحۡمَةٖ مِّن رَّبِّكَ تَرۡجُوهَا فَقُل لَّهُمۡ قَوۡلٗا مَّيۡسُورٗا ٢٨

Artinya: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”.

  • Qaulan Kariman (Perkataan Yang Mulia)

Pengertian qaulan kariman adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertata krama. Dalam ayat tersebut perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orang tua. Dalam konteks komunikasi khususnya ilmu komunikasi dan penyiaran, Qaulan Kariman bermakna mengunakan kata-kata yang santun, tidak kasar, tidak vulgar, dan menghindari “bad taste”, seperti jijik, muak, ngeri, dan sadis. Berikut adalah ayat Al-Quran mengenai komunikasi dalam bentuk Qaulan Kariman yang terdapat dalam QS. Al-Isra ayat 23:

۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

  • Qaulan Ma’rufan (Perkataan Yang Baik)

Qaulan Ma’rufan artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufan juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat). Kata Qaulan Ma`rufan disebutkan Allah dalam QS An-Nissa: 5 dan 8, QS. Al-Baqarah:235 dan 263, serta Al-Ahzab: 32.

Kata qaulan ma’rufan disebutkan Allah dalam Al-Quran sebanyak lima kali. Pertama, berkenaan dengan pemeliharaan harta anak yatim. Kedua, berkenaan dengan perkataan terhadap anak yatim dan orang miskin. Ketiga, berkenaan dengan harta yang diinfakkan atau disedekahkan kepada orang lain. Keempat, berkenaan dengan ketentuan-ketentuan Allah terhadap istri Nabi. Kelima, berkenaan dengan soal pinangan terhadap seorang wanita. Kata ma’rufan dari kelima ayat tersebut, berbentuk isim maf’ul dari kata ‘arafa, bersinonim dengan kata al-Khair atau al-Ihsan yang berarti baik.

Berdasarkan paparan tersebut, maka dapat disimpulkan betapa pentingnya berbicara yang baik dengan siapapun, di mana pun, dan kapanpun, dengan sarat pembicaraannya itu akan mendatangkan pahala dan manfaat, baik bagi dirinya sebagai komunikator maupun bagi orang yang mendengarkan sebagai komunikan.

  • Qaulan Layyinan (Kata-kata Lemah Lembut)

Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar. Berikut firman Allh SWT dalam Q.S At-Thaha ayat 44:

فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ ٤٤

Artinya: “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita. Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal mungkin dihindari kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi.

  • Qaulan Sadidan (Perkataan Yang Benar)

Qaulan Sadidan berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa). Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta. Berikut adalah ayat Al-Quran mengenai komunikasi dalam bentuk Qaulan Sadidan yang terdapat dalam QS. An-Nisa’ ayat 9:

وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا ٩

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

  • Qaulan Tsaqilan (Perkataan Yang Berat/Bermakna)

Qaulan tsaqilan yakni penyampaian pesan yang berbobot dan penuh makna, memiliki nialai yang dalam, memerlukan perenungan untuk memahaminya, dan bertahan lama. Qaulan tsaqilan biasanya memuat sebuah konsep pemikiran yang mendalam dan memiliki bobot baik secara intelektual maupun spiritual. Allah berfirman dalam surah Al-Muzzammil ayat 5:

إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ٥

Artinya: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat”.

Qaulan tsaqilan oleh Al-Quran lahir dari sebuah proses pendekatan diri kepada Allah. Yaitu dengan memperbanyak shalat malam, membaca Al-Quran, berdzikir dan bersabar menghadapi cobaan hidup. Para ulama atau para wali Allah yang telah mencapai maqom ini, maka saat berbicara perkataannya pasti berbobot dan berisi. Kata-kata hikmah dari para ulama adalah qaulan tsaqila sehingga bisa bertahan ratusan tahun, karena ia lahir dari perenungan mendalam setelah melalui proses spiritual tinggi.

  • Qaulan ‘Adziman (Kata Yang Besar Dosanya)

Berbeda dengan 8 qaulan sebelumnya, Qaulan ‘Adziman ini merupakan ujaran yang mengandung penentangan yang nyata terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Salah satu ayat tentang qaulan ‘adzima tergambar dalam surat Al-Isra ayat 40:

أَفَأَصۡفَىٰكُمۡ رَبُّكُم بِٱلۡبَنِينَ وَٱتَّخَذَ مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنَٰثًاۚ إِنَّكُمۡ لَتَقُولُونَ قَوۡلًا عَظِيمٗا ٤٠

Artinya: “Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya)”.

Berdasrkan tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, ayat ini menjelaskan mengenai orang-orang yang mengklaim bahwa para Malaikat adalah anak-anak perempuan Allah, apakah Tuhan kalian, wahai kaum musyrikin, mengistimewakan kalian dengan anak laki-laki dan Dia memilih untuk diri-Nya para Malaikat sebagai anak-anak perempuan? Sungguh Allah Mahatinggi dari apa yang kalian katakan, sungguh kalian benar-benar telah mengatakan tentang Allah perkataan yang sangat keji dengan menyandarkan pada-Nya anak, serta mengklaim bahwa Dia memiliki anak perempuan sebagai bentuk kekufuran yang melampaui batas kepada-Nya. Termasuk jenis qaulan ‘adziman adalah setiap ujaran kebencian (hatespeech), atau ujaran yang mengandung pertentangan, permusuhan dan penipuan.

Dari ke delapan penafsiran ayat-ayat mengenai komunikasi: pembicaraan, perkataan, ucapan dan tutur kata maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang berbekas pada jiwa, pantas, mulia, baik, lemah-lembut, benar, berat (bermakna) dan bahasa yang tidak mengandung dosa / haram.

  • Konsep Komunikasi

Selain dari tafsir ayat-ayat Al-Quran mengenai bagaimana proses komunikasi harus menggunakan bahasa, pembicaraan, ucapan dan perkataan seperti yang disebutkan pada bagian sebelumnya. Pada bagian ini juga akan dijelaskan bagaimana pola komunikasi dari segi konsepnya.

  • Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi transaksi yang mengambil tempat di dalam individu atau di sebut juga dengan communication with self. Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Orang itu berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Dia berbicara kepada dirinya sendiri, dia berdialog dengan dirinya sendiri. Dia bertanya kepada dirinya dan dijawab oleh dirinya sendiri.

Komunikasi intrapersonal dalam Al-Qur’an menempatkan hati (immaterial) sebagai pusat kendali seluruh jiwa memberi stimulus pada indera pendengaran dan penglihatan (material), dan menghasilkan pikiran. Hal ini tergambar dalam QS. Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

  • Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal atau disebut juga antar-personal ialah komunikasi yang dijalankan antara dua orang atau lebih dengan cara face to face. Dari segi komunikasinya, komunikasi interpersonal yang terkandung dalam Al-Qur’an lebih berpijak pada etika komunikasi atau cara berbicara pada orang lain dengan hikmah, mauidhah, dan mujadalah yang dilandasi prinsip, qaulan balighan, qaulan maysuran, qaulan kariman, qaulan ma’rufan, qaulan layyinan, dan qaulan sadidan seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

  • Komunikasi Massa

Al-Qur’an merupakan pusat informasi / berita yang memiliki kebenaran mutlak. Al-Qur’an memberikan tuntunan agar manusia dalam memberi informasi / berita pada orang lain harus disertai dengan kejujuran, keadilan, keakuratan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Al-Qur’an menghimbau kepada khalayak untuk berhati-hati (tidak mudah percaya) dalam menerima informasi atau berita. Hal ini bisa disimak dala QS. Al-Hujurat ayat 6:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

  • Komunikasi antar budaya / antar agama

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang berbeda bangsa, ras, bahasa, agama, tingkat pendidikan, status sosial atau bahkan jenis kelamin. Komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh komunikator dan komunikan yang berbeda budaya, bahkan dalam satu bangsa sekalipun. Konsep Al-Qur’an di mulai dari hakikat manusia diciptakan di bumi yaitu untuk saling mengenal (komunikasi) antar sesama baik berlatar belakang agama, suku, bangsa, etnik, jenis kelamin dan sebagainya. Berikut adalah gambaran konsep komunikasi antar budaya atau antar agama dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Dari beberapa penjelasan di atas mengenai ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep komunikasi atau proses terjadinya komunikasi maka dapat ditarik kesimpulan yaitu, komunikasi intrapersonal terletak pada penglihatan, pendengaran dan hati. Komunikasi interpersonal terletak pada etika atau cara berbicara antara komunikator dan komunikan. Komunikasi massa ialah komunikasi yang harus memiliki nilai kejujuran, keadilan, keakuratan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Terakhir ialah konsep komunikasi antar budaya atau antar agama yaitu perintah untuk saling mengenal (berkomunikasi) dengan berbagai latar belakang agama, suku, bangsa, etnik dan lalin sebagainya.

SIMPULAN

Sesuai dengan keagungannya bahwa Al-Quran sebagai petunjuk bagai manusia. Al-Quran dan komunikasi merupakan dua hal yang berbeda namun jika dilihat dari sisi komunikasi, maka Al-Quran memberikan petunjuk untuk bagaimana manusia berkomunikasi, baik dari segi cara berbahasa ataupun dari proses keberlangsungan komunikasinya. Dari delapan penafsiran ayat-ayat mengenai komunikasi: pembicaraan, perkataan, ucapan dan tutur kata maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang berbekas pada jiwa, pantas, mulia, baik, lemah-lembut, benar, berat (bermakna) dan bahasa yang tidak mengandung dosa / haram.

Kemudian, Al-Quran menunjukan cara atau proses komunikasi berlangsung yaitu;

Komunikasi intrapersonal yang terletak pada penglihatan, pendengaran dan hati. Komunikasi interpersonal terletak pada etika atau cara berbicara antara komunikator dan komunikan. Komunikasi massa ialah komunikasi yang harus memiliki nilai kejujuran, keadilan, keakuratan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Terakhir ialah konsep komunikasi antar budaya atau antar agama yaitu perintah untuk saling mengenal (berkomunikasi) dengan berbagai latar belakang agama, suku, bangsa, etnik dan lalin sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Alo, Liliweri. Komunikasi Antar Personal. Jakarta: Remaja Rosdakarya. 2001.

Amir, Mafri. Etika Komunikasi Massa Dalam Pandangan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu. 1999.

Effendy, Onong Uchjana. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti. 2000.

FNJ/ESP. Menyibak Komunikasi Berdasar Al-Quran. (Dikutip pada: 30 September 2023. Tersedia di: https://Www.Uii.Ac.Id/Menyibak-Komunikasi-Berdasar-Al-Quran/). 2020.

Generasi Muslim Aswaja, 9 Macam Qaulan (Perkataan) dalam Al-Qur’an. Oleh Kiki Sumber Rejeki. (Diakses pada: 02 Oktober 2023. Tersedia di: https://generasi-muslim-aswaja.blogspot.com/2019/10/9-macam-qaulan-perkataan-dalam-al-quran.html?m=1), 2019.

Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. 2000.

Munawir, A.W. Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif. 1997.

Nasution, H. Akal dan Wahyu Dalam Islam. Jakarta: Universitas Indonesia UIPRESS. 1986.

Nurdin, Ali. Akar Komunikasi Dalam Al-Qur’an, (Jurnal Kajian Komunikasi, Volume 2, 1). 2014.

Sumarjo. Ilmu Komunikasi dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jurnal Inovasi, Volume 8, Nomor 1). 2011.

TafsirWeb. Surat Al-Isra Ayat 40. (Dikutip pada: 02 Oktober 2023. Tersedia di: https://tafsirweb.com/4644-surat-al-isra-ayat-40.html). 2023.

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Al-Qur'an dan Komunikasi. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca