Setelah beberapa tahun mengumpulkan data lapangan, saya menyadari kesalahan yang sama terus kembali.
Pertama: mengisi jeda
Diam selama lima detik terasa canggung, jadi saya buru-buru mengajukan pertanyaan berikutnya. Padahal jeda itu sering menjadi tempat jawaban yang sebenarnya muncul.
Kedua: bertanya dengan jawaban di kepala
Pertanyaan yang sudah membawa dugaan cenderung memancing persetujuan, bukan keterangan.
Ketiga: menunda transkrip
Rekaman yang belum ditranskrip dalam dua hari kehilangan konteks yang hanya ada di ingatan — nada suara, siapa yang lewat, apa yang tidak jadi diucapkan.
