Langsung ke isi

Kajian Komunikasi yang Disukai Orang

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita. Dengan izin dan petunjuk-Nya, kami berhasil menyelesaikan makalah ini dengan judul:

KAJIAN MENGENAI KOMUNIKASI APA YANG DISUKAI OLEH ORANG

Mata Kuliah

Psikologi Komunikasi

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Enjang AS., M.Ag., M.Si.,

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, S.Sos., | 2230100017

Gebyar Ahadiakbar Gustianadireja, S.S| 2230100018

Muhammad Syahroni, S.Sos.,| 2230100012

Rachmat Nugraha, S.Ag.,| 2230100019

Ahmad Hanif, S.Sos.,| 2230100016

PASCA SARJANA

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2023 M / 1444 H

KATA PENGANTAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

أَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita. Dengan izin dan petunjuk-Nya, kami berhasil menyelesaikan makalah ini dengan judul:

"Kajian Mengenai Komunikasi yang Disukai oleh Orang"

Sebagai bagian dari tugas mata kuliah "Psikologi Komunikasi" yang penuh inspirasi dan pengajaran, yang kami tempuh di bawah bimbingan Bapak Prof. Dr. Enjang AS., M.Ag., M.Si. Kami mengucapkan terima kasih yang tulus atas bimbingan dan arahan beliau yang sangat berharga dalam proses penyusunan makalah ini.

Makalah ini menjadi wujud kerja keras kami untuk memahami dan menerapkan konsep-konsep komunikasi yang disampaikan dalam konteks psikologi komunikasi. Kami berharap makalah ini dapat memberikan kontribusi positif tidak hanya bagi penulis, tetapi juga bagi pembaca, khususnya dalam memahami preferensi komunikatif orang dan mengaplikasikannya dalam era saat ini.

Doa dan salam kami sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, sebagai teladan luhur bagi umat manusia. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarganya, para sahabat, dan seluruh umat Islam. Kami berdoa semoga makalah ini dapat menjadi bentuk kecil penghormatan kami terhadap ajaran dan contoh teladan Nabi Muhammad SAW.

Saya berharap tulisan ini dapat memberi sedikit kontribusi, terutama dalam menambah wawasan mengenai jenis-jenis komunikasi yang sebaiknya diterapkan untuk meningkatkan kualitas hubungan interpersonal. Tentu saja, makalah ini tidak luput dari kekurangan. Oleh karena itu, saya menerima dengan terbuka setiap masukan dan saran konstruktif dari berbagai pihak demi perbaikan di masa mendatang.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memperkaya pemahaman pembaca mengenai dinamika komunikasi yang efektif beserta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga tulisan ini turut menginspirasi upaya kolektif untuk meningkatkan kualitas interaksi sosial di tengah masyarakat.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bandung, 28 November 2023
Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, S.Sos.,

DAFTAR ISI

Isi

KATA PENGANTARi

DAFTAR ISIiii

ABSTRAKiv

BAB I1

PENDAHULUAN1

A. Latar Belakang1

B. Rumusan Masalah4

C. Tujuan Penulisan4

D. Manfaat Penulisan5

BAB II7

PEMBAHASAN7

A. Definisi dan Kriteria Komunikasi yang Disukai Orang7

B. Teori dan Penelitian tentang Komunikasi yang Disukai Orang9

C. Lima Jenis Komunikasi yang Disukai Orang11

1.Komunikasi Intrerpersonal12

2.Komunikasi Efektif20

3.Komunikasi Empatis21

4.Komunikasi Terbuka38

5.Komunikasi Asertif40

BAB III53

PENUTUP53

A. Kesimpulan53

B. Rekomendasi54

DAFTAR PUSTAKA55


ABSTRAK

Kajian Mengenai Komunikasi Apa yang Disukai Oleh Orang:

Komunikasi merupakan keterampilan penting dalam kehidupan sosial. Namun, tidak semua jenis komunikasi dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis komunikasi yang disukai oleh masyarakat dan alasan-alasannya. Penulis melakukan kajian pustaka dari berbagai sumber yang membahas teori dan praktik komunikasi. Lima jenis komunikasi yang dikaji adalah komunikasi interpersonal, komunikasi efektif, komunikasi empati, komunikasi terbuka, dan komunikasi asertif. Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi empati paling disukai karena dapat menciptakan suasana interaksi yang nyaman, harmonis, dan saling menghargai. Komunikasi interpersonal dan terbuka juga penting untuk membangun hubungan yang positif dan jujur. Komunikasi asertif dan efektif diperlukan untuk menyampaikan pesan dengan jelas dan tepat. Penulis menyimpulkan bahwa kelima jenis komunikasi tersebut harus digunakan secara seimbang dan sesuai dengan situasi agar interaksi dapat berlangsung secara optimal.

Kata Kunci: Komunikasi, Interaksi Sosial, Empati, Asertif, Efektif, Terbuka.

ABSTRACT

A Study on What People Like to Communicate:

Communication is an important skill in social life. However, not all types of communication are well received by others. This paper aims to find out the types of communication preferred by people and the reasons why. The author conducted a literature review from various sources that discuss communication theory and practice. The five types of communication studied are interpersonal communication, effective communication, empathetic communication, open communication, and assertive communication. The results of the study show that empathic communication is most preferred because it can create an atmosphere of comfortable, harmonious, and respectful interaction. Interpersonal and open communication are also important for building positive and honest relationships. Assertive and effective communication is needed to convey messages clearly and precisely. The author concludes that the five types of communication must be used in balance and according to the situation so that the interaction can take place optimally.

Keywords: Communication, Social Interaction, Empathy, Assertive, Effective, Open.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komunikasi merupakan serangkaian proses untuk memperoleh informasi tentang faktor lingkungan dan psikologis yang dapat mendukung atau menghambat sikap seseorang. Psikologi komunikasi juga dapat diartikan sebagai upaya untuk lebih memahami karakter seseorang tanpa mengabaikan aspek kejiwaan dari seorang komunikan. Penggunaan psikologi komunikasi dapat dibagi menjadi lima aspek, yaitu pengertian, kesenangan, mempengaruhi sikap, pengertian akan muncul saat komunikan menerima rangsangan terhadap isi pesan yang disampaikan oleh komunikator. Gagalnya penerimaan isi pesan dengan cermat sering disebut sebagai kegagalan komunikasi utama.

Komunikasi telah mengalami perkembangan pesat dari masa ke masa, terutama di era globalisasi saat ini, di mana teknologi berkembang dengan cepat dan memberikan dampak signifikan pada komunikasi dan lingkupnya. Sebagai hasilnya, dalam berkomunikasi, manusia sering menghadapi masalah karena banyak orang di era sekarang kurang memahami teknologi. Berdasarkan hasil penelitian, terjadi banyak kesalahpahaman, pertengkaran, dan kegagalan karena kurangnya efektivitas komunikasi dalam media sosial. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan terhadap masyarakat.

Pengalaman interaksi manusia dalam berbagai konteks sosial menunjukkan kompleksitas dan tantangan dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat dan produktif. Fenomena kehidupan sehari-hari, seperti kesalahpahaman dalam percakapan, konflik kecil akibat kurangnya keterbukaan, hingga kesulitan dalam menyampaikan empati dan asertivitas, menjadi bukti nyata akan pentingnya keterampilan komunikasi.

Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, terbuka, empatis, dan asertif menjadi lebih penting dalam konteks sosial yang semakin beragam. Berbagai kasus di masyarakat, seperti konflik antar kelompok, kesalahpahaman dalam organisasi, atau bahkan perpecahan dalam skala lebih besar, sering kali berakar pada kegagalan dalam berkomunikasi secara efektif. Hal ini tidak hanya menghambat perkembangan individu dan kelompok, tapi juga dapat berdampak pada stabilitas sosial secara keseluruhan.

Selain itu, perubahan dinamika sosial dan budaya, termasuk peningkatan mobilitas sosial dan interaksi antarbudaya, menuntut kemampuan untuk beradaptasi dan berkomunikasi di berbagai situasi dan dengan berbagai kelompok. Hal ini terutama terlihat dalam interaksi sehari-hari, di mana kesalahpahaman, konflik, dan ketidakharmonisan sering terjadi akibat komunikasi yang tidak efektif. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai aspek komunikasi yang dianggap penting dalam konteks psikologi komunikasi dan disukai orang pada umumnya, seperti komunikasi interpersonal, efektif, empatis, terbuka, dan asertif.

Komunikasi interpersonal, sebagai fondasi dasar hubungan antar manusia, memainkan peran vital dalam membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan produktif. Namun, dalam praktiknya, banyak individu menghadapi kesulitan dalam menjalin komunikasi yang efektif dan empatik. Misalnya, dalam konteks keluarga atau pertemanan, sering terjadi kesalahpahaman yang disebabkan oleh komunikasi yang kurang jelas atau tidak sensitif terhadap perasaan orang lain.

Komunikasi efektif, di sisi lain, menjadi kunci dalam mencapai tujuan bersama, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sosial. Namun, keterampilan ini seringkali tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap individu. Banyak organisasi dan kelompok sosial menghadapi tantangan dalam mencapai konsensus atau keputusan bersama karena kurangnya kemampuan komunikasi efektif di antara anggotanya.

Sementara itu, Komunikasi empatis adalah suatu bentuk interaksi verbal dan nonverbal yang melibatkan kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan, pemikiran, dan pengalaman orang lain. Dalam komunikasi ini, seseorang tidak hanya mendengar kata-kata yang diucapkan oleh orang lain, tetapi juga berusaha memahami perasaan yang mendasarinya. Hal ini melibatkan kemampuan untuk meletakkan diri pada posisi orang lain, melihat dunia dari sudut pandang mereka, dan meresapi pengalaman emosional yang sedang dialami. Komunikasi empatis bukan sekadar menunjukkan simpati atau kepedulian, tetapi lebih jauh tentang menciptakan ikatan emosional yang mendalam dan membangun hubungan yang saling menghargai. Dengan memberikan perhatian dan pengertian yang tulus, komunikasi empatis dapat menciptakan ruang untuk kepercayaan dan keterbukaan, memperkuat ikatan antar individu, serta memberikan dukungan emosional yang berarti. Melalui kemampuan ini, komunikasi empatis mampu menghadirkan kehangatan dan kepedulian dalam setiap interaksi, menciptakan lingkungan komunikasi yang memperkaya hubungan interpersonal.

Komunikasi terbuka, yang mengutamakan kejujuran dan transparansi, juga penting untuk dibahas. Dalam banyak kasus, ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara terbuka telah menyebabkan masalah dalam hubungan interpersonal, kerja tim, dan bahkan pada tingkat kebijakan publik. Menjelaskan bagaimana komunikasi terbuka dapat memperkuat hubungan dan mengurangi konflik adalah penting, terutama di tengah meningkatnya kesenjangan dan ketidakpercayaan dalam masyarakat.

Terakhir, komunikasi asertif, yang melibatkan kemampuan untuk menyampaikan pendapat atau kebutuhan secara jelas dan tegas tanpa melukai perasaan orang lain, juga perlu ditelaah. Di banyak tempat kerja dan situasi sosial, orang sering kesulitan menemukan keseimbangan antara terlalu pasif dan terlalu agresif dalam komunikasi, sehingga mengarah pada hasil yang kurang optimal.

Fenomena-fenomena nyata dalam masyarakat modern, seperti peningkatan konflik interpersonal, kesalahpahaman dalam komunikasi, dan tantangan dalam kerja tim lintas budaya, menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang komunikasi efektif dalam berbagai bentuknya. Makalah ini bertujuan untuk tidak hanya mengidentifikasi dan menjelaskan konsep-konsep ini, tetapi juga untuk mengeksplorasi bagaimana mereka dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan kualitas interaksi dan hubungan antar manusia. Dengan demikian, makalah ini berupaya memberikan kontribusi signifikan bagi individu dan masyarakat dalam memahami dan meningkatkan kualitas komunikasi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hidup dan hubungan sosial.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dapat dinyatakan sebagai berikut:

  • Apa saja jenis-jenis komunikasi yang dianggap paling efektif dan disukai oleh masyarakat?
  • Mengapa beberapa jenis komunikasi tersebut dianggap lebih efektif dan disukai dibanding jenis lainnya?
  • Bagaimana penerapan berbagai jenis komunikasi yang efektif tersebut secara komplementer dalam interaksi sosial?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:

  • Mengidentifikasi jenis-jenis komunikasi yang dianggap paling efektif dan disukai masyarakat.
  • Menganalisis alasan dominan mengapa beberapa jenis komunikasi lebih disukai.
  • Memberikan panduan penerapan berbagai jenis komunikasi secara komplementer agar interaksi lebih efektif.

Dengan tujuan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang preferensi komunikatif individu serta konsep-konsep kunci dalam komunikasi yang dihargai dan disukai oleh masyarakat.

D. Manfaat Penulisan

Makalah ini diharapkan memberikan sejumlah manfaat yang signifikan, antara lain:

Manfaat Praktis:

  • Memberikan pemahaman praktis pada pembaca mengenai penerapan komunikasi interpersonal, empati, terbuka, dan asertif yang efektif dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menginspirasi pembaca untuk meningkatkan keterampilan komunikasi efektif dalam interaksi sosial sehari-hari.
  • Memberi masukan pada berbagai kalangan untuk meningkatkan kualitas komunikasi dalam organisasi, keluarga, maupun masyarakat luas.

Manfaat Akademis:

  • Menjadi referensi akademik untuk penelitian atau kajian lebih lanjut terkait preferensi dan penerapan komunikasi efektif.
  • Memperkaya khasanah pengetahuan dan literatur akademik dalam bidang psikologi komunikasi.

Manfaat Umum:

  • Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang dinamika dan tantangan komunikasi dalam era modern.
  • Berpotensi memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas hubungan interpersonal dan keharmonisan sosial.
  • Memperkaya wawasan dan bahan bacaan masyarakat terkait topik psikologi komunikasi.

Melalui manfaat-manfaat tersebut, diharapkan makalah ini dapat memberikan sumbangan positif baik dalam pengembangan teori maupun aplikasi praktis di bidang psikologi komunikasi.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi dan Kriteria Komunikasi yang Disukai Orang

Komunikasi yang disukai orang adalah komunikasi yang dapat memenuhi kebutuhan, harapan, dan kepentingan orang yang terlibat di dalamnya. Komunikasi efektif merupakan kunci dalam berbagai aspek kehidupan, baik profesional maupun personal. Teori Komunikasi oleh Claude Shannon dan Warren Weaver menggarisbawahi pentingnya pengiriman pesan yang jelas dan efektif. Contohnya, dalam dunia pendidikan, seorang guru seperti John Hattie mengimplementasikan komunikasi yang jelas dan tepat, memudahkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Di sisi lain, dalam konteks sosial, seperti yang dikemukakan oleh Deborah Tannen, komunikasi yang ramah dan menghormati perbedaan menciptakan interaksi yang lebih harmonis. Misalnya, seorang pemimpin komunitas yang menghargai pendapat anggotanya menciptakan lingkungan yang inklusif.

Lebih jauh, prinsip kejujuran, terbuka, dan transparan dalam komunikasi, seperti yang dijelaskan oleh Stephen Covey, membangun kepercayaan dan integritas. Contohnya, di lingkungan kerja, transparansi manajer dalam membagikan informasi dengan timnya menumbuhkan kepercayaan dan kerjasama tim yang lebih kuat. Dalam konteks empati, Carl Rogers, seorang psikolog terkemuka, menekankan pentingnya mendengarkan dan memahami emosi orang lain. Seorang dokter yang mempraktikkan komunikasi empatik dengan pasiennya tidak hanya memberikan solusi medis tetapi juga dukungan emosional.

Terakhir, konsep komunikasi efektif yang mengutamakan efisiensi, seperti yang disarankan oleh Peter Drucker, esensial dalam manajemen. Seorang CEO yang efektif, seperti Indra Nooyi, mantan CEO PepsiCo, dikenal karena kemampuannya berkomunikasi dengan jelas dan efisien, memaksimalkan produktivitas sambil meminimalkan kesalahpahaman.

Namun, setiap pendekatan ini memiliki kekurangan. Misalnya, komunikasi yang terlalu jelas dan tepat bisa terkesan kaku dan tidak fleksibel, sementara terlalu banyak menekankan kejujuran dan transparansi bisa berisiko menyinggung perasaan orang lain. Demikian pula, komunikasi yang terlalu empatik bisa mengurangi objektivitas, sementara efisiensi bisa mengorbankan kedalaman dan kualitas interaksi.

Secara keseluruhan, menggabungkan berbagai aspek ini dalam komunikasi sehari-hari tidak hanya meningkatkan kualitas interaksi tetapi juga memperkuat hubungan antarpribadi dan profesional. Menyeimbangkan antara kejelasan, kejujuran, empati, dan efisiensi adalah kunci untuk mencapai komunikasi yang efektif dan menyenangkan.

Komunikasi yang disukai orang biasanya memiliki beberapa kriteria, seperti:

  • Komunikasi yang jelas, tepat, dan mudah dipahami oleh penerima pesan.
  • Komunikasi yang ramah, sopan, dan menghormati perbedaan pendapat dan pandangan orang lain.
  • Komunikasi yang jujur, terbuka, dan transparan tentang tujuan, motif, dan informasi yang disampaikan.
  • Komunikasi yang empatik, yaitu mampu memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, serta memberikan dukungan dan solusi yang sesuai.
  • Komunikasi yang efektif, yaitu mampu mencapai tujuan yang diinginkan dengan menggunakan sumber daya yang minimal.

Beberapa contoh cara komunikasi yang disukai banyak orang adalah:

  • Menjadi pendengar yang baik, yaitu memberikan perhatian penuh, tidak mengganggu, dan memberikan umpan balik yang konstruktif kepada pembicara.
  • Memberikan respon sederhana, seperti senyuman, anggukan, atau ucapan setuju, yang menunjukkan bahwa kita tertarik dan mengikuti pembicaraan.
  • Berbicara dengan apa yang dibutuhkan oleh lawan bicara, yaitu menyesuaikan topik, gaya, dan bahasa yang digunakan dengan situasi, kondisi, dan minat lawan bicara.
  • Berbicara dengan dibantu gesture yang berkesan, yaitu menggunakan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan kontak mata yang sesuai dengan isi pesan dan suasana hati.
  • Berkomunikasi secara asertif, yaitu menyampaikan pendapat, keinginan, atau hak kita dengan tegas, namun tetap menghargai hak dan perasaan orang lain.

B. Teori dan Penelitian tentang Komunikasi yang Disukai Orang

Komunikasi yang disukai orang adalah topik yang menarik dan penting untuk dipelajari. Ada banyak teori dan penelitian yang berkaitan dengan komunikasi yang disukai orang, baik dari sudut pandang psikologis, sosiologis, maupun pragmatis. Berikut adalah beberapa teori dan penelitian yang mungkin Anda temukan bermanfaat:

  • Teori Komunikasi Lasswell: Teori ini dikemukakan oleh Harold Lasswell, seorang ahli ilmu politik dan komunikasi. Teori ini menjelaskan bahwa komunikasi terdiri dari lima elemen, yaitu siapa (who), berbicara apa (says what), dengan media apa (in which channel), kepada siapa (to whom), dan dengan efek apa (with what effect). Teori ini dapat membantu kita memahami siapa yang berkomunikasi, apa yang ingin disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, siapa yang menjadi sasaran, dan apa yang diharapkan dari komunikasi tersebut.
  • Teori Komunikasi Behaviorisme: Teori ini dikembangkan oleh John B. Watson, seorang psikolog yang menganggap bahwa perilaku manusia dapat dipelajari dan diprediksi melalui stimulus dan respons. Teori ini menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang melibatkan pemberian stimulus (pesan) dan penerimaan respons (reaksi) dari pihak lain. Teori ini dapat membantu kita memahami bagaimana komunikasi dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perilaku manusia.
  • Teori Komunikasi Operant Conditioning: Teori ini dikembangkan oleh B. F. Skinner, seorang psikolog yang mengembangkan konsep penguatan (reinforcement) dalam pembelajaran. Teori ini menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang melibatkan pemberian dan penerimaan penguatan, baik positif maupun negatif, yang dapat meningkatkan atau mengurangi kemungkinan perilaku tertentu. Teori ini dapat membantu kita memahami bagaimana komunikasi dapat memotivasi dan mengubah perilaku manusia.
  • Teori Belajar Sosial: Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura, seorang psikolog yang mengemukakan konsep belajar melalui pengamatan (observational learning). Teori ini menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang melibatkan belajar dari model atau contoh yang ditampilkan oleh orang lain, baik secara langsung maupun melalui media. Teori ini dapat membantu kita memahami bagaimana komunikasi dapat meniru dan mempengaruhi perilaku manusia.
  • Teori Komunikasi Sibernetik: Teori ini dikembangkan oleh Norbert Wiener, seorang matematikawan dan filsuf yang mempelajari sistem yang kompleks dan dinamis. Teori ini menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang melibatkan pertukaran informasi dan umpan balik (feedback) antara komponen-komponen yang saling terkait dalam suatu sistem. Teori ini dapat membantu kita memahami bagaimana komunikasi dapat mengatur dan mengkoordinasikan sistem yang berbeda.

C. Lima Jenis Komunikasi yang Disukai Orang

Terdapat beberapa jenis komunikasi yang umumnya disukai oleh orang dalam konteks psikologi komunikasi. Beberapa di antaranya adalah:

  • Komunikasi Interpersonal: Komunikasi antara individu yang melibatkan pertukaran informasi, emosi, dan pengalaman pribadi. Komunikasi interpersonal memungkinkan terciptanya hubungan yang intim dan saling pengertian.
  • Komunikasi Empatis: Komunikasi yang menunjukkan pemahaman, perhatian, dan empati terhadap perasaan dan perspektif orang lain. Komunikasi empatik membantu membangun hubungan yang lebih baik dan memperkuat ikatan emosional antara individu.
  • Komunikasi Efektif: Komunikasi yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami. Komunikasi efektif memastikan pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima, menghindari kesalahpahaman dan konflik.
  • Komunikasi Terbuka: Komunikasi yang melibatkan saling berbagi informasi, pemikiran, dan perasaan secara jujur dan terbuka. Komunikasi terbuka membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan interpersonal.
  • Komunikasi Asertif: Komunikasi asertif melibatkan ekspresi diri secara jelas, tegas, dan lugas tanpa melanggar hak-hak atau perasaan orang lain. Dalam komunikasi ini, individu menyampaikan pendapat, keinginan, atau batasan dengan tegas namun tetap menghormati perspektif orang lain. Komunikasi asertif memungkinkan individu untuk mempertahankan hak-haknya tanpa merugikan hubungan interpersonal, menciptakan lingkungan yang mendukung pertukaran ide dan kebutuhan yang jujur dan terbuka.
Komunikasi Intrerpersonal

a. Pengertian Komunikasi Interpersonal

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “Communication”), secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin Communicare dan perkataan ini bersumber pada kata Communis. Kata Communis memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna. Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku, baik langsung (secara lisan) maupun tidak langsung (melalui media) proses penyampaian bentuk interaksi gagasan kepada orang lain dan proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide yang disampaikan, baik sengaja maupun tidak disengaja.

Adapun pengertian komunikasi oleh para ahli Menurut Louis Forsdale yang dikutip oleh Edi Harapan dan Syarwani Akhmad dalam buku yang berjudul komunikasi antar pribadi: perilaku insani dalam organisasi pendidikan menyatakan bahwa komunikasi sebagai suatu proses memberikan Signal menurut aturan tertentu sehingga dengan cara ini sistem dapat disusun, dipelihara dan diubah. Sedangkan Menurut William J. Seller yang dikutip oleh Irma Sari M dalam buku yang berjudul berkomunikasi menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang mana simbol verbal dan non verbal dikirimkan dan diterima serta diberi arti.

Dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi itu adalah proses penyampaian informasi baik itu berupa pesan, gagasan atau pun ide yang disampaikan kepada orang lain. Biasanya aktivitas komunikasi ini dilakukan secara verbal atau lisan sehingga memudahkan kedua belah pihak untuk saling mengerti. Komunikasi banyak jenisnya salah satunya yaitu komunikasi interpersonal (antarpribadi). Menurut para ahli pengertian komunikasi Interpersonal (antarpribadi) Menurut Baskin dan Aronoff yang dikutip oleh Yosal Iriantara dalam buku yang berjudul komunikasi antarpribadi, menyebutkan komunikasi antarpribadi sebagai pertukaran pesan diantara pribadi-pribadi yang bertujuan membangun kesamaan makna.

Komunikasi interpersonal (antarpribadi) dengan memahami dua kata yang membentuk istilah yaitu komunikasi dan antarpribadi. Komunikasi secara sederhana bisa diartikan sebagai proses pertukaran pesan antara komunikator dan komunikan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan antarpribadi dapat diartikan sebagai berhubungan dengan atau melibatkan relasi personal atau sosial yang mengembangkan sistem-sistem ekspektasi bersama, pola-pola keterikatan emosional dan cara-cara penyesuaian sosial. Dapat dipahami komunikasi antarpribadi sebagai proses pertukaran pesan antara komunikator dan komunikan untuk mengembangkan sistem ekspektasi bersama, pola-pola keterikatan secara emosional dan cara-cara penyesuaian sosial.

Dengan demikian, dapat disimpulkan dari pengertian komunikasi interpersonal dari kedua para ahli diatas dapat diketahui bahwa komunikasi interpersonal adalah terjadi diantara dua orang yang saling memiliki hubungan yang jelas, berlangsung secara bertatap muka dan saling bereaksi satu sama lain.

b. Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal

Ciri-ciri komunikasi interpersonal menurut Hidayat (2012:14) yaitu: “Arus pesan dua arah, suasana nonformal, umpan balik segera. Peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat, selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Arus pesan dua arah, komunikasi interpersonal menempatkan sumber pesan dan penerima dalam posisi yang sejajar, sehingga memicu terjadinya pola penyebaran pesan mengikuti arus dua arah. Artinya komunikator dan komunikan dapat berganti peran secara cepat.
  • Suasana nonformal, komunikasi interpersonal biasanya berlangsung dalam suasana nonformal, artinya suasana yang dibangun lebih kepada pendekatan individu yang bersifat pertemanan. Relavan dengan suasana nonformal tersebut, pesan yang dikomunikasikan sebagian besar bersifat lisan.
  • Umpan balik segera. Komunikasi interpersonal biasanya perilaku komunikasi secara bertatap muka maka umpan balik dapat diketahui segera karena berada dalam jarak yang dekat dalam arti fisik, artinya para pelaku saling bertatap muka dalam satu lokasi tempat tertentu. Sedangkan jarak yang dekat secara psikologis menunjukkan keintiman hubungan antar individu.

c. Tujuan komunikasi interpersonal

Suranto (2011:19) mengemukakan tujuan komunikasi interpersonal dapat dirumuskan seperti sebagai berikut:

  • Untuk memahami dan menentukan diri sendiri.Dalam komunikasi interpersonal, individu lebih banyak memiliki kesempatan untuk mengutarakan apa yang dipikirkannya, tentang apa yang ia sukai dan tidak sukai. Selain itu, melalui komunikasi interpersonal, kita mengetahui pandangan orang lain terhadap diri kita sendiri. Sehingga dari komunikasi interpersonal diperoleh informasi mengenai jati diri, atau dengan kata lain menemukan diri sendiri.
  • Menemukan dunia luar. Dalam komunikasi interpersonal diperoleh kesempatan untuk mendapatkan informasi penting dan aktual mengenai keadaan yang terjadi di sekitar kita.
  • Membangun dan memelihara hubungan yang harmonis.

d. Faktor Keberhasilan Komunikasi Interpersonal

Dalam buku Suranto Aw yang berjudul komunikasi interpersonal ada beberapa faktor yang sangat menentukan keberhasilan komunikasi interpersonal apabila dipandang dari sudut komunikator, komunikan dan pesan sebagai berikut ini:

  • Faktor keberhasilan dilihat dari sudut komunikator:
  • Kridibiltas adalah kewibawaan seorang komunikator dihadapan komunikan. Pesan yang disampaikan oleh seorang pustakawan yang kredibilitasnya tinggi akan lebih banyak memberi pengaruh terhadap penerima pesan atau pemustaka.
  • Daya tarik adalah daya tarik fisik maupun non fisik. Adanya daya tarik dari pustakawan ini akan mengundang simpati pemustaka. Pada akhirnya pemustaka akan dengan mudah menerima pesan-pesan yang akan disampaikan oleh pustakawan.
  • Kemampuan intelektual adalah tingkat kecakapan, kecerdasan dan keahlian seorang pustakawan karena ketika pemustaka bertanya kepada pustawakan, pustakawan harus mampu menjawab dengan cakap.
  • Integritas atau keterpaduan sikap dan perilaku dalam aktivitas seharihari. Pustakawan yang memiliki kesesuaian antara ucapan dan tindakannya akan lebih disegani oleh pemustaka atau orang lain.
  • Kepercayaan kalau pustakawan dipercaya oleh pemustaka, maka akan lebih mudah menyampaikan pesan dan mempengaruhi sikap pemustaka dan orang lain.
  • Kepekaan sosial adalah suatu kemampuan pustakawan untuk memahami situasi lingkungan.
  • Kematangan tingkat emosional adalah kemampuan komunikator untuk mengendalikan emosinya, sehingga tetap dapat melaksanakan komunikasi dalam suasana yang menyenangkan.
  • Berorientasi kepada kondisi psikologis komunikan adalah seorang pustakawan perlu memahami kondisi psikologis pemustaka.
  • Komunikator harus bersikap supel, ramah, dan tegas adalah bahwa pustakawan harus bersikap ramah terhadap pemustaka.
  • Faktor keberhasilan dari sudut komunikan
  • Komunikan yang cakap akan mudah menerima dan mencerna materi yang diberikan komunikator.
  • Komunikan yang mempunyai pengetahuan yang luas akan cepat menerima komunikasi yang diberikan komunikator.
  • Komunikan harus bersikap ramah, supel dan pandai bergaul agar tercipta proses komunikasi yang lancar.
  • Komunikan harus memahami dengan siapa ia berbicara.
  • Komunikan bersikap bersahabat dengan komunikator
  • Faktor keberhasilan dilihat dari sudut pesan
  • Pesan komunikasi interpersonal perlu dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan perhatian komunikan.
  • Lambang-lambang yang dipergunakan harus benar-benar dapat dipahami oleh kedua belah pihak yaitu komunikator dan komunikan.
  • Pesan-pesan tersebut disampaikan secara jelas dan sesuai dengan kondisi maupun situasi setempat.
  • Tidak menimbulkan multi-interprestasi atau penafsiran yang berlainan.
  • Sediakan informasi yang praktis, berguna, dan membantu komunikan belah pihak yaitu komunikator dan komunikan melakukan tindakan yang diinginkan.
  • Berikan fakta, buku kesan dengan cara meyampaikan konkret, detail dan spesifik disertai bukti untuk mendukung opini.
  • Tawarkan rekomendasi dengan cara mengemukakan langkah-langkah yang disarankan untuk membantu komunikan menyelesaikan masalah yang dihadapi.

e. Sikap yang Mendukung Komunikasi Interpersonal

Menurut salah satu para ahli yaitu Devito mengemukakan lima sikap yang perlu dipertimbangkan ketika seseorang merencanakan komunikasi interpersonal. Indikator yang dipakai untuk variabel x yaitu menggunakan teori Devito ada lima sikap positif yang mendukung komunikasi interpersonal tersebut sebagai berikut ini:

  • Keterbukaan

Keterbukaan ialah sikap dapat menerima masukan dari orang lain, serta berkenaan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Hal ini tidak lah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya, tetapi rela membuka diri ketika orang lain menginginkan informasi yang diketahuinya. Sikap keterbukaan ditandai adanya kejujuran dalam merespon segala stimulasi komunikasi. Ada tiga aspek keterbukaan dalam komunikasi interpersonal pustakawan yaitu:

  • Komunikator (pustakawan) harus terbuka kepada komunikannya (pemustaka).
  • Mengacu pada ketersediaan komunikator (pustakawan) untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang dari komunikan (pemustaka). Apabila ada pengunjung perpustakaan yang diam dan kebingungan maka pustakawan harus memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap pengunjung tersebut.
  • Kepemilikan perasaan dan pikiran dimana komunikator (pustakawan) mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang diungkapkannya adalah miliknya dan bertanggung jawab terhadap ucapannya dan pesan yang diberikan kepada komunikan (pemustaka).
  • Empati

Empati ialah kemampuan seseorang untuk merasakan kalau seandainya menjadi orang lain, dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang lain, dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan dapat memahami sesuatu persoalan dari sudut pandang orang lain, melalui kacamata orang lain. Orang yang berempati mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka. Jika dikaitkan dengan layanan di perpustakaan dimana pustakawan mengetahui kesusahan atau kesulitan yang dirasakan oleh pemustaka ketika mencari informasi yang dibutuhkan.

  • Sikap Mendukung

Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness) artinya masing-masing pihak yang berkomunikasi memiliki komitmen untuk mendukung terselenggaraanya interaksi secara terbuka. Jika diterapkan di perpustakaan sikap mendukung ini maksudnya adalah pustakawan harus berusaha menciptakan suasana nyaman, fleksibel, dan mendukung para pencari informasi untuk berkomunikasi dengan pemustaka. Pustakawan menunjukkan sikap bahwa pustakawan siap membantu para tamunya (pemustaka). Hindarkan sikap seolah-olah pustakawan mengawasi para pengunjung perpustakaan.

  • Sikap Positif

Sikap positif ditunjukkan dalam bentuk dan perilaku. Dalam bentuk sikap maksudnya adalah bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi interpersonal harus memiliki perasaan dan pikiran positif, bukan prasangka dan curiga. Sikap positif dapat ditunjukan dengan berbagai macam perilaku dan sikap antara lain:

  • Menghargai orang lain
  • Berpikir positif terhadap orang lain
  • Tidak menaruh curiga segera secara berlebihan
  • Meyakini pentingnya orang lain
  • Memberikan pujian
  • Penghargaan
  • Komitmen menjalin kerjasama

Jika diterapkan dalam perpustakaan sikap positif ini bagi seorang pustakawan harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong para pengunjung perpustakaan lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi yang kondusif agar interaksi antara pustakawan dengan pemustaka menjadi lebih efektif.

  • Kesetaraan

Kesetaraan ialah pengakuan bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan, kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan saling memerlukan. Harus disadari bahwa semua orang bernilai dan memiliki sesuatu yang penting yang bisa diberikan pada orang lain. Kesetaraan dalam komunikasi antarpribadi harus ditunjukan dalam proses pergantian peran sebagai pembicara dan pendengar. Sikap kesetaraan dapat ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan sikap antara lain:

  • Menempatkan diri setara dengan orang lain
  • Menyadari akan adanya kepentingan yang berbeda
  • Mengakui pentingnya kehadiran orang lain
  • Tidak memaksakan kehendak
  • Komunikasi dua arah
  • Saling memerlukan
  • Suasana komunikasi: akrab dan nyaman
Komunikasi Efektif
  • Definisi

Komunikasi efektif adalah pertukaran informasi, ide, perasaan yang menghasilkan perubahan sikap sehingga terjalin sebuah hubungan yang baik antara pemberi pesan dan penerima pesan. Pengukuran efektivitas dari suatu proses komunikasi dapat dilihat dari tercapainya tujuan si pengirim pesan.

  • Cara Berkomunikasi Efektif
  • Komunikasi konteks tinggi, merupakan komunikasi yang pesannya mengandung konteks fisik, sehingga makna pesan hanya dipahami dalam konteks pesan tersebut. Dalam budaya konteks tinggi, makna terinternalisasikan pada orang yang bersangkutan, dan pesan nonverbal lebih ditekankan.
  • Komunikasi konteks rendah, merupakan komunikasi cepat dan mudah berubah, karenanya tidak mengikat kelompok.
  • Gaya bahasa tubuh, merupakan salah satu aspek komunikasi nonverbal disamping aspek- aspek komunikasi nonverbal lainnya yang berkenan dengan benda, seni, ruang dan waktu.
  • Isyarat tangan atau jari lainnya, pengunaan lengan dan tangan untuk tujuan komunikasi juga bervariasi. Isyarat tangan diantara orang- orang yang ada diberbagai negara mempunyai makna dan pesan yang berbeda.
  • Waktu dan tempat, merupakan tata dan budaya yang harus diperhatikan dalam komunikasi efektif, mengingat waktu tempat ini merupakan bagian dari konsep budaya (culture bound).
Komunikasi Empatis

Kata "empati" sendiri berasal dari kata "einfühlung" yang semula digunakan oleh seorang psikolog Jerman. Secara harfiah, kata ini berarti merasa terlibat ("feeling into"). Menurut Onong Uchjana Effendy, empati adalah kemampuan memproyeksikan diri kepada orang lain. Dengan kata lain, empati adalah kemampuan menghayati perasaan orang lain atau merasakan sesuatu yang dirasakan orang lain.

Empati didefinisikan sebagai kemampuan atau kecakapan untuk mengidentifikasi atau memahami—dengan cara seolah mengalami sendiri—perasaan, pikiran, atau sikap orang lain. Empati dihubungkan dengan ungkapan-ungkapan seperti "berjalan dengan memakai sepatu orang lain" atau "memandang dunia melalui mata orang lain". Secara signifikan, empati memengaruhi kualitas kehidupan pribadi dan profesional manusia, terutama aktivitas-aktivitas yang terkait dengan hubungan sosial.

Empati memfasilitasi komunikasi, kerjasama, sikap menghormati, dan sifat kasih sayang. Kemampuan ini memberikan kekuatan untuk mengubah kondisi-kondisi negatif ketika seseorang berusaha meningkatkan interaksi dengan orang lain. Empati bukan sekadar komponen penting, tetapi juga merupakan komponen paling mendasar dari sebuah mindset berdaya tahan.

Daniel Goleman menggambarkan empati sebagai sebuah ciri penting dari kecerdasan emosional yang dapat dipelajari. Empati tidak berarti bahwa seseorang harus setuju dengan orang lain, tetapi semata menunjukkan bahwa seseorang menghargai dan mendukung sudut pandang orang tersebut.

Menurut De Vito, empati memungkinkan Anda untuk memahami secara emosional dan intelektual mengenai sesuatu yang sedang dialami orang lain. Namun, empati tidak akan terlalu bermakna jika Anda tidak mampu mengkomunikasikan pemahaman empatik ini kembali kepada orang tersebut. Seseorang cenderung lebih mudah berempati terhadap orang-orang yang memiliki ide-ide sejalan dengannya dan bersikap kooperatif. Sebaliknya, menjadi lebih sulit untuk berempati saat seseorang mengalami kebingungan, kemarahan, kejengkelan, atau kekecewaan terhadap orang lain.

Pentingnya empati atau perasaan terlibat dalam komunikasi ini terkait dengan pembahasan mengenai persepsi dan kemampuan mendengarkan. Apapun tujuan yang ingin dicapai—baik dalam bidang pendidikan, sosial, atau profesional, bahkan untuk memelihara penghargaan diri seseorang—kemampuan mendengarkan sangatlah penting.

Penyair sufistik, Jalaluddin Rumi, pernah menyatakan: "Untuk berbicara, seseorang harus terlebih dahulu mendengarkan; belajarlah berbicara melalui mendengarkan." Ali juga menyatakan: "Siapa yang paling baik dalam mendengarkan, dialah yang paling cepat memperoleh manfaat." Dalam proses berkomunikasi, sering kali manusia mengalami atau menyaksikan orang-orang yang seolah-olah sedang mendengarkan, tetapi sebenarnya tidak mengindahkan dengan sepenuh hati. Menurut hasil penelitian, banyak kesalahpahaman, pertengkaran, atau kegagalan komunikasi yang terjadi karena kurangnya keterampilan mendengarkan yang baik.

Dengan demikian, perlu membiasakan diri untuk melatih pendengaran. Ada beberapa teknik mendengar yang baik. Pertama, belajar mendengarkan pembicaraan yang tidak menyenangkan hati. Mendengarkan pembicaraan yang membanggakan hati itu mudah, tidak perlu dilatih. Misalnya, ketika seseorang datang dan memberikan pujian, telinga kita langsung mendengarkan dengan baik, tetapi ketika seseorang memberikan nasihat atau mengingatkan atas perbuatan yang salah, telinga kita segera menjadi disfungsional (kurang berfungsi). Oleh karena itu, latihan pertama untuk melatih pendengaran adalah belajar mendengarkan pembicaraan yang tidak diinginkan.

Kedua, belajar mendengarkan orang yang membicarakan tentang dirinya sendiri. Kadang-kadang, mendengar seseorang bercerita tentang dirinya sendiri mungkin tidak terlalu menarik, tetapi hal tersebut penting bagi orang yang berbicara. Oleh karena itu, perlu dihargai. Saat mendengarkan secara aktif, usahakan untuk memahami dan mendukung apa yang sedang dikomunikasikan oleh orang lain. Dukungan di sini tidak berarti persetujuan, melainkan pemahaman tanpa meremehkan. Empati berarti memiliki kemampuan untuk menyelidiki dengan baik kesulitan-kesulitan yang dialami oleh orang lain.

Dengan demikian, komunikasi empatik berarti mendengarkan dengan mata, telinga, dan hati Anda untuk memahami, berintuisi, dan merasakan. Mendengarkan di sini adalah mendengarkan untuk memahami, bukan untuk memberikan jawaban, dan mendengarkan isi pembicaraan, bukan siapa yang berbicara. Respon yang tepat juga menjadi kunci dalam komunikasi empatik, oleh karena itu, berikanlah respon seolah Anda baru pertama kali mendengarkan topik pembicaraan. Kegagalan komunikasi salah satunya disebabkan oleh kurangnya kemampuan mendengarkan dengan empati. Oleh karena itu, Floyd (1985) meyakini bahwa empati adalah "kunci dari pendengaran yang efektif dan, oleh karena itu, komunikasi." Empati adalah kunci untuk mendengarkan secara efektif, sehingga menghasilkan komunikasi yang efektif pula.

  • Pentingnya Empati Dalam Komunikasi

Masalah empati memegang peranan penting dalam dunia komunikasi. Empati dianggap sebagai "modus dasar bagi komunikasi" yang krusial bagi orang dewasa. Komunikasi empatik adalah salah satu keterampilan berkomunikasi yang mendukung pencapaian tujuan komunikasi dari segi persuasif maupun informatif. Meskipun banyak orang merasa yakin bahwa mereka berkomunikasi secara efektif, ketika orang lain tidak merespons sesuai dengan harapan mereka, mereka cenderung menyalahkan pihak lain.

Anda mungkin pernah mendengar seseorang mengeluh, "Suami saya tidak pernah mendengarkan saya," atau "Mereka benar-benar tidak memahami saya," atau "Mereka sama sekali tidak memperhatikan saya ketika saya mencoba memberi tahu mereka sesuatu." Ketika tampaknya orang lain tidak mendengarkan pesan yang disampaikan, sebagai individu yang kritis, kita perlu bertanya, "Bagaimana saya dapat mengubah cara saya menyampaikan sesuatu agar orang lain lebih bersedia menerima apa yang saya katakan?"

Menurut Carl Rogers, "kendala utama dalam komunikasi antarpribadi adalah kecenderungan alamiah kita untuk menghakimi, menilai, menyetujui, atau membantah pernyataan orang lain atau kelompok." Setiap kali berkomunikasi, kita sebenarnya tidak hanya menyampaikan isi pesan, melainkan juga menentukan tingkat hubungan interpersonal.

Ketika seseorang bertanya tentang nama Anda, ada banyak cara untuk mengungkapkannya, dan cara ini mencerminkan tingkat hubungan interpersonal yang berbeda. Misalnya, "Bisakah Anda sebutkan nama Anda?" atau "Siapa nama Anda?" atau "Bolehkah saya tahu siapa nama Bapak?" atau "Sudi kiranya Bapak berkenan menyebutkan nama Bapak?" Kalimat-kalimat yang digunakan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendefinisikan hubungan interpersonal.

Pandangan bahwa komunikasi mendefinisikan hubungan interpersonal pertama kali diungkapkan oleh Ruesch dan Bateson (1951) pada tahun 1950-an. Gagasan ini kemudian dipopulerkan oleh Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967) dalam buku Pragmatics of Human Communication. Seiring waktu, studi komunikasi interpersonal telah bergeser dari fokus pada isi pesan ke aspek relasional.

Komunikasi empatik, atau komunikasi dengan empati, merujuk pada komunikasi yang didasari oleh kesadaran untuk memahami dengan perasaan, kepedulian, dan perhatian terhadap lawan bicara. Oleh karena itu, dalam komunikasi empatik, penting untuk memperhatikan cara kita memahami orang lain. Sebaliknya, kita tidak seharusnya hanya mengharapkan orang lain untuk memahami terlebih dahulu. Sikap ini sebaiknya bersifat saling timbal balik, sehingga saling pemahaman dapat terbentuk. Dengan dasar pemikiran ini, pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan komunikasi akan menerapkan komunikasi empatik, membuatnya lebih mudah untuk membina sikap saling memahami dan saling menghormati dalam interaksi komunikasi.

  • Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Komunikasi Empatik

Semakin jelas seseorang memahami kendala-kendala untuk memiliki empati, maka semakin baik orang tersebut menghadapi kendala-kendala itu. Berikut ini empat rintangan dalam berempati.

1. Lingkungan Keluarga

Empati memang sulit bagi orang yang tumbuh dalam keluarga yang orang tuanya tidak punya empati. Dalam keluarga semacam itu, anak sering kali diberi tahu cara mereka harus berperasaan dan berpikir. Tentu saja, anak dari orang tua yang punya empati tidak serta-merta tumbuh menjadi orang yang bisa berempati. Ada banyak faktor yang turut memengaruhi kepribadian dan perilakunya. Namun, lebih mudah untuk memiliki rasa empati apabila seseorang dalam sehari-hari menyaksikan praktik empati dari orang tua dan orang-orang yang merawatnya.

2. Menyembunyikan Kekecewaan atau Kemarahan

Kebanyakan orang menilai diri sendiri punya empati. Empati lebih kentara ketika orang lain berperilaku dan bersikap sesuai dengan preferensi. Misalnya, orang lebih mudah untuk berempati kepada temannya yang bersikap dan berperilaku baik kepadanya. Namun, apabila sikap temannya tidak sesuai dengan keinginannya, maka sering kurang berempati kepadanya. Dalam hal ini, jauh lebih sulit untuk berempati ketika tindakan teman, kerabat, dan kolega tidak sesuai dengan harapan orang tersebut. Rasa marah dan kecewa yang tersembunyi dapat meredupkan empati dan membutakan dari dampak negatif perkataan serta perbuatan seseorang. Ketika marah atau kecewa, seseorang jarang berhenti sejenak untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana orang ini menggambarkan diri saya sekarang, ketika saya membentaknya? Apakah cara saya mengatakan atau melakukan sesuatu bisa membuat orang lain benar-benar mau mendengarkan dan merespons saya? Secara teoretis, tim peneliti di rumah sakit Lehigh Valley Pennsylvania, Amerika Serikat, menemukan bahwa orang yang gampang marah, menyimpan perasaan bermusuhan, suka bersikap sinis, dan agresif, berkaitan erat dengan peningkatan kematian akibat penyakit infark jantung.

3. Membuat Asumsi tentang Motivasi Orang Lain

Disadari atau tidak, seseorang sering menilai motif perilaku orang lain berupa prasangka negatif.20Menurut Baron dan Byrne (1994), yang dikutip Sarlito, prasangka adalah sikap yang negatif terhadap kelompok tertentu atau seseorang. Hal ini semata-mata karena keanggotaannya dalam kelompok tertentu. Prasangka juga tidak selalu salah dan irasional. Ia dapat juga positif. Hanya saja, prasangka yang positif biasanya tidak menimbulkan masalah dalam hubungan sosial. Perasaan empati berkurang bila prasangka (negatif) muncul dalam komunikasi. Hal ini akan mendistorsi hubungan dan mengakibatkan rusaknya komunikasi.

4. Terlalu Berempati

Salah satu keberatan yang kadang terdengar jika terlalu berempati adalah menjadi mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Orang tua menyuarakan keberatan ini terkait dengan anak-anak mereka. Para majikan menyuarakannya terkait dengan karyawan. Para suami menyuarakannya terkait dengan istri. Sementara itu, para istri menyuarakannya terkait dengan suami. Sikap empati sering dirancukan dengan sikap mengalah, tidak jujur mengutarakan perasaan, tidak tegas atau tidak terus terang. Orang yang empati tidak menahan diri dari memberikan umpan balik kepada orang lain atau menahan diri dari menetapkan batasan-batasan yang tepat. Menurut Goleman, Boyatzis dan McKee, empati bukanlah sikap sentimental ”saya oke, kamu oke.” Hal itu tidak berarti bahwa setiap komunikator memakai perasaan orang lain dan berusaha menyenangkan setiap orang. Hal itu akan menjadi pengalaman yang mengerikan dan akan menutup berbagai kemungkinan tindakan yang seharusnya dilakukan. Sebaliknya, empati berarti mempertimbangkan secara mendalam perasaan orang lain dan kemudian membuat keputusan-keputusan cerdas yang berhasil merespons perasaan-perasaan itu.

  • Sikap Suportif dan Defensif Dalam Komunikasi Empatik

Salah satu faktor yang menumbuhkan hubungan sosial yang baik dalam komunikasi empatik adalah sikap suportif, yakni sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis. Orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi daripada memahami pesan orang lain. Komunikasi defensif dapat terjadi karena faktor-faktor personal (ketakutan, kecemasan, harga diri yang rendah, pengalaman defensif, dan sebagainya) atau faktor-faktor situasional. Pada kaitan ini, Jack R. Gibb menyebut enam perilaku yang menimbulkan perilaku suportif yaitu sebagai berikut.

1. Evaluasi

Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain, baik memuji maupun mengecam. Dalam mengevaluasi, seseorang cenderung mempersoalkan nilai dan motif orang lain. Bila seseorang menyebutkan kelemahan orang lain, mengungkapkan betapa jelek perilakunya, dan meruntuhkan harga dirinya, maka akan melahirkan sikap defensif. Kebalikan dari evaluasi adalah deskripsi. Deskripsi artinya penyampaian perasaan dan persepsi tanpa menilai. Pada evaluasi, umumnya menggunakan kata-kata sifat (salah, ngawur, bodoh dan ungkapan lainnya yang negatif). Pada deskripsi, biasanya, seseorang menggunakan kata-kata kerja misalnya: ”Anda sering kali berpindah dari satu persoalan ke persoalan lain”; atau ”Anda tidak mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang ini”. Sebenarnya, hal ini dapat dievaluasi pada gagasan, bukan pada pribadi (walaupun banyak orang merasa dirinya diserang ketika gagasannya dipersoalkan). Deskripsi dapat terjadi juga ketika seseorang mengevaluasi gagasan orang lain, ”merasa” bahwa dia menghargai diri mereka (menerima mereka sebagai individu yang patut dihargai).

2. Kontrol

Perilaku kontrol artinya berusaha untuk mengubah orang lain, mengendalikan orang perilakunya, mengubah sikap, pendapat, dan tindakannya. Melakukan kontrol berarti mengevaluasi orang lain sebagai orang yang jelek sehingga perlu diubah. Dalam hal ini, setiap orang tidak ingin didominasi orang lain. Orang ingin menentukan perilaku yang dia senangi. Oleh karena itu, kontrol orang lain akan dia tolak. Untuk mengatasi masalah ini, perlu adanya orientasi masalah dengan mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama dan mencari pemecahan masalah. Solusi konkretnya, mengajak orang lain bersama-sama untuk menetapkan tujuan dan memutuskan cara mencapainya.

3. Strategi

Strategi adalah penggunaan tipuan-tipuan atau manipulasi untuk memengaruhi orang lain. Seseorang menggunakan strategi bila orang lain menduga ada motif-motif tersembunyi. Lawan dari strategi adalah spontanitas, yaitu sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam.

4. Netralitas

Netralitas adalah sikap impersonal–memperlakukan orang lain tidak sebagai personal, melainkan sebagai objek. Bersikap netral bukan berarti objektif, melainkan menunjukkan sikap tak acuh serta tidak menghiraukan perasaan dan pengalaman orang lain. Kebalikan sifat ini adalah sikap empati. Tanpa empati, orang seakan-akan ”mesin” yang hampa perasaan dan tanpa perhatian.

5. Superioritas

Superioritas artinya sikap menunjukkan diri lebih tinggi atau lebih baik daripada orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan, atau kecantikan. Superioritas akan melahirkan sikap defensif. Sifat sebaliknya adalah bersikap merasa sama atau setara dan tidak menggurui. Dengan persamaan, manusia mengomunikasikan penghargaan dan rasa hormat kepada perbedaan pandangan dan keyakinan.

6. Kepastian

Orang yang memiliki kepastian bersifat dogmatis, ingin menang sendiri, dan melihat pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat. Dalam hal ini, harus dikembangkan sikap provisionalisme, yakni kesediaan untuk meninjau kembali pendapat, untuk mengakui bahwa pendapat manusia adalah tempat kesalahan. Dengan demikian, wajar juga kalau satu saat pendapat dan keyakinannya bisa berubah. Selain sikap suportif, sikap yang perlu dikembangkan dalam komunikasi empatik adalah sikap terbuka. Sikap terbuka (open-mindedness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi yang empatis. Lawan dari sikap terbuka adalah dogmatik. Orang dogmatis bersikap tertutup. Ciri-ciri orang dogmatis adalah:

Pertama, menilai pesan berdasarkan motif pribadi. Setiap pesan akan dievaluasi berdasarkan desakan dari dalam diri individu. Rokeach menyebut desakan ini, antara lain, kebiasaan, kepercayaan, petunjuk perseptual, motif ego irasional, hasrat berkuasa, dan kebutuhan untuk membesarkan diri. Orang dogmatis sukar menyesuaikan dirinya dengan perubahan lingkungan.

Kedua, berpikir simplistis. Bagi orang dogmatis, kalau tidak salah, maka benar. Dunia dibagi dua; yang pro (sudah pasti benar), dan yang kontra (di mana segala kejelekan berada).

Ketiga, berorientasi pada sumber. Bagi orang dogmatis, yang paling penting adalah orang yang berbicara, bukan hal yang dibicarakan. Hal ini terikat sekali pada otoritas yang mutlak.

Keempat, mencari informasi dari sumber sendiri. Orang dogmatis hanya mempercayai sumber informasi mereka sendiri, dan kurang memerhatikan sumber-sumber lainnya yang tidak sejalan dengan pemahaman dan keyakinannya.

Kelima, secara kaku mempertahankan dan membela sistem kepercayaannya. Orang dogmatis tidak tahan hidup dalam suasana inkonsisten. Ia menghindari kontradiksi atau benturan gagasan. Informasi yang tidak konsisten akan ditolak, didistorsi, atau tidak dihiraukan sama sekali.

Agar komunikasi interpersonal melahirkan hubungan yang baik, dogmatisme harus digantikan dengan sikap terbuka. Bersama-sama dengan sikap percaya dan sikap suportif, sikap terbuka mendorong timbulnya saling pengertian, saling menghargai, dan paling penting saling mengembangkan kualitas hubungan interpersonal.

Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert, ada empat tanda orang yang memiliki konsep diri negatif.

Pertama, ia peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam. Bagi orang ini, koreksi sering kali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam komunikasi, orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai justifikasi atau logika yang keliru.

Kedua, responsif sekali terhadap pujian. Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya.

Ketiga, mereka bersikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apa pun dan siapa pun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.

Keempat, cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Karena itulah, ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh sehingga tidak melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan pernah mempersalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.

Kelima, orang yang konsep dirinya negatif, bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

Sementara itu, seseorang yang memiliki konsep diri positif dapat dikenali melalui lima hal berikut:

  • Keyakinan akan kemampuannya mengatasi masalah.
  • Perasaan setara dengan orang lain.
  • Kemampuan menerima pujian tanpa rasa malu.
  • Kesadaran bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat.
  • Kemampuan untuk melakukan introspeksi dan perbaikan diri, di mana individu dapat mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha untuk mengubahnya.

Dalam realitasnya, tidak ada seseorang yang sepenuhnya memiliki konsep diri negatif atau positif. Namun, untuk mencapai efektivitas dalam komunikasi empatik, disarankan agar seseorang memiliki tanda-tanda konsep diri yang positif.

  • Prinsip-Prinsip Komunikasi Empatik

Agar komunikasi berjalan efektif, para pelaku komunikasi harus memperhatikan dan menerapkan prinsip komunikasi empatik, yaitu:

Pertama, prinsip adalah keseluruhan, bukan sebagian. Tiga orang buta sedang berdiri mengelilingi seekor gajah dan mencoba memberikan gambaran mengenai Sang Gajah. Orang buta pertama yang memegang ekor gajah mengatakan gajah itu kurus dan panjang. Orang buta kedua yang memegang telinga gajah mengatakan gajah itu berkulit tipis dan lentur. Orang buta ketiga yang memegang perut kaki gajah mengatakan gajah itu berkulit keras, dan berbentuk bulat. Kejadian itu harus dimaknai sebagai keseluruhan, bukan dipisah-pisah.

Kedua, moral. Cobalah terlebih dahulu mencari informasi yang selengkap-lengkapnya sebelum memberikan komentar. Jika hanya memiliki sepenggal informasi, maka jangan langsung membentuk opini dan menyatakan pendapat berdasarkan informasi yang belum lengkap tersebut. Untuk masalah ini, yang perlu dilakukan adalah melengkapi informasi yang ada dengan banyak bertanya kepada pihak-pihak yang terlibat, sebelum mengambil keputusan dan mengkomunikasikan keputusan yang kita ambil. Cara lain adalah aktif mencari informasi tambahan yang diperlukan sehingga mendapat gambaran yang lebih lengkap terhadap sesuatu yang akan kita komunikasikan.

Ketiga, berusaha mengerti, baru dimengerti. Seorang manajer pemasaran produk elektronik berteknologi tinggi sedang menawarkan produknya kepada calon pelanggan. Supaya terkesan canggih, dalam menjelaskan spesifikasi produk yang ditawarkan, manajer menggunakan istilah-istilah teknis yang berhubungan dengan produk elektronik tersebut. Dia juga langsung menjelaskan pilihan unggulan dari produk ini serta mendemokan penggunaan produk tersebut. Namun demikian, karena bahasa yang digunakan terlalu canggih bagi calon pembeli, serta produk yang didemokan ternyata bukan produk yang dibutuhkan calon pembeli, maka bisa dibayangkan hal yang terjadi kemudian: calon pelanggan tidak mau membeli produk yang ditawarkan. Kenapa terjadi kegagalan seperti itu? Stephen Covey dalam buku “7 Habits of Highly Effective People” mengatakan bahwa dalam berkomunikasi ada baiknya untuk terlebih dahulu mencoba mengerti, sebelum menuntut untuk dimengerti. Dengan mengerti duduk permasalahan yang sebenarnya, serta mengerti lawan bicara, akan lebih mudah bagi memahami sesuatu yang dikomunikasikan orang tersebut, dan akan lebih mudah pula bagi untuk memberikan pendapat, masukan yang mudah dimengerti lawan bicara. Dalam kasus di atas, jika manajer terlebih dahulu mencoba mengerti calon pembeli (apakah calon pembeli cukup paham dengan istilah teknis?) dan kebutuhan calon pembeli, maka dalam mengkomunikasikan produk yang akan dijualnya bisa menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami, dan memulai dengan pendekatan solusi bagi calon pembeli, bukannya solusi yang diasumsikan dibutuhkan oleh calon pembeli tersebut.

Keempat, diagnosa sebelum respons. Bapak Salim pergi ke dokter mata. Kepada dokter, Pak Salim mengeluh ia tidak bisa menggunakan matanya untuk membaca. Dokter memeriksa mata Pak Salim, lalu memintanya membeli kaca mata yang sesuai dengan resep yang diberikan. Seminggu kemudian, Pak Salim kembali ke dokter mata yang sama. Ia mengeluh walaupun sudah membeli dan menggunakan kaca mata yang disarankan dokter, ia tetap tidak bisa membaca. Dokter menjadi bingung. Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata permasalahannya bukan pada ukuran kaca mata, tetapi pada Bapak Salim sendiri karena Bapak Salim buta huruf. Dalam hal ini, walaupun dokter menyarankan menggunakan kaca mata yang paling canggih sekalipun, Pak Salim tetap tidak akan bisa membaca. Di sini, moral yang dapat dipelajari dari anekdot ini adalah, sebelum memberikan pendapat, masukan atau jawaban, diagnosis terlebih dahulu secara teliti permasalahan yang dihadapi lawan bicara. Setelah menemukan akar permasalahannya, akan lebih mudah untuk membantu memberikan jawaban, solusi ataupun masukan yang diperlukan lawan bicara.

Kelima, keyakinan. Jika seseorang tersesat dan bertanya kepada orang yang ditemui di jalan tentang alamat, orang tersebut memberikan informasi tetapi ia tidak terlihat yakin akan informasi yang diberikannya. Apa yang akan dilakukan? Apakah akan mengikuti petunjuk yang diberikan orang tersebut? Jika seseorang pergi ke toko obat, dan si Penjual menawarkan obat yang diperlukan. Akan tetapi, ketika ditanya apakah obat tersebut manjur, si Penjual tidak memberikan jawaban yang meyakinkan. Apakah akan dibeli obat yang ditawarkan tersebut? Jawaban dari kedua situasi di atas kemungkinan besar adalah ”tidak.” Pada dasarnya, manusia akan cenderung lebih percaya kepada orang yang memiliki dan menunjukkan keyakinan diri tinggi. Dengan demikian, jika berkomunikasi, pastikan hal yang dikomunikasikan benar-benar dikuasai dengan baik, dan benar-benar diyakini kebenarannya. Jika sudah yakin, maka akan lebih mudah untuk meyakinkan orang lain. John Maxwell dalam buku Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling Anda mengatakan pentingnya lebih memfokuskan perhatian pada orang yang diajak berkomunikasi, bukannya pada diri sendiri. Dengan memberikan fokus perhatian kepada orang lain, maka mereka akan merasa dipedulikan. Kalau orang merasakan memang memberikan perhatian, kepedulian, dan rasa hormat kepada mereka ketika berbicara ataupun menyampaikan pendapat, maka mereka akan juga bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian sesuatu yang dikomunikasikan kepada mereka. Dengan memfokuskan perhatian kepada orang lain, manusia bisa lebih mudah memahami lawan bicaranya (apa keinginan mereka, apa permasalahan mereka, apa yang mereka perlukan dari kita). Jika telah dipahami mereka, tentunya bisa dikomunikasikan hal yang kiranya dapat menarik perhatian mereka, dan sesuatu yang kiranya mau mereka terima, beli, ataupun dukung.

Keenam, kontak mata. Kontak mata merupakan bagian yang penting dalam berkomunikasi. Dengan melibatkan kontak mata dengan orang yang diajak bicara, hal ini memberi kesan dan pesan kepada orang tersebut bahwa sungguh-sungguh terhadap sesuatu yang dikomunikasikan. Kesungguhan ini akan mendorong lawan bicara memperhatikan dengan seksama apa pun yang komunikasikan. Mereka juga lebih percaya karena kesungguhan yang diperlihatkan sehingga akan lebih mudah bagi mereka memberikan dukungan ataupun memberikan jawaban ”Ya”, atau melakukan apa pun yang dianjurkan kepada mereka.

Ketujuh, senyuman. Jika berpapasan dengan orang lain (yang tidak kenal sama sekalipun) di lift, di tangga, ataupun di koridor kantor, cobalah sapa orang tersebut (dengan mengucapkan: Selamat Pagi, Selamat Siang, atau sekadar sapaan sederhana ”Hai”) dan berilah senyuman hangat. Hampir bisa dipastikan orang tersebut akan tersenyum kembali. Senyuman, menurut Maxwell, memang merupakan senjata yang paling ampuh yang dapat digunakan untuk membuka komunikasi. Senyuman yang tulus dan hangat dapat mengatasi berbagai hambatan dalam komunikasi (misalnya: ketegangan, kecurigaan, kemarahan, kecemburuan). Senyuman merupakan indikasi adanya emosi positif terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Jika lawan bicara merasa memang ”suka” berkomunikasi dengannya, maka akan lebih mudah bagi orang tersebut menerima masukan, pendapat, ataupun solusi yang kepadanya.

Kedelapan, saling menyukai. Nasihat yang cenderung diterima; musuh atau kawan? Pendapat siapa yang cenderung lebih didukung: orang yang tidak kenal sama sekali atau orang yang sudah sangat kenal dengan baik, pembicaraan siapa yang lebih cenderung dipercaya: orang yang dihormati dan menghormati kita atau orang yang membenci? Intinya, komunikasi akan efektif, jika orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut saling menyukai. John C. Maxwell juga memiliki pendapat yang sama. Maxwell berpendapat menyukai orang lain yang diajak berkomunikasi merupakan awal kemampuan berkomunikasi yang efektif. Jika berjumpa dengan seseorang dan reaksinya bermusuhan, afek (emosi) yang akan ditimbulkan pada diri kita adalah marah, sedangkan jika reaksi awalnya menghargai dan menyenangkan, dan emosi yang ditimbulkan adalah positif. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ketika menjumpai seseorang yang disukai, dia terlihat sebagai orang yang menarik. Hal ini karena aspek terpenting dari perasaan menyenangi adalah harapan yang memperkuat perasaan terhadapnya. Komunikasi baru dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Dapat dinyatakan pula bahwa komunikasi akan lebih efektif bila para komunikan saling menyukai. Seorang yang dikatakan berhasil dalam komunikasi empatik adalah seorang yang sanggup menumbuhkan dan memperkuat rasa harga diri komunikan. Kata-kata kunci yang bisa dijadikan pedoman dalam komunikasi empatik adalah memahami, kepedulian, penghargaan, dan perhatian terhadap orang lain.

Kemampuan manusia dalam berkomunikasi secara empatik tampaknya sudah mulai merosot di kalangan individu-individu dalam masyarakat kontemporer. Kemampuan berkomunikasi secara empatik perlu diperbaharui untuk mengatasi berbagai kegagalan komunikasi, baik yang terjadi dalam konteks antarpribadi, kelompok, organisasi, sosial, maupun komunikasi antarbudaya. Kegagalan tersebut tidak jarang menyebabkan kesalahpahaman, sikap saling menghakimi, dan saling menyalahkan. Jika kondisi ini dibiarkan, dapat muncul konflik bahkan kekerasan, yang berpotensi mengancam hubungan antar warga bangsa yang heterogen.

Salah satu penyebab kegagalan komunikasi adalah kurangnya kemampuan mendengarkan dengan empati. Oleh karena itu, Floyd (1985) meyakini bahwa empati adalah "the key to effective listening and therefore to communication." Empati dianggap sebagai kunci untuk mendengarkan secara efektif, sehingga dapat menghasilkan komunikasi yang efektif. Dalam membangun komunikasi empatik, komunikator harus memiliki kemampuan untuk memahami, peduli, menghargai, serta memberikan perhatian kepada orang lain.

Komunikasi Terbuka

Komunikasi Terbuka adalah proses komunikasi di mana informasi, ide, dan perasaan disampaikan dengan jujur, transparan, dan tanpa hambatan antara individu atau kelompok. Ini melibatkan kesediaan untuk mendengarkan, berbagi informasi. Ada beberapa teori tentang komunikasi terbuka yang dirumuskan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah:

Menurut Miller, komunikasi terbuka adalah situasi di mana pesan yang diucapkan menjadi jelas dan mudah dimengerti oleh anggota keluarga lainnya.

Menurut Johnson, komunikasi terbuka dapat diartikan sebagai saling memahami dan saling percaya, di mana setiap anggota keluarga membuka diri untuk mengungkapkan tanggapan terhadap situasi yang dihadapi, termasuk kata-kata atau perbuatan melalui komunikasi. Suasana batin yang menyenangkan bagi setiap anggota ditekankan, di mana mereka dapat dengan nyaman berbicara, menyampaikan ide, dan perasaan tanpa rasa sungkan, khawatir, atau ketidaknyamanan, bahkan rasa takut.

Menurut Pawit M. Yusup, komunikasi terbuka dalam keluarga melibatkan setiap anggota yang saling membuka diri terkait hal-hal yang dapat menyebabkan ketidaksejalan di antara mereka.

Menurut Syaiful Bahri Jamarah, komunikasi terjadi ketika orang-orang yang terlibat memiliki kesamaan makna mengenai apa yang dikomunikasikan. Proses ini melibatkan sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain.

Menurut Hovland, komunikasi, sebagaimana dikutip dalam buku "Ilmu Komunikasi Teori & Praktek," merupakan proses di mana individu menyampaikan pesan kepada individu lainnya untuk mentransmisikan rangsang guna mengubah tingkah laku atau merubah perilaku orang lain.

Menurut Rogers dan D. Lawrence Kincaid, komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi satu sama lain, yang pada akhirnya akan mencapai saling pengertian yang mendalam.

Dalam bukunya "Interpersonal Communication: Everyday Encounters" karya Julia T. Wood, konsep komunikasi terbuka diperkenalkan sebagai fondasi utama dalam membentuk hubungan yang sehat antar individu. Wood menyoroti beberapa poin penting terkait dengan komunikasi terbuka:

  • Kejujuran dalam Komunikasi: pentingnya kejujuran sebagai elemen kunci dalam komunikasi terbuka. Ketika individu secara terbuka menyampaikan perasaan, pemikiran, dan informasi tanpa menyembunyikan atau menyesatkan, hal ini menciptakan kesempatan untuk hubungan yang lebih dalam dan jujur.
  • Transparansi dan Keterbukaan: Konsep keterbukaan dan transparansi dalam komunikasi juga ditekankan. Ini berarti membangun lingkungan di mana individu merasa nyaman untuk berbagi informasi secara bebas tanpa takut dicemooh, dihakimi, atau diabaikan.
  • Penerimaan Tanpa Syarat: Menyoroti pentingnya penerimaan tanpa syarat dalam konteks komunikasi terbuka. Ini mencakup kemampuan untuk mendengarkan tanpa prasangka, menangkap pesan dengan pemahaman yang mendalam, dan merespons dengan empati.
  • Pembentukan Hubungan yang Sehat: Konsep komunikasi terbuka dianggap sebagai fondasi untuk membentuk hubungan yang sehat, memungkinkan individu untuk saling mengenal, memahami, dan mendukung satu sama lain.

Maka bisa disimpulkan bahwa Komunikasi terbuka adalah proses interaksi di mana individu atau kelompok berkomunikasi dengan kejujuran, transparansi, dan tanpa hambatan untuk menyampaikan ide, perasaan, dan informasi. Ini melibatkan kesediaan untuk mendengarkan dengan terbuka, merespons dengan penerimaan, dan mengungkapkan diri tanpa menyembunyikan atau memanipulasi informasi. Keterbukaan terhadap umpan balik, transparansi, serta kemampuan untuk mengelola konflik dengan pendekatan yang terbuka menjadi landasan dalam membangun hubungan yang sehat, saling pengertian, dan menghargai di antara individu atau kelompok.

Komunikasi Asertif

a. Pengertian Komunikasi Asertif

Mempertahankan sikap positif dalam berkomunikasi adalah hal penting yang harus diperhatikan bagi siapa saja yang menginginkan terjadinya komunikasi dua arah yang baik, tanpa ada satu pihak yang salah menginterpretasikan pesan yang kita maksud. Keterampilan berkomunikasi asertif sangat diperlukan dalam hal ini karena komunikasi asertif berguna untuk meningkatkan efektivitas individu. Komunikasi asertif merupakan salah satu tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu melalui tindakan, bahasa tubuh dan ekspresi wajah untuk memperlihatkan gambaran emosi, pikiran, dan perasaan secara eksternal.

Kemampuan komunikasi asertif merupakan kemampuan komunikasi yang berdiri pada titik tengah antara komunikasi pasif dan agresif. Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Menjadi asertif bukanlah hal yang mudah. Seseorang dituntut untuk jujur terhadap diri sendiri. Jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan ataupun merugikan pihak lainnya.

Individu yang memiliki kemampuan dalam berkomunikasi asertif memandang bahwa pendapat dan ide orang lain sama pentingnya dengan pendapat dan idenya sendiri. Biasanya orang asertif bertindak lebih terbuka dan jujur, dan berpikir lebih positif mengenai dirinya tanpa memandang rendah orang lain. Oleh karena itu, memiliki kemampuan komunikasi asertif dapat memberikan manfaat, antara lain meningkatkan kesempatan terpenuhinya kebutuhan, tercapainya tujuan terutama dalam situasi yang sulit, menciptakan kondisi di mana setiap anggota dapat mempengaruhi anggota yang lain, mengurangi frustrasi dan stres, dan meningkatkan kepercayaan diri.

Perilaku asertif adalah contoh komunikasi efektif yang berguna dalam pengembangan diri dan potensi. Dalam berperilaku asertif individu tidak mengorbankan individu lain demi kepentingan pribadi, tidak semena-mena menahan diri dari intervensi individu lain. Orang yang melakukan komunikasi secara asertif selalu mengajak lawan bicara untuk menemukan kemenangan bersama atau mencari win-win solution. Menurut (Garner), manfaat berperilaku asertif dalam komunikasi adalah menghilangkan rasa takut dan kecemasan, memberikan pengawasan pribadi dalam bertindak dan melihat secara personal bagaimana orang lain bersikap terhadap orang lain, dan meningkatkan kepercayaan diri dan penghargaan terhadap orang lain. Sikap Asertif adalah pilihan perilaku komunikasi yang efektif dalam jangka pendek dan jangka panjang sehingga dapat menjadi dasar keberhasilan dan keberlangsungan hubungan dengan rekan kerja, kolega, atasan dan bawahan, teman dan sahabat.

Perilaku assertive tidak dibawa sejak lahir, melainkan merupakan perilaku hasil belajar dan bersifat situasional, yaitu perilaku ini berkembang sejak kecil dan bergantung pada lingkungan sosial di mana individu belajar tingkah laku (Garner). Tingkah laku assertif mempunyai jangkauan positif terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Tingkah laku asertif juga mencakup aspek seseorang menghadapi konflik dan permasalahan dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

Komunikasi asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan apa yang diinginkan, diharapkan, atau yang dipikirkan oleh seseorang kepada orang lain dengan tetap menghargai perasaan dan hak orang lain. Dengan melakukan komunikasi asertif, maka seorang remaja dapat menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain tanpa melakukan penolakan pada dirinya sendiri ataupun pada orang lain. Perilaku ataupun komunikasi asertif. Kemampuan melakukan komunikasi asertif sangat penting bagi remaja, terutama pada tahap remaja awal agar remaja diterima dalam kelompok teman sebaya sehingga remaja tetap mendapatkan penerimaan dari lingkungannya. Salah satu yang mempengaruhi kemampuan komunikasi asertif ataupun perilaku agresif faktor keluarga.

Komunikasi asertif merupakan kemampuan berkomunikasi yang bersifat aktif, langsung, dan jujur. Perilaku ini mengkomunikasikan kesan dan pesan kepada diri sendiri dan kepada orang lain, dengan sikap asertif maka individu memandang keinginan, kebutuhan dan haknya sama dengan kebutuhan dan hak orang lain. Komunikasi asertif bekerja mengarah win-win solution di mana orang yang mempunyai kemampuan berkomunikasi asertif mampu mempengaruhi, mendengarkan dan bernegosiasi sehingga orang lain memilih untuk bekerja sama secara rela. Perilaku ini mendorong hubungan yang jujur dan terbuka.

Menjalin komunikasi yang baik akan berdampak pada kemudahan seorang mahasiswa atau individu untuk bersosialisasi dan menjalin hubungan lingkungan secara efektif. Komunikasi asertif pada mahasiswa dapat memunculkan kemampuan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkan secara langsung namun tetap dapat menghormati hak-hak orang lain.

b. Perilaku Asertif

Pearson dalam Sofah (2017) mendefinisikan perilaku asertif sebagai kemampuan untuk mengkomunikasikan pikiran, perasaan, serta keinginan secara jujur, langsung namun juga memperolehkan orang lain untuk mengkomunikasikan pikiran, perasaan, serta keinginan mereka. Mendukung pernyataan tersebut, dalam Human Solutions menerangkan bahwa asertivitas adalah sebuah perilaku dan komunikasi yang menunjukkan rasa hormat terhadap keinginan individu sendiri dengan keinginan orang lain.

Perilaku asertif yaitu melibatkan permintaan atau menyatakan apa yang diinginkan dengan cara yang jelas dan langsung dengan mempertimbangkan perasaan dan hak orang lain. Perilaku asertif ini juga menyertakan pembelaan atas dirinya sedemikian rupa sehingga individu tidak melanggar hak orang lain. Asertivitas memperlihatkan ekspresi perasaan, pendapat, atau permintaan langsung, jujur, dan tepat. Ketika kita bertindak asertif, kita mengendalikan tindakan kita dan juga menerima tanggunng jawab untuk diri kita sendiri.

Dalam memahami asertivitas sebagai perilaku atau gaya komunikasi, penting untuk memahami apa yang bukan termaksud. Perilaku asertif bukanlah perilaku bahwa “aku yang utama”, hal tersebut yang menjadikan salah satu kekuatan penghancur yang paling umum dalam suatu hubungan. Asertivitas tidak hanya berbagi perasaan kita tanpa memperhatikan perasaan dan hak orang lain. Perilaku yang asertif dapat digolongkan sebagai agresif atau submisiv.

Menurut Cawood (dalam Sinaga, 2016) mendefinisikan perilaku asertif sebagai kemampuan seseorang untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, kebutuhan dan hak pribadinya tanpa kecemasan, mampu bersikap jujur dan langsung serta memperhitungkan hak-hak sendiri tanpa meniadakan hak orang lain. Ekspresi yang langsung dimaksudkan sebagai yang tidak berputar-putar, pesan jelas, dan terfokus serta tidak menghakimi. Ekspresi jujur dimaksudkan sebagai perilaku yang selaras antara kata- kata, gerak-gerik, perasaan semua mengatakan hal yang sama.

Berdasarkan beberapa definisi mengenai perilaku asertif di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa perilaku asertif adalah kemampuan seseorang untuk mengkomunikasikan perasaan, pikiran dan kebutuhan dengan memperhitungkan hak- hak pribadi tanpa melanggar hak orang lain.

Menurut Rathus & Nevid (dalam Firdaus, 2015) mengemukakan 10 aspek dari asertivitas yaitu :

  • Bicara Asertif.

Tingkah laku ini dibagi menjadi 2 macam, yaitu rectifying statement (mengemukakan hak-hak dan berusaha mencapai tujuan tertentu dalam suatu situasi) dan commendatory statement (memberikan pujian untuk menghargai orang lain dan memberikan umpan balik positif).

  • Kemampuan Mengungkapkan Perasaan.

Mengungkapkan perasaan kepada orang lain dan kepada perasaan ini dengan suatu tingkat spontanitas yang tidak berlebihan.

  • Menyapa Atau Memberi Salam Kepada Orang Lain.

Menyapa atau memberi salam kepada orang-orang yang ingin ditemui, termaksud orang baru dikenal dan membuat suatu pembicaraan.

  • Ketidaksepakatan

Yaitu menampilkan cara yang efektif dan jujur untuk menyatakan rasa tidak setuju.

  • Menyatakan Alasan.

Menyatakan alasannya jika diminta untuk melakukan sesuatu, tapi tidak langsung menyanggupi atau menolak begitu saja.

  • Berbicara Mengenai Diri Sendiri.

Membicarakan diri sendiri mengenai pengalaman-pengalaman dengan cara yang menarik, dan merasa yakin bahwa orang akan lebih merespon terhadap perilakunya daripada menunjukkan perilaku menjauh atau menarik diri.

  • Menghargai Pujian Dari Orang Lain.

Menghargai pujian dari orang lain dengan cara yang sesuai.

  • Menolak Untuk Menerima Begitu Saja Pendapat Orang Yang Suka Berdebat.

Mengakhiri percakapan yang bertele-tele dengan orang yang memaksakan kehendaknya.

  • Menatap Lawan Bicara.

Ketika berbicara atau diajak bicara, menatap lawan bicaranya.

  • Respon Melawan Rasa Takut.

Menampilkan perilaku yang biasanya, melawan rasa cemas, biasanya kecemasan sosial.

Aspek perilaku asertif oleh teori Alberti & Emmons (1986) yang dikukung oleh Adams (1995) dan Zeuchner (2003) (dalam Sinaga, 2016), seperti berikut :

  • Individu mampu menyatakan pendapat dan perasaan.
  • Individu mampu bertindak sesuai kebutuhan dan kepentingan diri.
  • Individu mampu mempertahankan hak-hak pribadi.
  • Individu mampu menghormati hak-hak orang lain.
  • Individu mampu mendukung kesetaraan dalam hubungan manusia.

Berdasarkan beberapa aspek-aspek yang dikemukakan di atas, maka individu yang memiliki aspek-aspek mampu berperilaku asertif adalah :

  • Individu yang memiliki keyakinan diri;
  • Mampu mengekspresikan pendapat dan perasaannya;
  • Mempertahankan hak pribadi dan menghormati hak orang lain;
  • Individu mampu untuk bertindak sesuai kebutuhannya;
  • Individu tidak selalu menerima apa yang tawarkan oleh orang lain dan mempertimbangkannya

Asertif (assertiveness) diartikan sebagai kemampuan untuk mengekspresikan emosi, mempertahankan kebenaran dan mempertahankan interaksi dengan orang lain secara jujur, bertanggung jawab dan bebas dari rasa cemas (Willis & Daisley, 1995). Artinya, ketika seorang guru ingin menyampaikan pendapatnya terhadap suatu aturan atau keputusan, guru dapat menyampaikan pikiran dan perasaannya secara terbuka, jujur, bertanggung jawab, tanpa diikuti dengan perasaan “takut” atau khawatir. Salah satu faktor yang membentuk kemampuan asertif adalah lingkungan dan situasi sekitar, seperti hubungan antara atasan dengan bawahan. Artinya ketika guru memersepsikan kepala sekolah sebagai atasan yang peduli, memiliki kesediaan, mendengarkan, memberikan kesempatan pada bawahan untuk berprestasi, akan mendukung terbentuknya perilaku asertif.

Perilaku asertif menurut Santoso (2010) menyatakan bahwa asertivitas berasal dari kata assert yang berarti menegaskan mengandung satu atau lebih seperti hak asasi manusia, kejujuran dan ekspresi yang tepat. Elliot dan Grammling (dalam Santoso, 2010) dalam bahasa aslinya sering juga disebut sebagai personal assertiveness atau assertive behavior yang didefinisikan sebagai suatu bentuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan secara langsung dan terus terang dan memperhatikan respek terhadap diri sendiri maupun orang lain. Beddel & Lennox (1997) memberikan pengertian mengenai perilaku asertif, yaitu: “Assertiveness promotes interpersonal behavior that simultaneously attempts to maximize the person’s satisfaction of wants while considering the wants of other people, thus promoting respect for the self and others”. Mereka mengatakan bahwa, asertifitas akan mendukung tingkah laku interpersonal yang secara simultan akan berusaha untuk memenuhi keinginan individu semaksimal mungkin dengan secara bersamaan juga mempertimbangkan keinginan orang lain karena hal itu tidak hanya memberikan penghargaan pada diri sendiri tetapi juga kepada orang lain.

c. Asertif dalam Komunikasi

  • Konsep Menang Kalah

Konsep menang kalah menempatkan individu yang meraih kemenangan sebagai agresif, sementara individu yang mengalami kekalahan dianggap tidak asertif. Hubungan berdasarkan konsep menang kalah dianggap tidak sehat karena tidak mampu memenuhi kebutuhan kedua belah pihak.

  • Tingkah Laku Tidak Asertif

Seseorang bersikap tidak asertif jika tidak dapat menegakkan haknya dan menempatkan kebutuhan serta keinginan orang lain sebagai lebih penting daripada dirinya sendiri.

  • Tingkah Laku Asertif

Dalam konsep menang, kedua belah pihak merasakan kepuasan karena seseorang mampu menegakkan haknya tanpa melanggar hak orang lain.

Melalui sikap asertif ini, seseorang akan lebih bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan keadaan. Asertif tidak melibatkan unsur-unsur emosional. Dalam keadaan rasional seperti ini, individu akan lebih mudah mendapatkan umpan balik.

Dengan kata lain, ketegasan membantu individu membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Selain itu, individu akan merasakan kepuasan karena dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka, sementara rekan-rekan mereka menghargai diri individu tersebut. Perasaan negatif yang terus-menerus dapat menyebabkan individu menjadi agresif. Perasaan semacam ini dapat meledak dan mengakibatkan hilangnya kontrol diri. Tiba-tiba, individu mungkin merasa tertekan dan ingin menegakkan hak-hak mereka tanpa memperhatikan keinginan dan perasaan orang lain.

Ketika seseorang bersikap asertif, pemahaman mengenai suatu isu atau situasi dapat terwujud. Dialog di atas dengan jelas mencerminkan sikap saling menghormati terhadap pendapat, keinginan, kebutuhan, dan perasaan kedua belah pihak. Dalam setiap konfrontasi dan perbincangan, kedua belah pihak memiliki kesempatan untuk berbicara dan mendengarkan pendapat masing-masing, sehingga dapat mencapai kesepakatan. Meskipun membutuhkan waktu, proses ini dapat membangun kesiapan diri yang baik dan positif.

d. Perilaku Asertif dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, komunikasi menjadi kunci dalam menjalankan kehidupan beragama dan sosial. Dalam pelaksanaannya, Islam sangat konsern tentang etika komunikasi dan pembentukan asertivitas dalam kehidupan sehari-hari, ditandai dengan banyaknya ayat Alquran dan Hadits yang membahas secara eksplisit tentang bagaimana Islam menuntut setiap individu untuk berkata jujur, benar, tegas, serta menjaga dan menghargai orang lain. Dengan demikian, penelitian tentang perilaku asertif dalam perspektif Islam menjadi langkah yang tepat dilakukan sebagai pedoman dalam pembinaan asertif yang dapat diperkenalkan sejak dini dan diterapkan dalam pola asuh keluarga sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam berkomunikasi dan membangun hubungan sosial, berkata jujur dan benar adalah bagian dari etika komunikasi. Islam menganjurkan umat Islam untuk selalu berkata lugas dan benar(qaulan sadida)seperti firman Allah Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.

Seruan perkataan benar (qaulan sadida) disebut 2 kali dalam Alquran, yaitu QS. An-Nisa: 9 dan QS. Al-Ahzab: 70 yang berarti benar, faktual dan bertanggungjawab. Allah memerintahkan umat manusia untuk bertakwa dan senantiasa berkata benar. Allah memberikan imbalan berupa pahala dan diampuni dosanya. Perkataan benar adalah prinsip dasar dalam etika komunikasi dalam Islam. Islam juga sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, setiap individu akan dinilai dari perkataan jujurnya. Berkata jujur berarti berkata yang benar dan sesuai antara hati dan ucapan, tidak menutupi antara realitas dan kejadian sebenarnya. Setiap individu yang berkata jujur akan melahirkan ketenangan jiwa, tidak tertekan dan tidak memiliki beban.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Terjemahan Kemenag 2019

119. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!. (Q.S At-Taubah: 119)

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Artinya: “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa”.

Ayat tersebut menjelaskan tentang anjuran bertakwa dan senantiasa berkata jujur dan membiasakan diri bersama orang-orang yang jujur. Jujur mengungkapkan isi hati dan keinginan akan melahirkan ketenangan jiwa, seseorang yang asertif dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat, dan kebutuhan secara proporsional. Sedangkan menutupi kejujuran seperti berbohong atau tidak mengutarakan isi hati dan keinginan secara jujur, individu akan terus berbohong lagi untuk menutupi kebohongan ke sebelumnya. Kondisi jelas merugikan diri sendiri, merasa tertekan dan menggelisahkan jiwa.

Menjadi asertif tidak berarti menyerah atau selalu menyetujui apa yang diinginkan orang lain, termasuk teman bahkan kerabat terdekat. Artinya, individu tidak harus menurut dan takut mengungkapkan pendapatnya kepada individu lainnya sekalipun itu keluarga maupun kerabat dekat karena orang tersebut lebih tua dari dirinya atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Individu asertif dituntut untuk mampu mempertahankan hak pribadinya tanpa mencederai hak orang lain. Dengan kata lain bahwa ketegasan diri merupakan sebuah sikap berani, mengarah langsung ke tujuan, jujur, mempunyai harga diri dan pendirian yang tegas, sehingga suatu tindakan penuh pertimbangan (telah dipikirkan dengan matang) dan tidak ada keraguan dalam bertindak.

Menempatkan perilaku asertif juga harus memperhatikan situasi, kondisi, waktu, kedekatan, dan intensitas yang terjalin dalam hubungan. Tidak bersikap egois, namun tetap saling menghargai hak diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian akan tetap menjaga kualitas hubungan yang lebih efektif dalam tatanan kehidupan social.

Seruan lainnya yang diungkapkan dalam Alquran adalah Qaulan Layyinah (perkataan lembut). Qaulan Layyinah adalah perkataan yang lembut tanpa intensitas intonasi yang tinggi atau merendahkan. Ayat ini menegaskan etika dalam berkomunikasi dengan orang lain, menghormati orang lain dengan cara lembut dan mudah dimengerti tanpa harus bersitegang ataupun menyampaikan dengan emosi. Allah berfirman:

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

Terjemahan Kemenag 2019

44. Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan dan selalu mengembangkan budaya berani berpendapat dan tegas di kalangan para sahabatnya dan menghindarkan mereka dari sikap mengikuti kepada ide orang lain yang merugikan dirinya sendiri tanpa berpikir dengan matang terlebih dahulu. Diriwayatkan dari Abu Hudzaifah radiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian menjadi pembeo! Kalian akan berkata kami berbuat baik jika orang- orang berbuat baik dan kami berbuat zalim jika orang-orang berbuat zalim. Akan tetapi berpendirianlah kalian yang teguh! Jika orang-orang berbuat baik, hendaklah kalian berbuat baik! Namun jika mereka berbuat buruk, maka janganlah kalian berbuat zalim."

Hadist di atas menjelaskan bahwa Rasulullah melarang umatnya untuk menjadi pengikut buta, yaitu mengikuti perkataan atau perbuatan orang lain tanpa mengetahui asal usul dan maksud dari perkataan dan perbuatan tersebut. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk teguh dan tegas terhadap pendiriannya serta tidak berbuat zalim kepada orang lain, artinya berkata dan berperilaku tidak menzalimi dan merugikan orang lain.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan telaah pustaka yang dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal terkait preferensi masyarakat terhadap jenis-jenis komunikasi:

  • Komunikasi empati menjadi jenis komunikasi paling disukai karena mampu menciptakan suasana interaksi yang nyaman, saling pengertian, dan tenang.
  • Komunikasi interpersonal dan terbuka juga dianggap efektif untuk menjalin hubungan yang erat dan saling memahami antarindividu.
  • Sementara itu, komunikasi asertif dan komunikasi efektif tetap diperlukan agar pesan yang disampaikan jelas dan tidak bertele-tele.
  • Kelima jenis komunikasi tersebut sebenarnya saling melengkapi, dan dapat diterapkan secara komplementer agar terwujud interaksi sosial yang optimal.
  • Masyarakat perlu meningkatkan pemahaman dan keterampilan penerapan kelima jenis komunikasi ini dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian rangkuman hasil analisis mengenai preferensi dan cara penerapan berbagai jenis komunikasi efektif menurut tinjauan pustaka yang ada. Semoga dapat bermanfaat sebagai panduan untuk komunikasi yang lebih baik.


B. Rekomendasi

Berdasarkan pembahasan mengenai berbagai jenis komunikasi yang disukai dan efektif untuk diterapkan, penulis mengajukan beberapa rekomendasi sebagai berikut:

  • Disarankan agar setiap orang mempelajari dan mempraktikkan keterampilan komunikasi interpersonal, empati, keterbukaan, dan asertivitas dalam kehidupan sehari-hari, agar tercipta interaksi sosial yang sehat dan harmonis.
  • Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif, dianjurkan mengikuti pelatihan atau konseling komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang atau kelompok.
  • Bagi peneliti bidang komunikasi dan psikologi, penting untuk mengkaji lebih dalam implementasi berbagai jenis komunikasi ini dalam konteks budaya Indonesia yang majemuk.
  • Pemerintah disarankan merumuskan kebijakan untuk memasukkan standar komunikasi yang inklusif dan efektif dalam kurikulum pendidikan formal maupun non-formal.
  • Setiap institusi atau komunitas perlu menyusun panduan komunikasi efektif sesuai nilai-nilai dan kebutuhan kelompoknya masing-masing.

Itulah beberapa rekomendasi yang dapat penulis sampaikan terkait upaya peningkatan kualitas komunikasi di berbagai lingkup kehidupan sosial. Semoga dapat bermanfaat untuk mewujudkan interaksi sosial yang lebih harmonis.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Hermawan, Komunikasi Pemasaran (Jakarta: Erlangga, 2012), h. 4

Ahmad, Noraini. (2001). Asertif dan Komunikasi. Malaysia: Taman Shamelin Perkasa, Cheras. Departemen Agama RI. (2009). Al-Quran dan Terjemahannya, Bandung: Syamil Quran.

Al-Mirza, Redha Uwais. (2020). Hubungan Antara Self Efficacy dengan Komunikasi Asertif pada Mahasiswa Psikologi. Sukma : Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 1, No. 01, hal 30- 40.

Astute, Dwi Wahyu. (2019). Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Prilaku Agresif Siswa Kelas XI. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling. Volume 5, No, 2.

Daryono, “Komunikasi Antarpribadi Pustakawan Dengan Pemustaka Dalam Memberi Layanan Jasa Di Perpustakaan”. Jurnal Kepustakaan Dan Masyarakat Membaca. Vol. 1 No. 33, Januari – Juni 2017, h. 6-87

David J. Leiberman. 2001. Get Anyone to Do Anything, Rahasia Psikologi dalam Menyiasati Segala Situasi, St. Martin’s Griffin, New York. Alih Bahasa Supriyanto Abdullah. Yogyakarta: Ikon Teralitera.

Edi Harapan dan Syarwani Akhmad, Komunikasi Antar Pribadi: Perilaku Insani Dalam Organisasi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 2016), h. 2

Effendy, Onong Uchjana. 1995. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Dinamika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Goleman, Daniel Richard Boyatzis dan Annie McKee. 2002. Primal Leadership: Realizing the Power of Emotional Intelligence. Boston: Harvard Business.

HerniRosita. (2011). HubunganAntaraPerilakuAsertifdenganKepercayaanDiri Mahasiswa, Jakarta: Universitas Gunadarma.

Hidayat, Dasrun. 2012. Komunikasi Antarpribadi dan Medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu h.24

Hikmah, Nurul. (2020). Prilaku Asertif dalam Perspektif Islam. Liwaul Dakwah: Volume 10, No. 1 Januarai –Juni 2020.

http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2004/0831/man01.html Leonardo Rimba, http://www.mail-archive.com/

Ibrahim, Idi Subandy Sirnanya. 2004. Komunikasi Empatik, Krisis Budaya Komunikasi dalam Masyarakat Kontemporer. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Irma Sari M, Berkomunikasi (Yogyakarta: Ktsp, 2010), h. 4

Muhibah Risfatatih, “Analisis Komunikasi Interpersonal Pustakawan Dalam Citra Layanan Sirkulasi Di Upt Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang”. Jurnal Ilmu Perpustakaan (Semarang: Universitas Diponegoro Semarang).

Mujib, Abdul dan Mudzakir Jusuf. 2002. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta:. Raja Grafindo Persada.

Mulyana, Deddy. 2005. Nuansa-nuansa komunikasi, Meneropong Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi suatu pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Musa Hubeis Dkk, Komunikasi Profesional Perangkat Pengembangan Diri (Bogor: IPB Press, 2012), h. 4

Muskita, Sherli Meilany. (2017). Efektivitas Layanan Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan Komunikasi Asertif. Widya Warta. No. 2.

Najati,MuhammadUstman. (2003). PsikologidalamTinjauanHaditsNabi.Jakarta; Muaastaqim.

Nihayah, Zahrotun, (2014). Hubungan Asertif Dengan Kebahagiaan pada Mahasiswa Psikologi angkatan 2013 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Rakhmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rozali, Yuli Asmi. (2018). Pelatihan Asertif dalam Meningkatkan Komunikasi Asertif pada Guru SDIT X, Jakarta Barat. PSIKOLOGIKA: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi. Volume 23 Nomor 1, Januari 2018: 61-67.

Sam Goldstein. Robert Brooks. 2004. The Power of Resilience, McGraw-Hill.

Sarnoff, Dorothy. 1997. Speech Can Change Your Lifediterj. oleh Sumarjinah. Jakarta: Delapratasa.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1999. Psikologi Sosial, Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial.Jakarta: Balai Pustaka.

Sukma. (2020). Hubungan Antara Self Efficacy dengan Komunikasi Asertif pada Mahasiswa Psikologi. Jurnal Penelitian Komunikasi. Volume 1 No 01, Hal 30-40

Suranto, AW. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha Ilmu h. 19,82-86

Sylvia Moss, Stewart L. Tubbs-, 1996. Human Communication, Prinsip-prinsip Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Widyastuti, Tri. (2017). Pengaruh Komunikasi Asertif Terhadap Pengelolaan Konflik. Widya Cipta.Volume 1, No 1.

Wirasubrata, Burhan. 2009. Rahasia Tahan Banting, Memandu Anda Menjadi Pribadi Tangguh dan Mudah Sukses. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Yahono, Suciati. (2021). Implementasi gaya komunikasi asertif orang tua - anak selama masa pandemi covid 19. Kacanegara Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat.

Yosal Iriantara, Komunikasi Antarpribadi, h. 1.8

Yunalia, Endang Mei. (2019). Efektivitas Terapi Kelompok Assertiviness Training Terhadap Kemampuan Komunikasi Asertif Pada Remaja Dengan Perilaku Agresif. Jurnal Keperawatan Jiwa. Volume 7 No 3, Hal 229 – 236.

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Kajian Komunikasi yang Disukai Orang. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca