Langsung ke isi

Laporan Penelitian Metodologi Penelitian

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabat-sahabatnya yang setia. Dengan izin dan ridho-Nya, penulisan karya…

MODERASI BERAGAMA DI KALANGAN MAHASISWA

(Studi Fenomenologi Persepsi Mahasiswa Pascasarjana UIN Terhadap Moderasi Beragama)

LAPORAN PENELITIAN

Diajukan sebagai Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. Zaenal Mukarom, M.Si., CICS.,

Oleh:

Ahmad Hanif:2230100002

Alawi Nisfahul Khoer:2230100007

Dimas Aji Prastio:2230100005

Fani Agung Mulyani:2230100006

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir:2230100017

Rezi Fauzi Rahman:2230100021

Virni Nur Pratami:2230100025

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

1445 H / 2024 M

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabat-sahabatnya yang setia. Dengan izin dan ridho-Nya, penulisan karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis moderasi beragama dalam konteks mahasiswa pascasarjana di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam proses penyusunan penelitian ini, berbagai pihak telah memberikan dukungan dan kontribusi yang berharga. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Prof. Dr. H. Zaenal Mukarom, M.Si., CICS., selaku Dosen Mata Kuliah Metodologi Penelitian di Program Pascasarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, atas bimbingan, arahan, serta ilmunya yang sangat berharga dalam penyelesaian tugas ini.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para informan yang telah meluangkan waktu dan memberikan informasi yang sangat bermanfaat untuk kelancaran penelitian ini. Tanpa partisipasi mereka, penelitian ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa, penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga, teman-teman, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan moral, material, serta motivasi selama proses penelitian ini berlangsung. Segala bentuk bantuan dan dorongan yang diberikan sangat berarti dalam menyelesaikan penelitian ini.

Akhir kata, penulis berharap karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam kajian moderasi beragama. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan di masa mendatang.

Bandung, 20 Mei 2024
Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTARi

DAFTAR ISIii

BAB I1

PENDAHULUAN1

A.Latar Belakang Penelitian1

B.Fokus Penelitian3

C.Tujuan Penelitian4

D.Landasan Teori4

BAB II7

METODOLOGI PENELITIAN7

A.Paradigma Penelitian7

B.Pendekatan Penelitian7

C.Metode Penelitian8

D.Jenis Penelitian8

E.Kriteria Informan8

F.Panduan Wawancara9

BAB III12

HASIL12

A.Wawancara Informan12

Informan 112

Informan 222

Informan 329

Informan 435

B.Analisis Hasil Wawancara37

C.Simpulan Hasil Wawancara50

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Penelitian

Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki kekayaan dalam keragaman. Indonesia terdiri atas keanekaragaman bahasa, suku, ras, budaya, dan agama. Keanekaragaman bangsa Indonesia ini membuktikan bahwa keragaman merupakan aset yang memperkaya kehidupan di Indonesia serta menjadi pengikat dalam kehidupan bermasyarakat (Aulia & Arifin, 2023). Namun juga mampu menjadi penyebab terjadinya pergesekan antar budaya, agama, ras, serta nilai-nilai kehidupan didalamnya (Saumantri, 2023).

Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang agama yang berbeda tidak dapat dihindari, baik di lingkungan pendidikan, tempat kerja, maupun komunitas sosial. Oleh karena itu moderasi beragama menjadi isu penting dalam konteks keberagaman ini, terutama di kalangan generasi muda, seperti mahasiswa. Fenomena ini menuntut adanya sikap moderasi beragama, yaitu kemampuan untuk menghargai perbedaan keyakinan serta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan universal seperti toleransi, keadilan, dan perdamaian.

Jika dimaknai lebih mendalam maka agama merupakan elemen dari unsur budaya atau bisa dimaknai bahwa budaya juga merupakan elemen dari agama. Ini merupakan pandangan sejak dahulu hingga sekarang terjadi pada sebagian besar lapisan masyarakat (Mustaghfiroh, 2022).

Moderasi beragama menjadi semakin penting di tengah meningkatnya potensi konflik dan perpecahan yang dapat timbul akibat perbedaan keyakinan. Berbagai insiden intoleransi dan kekerasan atas nama agama masih kerap terjadi di Indonesia, mulai dari perusakan tempat ibadah, penolakan aktivitas keagamaan, hingga diskriminasi terhadap pemeluk agama tertentu (Priskila et al., 2020). Hal ini menunjukkan bahwa paham radikalisme dan ekstremisme masih mengakar di sebagian masyarakat, menjadi ancaman bagi kerukunan dan persatuan bangsa.

Moderasi beragama mengajarkan sikap terbuka, toleran, dan menghargai perbedaan dalam praktik keberagamaan. Konsep ini menekankan pada pemahaman agama yang tidak ekstrem, baik dalam pemikiran maupun tindakan. Mahasiswa, sebagai kelompok intelektual muda, diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam mempromosikan moderasi beragama di masyarakat (Mustakimah & Rosyad, 2023).

Namun, dalam realitasnya, terdapat tantangan dalam mewujudkan moderasi beragama di kalangan mahasiswa. Adanya pemahaman yang sempit tentang agama, radikalisme, dan intoleransi masih menjadi isu yang perlu diatasi.

Di sisi lain, fenomena globalisasi dan perkembangan teknologi informasi juga turut memengaruhi pola interaksi antar umat beragama. Kemudahan akses informasi dan komunikasi membuka peluang bagi penyebaran paham-paham radikal dan intoleran, tetapi juga membuka ruang dialog dan pemahaman lintas agama (Himawan, 2023). Dalam konteks ini, moderasi beragama menjadi penting untuk menjembatani perbedaan dan mencegah terjadinya konflik yang dapat memecah belah bangsa.

Salah satu aspek penting dalam moderasi beragama adalah hubungan antaragama. Bagaimana mahasiswa mempersepsikan dan mempraktikkan hubungan dengan orang yang berbeda agama menjadi indikator penting dalam menilai tingkat moderasi beragama di kalangan mereka. Pemahaman dan praktik yang baik dalam hubungan antaragama dapat mencerminkan sikap terbuka, toleran, dan menghargai perbedaan.

Mahasiswa, khususnya di tingkat pascasarjana, memiliki peran penting dalam mewujudkan moderasi beragama di Indonesia. Sebagai generasi muda terdidik, mereka diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan paham moderasi ke berbagai lapisan masyarakat. Mahasiswa pascasarjana, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, diasumsikan memiliki wawasan dan pemahaman yang lebih luas tentang isu-isu keagamaan dan kemasyarakatan, termasuk konsep moderasi beragama.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung merupakan salah satu perguruan tinggi Islam negeri terkemuka di Indonesia. Sebagai institusi pendidikan Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki peran strategis dalam mendidik dan mengembangkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga memahami pentingnya moderasi beragama dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Penelitian ini penting untuk dilakukan dalam rangka memahami persepsi mahasiswa, khususnya mahasiswa Pascasarjana UIN, terhadap moderasi beragama dan hubungan antaragama. Dengan memahami persepsi mereka, dapat diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut, serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mempromosikan moderasi beragama di kalangan mahasiswa.

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang komprehensif tentang moderasi beragama di kalangan mahasiswa, khususnya dalam konteks hubungan antar agama. Temuan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pihak terkait, seperti perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, dalam merumuskan strategi dan program yang tepat untuk mempromosikan moderasi beragama di kalangan generasi muda.

Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian tentang pentingnya moderasi beragama di tengah keberagaman Indonesia dan peran mahasiswa pascasarjana sebagai agen perubahan, maka fokus penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengalaman dan persepsi mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang agama berbeda, serta bagaimana mereka mempraktikkan prinsip-prinsip moderasi beragama dalam interaksi tersebut.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian untuk mengeksplorasi pengalaman dan persepsi mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang agama berbeda serta mempraktikkan prinsip-prinsip moderasi beragama, maka tujuan penelitian ini adalah:

  • Memahami persepsi mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung tentang konsep moderasi beragama dan pentingnya menjalin hubungan yang harmonis dengan pemeluk agama lain.
  • Mendeskripsikan pengalaman subjektif mahasiswa pascasarjana dalam mempraktikkan prinsip-prinsip moderasi beragama ketika berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang agama berbeda.
  • Mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi mahasiswa pascasarjana dalam menerapkan sikap moderat dan menjalin hubungan dengan pemeluk agama lain, serta strategi yang mereka lakukan untuk mengatasi tantangan tersebut.
  • Merumuskan rekomendasi bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam mendukung pengembangan moderasi beragama dan toleransi di kalangan mahasiswa, serta mempromosikan nilai-nilai tersebut ke masyarakat luas.

Dengan tujuan penelitian tersebut, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang komprehensif tentang persepsi dan pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam mempraktikkan moderasi beragama, khususnya dalam konteks menjalin hubungan dengan pemeluk agama lain.

Landasan Teori

Dalam landasan teori penelitian ini, pendekatan fenomenologi menjadi pusat perhatian, memandang moderasi beragama sebagai fenomena yang terwujud dalam pengalaman subjektif individu. Teori-teori terkait moderasi beragama dan konsep-konsep yang terkait akan digunakan sebagai kerangka kerja untuk memahami persepsi mahasiswa pascasarjana UIN terhadap moderasi beragama. Selain itu, konsep-konsep psikologi sosial dan sosiologi agama juga mungkin diintegrasikan untuk memperdalam pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi sikap dan praktik moderasi beragama di kalangan mahasiswa. Dengan demikian, landasan teori ini akan mendukung pengembangan studi fenomenologi yang mendalam dan kontekstual tentang moderasi beragama di kalangan mahasiswa pascasarjana UIN Bandung.

  • Konsep Moderasi Beragama

Moderasi beragama merupakan suatu konsep yang menekankan sikap seimbang, terbuka, dan toleran dalam beragama. Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia (Kurniawan & Maknun, 2023), moderasi beragama dapat didefinisikan sebagai "jalan tengah" yang menghindari sikap ekstrem, baik dalam pemahaman maupun praktik beragama. Konsep ini menekankan pentingnya dialog, saling memahami, dan kerja sama antarumat beragama.

Dalam konteks Indonesia yang memiliki keberagaman agama, moderasi beragama menjadi penting untuk memelihara kerukunan dan mencegah konflik antarumat beragama. Beberapa prinsip yang terkandung dalam moderasi beragama antara lain toleransi, inklusivitas, dan komitmen terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan (Zuhriyandi, 2023).

  • Hubungan Antarindividu Berbeda Agama

Hubungan antarindividu berbeda agama merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan moderasi beragama. Menurut Hefner (Salim, 2023), relasi antarumat beragama yang harmonis dapat terwujud melalui upaya saling memahami, menghargai perbedaan, dan mencari titik temu. Hal ini menuntut sikap terbuka, dialog, dan kemauan untuk berkompromi di antara pihak-pihak yang berbeda keyakinan.

Berbagai tantangan seperti perbedaan doktrin, gaya hidup, dan latar belakang budaya dapat menjadi kendala dalam membangun hubungan antarindividu berbeda agama. Namun, dengan pendekatan yang tepat, seperti memfokuskan pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal, relasi tersebut dapat terjalin dengan baik (Mibtadin & Nuriyanto, 2023).

  • Penelitian Terdahulu Terkait Topik

Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan topik moderasi beragama dan hubungan antarindividu berbeda agama antara lain:

  • Studi yang dilakukan oleh Maarif Institute (2019) mengeksplorasi pemahaman dan praktik moderasi beragama di kalangan mahasiswa di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pemahaman dan penerimaan terhadap konsep moderasi beragama;
  • Penelitian oleh Suryana (2011) mengkaji interaksi dan dinamika hubungan antarumat beragama di lingkungan kampus. Temuan penelitian mengungkapkan pentingnya dialog, sikap terbuka, dan komitmen bersama untuk memelihara kerukunan;
  • Studi yang dilakukan oleh Hefner (2001) menelaah peran institusi pendidikan tinggi dalam memupuk nilai-nilai moderasi beragama dan toleransi di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menyoroti pentingnya peran universitas dalam memfasilitasi dialog dan interaksi antarumat beragama.

Penelitian-penelitian tersebut memberikan landasan konseptual dan empiris bagi kajian ini dalam memahami persepsi, pemaknaan, dan pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung terkait moderasi beragama dan hubungan antarindividu berbeda agama.


BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

Paradigma Penelitian

Paradigma interpretif dalam konteks penelitian ini memandang moderasi beragama sebagai konsep yang dapat diukur secara kualitatif, tetapi juga perlu dipahami melalui interpretasi dan pengalaman subjektif mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam paradigma ini, fokus penelitian akan diletakkan pada pemahaman mendalam tentang bagaimana mahasiswa mengartikan dan mengalami moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari mereka (Sugiyanto, 2017). Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini akan menjelajahi persepsi individu, sikap, dan praktik moderasi beragama yang terungkap melalui narasi dan pengalaman langsung dari mahasiswa tersebut, memungkinkan peneliti untuk memahami dinamika yang kompleks di balik konsep moderasi beragama di kalangan mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Pendekatan Penelitian

Dalam pendekatan penelitian kualitatif yang digunakan dalam studi ini, peneliti akan menggali kedalaman makna dan kompleksitas konsep moderasi beragama di kalangan mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui lensa fenomenologi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang persepsi, pengalaman, dan interpretasi individu terhadap moderasi beragama, serta bagaimana konsep ini tercermin dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari (Nasution, 1998). Dengan mewawancarai mahasiswa dan merangkum narasi mereka, penelitian ini akan memperoleh wawasan yang kaya dan kontekstual tentang bagaimana moderasi beragama dipahami, diterapkan, dan dihayati dalam konteks kehidupan akademik dan sosial mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Metode Penelitian

Metode penelitian fenomenologi yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman langsung dan persepsi mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung tentang moderasi beragama. Dengan fokus pada penelitian yang mendalam tentang pengalaman subjektif individu, pendekatan fenomenologi memungkinkan peneliti untuk memahami secara holistik bagaimana mahasiswa memandang, memaknai, dan menghayati konsep moderasi beragama dalam konteks kehidupan mereka (Teniwut, 2022). Melalui wawancara mendalam dan analisis naratif, penelitian ini akan menggambarkan lanskap kompleks dari sudut pandang individu, memperoleh wawasan yang berharga tentang dinamika moderasi beragama di kalangan mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Jenis Penelitian

Dalam jenis penelitian field research yang diterapkan pada studi ini, peneliti akan secara langsung terlibat dalam pengumpulan data di lapangan, yakni di lingkungan mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini akan menyelami persepsi, pengalaman, dan pemahaman mahasiswa terhadap moderasi beragama secara mendalam, melalui interaksi langsung dan pengamatan di lingkungan mereka (Teniwut, 2022). Dengan demikian, studi ini tidak hanya memperoleh data dari narasi dan wawancara, tetapi juga mencakup dimensi pengalaman nyata yang mungkin memengaruhi persepsi dan praktik moderasi beragama di kalangan mahasiswa tersebut.

Kriteria Informan

Dalam penelitian ini, karakteristik informan penelitian meliputi:

  • Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Informan penelitian ini merupakan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mereka memiliki latar belakang akademik yang beragam dan terlibat dalam konteks akademik dan sosial kampus;
  • Aktif dalam Kegiatan Keagamaan: Informan penelitian diharapkan aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan kampus, baik itu dalam bentuk kegiatan formal seperti kuliah agama maupun kegiatan keagamaan informal di luar ruang kelas;
  • Mempunyai Latar Belakang Hubungan Beda Agama: Mahasiswa yang dijadikan informan penelitian memiliki latar belakang hubungan beda agama yang beragam, seperti Kristen, Hindu, Buddha, atau agama lainnya;
  • Berpartisipasi dalam Diskusi dan Dialog: Informan penelitian diharapkan aktif berpartisipasi dalam diskusi dan dialog terkait topik moderasi beragama, baik di lingkungan akademik maupun di luar kampus.

Dengan karakteristik ini, penelitian akan dapat mengeksplorasi beragam perspektif dan pengalaman terkait moderasi beragama di kalangan mahasiswa pascasarjana UIN secara holistik dan mendalam.

Panduan Wawancara

INDIKATORPERTANYAANJAWABAN
Individu menyikapi sesuatu peristiwa yang ada di lingkungannya berdasarkan makna yang individu tersebut buat sendiri1.Bagaimana persepsi mahasiswa pascasarjana UIN terhadap konsep moderasi beragama dalam konteks hubungan antarindividu berbeda agama?
2.Bagaimana pengalaman pribadi mahasiswa pascasarjana UIN dalam menghadapi perbedaan agama dalam interaksi sehari-hari, dan bagaimana hal tersebut memengaruhi pandangan mereka terhadap moderasi beragama?
3.Apa nilai-nilai dan norma-norma yang mendasari pemahaman mahasiswa pascasarjana UIN tentang moderasi beragama dalam relasi dengan pemeluk agama lain?
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN mengelola perbedaan dan keberagaman agama dalam kehidupan sehari-hari?
Makna terbentuk karena adanya interaksi sosial yang dijalin dengan individu lain1.Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi mahasiswa pascasarjana UIN dalam mempraktikkan sikap moderasi beragama dalam interaksi mereka dengan individu dari latar belakang agama yang berbeda?
2.Bagaimana konsep toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan agama tercermin dalam pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN dalam berinteraksi dengan orang-orang dari agama lain?
3.Bagaimana pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN dalam memoderasi perbedaan keyakinan agama dalam konteks kegiatan akademik dan sosial?
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN menegosiasikan dan menyelaraskan pemahaman mereka tentang moderasi beragama dengan realitas hubungan antar-agama yang mereka alami?
Makna yang di dapat ataupun terbentuk akan dipahami dan di modifikasi oleh individu melalui proses interpretif yang juga berkaitan dengan hal lain yang dihadapinya.1.Bagaimana proses internalisasi nilai-nilai moderasi beragama terjadi dalam pengalaman personal mahasiswa pascasarjana UIN, dan bagaimana hal ini tercermin dalam interaksi mereka dengan orang-orang beragama lain?
2.Bagaimana proses pembentukan pemahaman dan sikap moderasi beragama terjadi di kalangan mahasiswa pascasarjana UIN, khususnya dalam interaksi mereka dengan rekan-rekan dari agama yang berbeda?
3.Apa saja pengalaman-pengalaman konkret yang memengaruhi pemahaman mahasiswa pascasarjana UIN terhadap moderasi beragama dalam interaksi sehari-hari dengan individu dari beragam latar belakang keagamaan?
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN merekonstruksi dan memaknai kembali konsep moderasi beragama berdasarkan pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain?


BAB III

HASIL

Wawancara Informan

Informan 1

Nama: Suci

Prodi: Hukum Keluarga Islam

INDIKATORPERTANYAANJAWABAN
Individu menyikapi sesuatu peristiwa yang ada di lingkungannya berdasarkan makna yang individu tersebut buat sendiri1.Bagaimana persepsi mahasiswa pascasarjana UIN terhadap konsep moderasi beragama dalam konteks hubungan antarindividu berbeda agama?kalo menurut aku yaa dialog antar-agama itu penting banget buat kita bisa saling ngerti dan nyaman sama yang beda agama. Gak cuma ngertiin, tapi juga nerima dan ngobrol bareng, gitu. Trus, kita harus bisa buka pikiran dan toleran sama perbedaan. Jadi, gak boleh ada sikap prejudis atau diskriminasi ke orang lain karena beda agama. Prinsip yang penting juga adalah adil dan sama-sama di hadapan hukum. Gak boleh diskriminasi apapun, semua orang punya hak yang sama. Edukasinya juga penting banget, harusnya semua orang bisa ajarin tentang agama secara inklusif, biar kita bisa saling menghormati dan mengerti satu sama lain. Tapi, pastinya ada tantangannya juga sih. Kadang agama bisa bikin orang jadi beda pendapat, tapi kita harus lihat ini sebagai peluang buat belajar dan saling menghormati.
2.Bagaimana pengalaman pribadi mahasiswa pascasarjana UIN dalam menghadapi perbedaan agama dalam interaksi sehari-hari, dan bagaimana hal tersebut memengaruhi pandangan mereka terhadap moderasi beragama?Kalo mempengaruhi sihh iyaa yaa 😅 mempengaruhinya dalam artian jadi kaya banyak yang bisa dipelajari dari keyakinan mereka gitu. Dan sebenernya asyik banget ngomongin perbedaan soal agama ini 👍🏻
3.Apa nilai-nilai dan norma-norma yang mendasari pemahaman mahasiswa pascasarjana UIN tentang moderasi beragama dalam relasi dengan pemeluk agama lain?hmm.. mereka tuh kaya betul-betul menekankan pentingnya saling ngerti dan menerima perbedaan. Artinya, kita harus bisa hidup berdampingan dengan orang yang punya keyakinan beda dengan kita tanpa ada konflik. Trus, mereka juga vokal banget tentang kesetaraan. Jadi, gak peduli agama apa, semua orang punya hak yang sama. Misalnya, hak untuk dihormati dan diperlakukan adil. Dialog antar-agama juga disorot banget. Mereka lihat bahwa dengan ngobrol dan diskusi, kita bisa lebih mengerti satu sama lain dan bisa membangun hubungan yang harmonis. Yang terakhir pastinya, penolakan terhadap ekstremisme juga jadi nilai penting. Mereka gak setuju sama sikap-sikap yang ekstrim karena bisa bikin konflik antaragama.
Jadi, intinya, pemahamanku tentang moderasi beragama itu didasarkan pada nilai-nilai seperti toleransi, kesetaraan, dialog, dan penolakan terhadap ekstremisme ya fan
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN mengelola perbedaan dan keberagaman agama dalam kehidupan sehari-hari?kalo akuu biasanya ngelola perbedaan agama dengan cara yang santun dan terbuka. Misalnya, kita suka ngadain diskusi atau ngobrol-ngobrol tentang agama kita masing-masing. Gak cuma itu, kita juga suka ikutan kegiatan keagamaan dari teman-teman yang beda agama. Nah, selain itu, kita juga punya sikap yang santai dan terbuka. Gak ada sikap merasa lebih baik atau lebih rendah dari orang lain hanya karena beda agama. Kita juga selalu menghargai hak-hak orang lain dan gak ada diskriminasi.
Makna terbentuk karena adanya interaksi sosial yang dijalin dengan individu lain1.Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi mahasiswa pascasarjana UIN dalam mempraktikkan sikap moderasi beragama dalam interaksi mereka dengan individu dari latar belakang agama yang berbeda?ohh kalo ini menurut akuu, ada beberapa hal yang memengaruhi aku dalam praktekin sikap moderasi beragama. Kaya lingkungan kampus kita main peran besar. Kampus yang mendukung keberagaman agama dan punya pendidikan agama yang ngajarin tentang toleransi biasanya bikin kita jadi lebih terbuka dan toleran. Terus pengalaman pribadi juga penting. Misalnya, kalo kita sering berinteraksi sama teman-teman dari agama lain dan pengalaman itu positif, biasanya kita jadi lebih mau terima perbedaan. Dan keluarga dan teman-teman kita juga ngaruh banget. Kalo lingkungan kita dukung keberagaman dan menghargai perbedaan agama, itu bakal nyambung ke sikap kita juga. Pembelajaran di kelas juga penting. Kalo materi pembelajaran tentang agama tuh inklusif dan ngajarin tentang dialog antar-agama, biasanya kita jadi lebih menghargai perbedaan. Terakhir, media juga ikut andil. Kalo kita terpapar sama konten yang positif tentang toleransi dan kerukunan antaragama, itu bisa juga membentuk sikap kita.
2.Bagaimana konsep toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan agama tercermin dalam pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN dalam berinteraksi dengan orang-orang dari agama lain?Di kehidupan sehari-hari, kita lihat konsep ini tercermin dalam berbagai cara. Aku sering banget ngobrol-ngobrol tentang agama. Ini bikin aku jadi lebih ngerti satu sama lain dan bisa saling hargai. Selain itu, aku juga suka ikutan kegiatan bersama yang melibatkan berbagai agama, kayak acara keagamaan atau kegiatan sosial. Ini bikin kita belajar bekerja sama dan saling menghargai. Sikap aku juga selalu coba buka dan ramah ke orang-orang dari agama lain. Kita percaya bahwa semua orang punya hak yang sama dan pantas dihargai..
3.Bagaimana pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN dalam memoderasi perbedaan keyakinan agama dalam konteks kegiatan akademik dan sosial?Jadi, dari pengalaman aku.. memoderasi perbedaan keyakinan agama itu udah jadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, baik di kegiatan akademik maupun sosial. Di kelas dulu pas SMA, kita sering banget diskusi tentang perbedaan agama. Ini bukan cuma buat ngertiin satu sama lain, tapi juga buat belajar saling menghargai. Kadang kita juga ditugasin dalam kelompok yang campur agama, dan itu bagus banget buat belajar sama-sama. Di luar kelas, kita juga ikutan berbagai kegiatan sosial, seperti bakti sosial atau gotong royong. Nah, di sini juga kita lihat keberagaman agama dan belajar bekerja sama tanpa melihat perbedaan.
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN menegosiasikan dan menyelaraskan pemahaman mereka tentang moderasi beragama dengan realitas hubungan antar-agama yang mereka alami?Nah kalo menyesuaikan pemahaman tentang moderasi beragama itu kayak perjalanan yang nggak berhenti hehehe. Ada beberapa hal yang aku lakukan kaya misalnya, kalo aku punya pengalaman yang bikin aku lebih ngerti dan terbuka terhadap agama lain, itu bisa jadi poin penting dalam menyesuaikan pemahaman aku dan yang lain. Dan yang pasti, ini proses pembelajaran terus-menerus. Aku selalu terbuka untuk belajar lebih banyak dan berkembang dalam hal memperbaiki hubungan antar-agama.
Makna yang di dapat ataupun terbentuk akan dipahami dan di modifikasi oleh individu melalui proses interpretif yang juga berkaitan dengan hal lain yang dihadapinya.1.Bagaimana proses internalisasi nilai-nilai moderasi beragama terjadi dalam pengalaman personal mahasiswa pascasarjana UIN, dan bagaimana hal ini tercermin dalam interaksi mereka dengan orang-orang beragama lain?Proses ini nggak instan. Butuh waktu dan usaha terus-menerus buat bener-bener menghayati dan menjalankan nilai-nilai moderasi beragama. pengalaman pribadi juga berpengaruh banget. Misalnya, punya teman atau keluarga dari agama lain bikin aku lebih terbuka dan mengerti tentang keberagaman agama. Aku juga suka mikirin dan ngobrolin tentang nilai-nilai agama dan gimana cara kita terapin dalam hidup. Lewat refleksi dan diskusi, kita jadi lebih ngerti dan ngerasain betul makna moderasi beragama.
2.Bagaimana proses pembentukan pemahaman dan sikap moderasi beragama terjadi di kalangan mahasiswa pascasarjana UIN, khususnya dalam interaksi mereka dengan rekan-rekan dari agama yang berbeda?ohh iyaa inii kalo proses pembentukan pemahaman dan sikap moderasi beragama kalo aku bisa dari gabungan belajar di kampus, pengalaman pribadi, diskusi, partisipasi dalam kegiatan antar-agama, dan kesadaran pribadi.
3.Apa saja pengalaman-pengalaman konkret yang memengaruhi pemahaman mahasiswa pascasarjana UIN terhadap moderasi beragama dalam interaksi sehari-hari dengan individu dari beragam latar belakang keagamaan?ohh adaa adaa, misalnyaa aku punya sahabat dekat yang beragama Kristen. Ketika kita berinteraksi, kita sering berbagi pengalaman hidup dan keyakinan agama masing-masing. Dari sini, aku belajar menghargai keunikan dan perbedaan keyakinan kita.
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN merekonstruksi dan memaknai kembali konsep moderasi beragama berdasarkan pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain?ohh jadi ginii misal nih ya setelah ngobrol sama orang dari agama lain, aku suka mikir, "Eh, apa sikap dan tindakan aku udah bener-bener mencerminkan sikap toleransi dan penghormatan ke agama lain?" dari situ, aku belajar terus-menerus dan merekonstruksi kembali konsep moderasi beragama sesuai dengan pengalaman yang aku alami dalam berinteraksi dengan orang-orang nonmus.


Informan 2

Nama : Silmy

Prodi : Pendidikan Bahasa Arab

INDIKATORPERTANYAANJAWABAN
Individu menyikapi sesuatu peristiwa yang ada di lingkungannya berdasarkan makna yang individu tersebut buat sendiri1.Bagaimana persepsi mahasiswa pascasarjana UIN terhadap konsep moderasi beragama dalam konteks hubungan antarindividu berbeda agama?Persepsi mahasiswa pascasarjana UIN terhadap konsep moderasi beragama dalam konteks hubungan antarindividu berbeda agama mungkin bervariasi, tetapi cenderung menghargai dialog, pengertian, dan kerjasama antarumat beragama sebagai landasan untuk keharmonisan dan toleransi dalam masyarakat. Beberapa mungkin melihatnya sebagai cara untuk mempromosikan kerukunan dan menghindari konflik.
2.Bagaimana pengalaman pribadi mahasiswa pascasarjana UIN dalam menghadapi perbedaan agama dalam interaksi sehari-hari, dan bagaimana hal tersebut memengaruhi pandangan mereka terhadap moderasi beragama?Pengalaman pribadi saya dalam menghadapi perbedaan agama dalam interaksi sehari-hari dapat bervariasi. Namun saya pribadi, alhamdulillah interaksi terhadap perbedaan agama ini sudah terbiasa dari kecil karena lingkungan.Jika melihat lingkungan mahasiswa pasca terutama teman2 sejawat saya Beberapa mungkin telah mengalami kesulitan atau konflik, tetapi banyak juga yang telah menemukan cara untuk berinteraksi dengan saling menghargai dan memahami perbedaan tersebut. Pengalaman ini bisa memperkuat pandangan kita terhadap pentingnya moderasi beragama sebagai cara untuk mempromosikan kerukunan dan toleransi dalam masyarakat. Ini bisa menjadi pendorong bagi kita untuk lebih aktif mempraktikkan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari mereka.
3.Apa nilai-nilai dan norma-norma yang mendasari pemahaman mahasiswa pascasarjana UIN tentang moderasi beragama dalam relasi dengan pemeluk agama lain?Nilai atau norma²yg mendasari mungkin salah satunya yg paling penting adalah tasamuh/ toleransi : menghormati kepercayaan antar beragama.selain itu berdialog sih, tujuannya untuk memperkuat kerukunan
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN mengelola perbedaan dan keberagaman agama dalam kehidupan sehari-hari?adi yg sudah saya sebutka. Salah satunya berdialog antar beragama, mungkin jika ada kegiatan sosial dengan atas nama kemanusiaan karena untuk mengelola perbedaan semua itu harus ada sikap tenggang rasa. Yang membuat perbedaan tidak begitu terlihat
Makna terbentuk karena adanya interaksi sosial yang dijalin dengan individu lain1.Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi mahasiswa pascasarjana UIN dalam mempraktikkan sikap moderasi beragama dalam interaksi mereka dengan individu dari latar belakang agama yang berbeda?Faktor yang paling memengaruhi ada pada pendidikan dan pengalaman karena tidak dapat di pungkiri pendidikan dan pengalaman dapat merubah mindset seseorang terhadap perbedaan. Selain itu, Karena banyaknya seminar atau diklat yg banyak saat ini mengenai moderasi beragama juga memengaruhi konsep perbedaan ini
2.Bagaimana konsep toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan agama tercermin dalam pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN dalam berinteraksi dengan orang-orang dari agama lain?Mungkin sikap mahasiswa uin bisa terlihat daru Penerimaan Perbedaan, Mahasiswa mungkin menunjukkan sikap terbuka dan penerimaan terhadap perbedaan agama, memperlakukan individu dari agama lain dengan hormat dan kesetaraan. Masih mengenai toleransi. Selebihnya tidak tau apa lagi hahaha
3.Bagaimana pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN dalam memoderasi perbedaan keyakinan agama dalam konteks kegiatan akademik dan sosial?Pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN dalam memoderasi perbedaan keyakinan agama dalam konteks kegiatan akademik dan sosial mungkin bervariasi tergantung pada konteksnya. Namun, biasanya mahasiswa dilatih untuk menghargai pluralitas keyakinan, membangun dialog yang inklusif, dan mencari pemahaman bersama. Ini dapat memperkaya pengalaman belajar dan memperkuat hubungan antarindividu. Kalo ga salah yah hahahah
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN menegosiasikan dan menyelaraskan pemahaman mereka tentang moderasi beragama dengan realitas hubungan antar-agama yang mereka alami?Mungkin mahasiswasering kali didorong untuk menegosiasikan dan menyelaraskan pemahaman mereka tentang moderasi beragama dengan realitas hubungan antar-agama yang mereka alami melalui dialog dan penelitian akademik. mungkin juga yah menggunakan pendekatan dialog, membahas perspektif agama dalam konteks sosial dan akademik, serta mempraktikkan toleransi dan penghargaan terhadap keragaman keyakinan dalam interaksi sehari-hari.maaf kepanjangan tapi intinya ke dialog dan toleransi
Makna yang di dapat ataupun terbentuk akan dipahami dan di modifikasi oleh individu melalui proses interpretif yang juga berkaitan dengan hal lain yang dihadapinya.1.Bagaimana proses internalisasi nilai-nilai moderasi beragama terjadi dalam pengalaman personal mahasiswa pascasarjana UIN, dan bagaimana hal ini tercermin dalam interaksi mereka dengan orang-orang beragama lain?Yang saya rsakan dari pendidikan dan pengalaman terhadap umat beragama, itu salah satu yang saya rasakan selama ini
2Apa saja pengalaman-pengalaman konkret yang memengaruhi pemahaman mahasiswa pascasarjana UIN terhadap moderasi beragama dalam interaksi sehari-hari dengan individu dari beragam latar belakang keagamaan?Pengalaman bertemu dengan orang-orang beragama lain dilingkungn kampus, seperti dalam acara lintas keagamaan atau kegiatan sosial bersma. Atau dengan membaca literature atau studi kasus dengan moderasi beragama dan praktiknya diberbagai konteks budaya dan agama
4.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN merekonstruksi dan memaknai kembali konsep moderasi beragama berdasarkan pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain?Saya merekonstruksi dan memaknai kembali konsep moderasi beragama sebagai sebuah sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan antarumat beragama. Saya memandang bahwa moderasi beragama bukan berarti menyamakan semua agama, tetapi justru mengakui dan menerima perbedaan tersebut.

Informan 3

Nama : Gebyar A

Prodi : Komunikasi Penyiaran Islam

INDIKATORPERTANYAANJAWABAN
Individu menyikapi sesuatu peristiwa yang ada di lingkungannya berdasarkan makna yang individu tersebut buat sendiri1.Bagaimana pandangan kamu tentang moderasi beragama sebagai orang yang punya hubungan dengan individu yang berbeda agama?Moderasi beragama atau yang secara umum dikenal sebagai toleransi itu pada intinya adalah sebuah qodarullah. Setiap orang memiliki keyakinan yang berbeda, namun bukan sebuah kesalahan saat perbedaan itu ada didepan mata. Seperti saya meminum kopi dan lawan bicara sama minum the dalam satu meja yang sama, satu sama lain kami tidak saling menghasut untuk mencoba apa yang kita minum masing masing, yang kita lakukan adalah hanya menikmati minuman masing masing ditengah obrolan. Kurang lebih seperti itu
2.Bagaimana pengalaman menghadapi perbedaan agama dalam interaksi sehari-hari, dan bagaimana hal tersebut memengaruhi pandangan mereka terhadap moderasi beragama?Saya hidup di Bandung dengan persentase lingkungan yang mayoritas 90% Katolik, keluarga istri saya, teman teman saya, dan saya tinggal di rumah keluarga Katolik, bahkan di rumah kami memelihara beberapa ekor anjing. Sejauh ini saya dan istri fine fine aja tanpa ada perasaan canggung, perbedaan prinsip mungkin ada, namun yang paling penting disini adalah bagaimana masing masing dari kami bisa menjaga iman secara pribadi tanpa harus menyulut. Jadi intinya untuk menjalankan moderasi beragama kuncinya hanya satu, PINTAR MERASA, bukan MERASA PINTAR. Jadi walaupun saya memahami agama saya dan sedikitnya saya memahami agaman mereka, saya tidak akan sampai masuk ke ruang ruang private yang mereka punya, begitupun mereka ke saya.
Bagaimanapun, hukum agama di Indonesia berada dibawah hukum undang undang. Leluhur kita sebelumnya yang notabenenya memahami keislaman pada tingkatan yang tinggi, namun mereka sepakat dengan pancasila. Jadi semua punya kebebasan untuk berkeyakinan, beribadah tanpa kita harus saling menggurui. Terlebih lagi tidak ada satu pun yang harus menjadi juru kunci akhirat.
Sangat mudah untuk berdampingan, asal jangan sampai ada kecenderungan diktator mayoritas dan tirani minoritas.
3.Bagaimana konsep toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan agama tercermin dalam pengalaman mahasiswa pascasarjana UIN dalam berinteraksi dengan orang-orang dari agama lain?Dari sudut pandang pengalaman, pertanyaannya mungkin apakah kita punya kewajiban untuk bertoleransi, contohnya saya memiliki keluarga katolik, otomatis dalam setiap prosesi ibadah yang mereka jalani saya mendukung bahkan terlibat agar memastikan mereka bisa beribadah dengan lancar. Bila ada obrolan yang berhubungan dengan konsep keyakinan, ada baiknya saya mendengarkan apa yang menjadi konsep keimanan mereka, dan berbicara apabila diminta pendapat dari sudut pandang seorang muslim. Namun kembali lagi, tidak ada pemaksaan prinsip, yang ada hanya saling mendukung keyakinan masing masing. Itu dari sisi keluarga.
Kalau dari sisi pergaulan sebenarnya jauh lebih santai bahkan menjadikan keyakinan masing masing dalam obrolan bahan becanda, dan dipastikan tidak ada ketersinggungan karena pada konteksnya hanya obrolan ringan dr sudut pandang masing masing
4.Bagaimana proses pembentukan pemahaman dan sikap moderasi beragama terjadi di kalangan mahasiswa pascasarjana UIN, khususnya dalam interaksi mereka dengan rekan-rekan dari agama yang berbeda?Seperti malam ini saya sedang bersama mertua saya, beliau meminta tolong saya untuk membantu pembagian sembako di gereja katedral kamis ini, bagu saya tidak ada masalah, saya sanggupi permintaannya untuk membantu keuskupan atas dasar menjaga nama baik keluarga di lingkungan Santo Mikael, terlebih lagi alasannya karena kemanusiaan saja.
Proses saya memahami sikap moderasi beragama berdasarkan fenomenologi. Dari sejak kecil, saya tumbuh besar di lingkungan pencinan Sumedang, adanya perbedaan kultur dan keyakinan sudah ditanamkan dari sejak kecil. Intinya dari keluarga memiliki peran untuk memberikan pemahaman tentang kemajemukan masyakarat dari sejak dini.
Karena pada dasarnya, bagi anak kecil untuk mengajarkan tentang konsep ketuhanan tidaklah sulit. Namun untuk menanamkan paham perbedaan keyakinan antar personal justru tidak semudah belajar solat atau ngaji
Jadi keluarga berperan dalam proses pemahaman moderasi beragama

Informan 4

Nama : Syamsudin, M.ag

Prodi : SAA (S3) Konsentrasi Filsafat

INDIKATORPERTANYAANJAWABAN
Individu menyikapi sesuatu peristiwa yang ada di lingkungannya berdasarkan makna yang individu tersebut buat sendiri1.Bagaimana pengalaman pribadi mahasiswa pascasarjana UIN dalam menghadapi perbedaan agama dalam interaksi sehari-hari, dan bagaimana hal tersebut memengaruhi pandangan mereka terhadap moderasi beragama?Pengalaman pribadi dalam menghadapi perbedaan agama dalam insteraksi sehari – hari itu sangatlah intens. Baik interaksi secara langsung maupun secara tidak langsung melalui media social.
Pengaruhnya cukup baik. Diantara pengaruhnya adalah
1)Memiliki wa group lintas agama, lintas etnis dan juga saya masuk menjadi salah satu pengurus INTI (perhimpunan Indonesia Tionghoa ) Kota Bandung
2)Sering diundang mengisi acara lintas agama juga moderasi beragama
Makna terbentuk karena adanya interaksi sosial yang dijalin dengan individu lain2.Bagaimana mahasiswa pascasarjana UIN menegosiasikan dan menyelaraskan pemahaman mereka tentang moderasi beragama dengan realitas hubungan antar-agama yang mereka alami?a)Mengundang mereka untuk hadir pada acara acara pribadi saya
b)Mengundang mereka untuk menjadi narasumber pada event – event Lembaga attamur
c)Kerjasama program baik pribadi maupun lembaga
d)Menghadiri pertemuan – pertemuan bersama lintas agama
e)Mengisi acara lintas agama
f)Menerima kapan saja mereka hendak berkunjung ke rumah atau ke Lembaga


Analisis Hasil Wawancara

Hasil wawancara informan pertama, Suci. Berikut adalah rangkuman temuan utama dari wawancara tersebut:

Persepsi terhadap Moderasi Beragama

  • Persepsi Terhadap Moderasi Beragama:
  • Dialog antar-agama dianggap sangat penting untuk memahami dan menerima perbedaan.
  • Pendidikan tentang agama yang inklusif diperlukan untuk mengurangi prasangka dan diskriminasi.
  • Prinsip keadilan dan kesetaraan di hadapan hukum harus ditegakkan tanpa diskriminasi.
  • Tantangan utama adalah perbedaan pendapat yang mungkin muncul, namun ini dianggap sebagai peluang untuk belajar.
  • Pengalaman Pribadi Menghadapi Perbedaan Agama:
  • Pengalaman berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai agama dianggap memberikan banyak pelajaran dan wawasan baru.
  • Diskusi tentang perbedaan agama sering kali menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat.
  • Nilai dan Norma yang Mendasari Pemahaman:
  • Pentingnya saling memahami dan menerima perbedaan untuk hidup berdampingan tanpa konflik.
  • Kesetaraan hak tanpa memandang agama.
  • Dialog antar-agama sebagai alat untuk membangun hubungan harmonis.
  • Penolakan terhadap ekstremisme dan sikap-sikap ekstrim.
  • Mengelola Perbedaan dan Keberagaman Agama:
  • Melakukan diskusi dan kegiatan bersama yang melibatkan berbagai agama.
  • Bersikap terbuka dan tidak merasa lebih baik atau lebih rendah karena perbedaan agama.
  • Menghargai hak-hak orang lain tanpa diskriminasi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Moderasi Beragama

  • Faktor-faktor Pengaruh:
  • Lingkungan kampus yang mendukung keberagaman dan pendidikan agama yang mengajarkan toleransi.
  • Pengalaman pribadi yang positif dalam berinteraksi dengan individu dari agama lain.
  • Dukungan dari keluarga dan teman-teman.
  • Materi pembelajaran yang inklusif tentang dialog antar-agama.
  • Pengaruh media yang menyebarkan konten positif tentang toleransi dan kerukunan antaragama.
  • Konsep Toleransi dan Penghargaan Terhadap Perbedaan Agama:
  • Dialog dan diskusi tentang agama membantu dalam saling memahami dan menghargai.
  • Keterlibatan dalam kegiatan bersama yang melibatkan berbagai agama.
  • Sikap terbuka dan ramah terhadap orang-orang dari agama lain.
  • Moderasi Perbedaan Keyakinan dalam Kegiatan Akademik dan Sosial:
  • Diskusi tentang perbedaan agama di kelas dan kerja kelompok lintas agama.
  • Keterlibatan dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial yang melibatkan berbagai agama.
  • Negosiasi dan Penyelarasan Pemahaman tentang Moderasi Beragama:
  • Proses pembelajaran yang terus-menerus dari pengalaman pribadi dan refleksi.
  • Kesediaan untuk belajar dan berkembang dalam memperbaiki hubungan antar-agama.

Internalisasi dan Pembentukan Pemahaman

  • Internalisasi Nilai-nilai Moderasi Beragama:
  • Proses internalisasi terjadi secara bertahap dan memerlukan usaha terus-menerus.
  • Pengalaman pribadi dan interaksi dengan individu dari agama lain memainkan peran penting.
  • Refleksi dan diskusi membantu dalam memahami dan menghayati nilai-nilai moderasi beragama.
  • Pembentukan Pemahaman dan Sikap Moderasi Beragama:
  • Kombinasi antara pembelajaran di kampus, pengalaman pribadi, diskusi, dan partisipasi dalam kegiatan antar-agama.
  • Kesadaran pribadi juga berperan dalam membentuk sikap moderasi beragama.
  • Pengalaman Konkret yang Mempengaruhi Pemahaman:
  • Contoh pengalaman dengan sahabat dekat dari agama Kristen yang meningkatkan penghargaan terhadap keunikan dan perbedaan keyakinan.
  • Rekonstruksi dan Pemaknaan Kembali Konsep Moderasi Beragama:
  • Proses refleksi dan pembelajaran dari interaksi dengan pemeluk agama lain untuk terus menyesuaikan dan mengembangkan konsep moderasi beragama.

Hasil wawancara dengan informan kedua, Silmy, yang merupakan mahasiswa pascasarjana di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab:

Persepsi terhadap Moderasi Beragama

  • Persepsi Terhadap Moderasi Beragama:
  • Moderasi beragama dianggap sebagai dasar untuk menghargai dialog, pengertian, dan kerjasama antarumat beragama.
  • Mahasiswa umumnya melihat moderasi beragama sebagai cara untuk mempromosikan kerukunan dan menghindari konflik.
  • Pengalaman Pribadi Menghadapi Perbedaan Agama:
  • Silmy terbiasa berinteraksi dengan perbedaan agama sejak kecil karena lingkungannya.
  • Interaksi ini memperkuat pandangan Silmy tentang pentingnya moderasi beragama untuk kerukunan dan toleransi dalam masyarakat.
  • Nilai dan Norma yang Mendasari Pemahaman:
  • Nilai penting adalah tasamuh (toleransi) yang menekankan penghormatan terhadap kepercayaan antaragama.
  • Dialog antaragama diakui sebagai sarana untuk memperkuat kerukunan.
  • Mengelola Perbedaan dan Keberagaman Agama:
  • Melalui dialog antaragama dan kegiatan sosial atas nama kemanusiaan.
  • Sikap tenggang rasa diakui penting untuk membuat perbedaan tidak terlalu terlihat.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Moderasi Beragama

  • Faktor-faktor Pengaruh:
  • Pendidikan dan pengalaman sangat mempengaruhi praktik moderasi beragama.
  • Banyaknya seminar dan diklat tentang moderasi beragama juga berperan dalam membentuk pandangan ini.
  • Konsep Toleransi dan Penghargaan Terhadap Perbedaan Agama:
  • Sikap terbuka dan penerimaan terhadap perbedaan agama.
  • Mahasiswa cenderung memperlakukan individu dari agama lain dengan hormat dan kesetaraan.
  • Moderasi Perbedaan Keyakinan dalam Kegiatan Akademik dan Sosial:
  • Mahasiswa dilatih untuk menghargai pluralitas keyakinan dan membangun dialog yang inklusif.
  • Kegiatan akademik dan sosial sering kali memperkaya pengalaman belajar dan memperkuat hubungan antarindividu.
  • Negosiasi dan Penyelarasan Pemahaman tentang Moderasi Beragama:
  • Mahasiswa sering didorong untuk menyelaraskan pemahaman mereka tentang moderasi beragama melalui dialog dan penelitian akademik.
  • Praktik toleransi dan penghargaan terhadap keragaman keyakinan diterapkan dalam interaksi sehari-hari.

Internalisasi dan Pembentukan Pemahaman

  • Internalisasi Nilai-nilai Moderasi Beragama:
  • Pendidikan dan pengalaman berinteraksi dengan umat beragama lain memainkan peran penting.
  • Nilai-nilai moderasi beragama tercermin dalam interaksi dengan orang-orang beragama lain.
  • Pengalaman Konkret yang Mempengaruhi Pemahaman:
  • Pengalaman bertemu dengan orang-orang beragama lain di lingkungan kampus, seperti dalam acara lintas keagamaan atau kegiatan sosial bersama.
  • Membaca literatur atau studi kasus tentang moderasi beragama dan praktiknya dalam berbagai konteks budaya dan agama.
  • Rekonstruksi dan Pemaknaan Kembali Konsep Moderasi Beragama:
  • Konsep moderasi beragama dimaknai sebagai sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan antarumat beragama.
  • Moderasi beragama tidak berarti menyamakan semua agama, tetapi mengakui dan menerima perbedaan tersebut.

Kesimpulan dari Wawancara

  • Dialog dan kerjasama antaragama menjadi landasan penting bagi moderasi beragama.
  • Pengalaman pribadi dan pendidikan memainkan peran besar dalam membentuk sikap moderasi beragama.
  • Nilai-nilai seperti tasamuh (toleransi), dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan agama menjadi kunci dalam memahami dan mempraktikkan moderasi beragama.
  • Mahasiswa pascasarjana UIN berusaha mengelola perbedaan agama melalui dialog, pendidikan, dan pengalaman sosial, yang memperkaya pemahaman mereka tentang moderasi beragama.

Hasil wawancara dengan informan ketiga, Gebyar A, yang merupakan mahasiswa pascasarjana di Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam:

Persepsi terhadap Moderasi Beragama

  • Pandangan tentang Moderasi Beragama:
  • Gebyar menganggap moderasi beragama sebagai sebuah takdir yang harus diterima. Setiap orang memiliki keyakinan yang berbeda, dan perbedaan ini tidak boleh dianggap sebagai kesalahan.
  • Ia mengibaratkan moderasi beragama seperti dua orang yang menikmati minuman berbeda (kopi dan teh) tanpa memaksa satu sama lain untuk mencoba minuman yang sama.
  • Pengalaman Menghadapi Perbedaan Agama:
  • Gebyar tinggal di Bandung dengan lingkungan mayoritas Katolik, termasuk keluarga istri dan teman-temannya.
  • Meskipun ada perbedaan prinsip, Gebyar dan keluarganya dapat menjaga iman masing-masing tanpa konflik. Ia menekankan pentingnya "pintar merasa" daripada "merasa pintar".
  • Gebyar menekankan bahwa hukum agama di Indonesia berada di bawah hukum undang-undang, dan setiap orang memiliki kebebasan untuk berkeyakinan tanpa harus saling menggurui.
  • Konsep Toleransi dan Penghargaan Terhadap Perbedaan Agama:
  • Dalam keluarga, Gebyar mendukung prosesi ibadah keluarga Katoliknya tanpa memaksakan prinsip-prinsipnya sendiri. Ia lebih memilih mendengarkan dan berbicara hanya jika diminta pendapat.
  • Dalam pergaulan, interaksi dengan orang dari agama lain lebih santai dan sering kali menjadikan keyakinan sebagai bahan bercanda tanpa menyinggung.
  • Pembentukan Pemahaman dan Sikap Moderasi Beragama:
  • Gebyar memberikan contoh konkret seperti membantu mertua dalam pembagian sembako di gereja katedral. Ia melakukan ini atas dasar menjaga nama baik keluarga dan alasan kemanusiaan.
  • Pemahaman tentang moderasi beragama menurut Gebyar didasarkan pada fenomenologi dan pengalaman sejak kecil di lingkungan yang beragam di Sumedang.
  • Keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan pemahaman tentang kemajemukan masyarakat sejak dini.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Moderasi Beragama

  • Pendidikan dan Pengalaman:
  • Gebyar menekankan bahwa pendidikan dan pengalaman sejak kecil berperan besar dalam pembentukan sikap moderasi beragama.
  • Lingkungan keluarga yang pluralistik dan pengalaman hidup di lingkungan beragam memperkuat sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.
  • Konsep Toleransi dalam Interaksi:
  • Toleransi tercermin dalam dukungan terhadap ibadah keluarga dari agama lain dan keterlibatan dalam kegiatan mereka tanpa memaksakan keyakinan.
  • Dalam pergaulan, toleransi tercermin dalam keterbukaan untuk berdiskusi dan bercanda tentang keyakinan masing-masing tanpa menyinggung.

Internalisasi dan Pembentukan Pemahaman

  • Internalisasi Nilai-nilai Moderasi Beragama:
  • Gebyar menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama melalui interaksi sehari-hari dengan individu dari agama yang berbeda dan lingkungan yang beragam.
  • Ia menekankan pentingnya memahami dan menghormati keyakinan orang lain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
  • Pengalaman Konkret yang Mempengaruhi Pemahaman:
  • Tinggal di lingkungan mayoritas Katolik dan berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman dari agama yang berbeda memberikan pengalaman nyata dalam mempraktikkan moderasi beragama.
  • Keterlibatan dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan bersama individu dari agama lain juga memperkuat pemahaman dan praktik moderasi beragama.
  • Rekonstruksi dan Pemaknaan Kembali Konsep Moderasi Beragama:
  • Gebyar memaknai moderasi beragama sebagai sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan tanpa memaksakan keyakinan masing-masing.
  • Ia menganggap moderasi beragama bukan tentang menyamakan semua agama, tetapi tentang mengakui dan menerima perbedaan tersebut.

Kesimpulan dari Wawancara

  • Moderasi beragama dilihat sebagai penerimaan dan penghormatan terhadap perbedaan tanpa memaksakan keyakinan.
  • Pengalaman hidup di lingkungan yang beragam dan dukungan keluarga memainkan peran besar dalam pembentukan sikap moderasi beragama.
  • Toleransi tercermin dalam interaksi sehari-hari melalui dukungan terhadap ibadah agama lain dan keterlibatan dalam kegiatan sosial.
  • Pemahaman tentang moderasi beragama terus berkembang melalui interaksi dan pengalaman nyata dengan individu dari agama yang berbeda.

Hasil wawancara dengan informan keempat, Syamsudin, yang merupakan mahasiswa pascasarjana di Program Studi Aqidah dan Filsafat (S3) dengan konsentrasi Filsafat:

Persepsi terhadap Moderasi Beragama

  • Pengalaman Pribadi dalam Menghadapi Perbedaan Agama:
  • Syamsudin memiliki pengalaman intens dalam menghadapi perbedaan agama baik secara langsung maupun melalui media sosial.
  • Ia terlibat aktif dalam kelompok WhatsApp lintas agama dan etnis serta menjadi salah satu pengurus INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa) Kota Bandung.
  • Sering diundang untuk mengisi acara lintas agama dan moderasi beragama.
  • Pengalaman ini memberikan pengaruh positif terhadap pandangannya tentang moderasi beragama, memupuk pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya dialog dan kerjasama antar agama.
  • Negosiasi dan Penyelarasan Pemahaman tentang Moderasi Beragama:
  • Syamsudin menegosiasikan dan menyelaraskan pemahamannya tentang moderasi beragama dengan mengundang individu dari berbagai agama untuk menghadiri acara pribadi dan menjadi narasumber dalam event-event yang diadakan oleh Lembaga Attamur.
  • Ia juga terlibat dalam kerjasama program, baik secara pribadi maupun lembaga, dan menghadiri pertemuan lintas agama.
  • Selain itu, Syamsudin mengisi acara lintas agama dan menerima kunjungan dari berbagai pihak kapan saja mereka hendak berkunjung ke rumah atau lembaganya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Moderasi Beragama

  • Pendidikan dan Pengalaman:
  • Syamsudin menekankan pentingnya pendidikan dan pengalaman dalam membentuk sikap moderasi beragama.
  • Keterlibatannya dalam organisasi lintas agama dan etnis, serta peran aktifnya dalam berbagai acara dan diskusi lintas agama, memberikan pengalaman langsung dalam menghadapi dan mengelola perbedaan.
  • Konsep Toleransi dalam Interaksi:
  • Toleransi tercermin dalam partisipasi aktif Syamsudin dalam kegiatan lintas agama, baik sebagai peserta maupun narasumber.
  • Ia memfasilitasi dialog dan kerjasama antar agama melalui berbagai event dan program yang diadakan, serta menjaga hubungan baik dengan individu dari berbagai latar belakang agama.

Internalisasi dan Pembentukan Pemahaman

  • Internalisasi Nilai-nilai Moderasi Beragama:
  • Syamsudin menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama melalui interaksi langsung dan pengalaman nyata dalam berbagai kegiatan lintas agama.
  • Aktivitasnya dalam organisasi dan acara lintas agama membantu memperkuat pemahaman dan komitmen terhadap moderasi beragama.
  • Pengalaman Konkret yang Mempengaruhi Pemahaman:
  • Pengalaman konkret seperti mengundang individu dari berbagai agama ke acara pribadi dan lembaga, serta berpartisipasi aktif dalam pertemuan dan diskusi lintas agama, memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman Syamsudin tentang moderasi beragama.
  • Keterlibatan dalam organisasi lintas agama dan etnis juga memberikan wawasan yang lebih luas tentang pentingnya toleransi dan kerjasama antar agama.
  • Rekonstruksi dan Pemaknaan Kembali Konsep Moderasi Beragama:
  • Syamsudin memaknai kembali konsep moderasi beragama sebagai sebuah proses yang melibatkan dialog, kerjasama, dan penghormatan terhadap perbedaan.
  • Ia melihat moderasi beragama sebagai cara untuk membangun hubungan yang harmonis dan saling menghargai antar umat beragama, bukan hanya sekedar menghindari konflik.

Kesimpulan dari Wawancara

  • Moderasi beragama dilihat sebagai penerimaan dan penghormatan terhadap perbedaan, serta usaha aktif dalam memfasilitasi dialog dan kerjasama antar agama.
  • Pengalaman hidup dan keterlibatan dalam organisasi lintas agama serta acara lintas agama memberikan kontribusi signifikan dalam pembentukan sikap moderasi beragama.
  • Toleransi tercermin dalam partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan lintas agama dan usaha untuk menjalin hubungan baik dengan individu dari berbagai latar belakang agama.
  • Internalisasi nilai-nilai moderasi beragama terjadi melalui pengalaman langsung dan keterlibatan aktif dalam kegiatan lintas agama.

Dari hasil analisis wawancara dengan keempat informan, yakni Suci, Silmy, Gebyar, dan Syamsudin, tergambar bahwa mereka memiliki persepsi yang serupa mengenai moderasi beragama. Moderasi beragama dipandang sebagai sikap yang melibatkan toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Mereka menganggap bahwa moderasi beragama penting untuk menjaga harmoni dan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat.

Pengalaman pribadi dalam menghadapi perbedaan agama ternyata memengaruhi pemahaman mereka tentang moderasi beragama. Mereka memiliki pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang agama dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman ini memperkuat pemahaman mereka tentang pentingnya toleransi, dialog, dan menghormati perbedaan sebagai bagian dari moderasi beragama.

Selain itu, konsep toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan agama tercermin dalam tindakan mereka sehari-hari. Mereka secara aktif mempraktikkan toleransi melalui partisipasi dalam kegiatan lintas agama, mendukung prosesi ibadah individu dari berbagai agama, dan menjaga hubungan baik dengan individu dari latar belakang agama yang berbeda.

Proses pembentukan pemahaman dan sikap moderasi beragama juga terlihat dari wawancara. Pendekatan dialog, kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan lintas agama, dan keterlibatan dalam organisasi yang mempromosikan moderasi beragama memainkan peran penting dalam pembentukan pemahaman dan sikap terhadap moderasi beragama.

Meskipun telah ada upaya yang signifikan untuk mempromosikan moderasi beragama, tetapi masih diperlukan upaya yang berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman dan praktik tersebut dalam masyarakat secara luas. Temuan dari wawancara dengan keempat informan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya moderasi beragama dan praktik toleransi telah menjadi bagian dari pemikiran dan tindakan mereka. Namun, hal ini belum mencapai titik jenuh, dan masih diperlukan upaya yang berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman dan praktik tersebut dalam masyarakat secara luas.

Berdasarkan hasil wawancara dengan keempat informan, dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama dianggap sebagai sikap yang sangat penting dalam menjaga harmoni dan kerukunan antar umat beragama. Para informan memiliki pandangan yang serupa mengenai pentingnya toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan sebagai bagian dari moderasi beragama.

Pengalaman pribadi dalam menghadapi perbedaan agama telah memengaruhi pemahaman mereka tentang moderasi beragama. Mereka aktif berinteraksi dengan individu dari latar belakang agama yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari, yang memperkuat pemahaman mereka tentang pentingnya toleransi dan dialog.

Konsep toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan agama tercermin dalam tindakan mereka sehari-hari, seperti partisipasi dalam kegiatan lintas agama dan mendukung prosesi ibadah individu dari berbagai agama.

Proses pembentukan pemahaman dan sikap moderasi beragama terjadi melalui pendekatan dialog, kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan lintas agama, dan keterlibatan dalam organisasi yang mempromosikan moderasi beragama.

Meskipun telah ada upaya yang signifikan untuk mempromosikan moderasi beragama, namun masih diperlukan upaya yang berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman dan praktik tersebut dalam masyarakat secara luas. Kesadaran akan pentingnya moderasi beragama dan praktik toleransi telah menjadi bagian dari pemikiran dan tindakan para informan, tetapi hal ini belum mencapai titik jenuh, dan masih diperlukan upaya yang berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman dan praktik tersebut dalam masyarakat secara luas.


Judul Penelitian:

"Studi Tentang Moderasi Beragama dalam Konteks Mahasiswa Pascasarjana UIN"

Judul Penelitian:

"Studi Tentang Moderasi Beragama dalam Konteks Mahasiswa Pascasarjana UIN"

Karakteristik Informan:

  • Mahasiswa pascasarjana UIN
  • Terlibat dalam kegiatan lintas agama atau memiliki pengalaman dalam berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang agama
  • Dapat memberikan wawasan tentang pandangan dan praktik moderasi beragama

Karakteristik Informan:

  • Mahasiswa pascasarjana UIN
  • Terlibat dalam kegiatan lintas agama atau memiliki pengalaman dalam berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang agama
  • Dapat memberikan wawasan tentang pandangan dan praktik moderasi beragama

Paradigma

Interpretif

Paradigma

Interpretif

Pendekatan

Kualitatif

Pendekatan

Kualitatif

Metode

Fenomenologi

Metode

Fenomenologi

Jenis

Field Research

Jenis

Field Research

Informan yang diambil

Informan yang diambil

Analisis Temuan:

Pandangan tentang Moderasi Beragama: Sebagian besar informan menekankan pentingnya toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan agama sebagai inti dari moderasi beragama.

Pengalaman Pribadi: Pengalaman pribadi menghadapi perbedaan agama mempengaruhi pandangan informan terhadap moderasi beragama, dengan beberapa dari mereka tumbuh dalam lingkungan yang beragam secara agama.

Nilai dan Norma: Nilai-nilai seperti tasamuh (toleransi), saling menghormati, dan pentingnya dialog lintas agama diidentifikasi sebagai dasar pemahaman moderasi beragama.

Mengelola Perbedaan: Informan menggunakan berbagai strategi seperti dialog, kerjasama dalam kegiatan sosial, dan keterlibatan dalam organisasi lintas agama untuk mengelola perbedaan dan keberagaman agama.

Proses Pembentukan Pemahaman: Pemahaman dan sikap moderasi beragama terbentuk melalui interaksi sosial, pendidikan, pengalaman pribadi, dan partisipasi dalam kegiatan lintas agama.

Pengalaman Konkret: Keterlibatan dalam kegiatan lintas agama dan interaksi sehari-hari dengan individu dari latar belakang agama yang berbeda memperkaya pemahaman informan tentang moderasi beragama.

Internalisasi Nilai: Internalisasi nilai-nilai moderasi beragama terjadi melalui pendidikan dan pengalaman hidup, yang memengaruhi sikap dan perilaku informan dalam interaksi mereka dengan individu dari berbagai latar belakang agama.

Konsep Toleransi dan Penghargaan: Informan menekankan pentingnya penerimaan dan penghargaan terhadap perbedaan agama, yang tercermin dalam tindakan sehari-hari dan interaksi mereka dengan orang-orang dari agama lain.

Proses Penyelarasan: Informan menegosiasikan dan menyelaraskan pemahaman mereka tentang moderasi beragama dengan realitas hubungan antar-agama melalui dialog, penelitian akademik, dan praktik toleransi.

Analisis Temuan:

Pandangan tentang Moderasi Beragama: Sebagian besar informan menekankan pentingnya toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan agama sebagai inti dari moderasi beragama.

Pengalaman Pribadi: Pengalaman pribadi menghadapi perbedaan agama mempengaruhi pandangan informan terhadap moderasi beragama, dengan beberapa dari mereka tumbuh dalam lingkungan yang beragam secara agama.

Nilai dan Norma: Nilai-nilai seperti tasamuh (toleransi), saling menghormati, dan pentingnya dialog lintas agama diidentifikasi sebagai dasar pemahaman moderasi beragama.

Mengelola Perbedaan: Informan menggunakan berbagai strategi seperti dialog, kerjasama dalam kegiatan sosial, dan keterlibatan dalam organisasi lintas agama untuk mengelola perbedaan dan keberagaman agama.

Proses Pembentukan Pemahaman: Pemahaman dan sikap moderasi beragama terbentuk melalui interaksi sosial, pendidikan, pengalaman pribadi, dan partisipasi dalam kegiatan lintas agama.

Pengalaman Konkret: Keterlibatan dalam kegiatan lintas agama dan interaksi sehari-hari dengan individu dari latar belakang agama yang berbeda memperkaya pemahaman informan tentang moderasi beragama.

Internalisasi Nilai: Internalisasi nilai-nilai moderasi beragama terjadi melalui pendidikan dan pengalaman hidup, yang memengaruhi sikap dan perilaku informan dalam interaksi mereka dengan individu dari berbagai latar belakang agama.

Konsep Toleransi dan Penghargaan: Informan menekankan pentingnya penerimaan dan penghargaan terhadap perbedaan agama, yang tercermin dalam tindakan sehari-hari dan interaksi mereka dengan orang-orang dari agama lain.

Proses Penyelarasan: Informan menegosiasikan dan menyelaraskan pemahaman mereka tentang moderasi beragama dengan realitas hubungan antar-agama melalui dialog, penelitian akademik, dan praktik toleransi.

Informan 3:

Gebyar A

(Komunikasi Penyiaran Islam)

Informan 3:

Gebyar A

(Komunikasi Penyiaran Islam)

Informan 2:

Silmy

(Pendidikan Bahasa Arab)

Informan 2:

Silmy

(Pendidikan Bahasa Arab)

Informan 1:

Suci

(Hukum Keluarga Islam)

Informan 1:

Suci

(Hukum Keluarga Islam)

Informan 4:

Syamsudin, M.ag

(SAA - Konsentrasi Filsafat)

Informan 4:

Syamsudin, M.ag

(SAA - Konsentrasi Filsafat)

Simpulan Hasil Wawancara

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk mengeksplorasi persepsi mahasiswa pascasarjana UIN terhadap konsep moderasi beragama dalam konteks hubungan antara orang-orang dari latar belakang agama yang berbeda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa pascasarjana UIN memiliki pemahaman yang beragam tentang moderasi beragama. Secara umum, mereka memandang dialog dan interaksi antarumat beragama sebagai hal yang penting untuk saling memahami, menerima, dan merasa nyaman dengan perbedaan keyakinan. Mahasiswa menekankan pentingnya sikap terbuka, toleran, adil, dan setara di hadapan hukum.

Pengalaman pribadi mahasiswa dalam berinteraksi dengan orang-orang dari agama yang berbeda turut membentuk pemahaman mereka tentang moderasi beragama. Nilai-nilai yang mendasari pemahaman mahasiswa mencakup saling pengertian, penerimaan perbedaan, hidup berdampingan tanpa konflik, kesetaraan, dialog antarumat beragama, serta penolakan terhadap ekstremisme.

Dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa cenderung mengelola perbedaan agama dengan cara yang santun, terbuka, seperti mengadakan diskusi, ikut kegiatan keagamaan, dan menghargai hak-hak orang lain tanpa diskriminasi. Faktor-faktor yang memengaruhi sikap moderasi beragama mereka antara lain lingkungan kampus, pengalaman pribadi, keluarga, teman, pembelajaran di kelas, dan media.

Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bahwa mahasiswa pascasarjana UIN memiliki pemahaman yang mendalam tentang moderasi beragama, yang tercermin dalam sikap saling menghargai, menghindari konflik, dan membangun dialog serta pemahaman bersama antarumat beragama.


DAFTAR PUSTAKA

Aulia, F. A., & Arifin, F. (2023). Moderasi Beragama Dalam Ruang Digital : Studi Harmonisasi Moderasi Beragama Di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama, 3(2), 205. https://doi.org/10.32332/moderatio.v3i2.8105

Himawan, A. H. (2023). Moderasi Beragama: Jejaknya dalam Sejarah Perdagangan di Gresik. Moderasi Beragama: Akar Teologi, Nalar Kebudayaan, Dan Kontestasi Di Ruang Digital. https://doi.org/10.55981/brin.904.c741

Kurniawan, S., & Maknun, M. L. (2023). Moderasi Beragama di Indonesia: Peluang dan Tantangannya. Moderasi Beragama: Akar Teologi, Nalar Kebudayaan, Dan Kontestasi Di Ruang Digital. https://doi.org/10.55981/brin.904.c737

Mibtadin, & Nuriyanto, L. K. (2023). Moderasi Beragama dalam Perspektif Komunitas Perempuan Lintas Iman “Purwakanthi” Sukoharjo. Moderasi Beragama: Akar Teologi, Nalar Kebudayaan, Dan Kontestasi Di Ruang Digital. https://doi.org/10.55981/brin.904.c745

Mustaghfiroh, S. (2022). PENGARUSUTAMAAN NILAI MODERASI BERAGAMA DI ERA SOCIETY 5.0. MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama, 2(2), 1. https://doi.org/10.32332/moderatio.v2i2.5538

Mustakimah, L., & Rosyad, R. (2023). Pesan Moderasi Beragama Akun Instagram @Mubadalah.ID Dalam Mencegah Radikalisme di Media Sosial. MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama, 3(2), 181. https://doi.org/10.32332/moderatio.v3i2.7369

Nasution, S. (1998). Metode dan Penelitian naturalistik Kualitatif. Tarsito. Bandung.

Priskila, D., Widiasavitri, P. N., & Widiasavitri, P. N. (2020). Gambaran pencarian identitas agama remaja dengan orang tua beda agama di Bali. Jurnal Psikologi Udayana, 7(1), 91. https://doi.org/10.24843/jpu.2020.v07.i01.p10

Salim, C. (2023). Moderasi Beragama Dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika Untuk Membentuk Generasi Millenial Ummatan Washatan. MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama, 3(1), 34. https://doi.org/10.32332/moderatio.v3i1.5681

Saumantri, T. (2023). Aktualisasi Moderasi Beragama Dalam Media Sosial. MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama, 3(1), 64. https://doi.org/10.32332/moderatio.v3i1.6534

Sugiyanto, A. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan kombinasi. Alfabeta.

Teniwut, M. (2022, November 22). Teknik Pengumpulan Data dan Metode Penelitian. Mediaindonesia,Com. https://mediaindonesia.com/humaniora/539107/teknik-pengumpulan-data-dan-metode-penelitian

Zuhriyandi, Z. (2023). Harmoni Beragama Dan Pencegahan Konflik: Perspektif Moderasi Menurut Al-Qur’an Dan Alkitab. MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama, 3(2), 218. https://doi.org/10.32332/moderatio.v3i2.8222

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Laporan Penelitian Metodologi Penelitian. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca