Langsung ke isi

Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting

Penelitian ini berangkat dari anomali dalam lanskap dakwah kontemporer: di tengah maraknya konten digital berdurasi singkat, dakwah tradisional K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) yang berlangsung panjang justru konsisten menarik ribuan jamaah. Fenomena ini menunjukkan adanya…

Abstrak

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2230100017): Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting.

Penelitian ini berangkat dari anomali dalam lanskap dakwah kontemporer: di tengah maraknya konten digital berdurasi singkat, dakwah tradisional K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) yang berlangsung panjang justru konsisten menarik ribuan jamaah. Fenomena ini menunjukkan adanya praktik retorika yang efektif dan transformatif, yang dikonstruksi melalui interaksi sosial di Majelis Taklim dan Sholawat Sanrighos Al-Aqthob.

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana tiga pilar retorika—ethos (melalui kredibilitas sumber), pathos (melalui rasionalitas naratif), dan logos (melalui logika adaptif)—diimplementasikan secara strategis untuk mengartikulasikan tiga dimensi profetik: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Kerangka teoretis penelitian ini mengintegrasikan teori retorika klasik dan modern dengan paradigma Ilmu Sosial Profetik.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berparadigma konstruktivisme sosial, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, serta validasi melalui triangulasi sumber dan metode.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga pilar retorika bekerja secara sinergis. Ethos dibangun atas integritas keilmuan dan empati moral; pathos dioperasikan melalui orkestrasi emosional berbasis narasi spiritual dan humor yang relevan; sementara logos diwujudkan melalui penalaran adaptif dan solutif yang menyesuaikan konteks psikologis dan sosial jamaah. Sinergi ketiganya membentuk model Retorika Profetik Ta’shiliyah, yaitu retorika fondasional yang memprioritaskan pengakaran (ta’shil) jamaah pada prinsip dasar agama sebagai fondasi transformasi individu dan komunal.

Kata Kunci: Retorika Profetik, Dakwah, Dimensi Porfetik, Mama Cianting.

Abstract Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2230100017): Prophetic Rhetoric in Mama Cianting's Da'wah.

This study originates from an anomaly within the contemporary landscape of Islamic preaching: amid the proliferation of short-form digital content, the extended sermons of K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar— widely known as Mama Cianting—continue to draw thousands of devoted participants. Such a phenomenon reveals the presence of a profoundly effective and transformative rhetorical practice, socially constructed through dynamic interactions within the Majelis Taklim and Sholawat Sanrighos Al-Aqthob community.

The research seeks to examine how the three classical pillars of rhetoric—ethos (through source credibility), pathos (through narrative rationality), and logos (through adaptive logic)—are strategically employed to articulate the prophetic triad of humanisation, liberation, and transcendence. The theoretical framework intertwines classical and modern rhetorical theories with the paradigm of Prophetic Social Science, situating the analysis within both communicative and spiritual dimensions.

Employing a qualitative approach grounded in social constructivism, data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and document analysis, and validated via source and method triangulation.

Findings demonstrate that the three rhetorical pillars operate in a deeply synergic manner. Ethos is grounded in scholarly integrity and authentic compassion; pathos unfolds through an emotional orchestration combining spiritual narratives with contextually resonant humour; while logos emerges as adaptive and solution-oriented reasoning that aligns with the psychological and social realities of the audience. The interplay of these elements crystallises into a distinctive model termed Prophetic Ta’shiliyah Rhetoric—a foundational mode of persuasion that prioritises the rooting (ta’shil) of believers in the essential principles of faith, serving as the spiritual and intellectual basis for both personal and communal transformation.

Keywords: Prophetic Rhetoric, Da'wah, Prophetic Dimension, Mama Cianting.

‫ّ‬ ‫الملخص‬ ‫محمد إرشاد سراج الخير (‪ :)٢٢٣٠١٠٠٠١٧‬البلاغة النبوية في دعوة الشيخ إنجانغ محي الدين عبد‬ ‫الجبار (المعروف بـ "ماما سيانتينغ")‬ ‫تنطل ُق هذ ِه ال ِّدراس ُة من ظاهر ٍة فريد ٍة في َمش َه ِد الَّدعو ِة الإسلامي ِة ال ُمعا ِصرة؛ ففي َوس ِط الانتشا ِر‬ ‫ال ِّدي ِن‬ ‫ُ ْمح ِي‬ ‫ِإ ْ َنج ْن ْج‬ ‫ُخ َد ِّيَج ِة‬ ‫الَّشي ِخ‬ ‫الَّتقليد ِّي‪،‬‬ ‫الَّداعي ِة‬ ‫ِخطا ُب‬ ‫َي َظ ُّل‬ ‫ال َم َدى‪،‬‬ ‫َ‬ ‫الَّرقم ِ ّي‬ ‫ِلل ُمحتوى‬ ‫الواس ِع‬ ‫القصي ِر‬ ‫ُمتوا ِص ٍل‪.‬‬ ‫َ ْنح ٍو‬ ‫على‬ ‫الحا ِضري َن‬ ‫ِم َن‬ ‫الآلا ِف‬ ‫َج ْذ ِب‬ ‫على‬ ‫ً‬ ‫ـ‬ ‫شيا ْن ِت ْنج»‬ ‫«ماما‬ ‫بلق ِب‬ ‫المشهو ِر‬ ‫ـ‬ ‫الَجَّبا ِر‬ ‫َع ْب ِد‬ ‫قا ِدرا‬ ‫و ُتف ِص ُح هذ ِه الظاهر ُة عن ََما َر َس ٍة َبلاغَّي ٍة فا ِعل ٍة و ُمح ِّولَ ٍة‪ ،‬تتكَّو ُن اجتما ِع ًّيا ِمن خلا ِل التفا ُع ِل ا َلح ِّي وال ِّدينام ِّي‬ ‫في َمْج ِل ِس الَّت ْع ِلي ِم َوالَّصلا ِة َع َلى الَّنِبِ ّي " َس ْن ِري ُغو ْس الأقطاب‪".‬‬ ‫َ‬ ‫الإيثوس‬ ‫ـ‬ ‫الَّثلاث ُة‬ ‫ال َبلاغ ِة‬ ‫أركا ُن‬ ‫بها‬ ‫ُت ْس َت ْخ َد ُم‬ ‫التي‬ ‫الكيفَّي ِة‬ ‫تحلي ِل‬ ‫إلى‬ ‫ال ِّدراس ُة‬ ‫هذ ِه‬ ‫تهد ُف‬ ‫( ِمصدا ِقَّي ُة المص َدر)‪ ،‬والباثوس (ال َع ْقلانَّي ُة الَّس ْر َِدّية)‪ ،‬واللوغوس (ال َم ْن ِط ُق الَّت ْكيي ِف ّي) ـ في ِخدم ِة الأبعا ِد‬ ‫َ‬ ‫ال َبلاغ ِة‬ ‫َنظرَّيا ِت‬ ‫َتكا ُم ِل‬ ‫على‬ ‫الَّنظر ُّي‬ ‫الإطا ُر‬ ‫و َيقو ُم‬ ‫َّ‬ ‫والتحرير‪،‬‬ ‫الإنسانَّية‪،‬‬ ‫الَّثلاث ِة‪:‬‬ ‫الَّنب َوّي ِة‬ ‫القديم ِة‬ ‫والتسامي‪.‬‬ ‫والحديث ِة في ضو ِء َم ْن َه ِج ال ِعل ِم الاجتماع ّ ِي اَلّنبو ّي‪.‬‬ ‫اعتمد ِت ال ِّدراس ُة ال َم ْن َه َج ال َك ْي ِفَّي في إطا ِر ال َف ْل َس َف ِة ال ِب َناِئَّي ِة الاج ِتما ِعَّية‪ ،‬م َع توظي ِف أسالي ِب‬ ‫الملا َح َظ ِة ال ُمشا ِرك ِة‪ ،‬والمقا َبلا ِت ال ُم َعَّمق ِة‪ ،‬وتحلي ِل ال َوثائق‪ ،‬م َع الَّتث ُّب ِت ِمن ِصد ِق النتائ ِج عب َر َتثلي ِث‬ ‫ال َمصا ِد ِر وال َمناهج‪.‬‬ ‫يقو ُم‬ ‫فالإيثو ُس‬ ‫ُمتبا َد ٍل‪.‬‬ ‫و َتكا ُم ٍل‬ ‫َُ‬ ‫في‬ ‫َتع َم ُل‬ ‫الَّثلاث َة‬ ‫ال َبلاغَّي َة‬ ‫َ‬ ‫َّ‬ ‫النتائ ُج‬ ‫أظهر ِت‬ ‫وقد‬ ‫تناغ ٍم‬ ‫الأركان‬ ‫أن‬ ‫على َنزاه ِة ال ِعل ِم و َر ْح َم ِة ال َق ْلب‪ ،‬والباثو ُس ُيدا ُر عب َر َتنغي ٍم عاطف ٍ ّي ُمَّت ِز ٍن َيستث ِم ُر الَّسر َد ال ُّروحَّي وال ُفكاه َة‬ ‫والاج ِتماعَّي َة‬ ‫الَّنفسَّي َة‬ ‫الأبعا َد‬ ‫ُيوا ِف ُق‬ ‫َحلول ٍّي‬ ‫َت ْكيي ِف ٍ ّي‬ ‫َتفكي ٍر‬ ‫في‬ ‫َّ‬ ‫اللوغو ُس‬ ‫أَّما‬ ‫لل ِّسياق‪،‬‬ ‫ال ُملاِئ َم َة‬ ‫فيتجلى‬ ‫لل ُمتل ِّقين‪.‬‬ ‫وقد أفضى هذا الَّتفا ُع ُل ال ُم َنَّس ُق إلى َت َب ْل ُو ِر َنمو َذ ٍج َخا ٍ ّص ُأ ْط ِل َق علي ِه ال َبلاغ ُة الَّنب َوّي ُة الَّتأصيلَّية ‪،‬‬ ‫َأساسَّي ٌة‬ ‫و ِف ْك َِرّي ًة‬ ‫ُرو ِحَّي ًة‬ ‫قاعد ًة‬ ‫منها‬ ‫َُ‬ ‫الأُ ُس ِسَّية‪،‬‬ ‫ال ِّدي ِن‬ ‫َمباد ِئ‬ ‫في‬ ‫ال ُمجتم ِع‬ ‫بتأصي ِل‬ ‫ُت ْع َنى‬ ‫َبلاغ ٌة‬ ‫وهي‬ ‫وتجعل‬ ‫للإصلا ِح الفرد ِّي وال ِب َنا ِء الَجماع ّي‪..‬‬ ‫الكلمات المفتاحية‪ :‬البلاغة النبوية‪ ،‬الدعوة‪ ،‬الأبعاد النبوية‪ ،‬ماما تشيانتينغ‪.‬‬ ‫‪v‬‬

BAB I · Pendahuluan — 6.548 kata

A. Latar Belakang Penelitian

Fenomena dakwah yang berlangsung di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob, Desa Cianting, Purwakarta, menyajikan sebuah pemandangan yang khas. Di bawah kepemimpinan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting)—seorang figur ulama yang merepresentasikan simbolisme kultural Kyai Sunda melalui busana serba putihnya1—ruang diskursus keagamaan ini secara konsisten menarik partisipasi lebih dari 2.000 jamaah pada setiap pengajian mingguan, terutama pada Senin pagi dan Minggu malam.2 Daya tarik ini menjadi sebuah anomali signifikan jika disandingkan dengan asumsi dominan tentang preferensi audiens modern. Dalam era komunikasi digital yang cenderung bersifat fragmentaris dan menuntut konten ringkas,3 sesi dakwah Mama Cianting justru berlangsung dalam durasi panjang yang mencapai tiga jam. Majelis ini merepresentasikan sebuah model dakwah yang, alih-alih mengikuti tren digitalisasi, justru mempertahankan integritas pengajaran nilai-nilai fundamental Islam melalui pendekatan linguistik lokal. Fenomena ini menjadi menarik karena dalam era digital yang serba singkat, dakwah panjang Mama Cianting justru semakin diminati. Keunikan ini tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan merepresentasikan adanya proses komunikasi persuasif yang efektif dalam konteks sosio-religius kontemporer.

Perjalanan dakwah Mama Cianting berevolusi dari seorang pendakwah keliling yang dikenal sebagai "Si Rawing" pada masa Orde Baru, hingga 1 Dokumentasi foto dan video kegiatan Majelis Taklim Al-Aqthob Cianting, 2024-2025. 2 Nana Ahmad Taqiyuddin, Pengurus Majelis Taklim Al-Aqthob, wawancara oleh penulis, 19 September 2024. 3 Najib Kailani and Sunarwoto, "Televangelisme Islam Dalam Lanskap Otoritas Keagamaan Baru," in Ulama Dan Negara-Bangsa: Membaca Masa Depan Islam Politik Di Indonesia, ed. Noorhaidi Hasan (Yogyakarta: PusPIDeP, 2019), 179–206. menjadi figur sentral sebuah institusi keagamaan yang mapan. Di kalangan masyarakat setempat, terdapat beberapa narasi yang berkembang mengenai asal-usul julukan tersebut. Sebagian masyarakat meyakini julukan itu muncul karena kegemarannya pada radio Si Rawing, sementara yang lain mengatakan karena sifat dan mobilitas dakwahnya yang dinamis.4 Transformasi ini ditempa oleh tantangan dakwah di era 1980-an yang penuh kompleksitas sosial-politik, di mana para dai harus berhadapan dengan resistensi dari masyarakat yang masih memegang tradisi sinkretis maupun dari aparat yang memandang curiga aktivitas keagamaan informal. Evolusi dari pendekatan personal menjadi institusi yang terstruktur ini menunjukkan adanya adaptasi strategi komunikasi yang matang, dengan tetap mempertahankan prinsip dasar ajaran fundamental Islam.

Sebagaimana diungkapkan oleh Erviansyah, pengamat dakwah lokal dan dosen STAI DR. KHEZ. Muttaqien Purwakarta, dalam wawancara menyampaikan perspektif kontekstual tentang tantangan dakwah di era 1980an. "Dakwah keliling di periode akhir Orde Baru, khususnya di wilayah pedesaan Purwakarta, dihadapkan pada kompleksitas sosial-politik yang unik. Para dai seperti Mama Cianting harus berhadapan dengan berbagai resistensi, baik dari masyarakat yang masih kuat memegang tradisi sinkretisme maupun dari lingkungan sosial yang kadang memandang curiga aktivitas keagamaan di luar struktur formal," jelasnya.5 Konteks historis ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dedikasi luar biasa yang ditunjukkan dalam perjalanan awal dakwah Mama Cianting.

Transformasi dari metode dakwah keliling dengan pendekatan personal menjadi institusi pendidikan keagamaan yang terstruktur dalam bentuk Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob di Cianting menunjukkan evolusi signifikan dalam strategi komunikasi dakwah yang diadaptasikan dengan 4 Wawancara dengan tiga jamaah senior Majelis Taklim Al-Aqthob (Asep Saepudin, Ujang Koswara, dan H. Endang), 09 Desember 2024. 5 Erviansyah, wawancara oleh penulis, Purwakarta, 15 September 2024. perubahan sosial. Meskipun demikian, prinsip dasar penyampaian ajaran fundamental Islam tetap dipertahankan, bahkan diperkuat melalui struktur kelembagaan dan manajemen pembelajaran yang lebih sistematis.6 Fenomena ini tidak hanya merefleksikan perkembangan personal seorang dai, tetapi juga merepresentasikan dinamika transformasi institusi keagamaan lokal dalam merespons perubahan sosial-politik masyarakat Indonesia pasca Orde Baru.

Keunikan dakwah Mama Cianting terletak pada fokusnya yang konsisten pada ajaran-ajaran dasar yang sering terlewatkan dalam panggung dakwah populer. Di saat banyak penceramah membahas isu kontroversial, 7 Mama Cianting justru kembali ke pembahasan elementer seperti tata cara wudhu, shalat, dan fikih keluarga, yang diterjemahkan dari kitab-kitab klasik ke dalam bahasa Sunda yang akrab dan mudah dipahami.8 Motivasi di baliknya berakar pada rasa kasih sayang (nyaah) yang mendalam, sebagaimana dalam wawancara awal, Mama Cianting mengungkapkan bahwa yang mendorongnya melakukan dakwah adalah rasa kasih sayang terhadap sesama manusia.

"Mama kikieuan kusabab nyaah ka papada ummat rasulullah saw, karunya dipasar seer nu can apal wudhu, diterminal seer nu can tiasa sholat, di sawah seer nu can tiasa adus, kumaha bisa ngalakonan agama pami dasarna wae can bisa. jadi dakwah anu ngajelaskeun hal dasar ioeu penting, da kapakena langsung."9 Kutipan tersebut dapat diterjemahkan sebagai "Mama melakukan ini karena sayang kepada sesama umat Rasulullah SAW. Kenyataannya di pasar banyak yang belum paham wudhu, di terminal banyak yang belum bisa sholat, di sawah banyak yang belum bisa mandi (junub), bagaimana bisa menjalankan agama jika dasarnya saja belum bisa. Jadi dakwah yang menjelaskan hal dasar 6 Observasi partisipatif di Majelis Taklim Al-Aqthob, Januari-Maret 2025. 7 Julia Day Howell, "Modernity and Islamic Spirituality in Indonesia's New Sufi Networks," in Sufism and the Modern in Islam, ed. Martin van Bruinessen and Julia Day Howell (London: I.B. Tauris, 2007), 217–240. 8 Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, A D Kusumaningtyas, and Siswanto Siswanto, "Retorika Dakwah Mama Cianting: Analisis Gaya Dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar," AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam [Online], Volume 10 Number 1 (29 June 2023): 123, http://dx.doi.org/10.21043/at-tabsyir.v10i1.20331. 9 Wawancara awal dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting), September 2024. itu penting, karena penerapannya langsung." Pernyataan ini mencerminkan motivasi dakwahnya yang berakar pada nilai-nilai humanisasi dan kepedulian terhadap kondisi pemahaman keagamaan masyarakat. Kepedulian fundamental inilah yang menjadi inti dari misi dakwahnya.

Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting yang dipimpin Mama Cianting mendemonstrasikan bagaimana dakwah klasik dapat tetap relevan di era modern melalui adaptasi yang tepat. Meskipun tema kajian fundamental, pendekatan komunikasi yang digunakan menunjukkan kesadaran akan kebutuhan jamaah. Penggunaan monitor di empat bangunan majelis—dua untuk jamaah laki-laki dan dua untuk jamaah perempuan—memungkinkan jamaah yang berjumlah ribuan untuk menyaksikan dengan jelas praktik ibadah yang diperagakan. Selain itu, pemanfaatan media sosial seperti YouTube untuk menyebarkan kajian dalam format yang lebih singkat (±10 menit) dibandingkan durasi kajian langsung yang mencapai tiga jam menunjukkan adaptasi terhadap pola konsumsi konten digital jamaah virtual.10 Fenomena ini menjadi semakin relevan jika ditempatkan dalam konteks dakwah nasional yang lebih luas, yang ditandai oleh komodifikasi agama atau "Islam Market" oleh Greg Fealy, pendangkalan substansi akibat televangelisme , dan fragmentasi otoritas keagamaan menunjukkan transformasi signifikan dalam praktik keagamaan yang lebih berorientasi pada preferensi pasar dibandingkan transmisi nilai-nilai substantif.11 Najib Kailani dan Sunarwoto mengidentifikasi kecenderungan ini dalam fenomena televangelisme Islam yang mendominasi ruang publik Indonesia, yang lebih menonjolkan aspek performatif dibandingkan substansi ajaran.12 10 Observasi pendahuluan di Majelis Taklim Al-Aqthob, September 2024. 11 Greg Fealy, "Consuming Islam: Commodified Religion and Aspirational Pietism in Contemporary Indonesia," in Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia, ed. Greg Fealy and Sally White (Singapore: ISEAS Publishing, 2008), 15–39. 12 Najib Kailani and Sunarwoto, "Televangelisme Islam Dalam Lanskap Otoritas Keagamaan Baru," in Ulama Dan Negara-Bangsa: Membaca Masa Depan Islam Politik Di Indonesia, ed. Noorhaidi Hasan (Yogyakarta: PusPIDeP, 2019), 179–206.

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), salah satu otoritas intelektual berpengaruh dalam tradisi pesantren kontemporer, mengekspresikan keprihatinan terhadap kecenderungan para pengajar di majelis taklim yang "cenderung menjauh dari substansi dakwah esensial" demi popularitas dan respons jamaah yang besar.13 Kritik substantif ini tidak sekadar merefleksikan kegelisahan pribadi seorang ulama, tetapi mengekspresikan keprihatinan kolektif dari kalangan tradisionalis yang menyaksikan pergeseran orientasi majelis taklim dari institusi pembelajaran keagamaan menjadi ruang hiburan religius.

Penelitian tentang majelis taklim dan transformasi sosio-kultural menunjukkan bahwa institusi pembelajaran keagamaan tradisional ini memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman keagamaan masyarakat. Namun, sebagaimana diidentifikasi oleh Bruinessen, terdapat pergeseran paradigmatik dalam otoritas keagamaan di Indonesia, dari yang berbasis tradisi pesantren menuju otoritas yang lebih beragam dan fragmentatif. Pergeseran ini berkontribusi pada munculnya berbagai pendekatan dakwah yang tidak selalu berpijak pada tradisi keilmuan Islam yang kokoh.

Fragmentasi pemahaman keagamaan juga menjadi tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan majelis taklim kontemporer. Munculnya berbagai aliran dan interpretasi keagamaan yang beragam, sebagian ditunjang oleh kemudahan akses informasi melalui media digital, menciptakan kebingungan di kalangan jamaah awam tentang otoritas keagamaan.14 Hal ini tidak jarang menimbulkan polarisasi dan konflik antarkelompok keagamaan, yang pada akhirnya dapat menghambat efektivitas pembelajaran di majelis taklim. Dalam konteks ini, Habermas menekankan pentingnya komunikasi dialogis dalam membangun 13 Muhammad Lukman Firdaus, "Retorika Dakwah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) Dalam Ngaji Mahasantri Millenial," 2021, 87. 14 Muhlis Muhlis and Musliadi Musliadi, "Komunikasi Profetik Di Media Sosial. Retorika," RETORIKA: Jurnal Kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam 4, no. 2 (September 2022): 82–92, https://doi.org/10.47435/retorika.v4i2.1177. pemahaman bersama,15 yang menjadi tantangan tersendiri bagi praktik majelis taklim yang cenderung monologis.

Pergeseran pola pikir dan gaya hidup masyarakat modern juga mempengaruhi resepsi mereka terhadap pembelajaran di majelis taklim. Materialisme, konsumerisme, dan individualisme yang menjadi ciri masyarakat modern seringkali bertentangan dengan nilai spiritual yang diusung oleh majelis taklim.16 Ketika masyarakat semakin terpapar pada budaya global yang sekuler, relevansi pembelajaran keagamaan dalam kehidupan sehari-hari menjadi dipertanyakan. Akibatnya, sebagaimana diungkapkan oleh Trianto, majelis taklim di era kontemporer menghadapi risiko distorsi implementasi, dimana pesan keagamaan dapat direkonstruksi untuk berbagai kepentingan yang tidak selalu sejalan dengan misi majelis taklim yang sebenarnya.17 Penelitian ini menjadi semakin urgen dalam konteks Indonesia kontemporer yang ditandai oleh dua fenomena paradoksal dalam lingkungan majelis taklim: di satu sisi, terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah majelis taklim dan konsumsi konten keagamaan melalui platform digital, dengan lebih dari 67% pengguna internet Indonesia mengakses konten keagamaan secara online; di sisi lain, terjadi pendangkalan pemahaman keagamaan sebagaimana diindikasikan oleh survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta yang menunjukkan 56,9% responden memiliki pemahaman keagamaan yang cenderung literal dan simplifikasi.18 Dalam konteks ini, studi tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting tidak hanya memberikan perspektif teoretis baru, tetapi juga menawarkan model alternatif dakwah yang substansial namun tetap kontekstual.

15 Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Volume I: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon, 1984), 143. 16 Herman Jamaluddin, Aguswandi, and Syahrul, "Komunikasi Profetik Islam (Nilai Dan Etika Komunikasi Persfektif Islam)," Jurnal Al-Khitabah 5, no. 2 (2019): 57–74. 17 Rudi Trianto, "Retorika Dan Propaganda Politik," 2021, https://himso.id/retorika-danpropaganda-politik/. 18 Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, "Survei Nasional Tentang Keberagamaan Di Sekolah Dan Universitas Di Indonesia" (Jakarta: PPIM UIN Jakarta, 2023), 47– 48.

Dakwah sebagai aktivitas komunikasi persuasif keagamaan secara inheren mengandung dimensi profetik, namun belum banyak kajian yang secara eksplisit mengintegrasikan perspektif retorika dengan dimensi profetik. Menurut Abdul Basit dalam bukunya "Filsafat Dakwah", dakwah tidak hanya berfungsi sebagai transmisi pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sosial yang membawa nilai-nilai profetik.19 Pendekatan ini sejalan dengan misi profetik yang dibawa oleh para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, yang tidak hanya mengajarkan ritual keagamaan tetapi juga membangun peradaban berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan.20 Integrasi elemen-elemen retorika klasik dengan dimensi profetik membuka perspektif baru dalam kajian komunikasi dakwah. Retorika profetik merupakan konsep yang mengintegrasikan elemen-elemen retorika klasik dengan nilai-nilai profetik. Dalam perspektif teoritis, retorika profetik dapat didefinisikan sebagai "mode wacana yang mengklaim otoritas moral transenden untuk mengkritik kondisi sosial dan politik yang ada serta mengartikulasikan visi alternatif tentang masa depan yang lebih baik."21 Sebagai mode komunikasi, retorika profetik memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari bentuk retorika lainnya. Menurut James Darsey, retorika profetik bercirikan klaim implisit atau eksplisit terhadap otoritas transenden, kritik radikal terhadap status quo, dan panggilan untuk perubahan moral fundamental.22 Dalam tradisi kenabian, retorika profetik bukan sekadar instrumen persuasi, tetapi juga mekanisme transformasi moral dan spiritual. Michael Leff mengidentifikasi tiga fungsi utama retorika profetik: fungsi diagnostik yang 19 Abdul Basit, Filsafat Dakwah, 1st ed., vol. 3 (Depok: Rajawali Pers, 2019), 67. 20 Noorhayati Mardiah, "Prophetic Approaches in Communication: A Pilot Analysis of Hadith Prophet Muhammad," Advanced Science Letters 23, no. 5 (2017): 4624–4627, https://www.researchgate.net/publication/318772100_Prophetic_approaches_in_communication_ A_pilot_analysis_of_hadith_prophet_muhammad. 21 James Darsey, The Prophetic Tradition and Radical Rhetoric in America (New York: New York University Press, 1997), 16. 22 James Darsey, The Prophetic Tradition and Radical Rhetoric in America, 20. mengidentifikasi krisis moral atau spiritual, fungsi preskriptif yang menawarkan solusi berbasis nilai-nilai transendental, dan fungsi motivasional yang mendorong audiens untuk bertindak sesuai dengan visi tersebut.23 Dari perspektif ini, retorika profetik memiliki dimensi transformatif yang lebih dalam dibandingkan retorika sekuler yang sekadar berfokus pada efektivitas persuasi.

Dalam konteks dakwah Islam, retorika profetik mengambil model ideal dari praktik komunikasi Nabi Muhammad SAW. Abdul Malik mengidentifikasi lima karakteristik utama retorika profetik dalam tradisi dakwah: (1) berpijak pada otoritas wahyu, (2) berorientasi pada transformasi moral-spiritual, (3) menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman audiens, (4) mengintegrasikan aspek rasional dan emosional, dan (5) menyeimbangkan antara kritik dan harapan.24 Karakteristik ini menjadikan retorika profetik sebagai model komunikasi yang tidak hanya persuasif, tetapi juga transformatif dalam konteks dakwah Islam.

Dalam kajian Komunikasi Islam kontemporer, terdapat kecenderungan untuk mengintegrasikan perspektif teoretis Barat dengan nilai-nilai Islam. Paradigma Komunikasi Profetik, sebagaimana diperkenalkan oleh Iswandi Syahputra, menawarkan kerangka alternatif yang menggabungkan teori komunikasi modern dengan nilai-nilai kenabian.25 Pendekatan ini sejalan dengan konsep Ilmu Sosial Profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo, yang bertumpu pada tiga pilar: humanisasi (ta'muruna bil ma'ruf), liberasi (tanhawna 'anil munkar), dan transendensi (tu’minuna billah).26 Ketiga pilar ini diderivasi dari Surah Ali Imran ayat 110 yang menekankan bahwa 23 Michael Leff, "Rhetoric and Dialectic in the Twenty-First Century," Argumentation 14, no. 3 (2000): 241–254. 24 Abdul Malik, "Prophetic Rhetoric in Classical Islamic Preaching: A Historical-Critical Analysis," Journal of Islamic Studies 29, no. 1 (2018): 1–24. 25 Iswandi Syahputra, Paradigma Komunikasi Profetik: Gagasan Dan Pendekatan (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2017), 15. 26 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, 338. karakteristik umat terbaik adalah yang menyuruh pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.

Integrasi perspektif retorika dengan dimensi profetik membuka ruang analisis yang lebih komprehensif dalam mengkaji fenomena dakwah. Retorika profetik dapat dimaknai sebagai penggunaan elemen-elemen persuasif (ethos, pathos, logos) yang tidak hanya bertujuan untuk efektivitas penyampaian pesan, tetapi juga untuk mewujudkan transformasi individu dan sosial berdasarkan nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi. Menurut Masdar Hilmy, integrasi nilai profetik dalam berbagai disiplin ilmu merupakan upaya indigenisasi dan kontekstualisasi ilmu sosial dalam tradisi keilmuan Islam.27 Pendekatan ini sejalan dengan apa yang disebut oleh Syed Farid Alatas sebagai "alternative discourses" dalam ilmu sosial yang berupaya mendekonstruksi dominasi epistemologi Barat dan membangun tradisi keilmuan yang lebih otentik dengan realitas sosio-kultural masyarakat non-Barat.28 Integrasi antara tiga elemen retorika klasik dengan tiga dimensi profetik dalam konteks majelis taklim membentuk matriks analitis yang memungkinkan pemahaman lebih komprehensif tentang dakwah. Ethos melalui Source Credibility dapat dilihat sebagai instrumen untuk mengartikulasikan dimensi humanisasi (amar ma’ruf) ketika kredibilitas dai digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan; liberasi (nahi munkar) ketika kredibilitas dimanfaatkan untuk mengkritisi berbagai bentuk penindasan; dan transendensi (tu’minuna billah) ketika kredibilitas memperkuat keimanan jamaah kepada Allah. Demikian pula, pathos melalui Narrative Rationality dan logos melalui Audience Adaptation masing-masing dapat berfungsi sebagai instrumen untuk mengartikulasikan ketiga dimensi profetik tersebut. Fenomena dakwah Mama Cianting merepresentasikan manifestasi praktis dari integrasi teoretis ini, di 27 Masdar Hilmy, "Indigenisasi Ilmu Sosial Profetik Dalam Tradisi Keilmuan Islam," Jurnal Bimas Islam 13, no. 1 (2020): 10. 28 Syed Farid Alatas, Alternative Discourses in Asian Social Science: Responses to Eurocentrism (New Delhi: SAGE Publications, 2006), 82–83. mana retorika tidak sekadar menjadi teknik penyampaian pesan, tetapi juga instrumen transformasi individu dan sosial berbasis nilai-nilai profetik.

Meskipun studi tentang retorika profetik telah dilakukan dalam berbagai konteks, aplikasinya dalam penelitian dakwah di Indonesia masih terbatas. Ernst Wendland, dalam studinya tentang retorika profetik dalam kitab-kitab nabi, mengidentifikasi pola-pola retoris yang memiliki kemiripan dengan praktik dakwah kontemporer, seperti penggunaan metafora, analogi, dan struktur argumentasi yang bertujuan untuk transformasi moral-spiritual audiens.29 Sementara itu, Brian Kaylor menekankan bahwa komunikasi profetik selalu berpijak pada krisis moral atau sosial yang perlu direspons, visi alternatif tentang masa depan yang lebih baik, dan dorongan untuk bertindak berdasarkan visi tersebut.30 William Hart mengembangkan gagasan ini lebih jauh dengan menekankan bahwa wacana profetik tidak hanya berfokus pada kritik terhadap kondisi yang ada, tetapi juga menawarkan harapan dan visi transformatif tentang masa depan.31 Perspektif teoretis ini menawarkan kerangka analitis yang produktif untuk memahami praktik dakwah Mama Cianting yang menunjukkan karakteristik serupa.

Studi tentang retorika dalam dakwah di Indonesia telah banyak dilakukan dengan berbagai fokus dan pendekatan. Suhandang dalam "Retorika: Strategi, Teknik dan Taktik Berpidato" menekankan pentingnya teknik-teknik retorika dalam menyampaikan pesan dakwah.32 Abidin dalam "Komunikasi dan Bahasa Dakwah" lebih menekankan pada aspek linguistik dan pemilihan kata dalam komunikasi persuasif keagamaan.33 Sementara itu, Syahputra dalam 29 Ernst Wendland, Prophetic Rhetoric: Case Studies in Text Analysis and Translation (Stellenbosch:

SUN Media Press, 2008), 35–40.

30 Brian Kaylor, "Earth-a-Lujah!: The Prophetic Environmental Discourse of Reverend Billy," Environmental Communication 7, no. 3 (2013): 391–408, https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-84882677143&origin=scopusAI.

31 William D Hart, "Debate, Prophecy, and Revolution: Notes on Cathleen Kaveny's Prophecy Without Contempt," Journal of Religious Ethics 46, no. 4 (2018): 738–759, https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85041821081&origin=scopusAI.

32 Kustadi Suhandang, Retorika: Strategi, Teknik Dan Taktik Berpidato (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2019), 35.

33 Djamalul Abidin, Komunikasi Dan Bahasa Dakwah (Jakarta: Penerbit Kencana, 2018), 42.

"Paradigma Komunikasi Profetik: Gagasan dan Pendekatan" mengembangkan kerangka teoretis komunikasi profetik sebagai alternatif paradigma komunikasi yang berbasis nilai-nilai transendental khususnya dalam konteks Islam Indonesia kontemporer.34 Penelitian tentang retorika profetik dalam konteks dakwah majelis taklim juga telah dilakukan, meskipun masih terbatas. Fahrudin Eko Hardiyanto, dalam disertasinya yang berjudul "Retorika Profetik Wacana Iklan Politik Pilkada", mengkaji penggunaan retorika profetik dalam iklan politik Pilkada Jawa Tengah. Penelitian ini menemukan bahwa retorika profetik digunakan secara efektif dalam kampanye politik untuk membangun citra moral kandidat dan memobilisasi pemilih.35 Namun, penelitian tersebut berfokus pada retorika dalam konteks politik dan tidak membahas retorika profetik dalam konteks dakwah keagamaan.

Penelitian tentang Mama Cianting sendiri masih sangat terbatas. Penelitian Tarmedi berjudul "Kredibilitas Kang Haji Enjang Muhyiddin Abdul Jabbar Sebagai Seorang Juru Dakwah di Pondok Pesantren Al-Aqthob" mengkaji kredibilitas Mama Cianting dalam menyampaikan pesan dakwah, dengan fokus pada aspek kompetensi, keahlian, dan kepercayaan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa Mama Cianting memiliki kredibilitas tinggi sebagai juru dakwah.36 Meskipun penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami kredibilitas juru dakwah, terdapat kesenjangan dalam eksplorasi aspek-aspek retorika profetik dalam praktik dakwah Mama Cianting.

Penelitian lain dilakukan oleh Khoeir, Kusumaningtyas, dan Siswanto dengan judul "Retorika Dakwah Mama Cianting: Analisis Gaya Dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar". Penelitian ini menganalisis gaya dakwah Mama 34 Syahputra, Paradigma Komunikasi Profetik: Gagasan Dan Pendekatan, 15. 35 Fahrudin Eko Hardiyanto, "Retorika Profetik Wacana Iklan Politik Pilkada," 2019. 36 Tarmedi, "Kredibilitas Kang Haji Enjang Muhyiddin Abdul Jabbar Sebagai Seorang Juru Dakwah Di Pondok Pesantren Al-Aqthob (Studi Deskriptif Tentang Kredibilitas Kang H Enjang Muhyiddin Abdul Jabbar Sebagai Seorang Juru Dakwah Di Pondok Pesantren Al-Aqthob Purwakarta Dalam Menyampaikan Pesan Dakwah Kepada Jemaahnya)," 2016, 95.

Cianting menggunakan teori retorika 5 kanon Aristoteles. Temuannya menunjukkan bahwa Mama Cianting menerapkan prinsip retorika dalam penyampaian dakwahnya, seperti mengidentifikasi topik yang relevan (inventio), menyusun isi secara sistematis (dispotio), memilih bahasa dan ungkapan yang tepat (elucatio), mengingat pesan secara efektif (memoria), dan menggunakan suara dan ekspresi yang sesuai (pronountitio).37 Namun, studi tersebut belum mengintegrasikan perspektif retorika dengan dimensi profetik, yang menjadi kerangka teoretis penting dalam menganalisis fenomena dakwah dalam konteks Indonesia kontemporer.

Meskipun demikian, kajian yang secara spesifik mengintegrasikan perspektif retorika dengan dimensi profetik dalam konteks dakwah masih sangat terbatas. Berdasarkan penelusuran literatur, belum ditemukan penelitian yang menghubungkan secara eksplisit aspek ethos, pathos, dan logos dalam retorika dakwah di majelis taklim dengan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam ilmu sosial profetik. Gap inilah yang menjadi ruang untuk penelitian ini, dengan fokus pada manifestasi retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting.

Dalam spektrum teoretis yang lebih luas, penelitian ini merespons kesenjangan dalam literatur retorika dan komunikasi profetik. Kristen Majocha mengidentifikasi adanya "gap between the field of study and the real world" dalam kajian retorika profetik.38 Menurutnya, kajian retorika profetik cenderung terlalu teoretis dan kurang mengeksplorasi manifestasi praktisnya dalam konteks komunikasi kontemporer. Holy Rafika Dhona, dalam bukunya "Komunikasi Profetik: Perspektif Profetik Islam", mengajukan perspektif bahwa Islam perlu dilihat sebagai sistem pengetahuan yang dapat menjadi 37 Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, A D Kusumaningtyas, and Siswanto Siswanto, "Retorika Dakwah Mama Cianting: Analisis Gaya Dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar," AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam 10, no. 1 (June 2023): 123. 38 Kristen Lynn Majocha, "Prophetic Rhetoric: A Gap between the Field of Study and the Real World," The Journal of Communication and Religion 39, no. 4 (2016): 5–18, https://www.pdcnet.org/jcr/content/jcr_2016_0039_0004_0005_0018. fondasi bagi pengembangan teori komunikasi profetik.39 Penelitian ini berkontribusi pada diskursus tersebut dengan mengeksplorasi manifestasi praktis dari retorika profetik dalam konteks dakwah di Indonesia.

Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan dua kerangka teoretis yang berbeda: retorika klasik/modern dan ilmu sosial profetik, untuk memahami fenomena dakwah. Pendekatan ini tidak hanya memberi perspektif baru dalam kajian dakwah, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan konsep retorika profetik yang dapat diaplikasikan dalam konteks komunikasi persuasif keagamaan secara lebih luas. Penelitian ini juga memperkaya studi tentang majelis taklim dan praktik dakwah di Indonesia dengan menawarkan perspektif analitis yang lebih komprehensif.

Urgensi penelitian ini semakin relevan dalam konteks Indonesia kontemporer, di mana dakwah telah menjadi instrumen penting dalam pembentukan opini publik dan konstruksi identitas keagamaan. Data dari Kementerian Agama menunjukkan terdapat lebih dari 500.000 majelis taklim di Indonesia dengan jutaan jamaah,40 yang berpotensi menjadi agen transformasi sosial berbasis nilai-nilai profetik. Pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana retorika profetik dimanifestasikan dalam dakwah dapat memberikan panduan praktis bagi para dai untuk mengoptimalkan peran mereka dalam masyarakat.

Pemilihan Mama Cianting sebagai subjek penelitian didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, figur Mama Cianting merepresentasikan dai tradisional yang mampu beradaptasi dengan konteks kontemporer tanpa kehilangan otentisitas pesannya. Kedua, majelis taklim yang dipimpinnya menunjukkan pertumbuhan signifikan di tengah tantangan modernisasi dan digitalisasi dakwah. Ketiga, pendekatan dakwahnya yang mengintegrasikan 39 Holy Rafika Dhona, Komunikasi Profetik: Perspektif Profetik Islam (Yogyakarta: UII Press, 2020), 75–76. 40 Kementerian Agama RI, Statistik Majelis Taklim Di Indonesia (Jakarta: Kementerian Agama RI, 2023), 17. nilai-nilai lokal dengan ajaran universal Islam mencerminkan manifestasi praktis dari retorika profetik.

Penelitian tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting memiliki signifikansi akademis dan praktis yang penting. Secara akademis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan konsep retorika profetik yang mengintegrasikan perspektif Barat (ethos, pathos, logos) dengan nilai-nilai Islam (humanisasi, liberasi, transendensi). Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi para dai dalam mengembangkan strategi komunikasi persuasif yang tidak hanya efektif, tetapi juga memiliki dampak transformatif bagi masyarakat.

Penelitian ini berfokus pada bagaimana retorika profetik dimanifestasikan dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. Secara spesifik, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana aspek ethos melalui Source Credibility, pathos melalui Narrative Rationality, dan logos melalui Audience Adaptation diintegrasikan dengan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam praktik dakwah. Fokus ini dilandasi oleh asumsi bahwa fenomena dakwah dapat dipahami secara lebih komprehensif melalui integrasi perspektif retorika dan ilmu sosial profetik.

Untuk mencapai pemahaman yang mendalam tentang fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme sosial. Pendekatan ini dipilih karena fenomena retorika profetik dalam dakwah merupakan realitas yang terkonstruksi secara sosial melalui interaksi antara dai, jamaah, dan konteks sosio-kultural yang melingkupinya. Menurut Creswell, pendekatan kualitatif tepat digunakan untuk mengeksplorasi fenomena sosial yang kompleks dan memerlukan pemahaman mendalam dari perspektif para partisipan.41 41 John W Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches (Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2018).

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi partisipatif terhadap sesi dakwah, wawancara mendalam dengan Mama Cianting dan jamaah, serta dokumentasi audio-visual dari sesi dakwah. Metode triangulasi diterapkan untuk memastikan validitas temuan, dengan membandingkan data dari berbagai sumber dan metode pengumpulan. Analisis data dilakukan melalui coding tematik berdasarkan kategori retorika profetik yang telah ditetapkan sebelumnya, namun tetap terbuka terhadap tema-tema emergen yang muncul selama proses penelitian.

Judul "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting" dipilih untuk merepresentasikan inti dari penelitian ini, yaitu eksplorasi terhadap integrasi aspek retorika dengan dimensi profetik dalam konteks dakwah spesifik. "Retorika Profetik" menjadi frasa kunci yang menunjukkan kerangka teoretis terintegrasi yang digunakan dalam penelitian ini. "Dakwah Mama Cianting" menjadi objek spesifik yang dikaji, merujuk pada praktik komunikasi persuasif keagamaan yang dilakukan oleh K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting Cianting, Purwakarta.

Secara subjek, penelitian ini menempatkan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) sebagai dai yang praktik dakwahnya diteliti, serta jamaah Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting sebagai audiens yang berinteraksi dalam proses komunikasi persuasif tersebut. Secara objek, penelitian ini memfokuskan pada manifestasi retorika profetik dalam praktik dakwah, yang mencakup aspek verbal dan non-verbal, struktur pesan, pemilihan bahasa, penggunaan narasi, dan berbagai elemen persuasif lainnya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan teori komunikasi persuasif dalam konteks keagamaan, khususnya konsep retorika profetik yang mengintegrasikan perspektif Barat dengan nilai-nilai Islam. Selain itu, temuan penelitian ini dapat menjadi referensi praktis bagi para dai dalam mengembangkan strategi komunikasi yang lebih efektif dan transformatif. Bagi masyarakat luas, penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana pesan-pesan keagamaan dikonstruksi dan dikomunikasikan melalui retorika profetik.

Dalam konteks yang lebih luas, penelitian tentang retorika profetik dalam dakwah dapat menjadi bagian dari upaya membangun jembatan dialog antara tradisi keilmuan Barat dan Islam. Sebagaimana dikemukakan oleh Mohammed Arkoun, kebenaran tidak hanya dimiliki oleh satu tradisi keilmuan, melainkan dapat ditemukan melalui dialog dan integrasi berbagai perspektif.42 Integrasi perspektif retorika klasik/modern dengan ilmu sosial profetik dalam penelitian ini merupakan manifestasi dari semangat dialog keilmuan tersebut.

Penelitian tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting memiliki signifikansi ganda—akademis dan praktis—dalam konteks Indonesia kontemporer. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana aspek ethos, pathos, dan logos diintegrasikan dengan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam praktik dakwah di ruang majelis taklim, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi komunikasi persuasif keagamaan yang tidak hanya efektif, tetapi juga memiliki dampak transformatif bagi masyarakat.

42 Mohammed Arkoun, Pemikiran Arab, trans. Yudian Wahyudi (Yogyakarta: LKiS, 2019), 63.

B. Fokus Masalah

Berangkat dari kesenjangan penelitian yang telah diuraikan pada latar belakang, penelitian ini memfokuskan analisisnya pada mekanisme retorika profetik dalam praktik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting). Secara spesifik, penelitian ini dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan utama berikut:

1. Bagaimana aspek ethos, yang dioperasionalkan melalui Source Credibility,

diimplementasikan dalam retorika profetik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob Cianting dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi?

2. Bagaimana aspek pathos, yang dioperasionalkan melalui Narrative

Rationality, diimplementasikan dalam retorika profetik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi?

3. Bagaimana aspek logos, yang dioperasionalkan melalui Audience

Adaptation, diimplementasikan dalam retorika profetik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi?

Ketiga pertanyaan penelitian tersebut secara kolektif dirancang untuk menganalisis mekanisme interseksi antara teknik retorika dan tujuan profetik. Fokus penelitian ini melampaui deskripsi strategi persuasi semata; tujuannya adalah membedah bagaimana pilar-pilar retorika (Ethos, Pathos, Logos) berfungsi sebagai instrumen untuk mengaktualisasikan nilai-nilai transformatif (Humanisasi, Liberasi, Transendensi). Dengan demikian, penelitian ini menawarkan sebuah kerangka analitis yang komprehensif untuk memahami bagaimana praktik dakwah kontemporer mencapai efektivitas persuasif dan dampak transformatif yang mendalam, baik pada level individual maupun komunal.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian yang telah dirumuskan, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek ethos melalui

kredibilitas sumber (Source Credibility) dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi (amar ma’ruf) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting.

2. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek ethos melalui

kredibilitas sumber (Source Credibility) dalam mengartikulasikan dimensi liberasi (nahi munkar) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting.

3. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek ethos melalui

kredibilitas sumber (Source Credibility) dalam mengartikulasikan dimensi transendensi (tu’minuna billah) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob Cianting.

4. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek pathos melalui

rasionalitas naratif (Narrative Rationality) dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi (amar ma’ruf) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob Cianting.

5. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek pathos melalui

rasionalitas naratif (Narrative Rationality) dalam mengartikulasikan dimensi liberasi (nahi munkar) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob Cianting.

6. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek pathos melalui

rasionalitas naratif (Narrative Rationality) dalam mengartikulasikan dimensi transendensi (tu’minuna billah) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting.

7. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek logos melalui

adaptasi audiens (Audience Adaptation) dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi (amar ma’ruf) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting.

8. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek logos melalui

adaptasi audiens (Audience Adaptation) dalam mengartikulasikan dimensi liberasi (nahi munkar) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting.

9. Menganalisis dan mendeskripsikan implementasi aspek logos melalui

adaptasi audiens (Audience Adaptation) dalam mengartikulasikan dimensi transendensi (tu’minuna billah) dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob Cianting.

Pencapaian tujuan-tujuan ini diharapkan tidak hanya berkontribusi pada pengembangan khazanah keilmuan komunikasi Islam dan retorika profetik, tetapi juga menawarkan wawasan praktis bagi para dai dan lembaga dakwah dalam mengoptimalkan peran mereka sebagai agen transformasi sosial berbasis nilai-nilai Islam. Secara teoretis, penelitian ini dapat memperkaya diskursus retorika profetik dengan perspektif Islam di Nusantara, sementara dalam tataran praktis, temuannya berpotensi menginspirasi pengembangan model pelatihan dai yang memadukan aspek konten dan strategi penyampaian yang efektif. Dalam konteks yang lebih luas, pemahaman mendalam tentang fenomena dakwah Mama Cianting dapat menjadi alternatif revitalisasi institusi pendidikan keagamaan tradisional di tengah arus modernisasi dakwah yang sering terjebak dalam pendekatan populis.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting ini diharapkan memberikan manfaat yang signifikan dalam berbagai dimensi:

1. Manfaat Teoretis

a. Memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu komunikasi penyiaran Islam, khususnya dalam integrasi teori retorika klasik dengan dimensi profetik sebagai perspektif analisis dakwah kontemporer. b. Memperkaya khazanah kajian retorika dakwah dengan memperkenalkan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan teori komunikasi persuasif Barat dengan nilai-nilai profetik dalam tradisi keilmuan Islam. c. Mengembangkan model analisis komunikasi dakwah yang mengintegrasikan aspek kredibilitas sumber, rasionalitas naratif, dan adaptasi audiens dengan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi. d. Menyumbangkan terminologi dan konsep operasional retorika profetik yang dapat digunakan dalam penelitian-penelitian sejenis mengenai praktik komunikasi dakwah di berbagai konteks. e. Berkontribusi pada upaya indigenisasi dan kontekstualisasi teori komunikasi dalam tradisi keilmuan Islam, sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis nilai-nilai religius.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan referensi bagi para dai, khatib, dan mubaligh dalam mengembangkan strategi komunikasi persuasif yang mengintegrasikan aspek retorika dengan nilai-nilai profetik untuk meningkatkan efektivitas penyampaian pesan dakwah. b. Menyediakan kerangka evaluatif bagi lembaga dakwah dan institusi pendidikan keagamaan dalam menilai dan meningkatkan kualitas program dakwah yang dijalankan. c. Berkontribusi pada pengembangan kurikulum dan silabus mata kuliah Retorika Dakwah, Komunikasi Persuasif, dan Praktikum Dakwah di perguruan tinggi Islam. d. Memberikan wawasan bagi pengelola majelis taklim, khususnya di wilayah Jawa Barat, dalam mengembangkan model pembelajaran keagamaan yang memperhatikan aspek retorika profetik. e. Menginspirasi pengembangan modul pelatihan dai di lingkungan organisasi dakwah seperti Dewan Dakwah Indonesia, IKADI, dan LDII, terutama dalam aspek integrasi retorika dengan nilai-nilai profetik.

3. Manfaat Sosial

a. Membantu meningkatkan kualitas dakwah para dai di masyarakat sehingga dapat berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang beriman, berilmu, dan beramal sesuai dengan nilai-nilai Islam. b. Memberikan pemahaman kepada masyarakat umum, khususnya jamaah majelis taklim, tentang pentingnya retorika profetik dalam proses transmisi nilai-nilai Islam. c. Menginspirasi pengembangan model majelis taklim yang tidak hanya berfokus pada aspek ritual keagamaan, tetapi juga pada transformasi sosial berbasis nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi. d. Berkontribusi pada upaya revitalisasi majelis taklim sebagai agen perubahan sosial yang efektif di tengah arus informasi dan globalisasi. e. Mendukung program pemerintah, khususnya Kementerian Agama, dalam pengembangan dan pembinaan dai yang profesional dan beretika sesuai dengan nilai-nilai Islam.

4. Manfaat Akademis

a. Menyumbangkan karya ilmiah dalam bidang komunikasi penyiaran Islam yang dapat menjadi referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya. b. Memperkaya perpustakaan Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan kajian tentang retorika profetik dalam konteks dakwah kontemporer. c. Memberikan model penelitian kualitatif tentang fenomena dakwah yang dapat menjadi acuan metodologis bagi mahasiswa pascasarjana dalam melakukan penelitian sejenis. d. Berkontribusi pada upaya pengembangan teori-teori komunikasi Islam yang bersumber dari praktik dakwah di Indonesia. e. Menjadi bahan diskusi dan kajian dalam forum-forum akademik tentang komunikasi dan dakwah Islam kontemporer.

Dengan manfaat-manfaat tersebut, penelitian ini diharapkan tidak hanya berkontribusi pada pengembangan diskursus akademik, tetapi juga pada peningkatan kualitas praktik dakwah di masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Barat. Temuan studi ini dapat menjadi landasan untuk menjembatani kesenjangan antara tradisi dakwah klasik dan kebutuhan masyarakat kontemporer, sekaligus memberikan model alternatif komunikasi keagamaan yang mengedepankan substansi ajaran tanpa mengesampingkan efektivitas penyampaian. Dengan demikian, penelitian ini memiliki potensi untuk memperkuat peran institusi dakwah sebagai katalisator pemberdayaan masyarakat dan agen dialog konstruktif dalam konteks keberagaman Indonesia yang semakin kompleks.

E. Landasan Pemikiran

Fenomena dakwah di Indonesia kontemporer menampilkan karakteristik yang kompleks dan paradoksal. Di satu sisi, terjadi peningkatan signifikan dalam konsumsi konten keagamaan melalui proliferasi majelis taklim dan platform digital. Di sisi lain, berbagai penelitian menunjukkan adanya tren pendangkalan pemahaman keagamaan di masyarakat.43 Dalam konteks inilah, praktik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting menampilkan keunikan. Di tengah tren dakwah populer yang cenderung singkat dan berorientasi hiburan, 43 Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, Survei Nasional Toleransi Keagamaan di Indonesia (Jakarta: PPIM UIN Jakarta, 2020), 45–60. dakwah Mama Cianting yang konsisten dengan format tradisional, panjang (tiga jam), dan substantif, justru mampu menarik ribuan jamaah setiap minggunya.44 Keunikan ini mengindikasikan adanya praktik komunikasi persuasif yang sangat efektif, yang memerlukan kerangka teoretis komprehensif untuk membedahnya. Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk memahami fenomena tersebut melalui integrasi dialektis antara dua tradisi keilmuan: teori retorika (sebagai alat analisis persuasi) dan konsep Ilmu Sosial Profetik (sebagai kerangka nilai dan tujuan).45 Pendekatan retorika menyediakan instrumen tajam untuk menganalisis aspek teknis komunikasi, sementara Ilmu Sosial Profetik menawarkan kerangka filosofis-teologis tentang orientasi nilai (transformasi sosial) yang menjadi inti dari dakwah.

Untuk menganalisis aspek teknis persuasi, penelitian ini mengadopsi tiga pilar retorika fundamental yang diperkenalkan Aristoteles, yaitu ethos (kredibilitas dai), pathos (daya tarik emosional), dan logos (penalaran logis).46 Ketiga pilar klasik ini dielaborasi lebih lanjut melalui teori-teori retorika modern yang lebih operasional dan relevan dengan konteks dakwah kontemporer. Ethos akan dibedah menggunakan Source Credibility Theory (Teori Kredibilitas Sumber), yang berfokus pada dimensi kompetensi (competence) dan kepercayaan (trustworthiness).47 Pathos akan dianalisis melalui Narrative Paradigm (Paradigma Naratif), yang menekankan kekuatan persuasi cerita melalui narrative coherence (koherensi) dan narrative fidelity (kesetiaan).48 Terakhir, logos akan dikaji melalui teori Audience Adaptation 44 Observasi awal peneliti, Januari 2025. 45 Klaus Bruhn Jensen, A Handbook of Media and Communication Research: Qualitative and Quantitative Methodologies, 2nd ed. (London: Routledge, 2012), 155–170. 46 Aristoteles, Rhetorica, trans. W. Rhys Roberts, dalam The Complete Works of Aristotle, ed. Jonathan Barnes (Princeton: Princeton University Press, 1984), Book I, Chapter 2, 1356a. 47 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, dan Harold H. Kelley, Communication and Persuasion (New Haven: Yale University Press, 1953), 19–55. 48 Walter Fisher, "Narration as a Human Communication Paradigm," Communication Monographs 51, no. 1 (1984): 1–22. (Adaptasi Audiens) dan Identification (Identifikasi), yang berfokus pada bagaimana argumen disesuaikan dengan realitas audiens.49 Sementara itu, untuk menganalisis orientasi nilai dan tujuan transformatif dakwah, penelitian ini menggunakan tiga pilar Ilmu Sosial Profetik (ISP) yang digagas oleh Kuntowijoyo.50 Ketiga pilar ini—Humanisasi (amar ma’ruf), Liberasi (nahi munkar), dan Transendensi (tu’minuna billah)— berfungsi sebagai tolok ukur etis untuk menilai sejauh mana retorika dakwah tersebut menjalankan misi kenabian. Humanisasi berfokus pada pemuliaan martabat manusia ; liberasi berfokus pada pembebasan dari kebodohan dan penindasan ; dan transendensi berfokus pada penguatan kesadaran spiritual dan keimanan kepada Allah .

Integrasi antara instrumen retorika dan tujuan profetik inilah yang dalam penelitian ini disebut sebagai "Retorika Profetik". Konsep ini menjadi kerangka teoretis utama yang memadukan aspek teknis persuasi (how to persuade) dengan orientasi nilai (why to persuade).51 Secara operasional, retorika profetik ini dianalisis melalui sebuah matriks 3x3 yang mengintegrasikan tiga aspek retorika (Ethos, Pathos, Logos) dengan tiga dimensi profetik (Humanisasi, Liberasi, Transendensi), sebagaimana telah diuraikan dalam Bagan 1 Landasan Pemikiran . Fokus penelitian ini adalah pada tiga persimpangan spesifik dalam matriks tersebut: Ethos melalui Source Credibility, Pathos melalui Narrative Rationality, dan Logos melalui Audience Adaptation, untuk menganalisis bagaimana ketiganya diimplementasikan guna mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam praktik dakwah Mama Cianting.52 49 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, trans. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19–40; Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55– 50 Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (Bandung: Teraju, 2004), 85. 51 Richard L. Johannesen, Ethics in Human Communication, 6th ed. (Long Grove: Waveland Press, 2008), 155–175. 52 Matriks ini dikembangkan sebagai framework analitis untuk penelitian ini.

LANDASAN PEMIKIRAN

MASALAH PENEITIAN

Pemahaman yang masih terbatas Fenomena dakwah Mama Cianting Kurangnya eksplorasi empiris tentang bagaimana source credibility, yang menunjukkan karakteristik tentang interaksi antara elemen retorika dengan narrative rationality, dan Audience retorika profetik belum diteliti secara adaptation berfungsi sebagai mendalam dari perspektif dimensi profetik dalam konteks dakwah kontemporer instrumen artikulasi dimensi profetik implementasi ethos, pathos, dan logos Retorika Profetik dalam Dakwah Teori Retorika Klasik Teori Retorika Modern Ilmu Sosial Profetik Ethos Source Credibility (elaborasi Ethos) Humanisasi Pathos Narrative Rationality (elaborasi Pathos) Liberasi Logos Audience Adaptation (elaborasi Logos) Transendensi Matriks Retorika Profetik 3x3 Ethos Humanisasi Liberasi Transedensi Pathos Logos Source Credibility Source Credibility Source Credibility (elaborasi Ethos) (elaborasi Ethos) (elaborasi Ethos) dalam amar ma’ruf dalam Nahi munkar dalam tu’mina billah Narrative Rationality Narrative Rationality Narrative Rationality (elaborasi Pathos) (elaborasi Pathos) (elaborasi Pathos) dalam amar ma’ruf dalam Nahi munkar dalam tu’mina billah Audience Adaptation Audience Adaptation Audience Adaptation (elaborasi Logos) (elaborasi Logos) (elaborasi Logos) dalam amar ma’ruf dalam Nahi munkar dalam tu’mina billah Pertanyaan Penelitian Bagaimana aspek ethos melalui Source Bagaimana aspek pathos melalui Narrative Bagaimana aspek logos melalui Audience Credibility (competence) diimplementasikan Rationality diimplementasikan dalam Adaptation diimplementasikan dalam dalam retorika profetik dakwah K.H. Enjang retorika profetik dakwah K.H. Enjang retorika profetik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim Al-Aqthob dalam Majelis Taklim Al-Aqthob dalam Majelis Taklim Al-Aqthob dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi mengartikulasikan dimensi humanisasi mengartikulasikan dimensi humanisasi (amar ma'ruf), liberasi (nahi munkar), dan (amar ma'ruf), liberasi (nahi munkar), dan (amar ma'ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu'minuna billah)? transendensi (tu'minuna billah)? transendensi (tu'minuna billah)?

Bagan 1: Landasan Pemikiran Bagan landasan pemikiran di atas menggambarkan alur logika penelitian. Alur ini berangkat dari identifikasi Masalah Penelitian (paradoks dakwah Mama Cianting dan kesenjangan studi) yang membutuhkan kerangka teoretis spesifik. Kerangka teoretis ("Retorika Profetik dalam Dakwah") dibangun dari sintesis tiga pilar: Teori Retorika Klasik (Ethos, Pathos, Logos), Teori Retorika Modern (Elaborasinya: Source Credibility, Narrative Rationality, Audience Adaptation), dan Ilmu Sosial Profetik (Tujuannya: Humanisasi, Liberasi, Transendensi). Integrasi ini kemudian dioperasionalkan ke dalam Matriks Retorika Profetik 3x3, yang memetakan sembilan kemungkinan interaksi antara instrumen retorika dan tujuan profetik. Dari matriks ini, penelitian memfokuskan pada tiga Pertanyaan Penelitian utama. Pertanyaan pertama mengeksplorasi implementasi Ethos (melalui Source Credibility) untuk artikulasi H-L-T. Pertanyaan kedua mengeksplorasi implementasi Pathos (melalui Narrative Rationality) untuk artikulasi H-L-T. Pertanyaan ketiga mengeksplorasi implementasi Logos (melalui Audience Adaptation) untuk artikulasi H-L-T.

Struktur pertanyaan penelitian ini mencerminkan pendekatan kualitatif yang menekankan pada eksplorasi dan pemahaman mendalam (verstehen) daripada eksplanasi kausal.53 Setiap pertanyaan dirancang untuk mengungkap proses, makna, dan konteks yang melatarbelakangi implementasi retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting.54 Landasan pemikiran ini secara keseluruhan menunjukkan bagaimana kompleksitas fenomena dakwah dipahami melalui pendekatan yang mengintegrasikan rigor teoretis dengan sensitivitas kontekstual, yang diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang tidak hanya deskriptif tetapi juga transformatif.55 53 Sharan B. Merriam dan Elizabeth J. Tisdell, Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation, 4th ed. (San Francisco: Jossey-Bass, 2016), 95–105. 54 Max Weber, Economy and Society, ed. Guenther Roth dan Claus Wittich (Berkeley: University of California Press, 1978), 4–26. 55 Donna M. Mertens, Research and Evaluation in Education and Psychology, 4th ed. (Thousand Oaks: SAGE Publications, 2015), 85–110.

BAB II · Kajian Pustaka — 13.950 kata

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Konseptual

1. Retorika Dakwah

a. Pengertian Operasional Retorika Dakwah Istilah "retorika dakwah" merupakan perpaduan konseptual antara dua disiplin: retorika sebagai seni persuasi dan dakwah sebagai seruan transformatif Islam. Retorika, yang secara klasik dipahami melalui tripartisi Aristotelian—ethos (kredibilitas pembicara), pathos (daya tarik emosional audiens), dan logos (penalaran logis dalam pesan)—menyediakan instrumen untuk memengaruhi audiens secara efektif. Sementara itu, dakwah, yang berakar dari kata da'a (mengundang atau menyeru), dipahami bukan sekadar transmisi informasi, melainkan sebagai "usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna", yang dalam konteks profetik bertujuan mencapai transformasi komprehensif (humanisasi, liberasi, dan transendensi).

Dengan demikian, dalam penelitian ini, retorika dakwah didefinisikan secara operasional sebagai disiplin yang mengkaji penggunaan elemen-elemen persuasif (ethos, pathos, logos) secara strategis dalam penyampaian pesan-pesan Islam, baik verbal maupun non-verbal, untuk mencapai tujuan transformasi individu dan sosial sesuai dengan nilainilai profetik. Ini adalah sebuah proses komunikatif-persuasif yang kompleks yang melibatkan interaksi antara dai, pesan, media, dan audiens dalam konteks sosio-kultural tertentu. Definisi ini melampaui pemahaman retorika sebagai teknik berbicara semata, melainkan sebagai seni komunikasi simbolik yang bertujuan transformatif.56 56 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta: Kencana, 2016), 358. b. Elemen Kunci dalam Konteks Penelitian Ruang lingkup retorika dalam dakwah pada hakikatnya mencakup beragam elemen yang saling berkelindan. Namun, penelitian ini secara khusus memusatkan perhatian pada interaksi empat komponen utama yang dipandang paling relevan dalam praktik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim Al-Aqthob. Penegasan fokus ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih tajam mengenai mekanisme komunikasi profetik yang beroperasi dalam konteks sosial-keagamaan masyarakat Sunda di Purwakarta.

Komponen pertama adalah dai sebagai komunikator. Dalam konteks ini, Mama Cianting tampil sebagai figur sentral yang memegang otoritas moral dan spiritual. Kredibilitas atau ethos beliau—yang tercermin melalui keteladanan, integritas keilmuan, dan kedalaman spiritualitas—menjadi faktor penentu dalam membentuk penerimaan jamaah terhadap pesan dakwah yang disampaikan. Posisi dai bukan semata sebagai penyampai informasi, melainkan juga sebagai pembentuk kesadaran kolektif melalui ketajaman retorika profetik yang menggabungkan dimensi etis, emosional, dan spiritual.

Komponen kedua adalah pesan dakwah yang berisi substansi ajaran Islam fundamental, seperti thaharah, shalat, hingga pembinaan akhlak. Penelitian ini menelaah cara pesan-pesan tersebut diproduksi dan ditransformasikan melalui strategi retoris yang mengangkat nilai-nilai profetik: humanisasi (pemanusiaan manusia), liberasi (pembebasan dari keterbelengguan moral atau sosial), dan transendensi (penghubungan manusia dengan dimensi ilahiah). Pesan tidak hanya hadir sebagai doktrin normatif, melainkan dirangkai dengan narasi, analogi, dan ilustrasi yang kontekstual bagi jamaah.

Komponen ketiga adalah audiens atau jamaah sebagai penerima sekaligus ko-konstruktor makna. Jamaah Majelis Taklim Al-Aqthob yang berjumlah ribuan memiliki karakteristik heterogen, baik dari segi usia, profesi, pendidikan, maupun kultur Sunda yang kuat. Kondisi ini menuntut adanya strategi audience adaptation yang tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga kultural dan emosional. Pola interaksi yang terbentuk menunjukkan bahwa jamaah tidak bersifat pasif, melainkan aktif merespons, menyerap, dan membangun makna dakwah melalui pengalaman spiritual dan kehidupan sosial mereka.

Komponen keempat adalah konteks sosio-kultural yang melingkupi aktivitas dakwah. Majelis Taklim Al-Aqthob berada dalam kultur religius masyarakat Sunda Purwakarta, yang memiliki tradisi keislaman kuat, penghormatan pada ulama, serta preferensi estetika bahasa dan simbol budaya tertentu. Konteks ini memengaruhi pemilihan diksi, gaya bahasa, analogi, dan nilai-nilai lokal yang diintegrasikan Mama Cianting dalam ceramahnya. Dengan demikian, dakwah menjadi proses yang menyatu dengan identitas kultural jamaah, bukan entitas yang berdiri terpisah dari realitas sosial mereka.

Interaksi dinamis antara keempat elemen inilah yang membentuk keunikan fenomena retorika profetik yang dikaji dalam penelitian ini.57

2. Dakwah Profetik (Kuntowijoyo)

a. Definisi dan Substansi Dakwah Profetik Konsep "profetik" merujuk pada misi kenabian. Dalam konteks penelitian ini, kerangka dakwah profetik secara spesifik mengacu pada gagasan "Ilmu Sosial Profetik" (ISP) yang diformulasikan oleh Kuntowijoyo. ISP adalah sebuah paradigma keilmuan sekaligus gerakan sosial yang bertujuan mentransformasi realitas agar sejalan dengan cita-cita etis kenabian. Kuntowijoyo mendasarkan paradigmanya pada interpretasi 57 Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern: Pendekatan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), 48–50.

Surah Ali Imran ayat 110, yang mengidentifikasi tiga pilar utama misi profetik.58 Ketiga pilar tersebut—humanisasi, liberasi, dan transendensi— menjadi landasan nilai dan tujuan akhir dari dakwah. Dakwah profetik, dengan demikian, didefinisikan sebagai upaya komunikasi persuasif yang tidak hanya bertujuan menyampaikan ajaran (transmisi nilai), tetapi juga secara aktif berorientasi pada transformasi sosial untuk memanusiakan manusia (humanisasi), membebaskan mereka dari struktur yang menindas (liberasi), dan mengembalikan kesadaran mereka pada Tuhan (transendensi).59 b. Pilar Humanisasi (Amar Ma’ruf) Humanisasi, yang diderivasikan dari frasa amar ma'ruf (menyuruh pada kebaikan), adalah pilar pertama yang berfokus pada pemuliaan martabat manusia. Dalam konsepsi Kuntowijoyo, humanisasi dimaknai sebagai "upaya memanusiakan manusia," yang mencakup proses deobjektifikasi (mengatasi kecenderungan menjadikan manusia sebagai objek) dan de-humanisasi yang diakibatkan oleh sistem modern yang materialistis.60 Dalam konteks dakwah, pilar humanisasi diterjemahkan sebagai praktik komunikasi yang empatik, menghargai, dialogis, dan mengangkat harkat jamaah. Ia menolak pendekatan dakwah yang menggurui, merendahkan, atau mengobjekkan audiens. c. Pilar Liberasi (Nahi Munkar) Liberasi, yang diderivasikan dari nahi munkar (mencegah kemungkaran), adalah pilar kedua yang berfokus pada pembebasan. Kuntowijoyo memperluas makna "kemungkaran" dari sekadar pelanggaran 58 Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007), 85. 59 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 1991), 292–95. 60 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, 292–95. moral individual menjadi mencakup struktur sosial, politik, dan ekonomi yang menindas dan tidak adil. Liberasi adalah semangat untuk membebaskan manusia "dari berbagai bentuk penindasan, pembodohan, kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan."61 Praktik dakwah yang liberatif tidak berhenti pada kritik terhadap status quo, tetapi juga harus menawarkan solusi dan alternatif. Dalam penelitian ini, liberasi diartikulasikan melalui retorika yang mengoreksi praktik-praktik keliru (baik dalam ibadah maupun muamalah), memberikan solusi praktis atas kebingungan hukum, dan menantang kebiasaan yang merugikan secara spiritual maupun sosial. d. Pilar Transendensi (Tu’minuna Billah)

Transendensi, yang berakar pada frasa tu'minuna billah (beriman kepada Allah), adalah pilar ketiga sekaligus fondasi spiritual yang memberi arah bagi humanisasi dan liberasi. Kuntowijoyo menegaskan, tanpa transendensi, humanisasi dan liberasi dapat kehilangan orientasi dan terjebak dalam materialisme atau ideologi sekuler.62 Pilar ini menekankan pentingnya kesadaran ketuhanan, keimanan pada yang gaib, dan menjadikan seluruh aktivitas hidup sebagai bentuk ibadah.

Dalam praktik dakwah, transendensi diartikulasikan melalui retorika yang mampu menghubungkan setiap amalan, sekecil apa pun, dengan realitas spiritual dan pertanggungjawaban di akhirat. Tujuannya adalah membangun kesadaran muraqabah (merasa diawasi Allah) dan menjadikan Allah sebagai orientasi tertinggi dalam setiap tindakan.

61 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid (Bandung: Mizan, 2001), 365. 62 Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, 98–100.

3. Retorika Profetik

a. Definisi Operasional: Integrasi Retorika (Ethos-Pathos-Logos) dan Tujuan Profetik (Humanisasi-Liberasi-Transendensi) Retorika profetik, sebagai konsep sentral dalam penelitian ini, dipahami sebagai sintesis operasional antara instrumen persuasi retorika dengan tujuan etis dakwah profetik. Konsep ini melampaui retorika konvensional yang bertujuan sekadar memengaruhi audiens. Retorika profetik secara spesifik didefinisikan sebagai "proklamasi perubahan radikal yang diungkapkan dalam bahasa keagamaan pada saat krisis eksistensial dan politik yang mendalam."63 Dalam kerangka penelitian ini, retorika profetik dioperasionalkan sebagai penggunaan elemen-elemen persuasif (ethos, pathos, logos) secara strategis, yang secara sadar diarahkan untuk mengaktualisasikan tiga pilar transformatif Ilmu Sosial Profetik (humanisasi, liberasi, dan transendensi). Dengan demikian, retorika profetik tidak hanya berfokus pada efektivitas penyampaian pesan (how to persuade), tetapi juga secara inheren terikat pada tujuan moral dan spiritual dari pesan itu sendiri (what to persuade for). b. Karakteristik Retorika Profetik dalam Konteks Dakwah Berbeda dari retorika sekuler, retorika profetik memiliki karakteristik distingtif yang berakar pada misi kenabian. Karakteristik utamanya adalah orientasi pada kritik sosial dan moral yang tajam. Ia secara inheren bersifat kritis terhadap status quo, terutama terhadap struktur sosial, politik, dan ekonomi yang dianggap menindas atau mendehumanisasi.64 Karakteristik kedua adalah klaim otoritas transendental yang menjadi basis legitimasi pesan. Dalam konteks dakwah, otoritas ini tidak hanya bersumber dari kredibilitas personal dai (ethos), tetapi dari rujukan utamanya kepada sumber-sumber otoritatif seperti Al-Qur'an dan Hadis.

63 Robert C. Rowland dan David A. Frank, Shared Land/Conflicting Identity: Trajectories of Israeli and Palestinian Symbol Use (East Lansing: Michigan State University Press, 2002), 123–24. 64 Walter Brueggemann, The Prophetic Imagination (Minneapolis: Fortress Press, 2001), 3–5.

Karakteristik ketiga adalah adanya dialektika antara penghakiman dan pengharapan. Retorika profetik sering kali mengungkapkan kritik tajam terhadap realitas (sebagai wujud nahi munkar/liberasi), namun secara bersamaan juga selalu menawarkan visi pembaruan dan harapan akan tatanan yang lebih baik (sebagai wujud amar ma'ruf/humanisasi) yang dilandasi oleh keimanan (transendensi).65

4. Konsep "Mama" dalam Tradisi Sunda

a. Makna Kultural "Mama" sebagai Sebutan Ulama Sunda Konteks penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari terminologi kultural spesifik yang melekat pada subjek penelitian. Dalam tradisi masyarakat Sunda, sebutan "Mama" merupakan gelar penghormatan yang memiliki nilai sosial dan religiusitas tinggi. Istilah ini merupakan derivasi dari kata "rama" (ayah) dan secara semantik setara dengan "Kyai" dalam tradisi Jawa, namun seringkali mengandung nuansa penghormatan dan kedekatan yang lebih personal dan mendalam.66 Sebutan "Mama" tidak diberikan secara formal, melainkan tumbuh secara organik sebagai pengakuan kolektif masyarakat terhadap seorang ulama yang dianggap memiliki kedalaman ilmu (khususnya dalam penguasaan kitab kuning), integritas moral yang teruji, serta peran sentral sebagai pembimbing spiritual dan pengayom masyarakat. b. Otoritas Spiritual dan Sosial Mama Cianting dalam Konteks Lokal Dalam struktur sosial-keagamaan Sunda, posisi "Mama" menempati strata tinggi dalam hierarki otoritas keagamaan. Panggilan ini umumnya diperuntukkan bagi ulama karismatik yang tidak hanya memimpin lembaga pesantren, tetapi juga memiliki pengaruh luas di tengah masyarakat.67 Penggunaan gelar "Mama Cianting" untuk merujuk pada K.H. Enjang 65 Jürgen Moltmann, The Crucified God: The Cross of Christ as the Foundation and Criticism of Christian Theology (Minneapolis: Fortress Press, 1993), 337–40. 66 Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (Jakarta: Pustaka Jaya, 2014), 78–80. 67 Nina H. Lubis, Kehidupan Kaum Ménak Priangan 1800-1942 (Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda, 1998), 124–26.

Muhyidin Abdul Jabar menunjukkan pengakuan masyarakat Cianting, Purwakarta, terhadap kapasitas keilmuan, integritas moral, dan pengaruh sosialnya.

Otoritas ini tidak hanya berbasis pada kapasitas intelektual (penguasaan kitab), tetapi juga sering kali dikaitkan dengan dimensi karisma dan keyakinan masyarakat akan kedekatan spiritual sang "Mama" dengan dimensi transendental.68 Otoritas inilah yang menjadi fondasi awal bagi terbangunnya ethos atau kredibilitas Mama Cianting dalam praktik dakwahnya di Majelis Taklim Al-Aqthob.

B. Kajian Teoretis

1. Landasan Retorika Klasik: Tripartisi Aristotelian

Fondasi pemahaman retorika sebagai disiplin ilmu sistematis diletakkan oleh Aristoteles. Ia mendefinisikan retorika sebagai "kemampuan untuk melihat sarana persuasi yang tersedia dalam setiap kasus tertentu."69 Aristoteles mengidentifikasi tiga pilar utama atau "pisteis" (bukti retoris) yang menjadi inti dari setiap tindakan persuasif, yang ketiganya harus hadir secara seimbang untuk mencapai efektivitas maksimum. a. Konsep Dasar Ethos (Kredibilitas Pembicara) Ethos merujuk pada karakter, otoritas, dan kredibilitas yang dipersepsikan audiens terhadap pembicara. Bagi Aristoteles, ethos sering kali merupakan alat persuasi yang paling kuat. Kredibilitas ini tidak melekat secara otomatis, melainkan dibangun oleh pembicara melalui wacananya, yang menunjukkan kearifan (phronesis), kebajikan moral (arete), dan niat baik (eunoia).

68 Julian Millie, Splashed by the Saint: Ritual Reading and Islamic Sanctity in West Java (Leiden: KITLV Press, 2009), 56–58. 69 Aristotle, On Rhetoric: A Theory of Civic Discourse, terj. George A. Kennedy (New York: Oxford University Press, 2007), 36. b. Konsep Dasar Pathos (Daya Tarik Emosional) Pathos adalah pilar yang berfokus pada kemampuan pembicara untuk membangkitkan dan mengelola kondisi emosional audiens. Aristoteles memahami bahwa manusia tidak membuat keputusan berdasarkan logika murni; keputusan mereka sangat dipengaruhi oleh emosi seperti kasih sayang, ketakutan, harapan, atau kemarahan. Retorika yang efektif mampu membawa audiens ke dalam kerangka emosional yang tepat agar lebih reseptif terhadap pesan yang disampaikan. c. Konsep Dasar Logos (Penalaran dan Argumen) Logos merujuk pada aspek rasional dan logis dari pesan itu sendiri.

Ini adalah kekuatan persuasi yang timbul dari argumen, bukti, fakta, dan struktur penalaran yang disajikan. Logos adalah upaya untuk meyakinkan audiens melalui demonstrasi kebenaran, atau setidaknya kebenaran yang tampak (apparent truth), melalui bahasa dan logika.70

2. Elaborasi Teori Retorika Modern

Untuk menganalisis praktik dakwah kontemporer secara empiris, tiga pilar klasik Aristotelian perlu dioperasionalkan melalui teori-teori retorika dan komunikasi modern yang lebih spesifik. Penelitian ini secara khusus mengadopsi tiga teori berikut sebagai elaborasi dari Ethos, Pathos, dan Logos. a. Elaborasi Ethos: Source Credibility Theory Teori Source Credibility (Teori Kredibilitas Sumber) yang dikembangkan oleh Carl I. Hovland, Irving L. Janis, dan Harold H. Kelley merupakan elaborasi modern dari konsep ethos yang diperkenalkan Aristoteles. Teori ini menekankan bahwa efektivitas komunikasi persuasif sangat bergantung pada sejauh mana komunikator dipersepsi kredibel oleh audiensnya.71 Kredibilitas tidak dianggap sebagai sifat bawaan, tetapi 70 Aristotle, On Rhetoric, 36. 71 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. sebagai konstruksi sosial yang muncul dari persepsi audiens terhadap sumber pesan.

Dalam konteks dakwah, kredibilitas dai menjadi unsur utama dalam membangun kepercayaan jamaah. Seorang dai yang memiliki ethos kuat tidak hanya dihormati karena pengetahuannya, tetapi juga karena integritas moral dan ketulusan niatnya. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan pada tiga dimensi utama kredibilitas yang paling relevan dengan sosok Mama Cianting sebagai komunikator profetik. 1) Dimensi Kompetensi (Competence)

Dimensi kompetensi berkaitan dengan persepsi audiens terhadap tingkat keahlian dan penguasaan materi dari seorang komunikator.72 Dalam konteks dakwah, ini mencakup kedalaman ilmu agama (‘ilm), penguasaan dalil, serta kemampuan menjawab persoalan keagamaan dengan argumentasi yang rasional dan empatik. Kompetensi menjadi dasar rasional yang memperkuat otoritas seorang dai sebagai sumber pengetahuan keagamaan. 2) Dimensi Kepercayaan (Trustworthiness)

Dimensi kepercayaan berhubungan dengan persepsi audiens terhadap integritas dan kejujuran komunikator. Seorang dai yang dianggap jujur, tulus, dan tidak memiliki kepentingan tersembunyi akan lebih mudah diterima oleh jamaah. Dalam diri Mama Cianting, dimensi ini terlihat melalui kesederhanaan gaya hidup, ketulusan tutur, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan yang menumbuhkan kepercayaan mendalam dari jamaahnya. 3) Dimensi Niat Baik (Goodwill)

Dimensi ini menjelaskan sejauh mana audiens memandang pembicara memiliki kepedulian dan empati terhadap kesejahteraan 72 Hovland, Janis, and Kelley, Communication and Persuasion, 25. mereka.73 Dalam konteks dakwah profetik, niat baik tidak hanya berarti empati emosional, tetapi juga kesediaan mendampingi umat dalam persoalan sosial, ekonomi, dan spiritual. Mama Cianting, melalui kegiatan sosial dan pendekatan personalnya terhadap jamaah, memperlihatkan goodwill yang kuat sebagai manifestasi eunoia dalam kerangka ethos Aristotelian. b. Elaborasi Pathos: Narrative Paradigm Untuk menjelaskan dimensi pathos, penelitian ini menggunakan kerangka Narrative Paradigm dari Walter R. Fisher. Paradigma ini berpandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah homo narrans, yakni makhluk pencerita yang memahami dunia melalui kisah, bukan sematamata melalui logika argumentatif.74 Dalam konteks dakwah, hal ini menjelaskan mengapa pesan keagamaan lebih efektif disampaikan melalui kisah dan analogi daripada melalui argumentasi rasional semata.

1) Konsep Manusia sebagai Homo Narrans Fisher menegaskan bahwa setiap manusia berpartisipasi dalam dunia sosial melalui cerita. Narasi memungkinkan individu memahami realitas, membangun makna, dan menilai tindakan moral.75 Oleh karena itu, dai yang menggunakan kisah dalam ceramahnya tidak sekadar menghibur, melainkan sedang mengonstruksi kerangka moral yang dapat diterima secara emosional dan kultural oleh jamaah.

2) Rasionalitas Naratif (Narrative Rationality) Paradigma naratif menolak ukuran logika formal yang kaku. Alih- alih menilai pesan berdasarkan argumentasi deduktif, audiens menilai cerita berdasarkan rasionalitas naratif, yaitu seberapa masuk akal dan 73 James C. McCroskey and Jason J. Teven, “Goodwill: A Reexamination of the Construct and Its Measurement,” Communication Monographs 66 (1999): 90–103. 74 Walter R. Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 5. 75 Fisher, Human Communication as Narration, 12. bermaknanya kisah tersebut dalam pengalaman hidup mereka.76 Dengan demikian, dalam dakwah Mama Cianting, penggunaan cerita rakyat Sunda, kisah nabi, atau pengalaman jamaah sendiri menjadi bentuk rasionalitas naratif yang efektif untuk memunculkan empati dan identifikasi.

3) Koherensi dan Kesetiaan Naratif Koherensi naratif (narrative coherence) menilai konsistensi internal sebuah cerita—alur yang runtut, karakter yang logis, serta pesan yang tidak kontradiktif. Sementara kesetiaan naratif (narrative fidelity) menilai sejauh mana cerita beresonansi dengan nilai dan keyakinan audiens.77 Dakwah Mama Cianting memperlihatkan kedua aspek ini melalui narasi yang sederhana namun kuat, yang menghubungkan pengalaman lokal jamaah dengan nilai profetik universal. c. Elaborasi Logos: Adaptasi Audiens dan Identifikasi Dimensi logos dalam penelitian ini tidak terbatas pada logika formal, melainkan difokuskan pada logika adaptif—bagaimana pesan disusun agar logis, relevan, dan mudah diterima audiens. Pendekatan ini berakar pada dua teori utama, yaitu Audience Adaptation dalam The New Rhetoric (Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca) dan konsep Identification (Kenneth Burke).

1) Audience Adaptation (The New Rhetoric) Perelman dan Olbrechts-Tyteca menegaskan bahwa keberhasilan argumentasi bergantung pada kemampuan komunikator menyesuaikan pesan dengan kerangka berpikir audiens.78 Persuasi yang efektif bukanlah yang memaksakan kebenaran absolut, melainkan yang membangun adherence of minds atau persetujuan pemikiran. Dalam dakwah Mama Cianting, konsep ini tercermin pada kemampuannya menyesuaikan contoh 76 Walter R. Fisher, “Narration as a Human Communication Paradigm: The Case of Public Moral Argument,” Communication Monographs 51, no. 1 (1984): 1–22. 77 Fisher, “Narration as a Human Communication Paradigm,” 15. 78 Chaïm Perelman and Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, trans. John Wilkinson and Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 17–45. dan gaya tutur bagi jamaah yang berbeda latar: menggunakan bahasa ringan dan humoris bagi pemuda, serta gaya santun dan mendalam bagi kalangan tua.

2) Identifikasi dan Consubstantiality (Kenneth Burke) Burke menegaskan bahwa persuasi sejati terjadi melalui identification—proses di mana pembicara dan audiens merasa memiliki kesamaan nilai dan pengalaman.79 Ketika proses ini berhasil, muncul kondisi consubstantiality atau kesamaan substansi yang menjembatani perbedaan antara pembicara dan pendengar. Dalam konteks Mama Cianting, penggunaan bahasa Sunda, simbol budaya lokal, serta gaya tutur khas pesantren menjadi sarana identifikasi yang memperkuat penerimaan pesan.

3) Aplikasi Retorika Adaptif Kedua teori tersebut saling melengkapi: Audience Adaptation menjelaskan strategi logika adaptif, sedangkan Identification menjelaskan proses afektif yang menyertainya. Dengan demikian, logos dalam dakwah Mama Cianting tidak hanya argumentatif, tetapi juga partisipatif— mengajak audiens berpikir bersama melalui konteks kehidupan mereka sendiri. Strategi ini memperlihatkan bahwa logika retoris dapat menjadi jembatan antara rasionalitas dan kepekaan budaya.

3. Ilmu Sosial Profetik (Kuntowijoyo)

Kerangka nilai yang memayungi seluruh analisis penelitian ini adalah Ilmu Sosial Profetik (ISP) yang digagas oleh Kuntowijoyo. Paradigma ini menawarkan sintesis antara ilmu sosial empiris dan etika Islam dengan tiga pilar utama: humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minuna billah).80 Ketiganya menjadi tujuan 79 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. 80 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Bandung: Mizan, 1991), 292–96; idem, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007), 87– 95. normatif dari setiap bentuk retorika profetik yang dianalisis dalam penelitian ini. a. Humanisasi (Amar Ma’ruf) Humanisasi dimaknai sebagai upaya retorika untuk memanusiakan manusia melalui bahasa yang empatik dan penghormatan terhadap martabat audiens. Merujuk pada pilar amar ma'ruf, humanisasi adalah tujuan retorika untuk memanusiakan manusia. Dalam analisis, ini diukur sebagai upaya dakwah yang mengangkat martabat jamaah, menggunakan bahasa yang empatik, menghargai realitas audiens, dan membangun komunitas yang saling mendukung, alih-alih merendahkan atau mengobjekkan. Dakwah Mama Cianting merefleksikan prinsip ini dengan cara mengajak jamaah memahami ajaran Islam tanpa merendahkan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa keberagamaan sejati adalah menghargai sesama. b. Liberasi (Nahi Munkar) Liberasi dipahami sebagai proses pembebasan dari kebodohan, ketertindasan sosial, dan kekakuan berpikir. Merujuk pada pilar nahi munkar, liberasi adalah tujuan retorika untuk membebaskan. Dalam analisis, ini diukur sebagai upaya dakwah yang membebaskan jamaah dari: (1) kebodohan atau pemahaman yang keliru (misal: tentang fiqih), (2) praktik yang merugikan (misal: riba), (3) belenggu psikologis (misal: rasa takut atau malu), dan (4) pemikiran yang kaku atau ekstrem. Dalam konteks dakwah, Mama Cianting sering mengkritik praktik sosial yang merugikan masyarakat, seperti riba atau ketimpangan sosial, sambil mengajak jamaah berpikir reflektif dan kritis terhadap realitas sekitarnya. c. Transendensi (Tu’minuna Billah) Transendensi merupakan orientasi dakwah yang menghubungkan manusia dengan realitas ketuhanan. Merujuk pada pilar tu'minuna billah, transendensi adalah tujuan retorika untuk mengembalikan kesadaran pada Allah. Dalam analisis, ini diukur sebagai upaya dakwah yang secara konsisten mengaitkan setiap aspek kehidupan duniawi (adab, muamalah, krisis personal) dengan realitas spiritual, pertanggungjawaban di akhirat, dan keimanan sebagai fondasi utama.81 Retorika profetik Mama Cianting tidak berhenti pada aspek moral-sosial, tetapi selalu diarahkan pada kesadaran ilahiah, bahwa setiap tindakan bermuara pada tanggung jawab spiritual kepada Allah. Dengan demikian, dakwah menjadi sarana penyatuan antara iman, ilmu, dan amal.

81 Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007), 87–95.

C. Penelitian Terdahulu

1. Tabel Penelitian Terdahulu

Berikut adalah tabel penelitian terdahulu yang relevan:

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Perangkat Memberikan 1 Al Aqad, Figures of Menganalisis Analisis Analisis retorika landasan teoritis membuat untuk aspek logos M.H., Speech in the penggunaan konten hadis Retorika, konsep abstrak dalam retorika lebih mudah profetik K.H. Hussin, M., Hadith of perangkat retorika terpilih. Stilistika Islam. dipahami, Enjang, meningkatkan khususnya Rifa'In @ Prophet seperti simile, daya ingat dan penggunaan gaya dampak bahasa untuk Mohd Muhammad: metafora, dan emosional meningkatkan dalam pemahaman dan Rifain, S., An Analysis ekspresi tidak penyampaian daya ingat dalam ajaran Islam. dakwah. Yoyo of Tashbīh, langsung dalam Pendekatan Relevan untuk (2025) Isti'ārah, and Hadis untuk dakwah yang aspek pathos menekankan dalam retorika Kināyah mengkomunikasik (Jurnal - an ajaran Islam Scopus secara efektif.

Indexed)

Southeastern Philippines Journal of Research and Development 2 Abdullah, Elements of Menganalisis Analisis Kecerdasan

F. (2017) emotional pendekatan konten karya Emosional-

and spiritual Mohammad Natsir Natsir.

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan intelligence dalam "fiqhud etika, jembatan profetik K.H. Spiritual, Fiqh emosional, Enjang, in da'wah" yang Dakwah. hikmah, dan memberikan purifikasi jiwa perspektif tentang Mohammad mengintegrasikan berkontribusi bagaimana pada kecerdasan Natsir's kecerdasan keberlanjutan emosional dan dakwah. spiritual approach of emosional dan mempengaruhi Dakwah efektivitas da'wah spiritual. interfaith dakwah. memerlukan Memberikan (Jurnal - kasih sayang konteks untuk dan etika dimensi Scopus humanistik humanisasi dalam interaksi dalam Ilmu Indexed) antaragama, Sosial Profetik, mendukung menunjukkan Intellectual toleransi dan bagaimana K.H. kebijakan Enjang Discourse inklusif. mengimplementa sikan kasih 3 Zulfahmi, Interfaith Menganalisis Penelitian Hermeneutika sayang dan etika kualitatif dan Hadis, Etika humanistik dalam Kurniawati, Da'wah in dakwah studi literatur Interfaith. dakwahnya. menggunaka D., Indonesia: A antaragama n hermeneutika Wibowo, Hermeneutic menggunakan hadis.

T.O., Perspective hadis Abu Daud Rubino on the dan Bukhari, (2024) Hadith of menunjukkan Abu Daud pentingnya kasih and Bukhari sayang dan etika (Jurnal - humanistik.

Scopus Indexed)

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan 4 Jamilin, A.K., Pharos Menganalisis Analisis Analisis Komunikasi Relevan untuk Kasmani, Journal of secara mendalam tekstual dan Komunikasi Nabi keseluruhan M.F., Theology strategi kontekstual Profetik, menggunakan aspek ethos, Hashim, Prophetic komunikasi verbal hadis dari Pragmatik. kesopanan dan pathos, dan logos N., et al. approaches dan non-verbal Sahih menghindari dalam retorika (2017) in dalam Hadis, Muslim. paksaan sebagai profetik K.H. communicati menunjukkan strategi dakwah Enjang, 5 Salam, on: A pilot penggunaan Analisis Analisis Wacana yang efektif. memberikan M.I.H.A. analysis of kesopanan dan model (2016) hadith menghindari pidato-pidato Politik-Religius. Soeharto komunikasi prophet paksaan dalam menekankan profetik yang muhammad dakwah. Soeharto. basis etika dan menghindari (Jurnal - moral dakwah, paksaan dan Scopus Menganalisis memperingatkan menekankan Indexed) dakwah Islam terhadap konflik kesopanan. Pharos dalam pidatodan mendorong Memberikan Journal of pidato Soeharto, konteks historisTheology menekankan basis politik untuk Al-Dawlah etika dan moral memahami wa aldakwah. bagaimana Da'wah alretorika profetik Islāmīyah fī dapat diterapkan 'Ahd alNizām alJadīd:

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Dirāsah fī harmoni antara dalam konteks Strategi Islam dan sosial-politik Fikr Komunikasi negara. Indonesia, Adaptif, relevan untuk Soeharto min Sosiologi dimensi liberasi Dakwah. dalam dakwah Khilāl alK.H. Enjang.

Khitābāt al- Ri'āsīyah fī al- Munāsabāt al-Islāmīyah bi Indonesia (Jurnal - Scopus Indexed)

Pharos Journal of Theology 6 David, E.B. Strategies of Menganalisis Studi kasus Pasca-9/11, Relevan untuk imam Amerika aspek logos dan (2023) Indirect strategi dakwah reformasi mengadopsi Audience strategi dakwah adaptation dalam Da'wah in tidak langsung Sheikh Dr. tidak langsung retorika profetik untuk K.H. Enjang, America of yang diadopsi Yasir Qadhi. mengintegrasika menunjukkan n Muslim ke bagaimana Post 9/11 imam Amerika dalam strategi dakwah Era: The pasca-9/11 untuk Case of Yasir mempresentasikan Qadhi Islam secara positif.

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan masyarakat dapat disesuaikan (Jurnal - Amerika. dengan konteks sosial-politik Scopus tertentu.

Indexed)

Pharos Journal of Theology 7 Kubaisi, Dialogic Mengkaji metode Pendekatan Analisis Wacana dialogis Memberikan historis dan Komunikasi Nabi model A.A.S.H.A. Communicati komunikasi heuristik Dialogis, Muhammad komunikasi dengan data Hermeneutika SAW dapat profetik untuk , Alon with the dialogis yang dari biografi Sirah menjadi model dialog Nabi, tulisan Nabawiyah, untuk antaragama yang Kubaisi, S., Jews of digunakan Nabi religius, arsip Studi koeksistensi relevan dengan dan Antaragama. damai antara aspek ethos dan Al Medina: Muhammad SAW dokumen. Muslim dan pathos dalam penganut agama retorika profetik, Fayyadh, Methods, untuk mengajar, lain di era khususnya dalam modern melalui membangun Y.A.K., Characteristi membimbing dan dialog dalam kredibilitas dan konferensi dunia koneksi Damrah, A. cs, and menasihati lawan, dan pertemuan emosional lintas religius. komunitas (2024) Purposes in khususnya religius. the Light of komunitas Yahudi Prophetic Madinah.

Biography (Jurnal - Scopus Indexed)

European Journal for Philosophy of Religion No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan 8 Aswar, H. An Mengeksplorasi Metodologi Teori StrukturalKesuksesan Menyediakan & Afifi, S. Analytical aktivitas dakwah kualitatif Fungsional, Teori dakwah dan kerangka teoretis (2024) Study of the Nabi Muhammad historis Mobilisasi inisiatif politik gerakan sosial Da'wah melalui perspektif dengan Sumber Daya, Nabi berakar untuk memahami Movement of teori gerakan sosial memanfaatka Struktur Peluang pada kondisi dakwah sebagai Prophet untuk memberikan n sumber Politik, Teori struktural agen perubahan Muhammad wawasan baru primer dan Framing dalam Mekah dan sosial-politik, in Relation tentang peran Nabi sekunder konteks Gerakan strategi relevan dengan to Social sebagai aktivis untuk Sosial. mobilisasi yang dimensi Movement religius dan menganalisis efektif, dengan humanisasi dan Theory<br>( negarawan. lanskap kekuatan narasi liberasi dalam Jurnal - sosio-politik religius dan Ilmu Sosial Scopus Mekah dan kapasitas Profetik serta Indexed)<br strategi memanfaatkan aspek logos >Journal of mobilisasi peluang politik dalam Islamic Nabi. memainkan argumentasi Thought and peran vital. perubahan sosial.

Civilization 9 Naudé, P.J. Is prophetic Menguraikan fiturAnalisis Analisis Wacana Wacana profetik Memberikan (2011) discourse fitur kunci wacana teoretis Profetik, Teologi memiliki evaluasi kritis adequate to profetik dan dengan studi Pembebasan, kekuatan dalam terhadap address menginvestigasi kasus "opsi Etika Ekonomi, mengecam kapasitas dan global kecukupan bentuk preferensial Keadilan Sosial. ketidakadilan keterbatasan economic wacana moral ini untuk kaum sambil wacana profetik justice?<br>( dalam mengatasi miskin" mengumumkan dalam No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Jurnal - isu-isu dalam teologi alternatif masa transformasi Scopus ketidakadilan pembebasan depan yang sosial, relevan Indexed)<br ekonomi global. Amerika dikehendaki dengan dimensi >HTS Latin sebagai Tuhan, namun liberasi dalam Teologiese pengaruh memiliki Ilmu Sosial Studies / wacana kelemahan Profetik dan Theological profetik. dalam argumen aspek pathos Studies moral yang dalam tidak lengkap menggerakkan dan perubahan sosial ketidakmampua melalui pesan n mengambil moral yang sikap positif persuasif. terhadap reformasi sistem.

10 Nan, A.H., The Mengembangkan Studi Metodologi Metode hadis Relevan untuk Saleh, Application metode konstruksi kualitatif Hadis Tematik, tematik aspek logos S.F.Z.M., of the pesan dakwah menggunaka Konstruksi Pesan memastikan dalam retorika Mokti, Thematic menggunakan n analisis Dakwah. relevansi konten profetik K.H.

S.A., et al. Hadith hadis tematik konten. dan keterlibatan Enjang, (2024) Method in untuk memastikan audiens dalam memberikan the relevansi dan konstruksi pesan metodologi Construction keterlibatan dakwah. konstruksi pesan konten. dakwah yang No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan sistematis dan of Da'wah berbasis hadis.

Messages (Jurnal - Scopus Indexed)

Global Journal Al- Thaqafah 11 Thaib, E.J. The Menganalisis Wawancara, Strategi Strategi dakwah Relevan untuk observasi, Komunikasi moderat fokus dimensi (2020) communicati strategi dakwah dan analisis Moderat, Studi pada humanisasi dan dokumen. Deradikalisasi. pembentukan liberasi dalam on strategies moderat untuk pemahaman retorika profetik agama, promosi K.H. Enjang, for moderate melawan toleransi, dan menunjukkan penghargaan bagaimana islamic radikalisme di terhadap dakwah dapat keragaman mempromosikan Da'wah in Kota Gorontalo, untuk melawan toleransi dan radikalisme. melawan countering Indonesia. ekstremisme. radicalism in Gorontalo city, Indonesia (Jurnal - Scopus Indexed)

Jurnal Komunikasi:

Malaysian No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan 12 Haq, T., Isa, Journal of Menganalisis Metode Hukum Islam, Strategi dakwah Memberikan N.A.N.M. Communicati strategi dakwah deskriptifPluralisme meliputi konteks untuk (2024) on untuk mengatasi analitis Sosial. pendidikan, ketiga dimensi From penistaan agama menggunaka dialog Ilmu Sosial Combating dan membangun n dokumen antaragama, dan Profetik Religious harmoni sosial historis dan pendekatan (humanisasi, Blasphemy to dalam masyarakat wawancara. hukum untuk liberasi, Promoting pluralistik mengatasi transendensi) Peace: Indonesia. penistaan agama dalam retorika Reflections dan membangun dakwah K.H. on the Role harmoni sosial. Enjang, of Islamic khususnya dalam Da'wah and konteks Law in masyarakat Indonesia's pluralistik Pluralistic Indonesia. Society (Jurnal - Scopus Indexed) International Journal of Law and Society No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan 13 Kuntowijo Paradigma Mengartikulasikan Analisis Merumuskan Sumber primer paradigma Islam historisIlmu Sosial konsep fundamental yo (1991, Islam: untuk aksi sosial sosiologis, Profetik, humanisasi, untuk memahami transformatif, interpretasi Strukturalisme liberasi, konsep cet. ke-5 Interpretasi dasar Ilmu Sosial teks. Transendental. transendensi humanisasi, Profetik (ISP). sebagai misi liberasi, 1993, ed. untuk Aksi historis Islam; transendensi kritik terhadap sebagai tujuan revisi (Buku) saintisme dan landasan etis sekuler; retorika profetik Mizan pentingnya K.H. Enjang. kesadaran Memberikan 2008, sejarah dan kerangka objektivasi paradigmatik. 2017) Islam. Memberikan 14 Kuntowijo Islam Menawarkan Analisis Epistemologi Mengajukan landasan filosofisIslam, Ilmu kerangka kerja epistemologis yo (2006, sebagai "pengilmuan epistemologis Integralistik. untuk untuk retorika . menjadikan profetik K.H. ed. ke-2 Ilmu: Islam" sebagai Islam sebagai Enjang, basis ilmu 2007) Epistemologi alternatif , Metodologi, Islamisasi ilmu; dan Etika membahas No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan (Buku) epistemologi, pengetahuan khususnya metodologi, dan yang objektif, bagaimana logos etika ilmu dalam relevan, dan dibangun atas Islam. beretika, dasar ilmu yang bergerak dari integralistik, teks ke konteks. beretika, dan kontekstual.

15 Kuntowijo Muslim Kumpulan esai Esai analitisIlmu Sosial Mengaplikasika Menyediakan n nilai contoh kritik yo (2001) Tanpa yang kritis. Profetik, Kritik humanisasi, sosial profetik liberasi, dan refleksi atas Masjid: merefleksikan Sosial, transendensi praktik pada kritik keagamaan yang Esai-Esai berbagai isu sosial, Strukturalisme realitas sosial bisa tercermin dan keagamaan dalam pathos dan Agama, budaya, politik Transendental. kontemporer; logos dakwah pentingnya K.H. Enjang Budaya, Dan dari perspektif spiritualitas terkait isu-isu dalam humanisasi, Politik Islam profetik. menghadapi liberasi, dan massifikasi. relevansi masjid. Dalam Bingkai Strukturalis me Transendent al No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan (Buku)

16 Kuntowijo Paradigma Mengartikulasikan Analisis Ilmu Sosial Merumuskan Sumber primer paradigma Islam historisProfetik, konsep fundamental yo (1991, Islam: untuk aksi sosial sosiologis, Strukturalisme humanisasi, untuk memahami transformatif, interpretasi Transendental. liberasi, konsep cet. ke-5 Interpretasi dasar Ilmu Sosial teks. transendensi humanisasi, Profetik (ISP). Komunikasi sebagai misi liberasi, 1993; ed. untuk Aksi Islam, Ilmu historis Islam; transendensi Sosial Profetik, kritik terhadap sebagai tujuan revisi (Buku Teoantroposentri saintisme dan landasan etis s. sekuler; retorika profetik Mizan Babon) pentingnya K.H. Enjang. kesadaran Memberikan 2008, sejarah dan kerangka objektivasi paradigmatik. 2017) Islam. Merumuskan Teks kunci yang 17 Iswandi Komunikasi Mendefinisikan Studi secara eksplisit komunikasi mendefinisikan Syahputra Profetik: dan mengelaborasi konseptual, "komunikasi profetik sebagai profetik," (2007, cet. Konsep dan konsep komunikasi analisis menjadi jembatan komunikasi teoretis antara ke-1; edisi Pendekatan profetik, literatur. yang lain 2017) (Buku) menghubungkanny a dengan ISP berorientasi pada No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Kuntowijoyo dan humanisasi, gagasan teori komunikasi. Retorika Klasik liberasi, Kuntowijoyo dan dan Modern, transendensi, analisis retorika Komunikasi dengan landasan dakwah K.H. Persuasif. nilai kenabian Enjang. dan etika; strategi keilmuan untuk Islam universal.

18 Jalaluddin Retorika Memberikan Panduan Menguraikan Menyediakan panduan praktis praktis teknik-teknik dasar-dasar Rakhmat Modern: dan teoritis berbasis retorika efektif, analisis retorika mengenai retorika teori. unsur-unsur (termasuk ethos, (2007, cet. Pendekatan modern, termasuk retorika, dan pathos, logos persiapan, pentingnya etika secara implisit) ke-11 Praktis penyusunan, dan serta logika yang dapat penyampaian dalam berbicara diterapkan pada Remaja (Buku) pidato informatif, di depan publik. dakwah K.H. persuasif, dan Enjang, meskipun Rosdakarya rekreatif. tidak spesifik profetik. ; ed. revisi Simbiosa Rekatama Media 2021)

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan 19 Aristoteles Retorika Menguraikan Traktat Retorika Klasik. Introduksi dan Sumber primer elaborasi konsep dan otoritatif (Terj. (Seni prinsip-prinsip filosofis. ethos, pathos, untuk memahami logos sebagai kerangka ethos, Indonesia Berbicara) dasar seni persuasi pilar utama pathos, logos persuasi; jenisyang akan oleh (Buku dan argumen. jenis pidato digunakan untuk (deliberatif, menganalisis Zaivon Terjemahan) forensik, retorika dakwah epideiktik). K.H. Enjang. Akbar Nazammik a, Anak Hebat, 2023)

20 Ernst R. Prophetic Menganalisis Analisis teks Retorika Biblika, Mengungkap (Scopus Source Wendland Rhetoric: teknik retorika retoris-oral, Analisis beragam teknik 1) Menawarkan (2014) Case Studies para nabi Ibrani studi kasus, Diskursus, persuasif model analisis in Text (Perjanjian Lama) pendekatan Stilistika. (struktur, gaya, "retorika Analysis and dan relevansinya sastra. citraan) dalam profetik" dari Translation, untuk pemahaman teks-teks tradisi lain yang 2nd ed. Kitab Suci dan profetik biblika bisa memberikan (Buku - penerjemahan. dan perspektif Scopus implikasinya komparatif dan Indexed) untuk metodologis, khususnya dalam No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan 21 Abdul komunikasi analisis teks, Rasyid Komunikasi lintas budaya. identifikasi Ridho Profetik strategi retoris (2021) (Kuntowijoyo, untuk pesanSyahputra), pesan Tafsir Tematik. transendental, dan adaptasi pesan.

Komunikasi Menganalisis Kualitatif, Komunikasi Sangat relevan; Profetik konsep komunikasi analisis profetik Nabi menghubungkan dalam profetik berbasis wacana, Muhammad komunikasi Mewujudkan Al-Qur'an sebagai analisis SAW kaya nilai profetik (dengan Masyarakat sarana historis. egaliter, toleran, pilar Madani mewujudkan lembut, dan Kuntowijoyo) Perspektif masyarakat spiritual, secara langsung Al-Qur’an madani, dengan mengkonstruksi dengan sumber (Disertasi, fokus pada pola transformasi Al-Qur'an dan PTIQ komunikasi Nabi sosial melalui tujuan Jakarta) Muhammad SAW humanisasi, pembentukan dan tiga dimensi liberasi, dan masyarakat Kuntowijoyo. transendensi. madani.

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan 22 Ahmad Sukran Memberikan (2017) contoh praktis penerapan ketiga 23 Puspa dimensi. Chika Perspektif Menganalisis Kualitatif, Ilmu Sosial Pendidikan Mendalami Pemikiran pemikiran studi Profetik profetik secara spesifik Kuntowijoyo Kuntowijoyo kepustakaan Kuntowijoyo, bertujuan konsep tentang tentang nilai-nilai (analisis Pendidikan membentuk humanisasi, Nilai-Nilai pendidikan pemikiran Islam. individu dan liberasi, dan Pendidikan profetik tokoh). masyarakat ideal transendensi Profetik bagi (humanisasi, (khaira ummah) menurut Perwujudan liberasi, melalui Kuntowijoyo Masyarakat transendensi) dan internalisasi dan dalam konteks Madani relevansinya untuk aktualisasi nilai pendidikan, yang (Skripsi, mewujudkan humanisasi, dapat UIN masyarakat liberasi, dan dianalogikan Alauddin madani. transendensi. dengan proses Makassar) internalisasi nilai melalui dakwah.

Retorika Menganalisis Kualitatif, Retorika Ustadz Abdul Contoh aplikasi Dakwah retorika dakwah analisis analisis retorika Dakwah, Analisis Somad No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Steviasari Ustadz Abdul Ustadz Abdul wacana Wacana Kritis, menggunakan (termasuk ethos, (2020) Somad Somad di (model Teun teori retorika bahasa seharipathos, logos) (Analisis YouTube. A. Van Dijk). Aristoteles hari, aksen pada da’i Wacana (ethos, pathos, Melayu, kontemporer di Terhadap logos). artikulasi jelas; media digital. Youtube teknik retorika Meskipun tidak Ustadz Abdul persuasif, fokus pada Somad) rekreatif, dan "profetik," (Skripsi, logos. metodologinya UIN Raden relevan. Intan Lampung)

24 Fajar Nilai-Nilai Menganalisis nilaiKualitatif, Sastra Profetik Syair Perahu Menunjukkan mengandung bagaimana Budiantoro Profetik nilai etika profetik studi Kuntowijoyo, nilai humanisasi konsep (menjadi insan humanisasi, (2022) dalam Syair (humanisasi, kepustakaan, Etika Profetik. kamil), liberasi liberasi, dan (menghindari transendensi Perahu liberasi, analisis sastra ketamakan), dan Kuntowijoyo transendensi dapat Karya transendensi (pendekatan diidentifikasi dan Hamzah Kuntowijoyo) Abrams).

Fansuri dalam Syair (Tesis, UIN Perahu Hamzah Sunan Fansuri.

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Kalijaga (tauhid dianalisis dalam Yogyakarta) Retorika wujudiyah). sebuah teks Aristoteles (sastra), (ethos, pathos, memberikan logos). model untuk analisis teks dakwah K.H. Enjang.

25 Lugi Retorika Mengetahui Kualitatif Ustadz Akang Contoh analisis Anom retorika dakwah Muhamma Dakwah retorika dakwah deskriptif, menerapkan di media sosial ethos modern (TikTok) d Nur Latif Ustadz Ustadz Akang analisis isi. (kredibilitas, menggunakan integritas, kerangka ethos, (2024) Akang Anom Anom di TikTok koneksi pathos, logos, emosional), relevan untuk pada Akun menggunakan teori pathos melihat adaptasi (menggerakkan retorika. TikTok retorika audiens, membangun @Akangano Aristoteles. koneksi), dan m313 (Studi Retorika Aristoteles) (Skripsi, UIN Saizu Purwokerto)

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan logos (argumen Komunikasi logis, dalil Profetik, Ilmu agama). Sosial Profetik. 26 Fitri Yanti Meneropong Membahas Studi Komunikasi Memberikan Teori 5 kanon profetik lebih pemahaman (2016) Paradigma paradigma literatur, retorika bersifat mendalam Aristoteles normatif, tentang Komunikasi komunikasi analisis (inventio, bertujuan paradigma dispositio, humanisasi, komunikasi Profetik profetik, aspek konseptual. elocutio, liberasi, profetik, memoria, transendensi, tantangan, dan (Artikel normatif vs. pronuntiatio) dan mengkritik relevansinya dikotomi ilmu dengan nilai-nilai Jurnal - empiris, kritik agama-umum. Kuntowijoyo.

Jurnal terhadap keilmuan Komunikasia sekuler, dan pilar na) Kuntowijoyo.

27 Muhamma Retorika Mengungkap Observasi Gaya dakwah Penelitian ini teknik-teknik partisipan Mama Cianting relevan dengan d Irsyad Dakwah retorika yang dan sangat efektif, fokus pada teknik digunakan oleh wawancara menggunakan retorika dalam Sirojul Mama Mama Cianting bahasa dakwah. Tesis ini dan menilai sederhana dan melanjutkan Khoeir, AD Cianting: efektivitas gaya teknik dengan dakwahnya. pengulangan menganalisis Kusumanin Analisis gtyas, Gaya Siswanto Dakwah K.

H Enjang No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Muhyidin untuk retorika profetik Abdul Jabar Komunikasi mempengaruhi dalam konteks Profetik, Ilmu jamaah. Teknikmobilisasi sosial 28 Aan Komunikasi Mendefinisikan Studi Sosial Profetik. teknik retorika di Majelis Aristoteles Taklim, Herdiana, Profetik komunikasi literatur, digunakan memberikan secara jelas dimensi Adnan dalam profetik, tujuannya analisis dalam ceramah. tambahan pada efektivitas Yusufi, Berbagai (perubahan sosial, konseptual. Komunikasi retorika. profetik adalah Memberikan dkk. (2022) Perspektif kebenaran moral), upaya menjadikan definisi dan (Bab kaitan dengan fungsi kenabian cakupan sebagai komunikasi Buku/Kump Kuntowijoyo, dan paradigma, profetik, serta bertujuan penekanan pada ulan Artikel - aplikasi dalam mengubah tatanan sosial tujuan dalam tradisi keagamaan. dan transformatifnya menyuarakan yang sejalan "Pengantar dengan humanisasi dan Komunikasi liberasi. Profetik")

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan kebenaran moral.

29 Muhamma Kuntowijoyo Menganalisis Ilmu Studi Ilmu Sosial ISP Memberikan Kuntowijoyo analisis kritis d Ali ’s Prophetic Sosial Profetik literatur, Profetik sebagai respons terhadap ISP terhadap Kuntowijoyo, Shodiqin Social Kuntowijoyo, analisis kritis. Kuntowijoyo, dominasi relevan untuk paradigma memahami (2016) Science: tantangan dari Sosiologi Barat, bertujuan landasan filosofis mengintegrasika dan tujuan dari Challenges ilmu sosial Barat, Pengetahuan. n nilai profetik humanisasi, (transendental) liberasi, dan and dan dalam ilmu transendensi. sosial untuk Consequence konsekuensinya. transformasi. s (Artikel Jurnal -

IJTIMAIYY

A: Journal of Social Science Teaching, Sinta 4)

30 Nurul The Menyelidiki fitur Analisis Retorika Pidato Khan (Scopus Source Hafizah Rhetorical persuasif dan tematik, Aristoteles menggunakan 2) Contoh Sidek & Strategies of strategi retoris analisis ethos, pathos, analisis retorika Kamariah an Nouman Ali Khan wacana kritis dan logos; logos da’i internasional No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Yunus International dalam video (CDA) menjadi menggunakan (2024) ly Renowned dakwahnya. Fairclough (ethos, pathos, komponen ethos, pathos, Preacher: (fokus logos). tertinggi, logos, dengan Nouman Ali analisis meliputi elemen temuan spesifik Khan tekstual). linguistik, tentang dominasi (Artikel struktur pidato, logos. Jurnal - dan Metodologinya GEMA perbandingan. dapat diadaptasi. Online Journal of Language Studies, Scopus Q1)

31 Abdul Literatur Mengungkapkan Kualitatif, Nilai Profetik, Metode kisah Sangat relevan Metode Kisah mengandung untuk aspek Khalim, Review: nilai-nilai profetik systemic dalam Islam, nilai Shidq "Nalar Naratif" Konsep Profetik (kebenaran), (pathos), dkk. (2024) Nilai Profetik (Shidq, Amânah, literature Kuntowijoyo. Amânah menunjukkan (kepercayaan), bagaimana kisah Pada Metode Tabligh, Faṯânah) review. Tabligh dapat menjadi (penyampaian wahana nilai-nilai Kisah Dalam dari metode kisah Pendidikan dalam pendidikan Islam Islam, dikaitkan (Artikel No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Kualitatif. Pendekatan Jurnal - dengan konsep efektif), dan profetik, Diversity: Kuntowijoyo. Retorika Faṯânah termasuk Jurnal Ilmiah Aristoteles (kecerdasan), humanisasi, Pascasarjana, (Ethos, Pathos, yang relevan liberasi, dan Sinta 4) Logos). dengan transendensi. humanisasi, liberasi, transendensi.

32 Saeful Retorika Mengungkap Dr. Zakir Naik Contoh menunjukkan penerapan ethos, Rokhman Dakwah Dr. retorika dakwah ethos (bijak, pathos, logos berpengetahuan, dalam analisis & Zakir Naik Dr. Zakir Naik terpercaya), dakwah kepada pathos audiens yang Muslimah dalam kepada non- (menyentuh berbeda, emosi dengan menyoroti (2021) Menda’wahk Muslim Islam damai), adaptasi pesan. dan logos (pesan an Islam menggunakan logis dan ilmiah). kepada kerangka Kaum Aristoteles.

Nashrani (Artikel Jurnal - Jurnal Da’wah:

No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Risalah Merintis, Da’wah Melanjutkan,

STID

Mohammad Natsir, Sinta 4)

33 Mariyatul Dakwah Menganalisis Analisis teks. Prinsip Retorika Novel tersebut Menunjukkan mengandung bagaimana narasi Norhidayat Retoris dakwah retoris Dakwah dakwah retoris (dalam sastra) yang menyentuh dapat menjadi i Rahmah Dalam dalam novel (emotional hati, persuasif, medium dakwah memperhatikan retoris yang kuat, (2015) Karya Sastra "Habibie & Ainun" appeals, bahasa kondisi, dan relevan untuk argumentatif, "Nalar Naratif" Novel berdasarkan persuasif, melalui kisah (pathos) dan pribadi yang pembangunan “Habibie & prinsip retorika pemahaman inspiratif. ethos melalui kisah hidup. Ainun” dakwah. kondisi, Karya Bj. argumentasi Habibie kuat). (Artikel Jurnal - Alhadharah:

Jurnal Ilmu No. Nama Judul Tujuan Metode Teori & Hasil Relevansi Pendekatan Dakwah, UIN Antasari, Sinta 3)

Tabel 1: Penelitian Terdahulu

2. Analisis Kesenjangan Penelitian (Research Gap)

Berdasarkan 33 penelitian terdahulu yang telah dipetakan dalam tabel sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kajian mengenai retorika dakwah dan komunikasi profetik telah mengalami perkembangan signifikan, baik dari sisi epistemologis maupun metodologis. Beragam studi telah menyoroti aspek retorika klasik, komunikasi profetik, hingga nilainilai etika dakwah dalam berbagai konteks sosial, media, dan figur dakwah. Meskipun demikian, pemetaan tersebut juga memperlihatkan adanya ruang kosong (gap) yang belum banyak dijelajahi oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Kesenjangan tersebut terutama muncul dalam dua ranah utama, yakni kesenjangan teoretis dan kesenjangan empiris-kontekstual. Kedua kesenjangan ini menjadi landasan akademik bagi penelitian ini untuk menawarkan kontribusi baru dalam pengembangan studi retorika dakwah profetik. a. Kesenjangan Teoretis: Integrasi Retorika (E–P–L) dengan Profetik (H–L– T) Kesenjangan pertama terletak pada aspek teoretis, yakni belum adanya penelitian yang secara eksplisit dan sistematis mengintegrasikan antara kerangka retorika klasik Aristotelian—yang menitikberatkan pada ethos, pathos, logos—dengan kerangka Ilmu Sosial Profetik (ISP) Kuntowijoyo yang berporos pada humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Kajian-kajian terdahulu menunjukkan adanya dua arus besar penelitian yang berjalan paralel. Arus pertama, sebagaimana terlihat dalam studi-studi seperti Nurul Hafizah Sidek & Kamariah Yunus (2024), Saeful Rokhman & Muslimah (2021), dan Lugi Muhammad Nur Latif (2024), secara cermat menerapkan teori retorika Aristotelian untuk menelaah efektivitas dakwah figur-figur populer seperti Nouman Ali Khan, Zakir Naik, atau Ustadz Akang Anom. Namun, studi-studi tersebut cenderung berhenti pada level deskriptif—menguraikan teknik retoris tanpa menelusuri dimensi etis dan spiritual yang mendasari strategi persuasi dalam dakwah.

Arus kedua, di sisi lain, menitikberatkan pada gagasan profetik dengan menelaah dakwah dalam kerangka normatif dan filosofis. Penelitian seperti Iswandi Syahputra (2007), Abdul Rasyid Ridho (2021), dan Ahmad Sukran (2017), serta karya-karya klasik Kuntowijoyo (1991, 2006, 2001) mengelaborasi makna humanisasi, liberasi, dan transendensi secara konseptual, namun belum memiliki perangkat analitis yang operasional untuk menafsirkan bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan secara retoris dalam praktik dakwah.

Dengan demikian, penelitian ini hadir untuk menjembatani kesenjangan teoretis tersebut melalui pendekatan integratif. Kerangka retorika klasik (E–P–L) dioperasionalkan melalui teori-teori komunikasi modern—yakni Source Credibility Theory (Hovland, Janis, & Kelley) untuk ethos, Narrative Paradigm (Walter Fisher) untuk pathos, serta Audience Adaptation dan Identification (Perelman, Olbrechts-Tyteca, dan Burke) untuk logos. Ketiga kerangka ini dipadukan dengan misi etis profetik (H– L–T) untuk menjelaskan bagaimana retorika dakwah tidak hanya membujuk secara logis dan emosional, tetapi juga mentransformasikan kesadaran sosial dan spiritual audiens. Pendekatan ini menawarkan perspektif baru dalam memahami retorika profetik sebagai jembatan antara keilmuan komunikasi dan nilai kenabian. b. Kesenjangan Empiris dan Kontekstual: Studi Kasus Ulama Lokal Sunda Kesenjangan kedua bersifat empiris dan kontekstual. Mayoritas penelitian terdahulu masih berpusat pada figur-figur da’i populer berskala nasional atau internasional yang beroperasi di ruang publik digital seperti YouTube atau TikTok. Kajian seperti Nurul Hafizah Sidek & Kamariah Yunus (2024), Saeful Rokhman & Muslimah (2021), dan Lugi Muhammad Nur Latif (2024) menggambarkan efektivitas retorika di media daring, tetapi belum menjangkau konteks dakwah berbasis komunitas tradisional yang hidup di ruang sosial kultural.

Sementara itu, penelitian lain seperti Thaib (2020), Haq & Isa (2024), serta Aswar & Afifi (2024) menyoroti aspek sosial-politik dan nilainilai profetik dakwah, tetapi belum secara spesifik meneliti ulama lokal yang membangun otoritasnya melalui struktur sosial dan budaya masyarakatnya sendiri. Dengan demikian, ulama lokal Sunda—khususnya figur bergelar “Mama” yang berperan sebagai guru spiritual, pemimpin sosial, sekaligus penggerak kultural—menjadi objek penelitian yang masih jarang dikaji secara akademik.

Dalam konteks ini, K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) menempati posisi yang strategis. Dakwah beliau di Majelis Taklim Al-Aqthob Cianting Purwakarta berlangsung dalam ekosistem tradisional yang kuat secara sosial dan spiritual, di mana legitimasi keulamaan dibangun melalui kedekatan kultural dan moral, bukan melalui media digital. Penelitian sebelumnya—termasuk penelitian awal peneliti sendiri tentang “Retorika Dakwah Mama Cianting: Analisis Gaya Dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar”—memang telah menguraikan efektivitas gaya retorika beliau berdasarkan kerangka Aristotelian, namun belum menelaah secara mendalam bagaimana retorika profetik bekerja sebagai sarana mobilisasi sosial dan pembentukan kesadaran kolektif.

Oleh karena itu, penelitian ini mengisi kekosongan empiris tersebut dengan mengkaji secara sistematis praktik dakwah Mama Cianting melalui pendekatan retorika profetik integratif (E–P–L dan H–L–T). Dengan fokus pada konteks Sunda yang religius, komunikatif, dan komunitatif, penelitian ini berupaya mengungkap bagaimana retorika profetik tidak hanya menjadi medium komunikasi keagamaan, tetapi juga mekanisme sosial yang menggerakkan nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan spiritualitas dalam masyarakat.

D. Status, Posisi, dan Kontribusi Penelitian

1. Pemetaan dan Analisis Penelitian Terdahulu

a. Analisis Bibliometrik Penelitian Retorika dan Komunikasi Profetik Analisis bibliometrik merupakan pendekatan sistematik untuk memetakan lanskap penelitian dalam bidang tertentu melalui analisis kuantitatif terhadap publikasi ilmiah, pola sitasi, dan jaringan kolaborasi antarpeneliti.82 Dalam konteks penelitian retorika dan komunikasi profetik, analisis bibliometrik berfungsi sebagai instrumen untuk mengidentifikasi kecenderungan penelitian, mendeteksi kesenjangan pengetahuan, dan menentukan posisi penelitian ini dalam diskursus akademik kontemporer. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman komprehensif terhadap struktur pengetahuan, evolusi konseptual, dan dinamika komunitas ilmiah dalam bidang komunikasi profetik.

1) Metodologi dan Kerangka Analisis Analisis bibliometrik dilakukan menggunakan pangkalan data Scopus sebagai sumber data primer berdasarkan cakupan yang komprehensif terhadap publikasi bereputasi internasional dengan proses tinjauan sejawat yang ketat.83 Metodologi analisis mengadopsi pendekatan strategi ganda untuk memperoleh perspektif komprehensif terhadap lanskap penelitian komunikasi profetik.

Strategi pertama menggunakan kata kunci pencarian "Islam" AND "communication" yang menghasilkan 1.379 dokumen awal. Setelah penyaringan berdasarkan kriteria relevansi, indikator kualitas, dan cakupan temporal (2014-2024), diperoleh 560 dokumen publikasi yang memenuhi standar ketelitian analitis. Proses penyaringan melibatkan seleksi 82 José A. Moral-Muñoz et al., "Software Tools for Conducting Bibliometric Analysis in Science: An Up-to-Date Review," Profesional de la Información 29, no. 1 (2020): e290103; Wolfgang Glänzel, "Bibliometrics as a Research Field: A Course on Theory and Application of Bibliometric Indicators" (manuscript, 2003). 83 Archambault et al., "Comparing Bibliometric Statistics Obtained from the Web of Science and Scopus," Journal of the American Society for Information Science and Technology 60, no. 7 (2009): 1320-1326. berdasarkan jenis dokumen (artikel, makalah konferensi, tinjauan), bidang subjek (Ilmu Sosial, Seni dan Humaniora, Ilmu Komputer), dan bahasa (Inggris, Arab) untuk memastikan konsistensi dan komparabilitas data.

Strategi kedua berfokus pada terminologi spesifik "prophetic rhetoric", "religious rhetoric", "Islamic communication" yang menghasilkan kumpulan data khusus untuk analisis mendalam terhadap literatur retorika profetik. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak VOSviewer versi 1.6.20 dengan parameter ambang batas kemunculan minimum 5 untuk analisis kemunculan bersama kata kunci dan minimum 3 publikasi kolaboratif untuk analisis kolaborasi negara. 2) Pemetaan Tematik dan Struktur Pengetahuan Analisis kemunculan bersama kata kunci terhadap korpus 560 publikasi mengidentifikasi struktur pengetahuan yang terdiri dari empat kelompok tematik utama yang mencerminkan evolusi dan diversifikasi bidang komunikasi Islam dalam dekade terakhir.

Gambar 1: Pemetaan Co-occurrence Keywords dalam Penelitian Komunikasi Islam Keterangan: Visualisasi jaringan dari VOSviewer menunjukkan 4 kelompok tematik dengan kode warna. Posisi kata kunci mengindikasikan sentralitas dan pengaruh dalam struktur pengetahuan komunikasi Islam. Format resolusi tinggi (300 DPI) untuk publikasi akademik.

Kelompok pertama (spektrum hijau) mengkonstitusi domain metodologi komunikasi dan teknologi dengan kata kunci dominan "communication", "islam", "human", "qualitative research", dan "methodology". Kelompok ini menunjukkan perkembangan kesadaran metodologis dalam penelitian komunikasi Islam, yang bergerak dari pendekatan normatif-teologis menuju kerangka empiris-analitis dengan tetap mempertahankan landasan epistemologis Islam. Temuan ini mengindikasikan penerimaan terhadap pendekatan analitis dalam studi komunikasi Islam.

Kelompok kedua (spektrum merah) merupakan kelompok dominan yang berkonsentrasi pada dimensi sosio-kultural dan transformatif dengan kata kunci sentral "religion", "culture", "socioeconomic", "social change", "community development", dan "social transformation". Dominansi kelompok ini mengindikasikan sentralitas agenda transformasi sosial dalam penelitian komunikasi Islam. Data menunjukkan bahwa komunikasi Islam semakin dipahami sebagai agen perubahan sosial dibandingkan hanya sebagai bimbingan spiritual.

Kelompok ketiga (spektrum biru) mencerminkan konteks komunikasi kontemporer dengan fokus pada "social media", "digital communication", "young adult", "attitude change", dan "persuasion". Kemunculan kelompok ini menunjukkan pengakuan yang berkembang terhadap pentingnya strategi persuasif dalam komunikasi Islam kontemporer. Kata kunci "persuasion" dan "attitude change" menunjukkan keselarasan dengan perhatian inti studi retorika.

Kelompok keempat (spektrum ungu) berkonsentrasi pada dimensi etika dan komunikasi lintas budaya dengan kata kunci "ethics", "cultural diversity", "interfaith dialogue", "tolerance", dan "pluralism". Kelompok ini mencerminkan relevansi kontemporer nilai-nilai komunikasi profetik dalam konteks sosial yang beragam, sesuai dengan misi profetik sebagai "rahmatan lil-alamin". 3) Spesialisasi Retorika Profetik dan Posisi Teoritis Analisis terhadap kumpulan data khusus retorika profetik mengungkap struktur arsitektural pengetahuan dengan "rhetoric" sebagai pusat yang menghubungkan konstelasi konsep termasuk "prophecy", "democracy", "discourse", "liberation", "social justice", dan "communication strategies".

Gambar 2: Network Spesialisasi Retorika Profetik Keterangan: Visualisasi jaringan khusus menunjukkan posisi sentral "rhetoric" dan keterkaitan dengan konsep-konsep profetik. Posisi "prophecy" dalam jaringan menunjukkan pengakuan akademik terhadap komunikasi profetik sebagai objek analisis retoris.

Struktur jaringan mengungkap lanskap teoritis dimana analisis retoris bersinggungan dengan studi komunikasi profetik, wacana politik, dan teori transformasi sosial. Sentralitas "rhetoric" dalam jaringan ini mengkonfirmasi bahwa analisis retoris merupakan pendekatan yang telah mapan untuk memahami komunikasi profetik. Koneksi antara "rhetoric", "prophecy", dan "social transformation" menunjukkan landasan teoritis untuk menganalisis retorika profetik dalam konteks mobilisasi sosial.

Posisi "communication strategies", "discourse analysis", dan "persuasion" sebagai simpul yang terhubung menunjukkan bahwa analisis retoris komunikasi profetik memiliki landasan yang mapan dalam kepustakaan terkini. Jaringan ini mengindikasikan bahwa persinggungan retorika, kenabian, dan komunikasi sosial merupakan area penelitian yang diakui. 4) Jaringan Kolaborasi Global dan Distribusi Geografis Pemetaan kepengarangan bersama berdasarkan distribusi geografis mengungkap posisi Indonesia dalam jaringan kolaborasi ilmiah global untuk penelitian komunikasi Islam.

Gambar 3: Jaringan Kolaborasi Global Penelitian Komunikasi Islam Keterangan: Visualisasi peta dunia menunjukkan pola kolaborasi antar negara dalam penelitian komunikasi Islam. Ukuran simpul menunjukkan produktivitas penelitian, ketebalan garis menunjukkan intensitas kolaborasi.

Amerika Serikat berperan sebagai pusat dominan dengan koneksi internasional yang ekstensif, mencerminkan infrastruktur penelitian yang maju dan kapasitas pendanaan. Indonesia menempati posisi sebagai simpul utama dengan koneksi ke Malaysia, negara-negara Timur Tengah, dan jaringan internasional. Data menunjukkan bahwa kontribusi Indonesia terhadap kepustakaan komunikasi Islam mendapat pengakuan akademik dalam konteks internasional.

Malaysia memiliki hubungan kolaboratif yang kuat dengan Indonesia, membentuk kelompok keunggulan regional dalam studi komunikasi Islam Asia Tenggara. Koneksi dengan negara-negara Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Yordania) menunjukkan pengakuan autentisitas teologis, sementara ikatan dengan institusi akademik Barat menunjukkan pengakuan ketelitian metodologis.

Distribusi geografis menunjukkan representasi yang seimbang antara autentisitas teologis (Timur Tengah), kecanggihan metodologis (Barat), dan inovasi kontekstual (Asia Tenggara). Posisi Indonesia dalam jaringan ini menunjukkan legitimasi akademik penelitian tentang praktik komunikasi keagamaan Indonesia.

5) Evolusi Temporal dan Lintasan Penelitian Berdasarkan analisis sistematik terhadap 33 publikasi terpilih, pola temporal menunjukkan evolusi dalam kecanggihan penelitian dan pendekatan metodologis dalam bidang komunikasi profetik. Periode awal (2011-2015) ditandai dengan pengembangan teoritis fundamental, dengan para sarjana seperti Kuntowijoyo yang menetapkan konsep dasar dan Syahputra yang mengembangkan kerangka praktis. Puncak aktivitas penelitian pada 2016-2017 bersamaan dengan meningkatnya minat akademik dalam efektivitas komunikasi keagamaan dan potensi transformasi sosial.

Perkembangan terkini (2020-2025) menunjukkan perhatian akademik yang diperbarui terhadap komunikasi profetik dalam konteks media sosial, dialog antaragama, dan mobilisasi komunitas. Penelitian kontemporer semakin mengadopsi metodologi interdisipliner, termasuk analisis retoris, analisis wacana, dan teori gerakan sosial.

6) Integrasi Bidang Subjek dan Lanskap Disipliner Analisis distribusi bidang subjek mengungkap karakter interdisipliner penelitian komunikasi profetik yang melampaui batas-batas disipliner tradisional. Studi Islam dan Komunikasi Keagamaan merupakan domain inti (45%) dengan tradisi mapan dalam analisis tekstual dan pendekatan hermeneutik. Studi Retorika dan Komunikasi (25%) menyediakan kerangka metodologis dan alat analitis. Ilmu Sosial dan Filsafat (20%) menawarkan perspektif teoritis pada transformasi sosial, wacana politik, dan implikasi etis. Studi Interdisipliner (10%) merepresentasikan pendekatan sintetis yang muncul.

Distribusi disipliner ini menunjukkan bahwa integrasi analisis retoris dengan teori komunikasi Islam dan analisis mobilisasi sosial memiliki legitimasi akademik. Penerimaan akademik terhadap pendekatan interdisipliner dikonfirmasi oleh tren yang berkembang dalam kepustakaan kontemporer menuju metodologi sintetis untuk menangkap kompleksitas fenomena komunikasi keagamaan.

7) Identifikasi Kesenjangan dan Implikasi Penelitian Analisis bibliometrik komprehensif mengidentifikasi empat kesenjangan dalam kepustakaan terkini yang mengindikasikan peluang penelitian. Pertama, defisit analisis retoris sistematik menunjukkan bahwa meskipun terdapat kepustakaan ekstensif dalam komunikasi Islam, penerapan kerangka retoris yang mapan terhadap praktik dakwah Islam kontemporer masih terbatas. Literatur terkini didominasi oleh analisis teologis, analisis isi, atau pendekatan sosiologis tanpa perhatian memadai terhadap mekanisme retoris dan strategi persuasif.84 84 Ahmad Jamilin et al., "Prophetic Approaches in Communication: A Pilot Analysis of Hadith Prophet Muhammad," Pharos Journal of Theology 98 (2017): 1-12.

Kedua, ketidakcukupan studi kasus empiris mengindikasikan bahwa diskusi teoritis komunikasi profetik melimpah, namun investigasi empiris terperinci tentang tokoh agama kontemporer dan praktik retoris mereka masih terbatas. Mayoritas kepustakaan yang ada membahas komunikasi profetik sebagai fenomena historis atau konsep abstrak tanpa analisis sistematik tentang manifestasi prinsip-prinsip ini dalam praktik dakwah kontemporer dan respons komunitas.

Ketiga, kesenjangan analisis mobilisasi sosial menunjukkan perhatian penelitian yang terbatas terhadap bagaimana retorika keagamaan berfungsi sebagai katalis untuk organisasi komunitas dan aksi sosial. Literatur terkini didominasi oleh perlakuan dakwah sebagai bimbingan spiritual individual atau aktivitas pendidikan tanpa analisis yang memadai terhadap potensi mobilisasi kolektif dan proses transformasi komunitas.85 Keempat, kesenjangan representasi komunikasi Islam Indonesia menunjukkan bahwa meskipun Indonesia merupakan negara Muslim terbesar dengan tradisi kaya dalam kepustakaan Islam dan praktik dakwah, analisis akademik sistematik tentang tokoh agama Indonesia masih terbatas dalam kepustakaan internasional. Kesenjangan ini merepresentasikan peluang yang terlewatkan untuk memahami bagaimana prinsip-prinsip komunikasi Islam beradaptasi dalam konteks budaya yang beragam.

8) Posisi dan Lintasan Penelitian Berdasarkan pemetaan bibliometrik, lanskap penelitian menunjukkan lintasan yang mengarah pada kebutuhan akan integrasi analisis retoris dengan studi komunikasi profetik. Kesenjangan yang teridentifikasi mengindikasikan ruang akademik untuk penelitian yang mengombinasikan kerangka retoris Aristotelian dengan prinsip komunikasi profetik Islam dalam konteks studi kasus empiris. Posisi geografis 85 Aswar H. and S. Afifi, "An Analytical Study of the Da'wah Movement of Prophet Muhammad in Relation to Social Movement Theory," Journal of Islamic Thought and Civilization 14, no. 1 (2024): 23-45. menunjukkan bahwa studi kasus Indonesia memiliki legitimasi akademik dan relevansi internasional.

Evolusi temporal mengkonfirmasi penerimaan akademik yang berkembang terhadap pendekatan analitis yang canggih dalam memahami efektivitas komunikasi keagamaan. Lintasan penelitian kontemporer menunjukkan pergerakan menuju metodologi interdisipliner yang mendorong pendekatan inovatif seperti analisis retoris dakwah profetik. Integrasi bidang subjek menunjukkan landasan akademik yang mapan untuk penelitian yang menjembatani studi retorika, komunikasi Islam, dan analisis transformasi sosial.

Data bibliometrik mengindikasikan bahwa penelitian yang berfokus pada analisis retoris sistematik tokoh agama Indonesia kontemporer dalam konteks mobilisasi sosial dapat mengisi kesenjangan yang teridentifikasi dan berkontribusi pada kemajuan pengetahuan dalam persinggungan studi Islam, teori komunikasi, dan analisis transformasi sosial. Lintasan akademik mengarah pada kebutuhan akan investigasi empiris terperinci yang dapat menjembatani kerangka teoritis dengan aplikasi praktis dalam konteks kontemporer.

2. Status dan Kesenjangan Penelitian

a. State of the Art Kajian Retorika Dakwah Evolusi kajian retorika dakwah menandai transformasi paradigmatik dari analisis tekstual deskriptif menuju pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan teori retorika klasik dengan prinsip-prinsip komunikasi Islam. Transformasi metodologis ini merepresentasikan respons akademik terhadap kompleksitas komunikasi dakwah kontemporer yang menuntut kerangka analitis lebih canggih dibandingkan pendekatan monodisipliner tradisional. Signifikansi perkembangan ini tercermin dalam munculnya metodologi hibrid yang mampu mengakomodasi dimensi persuasif komunikasi keagamaan sekaligus mempertahankan otentisitas nilai-nilai Islam. Kesarjanaan kontemporer dalam bidang ini mendemonstrasikan kesadaran yang meningkat terhadap kebutuhan mengintegrasikan teori-teori retorika Barat dengan tradisi komunikasi Islam yang bersifat lokal. Konsekuensinya, retorika dakwah kini diposisikan sebagai bidang kajian tersendiri dengan fondasi teoretis dan pendekatan metodologis yang unik. Lintasan perkembangan ini mengindikasikan kematangan bidang kajian yang tidak lagi terjebak dalam oposisi biner antara pendekatan "Islam" versus "Barat", melainkan mengembangkan kerangka sintetis yang lebih bernuansa. Pemeriksaan kritis terhadap evolusi ini mengungkap ketegangan mendasar antara imperatif normatif keagamaan dengan tuntutan analitis empiris yang terus menegosiasikan batas-batas dalam kesarjanaan kontemporer. Pemahaman komprehensif terhadap perkembangan mutakhir ini menjadi prasyarat untuk mengidentifikasi kesenjangan dan memposisikan kontribusi penelitian baru.

1) Fondasi Teoritis dan Perkembangan Konseptual Al Aqad dkk. memelopori analisis sistematis terhadap perangkat retorika dalam hadis Nabi Muhammad SAW, mengidentifikasi penggunaan canggih tashbīh (perumpamaan), isti'ārah (metafora), dan kināyah (metonimi) sebagai instrumen fundamental dalam komunikasi profetik.86 Penelitian mereka melampaui kajian hadis tradisional dengan menerapkan analisis linguistik kontemporer untuk mengungkap mekanisme retoris yang mendasari efektivitas komunikasi Nabi. Inovasi metodologis dalam penelitian ini terletak pada kategorisasi sistematis bahasa figuratif yang mendemonstrasikan bahwa wacana profetik beroperasi melalui strategi retoris yang dirancang secara cermat, bukan sekadar ujaran spontan. Temuan empiris mengungkap pola konsisten dalam penggunaan perangkat figuratif yang berfungsi mentransformasikan konsep teologis abstrak menjadi makna konkret yang dapat dipahami oleh audiens yang beragam. Implikasi teoretis dari penelitian ini menantang asumsi yang berlaku bahwa 86 Mohammed H. Al Aqad et al., "Figures of Speech in the Hadith of Prophet Muhammad: An Analysis of Tashbīh, Isti'ārah, and Kināyah," Southeastern Philippines Journal of Research and Development 30, no. 1 (2025): 77-92. wacana keagamaan terutama bergantung pada otoritas dan dogma, sebaliknya menunjukkan kesadaran retoris yang canggih dalam tradisi Islam. Kerangka analitis yang dikembangkan menyediakan templat metodologis untuk mengkaji wacana Islam kontemporer dengan tingkat kecanggihan retoris yang sama. Kontribusi Al Aqad dkk. menetapkan preseden untuk memperlakukan teks-teks keagamaan Islam sebagai artefak retoris yang layak mendapat analisis ilmiah serius sebanding dengan teksteks klasik Barat. Penelitian ini membuka dialog produktif antara kajian Islam dan kritik retorika yang saling memperkaya kedua bidang.

Jamilin dkk. memajukan kajian komunikasi profetik melalui analisis pragmatik yang mengungkap strategi verbal dan non-verbal bernuansa yang tertanam dalam literatur hadis, mendemonstrasikan bahwa kesantunan dan pendekatan non-koersif merupakan karakteristik inti model komunikasi profetik.87 Kecanggihan metodologis penelitian mereka terletak pada penerapan teori tindak tutur dan teori kesantunan untuk mendekode polapola komunikatif yang sebelumnya terabaikan dalam kesarjanaan hadis tradisional. Temuan empiris menerangi bagaimana Nabi Muhammad secara sistematis menggunakan tindak tutur tidak langsung, perangkat pelindung muka, dan strategi penyelamatan muka untuk mempertahankan martabat lawan bicara sambil menyampaikan pesan keagamaan. Signifikansi teoretis dari penemuan ini terletak pada pengungkapan bahwa komunikasi profetik memprioritaskan harmoni relasional dan kenyamanan psikologis di atas sekadar transfer informasi atau pemaksaan doktrinal. Penelitian ini menantang pemahaman konvensional tentang otoritas keagamaan sebagai sesuatu yang inheren bersifat hierarkis dan memaksa, sebaliknya mengungkap etika komunikasi yang egaliter dan empatik. Kerangka pragmatik yang digunakan memungkinkan identifikasi strategi komunikatif tingkat mikro yang merupakan blok pembangun komunikasi keagamaan 87 Ahmad Kamil Jamilin et al., "Prophetic Approaches in Communication: A Pilot Analysis of Hadith Prophet Muhammad," Advanced Science Letters 23, no. 5 (2017): 4872-4876. yang efektif. Implikasi untuk praktik dakwah kontemporer sangat mendalam, menunjukkan bahwa model profetik yang otentik menekankan dialog, empati, dan rasa hormat daripada dominasi retoris. Jamilin dkk. dengan demikian memberikan kontribusi wawasan penting untuk mengembangkan pendekatan komunikasi yang selaras dengan preseden profetik sambil mengatasi tantangan komunikatif kontemporer.

Kubaisi dkk. mengkaji metode komunikasi dialogis yang digunakan oleh Nabi Muhammad dalam interaksi dengan komunitas Yahudi Madinah, memanfaatkan pendekatan historis-heuristik untuk merekonstruksi dinamika komunikatif dalam konteks pluralistik.88 Penelitian mereka merepresentasikan keberangkatan signifikan dari pendekatan apologetik dengan berfokus pada praktik komunikatif aktual daripada perdebatan teologis. Ketelitian metodologis ditunjukkan melalui analisis cermat sumber-sumber biografis (sīrah) untuk mengidentifikasi pola-pola dalam dialog antaragama yang mencirikan pendekatan profetik. Temuan mengungkap strategi dialogis canggih yang mengakui perbedaan agama sambil mempertahankan jembatan komunikatif, mendemonstrasikan kebijaksanaan pragmatis dalam mengelola keragaman agama. Kontribusi teoretis terletak pada konseptualisasi komunikasi profetik sebagai sesuatu yang inheren bersifat dialogis daripada monologis, menantang asumsi tentang komunikasi keagamaan sebagai transmisi satu arah. Analisis historis mengungkap teknik-teknik spesifik seperti mendengarkan aktif, pengakuan terhadap titik temu, dan keheningan strategis yang memfasilitasi pertemuan antaragama yang produktif. Penelitian ini menyediakan bukti empiris bahwa model profetik menawarkan kerangka yang layak untuk komunikasi antaragama kontemporer dalam masyarakat yang semakin pluralistik. Kubaisi dkk. dengan demikian memperkaya pemahaman tentang 88 Abdel Aziz Shaker Hamdan Al Kubaisi et al., "Dialogic Communication with the Jews of Medina: Methods, Characteristics, and Purposes in the Light of Prophetic Biography," European Journal for Philosophy of Religion 16, no. 2 (2024): 460-487. komunikasi profetik dengan menyoroti dimensi dialogis yang sering diabaikan demi aspek retoris atau pedagogis.

2) Aplikasi Kerangka Retoris dalam Analisis Dakwah Sidek dan Yunus melakukan analisis terobosan terhadap strategi retoris Nouman Ali Khan menggunakan kerangka Aristotelian, mendemonstrasikan aplikabilitas retorika klasik untuk menganalisis wacana Islam kontemporer dalam era digital.89 Penelitian mereka menggunakan metode campuran yang menggabungkan analisis tematik dengan analisis wacana kritis untuk mengidentifikasi penerapan ethos, pathos, dan logos dalam kuliah video yang menjangkau jutaan orang secara global. Temuan empiris mengungkap arsitektur retoris canggih dimana logos mendominasi (mencakup 68% dari daya tarik retoris) melalui ketepatan linguistik, argumentasi terstruktur, dan analisis perbandingan agama. Inovasi metodologis terletak pada adaptasi kategori retoris klasik untuk mengakomodasi fitur-fitur spesifik wacana Islam seperti tafsir Al-Quran dan kutipan hadis. Signifikansi teoretis terletak pada demonstrasi bahwa pendakwah Muslim kontemporer secara sadar atau tidak sadar menggunakan strategi retoris klasik yang melampaui batas-batas budaya. Analisis mengungkap teknik-teknik spesifik seperti alih kode, penjembatanan budaya, dan aksesibilitas intelektual yang memungkinkan Khan untuk menarik audiens global yang beragam. Penelitian ini menetapkan preseden untuk analisis retoris sistematis terhadap dakwah digital yang semakin penting dalam lanskap komunikasi Islam kontemporer. Sidek dan Yunus dengan demikian menyediakan cetak biru metodologis untuk mengkaji bagaimana prinsip-prinsip retoris klasik termanifestasi dalam konteks dakwah Islam modern.

Rokhman dan Muslimah menganalisis pendekatan retoris Dr. Zakir Naik dalam konteks dakwah antaragama, mengungkap adaptasi strategis 89 Nurul Hafizah Sidek and Kamariah Yunus, "The Rhetorical Strategies of an Internationally Renowned Preacher: Nouman Ali Khan," GEMA Online Journal of Language Studies 14, no. 1 (2024): 36-47. daya tarik Aristotelian untuk persuasi spesifik audiens dalam pengaturan yang beragam secara agama.90 Penelitian mereka mendemonstrasikan bagaimana konstruksi ethos beroperasi melalui tampilan pengetahuan agama komparatif dan penalaran ilmiah yang beresonansi dengan audiens terpelajar. Penerapan pathos termanifestasi dalam daya tarik emosional terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal dan koeksistensi damai yang melampaui batas-batas agama. Pemanfaatan logos melibatkan analisis komparatif sistematis, argumentasi ilmiah, dan penalaran logis yang menarik bagi sensibilitas rasional audiens modern. Kontribusi metodologis terletak pada pengembangan kerangka analitis yang menangkap kompleksitas situasi retoris antaragama dimana pembicara harus menavigasi berbagai sensitivitas agama. Temuan mengungkap strategi adaptasi audiens yang canggih dimana daya tarik retoris dikalibrasi sesuai dengan latar belakang agama, tingkat pendidikan, dan konteks budaya pendengar. Implikasi teoretis menunjukkan bahwa dakwah antaragama yang efektif memerlukan fleksibilitas retoris dan pemahaman mendalam tentang ekspektasi audiens yang beragam. Rokhman dan Muslimah dengan demikian memberikan kontribusi wawasan penting tentang dinamika retoris dalam konteks komunikasi antaragama kontemporer.

3) Integrasi Sastra dan Naratif dalam Retorika Dakwah Rahmah memelopori analisis retorika dakwah dalam karya sastra dengan mengkaji novel "Habibie & Ainun," mendemonstrasikan bahwa fiksi naratif dapat berfungsi sebagai wahana yang kuat untuk komunikasi keagamaan.91 Penelitian ini menggunakan analisis tekstual untuk mengidentifikasi elemen-elemen retoris seperti daya tarik emosional, bahasa persuasif, sensitivitas kontekstual, dan struktur argumentatif yang tertanam dalam narasi romantis. Inovasi metodologis terletak pada 90 Saeful Rokhman and Muslimah, "Retorika Dakwah Dr. Zakir Naik dalam Menda'wahkan Islam kepada Kaum Nashrani," Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan 4, no. 01 (2021): 1-18. 91 Mariyatul Norhidayati Rahmah, "Dakwah Retoris Dalam Karya Sastra Novel 'Habibie & Ainun' Karya Bj. Habibie," Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 14, no. 27 (2015): 65-74. perlakuan terhadap fiksi populer sebagai situs yang sah untuk retorika dakwah, memperluas batas-batas konvensional kajian komunikasi keagamaan. Temuan mengungkap integrasi canggih pesan-pesan keagamaan dalam narasi personal yang mencapai efek persuasif melalui identifikasi dan keterlibatan emosional daripada khotbah langsung. Kontribusi teoretis melibatkan konseptualisasi naratif sebagai modus retoris yang sangat efektif untuk audiens kontemporer yang resisten terhadap wacana keagamaan tradisional. Analisis mendemonstrasikan bagaimana cerita personal menjadi pesan universal melalui konstruksi cermat karakter dan situasi yang dapat dihubungkan yang mewujudkan nilai-nilai keagamaan. Penelitian Rahmah membuka jalan baru untuk memahami strategi dakwah tidak langsung yang beroperasi melalui produk budaya daripada instruksi keagamaan eksplisit. Karya perintis ini dengan demikian menetapkan fondasi untuk mengkaji beragam teks budaya sebagai situs potensial retorika keagamaan. b. State of the Art Kajian Komunikasi Profetik Kemunculan komunikasi profetik sebagai paradigma tersendiri dalam kajian komunikasi Islam merepresentasikan revolusi epistemologis yang menantang teori-teori komunikasi yang berpusat pada Barat dengan menawarkan alternatif berbasis nilai yang berakar dalam pandangan dunia Islam. Perkembangan paradigmatik ini tidak sekadar merepresentasikan Islamisasi teori-teori yang ada tetapi merupakan pemikiran ulang fundamental tentang hakikat, tujuan, dan etika komunikasi manusia. Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo menyediakan fondasi filosofis yang memungkinkan teorisasi sistematis praktik-praktik komunikasi yang dipandu oleh prinsip-prinsip profetik daripada asumsi-asumsi sekuler. Lintasan kesarjanaan dalam bidang ini mendemonstrasikan kecanggihan progresif dari pendekatan normatif-preskriptif awal menuju kerangka teoretis yang berakar empiris yang mempertahankan otentisitas Islam. Signifikansi paradigma komunikasi profetik terletak pada kemampuannya untuk mengatasi keterbatasan teori-teori fungsionalis dan kritis yang mendominasi kajian komunikasi arus utama. Perkembangan kontemporer menunjukkan pengakuan yang meningkat bahwa paradigma profetik menawarkan wawasan unik tentang potensi transformatif komunikasi untuk perubahan individual dan sosial. Kematangan bidang ini terlihat dalam kemunculan konsep-konsep khusus, metodologi, dan program penelitian yang menetapkan komunikasi profetik sebagai disiplin akademik yang sah. Pemahaman komprehensif terhadap perkembangan mutakhir dalam kajian komunikasi profetik menjadi esensial untuk memposisikan penelitian baru yang dapat memajukan dimensi teoretis dan praktis bidang ini.

1) Fondasi Epistemologis dan Paradigmatik Karya monumental Kuntowijoyo "Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi" menetapkan fondasi epistemologis revolusioner untuk Ilmu Sosial Profetik dengan mengartikulasikan kerangka triadik humanisasiliberasi-transendensi yang secara fundamental merekonfigurasi penyelidikan ilmu sosial.92 Kecanggihan filosofis proyek Kuntowijoyo terletak pada sintesis pandangan dunia Qurani dengan teori sosial kontemporer yang menghindari baik tradisionalisme tidak kritis maupun modernisme tanpa akar. Humanisasi sebagai operasionalisasi amar ma'ruf mencakup restorasi martabat manusia, kultivasi karakter mulia, dan pengembangan potensi manusia dalam keselarasan dengan fitrah. Liberasi yang merepresentasikan nahi munkar melibatkan pembebasan dari penindasan struktural, kesadaran palsu, dan sistem-sistem yang mendehumanisasi yang menghalangi perkembangan manusia. Transendensi yang memanifestasikan tu'minuna billah menyediakan dimensi vertikal yang menjangkarkan eksistensi manusia dalam realitas ilahi dan mencegah reduksi ke persoalan material semata. Terobosan epistemologis terdiri dari transformasi konsep-konsep normatif Islam menjadi kategori-kategori analitis yang mampu untuk penelitian empiris tanpa mengorbankan orientasi transenden. Kritik terhadap saintisme sekuler mengungkap sifat 92 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, cet. ke-5 (Bandung: Mizan, 1993), 288296. ideologis ilmu sosial yang seharusnya netral dan membuka ruang untuk penyelidikan yang berkomitmen nilai yang mempertahankan ketelitian metodologis. Kerangka Kuntowijoyo dengan demikian menyediakan arsitektur teoretis untuk mengembangkan pendekatan yang khas Islam terhadap fenomena sosial termasuk komunikasi.

2) Pengembangan Konseptual dan Teoretis Syahputra secara eksplisit mengkonseptualisasikan komunikasi profetik sebagai paradigma komunikasi yang berorientasi pada humanisasi, liberasi, dan transendensi, menyediakan elaborasi teoretis sistematis kerangka Kuntowijoyo khusus untuk bidang komunikasi.93 Kecanggihan teoretis termanifestasi dalam delineasi cermat karakteristik komunikasi profetik yang membedakannya dari pendekatan komunikasi konvensional: tujuan transformatif, fondasi etis, dan orientasi transenden. Pengembangan konseptual mencakup spesifikasi praktik-praktik komunikatif yang mengaktualisasikan setiap dimensi profetik: komunikasi yang memanusiakan yang menegaskan martabat manusia, komunikasi yang membebaskan yang menantang penindasan, dan komunikasi transenden yang menghubungkan dengan yang ilahi. Implikasi metodologis melibatkan pengembangan pendekatan penelitian yang mampu menangkap dimensi nilai komunikasi tanpa mereduksinya menjadi sekadar moralisasi atau khotbah. Kontribusi Syahputra terletak pada penjembatanan konsep-konsep filosofis abstrak dengan praktik komunikasi konkret melalui elaborasi teoretis sistematis. Kerangka ini menyediakan alat analitis untuk mengkaji bagaimana komunikasi dapat melayani tujuan-tujuan profetik dalam berbagai konteks dari interpersonal hingga media massa. Signifikansi untuk disiplin komunikasi melibatkan pembukaan lintasan penelitian baru yang mengintegrasikan perhatian normatif dengan investigasi empiris. Syahputra dengan demikian menetapkan komunikasi profetik sebagai paradigma 93 Iswandi Syahputra, Komunikasi Profetik: Konsep dan Pendekatan (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007), 45-78. teoretis yang koheren dengan fondasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang berbeda.

Ridho memajukan teori komunikasi profetik melalui analisis komprehensif fondasi Qurani, mendemonstrasikan bahwa prinsip-prinsip komunikasi profetik tertanam dalam dalam wahyu ilahi daripada sekadar konstruksi manusia.94 Disertasi ini menggunakan pendekatan hermeneutis canggih untuk mengekstrak prinsip-prinsip komunikasi dari teks Al-Quran sambil mempertahankan kesadaran terhadap tradisi interpretatif dan konteks kontemporer. Ketelitian metodologis ditunjukkan dalam analisis sistematis ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan komunikasi, praktikpraktik profetik, dan transformasi sosial untuk mengembangkan kerangka teoretis yang terintegrasi. Temuan mengungkap permadani kaya prinsipprinsip komunikatif termasuk keadilan, kasih sayang, kebijaksanaan, dan transformasi bertahap yang mencirikan pendekatan Qurani terhadap komunikasi manusia. Kontribusi teoretis melibatkan pembumian komunikasi profetik dalam sumber-sumber tekstual otoritatif yang menyediakan legitimasi dan koherensi untuk pengembangan paradigma. Analisis mendemonstrasikan bahwa model komunikasi Qurani mencakup dimensi kognitif, afektif, dan perilaku yang bekerja secara sinergis untuk transformasi individual dan sosial. Karya Ridho menetapkan hubungan krusial antara fondasi teologis dan praktik komunikasi yang esensial untuk otentisitas paradigma komunikasi profetik. Penelitian dengan demikian menyediakan landasan tekstual untuk teori komunikasi profetik yang sebelumnya bergantung terutama pada elaborasi filosofis. c. Identifikasi Kesenjangan Penelitian Analisis komprehensif terhadap literatur yang ada mengungkap kekosongan kritis dalam kesarjanaan tentang retorika dakwah dan komunikasi profetik yang mengindikasikan peluang signifikan untuk 94 Abdul Rasyid Ridho, "Komunikasi Profetik dalam Mewujudkan Masyarakat Madani Perspektif Al-Qur'an" (disertasi doktoral, Institut PTIQ Jakarta, 2021), 112-156. kemajuan teoretis dan kontribusi empiris. Pemeriksaan sistematis lanskap penelitian mendemonstrasikan kesenjangan persisten dalam integrasi, aplikasi, dan kontekstualisasi yang membatasi pemahaman saat ini tentang fenomena komunikasi keagamaan. Identifikasi kesenjangan-kesenjangan ini melalui sintesis kritis daripada sekadar pengkatalogan mengungkap pola-pola mendasar yang menunjukkan keterbatasan struktural dalam pendekatan-pendekatan yang ada. Signifikansi analisis kesenjangan melampaui pemetaan wilayah yang belum dieksplorasi ke pengungkapan titik-titik buta epistemologis dan metodologis yang membatasi perkembangan bidang. Pengenalan pola dalam kesenjangan penelitian mengindikasikan bias sistematis terhadap pendekatan-pendekatan tertentu sambil mengabaikan yang lain yang berpotensi lebih produktif. Pemahaman interkoneksi antara berbagai kesenjangan mengungkap bahwa mengatasi satu kesenjangan dengan sendirinya melibatkan keterlibatan dengan yang lain dalam jaringan kompleks penyelidikan ilmiah. Implikasi untuk penelitian masa depan melibatkan tidak sekadar mengisi kesenjangan individual tetapi mengembangkan pendekatan terintegrasi yang dapat mengatasi berbagai keterbatasan secara simultan. Identifikasi kesenjangan yang komprehensif dengan demikian berfungsi sebagai fondasi untuk memposisikan penelitian yang dapat membuat kontribusi transformatif daripada sekadar inkremental ke bidang ini.

1) Kesenjangan Integrasi Teoretis Pemeriksaan kritis mengungkap ketiadaan mendalam integrasi sistematis antara kerangka retorika klasik dan paradigma komunikasi profetik, menciptakan perpecahan teoretis yang membatasi kecanggihan analitis dalam mengkaji wacana Islam kontemporer. Kajian retorika dakwah yang ada seperti Sidek dan Yunus, Rokhman dan Muslimah, serta Steviasari secara kompeten menerapkan ethos-pathos-logos Aristotelian tetapi gagal untuk menggabungkan dimensi transformatif humanisasi-liberasi- transendensi.95 Sebaliknya, kesarjanaan komunikasi profetik oleh Syahputra, Ridho, dan Sukran menyediakan elaborasi filosofis yang kaya tetapi kurang analisis terperinci tentang mekanisme retoris yang memungkinkan aktualisasi nilai-nilai profetik.96 Keterputusan teoretis ini sangat bermasalah karena kedua tradisi menawarkan wawasan komplementer: retorika menyediakan alat analitis untuk memahami bagaimana persuasi beroperasi sementara paradigma profetik menawarkan kerangka nilai untuk menilai dampak transformatif komunikasi. Ketiadaan integrasi menghasilkan analisis retoris yang secara teknis mahir tetapi buta secara aksiologis, dan kajian profetik yang kaya secara normatif tetapi tipis secara analitis. Konsekuensi ilmiah mencakup ketidakmampuan untuk mengembangkan pemahaman komprehensif tentang bagaimana strategi retoris dapat melayani tujuan-tujuan profetik atau bagaimana nilai-nilai profetik dapat meningkatkan efektivitas retoris. Kesenjangan mengindikasikan kebutuhan mendesak untuk sintesis teoretis yang dapat menghasilkan kategori-kategori analitis baru yang mampu menangkap baik mekanisme persuasif maupun tujuan transformatif. Penelitian yang mengatasi kesenjangan ini akan memberikan kontribusi signifikan ke teori retorika dan kajian komunikasi Islam dengan mendemonstrasikan dialog produktif antara tradisi.

2) Kesenjangan Studi Kasus Empiris Literatur mendemonstrasikan ketidakseimbangan mencolok antara elaborasi teoretis dan investigasi empiris, dengan dominasi makalah konseptual atas studi kasus sistematis yang mengkaji praktik komunikasi profetik aktual. Sementara Kuntowijoyo, Syahputra, dan lainnya menyediakan kerangka teoretis canggih, aplikasi ke komunikator 95 Lihat analisis komparatif dalam Sidek and Yunus, "Rhetorical Strategies," 36-47; Rokhman and Muslimah, "Retorika Dakwah," 1-18; Puspa Chika Steviasari, "Retorika Dakwah Ustadz Abdul Somad (Analisis Wacana Terhadap Youtube Ustadz Abdul Somad)" (skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2020). 96 Syahputra, Komunikasi Profetik, 45-78; Ridho, "Komunikasi Profetik," 112-156; Ahmad Sukran, "Perspektif Pemikiran Kuntowijoyo tentang Nilai-Nilai Pendidikan Profetik bagi Perwujudan Masyarakat Madani" (skripsi, UIN Alauddin Makassar, 2017). kontemporer spesifik tetap sangat terbatas dalam cakupan dan kedalaman.97 Studi kasus yang ada seperti analisis tokoh internasional sering kurang integrasi dengan paradigma profetik, berfokus semata pada efektivitas retoris tanpa mengkaji dampak transformatif atau aktualisasi nilai. Kesenjangan empiris ini sangat akut untuk pemimpin agama lokal yang mungkin mewujudkan prinsip-prinsip komunikasi profetik tetapi tetap tidak terlihat dalam wacana akademik karena hambatan bahasa atau persepsi kurangnya signifikansi global. Ketiadaan studi empiris yang kaya membatasi pengembangan teori karena tanpa analisis berakar pada praktik aktual, kerangka teoretis berisiko menjadi idealisasi abstrak yang terputus dari realitas komunikatif. Implikasi metodologis melibatkan kebutuhan untuk mengembangkan pendekatan penelitian yang mampu menangkap kompleksitas komunikasi profetik dalam pengaturan naturalistik daripada kondisi eksperimental buatan. Kesenjangan mengindikasikan peluang untuk penelitian studi kasus yang dapat mendemonstrasikan bagaimana prinsipprinsip profetik termanifestasi dalam konteks budaya spesifik dan situasi komunikatif. Mengatasi kekosongan empiris akan memperkaya pemahaman teoretis dan menyediakan wawasan praktis untuk mengembangkan kompetensi komunikasi profetik.

3) Kesenjangan Kontekstualisasi Lokal Meskipun posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia dengan tradisi intelektual Islam yang kaya, representasi tokoh dakwah Indonesia dalam analisis retoris sistematis tetap sangat minimal dalam kesarjanaan internasional. Analisis bibliometrik mengungkap bias geografis terhadap konteks Timur Tengah dan Asia Selatan, dengan kontribusi Indonesia sering direduksi ke status periferal meskipun memiliki tradisi dakwah lokal yang dinamis.98 Kesenjangan ini sangat signifikan mengingat 97 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, 288-296; Syahputra, Komunikasi Profetik, 45-78. 98 Analisis bibliometrik menunjukkan dari total publikasi internasional tentang komunikasi Islam, kurang dari 15% fokus pada konteks Indonesia meskipun populasi Muslim Indonesia mencapai 13% dari total Muslim dunia. karakteristik unik Islam Indonesia yang menggabungkan teologi ortodoks dengan kearifan lokal, menciptakan pola retoris distingtif yang layak mendapat perhatian ilmiah serius. Ketiadaan studi terkontekstualisasi membatasi pemahaman tentang bagaimana prinsip-prinsip Islam universal beradaptasi ke lingkungan budaya spesifik dan mengatasi tantangan lokal. Penelitian yang ada sering memperlakukan kasus Indonesia sebagai titik data belaka dalam studi yang lebih luas daripada subjek yang layak mendapat analisis khusus yang dapat mengungkap wawasan unik. Hambatan bahasa dan sirkulasi internasional terbatas kesarjanaan Indonesia berkontribusi pada ketidaktampakan kontribusi teoretis dan praktis yang berpotensi signifikan. Kesenjangan mengindikasikan kebutuhan untuk penelitian yang membawa suara Indonesia ke pusat wacana internasional sambil mempertahankan ketelitian analitis yang diharapkan dalam kesarjanaan global. Mengatasi kesenjangan kontekstual akan memperkaya pemahaman global tentang komunikasi Islam dengan mendemonstrasikan keragaman dan kemampuan adaptasi prinsip-prinsip komunikasi profetik.

4) Kesenjangan Metodologis Kesarjanaan saat ini mengungkap bifurkasi metodologis dimana kajian retorika menggunakan analisis tekstual, analisis wacana, atau analisis isi sementara penelitian komunikasi profetik bergantung pada refleksi filosofis, hermeneutika, atau teorisasi normatif. Ketiadaan pendekatan metodologis terintegrasi membatasi kemampuan untuk mengkaji fenomena secara komprehensif, menangkap baik fitur retoris permukaan maupun dimensi nilai yang lebih dalam secara simultan. Metodologi yang ada sering memaksa peneliti untuk memilih antara presisi analitis dan kedalaman normatif, menciptakan dikotomi palsu yang memiskinkan pemahaman. Kesenjangan metodologis ini termanifestasi dalam kajian yang baik mereduksi komunikasi profetik ke variabel terukur atau mundur ke filosofi abstrak tanpa landasan empiris. Kebutuhan untuk inovasi metodologis sangat akut untuk mengkaji komunikasi keagamaan kontemporer yang beroperasi dalam lingkungan termediasi kompleks yang memerlukan alat analitis canggih. Mengembangkan metodologi terintegrasi memerlukan sintesis kreatif pendekatan interpretatif dan analitis yang menghormati baik ketelitian empiris maupun sensitivitas nilai. Kesenjangan mengindikasikan peluang untuk kontribusi metodologis yang dapat melayani komunitas ilmiah yang lebih luas yang tertarik mengkaji fenomena komunikasi sarat nilai. Mengatasi keterbatasan metodologis akan memungkinkan pemahaman lebih bernuansa tentang bagaimana prinsip-prinsip profetik teraktualisasi dalam praktik komunikatif konkret.

3. Posisi dan Kontribusi Penelitian

a. Posisi Penelitian dalam Kajian Retorika dan Komunikasi Profetik Penelitian ini memposisikan diri pada titik pertemuan antara tradisi retorika klasik Aristoteles dengan paradigma komunikasi profetik dalam konteks dakwah Islam Indonesia. Dalam perkembangan kajian komunikasi Islam kontemporer, terdapat kecenderungan untuk memisahkan analisis retoris dari dimensi transformatif-profetik, sebagaimana terlihat dalam penelitian-penelitian terdahulu yang menggunakan kerangka ethos-pathoslogos tanpa mengintegrasikannya dengan misi humanisasi, liberasi, dan transendensi.99 Penelitian Sidek dan Yunus tentang strategi retoris Nouman Ali Khan, misalnya, menerapkan kerangka Aristoteles secara komprehensif namun tidak mengeksplorasi dimensi profetik dari komunikasi dakwah.100 Demikian pula, kajian Rokhman dan Muslimah terhadap retorika Dr. Zakir Naik serta analisis Steviasari terhadap Ustadz Abdul Somad berfokus pada efektivitas persuasif tanpa mengaitkannya dengan transformasi sosial yang menjadi misi komunikasi profetik.101 Di sisi lain, kajian komunikasi 99 Mohammed H. Al Aqad et al., "Figures of Speech in the Hadith of Prophet Muhammad: An Analysis of Tashbīh, Isti'ārah, and Kināyah," Southeastern Philippines Journal of Research and Development 30, no. 1 (2025): 77-92. 100 Nurul Hafizah Sidek and Kamariah Yunus, "The Rhetorical Strategies of an Internationally Renowned Preacher: Nouman Ali Khan," GEMA Online Journal of Language Studies 14, no. 1 (2024): 36-47. 101 Saeful Rokhman and Muslimah, "Retorika Dakwah Dr. Zakir Naik dalam Menda'wahkan Islam kepada Kaum Nashrani," Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan 4, no. 01 (2021): 1-18; Puspa Chika Steviasari, "Retorika Dakwah Ustadz Abdul Somad" (skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2020). profetik seperti yang dikembangkan Syahputra cenderung teoretiskonseptual tanpa operasionalisasi empiris yang memadai untuk menganalisis praktik komunikasi aktual.102 Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan mengembangkan kerangka kerja integratif yang memadukan ketelitian analitis dari studi retorika dengan wawasan normatif dari paradigma profetik. Posisi unik ini diperkuat dengan fokus pada K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) sebagai representasi ulama lokal yang menjalankan fungsi dakwah transformatif dalam konteks masyarakat Sunda kontemporer.

Dalam pemetaan bibliometrik kajian komunikasi Islam global, Indonesia menempati posisi signifikan namun kontribusinya cenderung terfokus pada aspek praktis-aplikatif dibandingkan pengembangan teoretis.103 Penelitian ini memposisikan diri untuk berkontribusi pada kemajuan teoretis dengan mengembangkan konsep "retorika profetik" yang mengintegrasikan tradisi keilmuan Barat dan Islam dalam satu kerangka kerja yang koheren. Pendekatan integratif ini sejalan dengan perkembangan paradigma pasca-sekular dalam ilmu sosial yang mengakui peran sah dari nilai-nilai keagamaan dalam penyelidikan ilmiah.104 Berbeda dengan pendekatan konvensional yang melihat retorika sebagai teknik persuasi yang bebas nilai, penelitian ini memposisikan retorika dakwah sebagai instrumen transformasi sosial yang secara inheren sarat nilai. Konseptualisasi ini didasarkan pada pemahaman bahwa dakwah dalam tradisi Islam bukan sekadar transfer informasi tetapi upaya transformatif untuk mewujudkan masyarakat yang lebih humanis, adil, dan spiritual. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengisi kesenjangan dalam 102 Iswandi Syahputra, Komunikasi Profetik: Konsep dan Pendekatan (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007). 103 Muhammad Ali Shodiqin, "Kuntowijoyo's Prophetic Social Science: Challenges and Consequences," IJTIMAIYYA: Journal of Social Science Teaching 1, no. 1 (2016): 59-72. 104 Piet J. Naudé, "Is Prophetic Discourse Adequate to Address Global Economic Justice?," HTS Teologiese Studies / Theological Studies 67, no. 1 (2011). literatur tetapi juga menawarkan perspektif alternatif dalam memahami fenomena komunikasi keagamaan yang melampaui dikotomi sakral-sekular. b. Kontribusi Teoretis Penelitian Kontribusi teoretis fundamental penelitian ini terletak pada konstruksi konsep "retorika profetik" sebagai sintesis antara teori retorika dan ilmu sosial profetik yang dikembangkan Kuntowijoyo. Kerangka kerja ini memperluas cakupan teori retorika klasik dengan menunjukkan bahwa setiap elemen persuasif (ethos, pathos, logos) dapat dan seharusnya diorientasikan pada tujuan transformatif humanisasi, liberasi, dan transendensi. Pengembangan konseptual ini melampaui pendekatan Wendland tentang retorika profetik yang fokus pada analisis tekstual dengan menawarkan kerangka kerja untuk menganalisis praktik komunikasi aktual dalam konteks sosial.105 Integrasi ini menghasilkan matriks analitis 3x3 yang memungkinkan identifikasi sistematik terhadap manifestasi nilai-nilai profetik dalam strategi retoris, sebuah kontribusi metodologis yang signifikan untuk kemajuan teori komunikasi Islam. Penelitian ini juga memperkaya teori kredibilitas sumber dengan menunjukkan bahwa dalam konteks dakwah, kredibilitas tidak hanya ditentukan oleh keahlian dan kepercayaan tetapi juga oleh perwujudan nilai-nilai profetik dalam persona komunikator.106 Kontribusi ini menjadi signifikan dalam konteks di mana studi komunikasi Islam seringkali terjebak dalam dikotomi antara analisis tekstual-normatif dan empiris-deskriptif.

Pada tataran epistemologis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan "epistemologi integratif" yang mengatasi segregasi antara studi Islam dan ilmu komunikasi.107 Kerangka kerja retorika profetik yang dikembangkan mendemonstrasikan bahwa integrasi antara pengetahuan 105 Ernst R. Wendland, Prophetic Rhetoric: Case Studies in Text Analysis and Translation, 2nd ed. (Dallas, TX: SIL International, 2014). 106 Aristoteles, Retorika (Seni Berbicara), trans. Zaivon Akbar Nazammika (Yogyakarta: Anak Hebat, 2023). 107 Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika, ed. ke-2 (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007). wahyu dan pengetahuan perolehan bukan hanya mungkin tetapi diperlukan untuk memahami fenomena komunikasi dakwah secara holistik. Penelitian ini juga mengembangkan konseptualisasi baru tentang rasionalitas naratif dalam konteks Islam dengan menunjukkan bahwa koherensi dan fidelitas naratif dalam dakwah tidak hanya dinilai dari konsistensi internal dan kesesuaian dengan pengalaman audiens, tetapi juga dari keselarasan dengan misi profetik.108 Kontribusi-kontribusi teoretis ini memperkaya kedua tradisi keilmuan: teori komunikasi memperoleh dimensi etis-transformatif, sementara studi Islam mendapat alat analitis yang canggih untuk investigasi empiris. c. Kontribusi Metodologis Penelitian Kontribusi metodologis utama penelitian ini adalah pengembangan "kerangka analitis terpadu" yang mengoperasionalisasikan konsep-konsep abstrak komunikasi profetik ke dalam indikator yang dapat diamati untuk analisis empiris. Matriks retorika profetik yang dikembangkan melampaui pendekatan konvensional dengan menyediakan alat sistematis untuk mengidentifikasi dan menganalisis manifestasi konkret nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam praktik komunikasi aktual. Kerangka kerja ini dilengkapi dengan protokol penelitian spesifik yang mengintegrasikan teknik wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen dalam paradigma konstruktivis, memungkinkan deskripsi mendalam yang menangkap kompleksitas fenomena dakwah dalam latar alamiah.109 Inovasi metodologis ini sangat berharga mengingat kritik terhadap kajian komunikasi profetik yang cenderung normatif tanpa landasan empiris yang memadai.110 Penelitian ini juga mengembangkan "teknik analisis berlapis" yang memungkinkan peneliti untuk secara simultan menganalisis struktur 108 Ahmad Kamil Jamilin et al., "Prophetic Approaches in Communication: A Pilot Analysis of Hadith Prophet Muhammad," Advanced Science Letters 23, no. 5 (2017): 4872-4876. 109 Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern: Pendekatan Praktis Berbicara di Depan Publik, ed. rev. (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2021). 110 Ahmad Sukran, "Perspektif Pemikiran Kuntowijoyo tentang Nilai-Nilai Pendidikan Profetik bagi Perwujudan Masyarakat Madani" (skripsi, UIN Alauddin Makassar, 2017). permukaan (strategi retoris), struktur mendalam (makna dan nilai), dan dampak transformatif (hasil profetik) dari komunikasi dakwah. Pendekatan berlapis ini mengatasi keterbatasan analisis satu tingkat yang dominan dalam studi komunikasi Islam dengan menyediakan kerangka kerja komprehensif untuk menangkap sifat multidimensional dari fenomena dakwah.111 Pada aspek validasi dan jaminan kualitas, penelitian ini mengembangkan kriteria evaluasi "efektivitas profetik" yang melampaui ukuran konvensional dari keberhasilan persuasif.112 Kriteria yang dikembangkan mencakup indikator untuk mengukur pencapaian humanisasi (peningkatan martabat manusia), liberasi (pembebasan dari struktur opresif), dan transendensi (orientasi spiritual) sebagai hasil dari komunikasi dakwah. Triangulasi yang dilakukan tidak hanya teknis (sumber data ganda) tetapi juga epistemologis (menyeimbangkan perspektif emik dan etik) dan aksiologis (mengintegrasikan dimensi deskriptif dan normatif), sebuah pendekatan yang canggih untuk penelitian yang melibatkan nilai.113 Penelitian ini juga mengembangkan skema pengkodean yang peka budaya untuk menganalisis fitur linguistik dan simbolisme keagamaan dalam konteks dakwah Sunda, berkontribusi pada lokalisasi metodologis dalam studi komunikasi Islam.114 Inovasi-inovasi metodologis ini menyediakan pola yang dapat direplikasi untuk penelitian serupa dalam konteks berbeda, menjawab kebutuhan akan pendekatan yang spesifik konteks namun tetap berdasar teori dalam studi komunikasi Islam. Kontribusi metodologis ini sangat signifikan dalam era di mana studi Islam 111 Mariyatul Norhidayati Rahmah, "Dakwah Retoris Dalam Karya Sastra Novel 'Habibie & Ainun' Karya Bj. Habibie," Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 14, no. 27 (2015): 65-74. 112 Fajar Budiantoro, "Nilai-Nilai Profetik dalam Syair Perahu Karya Hamzah Fansuri" (tesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2022). 113 Abdul Khalim et al., "Literatur Review: Nilai Profetik Pada Metode Kisah Dalam Pendidikan Islam," Diversity: Jurnal Ilmiah Pascasarjana 10, no. 1 (2024): 118-129. 114 Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, A D Kusumaningtyas, and Siswanto Siswanto, "Retorika Dakwah Mama Cianting: Analisis Gaya Dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar," AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam 10, no. 1 (Juni 2023): 123. semakin menuntut ketelitian empiris tanpa kehilangan dimensi spiritual-etis yang melekat dalam subjek kajian. d. Kontribusi Praktis Penelitian Kontribusi praktis penelitian ini terwujud dalam penyediaan model operasional untuk pengembangan strategi dakwah yang integratif dan transformatif dalam konteks Indonesia kontemporer. Kerangka kerja retorika profetik yang dikembangkan dapat diterjemahkan menjadi panduan praktis untuk para dai dalam merancang dan menyampaikan pesan dakwah yang sekaligus persuasif dan transformatif.115 Analisis terhadap praktik dakwah Mama Cianting menghasilkan wawasan konkret tentang bagaimana membangun kredibilitas autentik (ethos), menciptakan resonansi emosional (pathos), dan menyusun argumentasi yang meyakinkan (logos) sambil tetap berorientasi pada misi humanisasi, liberasi, dan transendensi.116 Temuan tentang strategi adaptasi audiens dalam konteks majelis taklim Sunda memberikan pola praktis untuk mengontekstualisasikan pesan Islam universal dalam kerangka budaya lokal, sebuah keterampilan yang krusial untuk efektivitas dakwah dalam masyarakat multikultural Indonesia.117 Penelitian ini juga menyediakan khazanah strategi naratif yang terbukti efektif dalam melibatkan audiens kontemporer yang semakin canggih dan selektif dalam mengonsumsi konten keagamaan. Para praktisi dakwah dapat mengadopsi teknik-teknik spesifik yang diidentifikasi dalam penelitian ini, termasuk penggunaan kearifan lokal, analogi kontemporer, dan dialog interaktif yang menjadi ciri pendekatan Mama Cianting.

Pada tingkat institusional, penelitian ini berkontribusi signifikan untuk pengembangan kurikulum pendidikan dakwah yang lebih holistik dan 115 Aida Hartini Nan et al., "The Application of the Thematic Hadith Method in the Construction of Da'wah Messages," Global Journal Al-Thaqafah 14, no. 2 (2024): 206-216. 116 Lugi Muhammad Nur Latif, "Retorika Dakwah Ustadz Akang Anom pada Akun TikTok @Akanganom313 (Studi Retorika Aristoteles)" (skripsi, UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto, 2024). 117 Zulfahmi et al., "Interfaith Da'wah in Indonesia: A Hermeneutic Perspective on the Hadith of Abu Daud and Bukhari," Pharos Journal of Theology 105, no. 2 (2024). kontekstual. Lembaga pendidikan tinggi Islam dapat mengintegrasikan kerangka kerja retorika profetik dalam mata kuliah komunikasi dakwah, mengatasi kecenderungan saat ini yang memisahkan pengembangan keterampilan dari pembentukan nilai. Majelis-majelis taklim dan organisasi dakwah dapat menggunakan temuan penelitian ini untuk merestrukturisasi program mereka agar lebih efektif dalam mencapai tujuan transformatif dibandingkan sekadar penyebaran informasi.118 Untuk pembuat kebijakan, penelitian ini menyediakan wawasan berbasis bukti tentang peran strategis komunikasi dakwah dalam pembangunan sosial, resolusi konflik, dan pemberdayaan masyarakat, menginformasikan kebijakan yang memanfaatkan komunikasi keagamaan untuk tujuan pembangunan nasional.119 Media Islam dapat mengadopsi prinsip-prinsip retorika profetik dalam pengembangan konten, bergerak melampaui hiburan keagamaan yang dangkal menuju keterlibatan substantif dengan isu-isu kontemporer.120 Pada akhirnya, kontribusi praktis penelitian ini terletak pada potensinya untuk meningkatkan kualitas dan dampak dakwah Indonesia, menjadikannya lebih relevan, menarik, dan transformatif dalam menjawab tantangan masyarakat kontemporer sambil mempertahankan nilai-nilai Islam autentik dan kearifan lokal.

118 E. J. Thaib, "The Communication Strategies for Moderate Islamic Da'wah in Countering Radicalism in Gorontalo City, Indonesia," Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal of Communication 36, no. 4 (2020): 143-156. 119 Hasbi Aswar and Subhan Afifi, "An Analytical Study of the Da'wah Movement of Prophet Muhammad in Relation to Social Movement Theory," Journal of Islamic Thought and Civilization 14, no. 2 (2024): 189-202. 120 Thoriqul Haq and Noor Aqsa Nabila Mat Isa, "From Combating Religious Blasphemy to Promoting Peace: Reflections on the Role of Islamic Da'wah and Law in Indonesia's Pluralistic Society," International Journal of Law and Society 3, no. 2 (2024): 90-109.

BAB III · Metodologi Penelitian — 12.839 kata

A. Paradigma Penelitian

Penelitian tentang "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting" ini mengadopsi paradigma konstruktivisme sosial sebagai landasan filosofis. Paradigma ini, yang dipelopori oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, memandang realitas sosial sebagai hasil konstruksi dinamis yang dibentuk melalui interaksi sosial . Pemilihan ini didasarkan pada sifat fenomena dakwah Mama Cianting, yang dipahami bukan sebagai peristiwa terisolasi, melainkan sebagai fenomena komunikasi yang maknanya dikonstruksi secara sosial melalui interaksi antara dai (Mama Cianting), jamaah (audiens), dan konteks sosio-kultural Sunda yang spesifik .

Berger dan Luckmann menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk melalui proses dialektis tiga momen: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.121 Dalam konteks penelitian ini, retorika profetik Mama Cianting adalah eksternalisasi (ekspresi pemahaman); penerimaan retorika tersebut oleh jamaah sebagai fakta adalah objektivasi; dan penyerapan nilai-nilainya ke dalam perilaku jamaah adalah internalisasi. Proses dialektis ini menjadi kerangka kunci untuk memahami bagaimana retorika profetik dikonstruksi, dimaknai, dan memengaruhi komunitas majelis taklim.

Secara ontologis, paradigma ini memandang realitas dakwah Mama Cianting sebagai realitas yang ganda (multiple) dan relatif, hasil konstruksi para aktor yang terlibat, bukan realitas tunggal yang objektif. Mengutip Guba dan Lincoln, realitas ini adalah "produk dari kecerdasan manusia".122 Implikasi epistemologis-nya, penelitian ini mengadopsi pendekatan transaksional dan 121 Peter L. Berger and Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1966), 61. 122 Egon G. Guba and Yvonna S. Lincoln, "Competing Paradigms in Qualitative Research," in Handbook of Qualitative Research, ed. Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (Thousand Oaks: Sage Publications, 1994), 111. subjektivis. Pemahaman dibangun melalui interaksi antara peneliti sebagai interpreter dengan partisipan. Peneliti berupaya memahami makna subjektif yang dikonstruksi oleh Mama Cianting (terkait implementasi retorika) dan oleh jamaah (terkait pemaknaan mereka).

Implikasi praktisnya, fokus penelitian ini diarahkan pada proses dan makna, yakni bagaimana aspek-aspek retorika (ethos, pathos, logos) digunakan untuk mengartikulasikan dimensi profetik (humanisasi, liberasi, transendensi). Oleh karena itu, paradigma positivisme tidak digunakan, sebab penelitian ini tidak bertujuan mengukur hubungan kausal atau menguji hipotesis, melainkan "memahami dunia melalui pengalaman subjektif" partisipan, sebagaimana ditegaskan Creswell.123 Begitu pula paradigma kritis tidak dipilih, karena fokus utama penelitian adalah pemahaman komprehensif (verstehen) terhadap fenomena retorika profetik. Landasan konstruktivisme ini secara logis mengarahkan penelitian pada pendekatan kualitatif.

B. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sebagai strategi metodologis utama. Pendekatan ini merupakan konsekuensi logis dari paradigma konstruktivisme sosial yang telah diuraikan sebelumnya, yang samasama menekankan pentingnya pemahaman makna subjektif dan konstruksi sosial realitas. Sebagaimana dikemukakan Denzin dan Lincoln, pendekatan kualitatif adalah "aktivitas yang menempatkan peneliti dalam dunia" melalui "serangkaian praktik interpretatif dan material."124 Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang mendalam dan kontekstual mengenai bagaimana retorika profetik diimplementasikan dan dimaknai dalam praktik dakwah Mama Cianting.

123 John W. Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches (Thousand Oaks: Sage Publications, 2013), 24. 124 Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, "Introduction: The Discipline and Practice of Qualitative Research," in Handbook of Qualitative Research, ed. Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (Thousand Oaks: Sage Publications, 2011), 3.

Pemilihan pendekatan kualitatif didasarkan pada tiga pertimbangan fundamental. Pertama, kompleksitas fenomena yang diteliti; retorika profetik adalah fenomena komunikasi holistik yang melibatkan aspek verbal, nonverbal, dan konteks sosio-kultural yang tidak dapat direduksi secara kuantitatif. Kedua, orientasi pada makna; penelitian ini berfokus "mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh individu atau kelompok diatribusikan kepada masalah sosial atau kemanusiaan,"125 bukan mengukur variabel. Makna subjektif tersebut harus dieksplorasi dalam "konteks alami" untuk memperoleh pemahaman utuh tentang "kehidupan nyata."126 Ketiga, penelitian ini berlangsung dalam setting alamiah (Majelis Taklim), bukan lingkungan laboratorium yang terkontrol, sesuai dengan karakteristik studi kualitatif yang naturalistik dan fleksibel.127 Implementasi pendekatan ini memiliki beberapa karakteristik metodologis. Pertama, penelitian dilakukan dalam setting alamiah di Majelis Taklim Al-Aqthob. Kedua, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci (human instrument) yang menggunakan kepekaan teoretis dan interpretasi untuk memahami makna. Ketiga, penelitian menggunakan multiple methods (observasi partisipatif, wawancara mendalam, FGD) untuk memperoleh pemahaman komprehensif. Keempat, analisis data bersifat induktif, di mana peneliti "membangun konsep, hipotesis, dan teori dari rincian," bukan menguji hipotesis yang telah ditetapkan.128 Kelima, fokus utama adalah pada perspektif partisipan untuk memahami fenomena dari sudut pandang mereka, yang kemudian diinterpretasikan oleh peneliti dalam konteks teoretis dan sosiokultural.

125 John W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Thousand Oaks: Sage Publications, 2014), 4. 126 Matthew B. Miles and A. Michael Huberman, Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook (Thousand Oaks: Sage Publications, 1994), 10. 127 Michael Quinn Patton, Qualitative Research & Evaluation Methods (Thousand Oaks: Sage Publications, 2002), 40–41. 128 Sharan B. Merriam, Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation (San Francisco: Jossey-Bass, 2009), 15.

Tujuan penelitian kualitatif ini bukanlah generalisasi statistik ke populasi, melainkan pemahaman mendalam (verstehen) pada kasus spesifik dakwah Mama Cianting. Namun, sebagaimana dikemukakan Yin, temuan ini diharapkan dapat menghasilkan "generalisasi analitis", di mana temuan dapat digunakan untuk memperluas atau mengembangkan teori tentang retorika profetik dalam konteks dakwah lainnya.129 Pendekatan ini diwujudkan melalui metode studi kualitatif untuk menganalisis bagaimana aspek-aspek retorika (ethos, pathos, logos) diimplementasikan untuk mengartikulasikan dimensi profetik (humanisasi, liberasi, transendensi).

C. Metode Penelitian

Untuk menyelami proses konstruksi makna dan realitas sosial yang menjadi inti dari paradigma konstruktivisme, diperlukan sebuah strategi penyelidikan yang interpretatif dan kontekstual. Fenomena retorika profetik Mama Cianting adalah realitas sosial yang kompleks, melibatkan interaksi dinamis antara aspek verbal, non-verbal, dan konteks sosio-kultural yang tidak mungkin direduksi ke dalam variabel-variabel terukur. Penelitian ini tidak hanya tertarik pada "apa" (bentuk) retorika tersebut, tetapi secara mendalam mengeksplorasi "bagaimana" (proses implementasi) dan "mengapa" (makna) fenomena itu dikonstruksi. Karena fokus pada pemaknaan mendalam dan pemahaman proses inilah, metode kualitatif dipilih sebagai strategi utama. Metode ini, sebagaimana didefinisikan Creswell, adalah "proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau manusia,"130 yang memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman holistik tentang bagaimana makna retorika profetik diimplementasikan dan dimaknai oleh dai dan jamaah.

129 Robert K. Yin, Case Study Research: Design and Methods (Thousand Oaks: Sage Publications, 2014), 21. 130 John W. Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Traditions (Thousand Oaks: Sage Publications, 1998), 15.

Pemilihan metode kualitatif juga didasarkan pada tujuannya untuk "mempelajari hal-hal dalam setting alamiahnya,"131 sebuah prasyarat untuk memahami fenomena dakwah Mama Cianting yang terjadi secara natural di Majelis Taklim Al-Aqthob. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk menghasilkan "temuan-temuan dalam konteks, bersituasi, dan spesifik,"132 yang krusial untuk memahami proses konstruksi makna. Lebih lanjut, metode ini memungkinkan pendekatan abduktif melalui "interaksi dialektis antara data dan teori," di mana kerangka teoretis retorika profetik yang telah dibangun dapat diperkaya oleh temuan empiris, sehingga memberikan kontribusi timbal balik pada pengembangan konsep.133 Implementasi metode ini memiliki beberapa karakteristik metodologis utama. Penelitian dilakukan dalam setting alamiah (natural setting), di mana peneliti mengobservasi dan berinteraksi langsung di Majelis Taklim Al-Aqthob, sebab "fenomena mengambil makna mereka sebagian besar dari konteks mereka."134 Dalam proses ini, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci (key instrument), yang secara langsung terlibat dalam interpretasi data, memungkinkannya bersikap responsif terhadap konteks dan memproses data secara holistik.135 Untuk menjamin pemahaman yang komprehensif, penelitian ini juga menggunakan multiple methods (observasi partisipatif, wawancara mendalam, FGD). Penggunaan beragam metode atau triangulasi ini "mencerminkan upaya untuk mengamankan pemahaman yang mendalam tentang fenomena yang diteliti."136 131 Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, "Introduction: The Discipline and Practice of Qualitative Research," in Handbook of Qualitative Research, ed. Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (Thousand Oaks: Sage Publications, 2011), 3. 132 Michael Quinn Patton, Qualitative Research & Evaluation Methods (Thousand Oaks: Sage Publications, 2002), 563. 133 Joseph A. Maxwell, Qualitative Research Design: An Interactive Approach (Thousand Oaks: Sage Publications, 2013), 36. 134 Yvonna S. Lincoln and Egon G. Guba, Naturalistic Inquiry (Beverly Hills: Sage Publications, 1985), 189. 135 Sharan B. Merriam, Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation (San Francisco: Jossey-Bass, 2009), 15. 136 Denzin and Lincoln, "Introduction: The Discipline and Practice," 5.

Proses analisis data dalam metode ini bersifat induktif dan interpretatif. Meskipun dipandu oleh kerangka teoretis, tema dan pola diidentifikasi dari data melalui proses iteratif yang mencakup "reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi,"137 bukan dari hipotesis yang telah ditentukan. Hasil analisis ini kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi yang kaya (thick description). Deskripsi mendalam yang dipopulerkan oleh Geertz ini penting untuk memberikan pemahaman kontekstual tentang bagaimana retorika profetik diimplementasikan.138 Keseluruhan pendekatan ini mempertahankan perspektif holistik yang, menurut Patton, mengasumsikan "keseluruhan adalah lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya,"139 sehingga memungkinkan pemahaman tentang bagaimana berbagai aspek retorika profetik saling terkait dan berinteraksi.

Secara praktis, metode ini diwujudkan melalui tahapan perencanaan, pengumpulan data, analisis data iteratif (simultan dengan pengumpulan data), dan verifikasi temuan (triangulasi, member checking). Laporan akhir penelitian disajikan sebagai narasi yang "kompleks, holistik, dan melibatkan narasi yang kaya" untuk membawa pembaca ke dalam setting penelitian.140 Meskipun tidak bertujuan untuk generalisasi statistik, penelitian ini berupaya mencapai "transferabilitas". Sebagaimana dijelaskan oleh Lincoln dan Guba, transferabilitas memungkinkan temuan dari konteks dakwah Mama Cianting ini dapat memberikan wawasan teoretis yang dapat ditransfer ke konteks lain yang memiliki kemiripan karakteristik, dengan penekanan pada kesesuaian kontekstual.141 137 Matthew B. Miles and A. Michael Huberman, Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook (Thousand Oaks: Sage Publications, 1994), 10. 138 Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 10. 139 Patton, Qualitative Research & Evaluation Methods (2002), 59. 140 ohn W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Thousand Oaks: Sage Publications, 2014), 204. 141 Lincoln and Guba, Naturalistic Inquiry, 316.

D. Jenis Penelitian

Berdasarkan tujuannya, penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif-interpretatif. Tujuan deskriptif berupaya menyajikan gambaran yang akurat dan sistematis mengenai fenomena retorika profetik Mama Cianting . Hal ini mencakup deskripsi detail implementasi ethos (melalui Source Credibility), pathos (melalui Narrative Rationality), dan logos (melalui Audience Adaptation) dalam praktik dakwahnya, baik aspek verbal maupun non-verbal. Sebagaimana ditegaskan Babbie, tujuan deskriptif adalah "menggambarkan situasi atau peristiwa" tanpa berfokus pada hubungan sebabakibat.142 Aspek deskriptif ini dilengkapi dengan tujuan interpretatif, yang selaras dengan paradigma konstruktivisme sosial. Penelitian tidak berhenti pada deskripsi, tetapi berupaya "memberikan makna baru, menerjemahkan, atau membuat yang tidak familiar menjadi familiar". Tujuannya adalah menginterpretasikan makna di balik praktik retorika tersebut dari perspektif Mama Cianting dan jamaah. Hal ini sejalan dengan pandangan Schwartz-Shea dan Yanow bahwa peneliti interpretatif mendekati "dunia yang sudah dipenuhi dengan makna, diciptakan dan dipertahankan oleh manusia."143 Penelitian kualitatif yang bersifat interpretatif ini menekankan "sifat realitas yang terkonstruksi secara sosial [dan] hubungan yang erat antara peneliti dan apa yang diteliti."144 Berdasarkan lokasinya, penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Penelitian dilakukan secara langsung dalam setting alamiah di mana fenomena terjadi secara natural, yakni di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, Purwakarta. Bailey mendefinisikan penelitian lapangan sebagai "studi tentang orang-orang yang bertindak dalam setting 142 Earl Babbie, The Practice of Social Research (Belmont: Wadsworth Publishing, 2010), 92. 143 Peregrine Schwartz-Shea and Dvora Yanow, Interpretive Research Design: Concepts and Processes (New York: Routledge, 2012), 41. 144 Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, "Introduction: The Discipline and Practice of Qualitative Research," in Handbook of Qualitative Research, ed. Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (Thousand Oaks: Sage Publications, 2011), 8. natural dari kehidupan sehari-hari mereka," yang melibatkan "pengumpulan data sistematis tentang perilaku selama interaksi sosial."145 Pendekatan ini krusial untuk mengobservasi praktik dakwah Mama Cianting secara langsung dan memahami konteks sosio-kultural Sunda yang melingkupinya.

Untuk memahami praktik komunikasi dalam konteks kulturalnya, penelitian lapangan ini secara spesifik menggunakan etnografi komunikasi. Pendekatan yang dikembangkan oleh Dell Hymes ini berfokus pada "pola dan praktik komunikasi sebagai bagian dari perilaku kultural dan sosial."146 Penggunaan etnografi komunikasi memungkinkan pemahaman mendalam tentang bagaimana praktik retorika profetik Mama Cianting dibentuk oleh dan sekaligus membentuk konteks budaya Sunda di majelis taklim tersebut .

Dari segi proses analisis, penelitian ini menggunakan pendekatan induktif-abduktif. Analisis induktif berfokus pada identifikasi pola dan tema yang murni berasal dari data lapangan (observasi, wawancara, dokumen), bukan dari teori yang telah ditetapkan sebelumnya.147 Namun, penelitian ini tidak murni induktif. Proses ini dikombinasikan dengan pendekatan abduktif, yang didefinisikan Timmermans dan Tavory sebagai "proses inferensi kreatif yang beranjak dari data ke penjelasan terbaik dari data tersebut."148 Pendekatan abduktif ini memungkinkan peneliti bergerak bolak-balik antara temuan empiris di lapangan dengan kerangka teoretis (retorika profetik) yang telah dibangun di Bab II, sehingga keduanya dapat saling memperkaya.

Kombinasi jenis penelitian deskriptif-interpretatif, penelitian lapangan (etnografi komunikasi), dan analisis induktif-abduktif ini sangat relevan untuk menjawab fokus penelitian . Implikasi metodologisnya adalah penggunaan thick description (deskripsi kaya) dalam penyajian data, kombinasi teknik 145 Carol A. Bailey, A Guide to Field Research (Thousand Oaks: Pine Forge Press, 1996), 2. 146 Dell Hymes, "Models of the Interaction of Language and Social Life," in Directions in Sociolinguistics: The Ethnography of Communication, ed. John J. Gumperz and Dell Hymes (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1972), 35–71. 147 Andy Alaszewski, Using Diaries for Social Research (London: Sage Publications, 2006), 84. 148 Stefan Timmermans and Iddo Tavory, "Theory Construction in Qualitative Research: From Grounded Theory to Abductive Analysis," Sociological Theory 30, no. 3 (2012): 174. pengumpulan data untuk pemahaman holistik, dan analisis yang bersifat iteratif (berkelanjutan). Meskipun tidak bertujuan membangun teori formal atau generalisasi statistik, pemahaman mendalam dari kasus spesifik ini diharapkan dapat menghasilkan "hipotesis kerja" atau transferabilitas. Sebagaimana dinyatakan oleh Lincoln dan Guba, temuan dari konteks ini dapat memberikan wawasan berharga yang dapat ditransfer untuk memahami praktik serupa dalam konteks lain yang memiliki kemiripan.149

E. Objek Penelitian

Penelitian ini memiliki dua jenis objek yang saling melengkapi: objek material dan objek formal. Objek material adalah fenomena konkret yang menjadi sasaran penelitian, yakni praktik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, Purwakarta.150 Objek material ini mencakup empat komponen utama: (1) Konten verbal (materi ceramah, narasi, argumentasi); (2) Aspek non-verbal (intonasi, gestur, ekspresi) yang memperkuat pesan;151 (3) Interaksi dinamis antara dai dan jamaah (tanya jawab, respons), yang menunjukkan proses komunikasi dua arah;152 dan (4) Setting fisik dan sosial (tempat, suasana, konteks kultural) yang memengaruhi praktik dakwah.153 Objek formal penelitian ini adalah retorika profetik, yang berfungsi sebagai perspektif atau kerangka teoretis untuk menganalisis objek material. Retorika profetik ini dioperasionalkan sebagai integrasi antara tiga pilar retorika (ethos, pathos, logos) dengan tiga pilar profetik (humanisasi, liberasi, transendensi) .

149 Yvonna S. Lincoln and Egon G. Guba, Naturalistic Inquiry (Beverly Hills: Sage Publications, 1985), 316. 150 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI Press, 1986), 43. 151 Judee K. Burgoon, Laura K. Guerrero, and Kory Floyd, Nonverbal Communication (Boston: Allyn and Bacon, 2010), 4. 152 Everett M. Rogers and D. Lawrence Kincaid, Communication Networks: Toward a New Paradigm for Research (New York: Free Press, 1981), 63. 153 Dell Hymes, "Models of the Interaction of Language and Social Life," in Directions in Sociolinguistics: The Ethnography of Communication, ed. John J. Gumperz and Dell Hymes (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1972), 59.

Secara lebih spesifik, objek formal ini difokuskan pada tiga persimpangan teoretis. Pertama, aspek ethos yang dianalisis melalui Source Credibility (kredibilitas sumber), yakni bagaimana kompetensi (expertise) dan kepercayaan (trustworthiness) dai digunakan untuk mengartikulasikan nilai profetik.154 Kedua, aspek pathos yang dianalisis melalui Narrative Rationality (rasionalitas naratif), yakni bagaimana narasi dan kisah digunakan untuk membangkitkan emosi guna menanamkan nilai profetik.155 Ketiga, aspek logos yang dianalisis melalui Audience Adaptation (adaptasi audiens), yakni bagaimana argumentasi dan penalaran disesuaikan dengan karakteristik jamaah untuk mengartikulasikan nilai profetik, yang dalam hal ini terkait dengan konsep identifikasi (identification) dari Burke.156 Dimensi profetik yang menjadi orientasi nilai dari objek formal ini— humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minuna billah)—diadopsi dari kerangka Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo.157 Fokus pada integrasi objek material dan formal ini selaras dengan tujuan penelitian untuk menganalisis bagaimana pilar-pilar retorika (E-P-L) diimplementasikan untuk mengartikulasikan pilar-pilar profetik (H-L-T) dalam praktik dakwah Mama Cianting.

Pemilihan objek penelitian ini didasarkan pada tiga pertimbangan utama. Pertama, keunikan kasus; praktik dakwah Mama Cianting yang mengintegrasikan tradisi klasik (kitab kuning) dengan kontekstualisasi budaya Sunda kontemporer menjadikannya "kasus yang kaya informasi" (informationrich case).158 Kedua, efektivitas persuasif; popularitas Mama Cianting yang 154 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. 155 Walter R. Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 5. 156 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. 157 Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007), 87–95. 158 Bent Flyvbjerg, "Five Misunderstandings About Case-Study Research," Qualitative Inquiry 12, no. 2 (2006): 229. mampu menarik ribuan jamaah secara konsisten menunjukkan adanya praktik retorika efektif yang relevan untuk dikaji.

Ketiga, fokus substansi; penekanan dakwah Mama Cianting pada ajaran-ajaran fundamental (seperti thaharah dan shalat) yang sering terlewatkan dalam dakwah populer, menjadikannya menarik untuk diteliti . Praktik ini menjadi contoh konkret respons terhadap tantangan pendangkalan pemahaman keagamaan di era digital.

Meskipun penelitian ini berfokus pada kasus spesifik, tujuannya bukanlah generalisasi statistik. Sesuai pandangan Stake, penelitian studi kasus kualitatif seperti ini bertujuan menghasilkan "generalisasi naturalistik", di mana pemahaman mendalam yang diperoleh dari konteks ini dapat ditransfer dan diterapkan oleh pembaca untuk memahami fenomena serupa dalam situasi mereka sendiri.159

F. Sumber Data Penelitian

Penelitian tentang "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting" menggunakan berbagai sumber data untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang fenomena yang diteliti. Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, penelitian ini mengandalkan multiple sources of evidence, yang menurut Patton, memungkinkan triangulasi data dan meningkatkan validitas temuan.160 Sumber data dalam penelitian ini dikategorikan menjadi dua jenis utama: sumber data primer dan sumber data sekunder.

Sumber data primer adalah data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti dari sumber pertama atau sumber utama, yang memberikan informasi secara langsung tanpa perantara. Sebagaimana dijelaskan oleh Kumar, "sumber data primer adalah sumber yang memberikan data dari tangan pertama berkaitan 159 Robert E. Stake, The Art of Case Study Research (Thousand Oaks: Sage Publications, 1995), 85. 160 Michael Quinn Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods. Thousand Oaks: Sage Publications, 2002, 556. dengan variabel penelitian yang diminati."161 Dalam penelitian ini, sumber data primer mencakup beberapa komponen utama.

Pertama, praktik dakwah Mama Cianting di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting yang diobservasi secara langsung oleh peneliti. Observasi langsung ini mencakup aspek verbal dan non-verbal dakwah, interaksi dengan jamaah, serta setting fisik dan sosial di mana dakwah berlangsung. Data dari observasi langsung ini memungkinkan peneliti untuk memahami bagaimana retorika profetik diimplementasikan dalam praktik dakwah secara real-time. Sebagaimana ditekankan oleh Angrosino, "observasi langsung memungkinkan peneliti untuk melihat 'apa yang sebenarnya terjadi' daripada apa yang dikatakan terjadi," memberikan akses ke data yang tidak tersedia melalui metode lain.162 Kedua, wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) sebagai subjek utama penelitian. Wawancara dengan Mama Cianting bertujuan untuk menggali pemahaman dan perspektifnya tentang praktik dakwah yang dilakukannya, termasuk motivasi, strategi retorika, pilihan tema dan materi, serta nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada jamaah. Wawancara mendalam, menurut Seidman, memungkinkan peneliti untuk "memahami pengalaman orang lain dan makna yang mereka buat dari pengalaman tersebut."163 Melalui wawancara dengan Mama Cianting, peneliti dapat memperoleh insight tentang proses internal di balik praktik retorika profetik dalam dakwahnya.

Ketiga, wawancara mendalam dengan jamaah Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. Wawancara dengan jamaah bertujuan untuk menggali persepsi dan interpretasi mereka terhadap dakwah Mama 161 Ranjit Kumar. Research Methodology: A Step-by-Step Guide for Beginners. London: Sage Publications, 2011, 139. 162 Michael V. Angrosino. Doing Ethnographic and Observational Research. London: Sage Publications, 2007, 37. 163 Irving Seidman. Interviewing as Qualitative Research: A Guide for Researchers in Education and the Social Sciences. New York: Teachers College Press, 2006, 9.

Cianting, termasuk bagaimana mereka memaknai dan merespons pesan-pesan yang disampaikan, serta bagaimana dakwah tersebut memengaruhi pemahaman dan praktik keagamaan mereka. Jamaah yang dipilih sebagai informan mewakili diversitas dalam hal usia, gender, latar belakang pendidikan, dan lama keanggotaan dalam majelis taklim, untuk memperoleh perspektif yang beragam. Fontana dan Frey menekankan bahwa "wawancara kualitatif berupaya memahami subjek dari sudut pandang mereka sendiri,"164 yang dalam konteks ini berarti memahami bagaimana jamaah memaknai dakwah Mama Cianting dari perspektif mereka sendiri.

Keempat, wawancara dengan tokoh masyarakat dan ulama lokal yang memiliki pengetahuan tentang Mama Cianting dan dakwahnya. Wawancara dengan tokoh masyarakat dan ulama lokal bertujuan untuk memperoleh perspektif eksternal tentang karakteristik dan pengaruh dakwah Mama Cianting dalam konteks sosio-religius masyarakat Purwakarta. Tokoh masyarakat dan ulama lokal yang dipilih sebagai informan memiliki pemahaman yang memadai tentang konteks sosio-kultural dan keagamaan di Purwakarta, serta familiar dengan Mama Cianting dan aktivitas dakwahnya di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting.

Kelima, data dari Focus Group Discussion (FGD) dengan kelompok jamaah Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. FGD dilakukan untuk menggali perspektif kolektif dari jamaah tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting. Berbeda dengan wawancara individual, FGD memungkinkan interaksi antar peserta yang dapat menghasilkan data yang lebih kaya tentang dinamika sosial dan konsensus/disensus dalam interpretasi terhadap dakwah. Sebagaimana dijelaskan oleh Morgan, "fokus utama FGD adalah penggunaan interaksi kelompok untuk menghasilkan data dan wawasan 164 Andrea Fontana and James H. Frey. "The Interview: From Neutral Stance to Political Involvement." In The Sage Handbook of Qualitative Research, edited by Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, 705. Thousand Oaks: Sage Publications, 2005. yang tidak akan dapat diakses tanpa interaksi yang ditemukan dalam kelompok."165 Sumber data sekunder adalah data yang sudah tersedia atau data yang dikumpulkan oleh orang lain untuk tujuan lain, tetapi dapat digunakan untuk mendukung penelitian ini. Kumar mendefinisikan sumber data sekunder sebagai "sumber yang memberikan data yang telah dikumpulkan untuk tujuan selain dari masalah yang diteliti saat ini."166 Dalam penelitian ini, sumber data sekunder mencakup beberapa komponen utama.

Pertama, rekaman audio-visual dari sesi dakwah Mama Cianting yang telah berlangsung sebelumnya. Rekaman ini diperoleh dari arsip Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, serta dari platform media sosial seperti YouTube yang mengunggah rekaman dakwah Mama Cianting. Rekaman ini menjadi sumber data penting untuk menganalisis pola-pola retorika profetik yang digunakan dalam dakwah Mama Cianting dari waktu ke waktu, serta untuk mengidentifikasi tema-tema dan topik-topik yang menjadi fokus dakwahnya. Sebagaimana ditekankan oleh Knoblauch, Schnettler, dan Raab, "data audiovisual memungkinkan analisis interaksi yang lebih detail, termasuk penggunaan bahasa, gerakan tubuh, dan konteks spasial."167 Kedua, transkrip ceramah Mama Cianting yang dibuat berdasarkan rekaman audio-visual atau yang telah tersedia sebelumnya. Transkrip ini menjadi sumber data tertulis yang memungkinkan analisis lebih mendalam terhadap konten verbal dakwah, termasuk pilihan kata, struktur argumen, dan penggunaan narasi. Transkrip juga memudahkan proses coding dan analisis tematik terhadap konten dakwah. Sebagaimana dijelaskan oleh Kowal dan O'Connell, "transkrip menyediakan representasi tertulis yang dapat 165 David L. Morgan. Focus Groups as Qualitative Research. Thousand Oaks: Sage Publications, 1997, 2. 166 Ranjit Kumar. Research Methodology: A Step-by-Step Guide for Beginners. London: Sage Publications, 2011, 141. 167 Hubert Knoblauch, Bernt Schnettler, and Jürgen Raab. "Video Analysis: Methodological Aspects of Interpretive Audiovisual Analysis in Social Research." In Video Analysis: Methodology and Methods, edited by Hubert Knoblauch et al., 11. Frankfurt: Peter Lang, 2006. dimanipulasi dan diorganisasikan dengan cara yang tidak mungkin dilakukan dengan data audio asli."168 Ketiga, materi tertulis yang berkaitan dengan Mama Cianting dan dakwahnya, seperti buku, artikel, atau publikasi lain yang ditulis oleh atau tentang Mama Cianting. Materi tertulis ini memberikan konteks dan informasi tambahan tentang pemikiran dan metode dakwah Mama Cianting, yang mungkin tidak terungkap sepenuhnya dalam observasi langsung atau wawancara. Materi tertulis juga dapat memberikan perspektif historis tentang perkembangan dakwah Mama Cianting dari waktu ke waktu.

Keempat, dokumen institusional dari Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, seperti profil majelis taklim, struktur organisasi, jadwal kegiatan, dan data keanggotaan. Dokumen institusional ini memberikan konteks organisasional tentang setting di mana dakwah Mama Cianting berlangsung, serta informasi tentang perkembangan dan dinamika majelis taklim sebagai institusi dakwah. Bowen menekankan bahwa "analisis dokumen sering digunakan dalam kombinasi dengan metode kualitatif lainnya untuk mendukung triangulasi—'menggunakan berbagai sumber data untuk memeriksa temuan penelitian'."169 Kelima, publikasi media tentang Mama Cianting dan dakwahnya, baik dari media cetak, elektronik, maupun online. Publikasi media ini memberikan perspektif publik tentang sosok Mama Cianting dan pengaruh dakwahnya dalam masyarakat yang lebih luas. Publikasi media juga dapat memberikan informasi tentang bagaimana dakwah Mama Cianting direpresentasikan dan diterima oleh publik di luar jamaah langsung Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting.

168 Sabine Kowal and Daniel C. O'Connell. "The Transcription of Conversations." In A Companion to Qualitative Research, edited by Uwe Flick, Ernst von Kardorff, and Ines Steinke, 249. London: Sage Publications, 2004. 169 Glenn A. Bowen. "Document Analysis as a Qualitative Research Method." Qualitative Research Journal 9, no. 2 (2009): 29.

Keenam, literatur akademis tentang retorika, komunikasi persuasif, dakwah, dan ilmu sosial profetik yang relevan dengan konteks penelitian. Literatur akademis ini menyediakan kerangka teoretis dan konseptual untuk memahami dan menganalisis fenomena retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting. Literatur ini mencakup buku, artikel jurnal, disertasi, dan publikasi akademis lainnya yang berkaitan dengan topik penelitian.

Penggunaan berbagai sumber data, baik primer maupun sekunder, memungkinkan penelitian ini untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting. Triangulasi data dari berbagai sumber ini juga meningkatkan validitas temuan penelitian, sebagaimana ditekankan oleh Denzin bahwa "triangulasi sumber data menyiratkan bahwa peneliti mengambil informasi yang berbeda dari sumber yang sama, atau menggunakan berbagai sumber untuk satu kategori informasi."170 Dengan kombinasi sumber data primer yang memberikan akses langsung ke fenomena yang diteliti dan sumber data sekunder yang menyediakan konteks dan perspektif tambahan, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan analisis yang kaya dan nuansa tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting.

Dalam proses pengumpulan data, penelitian ini menerapkan prinsip saturasi data, di mana pengumpulan data dihentikan ketika data baru tidak lagi memberikan informasi tambahan yang signifikan atau ketika pola-pola yang konsisten mulai terlihat. Sebagaimana dijelaskan oleh Glaser dan Strauss, saturasi terjadi ketika "tidak ada data tambahan yang ditemukan di mana peneliti dapat mengembangkan properti kategori."171 Prinsip ini memastikan bahwa jumlah dan jenis data yang dikumpulkan cukup untuk menjawab pertanyaan penelitian, tanpa menjadi berlebihan atau redundan.

170 Norman K. Denzin. The Research Act: A Theoretical Introduction to Sociological Methods. New York: McGraw-Hill, 1978, 295. 171 Barney G. Glaser and Anselm L. Strauss. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine, 1967, 61.

Semua data yang dikumpulkan, baik dari sumber primer maupun sekunder, diorganisasikan dan diarsipkan dengan sistematis menggunakan sistem pengkodean yang memudahkan retrieval dan analisis. Data juga dijaga kerahasiaannya, terutama yang berkaitan dengan identitas informan yang meminta anonimitas, sesuai dengan etika penelitian dan prinsip perlindungan subjek penelitian. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam bagian teknik analisis data.

G. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif, penelitian ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data (multiple methods). Penggunaan triangulasi metodologis ini penting untuk memperkuat validitas temuan kualitatif, sebagaimana dijelaskan Denzin dan Lincoln, "mencerminkan upaya untuk mengamankan pemahaman yang mendalam tentang fenomena yang diteliti."172 Dalam penelitian ini, empat teknik utama digunakan secara simultan: observasi partisipatif, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumentasi.

1. Observasi Partisipatif

Observasi partisipatif merupakan teknik pengumpulan data utama untuk menangkap praktik retorika profetik dalam setting alamiahnya. Peneliti berpartisipasi secara langsung sebagai jamaah dalam minimal lima sesi dakwah Mama Cianting (Januari-Juni 2025), duduk di antara jamaah lain dan mengikuti seluruh rangkaian acara. Pendekatan ini memungkinkan peneliti "berintegrasi ke dalam komunitas sehingga anggota bertindak secara natural."173 Fokus observasi diarahkan pada empat aspek: (1) aspek verbal dakwah (konten, narasi, argumen), (2) aspek non-verbal (gestur, 172 Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, "Introduction: The Discipline and Practice of Qualitative Research," in Handbook of Qualitative Research, ed. Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (Thousand Oaks: Sage Publications, 2011), 5. 173 Barbara B. Kawulich, "Participant Observation as a Data Collection Method," Forum: Qualitative Social Research 6, no. 2 (2005): Art. 43. intonasi, ekspresi), (3) interaksi antara Mama Cianting dan jamaah, serta (4) respons verbal dan non-verbal jamaah. Data dicatat menggunakan pedoman observasi berbasis kerangka teori dan field notes.

2. Wawancara Mendalam (In-depth Interview)

Wawancara mendalam digunakan untuk "mengakses dan memahami dunia subyektif individu, termasuk persepsi, nilai, dan makna yang mereka buat dari pengalaman mereka."174 Wawancara dilakukan dengan format semi-terstruktur, menggunakan pedoman yang fleksibel untuk mengeksplorasi tema-tema emergen.175 Wawancara menyasar tiga kelompok informan: (a) Informan Kunci, yakni K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting), yang diwawancarai minimal tiga kali untuk menggali filosofi dakwah, strategi retorika, dan artikulasi nilai profetiknya ; (b) Informan Utama, yakni jamaah Majelis Taklim Al-Aqthob yang dipilih melalui purposive sampling (mewakili keragaman usia, gender, pendidikan) untuk memahami persepsi dan pemaknaan mereka;176 dan (c) Informan Pendukung, yakni tokoh masyarakat dan ulama lokal untuk memperoleh perspektif eksternal mengenai konteks sosio-religius dakwah Mama Cianting.

3. Focus Group Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) digunakan sebagai teknik komplementer untuk mengumpulkan data melalui "interaksi kelompok pada topik yang ditentukan oleh peneliti."177 Berbeda dengan wawancara individual, FGD bertujuan menggali wawasan mengenai dinamika sosial, norma kelompok, dan proses pembentukan makna kolektif (konsensus/disensus) dalam merespons dakwah Mama Cianting. Tiga sesi 174 Irving Seidman, Interviewing as Qualitative Research: A Guide for Researchers in Education and the Social Sciences (New York: Teachers College Press, 2006), 9. 175 Anne Galletta, Mastering the Semi-Structured Interview and Beyond: From Research Design to Analysis and Publication (New York: New York University Press, 2013), 24. 176 Herbert J. Rubin and Irene S. Rubin, Qualitative Interviewing: The Art of Hearing Data (Thousand Oaks: Sage Publications, 2012), 15. 177 David L. Morgan, Focus Groups as Qualitative Research (Thousand Oaks: Sage Publications, 1997), 6.

FGD dilakukan, masing-masing terdiri dari 6-8 partisipan yang dikelompokkan berdasarkan usia: (a) jamaah muda (18-35 tahun), (b) jamaah paruh baya (36-55 tahun), dan (c) jamaah senior (di atas 55 tahun). Pendekatan ini, sebagaimana ditekankan Krueger dan Casey, sangat efektif untuk memahami "bagaimana dan mengapa orang berpikir seperti yang mereka lakukan,"178 terutama dalam mengeksplorasi perbedaan persepsi antar generasi terhadap retorika profetik.

4. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi dilakukan sebagai "prosedur sistematis untuk meninjau atau mengevaluasi dokumen."179 Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data kontekstual dan melakukan triangulasi terhadap temuan observasi dan wawancara. Dokumen yang dianalisis meliputi: (a) Rekaman audio-visual sesi dakwah sebelumnya dari arsip majelis dan platform media sosial, yang penting untuk "memeriksa detail praktikal dari performa"; (b) Transkrip ceramah untuk analisis mendalam terhadap strategi retoris dan struktur argumen; (c) Dokumen institusional majelis (profil, jadwal) untuk memahami konteks organisasi; dan (d) Publikasi media terkait untuk melihat representasi publik Mama Cianting . Setiap dokumen diperlakukan sebagai artefak sosial yang dianalisis otentisitas dan kredibilitasnya dalam konteks produksi.180 Kombinasi keempat teknik pengumpulan data ini (observasi, wawancara, FGD, dan dokumentasi) memungkinkan triangulasi metodologis yang komprehensif. Sebagaimana ditekankan oleh Flick, strategi triangulasi ini merupakan "strategi paling solid untuk membangun rigor dalam penelitian kualitatif."181 Pendekatan ini memastikan bahwa 178 Richard A. Krueger and Mary Anne Casey, Focus Groups: A Practical Guide for Applied Research (Thousand Oaks: Sage Publications, 2009), 19. 179 Glenn A. Bowen, "Document Analysis as a Qualitative Research Method," Qualitative Research Journal 9, no. 2 (2009): 27. 180 John Scott, A Matter of Record: Documentary Sources in Social Research (Cambridge: Polity Press, 1990), 19–28. 181 Uwe Flick, An Introduction to Qualitative Research (London: Sage Publications, 2014), 183. berbagai dimensi dari retorika profetik—praktik aktual, makna subjektif, dinamika kolektif, dan artefak pendukung—dapat ditangkap secara utuh. Seluruh proses pengumpulan data ini dilaksanakan dengan memegang teguh prinsip etika penelitian, termasuk informed consent dan reflexivity peneliti.

H. Informan Penelitian

Pemilihan informan dalam penelitian kualitatif tentang "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting" merupakan aspek metodologis yang penting karena kualitas dan kedalaman temuan sangat bergantung pada kesesuaian informan dengan tujuan penelitian. Sebagaimana ditekankan oleh Patton, "logika dan kekuatan purposeful sampling terletak pada pemilihan kasus yang kaya informasi untuk studi mendalam," di mana kasus yang kaya informasi adalah "kasus-kasus dari mana seseorang dapat belajar banyak tentang isu-isu yang memiliki kepentingan sentral bagi tujuan penelitian."182 Dengan mempertimbangkan prinsip tersebut, penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih informan yang dapat memberikan data yang kaya dan relevan dengan fokus penelitian.

Informan dalam penelitian ini terdiri dari empat kategori utama: K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) sebagai subjek utama penelitian, jamaah Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, tokoh masyarakat dan ulama lokal, serta pengurus Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. Setiap kategori informan dipilih dengan kriteria spesifik yang relevan dengan peran mereka dalam konteks penelitian dan kontribusi data yang diharapkan dari mereka.

K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) merupakan informan kunci (key informant) dalam penelitian ini karena posisinya sebagai subjek utama yang praktik dakwahnya menjadi fokus penelitian. Marshall mendefinisikan informan kunci sebagai "sumber data yang penting yang mampu memberikan wawasan yang signifikan tentang fenomena yang 182 Michael Quinn Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods. Thousand Oaks: Sage Publications, 2002, 230. diteliti."183 Sebagai dai yang mempraktikkan retorika profetik dalam dakwahnya, Mama Cianting dapat memberikan data yang mendalam tentang filosofi, strategi, dan nilai-nilai yang mendasari praktik dakwahnya.

Wawancara dengan Mama Cianting dilakukan dalam tiga sesi terpisah dengan fokus yang berbeda. Sesi pertama berfokus pada latar belakang personal dan intelektual, termasuk pendidikan, pengalaman, dan tradisi keilmuan yang membentuk perspektif dan metode dakwahnya. Sesi kedua berfokus pada aspek-aspek retorika dalam dakwahnya, termasuk bagaimana ia membangun kredibilitas (ethos), menggunakan narasi dan emosi (pathos), serta mengembangkan argumentasi dan adaptasi terhadap audiens (logos). Sesi ketiga berfokus pada dimensi profetik dalam dakwahnya, termasuk bagaimana ia mengartikulasikan nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi kepada jamaah.

Pemilihan Mama Cianting sebagai informan kunci didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, keunikan praktik dakwahnya yang menggabungkan tradisi keilmuan Islam klasik dengan kontekstualisasi dalam realitas masyarakat Sunda kontemporer. Kedua, popularitas dan pengaruhnya di kalangan masyarakat Purwakarta dan sekitarnya, yang tercermin dari ribuan jamaah yang hadir di setiap sesi dakwahnya. Ketiga, fokus dakwahnya pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang sering terlewatkan dalam dakwah kontemporer. Keunikan, popularitas, dan fokus dakwah ini menjadikan Mama Cianting sebagai kasus yang menarik untuk memahami bagaimana retorika profetik diimplementasikan dalam konteks lokal yang spesifik.

Jamaah Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting merupakan kategori informan kedua dalam penelitian ini. Jamaah dipilih sebagai informan karena posisi mereka sebagai audiens dari dakwah Mama Cianting, yang dapat memberikan data tentang bagaimana retorika profetik dalam dakwah tersebut diresepsi, dimaknai, dan memengaruhi pemahaman 183 Catherine Marshall. "The Key Informant Technique." Family Practice 13, no. 1 (1996): 92. serta praktik keagamaan mereka. Sebagaimana ditekankan oleh Stuart Hall dalam teori encoding/decoding, "makna tidak 'dikirim' tetapi 'diproduksi' oleh penerima pesan,"184 sehingga perspektif jamaah sebagai penerima pesan dakwah penting untuk memahami bagaimana retorika profetik bekerja dalam konteks komunikasi persuasif keagamaan.

Jamaah yang dipilih menggunakan teknik maximum variation sampling untuk mewakili diversitas jamaah dalam hal usia, gender, latar belakang pendidikan, dan lama keanggotaan dalam majelis taklim. Menurut Patton, maximum variation sampling bertujuan untuk "menangkap dan mendeskripsikan tema sentral atau hasil utama yang memotong lintas berbagai variasi."185 Dengan memilih jamaah yang beragam karakteristiknya, penelitian ini dapat mengidentifikasi pola-pola umum dalam resepsi terhadap retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting, sekaligus memahami bagaimana faktor-faktor demografis dan sosio-kultural memengaruhi variasi dalam resepsi tersebut.

Kriteria pemilihan jamaah sebagai informan mencakup beberapa aspek. Pertama, jamaah reguler yang secara rutin menghadiri sesi dakwah Mama Cianting di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, minimal selama 1 tahun terakhir. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa informan memiliki pengalaman dan pemahaman yang cukup tentang pola dan karakteristik dakwah Mama Cianting. Sebagaimana dijelaskan oleh Spradley, informan yang baik adalah "mereka yang terlibat dalam budaya yang diteliti setidaknya selama satu tahun."186 Kedua, diversitas dalam hal usia, dengan kategori jamaah muda (18-35 tahun), paruh baya (36-55 tahun), dan senior (di atas 55 tahun). Diversitas usia 184 Stuart Hall. "Encoding/Decoding." In Culture, Media, Language, edited by Stuart Hall et al., 128-

138. London: Hutchinson, 1980.

185 Michael Quinn Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods. Thousand Oaks: Sage Publications, 2002, 235. 186 James P. Spradley. The Ethnographic Interview. New York: Holt, Rinehart and Winston, 1979, 46. ini penting untuk memahami bagaimana generasi yang berbeda meresepsi dan memaknai retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting, serta bagaimana faktor generasional memengaruhi resepsi terhadap pesan-pesan dakwah. Ketiga, diversitas dalam hal gender, dengan proporsi yang seimbang antara jamaah laki-laki dan perempuan. Diversitas gender ini penting untuk memahami bagaimana faktor gender memengaruhi resepsi dan pemaknaan terhadap pesan-pesan dakwah, terutama yang berkaitan dengan isu-isu gender dan relasi keluarga.

Keempat, diversitas dalam hal latar belakang pendidikan, mencakup jamaah dengan pendidikan dasar (SD/SMP), menengah (SMA/SMK), dan tinggi (diploma/sarjana). Diversitas pendidikan ini penting untuk memahami bagaimana tingkat literasi dan kapasitas kognitif memengaruhi pemahaman terhadap pesan-pesan dakwah, terutama yang berkaitan dengan konsep-konsep kompleks dalam ajaran Islam. Kelima, diversitas dalam hal lama keanggotaan dalam majelis taklim, mencakup jamaah baru (1-3 tahun), menengah (4-10 tahun), dan lama (lebih dari 10 tahun). Diversitas ini penting untuk memahami bagaimana eksposur jangka panjang terhadap dakwah Mama Cianting memengaruhi pemahaman dan praktik keagamaan jamaah.

Tokoh masyarakat dan ulama lokal merupakan kategori informan ketiga dalam penelitian ini. Mereka dipilih sebagai informan karena posisi mereka yang dapat memberikan perspektif eksternal tentang karakteristik dan pengaruh dakwah Mama Cianting dalam konteks sosio-religius masyarakat Purwakarta. Sebagaimana dijelaskan oleh Bernard, perspektif eksternal atau "outsider perspective" penting untuk memberikan "pandangan yang lebih luas dan kontekstual tentang fenomena yang diteliti."187 Tokoh masyarakat dan ulama lokal yang dipilih sebagai informan, dipilih berdasarkan beberapa kriteria. Pertama, memiliki pengetahuan yang memadai tentang konteks sosio-kultural dan keagamaan di Purwakarta, 187 H. Russell Bernard. Research Methods in Anthropology: Qualitative and Quantitative Approaches. Lanham: AltaMira Press, 2011, 258. khususnya di sekitar Cianting. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa informan dapat memberikan perspektif yang informed tentang posisi dan peran Mama Cianting dalam lanskap sosio-religius lokal. Kedua, mengenal atau familiar dengan Mama Cianting dan aktivitas dakwahnya di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa informan dapat memberikan data yang berbasis pengalaman dan pengamatan langsung, bukan hanya spekulasi atau informasi second-hand.

Ketiga, memiliki posisi atau peran tertentu di masyarakat, seperti tokoh agama (kiai, ustadz), pemimpin organisasi kemasyarakatan, tokoh pendidikan, atau pejabat pemerintah lokal. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa informan memiliki kredibilitas dan otoritas untuk memberikan perspektif tentang fenomena sosio-religius di masyarakat. Keempat, diversitas dalam hal afiliasi keagamaan atau organisasi, untuk mendapatkan perspektif yang beragam tentang praktik dakwah Mama Cianting.

Pengurus Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting merupakan kategori informan keempat dalam penelitian ini. Mereka dipilih sebagai informan karena posisi mereka yang dapat memberikan data tentang aspek institusional dari majelis taklim sebagai setting di mana dakwah Mama Cianting berlangsung. Sebagaimana dijelaskan oleh Lincoln dan Guba, "konteks merupakan aspek penting dalam penelitian kualitatif karena fenomena hanya dapat dipahami dalam konteksnya,"188 dan pengurus majelis taklim dapat memberikan data tentang konteks institusional tersebut.

Pengurus Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting yang dipilih sebagai informan, dipilih berdasarkan beberapa kriteria. Pertama, memiliki posisi sebagai pengurus di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob Cianting, seperti ketua, sekretaris, bendahara, atau koordinator bidang. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa informan memiliki akses ke informasi institusional yang relevan dengan penelitian. Kedua, telah terlibat 188 Yvonna S. Lincoln and Egon G. Guba. Naturalistic Inquiry. Beverly Hills: Sage Publications, 1985, 189. dalam kepengurusan Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting minimal selama 3 tahun. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa informan memiliki pengalaman dan pemahaman yang cukup tentang dinamika dan perkembangan majelis taklim.

Ketiga, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sejarah, struktur, dan aktivitas Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa informan dapat memberikan data yang komprehensif tentang konteks institusional di mana dakwah Mama Cianting berlangsung. Keempat, terlibat langsung dalam penyelenggaraan sesi dakwah Mama Cianting. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa informan memiliki pemahaman dari dalam tentang proses dan dinamika penyelenggaraan dakwah Mama Cianting.

Dalam proses rekrutmen informan, peneliti menggunakan beberapa strategi. Untuk jamaah Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, rekrutmen dilakukan dengan bantuan pengurus majelis taklim yang mengenalkan peneliti kepada jamaah potensial yang memenuhi kriteria. Setelah diperkenalkan, peneliti menjelaskan tujuan penelitian kepada calon informan, meminta kesediaan mereka untuk berpartisipasi, dan menjamin kerahasiaan identitas informan yang meminta anonimitas. Untuk tokoh masyarakat dan ulama lokal, rekrutmen dilakukan melalui jaringan profesional peneliti di Purwakarta, serta rekomendasi dari informan lain (snowball sampling). Untuk pengurus Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, rekrutmen dilakukan melalui pendekatan formal kepada ketua majelis taklim, yang kemudian membantu menghubungkan peneliti dengan pengurus lain yang relevan.

Semua informan yang terlibat dalam penelitian ini diberikan informed consent yang menjelaskan tujuan penelitian, apa yang diharapkan dari partisipasi mereka, bagaimana data akan digunakan, serta hak mereka untuk mengundurkan diri dari penelitian atau menolak menjawab pertanyaan tertentu. Sebagaimana ditekankan oleh Brinkmann dan Kvale, "informed consent melibatkan pemberitahuan kepada partisipan penelitian tentang tujuan penelitian secara keseluruhan, fitur-fitur utama desain, dan kemungkinan risiko dan manfaat dari partisipasi dalam proyek penelitian."189 Informed consent ini diberikan dalam bentuk tertulis dan dijelaskan secara verbal untuk memastikan pemahaman yang jelas tentang implikasi dari partisipasi dalam penelitian.

Jumlah total informan dalam penelitian ini diperkirakan sekitar 22-31 orang, yang mencakup 1 informan kunci (Mama Cianting), 15-20 jamaah, 3-5 tokoh masyarakat dan ulama lokal, serta 3-5 pengurus Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. Jumlah ini bersifat tentatif dan dapat disesuaikan berdasarkan prinsip saturasi data, yaitu ketika data baru tidak lagi memberikan informasi tambahan yang signifikan atau ketika pola-pola yang konsisten mulai terlihat. Sebagaimana dijelaskan oleh Glaser dan Strauss, saturasi terjadi ketika "tidak ada data tambahan yang ditemukan di mana peneliti dapat mengembangkan properti kategori."190 Untuk memastikan kredibilitas data yang diperoleh dari informan, penelitian ini menerapkan beberapa strategi. Pertama, triangulasi sumber, dengan membandingkan data dari berbagai kategori informan untuk memperoleh perspektif yang lebih komprehensif dan tervalidasi tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting. Kedua, member checking, dengan meminta informan untuk mereview transkripsi wawancara atau interpretasi awal untuk memastikan akurasi representasi. Ketiga, prolonged engagement, dengan mengembangkan rapport dan hubungan kepercayaan dengan informan melalui interaksi yang berkelanjutan selama periode penelitian.

Dalam representasi dan analisis data dari informan, penelitian ini memperhatikan aspek etis dalam penggunaan kutipan dan atribusi. Informan 189 Steinar Brinkmann and Svend Kvale. InterViews: Learning the Craft of Qualitative Research Interviewing. Thousand Oaks: Sage Publications, 2015, 93. 190 Barney G. Glaser and Anselm L. Strauss. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine, 1967, 61. yang meminta anonimitas akan direferensikan menggunakan pseudonim atau deskriptor generik (misalnya, "jamaah perempuan, 45 tahun"), sementara informan yang memberikan izin akan direferensikan dengan nama asli atau gelar resmi mereka. Kutipan dari informan disajikan verbatim untuk mempertahankan otentisitas suara mereka, dengan penyesuaian minimal untuk kejelasan (misalnya, menghilangkan pengulangan kata atau filler words) yang tidak mengubah substansi atau nuansa dari pernyataan mereka.

Dengan pemilihan informan yang strategis dan beragam, penelitian ini diharapkan dapat memperoleh data yang kaya dan komprehensif tentang retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting, baik dari perspektif dai sendiri, jamaah sebagai audiens, tokoh masyarakat dan ulama lokal sebagai observer eksternal, maupun pengurus majelis taklim sebagai fasilitator institusional. Diversitas perspektif ini penting untuk memahami kompleksitas fenomena retorika profetik dalam dakwah dan bagaimana fenomena tersebut dipahami dan dimaknai oleh berbagai pihak yang terlibat.

I. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan proses yang dinamis dan interpretif, bukan sekadar teknik mekanistik yang dapat dipisahkan dari orientasi teoretis penelitian.191 Dalam konteks penelitian tentang "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting," teknik analisis data dilakukan dalam kerangka paradigma konstruktivisme sosial dengan pendekatan deskriptifinterpretatif. Proses analisis dimulai sejak tahap pengumpulan data dan berlangsung secara iteratif-siklikal sepanjang penelitian, mengikuti model analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Miles, Huberman, dan 191 Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln. The SAGE Handbook of Qualitative Research. 5th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2018, 43-45.

Saldaña.192 Selain itu, analisis ini juga memanfaatkan perangkat lunak NVivo untuk mendukung proses pengkodean dan analisis tematik secara sistematis.193

1. Proses Analisis Data

Penelitian ini mengadopsi model analisis data interaktif (interactive model) yang terdiri dari empat komponen yang saling terkait: a. Pengumpulan Data (Data Collection) Tahap pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Untuk menghasilkan data yang komprehensif, proses pengumpulan data dirancang dengan mempertimbangkan dimensi teoretis dari retorika profetik, yang mengintegrasikan aspek retorika klasik/modern (ethos, pathos, logos) dengan dimensi profetik (humanisasi, liberasi, transendensi). Sebagaimana ditekankan oleh Creswell, dalam penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme, pengumpulan data tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari analisis data.194 Proses refleksi analitis telah dimulai sejak observasi pertama dan wawancara awal dengan Mama Cianting dan jamaah di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. b. Kondensasi Data (Data Condensation) Kondensasi data merupakan proses seleksi, fokus, penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data yang diperoleh dari catatan lapangan, transkrip wawancara, dan dokumen. Berbeda dengan reduksi data yang berkonotasi pengurangan, kondensasi data menekankan pada penguatan dan fokus data.195 Dalam penelitian ini, kondensasi data dilakukan melalui beberapa tahapan yang didukung oleh NVivo:196 192 Matthew B. Miles, A. Michael Huberman, and Johnny Saldaña. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. 4th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2019, 33-37. 193 Philip Bazeley, Qualitative Data Analysis: Practical Strategies (London: SAGE Publications, 2013), 143. 194 John W. Creswell and Cheryl N. Poth. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. 4th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2018, 181-183. 195 Miles, Huberman, and Saldaña. Qualitative Data Analysis, 31-33. 196 QSR International, NVivo: The Essential Guide for Qualitative Data Analysis Software (Melbourne: QSR International Pty Ltd, 2020), 57.

1) Coding Proses coding dilakukan dengan mengidentifikasi unit-unit bermakna dalam data yang dikaitkan dengan aspek retorika profetik. NVivo memungkinkan pengkodean secara sistematis dan terstruktur, mengorganisir data dalam kategori yang lebih mudah dianalisis. Mengadaptasi teknik coding yang dikembangkan oleh Saldaña, penelitian ini menggunakan tiga level coding:197 a) Open Coding (Coding Terbuka): Mengidentifikasi konsep-konsep kunci dan kategori awal dari data. b) Axial Coding (Coding Aksial): Menghubungkan kategori dan subkategori dalam skema yang lebih terstruktur, mengidentifikasi pola hubungan antar kategori. c) Selective Coding (Coding Selektif): Mengintegrasikan dan menyempurnakan kategori untuk mengembangkan narasi teoretis yang koheren tentang fenomena retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting.

Proses coding mempertimbangkan matriks teoretis yang mengintegrasikan tiga aspek retorika (ethos, pathos, logos) dengan tiga dimensi profetik (humanisasi, liberasi, transendensi), sehingga menghasilkan sembilan dimensi analitis sebagaimana dijelaskan dalam kerangka teoretis penelitian. Proses coding ini dapat dilakukan dengan lebih efisien menggunakan NVivo yang memungkinkan penataan data berdasarkan tema dan kategori secara otomatis.

2) Analisis Tematik Analisis tematik diterapkan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan melaporkan pola-pola (tema) dalam data.198 Tema-tema yang diidentifikasi dikaitkan dengan manifestasi aspek ethos (Source 197 Johnny Saldaña. The Coding Manual for Qualitative Researchers. 4th ed. London: SAGE Publications, 2021, 55-71. 198 Virginia Braun and Victoria Clarke. "Using Thematic Analysis in Psychology." Qualitative Research in Psychology 3, no. 2 (2006): 77-101.

Credibility), pathos (Narrative Rationality), dan logos (Audience Adaptation) dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi. Proses analisis tematik mengikuti tahapan yang direkomendasikan oleh Braun dan Clarke:199 a) Familiarisasi dengan data b) Menghasilkan kode awal c) Mencari tema d) Mengulas tema e) Mendefinisikan dan menamai tema f) Menyusun laporan NVivo akan mendukung proses analisis tematik ini dengan fitur-fitur yang memungkinkan pencarian dan pengelompokan tema secara lebih efisien.200 3) Analisis Retorika Khusus untuk aspek retorika dalam dakwah Mama Cianting, penelitian ini mengadopsi metode analisis retorika yang dikembangkan oleh Foss, yang meliputi:201 a) Identifikasi aspek ethos melalui Source Credibility: Bagaimana kredibilitas Mama Cianting sebagai komunikator dibangun dan dipersepsikan dalam konteks dakwah. b) Analisis aspek pathos melalui Narrative Rationality: Bagaimana narasi, kisah, dan perumpamaan digunakan dalam dakwah untuk membangun koneksi emosional dan rasionalitas naratif.

199 Virginia Braun and Victoria Clarke. Using Thematic Analysis in Psychology, 86-93. 200 Virginia Braun and Victoria Clarke, "Using thematic analysis in psychology," Qualitative Research in Psychology 3, no. 2 (2006): 84. 201 Sonja K. Foss. Rhetorical Criticism: Exploration and Practice. 5th ed. Long Grove, IL: Waveland Press, 2018, 21-30. c) Evaluasi aspek logos melalui Audience Adaptation: Bagaimana argumen dan pesan dakwah diadaptasikan sesuai dengan karakteristik jamaah.

Proses ini juga dapat didukung oleh NVivo dengan memanfaatkan fitur visualisasi data, seperti model jaringan semantik untuk mengidentifikasi hubungan antara konsep-konsep dalam analisis retorika. c. Penyajian Data (Data Display) Penyajian data dilakukan dalam bentuk teks naratif, matriks, grafik, diagram, dan tabel yang dirancang untuk mengorganisasikan informasi secara sistematis sehingga memudahkan penarikan kesimpulan dan tindakan.202 Dalam penelitian ini, penyajian data dirancang untuk menunjukkan:

1) Matriks integrasi aspek retorika (ethos, pathos, logos) dengan dimensi profetik (humanisasi, liberasi, transendensi)

2) Diagram alur proses retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting 3) Tabel kategorisasi tema-tema dakwah berdasarkan dimensi profetik 4) Jaringan semantik yang menunjukkan hubungan antar konsep dalam konstruksi retorika profetik 5) Penarikan dan Verifikasi Kesimpulan (Conclusion Drawing/Verification)

Penarikan kesimpulan dilakukan melalui proses interpretasi makna dari data yang telah dianalisis, dengan tetap mempertimbangkan kerangka teoretis retorika profetik. Kesimpulan awal bersifat tentatif dan terus disempurnakan melalui verifikasi sepanjang proses penelitian.203 Verifikasi dilakukan melalui:

1) Triangulasi sumber dan metode 2) Member checking dengan informan kunci 202 Miles, Huberman, and Saldaña. Qualitative Data Analysis, 105-120. 203 Miles, Huberman, and Saldaña. Qualitative Data Analysis, 275-293.

3) Diskusi dengan peer reviewer yang memiliki keahlian dalam bidang komunikasi Islam dan ilmu dakwah 4) Analisis kasus negatif yang mungkin bertentangan dengan pola yang ditemukan NVivo juga dapat digunakan dalam tahap ini untuk mendukung triangulasi data dan memverifikasi tema serta kesimpulan yang ditemukan, dengan memberikan visualisasi data yang lebih jelas dan terstruktur.204

2. Kerangka Analisis Spesifik

Untuk menjawab pertanyaan penelitian yang spesifik tentang implementasi aspek ethos melalui Source Credibility, pathos melalui Narrative Rationality, dan logos melalui Audience Adaptation dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi, digunakan kerangka analisis spesifik sebagai berikut: a. Analisis Aspek Ethos melalui Source Credibility Analisis aspek ethos berfokus pada bagaimana kredibilitas Mama Cianting sebagai dai dibangun dan dipersepsikan dalam konteks dakwah. Mengadaptasi model Source Credibility yang dikembangkan oleh McCroskey, analisis dilakukan dengan mengidentifikasi lima dimensi ethos:205 1) Dimensi kompetensi (competence): Penguasaan ilmu keislaman, kemampuan memberikan dalil, dan kontekstualisasi ajaran.

2) Dimensi karakter (character): Integritas, kejujuran, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan.

3) Dimensi kharisma (charisma): Daya tarik personal dan kemampuan menginspirasi.

204 Miles B. Miles, A. Michael Huberman, and Johnny Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (Los Angeles: SAGE Publications, 2014), 199. 205 James C. McCroskey. "Scales for the Measurement of Ethos." Speech Monographs 33, no. 1 (1966): 65-72.

4) Dimensi ketenangan (composure): Kemampuan mengendalikan emosi dan menjaga stabilitas dalam berbagai situasi.

5) Dimensi sosiabilitas (sociability): Kemampuan membangun koneksi sosial dan empati dengan jamaah. Hasil analisis ini kemudian dikaitkan dengan bagaimana aspek ethos tersebut berperan dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi. b. Analisis Aspek Pathos melalui Narrative Rationality Analisis aspek pathos berfokus pada bagaimana narasi, kisah, dan perumpamaan digunakan dalam dakwah untuk membangun koneksi emosional dan rasionalitas naratif. Mengadaptasi teori Narrative Paradigm yang dikembangkan oleh Fisher, analisis dilakukan dengan mengidentifikasi:206 1) Koherensi narasi (narrative coherence): Bagaimana kisah, metafora, dan perumpamaan yang digunakan dalam dakwah memiliki struktur internal yang logis dan konsisten. 2) Kesetiaan narasi (Narrative Fidelity): Bagaimana narasi yang digunakan beresonansi dengan pengalaman hidup dan nilai-nilai jamaah. 3) Fungsi didaktik narasi: Bagaimana narasi digunakan untuk menjelaskan konsep kompleks menjadi lebih mudah dipahami. 4) Fungsi persuasif narasi: Bagaimana narasi digunakan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku jamaah.

Hasil analisis ini kemudian dikaitkan dengan bagaimana aspek pathos tersebut berperan dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi.

206 Walter R. Fisher. "Narration as a Human Communication Paradigm: The Case of Public Moral Argument." Communication Monographs 51, no. 1 (1984): 1-22. c. Analisis Aspek Logos melalui Audience Adaptation Analisis aspek logos berfokus pada bagaimana argumen dan pesan dakwah diadaptasikan sesuai dengan karakteristik jamaah. Mengadaptasi teori Audience Adaptation yang dikembangkan oleh Perelman dan Olbrechts-Tyteca, analisis dilakukan dengan mengidentifikasi:207 1) Adaptasi konten: Bagaimana materi dakwah disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan jamaah.

2) Adaptasi bahasa: Penggunaan bahasa, idiom, dan istilah yang sesuai dengan latar belakang sosio-kultural jamaah.

3) Adaptasi argumentasi: Struktur dan pola argumentasi yang disesuaikan dengan cara berpikir jamaah.

4) Adaptasi kontekstual: Pengaitan materi dakwah dengan konteks sosial, ekonomi, dan kultural jamaah.

Hasil analisis ini kemudian dikaitkan dengan bagaimana aspek logos tersebut berperan dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi. d. Analisis Integratif Untuk mengintegrasikan ketiga aspek analisis di atas, penelitian ini mengadopsi pendekatan hermeneutik yang dikembangkan oleh Gadamer, yang menekankan pada "fusion of horizons" (peleburan cakrawala) antara teks, konteks, dan interpreter.208 Dalam konteks penelitian ini, "teks" adalah konten dakwah Mama Cianting, "konteks" adalah situasi sosio-kultural Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting, dan "interpreter" mencakup peneliti, Mama Cianting sendiri, dan jamaah. Melalui pendekatan hermeneutik ini, penelitian berupaya mengungkap 207 Chaïm Perelman and Lucie Olbrechts-Tyteca. The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation. Translated by John Wilkinson and Purcell Weaver. Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969, 17-45. 208 Hans-Georg Gadamer. Truth and Method. Revised ed. Translated by Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall. London: Bloomsbury Academic, 2013, 301-317. bagaimana retorika profetik dikonstruksi, diinterpretasi, dan dinegosiasikan dalam proses interaksi dakwah.

Dengan mengintegrasikan berbagai teknik analisis di atas, penelitian ini berupaya menghasilkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang bagaimana aspek ethos, pathos, dan logos diimplementasikan dalam mengartikulasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam retorika profetik dakwah Mama Cianting di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting.

J. Teknik Keabsahan Data

Keabsahan data dalam penelitian kualitatif merupakan aspek krusial yang menentukan kredibilitas dan kualitas temuan penelitian. Lincoln dan Guba, sebagai pionir dalam pengembangan paradigma naturalistik untuk penelitian kualitatif, mengemukakan bahwa kriteria keabsahan data dalam paradigma konstruktivisme berbeda secara fundamental dengan kriteria validitas dan reliabilitas dalam paradigma positivistik.209 Dalam konteks penelitian "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting" yang menggunakan paradigma konstruktivisme sosial, keabsahan data diupayakan melalui beberapa teknik yang selaras dengan asumsi epistemologis dan metodologis penelitian.

1. Kriteria Keabsahan Data

Mengadaptasi kriteria Trustworthiness yang dikembangkan oleh Lincoln dan Guba,210 penelitian ini menggunakan empat kriteria utama untuk menjamin keabsahan data: a. Kredibilitas (Credibility) Kredibilitas mengacu pada tingkat kepercayaan terhadap kebenaran temuan penelitian. Dalam paradigma konstruktivisme sosial, kredibilitas berkaitan dengan sejauh mana konstruksi makna yang dihasilkan peneliti 209 Yvonna S. Lincoln and Egon G. Guba. Naturalistic Inquiry. Beverly Hills, CA: SAGE Publications, 1985, 289-331. 210 I Yvonna S. Lincoln and Egon G. Guba. Naturalistic Inquiry, 301-327. sesuai dengan realitas yang dikonstruksi oleh partisipan penelitian.211 Untuk memastikan kredibilitas data dalam penelitian ini, digunakan beberapa teknik: 1) Triangulasi Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data tersebut.212 Dalam penelitian ini, triangulasi dilakukan melalui empat cara: a) Triangulasi Sumber: Membandingkan dan mengecek kembali derajat kepercayaan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, meliputi: Perbandingan perspektif Mama Cianting sebagai dai dengan perspektif jamaah yang berbeda latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan Perbandingan perspektif jamaah reguler dengan jamaah insidental Perbandingan perspektif pengurus Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting dengan jamaah umum Perbandingan perspektif ulama/dai lain tentang dakwah Mama Cianting b) Triangulasi Metode: Menggunakan berbagai metode pengumpulan data untuk menguji konsistensi informasi, meliputi: Perbandingan data hasil observasi partisipatif dengan data hasil wawancara Perbandingan data hasil wawancara dengan data dokumentasi audiovisual dakwah Perbandingan transkrip dakwah dengan catatan lapangan 211 Egon G. Guba and Yvonna S. Lincoln. "Competing Paradigms in Qualitative Research." In Handbook of Qualitative Research, edited by Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, 105-117. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 1994. 212 Norman K. Denzin. Sociological Methods: A Sourcebook. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 2006, 291-302. c) Triangulasi Peneliti: Melibatkan beberapa peneliti atau pengamat independen untuk mengurangi bias dalam pengumpulan dan analisis data, meliputi: Kolaborasi dengan dua asisten peneliti yang memiliki latar belakang keilmuan berbeda (ilmu komunikasi dan studi Islam) dalam proses observasi dan wawancara Diskusi interpretasi data dengan pembimbing akademik dan pakar dalam bidang komunikasi Islam d) Triangulasi Teoretis: Menggunakan berbagai perspektif teoretis untuk menginterpretasi satu set data, meliputi: Analisis data melalui perspektif retorika klasik/modern Analisis data melalui perspektif Ilmu Sosial Profetik Analisis data melalui perspektif komunikasi dakwah tradisional Sebagaimana dikemukakan oleh Denzin, triangulasi multipel (multiple triangulation) yang mengkombinasikan berbagai jenis triangulasi dapat meningkatkan kredibilitas temuan penelitian secara signifikan.213 2) Member Checking Member checking merupakan proses verifikasi data, kategori analitis, interpretasi, dan kesimpulan dengan partisipan penelitian.214 Dalam penelitian ini, member checking dilakukan melalui: a) Verifikasi transkrip wawancara dengan informan untuk memastikan akurasi b) Konfirmasi interpretasi awal dengan Mama Cianting untuk mendapatkan klarifikasi dan elaborasi 213 Norman K. Denzin. The Research Act: A Theoretical Introduction to Sociological Methods. New Brunswick, NJ: AldineTransaction, 2009, 297-313. 214 John W. Creswell and Dana L. Miller. "Determining Validity in Qualitative Inquiry." Theory Into Practice 39, no. 3 (2000): 124-130. c) Diskusi temuan preliminer dengan jamaah inti untuk mendapatkan umpan balik Presentasi temuan penelitian kepada pengurus Majelis Taklim &

Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting untuk mendapatkan tanggapan dan koreksi Proses member checking tidak hanya berfungsi untuk memverifikasi akurasi data, tetapi juga memberikan kesempatan bagi partisipan untuk mengelaborasi, memperjelas, atau merevisi perspektif mereka, sesuai dengan prinsip ko-konstruksi pengetahuan dalam paradigma konstruktivisme sosial.215 3) Prolonged Engagement dan Persistent Observation Keterlibatan jangka panjang (prolonged engagement) dan observasi persisten (persistent observation) merupakan teknik untuk membangun kepercayaan dengan partisipan dan memahami konteks penelitian secara mendalam.216 Dalam penelitian ini, teknik ini diimplementasikan melalui: a) Kehadiran peneliti dalam dakwah mingguan Mama Cianting selama enam bulan berturut-turut (Januari-Juni 2025) b) Keterlibatan peneliti dalam berbagai aktivitas Majelis Taklim &

Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting di luar jadwal dakwah formal c) Interaksi informal dengan jamaah dalam berbagai konteks sosial d) Observasi fokus terhadap aspek-aspek retorika profetik dalam dakwah Sebagaimana ditekankan oleh Erlandson et al., keterlibatan jangka panjang memungkinkan peneliti untuk memahami konteks sosio-kultural secara mendalam, sementara observasi persisten membimbing peneliti 215 Kenneth R. Howe and Margaret S. Eisenhart. "Standards for Qualitative (and Quantitative) Research: A Prolegomenon." Educational Researcher 19, no. 4 (1990): 2-9. 216 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 301-304. untuk mengidentifikasi elemen-elemen yang paling relevan dengan fokus penelitian.217 4) Negative Case Analysis Analisis kasus negatif (negative case analysis) merupakan proses revisi hipotesis kerja dengan mencari kasus-kasus yang tidak sesuai dengan pola atau penjelasan yang telah dikembangkan.218 Dalam penelitian ini, analisis kasus negatif dilakukan melalui: a) Identifikasi peristiwa dakwah yang tidak mengikuti pola retorika profetik yang telah diidentifikasi b) Eksplorasi testimoni jamaah yang memiliki perspektif berbeda tentang efektivitas dakwah Mama Cianting c) Analisis konteks-konteks di mana aspek ethos, pathos, atau logos tampak kurang dominan d) Identifikasi materi dakwah yang kurang menekankan dimensi humanisasi, liberasi, atau transendensi Menurut Patton, analisis kasus negatif merupakan proses "intellectual honesty" yang esensial untuk meningkatkan kredibilitas penelitian kualitatif.219 5) Peer Debriefing Peer debriefing merupakan proses eksposur peneliti dan penelitiannya terhadap teman sejawat yang tidak terlibat dalam penelitian, untuk mengeksplorasi aspek-aspek penelitian yang mungkin tetap implisit dalam pemikiran peneliti.220 Dalam penelitian ini, peer debriefing dilakukan melalui:

217 David A. Erlandson, Edward L. Harris, Barbara L. Skipper, and Steve D. Allen. Doing Naturalistic Inquiry: A Guide to Methods. Newbury Park, CA: SAGE Publications, 1993, 132-136. 218 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 301-316. 219 Michael Q. Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods. 4th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2015, 653-654. 220 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 308-309. a) Diskusi metodologi dan interpretasi preliminer dengan kolega di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam b) Presentasi desain dan temuan awal penelitian dalam forum akademik departemen c) Konsultasi dengan ahli retorika dan komunikasi Islam tentang kerangka analisis d) Review draft analisis oleh dua orang ahli yang tidak terlibat dalam penelitian Lincoln dan Guba menekankan bahwa peer debriefing membantu peneliti untuk tetap "jujur" dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan probing tentang bias, makna, dan interpretasi.221 b. Transferabilitas (Transferability) Transferabilitas berkaitan dengan sejauh mana temuan penelitian dapat diterapkan dalam konteks lain. Dalam paradigma konstruktivisme sosial, transferabilitas bukan dipahami sebagai generalisasi, melainkan sebagai kemungkinan transferensi pengetahuan dari satu konteks ke konteks lain yang memiliki kesamaan karakteristik.222 Untuk meningkatkan transferabilitas, penelitian ini menggunakan teknik:

1) Thick Description Deskripsi tebal (thick description), konsep yang dipopulerkan oleh Clifford Geertz dalam antropologi interpretif, merupakan narasi detail tentang fenomena yang diteliti, termasuk konteks, situasi, makna, dan niat yang melingkupinya.223 Dalam penelitian ini, thick description diimplementasikan melalui: a) Deskripsi detail tentang konteks sosio-kultural Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting 221 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 308. 222 Matthew B. Miles, A. Michael Huberman, and Johnny Saldaña. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. 4th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2019, 314. 223 Clifford Geertz. The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books, 1973, 3-30. b) Narasi komprehensif tentang proses dakwah, termasuk aspek verbal dan non-verbal c) Elaborasi tentang latar belakang historis dan sosial Mama Cianting d) Penjelasan mendalam tentang dinamika interaksi antara dai dan jamaah Sebagaimana ditekankan oleh Ponterotto, thick description bukan sekadar narasi deskriptif, melainkan interpretasi yang memungkinkan pembaca memahami makna dan konteks dari fenomena yang diteliti.224 2) Purposive Sampling Sampling purposif (purposive sampling) merupakan strategi pemilihan partisipan penelitian berdasarkan kriteria spesifik yang relevan dengan pertanyaan penelitian.225 Dalam penelitian ini, purposive sampling diterapkan dalam pemilihan: a) Informan untuk wawancara mendalam, mencakup spektrum usia, gender, pendidikan, dan latar belakang sosio-ekonomi b) Sesi dakwah yang diobservasi secara intensif dan direkam untuk analisis mendalam c) Dokumen dan artefak yang dianalisis sebagai data pendukung Penggunaan purposive sampling yang baik, sebagaimana ditekankan oleh Patton, dapat meningkatkan transferabilitas dengan memastikan representasi adekuat dari variasi dalam fenomena yang diteliti.226 c. Dependabilitas (Dependability) Dependabilitas berkaitan dengan konsistensi temuan penelitian dan kemungkinan replikasi. Dalam paradigma konstruktivisme sosial, dependabilitas tidak dipahami sebagai stabilitas data sebagaimana dalam paradigma positivistik, melainkan sebagai keterlacakan proses penelitian 224 Joseph G. Ponterotto. "Brief Note on the Origins, Evolution, and Meaning of the Qualitative Research Concept Thick Description." The Qualitative Report 11, no. 3 (2006): 538-549. 225 Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods, 264-272. 226 Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods, 267. dan keputusan metodologis.227 Untuk memastikan dependabilitas, penelitian ini menggunakan teknik:

1) Audit Trail Audit trail merupakan dokumentasi sistematis tentang proses penelitian, termasuk keputusan metodologis, prosedural, dan analitis.228 Dalam penelitian ini, audit trail diimplementasikan melalui: a) Dokumentasi detail tentang proses pengumpulan dan analisis data b) Penjelasan eksplisit tentang kategori analitis dan derivasinya dari data c) Rekam jejak evolusi interpretasi selama proses penelitian d) Dokumentasi refleksi metodologis dan teoretis selama penelitian Sebagaimana dikemukakan oleh Rodgers dan Cowles, audit trail yang komprehensif memungkinkan evaluasi independen terhadap keputusan peneliti dan dasar empiris dari temuan penelitian.229 2) Stepwise Replication Replikasi bertahap (stepwise replication) merupakan proses di mana tim peneliti dibagi menjadi dua atau lebih kelompok yang bekerja secara terpisah dengan data yang sama, kemudian membandingkan hasilnya.230 Dalam penelitian ini, stepwise replication diterapkan melalui: a) Analisis independen dari transkrip dakwah oleh peneliti utama dan asisten peneliti b) Coding independen dari data wawancara oleh dua analis, diikuti dengan perbandingan dan resolusi perbedaan c) Interpretasi terpisah terhadap observasi partisipatif, diikuti dengan diskusi kolaboratif 227 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 316-318. 228 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 319-320. 229 Beth L. Rodgers and Kathleen V. Cowles. "The Qualitative Research Audit Trail: A Complex Collection of Documentation." Research in Nursing & Health 16, no. 3 (1993): 219-226. 230 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 317.

Teknik ini, sebagaimana dikemukakan oleh Chilisa, membantu mengidentifikasi inkonsistensi dalam analisis dan memperkuat koherensi interpretasi.231 d. Konfirmabilitas (Confirmability) Konfirmabilitas berkaitan dengan sejauh mana temuan penelitian dipengaruhi oleh perspektif, motivasi, atau kepentingan peneliti. Dalam paradigma konstruktivisme sosial, objektivitas absolut tidak mungkin dicapai, namun peneliti tetap perlu menunjukkan bahwa temuan penelitian berakar pada data, bukan sekadar preferensi subjektif peneliti.232 Untuk meningkatkan konfirmabilitas, penelitian ini menggunakan teknik:

1) Refleksivitas Peneliti Refleksivitas peneliti merupakan proses introspeksi kritis tentang posisionalitas peneliti, asumsi epistemologis, dan bias potensial dalam proses penelitian.233 Dalam penelitian ini, refleksivitas peneliti diimplementasikan melalui: a) Eksplisitasi posisi epistemologis peneliti dalam paradigma konstruktivisme sosial b) Refleksi kritis tentang hubungan peneliti dengan Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting c) Pengakuan terhadap bias potensial dalam interpretasi retorika profetik d) Dokumentasi evolusi pemahaman peneliti selama proses penelitian Sebagaimana ditekankan oleh Finlay, refleksivitas bukanlah sekadar pengakuan bias, melainkan proses transformatif yang memungkinkan peneliti mengintegrasikan subjektivitasnya ke dalam proses penelitian secara produktif.234 231 Bagele Chilisa. Indigenous Research Methodologies. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2012, 165-166. 232 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 318-327. 233 Linda Finlay. "Negotiating the Swamp: The Opportunity and Challenge of Reflexivity in Research Practice." Qualitative Research 2, no. 2 (2002): 209-230. 234 Linda Finlay. Negotiating the Swamp, 225-227.

2) Konfirmasi Eksternal Konfirmasi eksternal merupakan proses validasi temuan penelitian oleh evaluator atau audit eksternal.235 Dalam penelitian ini, konfirmasi eksternal dilakukan melalui: a) Review metodologis oleh ahli penelitian kualitatif yang tidak terlibat dalam penelitian b) Evaluasi interpretasi temuan oleh ahli komunikasi Islam c) Konsultasi dengan pakar retorika tentang kerangka analisis d) Diskusi temuan dengan ulama/dai yang memiliki pemahaman tentang konteks dakwah di Jawa Barat Teknik ini, sebagaimana dikemukakan oleh Schwandt dan Halpern, membantu memastikan bahwa temuan penelitian "berdiri sendiri" terlepas dari peneliti individual.236

2. Implementasi Spesifik dalam Konteks Penelitian

Implementasi teknik keabsahan data dalam penelitian "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting" disesuaikan dengan karakteristik spesifik dari fenomena yang diteliti. Beberapa pertimbangan khusus dalam implementasi teknik keabsahan data meliputi: a. Sensitivitas Kultural Implementasi teknik keabsahan data mempertimbangkan sensitivitas kultural konteks Sunda, khususnya berkaitan dengan norma komunikasi dalam konteks keagamaan. Misalnya, dalam proses member checking dengan Mama Cianting, diterapkan pendekatan yang sesuai dengan etika komunikasi dalam tradisi pesantren, menghormati posisi Mama Cianting sebagai kyai dalam struktur sosial masyarakat.

235 Lincoln and Guba. Naturalistic Inquiry, 318-319. 236 Thomas A. Schwandt and Edward S. Halpern. Linking Auditing and Metaevaluation: Enhancing Quality in Applied Research. Newbury Park, CA: SAGE Publications, 1988, 33-45. b. Multilingual Analysis Mengingat dakwah Mama Cianting menggunakan bahasa Sunda yang kaya dengan idiom lokal, proses triangulasi peneliti melibatkan asisten peneliti yang fasih dalam bahasa Sunda untuk memastikan interpretasi yang akurat. Proses translasi dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia juga diverifikasi melalui konsultasi dengan ahli linguistik Sunda. c. Aspek Temporalitas Mengingat penelitian ini berfokus pada periode spesifik (Januari- Juni 2025), aspek temporalitas dipertimbangkan dalam implementasi teknik keabsahan data. Misalnya, dalam proses triangulasi sumber, perbandingan dilakukan tidak hanya antara berbagai informan pada waktu yang sama, tetapi juga dengan mempertimbangkan evolusi perspektif informan yang sama dalam rentang waktu penelitian. d. Aspek Spiritualitas Mengingat konteks penelitian berkaitan dengan fenomena keagamaan, implementasi teknik keabsahan data juga mempertimbangkan dimensi spiritualitas. Misalnya, dalam refleksivitas peneliti, terdapat refleksi kritis tentang bagaimana posisi teologis peneliti mungkin mempengaruhi interpretasi dimensi transendensi dalam retorika profetik.

Melalui implementasi komprehensif berbagai teknik keabsahan data yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme sosial, penelitian "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting" berupaya menghasilkan temuan yang kredibel, transferable, dependable, dan konfirmable, dengan tetap menghormati kompleksitas dan keunikan fenomena yang diteliti.

K. Jadwal Penelitian

Penyusunan jadwal penelitian kualitatif memerlukan keseimbangan antara struktur yang sistematis dan fleksibilitas untuk mengakomodasi karakteristik emergent design yang melekat dalam paradigma konstruktivisme. Penelitian tentang "Retorika Profetik dalam Dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting)" dirancang dengan mempertimbangkan kompleksitas fenomena yang dikaji, yaitu integrasi antara teori retorika klasikmodern dengan dimensi profetik dalam konteks dakwah ulama lokal Sunda.

1. Kerangka Temporal Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam rentang waktu sepuluh bulan (Agustus 2024 hingga Juni 2025), terbagi dalam lima fase yang saling terkait namun memiliki fokus spesifik. Pembagian temporal ini mempertimbangkan siklus aktivitas dakwah di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob, kedalaman analisis yang diperlukan untuk mengkaji retorika profetik, serta proses iteratif yang karakteristik dalam penelitian kualitatif.

2. Fase-fase Penelitian

a. Fase 1: Perencanaan dan Persiapan (Agustus – Desember 2024)

Fase ini berfokus pada pembangunan landasan konseptual dan metodologis yang kokoh. Mengingat kompleksitas integrasi teori retorika dengan ilmu sosial profetik, persiapan teoretis yang matang menjadi krusial untuk menghasilkan analisis yang mendalam.

1) Agustus 2024 a) Penelitian pendahuluan di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al- Aqthob untuk identifikasi awal manifestasi retorika profetik dalam dakwah Mama Cianting b) Studi literatur komprehensif tentang teori retorika Aristotelian, Source Credibility Theory, Narrative Paradigm Theory, dan Audience Adaptation Theory c) Eksplorasi konseptual Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo dalam konteks praktik dakwah kontemporer 2) September 2024 a) Pengembangan kerangka teoretis "Retorika Profetik" sebagai sintesis antara teori retorika klasik-modern dengan dimensi profetik b) Konsultasi intensif dengan pembimbing untuk menyempurnakan konstruksi teoretis c) Perumusan pertanyaan penelitian yang mengintegrasikan aspek ethospathos-logos dengan dimensi humanisasi-liberasi-transendensi d) Finalisasi proposal penelitian dengan penajaman pada aspek metodologis e) Presentasi proposal dalam forum akademik untuk mendapatkan masukan dari para ahli komunikasi dan studi Islam 3) Oktober 2024 khususnya terkait a) Revisi proposal berdasarkan feedback, operasionalisasi konsep retorika profetik 4) November 2024 a) Pengembangan instrumen penelitian yang sensitif terhadap konteks budaya Sunda b) Penyusunan protokol observasi partisipatif untuk mengkaji manifestasi ethos, pathos, dan logos dalam dakwah c) Desain panduan wawancara mendalam yang mengeksplorasi persepsi jamaah terhadap dimensi profetik dalam retorika Mama Cianting 5) Desember 2024 a) Pengurusan izin penelitian formal dengan pengurus Majelis Taklim b) Sosialisasi rencana penelitian kepada Mama Cianting dengan penekanan pada aspek etika penelitian c) Koordinasi teknis dan logistik untuk fase pengumpulan data d) Orientasi dengan komunitas jamaah untuk membangun rapport sebelum observasi partisipatif b. Fase 2: Pengumpulan Data (Januari – April 2025) Fase ini merupakan inti dari penelitian lapangan, dirancang untuk mengkaji secara mendalam implementasi retorika profetik dalam praktik dakwah Mama Cianting. Strategi pengumpulan data mengadopsi prinsip triangulasi untuk memastikan kredibilitas dan kedalaman analisis.

1) Januari 2025 a) Observasi partisipatif dalam empat sesi dakwah (setiap hari Senin, pukul 06.00-10.00) b) Dokumentasi audio-visual untuk analisis retorika verbal dan non-verbal c) Pencatatan etnografis yang fokus pada manifestasi aspek ethos dalam Source Credibility Mama Cianting d) Identifikasi awal pola-pola retoris yang mengindikasikan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi 2) Februari 2025 a) Kontinuasi observasi partisipatif dengan fokus khusus pada aspek pathos melalui Narrative Rationality b) Wawancara mendalam dengan Mama Cianting tentang filosofi dakwah dan kesadaran retoris dalam praktik dakwahnya c) Wawancara dengan lima jamaah inti untuk mengeksplorasi persepsi mereka terhadap kredibilitas, narasi, dan adaptasi pesan dalam dakwah Mama Cianting 3) Maret 2025 a) Observasi lanjutan dengan perhatian khusus pada aspek logos melalui Audience Adaptation b) Wawancara dengan sepuluh jamaah dari latar belakang yang beragam untuk mengkaji bagaimana retorika Mama Cianting beradaptasi dengan karakteristik audiens yang heterogen c) Focus Group Discussion dengan kelompok jamaah untuk mengeksplorasi dimensi humanisasi dan liberasi 4) April 2025 a) Observasi final dengan analisis integratif terhadap manifestasi retorika profetik b) FGD dengan kelompok jamaah untuk mengkaji persepsi mereka terhadap dimensi transendensi dalam dakwah c) Wawancara dengan tiga ulama/dai lain sebagai pembanding untuk memahami kekhasan retorika profetik Mama Cianting d) Pengumpulan dokumen pendukung (materi dakwah tertulis, dokumentasi historis Majelis Taklim) c. Fase 3: Analisis dan Interpretasi (April – Mei 2025) Fase ini mentransformasi data empiris menjadi temuan yang berkontribusi pada pengembangan teori retorika dalam konteks dakwah Islam. Proses analisis mengadopsi pendekatan induktif-deduktif untuk menghasilkan sintesis antara kerangka teoretis dengan realitas empiris.

1) April 2025 (Minggu 3-4) a) Transkripsi verbatim dengan mempertahankan nuansa bahasa Sunda untuk analisis yang autentik b) Pengorganisasian data menggunakan software analisis kualitatif c) Coding terbuka untuk identifikasi manifestasi empiris dari konsep- konsep teoretis retorika profetik 2) Mei 2025 (Minggu 1-2) a) Coding aksial untuk mengidentifikasi pola hubungan antara aspek ethos-pathos-logos dengan dimensi humanisasi-liberasi-transendensi b) Analisis tematik untuk mengeksplorasi bagaimana Source Credibility, Narrative Rationality, dan Audience Adaptation terartikulasi dalam konteks dakwah profetik c) Coding selektif untuk mengintegrasikan temuan dalam kerangka teoretis "Retorika Profetik" 3) Mei 2025 (Minggu 3) a) Interpretasi temuan dalam perspektif teori komunikasi dan studi Islam b) Pengembangan model konseptual tentang manifestasi retorika profetik dalam dakwah ulama lokal c) Analisis komparatif dengan studi-studi serupa dalam konteks dakwah Islam kontemporer d. Fase 4: Validasi Temuan (Mei 2025) Fase ini memastikan trustworthiness temuan penelitian melalui berbagai strategi validasi yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme.

1) Mei 2025 (Minggu 3-4) a) Member checking dengan Mama Cianting untuk verifikasi interpretasi tentang praktik retorika profetik b) Member checking dengan jamaah kunci untuk konfirmasi temuan tentang persepsi dan dampak retorika dakwah c) Triangulasi sumber, metode, dan investigator untuk memastikan kredibilitas temuan d) Peer debriefing dengan peneliti independen untuk identifikasi bias potensial e) Analisis kasus negatif untuk menyempurnakan model teoretis retorika profetik e. Fase 5: Penulisan Laporan (Mei – Juni 2025) Fase ini mentransformasi temuan penelitian menjadi tesis yang koheren dan kontributif bagi pengembangan teori komunikasi dalam dakwah Islam.

1) Mei 2025 (Minggu 4) a) Penyusunan outline komprehensif berdasarkan temuan penelitian b) Penulisan bab pendahuluan dengan integrasi konteks teoretis dan empiris c) Penulisan bab tinjauan literatur yang menunjukkan gap penelitian dan kontribusi orisinal 2) Juni 2025 (Minggu 1-2) a) Penulisan bab hasil penelitian dengan thick description dan analisis yang mendalam b) Penulisan bab diskusi yang mengintegrasikan temuan dengan teori komunikasi dan studi Islam c) Elaborasi implikasi teoretis dan praktis dari temuan retorika profetik 3) Juni 2025 (Minggu 3) a) Penulisan bab kesimpulan dengan sintesis kontribusi teoretis dan rekomendasi b) Revisi komprehensif berdasarkan feedback pembimbing c) Editing dan finalisasi format sesuai standar akademik 4) Juni 2025 (Minggu 3) a) Submisi tesis final b) Persiapan presentasi untuk sidang tesis

3. Matriks Jadwal Penelitian

Untuk memberikan visualisasi yang jelas tentang sekuensialitas dan durasi aktivitas penelitian, berikut disajikan tabel jadwal penelitian:

Fase dan Aktivitas Jun Mei Apr Mar Feb Jan Des Nov Okt Sep Agu Fase 1: Perencanaan dan Persiapan Penelitian ● pendahuluan dan studi literatur Pengembangan ● kerangka teoretis retorika profetik Finalisasi proposal ● dan presentasi Pengembangan ● instrumen penelitian Perizinan dan ● persiapan logistik Fase 2:

Pengumpulan Data Observasi ●●●● partisipatif dakwah Wawancara ● mendalam dengan Mama Cianting Wawancara dengan ●●● jamaah dan ulama pembanding Focus Group ●● Discussion Pengumpulan ●●●● dokumentasi pendukung Fase 3: Analisis dan Interpretasi Transkripsi dan ● organisasi data Coding dan analisis ● tematik Interpretasi dan ● pengembangan model Fase 4: Validasi Temuan Member checking ● dan triangulasi Fase 5: Penulisan Laporan Penulisan draft tesis ●● Revisi dan finalisasi ● Sidang tesis ● Tabel 2: Jadwal Penelitian "Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting"

4. Kontingensi dan Fleksibilitas

Mengingat karakteristik penelitian kualitatif yang emergent, jadwal ini dirancang dengan fleksibilitas untuk mengakomodasi:

Adaptasi terhadap Dinamika Lapangan Jika dalam proses penelitian ditemukan aspek retorika profetik yang memerlukan eksplorasi lebih mendalam, alokasi waktu pengumpulan data dapat disesuaikan tanpa mengorbankan kualitas analisis.

Responsivitas terhadap Saturasi Data Apabila saturasi data tercapai sebelum periode pengumpulan data berakhir, fokus dapat dialihkan pada pendalaman aspek-aspek spesifik yang memerlukan analisis lebih nuansir.

Akomodasi Siklus Aktivitas Majelis Taklim Jadwal pengumpulan data mempertimbangkan kemungkinan perubahan jadwal dakwah karena faktor-faktor kontekstual seperti hari libur keagamaan atau acara khusus di komunitas.

Fleksibilitas Analitis Jika dalam proses analisis muncul temuan yang memerlukan eksplorasi teoretis tambahan, fase analisis dapat diperpanjang dengan penyesuaian pada fase penulisan.

Dengan mempertimbangkan kompleksitas fenomena retorika profetik dan karakteristik metodologi kualitatif, jadwal penelitian ini dirancang untuk memaksimalkan peluang menghasilkan temuan yang tidak hanya berkualitas secara metodologis, tetapi juga kontributif bagi pengembangan teori komunikasi dalam konteks dakwah Islam kontemporer.

L. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al- Aqthob yang terletak di Desa Cianting, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41167 dengan koordinat geografis -6.637576, 107.408399. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan strategis bahwa kompleks ini merupakan pusat aktivitas dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) yang menjadi subjek utama penelitian tentang retorika profetik. Lokasi ini memungkinkan observasi langsung dan mendalam terhadap manifestasi integrasi aspek ethos, pathos, dan logos dengan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam praktik dakwah kontemporer.

Secara geografis, kompleks Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob menempati posisi yang strategis di kawasan pedesaan Sunda yang masih mempertahankan karakteristik tradisional. Lokasi ini dikelilingi oleh area persawahan dan perkebunan yang memberikan atmosfer tenang dan kondusif untuk kegiatan spiritual, namun tetap berada di tengah pemukiman penduduk sehingga mudah diakses oleh jamaah dari berbagai kalangan. Karakteristik geografis ini menciptakan setting yang ideal untuk mengkaji bagaimana retorika profetik beradaptasi dengan audiens yang beragam dalam konteks budaya lokal Sunda.

Kompleks ini menempati area seluas 19.766,32 m² secara keseluruhan, dengan luas area bangunan pesantren dan majelis sebesar 10.052,28 m². Keluasan area ini memungkinkan penyelenggaraan kajian mingguan yang menjadi fokus penelitian dengan kapasitas menampung ribuan jamaah sekaligus. Fasilitas utama yang mendukung aktivitas dakwah meliputi majelis utama berkapasitas 1.800 jamaah, majelis khusus perempuan, pondok santri, masjid, serta berbagai area pendukung lainnya. Konfigurasi spasial ini mencerminkan pendekatan dakwah yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan audiens yang beragam, sejalan dengan konsep Audience Adaptation dalam teori retorika modern.

Sebagai lokasi penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme, kompleks ini menyediakan natural setting yang autentik untuk mengkaji fenomena retorika profetik. Struktur dan tata letak kompleks mencerminkan filosofi dakwah yang dikembangkan oleh Mama Cianting, dengan dominasi warna putih pada bangunan yang merepresentasikan nilai kesucian, kemurnian, dan kesederhanaan dalam tradisi Islam Sunda. Aspek visual ini menjadi konteks fisik yang penting untuk memahami bagaimana dimensi ethos dalam Source Credibility Theory terartikulasi melalui environment dan presentation dakwah.

Karakteristik audiens yang hadir di lokasi ini sangat relevan dengan fokus penelitian tentang retorika profetik. Kegiatan dakwah mingguan (setiap Senin pukul 06.00-10.00) secara konsisten menarik jamaah yang dapat mencapai ribuan orang dengan latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, dan usia yang sangat beragam. Heterogenitas audiens ini memberikan kesempatan optimal untuk menganalisis bagaimana aspek logos dalam dakwah Mama Cianting mengimplementasikan Audience Adaptation Theory, khususnya dalam mengadaptasi pesan dakwah agar dapat diterima oleh universal audience maupun particular audience.

Kontinuitas kegiatan dakwah yang berlangsung secara reguler selama periode penelitian (Januari-April 2025) memungkinkan pelaksanaan observasi partisipatif longitudinal yang sistematis. Pola temporal yang konsisten ini essential untuk mengkaji manifestasi Narrative Rationality dalam aspek pathos retorika profetik, terutama dalam mengamati bagaimana Mama Cianting membangun narrative coherence dan narrative fidelity yang resonan dengan pengalaman hidup jamaah dalam jangka waktu yang memadai.

Aksesibilitas penelitian di lokasi ini telah terjamin melalui izin formal yang diperoleh dari pengurus Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob pada Desember 2024. Keterbukaan dan dukungan dari pengurus majelis, jamaah inti, dan Mama Cianting sendiri terhadap kegiatan penelitian menciptakan kondisi yang kondusif untuk pengumpulan data yang komprehensif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip etika penelitian kualitatif yang mengutamakan informed consent dan voluntary participation.

Dalam konteks operasional penelitian, fokus observasi dibatasi pada kegiatan dakwah yang berlangsung di majelis utama serta interaksi yang terjadi di area sekitarnya. Batasan spasial ini ditetapkan untuk memastikan kedekatan optimal dengan sumber data utama dan memungkinkan pengamatan mendalam terhadap aspek verbal dan non-verbal dari manifestasi retorika profetik. Area majelis utama dipilih sebagai focal point karena di sinilah terjadi interaksi intensif antara dai dan jamaah yang memungkinkan analisis komprehensif terhadap implementasi Source Credibility, Narrative Rationality, dan Audience Adaptation dalam konteks dakwah profetik.

Setting fisik Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob juga memberikan konteks kulturel yang autentik untuk mengkaji retorika profetik dalam tradisi dakwah Sunda. Arsitektur tradisional yang dipadukan dengan elemen modern mencerminkan sintesis antara nilai-nilai tradisional dan tuntutan kontemporer, yang selaras dengan konsep retorika profetik sebagai integrasi teori klasik-modern dengan dimensi spiritualitas. Atmosfer yang tercipta di lokasi ini memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam bagaimana konteks sosio-kulturel mempengaruhi manifestasi dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam praktik dakwah.

Dengan mempertimbangkan seluruh aspek geografis, demografis, cultural, dan metodologis tersebut, Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob Cianting merupakan lokasi yang optimal untuk penelitian tentang "Retorika Profetik dalam Dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting)". Lokasi ini tidak hanya menyediakan akses langsung kepada subjek penelitian dan fenomena yang dikaji, tetapi juga menawarkan konteks natural setting yang kaya untuk analisis mendalam tentang implementasi teori retorika dalam praksis dakwah yang mengintegrasikan dimensi profetik.

BAB IV · Hasil dan Pembahasan — 64.950 kata

A. DESKRIPSI UMUM OBJEK PENELITIAN

1. Profil K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting)

a. Biografi dan Latar Belakang K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, yang dikenal luas dengan sebutan "Mama Cianting," merupakan figur ulama karismatik yang memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan Islam di wilayah Purwakarta, Jawa Barat. Gelar "Mama" dalam tradisi masyarakat Sunda mencerminkan bentuk penghormatan mendalam terhadap tokoh spiritual yang dianggap sebagai figur pengayom masyarakat. Di kalangan masyarakat Jawa Barat, kata Mama ini biasanya disematkan kepada Ajengan atau Kyai yang ilmunya tinggi, sehingga sebutannya menjadi Mama Ajengan atau Mama Kyai. Sementara Cianting adalah sebuah Desa yang ada di Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Penggunaan istilah ini mencerminkan kedekatan emosional sekaligus penghormatan masyarakat terhadap sosok ulama yang dianggap memiliki peran sebagai pembimbing spiritual dan sosial.

K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar lahir pada tahun 1971 di Desa Cianting, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, menjadi awal dari perjalanan panjang seorang figure yang kemudian memainkan peran krusial dalam transformasi keagamaan di wilayahnya. Meskipun berasal dari keluarga yang sederhana secara ekonomi, Mama Cianting tumbuh dalam lingkungan yang kaya secara spiritual dengan fondasi keislaman yang kuat dari keluarganya.

Pendidikan formal Mama Cianting dimulai di SD Cianting dan dilanjutkan ke MTs di Pasar Rebo, Purwakarta. Namun, pendidikan nonformal di berbagai pondok pesantren di Jawa Barat memainkan peran lebih signifikan dalam membentuk kedalaman keilmuan dan karakternya. Proses ini menjadi fondasi penting yang kemudian mewarnai pendekatan dakwah Mama Cianting yang khas dan kontekstual.

Perjalanan dakwah Mama Cianting diwarnai oleh transformasi dan evolusi yang menarik, termasuk dalam aspek bagaimana masyarakat menyebut dan mengidentifikasinya. Sebelum dikenal sebagai Mama Cianting, K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar dikenal dengan julukan "Si Rawing" karena aktivitas dakwahnya yang dilakukan dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain pada masa Orde Baru. Di kalangan masyarakat setempat, terdapat beberapa narasi yang berkembang mengenai asal-usul julukan tersebut. Sebagian masyarakat meyakini julukan itu muncul karena kegemarannya pada radio Si Rawing, sementara yang lain mengatakan karena sifat dan mobilitas dakwahnya yang dinamis.

Erviansyah, pengamat dakwah lokal dan dosen STAI DR. KHEZ. Muttaqien Purwakarta, dalam wawancara menyampaikan perspektif kontekstual tentang tantangan dakwah di era 1980-an. "Dakwah keliling di periode akhir Orde Baru, khususnya di wilayah pedesaan Purwakarta, dihadapkan pada kompleksitas sosial-politik yang unik. Para dai seperti Mama Cianting harus berhadapan dengan berbagai resistensi, baik dari masyarakat yang masih kuat memegang tradisi sinkretisme maupun dari lingkungan sosial yang kadang memandang curiga aktivitas keagamaan di luar struktur formal," jelasnya.237 Konteks historis ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dedikasi luar biasa yang ditunjukkan dalam perjalanan awal dakwah Mama Cianting.

Pendekatan Mama Cianting dalam mencari ilmu merupakan sebuah dekonstruksi radikal terhadap metode santri tradisional. Alih-alih memposisikan diri sebagai penerima pasif yang menunggu transfer ilmu di satu institusi, beliau mempraktikkan sebuah epistemologi proaktif. Beliau secara sadar membalik dinamika kuasa, di mana inisiatif dan mobilitas 237 Wawancara dengan Erviansyah., oleh penulis, Purwakarta, 15 September 2024. pencari ilmu menjadi kunci utama, bukan lagi kemapanan sebuah lembaga. Sebagaimana beliau tuturkan sendiri dalam wawancara:

"Prinsip sim kuring mah, elmu teh kedah diteang, sanes diantosan. Janten sanes Kyai nu ngantosan santri, tapi sim kuring nu nyampeurkeun para guru. Diskusi heula, nyambungkeun rasa, nembe ngawantunkeun diri neda widi janten murid. Ti dinya sadayana ngawitan." (Terjemahan: "Prinsip saya itu, ilmu harus dicari/dijemput, bukan ditunggu. Jadi bukan Kyai yang menunggu santri, tapi saya yang menghampiri para guru. Berdiskusi dulu, menyambungkan 'rasa' (koneksi batin), barulah memberanikan diri meminta izin untuk menjadi murid. Dari sanalah semuanya berawal.")238 Dalam narasi ini, terlihat pergeseran fundamental dari model belajar berbasis institusi ke model berbasis jaringan personal. "Ilmu" tidak lagi terikat pada lokasi geografis (pesantren), melainkan pada individu-individu (para guru) yang tersebar. Proses "diskusi" dan "menyambungkan rasa" sebelum meminta izin menjadi murid menunjukkan bahwa validasi keilmuan bersifat dua arah; bukan hanya santri yang memilih guru, tetapi ada proses saling menguji kecocokan spiritual dan intelektual. Inilah yang memungkinkan terbangunnya jaringan 173 guru, sebuah pencapaian yang mustahil diraih dalam kerangka metodologi santri konvensional.

Strategi dakwah Mama Cianting pada fase awal menandai sebuah langkah strategis untuk mendesakralisasi ruang dakwah. Beliau secara efektif mengaburkan batas antara ruang sakral (masjid, majelis) dan ruang profan (terminal, pasar), membawa pesan spiritual langsung ke jantung aktivitas duniawi masyarakat. Langkah ini bukan tanpa alasan; ini adalah metode "diagnosa sosial" untuk memahami penyakit masyarakat langsung dari sumbernya, bukan dari asumsi di atas mimbar. Beliau menjelaskan:

238 Wawancara awal dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 3 September 2024.

"Panggung abdi nu mimiti mah sanes di masjid, tapi di terminal, di pasar. Kumaha badé terang panyakitna upami teu pendak langsung sareng pasienna? Di dinya abdi diajar, naon saleresna nu janten kabingung masyarakat. Éta laboratorium sosial abdi."239 (Terjemahan: "Panggung saya yang pertama bukan di masjid, tapi di terminal, di pasar. Bagaimana mau tahu penyakitnya kalau tidak bertemu langsung dengan pasiennya? Di sana saya belajar, apa sebetulnya yang menjadi kebingungan masyarakat. Itulah laboratorium sosial saya.")

Penggunaan metafora "pasien" dan "laboratorium sosial" dalam kutipan ini sangatlah kuat. Ini menunjukkan bahwa dakwah bagi Mama Cianting bukanlah sekadar transfer informasi (ceramah), melainkan sebuah tindakan terapeutik. Terminal dan pasar tidak dilihat sebagai tempat yang "kotor" dan harus dihindari, melainkan sebagai "ruang periksa" di mana seorang dai bisa merasakan langsung denyut nadi spiritual umatnya. Dengan demikian, materi dakwah yang disampaikan menjadi sangat relevan dan kontekstual, karena lahir dari empati dan pemahaman mendalam terhadap "kebingungan" nyata yang dihadapi masyarakat, bukan lagi doktrin abstrak yang berjarak.

Transformasi penting terjadi ketika beberapa jamaah mulai mengekspresikan kebutuhan akan ruang khusus untuk pengajian yang lebih terstruktur dan sistematis. Merespons kebutuhan ini dan didukung oleh arahan guru-gurunya, Mama Cianting kemudian mendirikan Majelis Taklim Sanrighos pada tahun 1990. Pemilihan nama "Sanrighos"—singkatan dari "santri-santri rijalul ghaib" yang Mama Cianting maknai sebagai "pemudapemuda pilihan"—mencerminkan visi transformatif yang ingin Mama Cianting wujudkan melalui lembaga ini. Pembentukan majelis ini menandai pergeseran strategis dalam pendekatan dakwahnya dari model spontan di ruang publik menjadi lebih terorganisir dan sistematis, meskipun Mama 239 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2).

Cianting tetap mempertahankan elemen-elemen dakwah jalanan yang efektif.

Momen transformatif lain yang membentuk pendekatan dakwah Mama Cianting adalah pengalamannya terkait dengan praktik spiritual personal. Setelah fase awal dakwah jalanan dan mulai mengembangkan majelis, Mama Cianting sempat menarik diri untuk fokus pada pengembangan spiritual pribadinya melalui praktik dzikir intensif di tempat-tempat sunyi dan memperdalam "ngelmu" (ilmu spiritual dalam tradisi Jawa-Sunda). Namun, praktik ini mendapat koreksi dari gurunya yang mengarahkan bahwa ibadah utama bukanlah sekadar dzikir untuk kepentingan diri sendiri, melainkan berdakwah dan membimbing masyarakat tentang cara beragama yang benar. Pengalaman ini menjadi titik balik penting yang menguatkan orientasi dakwah Mama Cianting pada dimensi sosial-transformatif. Orientasi ini kemudian menjadi prinsip utama yang memayungi seluruh aktivitas dakwahnya.

Pendekatan dakwah Mama Cianting mendapatkan sambutan antusias dari masyarakat karena fokusnya pada aspek-aspek fundamental dalam Islam yang justru sering terabaikan dalam arus utama dakwah kontemporer. Di tengah tren popularitas dai yang cenderung menghindari pembahasan aspek-aspek dasar keagamaan demi konten yang lebih "menjual," Mama Cianting justru memilih untuk fokus pada isu-isu fundamental seperti taharah (bersuci), wudhu, tayamum, dan istinja sebagai fondasi praktik keagamaan. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang hierarki kebutuhan spiritual masyarakat dan urgensi membangun pemahaman komprehensif tentang tiga dimensi fundamental Islam: tauhid (teologi), fiqh (hukum Islam), dan tasawuf (spiritualitas).

Sensitivitas linguistik dan kultural Mama Cianting tercermin dalam penggunaan bahasa yang kontekstual dan relevan dengan pengalaman sehari-hari jamaahnya. Mama Cianting mengembangkan gaya retorika yang khas dengan memanfaatkan elemen-elemen komunikasi non-verbal seperti intonasi, mimik wajah, dan gestur tubuh sebagai komponen persuasif yang memperkuat penyampaian pesan keagamaan. Penggunaan bahasa Sunda dengan berbagai tingkatan (lemes, sedeng, kasar) yang disesuaikan dengan konteks dan audiens mencerminkan kepekaan sosiolinguistik yang tinggi.

Penggunaan humor yang tepat dan bijaksana juga menjadi ciri khas dakwah Mama Cianting, menciptakan atmosfer pembelajaran yang nyaman dan tidak intimidatif. Humor yang diterapkan tidak sekadar bertujuan menghibur, tetapi juga menjadi sarana pedagogis yang efektif untuk menyampaikan konsep-konsep kompleks dalam bahasa yang mudah dicerna.

Proses reflektif dan evaluatif terhadap metode dakwah menunjukkan dimensi kritis dalam pendekatan Mama Cianting. Mama Cianting secara sadar dan sistematis menganalisis kelemahan dalam pendekatan awalnya dan terus melakukan perbaikan metodologis agar pesan dakwah dapat lebih efektif diterima berbagai lapisan masyarakat. Kesadaran akan pentingnya kedalaman keilmuan juga mendorong Mama Cianting untuk senantiasa memperdalam pengetahuannya, bahkan setelah memiliki posisi mapan sebagai pemimpin majelis taklim. Komitmen pada proses belajar dan perbaikan berkelanjutan ini membuat dakwah Mama Cianting tidak stagnan melainkan terus berkembang sesuai dengan dinamika sosial dan kebutuhan spiritual masyarakat.

Perkembangan Majelis Taklim Sanrighos menjadi pondok pesantren Al-Aqthob merupakan respons strategis Mama Cianting terhadap kebutuhan pendidikan Islam yang lebih komprehensif dan sistematis di masyarakatnya. Sebagaimana pernyataan Mama Cianting, pondok pesantren ini didirikan "untuk membendung ketidaktahuan akan agama dan mencetak generasi-generasi baru yang paham akan ilmu-ilmu Islam secara baik dan benar." Pondok pesantren ini menerapkan konsep tradisional (salafiyah) dengan bermazhab Imam Syafii dan berakidah Ahlussunnah wal Jamaah, mencerminkan kesinambungan dengan tradisi keilmuan Islam Nusantara. Pondok pesantren yang didirikan Mama Cianting menampung sekitar 900 santri (500 laki-laki dan 400 perempuan) yang mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman klasik seperti Akhlak, Tauhid, Fiqih, Nahwu, dan Shorof, namun tetap responsif terhadap dinamika sosial kontemporer.

Adaptasi Mama Cianting terhadap perkembangan teknologi merefleksikan pemahaman strategis Mama Cianting tentang dinamika dakwah di era digital. Meskipun berakar kuat pada tradisi keilmuan klasik, Mama Cianting dengan terbuka mengintegrasikan teknologi modern seperti pengeras suara, kamera, dan layar lebar untuk memperluas jangkauan dakwahnya. Perluasan ke platform digital melalui saluran YouTube "AlAqthob Media" yang telah mencapai 13,3 ribu pengikut (per April 2025) meskipun baru berusia sekitar dua tahun menunjukkan relevansi pesan dakwahnya di era digital.

Menariknya, meskipun mengadopsi teknologi digital, konten dakwah di platform online tetap mempertahankan fokus pada aspek-aspek fundamental seperti fikih wudhu, shalat, bersuci, zakat, dan tauhid. Perbedaan utama terletak pada format dan durasi, di mana kajian di media sosial memiliki durasi lebih singkat (sekitar 10 menit) dibandingkan pengajian di majelis taklim yang berlangsung hingga 3 jam. Strategi ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang karakteristik konsumsi konten digital tanpa mengorbankan esensi pesan dakwah.

Perkembangan dakwah Mama Cianting dari ceramah jalanan hingga menjadi pemimpin institusi pendidikan Islam yang berpengaruh dengan jangkauan digital mencerminkan perjalanan transformatif yang dilandasi oleh komitmen pada kedalaman ilmu, adaptabilitas metodologis, dan kepedulian sosial yang autentik. Keberhasilan pendekatan dakwahnya yang berfokus pada aspek-aspek fundamental agama Islam dalam konteks lokal memberikan model alternatif yang inspiratif bagi pendekatan dakwah kontemporer. Kedalaman spiritualitas yang dipadukan dengan sensitivitas sosial dan adaptabilitas teknologis dalam dakwah Mama Cianting menawarkan paradigma retorika profetik yang transformatif, kontekstual, dan berkelanjutan dalam masyarakat yang terus berubah. b. Perjalanan dakwah Perjalanan dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) mencerminkan evolusi strategis yang berakar pada komitmen mendalam terhadap pemahaman agama fundamental dan transformasi sosial. Kiprah dakwah Mama Cianting dapat dilihat sebagai proses perkembangan organik yang berawal dari pendekatan grassroot menuju institusionalisasi sistematis, namun tetap mempertahankan esensi dan keterhubungan langsung dengan masyarakat.

Fase awal dakwah Mama Cianting ditandai dengan pendekatan jalanan yang tidak konvensional, menjangkau masyarakat di tempat-tempat umum seperti terminal, pasar, dan ruang-ruang publik lainnya. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman mendalam Mama Cianting tentang realitas sosial masyarakat Purwakarta yang sebagian masih jauh dari praktik keagamaan yang benar. Seorang jamaah senior Majelis Al-Aqthob menggambarkan fase ini: "Di awal dakwahnya, Mama tidak menunggu orang datang untuk belajar agama. Mama Cianting yang mendatangi mereka, berbicara dengan bahasa yang mereka pahami, dan mengajarkan agama sedikit demi sedikit." Pendekatan ini menekankan kebijaksanaan dalam memilih metode sesuai dengan kondisi audiens.

Perkembangan signifikan dalam pendekatan dakwah Mama Cianting terjadi saat Mama Cianting menyadari kebutuhan akan struktur pembelajaran yang lebih sistematis. Transformasi dari dakwah jalanan menuju pembentukan Majelis Taklim Sanrighos pada tahun 1990 menandai milestone penting dalam perjalanan dakwahnya. Langkah institusionalisasi ini dilakukan atas dasar kebutuhan jamaah akan ruang pembelajaran yang fokus dan terstruktur, serta dorongan dari guru-guru Mama Cianting yang melihat potensi dampak yang lebih berkelanjutan melalui pendekatan sistematis.

Secara geografis, fokus dakwah Mama Cianting tetap berkonsentrasi di wilayah Purwakarta, khususnya di Desa Cianting dan sekitarnya. Berbeda dengan pola dai kontemporer yang memperluas jangkauan geografis untuk popularitas, Mama Cianting memilih untuk mendalami dan mengintensifkan dampak di wilayah lokalnya. Pendekatan ini mencerminkan filosofi "pendalaman ketimbang perluasan" yang memungkinkan transformasi lebih fundamental dalam komunitas target. Dakwah di luar wilayah Purwakarta umumnya dilakukan atas dasar undangan, mencerminkan prinsip fokus dan konsistensi yang menjadi ciri khas pendekatan Mama Cianting. Institusionalisasi dakwah lebih lanjut diwujudkan melalui pembentukan organisasi Sanrighos Al-Aqthob yang menjadi wadah formal untuk berbagai kegiatan dakwah dan sosial yang diinisiasi.

Karakteristik unik dari materi dakwah Mama Cianting terletak pada penekanan konsisten pada aspek-aspek fundamental agama yang seringkali diabaikan dalam tren dakwah kontemporer. Fokus utama materi dakwahnya meliputi fiqih dasar seperti bab bersuci, wudhu, shalat, zakat, fiqh perempuan, fiqh suami istri, dan fiqh pernikahan. Pendekatan ini merefleksikan keyakinan bahwa pemahaman mendalam tentang aspekaspek fundamental merupakan prasyarat untuk pengembangan spiritualitas yang autentik. Sebagaimana disampaikan Mama Cianting dalam salah satu ceramahnya: "Percuma berbicara tentang tasawuf tingkat tinggi jika cara wudhu saja masih salah. Percuma berbicara tentang politik Islam jika shalat lima waktu masih bolong-bolong." Dimensi global dalam perjalanan dakwah Mama Cianting terlihat dari kunjungan-kunjungan Mama Cianting ke luar negeri, baik untuk memperdalam ilmu maupun berziarah ke makam ulama, khususnya para pengarang kitab yang menjadi rujukan kajian di majelisnya. Aktivitas ini mencerminkan komitmen pada tradisi keilmuan Islam yang menekankan pentingnya silsilah keilmuan dan tabarruk (mencari keberkahan) dari para ulama terdahulu. Pengalaman global ini memperkaya wawasan dan pendekatan dakwah Mama Cianting, meskipun fokus aplikasinya tetap dalam konteks lokal.

Dalam adaptasinya terhadap perkembangan teknologi, Mama Cianting menunjukkan keterbukaan yang bijaksana tanpa mengorbankan prinsip dan substansi. Inovasi teknologi seperti penggunaan monitor untuk majelis yang lebih besar (2, 3, dan 4) memungkinkan jamaah yang duduk jauh tetap dapat melihat Mama Cianting dengan jelas saat menyampaikan ceramah. Kehadiran di platform YouTube melalui kanal "Al-Aqthob Media" bukan didorong oleh keinginan untuk viral atau popularitas, melainkan merupakan respons terhadap permintaan jamaah yang tidak dapat hadir secara fisik.

Perjalanan dakwah Mama Cianting tidak lepas dari berbagai tantangan dan resistensi, baik dari sesama tokoh agama maupun dari kalangan otoritas formal. Salah satu sumber resistensi dari tokoh agama lain berasal dari ketegasan Mama Cianting dalam isu-isu fiqih seperti kewajiban mengqadha shalat yang ditinggalkan dan ketentuan tegas dalam fiqh pernikahan. Praktik memberikan jamuan makan kepada jamaah setelah pengajian juga menjadi sumber ketegangan dengan dai lain yang menyelenggarakan pengajian pada hari yang sama. Tantangan juga datang dari kalangan pejabat ketika Mama Cianting menyinggung tentang kewajiban dan tanggung jawab pemimpin dalam Islam. Menghadapi resistensi ini, Mama Cianting tetap konsisten dengan prinsipnya namun dengan pendekatan yang bijaksana, sebagaimana diilustrasikan oleh seorang pengurus majelis: "Mama tidak pernah mundur dari prinsip, tapi selalu mencari cara menyampaikan kebenaran dengan cara yang mengurangi resistensi." Dampak sosial dari dakwah Mama Cianting terlihat jelas dalam transformasi perilaku masyarakat, khususnya para jamaah Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos Al-Aqthob Cianting. Perubahan signifikan diamati dalam hal berpakaian yang lebih sesuai syariat, perilaku sosial yang lebih positif, dan etos kerja yang meningkat. Penekanan Mama Cianting bahwa bekerja jauh lebih baik daripada mengemis telah mendorong banyak jamaah untuk mengembangkan kemandirian ekonomi.

Jaringan dan kolaborasi menjadi elemen penting dalam dakwah Mama Cianting. Mama Cianting memelihara hubungan baik dengan ulamaulama di sekitar Purwakarta, termasuk keluarga Syekh Baing Yusuf, Pesantren Sempur, Mama Sempur, Mama Rende, dan beberapa habaib. Jaringan ini memperkuat legitimasi dan jangkauan pengaruh dakwahnya dalam ekosistem keagamaan regional. Kolaborasi sosial juga tercermin dalam aktivitas kemanusiaan yang diinisiasi oleh organisasi Al-Aqthob, seperti bantuan untuk korban gempa di Cianjur tahun 2022 dan berbagai program sosial lainnya. Inovasi sosial-ekonomi juga terlihat dari inisiatif produksi air mineral dengan merek "Al-Hayat" yang menggunakan sumber mata air di daerah Cianting, menciptakan simbiosis antara pemberdayaan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Programatisasi dakwah Mama Cianting menunjukkan pendekatan yang terstruktur dan adaptif terhadap dinamika sosial. Program pengajian diorganisir dengan pola tahunan, bulanan, dan mingguan. Pengajian mingguan yang diselenggarakan setiap Senin pagi dan malam Minggu dirancang dengan pertimbangan strategis, terutama untuk pengajian malam Minggu yang bertujuan memberikan alternatif positif bagi kaum muda dibandingkan aktivitas malam minggu yang sering kali negatif. Pengajian harian yang diselenggarakan selepas Ashar biasanya hanya memenuhi satu majelis, berbeda dengan pengajian Senin dan malam Minggu yang dapat memenuhi hingga empat majelis. Strukturisasi waktu ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang pola aktivitas sosial masyarakat dan strategi pengoptimalan dampak dakwah.

Keterlibatan Mama Cianting dalam isu-isu sosial-politik menunjukkan dimensi profetik dalam pendekatan dakwahnya. Mama Cianting aktif memberikan perspektif Islam terhadap isu-isu politik dan tidak ragu mengkritisi kebijakan yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Pendekatan ini merefleksikan tradisi amar ma’ruf nahi munkar yang integral dalam dakwah profetik.

Aspek yang membedakan pendekatan dakwah Mama Cianting dari banyak dai kontemporer adalah integralitas antara wacana dan praktik sosial. Ceramah-ceramahnya tidak berhenti pada tataran retorika, tetapi ditindaklanjuti dengan program-program konkret yang menyentuh permasalahan riil masyarakat. Memberikan makan kepada jamaah setelah pengajian, misalnya, tidak sekadar praktik hospitality tetapi merupakan implementasi nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar dalam proses pencerahan spiritual.

Efektivitas pendekatan dakwah Mama Cianting terletak pada kemampuannya memadukan ketegasan dalam prinsip dengan fleksibilitas dalam metode. Di satu sisi, Mama Cianting tidak berkompromi dalam halhal prinsipil seperti kewajiban shalat, aturan thaharah, dan prinsip akidah. Di sisi lain, Mama Cianting menunjukkan adaptabilitas dalam metode penyampaian, penggunaan teknologi, dan pengembangan program yang relevan dengan kebutuhan kontemporer. Keseimbangan ini menciptakan model dakwah yang kokoh dalam prinsip namun dinamis dalam implementasi.

Perkembangan organisasi Al-Aqthob di bawah kepemimpinan Mama Cianting menunjukkan evolusi dari model dakwah personal menuju institusi sosial-keagamaan yang komprehensif. Organisasi ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat transmisi pengetahuan agama tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan pelayanan masyarakat. Pengembangan pondok pesantren, program sosial, dan inisiatif ekonomi seperti produksi air mineral mencerminkan visi holistik yang melihat dakwah sebagai proses transformasi integral yang menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, kiprah dakwah Mama Cianting mendemonstrasikan model retorika profetik yang mengintegrasikan kedalaman spiritual dengan kepekaan sosial, ketegasan prinsip dengan kebijaksanaan metode, dan kearifan tradisional dengan adaptabilitas kontemporer. Model ini menawarkan alternatif yang signifikan dalam lanskap dakwah Indonesia kontemporer yang seringkali terjebak dalam dikotomi tradisionalisme kaku atau modernisme dangkal. Pendekatan holistik yang dicontohkan oleh Mama Cianting menunjukkan bagaimana dakwah dapat tetap relevan dan transformatif dalam konteks masyarakat yang terus berubah tanpa kehilangan keotentikan dan substansi spiritualnya. c. Posisi dan Peran di Masyarakat Karakteristik dakwah Mama Cianting memiliki keunikan yang menjadikannya berbeda dan efektif dalam konteks sosio-kultural masyarakat Purwakarta. Pendekatan dakwah Mama Cianting menampilkan integrasi harmonis antara prinsip-prinsip fundamental Islam dengan sensitivitas kontekstual, menciptakan model dakwah yang substansial namun tetap membumi.

1) Fokus pada Aspek Dakwah Ta'shiliyah Pendekatan dakwah yang diusung oleh Mama Cianting dapat dianalisis secara tepat menggunakan kerangka konseptual Dakwah Ta'shiliyah (‫)دعوة تأصيلية‬. Secara etimologis, istilah ini berakar dari kata ashl (‫ )أصل‬yang berarti "fondasi" atau "akar". Dengan demikian, Dakwah Ta'shiliyah adalah sebuah model dakwah yang bertujuan untuk mengokohkan kembali fondasi dan akar pemahaman agama seorang Muslim, alih-alih mengejar tema-tema populer yang bersifat temporer. Fokus utamanya adalah memastikan jamaah memiliki pemahaman yang kuat tentang hal-hal paling mendasar (ushul), terutama dalam ranah fiqih ibadah.

Praktik ta'shil inilah yang menjadi ciri utama dan pembeda dakwah Mama Cianting. Konsistensinya terlihat dalam pengajian rutin yang secara sistematis membahas aspek-aspek elementer seperti thaharah (bersuci), wudhu, tayamum, shalat, dan kewajiban mendasar lainnya. Karakteristik ta'shiliyah yang kontras dengan tren dakwah kontemporer ini dirasakan betul oleh para jamaahnya. Sebagaimana dituturkan oleh Dedi, salah seorang jamaah:

"Ketika banyak pendakwah berlomba menyajikan tema-tema 'kekinian' dan entertainment, Mama Cianting konsisten mengajarkan bab-bab fiqih dasar dengan kedalaman yang jarang ditemui dalam ceramah era sekarang."240 Kesaksian Dedi tersebut mengafirmasi bahwa Mama Cianting secara sadar memilih jalur yang berbeda. Ketika panggung dakwah modern banyak diisi oleh konten yang berorientasi pada "entertainment", Mama Cianting justru mengambil peran sebagai seorang mu'ashshil (orang yang mengokohkan fondasi). Ia memastikan "bangunan" keislaman jamaahnya berdiri di atas dasar yang kuat dan autentik, sebuah pilihan yang jelas menempatkan substansi di atas popularitas, yang merupakan esensi dari dakwah ta'shiliyah.

Pendekatan ini didasarkan pada filosofi pendidikan Islam klasik yang menekankan pentingnya membangun fondasi keilmuan yang kokoh sebelum membahas aspek-aspek yang lebih kompleks. Sebagaimana sering disampaikan Mama Cianting dalam ceramahnya: "Ibadah itu seperti bangunan, kalau fondasinya rapuh, mau setinggi apapun, tetap akan roboh. Fondasi ibadah adalah thaharah dan shalat. Kalau ini saja belum benar, bagaimana bisa membicarakan tasawuf tingkat tinggi?" Filosofi ini 240 Wawancara dengan Dedi, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025. mencerminkan model pendidikan pesantren tradisional yang menekankan pembelajaran bertahap dan sistematis.

Kedalaman pembahasan tentang aspek dakwah Ta'shiliyah ini menjangkau berbagai dimensi kehidupan, termasuk fiqh perempuan, fiqh suami-istri, dan fiqh muamalah sehari-hari. Pembahasan tidak hanya berhenti pada tataran legal-formal, tetapi juga menelusuri dimensi hikmah dan relevansi kontemporer dari setiap aspek yang dibahas. Endang seorang jamaah menggambarkan: "Yang membuat kami betah adalah cara Mama menjelaskan kenapa suatu hukum ditetapkan, apa hikmahnya, dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mama Cianting tidak hanya menyampaikan hukum, tapi membuat kami paham dan termotivasi untuk menerapkannya." 2) Integrasi Dimensi Syariah, Akidah, dan Tasawuf Karakteristik lain yang menonjol dalam dakwah Mama Cianting adalah integrasi harmonis antara dimensi syariah (hukum Islam), akidah (teologi), dan tasawuf (spiritualitas). Berbeda dengan kecenderungan pendakwah kontemporer yang sering terjebak dalam dikotomi formalisme syariah versus spiritualisme sufistik, Mama Cianting berhasil menyajikan Islam sebagai sistem yang komprehensif dan integratif.

Dalam ceramah-ceramahnya, pembahasan tentang ketentuanketentuan fiqih selalu dihubungkan dengan dimensi akidah dan nilai-nilai spiritual. Misalnya, ketika membahas tentang wudhu, Mama Cianting tidak hanya menjelaskan teknis pelaksanaan dan hukum-hukumnya, tetapi juga makna spiritual dari setiap gerakan dan basuhan, serta hubungannya dengan konsep penyucian jiwa, membuat ritual yang tampak sederhana ini menjadi pengalaman transformatif bagi jamaah.

Integrasi ini tercermin dalam struktur pengajian yang membagi fokus pada tiga kitab utama yang mewakili tiga dimensi tersebut: kitab fiqih untuk dimensi syariah, kitab tauhid untuk dimensi akidah, dan kitab tasawuf untuk dimensi spiritual. Pendekatan ini menciptakan pemahaman Islam yang holistik dan seimbang, menjauhkan jamaah dari kecenderungan ekstrem formalistik atau spiritualistik semata.

3) Kontekstualisasi Pesan dalam Kultur Lokal Karakteristik signifikan lainnya adalah kemampuan Mama Cianting dalam mengkontekstualisasikan pesan-pesan universal Islam dalam kerangka kultural lokal masyarakat Sunda. Penggunaan bahasa Sunda sebagai medium utama dakwah tidak sekadar pilihan pragmatis, tetapi merupakan strategi kultural yang mendalam.

Mama Cianting menggunakan beragam tingkatan bahasa Sunda (lemes, sedeng, kasar) yang disesuaikan dengan konteks, audiens, dan pesan yang ingin disampaikan. Kemampuan beralih antar tingkatan bahasa ini mencerminkan kecerdasan kultural dan pemahaman mendalam tentang struktur sosial masyarakat.

Selain penggunaan bahasa, kontekstualisasi juga dilakukan melalui penggunaan metafora, perumpamaan, dan kisah yang berakar pada pengalaman sehari-hari masyarakat lokal. Ketika menjelaskan konsepkonsep abstrak, Mama Cianting sering menggunakan perumpamaan dari aktivitas pertanian, perdagangan, atau kehidupan rumah tangga yang familiar bagi jamaahnya.

4) Penggunaan Humor dan Pendekatan Retoris Karakteristik khas lain dalam dakwah Mama Cianting adalah penggunaan humor dan teknik retoris yang efektif. Berbeda dengan humor dalam dakwah populer yang seringkali terpisah dari substansi atau bahkan menjadi tujuan utama, humor dalam ceramah Mama Cianting terintegrasi secara organik dengan pesan dakwah, berfungsi sebagai alat pedagogis untuk memperkuat pemahaman konsep-konsep kunci. Humor dalam ceramah Mama Cianting bukanlah untuk entertainment semata, melainkan metode retoris yang membantu jamaah mengingat dan memahami poin-poin penting.

Teknik retoris lain yang digunakan meliputi variasi intonasi, pengulangan strategis, dan pertanyaan reflektif yang mendorong jamaah untuk berpikir kritis. Penggunaan jeda dan diam (silence) dalam ceramah juga menjadi elemen retoris yang efektif, menciptakan ruang bagi jamaah untuk mencerna informasi dan melakukan kontemplasi. Penggunaan gestur dan ekspresi wajah yang ekspresif memperkuat penyampaian pesan dan menciptakan koneksi emosional dengan jamaah.

Mama Cianting juga dikenal dengan kemampuannya menggunakan teknik narasi yang memikat, mengintegrasikan kisah-kisah dari Al-Quran, hadits, sejarah Islam, dan pengalaman personal untuk mengilustrasikan poin-poin penting. Pendekatan naratif ini sangat efektif dalam membantu jamaah menginternalisasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-hari.

5) Ketegasan Prinsip dengan Kebijaksanaan Metode Karakteristik penting lainnya adalah perpaduan antara ketegasan dalam prinsip dengan kebijaksanaan dalam metode penyampaian. Mama Cianting dikenal dengan pendiriannya yang tegas dalam hal-hal prinsipil seperti kewajiban shalat, qadha ibadah yang ditinggalkan, dan ketentuan syariah lainnya. Nana Ahmad Taqiyuddin, seorang pengurus majelis menjelaskan: "Mama tidak pernah berkompromi dalam hal prinsip. Kalau shalat yang ditinggalkan harus diqadha, Mama Cianting tegaskan itu tanpa ragu, meskipun mungkin tidak populer."241 Namun, ketegasan prinsip ini diimbangi dengan kebijaksanaan dalam metode penyampaian yang mempertimbangkan kesiapan jamaah. Pendekatan gradual (tadarruj) diterapkan dalam memperkenalkan praktikpraktik keagamaan, dengan pemahaman bahwa transformasi spiritual adalah proses bertahap. Sebagaimana disampaikan oleh Imas, seorang jamaah: "Mama mengajarkan kami agama secara bertahap. Mama Cianting 241 Wawancara dengan Nana Ahmad Taqiyuddin, oleh penulis, Cianting, 19 September 2024. paham bahwa perubahan butuh proses, dan selalu memberi motivasi tanpa memaksa." Keseimbangan ini menciptakan suasana pembelajaran yang mendorong pertumbuhan spiritual tanpa menimbulkan kecemasan berlebihan atau resistensi psikologis. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dakwah bil-hikmah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran (An-Nahl: 125) yang menekankan kebijaksanaan dalam penyampaian pesan keagamaan.

6) Integrasi Dakwah Verbal dan Aksi Sosial Karakteristik signifikan yang membedakan dakwah Mama Cianting dengan banyak pendakwah lain adalah integrasi harmonis antara dakwah verbal (bil-lisan) dan aksi sosial (bil-hal). Ceramah dan pengajian tidak berdiri sendiri, melainkan diikuti dengan program-program sosial konkret yang merespons kebutuhan riil masyarakat. Praktik memberikan makan kepada jamaah setelah pengajian, misalnya, bukan sekadar tradisi hospitality melainkan manifestasi nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang integral dalam Islam.

Program bantuan untuk korban bencana, seperti yang dilakukan saat gempa Cianjur tahun 2022, dan inisiatif produksi air mineral "Al-Hayat" yang menggunakan sumber mata air lokal mencerminkan pemahaman dakwah sebagai proses transformasi sosial yang holistik.

7) Adaptasi Teknologi dengan Substansi Tradisional Karakteristik modern dalam dakwah Mama Cianting terlihat dari kemampuannya mengadaptasi teknologi tanpa mengorbankan substansi tradisional. Penggunaan monitor untuk majelis yang lebih besar, pemanfaatan sistem suara yang memadai, dan kehadiran di platform YouTube melalui kanal "Al-Aqthob Media" menunjukkan keterbukaan terhadap inovasi teknologi. Namun, berbeda dengan kecenderungan pendakwah digital yang seringkali mengadaptasi konten untuk meningkatkan engagement, Mama Cianting tetap mempertahankan substansi dan kedalaman dalam konten digitalnya.

Konten di kanal YouTube tetap konsisten membahas aspek-aspek fundamental Islam seperti fiqh thaharah, shalat, dan tauhid, meskipun dengan format yang lebih singkat (sekitar 10 menit) dibandingkan pengajian tatap muka (hingga 3 jam). Adaptasi ini mencerminkan pemahaman tentang karakteristik konsumsi konten digital tanpa mengorbankan kualitas dan kedalaman pesan.

8) Pendekatan Interaktif dan Dialogis Karakteristik penting lainnya adalah pendekatan interaktif dan dialogis dalam proses dakwah. Meskipun menggunakan format ceramah, pengajian Mama Cianting memberikan ruang yang cukup untuk interaksi dengan jamaah melalui sesi tanya jawab yang substantif. Pertanyaanpertanyaan jamaah tidak hanya dijawab secara normatif, tetapi dibahas secara mendalam dengan mempertimbangkan konteks dan kompleksitas masalah.

Dialog dalam pengajian Mama Cianting menjadi ruang bagi kokonstruksi pemahaman keagamaan yang melibatkan perspektif jamaah. Pendekatan ini menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis dan partisipatif, memungkinkan jamaah tidak hanya menjadi penerima pasif tetapi juga partisipan aktif dalam proses konstruksi makna.

Dalam proses dialogis, Mama Cianting menyesuaikan arah pembahasan, kecepatan penyampaian, atau tingkat kompleksitas berdasarkan respons jamaah selama ceramah. Kemampuan ini memperlihatkan keterampilan komunikasi interpersonal dan fokus pada transmisi pengetahuan.

Metode pengajian yang diterapkan juga mencakup penggunaan bahasa yang sederhana dan contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari yang mudah dipahami oleh jamaah dari berbagai latar belakang. Hal ini memudahkan proses internalisasi ajaran agama ke dalam praktik kehidupan nyata. Mama Cianting juga sering menggunakan humor yang sesuai untuk mencairkan suasana dan mempertahankan perhatian jamaah selama sesi pengajian berlangsung.

Sistem tanya-jawab yang diintegrasikan dalam pengajian memberikan kesempatan bagi jamaah untuk mengklarifikasi pemahaman dan mengajukan pertanyaan tentang isu-isu yang relevan dengan konteks kehidupan mereka. Ini menjembatani kesenjangan antara teori keagamaan dan implementasi praktisnya dalam masyarakat.

Pendekatan Mama Cianting juga menunjukkan sensitivitas terhadap keragaman jamaah, baik dari segi usia, pendidikan, maupun latar belakang sosial. Adaptabilitas dalam metode penyampaian ini berperan penting dalam menciptakan inklusivitas dan aksesibilitas pengetahuan keagamaan bagi semua lapisan masyarakat.

9) Dimensi Kritis-Transformatif Karakteristik yang tidak kalah penting dalam dakwah Mama Cianting adalah dimensi kritis-transformatif yang tidak hanya fokus pada praktik ritual individual tetapi juga pada isu-isu sosial-struktural. Mama Cianting menyinggung persoalan ketidakadilan, korupsi, dan disfungsi sosial lainnya, termasuk mengkritisi kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Pendekatan ini mencerminkan tradisi amar ma’ruf nahi munkar yang integral dalam dakwah profetik.

Kritik sosial dalam ceramah Mama Cianting tidak berhenti pada diagnosa, tetapi selalu disertai dengan alternatif solusi berbasis nilai-nilai Islam. Mama Cianting menawarkan perspektif alternatif dan mendorong jamaah untuk menjadi agen perubahan dalam kapasitas mereka masingmasing.

Dimensi kritis ini juga terlihat dalam upaya Mama Cianting mendorong etos kerja dan kemandirian ekonomi di kalangan jamaah.

Penekanan bahwa bekerja jauh lebih baik daripada mengemis mencerminkan visi transformasi sosial-ekonomi yang integral dengan pemahaman keagamaan.

10) Ritualisasi dan Simbolisme Aspek lain yang menjadi karakteristik dakwah Mama Cianting adalah penggunaan ritualisasi dan simbolisme yang memperkuat pengalaman keagamaan jamaah. Ritualisasi ini terlihat dalam struktur pengajian yang konsisten, penggunaan doa-doa pembuka dan penutup yang khas, serta praktek dzikir dan shalawat kolektif. Elemen-elemen ini menciptakan kohesi sosial dan memfasilitasi pengalaman spiritual kolektif yang mendalam.

Simbolisme juga hadir dalam penamaan "Sanrighos" (santri-santri rijalul ghaib) untuk majelis taklim, yang mencerminkan aspirasi spiritual dan merepresentasikan identitas kolektif jamaah. Penggunaan simbolsimbol visual seperti kaligrafi, dekorasi majelis, dan pakaian khas dalam acara-acara tertentu memperkuat dimensi kultural dan spiritual dari praktik keagamaan.

11) Pemberdayaan Komunitas Karakteristik final yang menonjol dalam dakwah Mama Cianting adalah orientasi pada pemberdayaan komunitas secara holistik. Berbeda dengan model dakwah yang berfokus pada transformasi individual semata, Mama Cianting melihat dakwah sebagai proses pembangunan komunitas yang komprehensif. Pengembangan dari majelis taklim menjadi pondok pesantren dan kemudian menjadi organisasi dengan berbagai program sosial-ekonomi mencerminkan visi pemberdayaan ini.

Inisiatif ekonomi seperti produksi air mineral "Al-Hayat" tidak hanya memberikan sumber pendapatan bagi organisasi tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan model kemandirian ekonomi bagi masyarakat. Program-program sosial seperti santunan untuk kaum dhuafa dan bantuan bencana memperkuat jejaring solidaritas sosial dan membangun resiliensi komunitas.

Karakteristik dakwah Mama Cianting secara keseluruhan mencerminkan model retorika profetik yang mengintegrasikan dimensi epistemologis (pengetahuan), aksiologis (nilai), dan praksis (tindakan) dalam kerangka transformasi sosial-spiritual yang komprehensif. Model ini menawarkan alternatif yang signifikan dalam lanskap dakwah kontemporer yang seringkali terjebak dalam dikotomi tradisionalisme versus modernisme, ritualisme versus aktivisme, atau spiritualisme versus formalisme. Pendekatan integratif, kontekstual, dan transformatif yang dicontohkan oleh Mama Cianting menunjukkan bagaimana dakwah dapat menjadi kekuatan dinamis dalam membangun masyarakat yang berkeadilan dan bermartabat berdasarkan nilai-nilai Islam yang autentik dan universal.

2. Gambaran Umum Dakwah di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos

Al-Aqthob Cianting a. Profil Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob merupakan lembaga pendidikan Islam non-formal yang didirikan oleh K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) pada tahun 1990 di Desa Cianting, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Pendirian majelis ini dilatarbelakangi oleh kesadaran Mama Cianting terhadap urgensi pembentukan wadah pembelajaran agama yang lebih terstruktur setelah sebelumnya Mama Cianting lebih banyak melakukan aktivitas dakwah di ruang-ruang publik seperti terminal, pasar, dan tempat-tempat umum lainnya. Menurut informasi dari wawancara dengan pengurus majelis, transformasi pendekatan dakwah Mama Cianting dari model jalanan menuju institusionalisasi dalam bentuk majelis taklim mencerminkan kesadaran strategis akan pentingnya pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan dalam pengembangan dakwah. Nama "Sanrighos" yang dipilih sebagai identitas majelis merupakan singkatan dari "santri-santri rijalul ghaib" yang dimaknai oleh Mama Cianting sebagai "pemuda-pemuda pilihan", mencerminkan aspirasi untuk membentuk generasi Muslim yang memiliki pemahaman keislaman yang mendalam dan mampu menjadi agen perubahan dalam masyarakat.

Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob berlokasi di Desa Cianting dengan koordinat geografis -6.637576, 107.408399, tepatnya di kawasan yang masih didominasi area persawahan dan perkebunan. Lokasi ini strategis karena berada di tengah pemukiman penduduk namun tetap menyediakan atmosfer yang tenang dan kondusif untuk kegiatan pembelajaran dan spiritual. Kompleks majelis ini, yang kemudian berkembang menjadi pondok pesantren, menempati lahan seluas 9.140,76 m² (diluar area parkir, dua masjid, dan pasar) dengan berbagai bangunan yang didominasi warna putih sebagai representasi nilai kesucian, kemurnian, dan kesederhanaan dalam tradisi Islam.

Dokumentasi lapangan menunjukkan bahwa kompleks ini terdiri dari berbagai bangunan utama dengan spesifikasi sebagai berikut: majelis utama berukuran 904,06 m² yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pengajian dengan kapasitas menampung 1.800 jamaah laki-laki (dengan sistem lesehan); pondok santri putra 2 tingkat berukuran 142,70 m² dengan kapasitas 150 santri; pondok putra kedua berukuran 396,53 m² dengan kapasitas 350 santri; majelis kedua berukuran 333,10 m² dengan kapasitas 660 jamaah; majelis perempuan atau majelis ketiga berukuran 572,47 m² dengan kapasitas 1.140 jamaah; majelis perempuan atau majelis keempat berukuran 483,59 m² dengan kapasitas 960 jamaah; pondok perempuan berukuran 266,91 m² dengan kapasitas 250 santri; pondok perempuan kedua berukuran 145,15 m² dengan kapasitas 150 santri.

Secara keseluruhan, kompleks ini menampung 900 santri (500 lakilaki dan 400 perempuan). Empat bangunan majelis utama memiliki total kapasitas untuk menampung 4.560 jamaah dalam sekali pengajian dengan sistem lesehan (duduk di lantai). Dengan memanfaatkan area terbuka dan halaman di sekitar kompleks, total kapasitas keseluruhan bisa mencapai lebih dari 10.000 jamaah pada acara-acara besar.

Fasilitas pendukung di kompleks ini meliputi dua bangunan masjid, masing-masing berukuran 313,25 m² dan 127,44 m² dengan total kapasitas 870 jamaah; dapur umum berukuran 228,85 m² yang dikelola oleh tim lakilaki untuk menyiapkan makanan bagi jamaah dan santri; area parkir yang terdiri dari tiga zona (parkir pertama 772,46 m², parkir kedua 401,03 m², dan parkir cadangan 1.700,13 m²) dengan jarak 64 meter dari parkir utama ke kompleks, dan kapasitas total 140 kendaraan roda empat dan 400 kendaraan roda dua; pasar masyarakat berukuran 765,60 m² yang menjadi pusat aktivitas ekonomi warga sekitar majelis; dan rumah Mama Cianting berukuran 203,79 m² dimana Mama Cianting melakukan persiapan spiritual di kamar khusus di majelis khusus sebelum pengajian. Berdasarkan observasi lapangan, semua bangunan ini dibangun secara bertahap sejak 1990 hingga saat ini, dengan proses pembangunan dan perbaikan yang masih terus berlangsung untuk mengakomodasi kebutuhan yang terus berkembang. Material bangunan didominasi oleh beton dan kayu dengan pemilihan warna putih sebagai elemen dekoratif utama, memberikan kesan kesatuan visual yang khas.

Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob berlokasi di Desa Cianting dengan koordinat geografis -6.637576, 107.408399, tepatnya di kawasan yang masih didominasi area persawahan dan perkebunan. Lokasi ini strategis karena berada di tengah pemukiman penduduk namun tetap menyediakan atmosfer yang tenang dan kondusif untuk kegiatan pembelajaran dan spiritual. Kompleks majelis ini, yang kemudian berkembang menjadi pondok pesantren, menempati lahan seluas 9.140,76 m² (diluar area parkir, dua masjid, dan pasar) dengan berbagai bangunan yang didominasi warna putih sebagai representasi nilai kesucian, kemurnian, dan kesederhanaan dalam tradisi Islam.

Perkembangan Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob dapat diidentifikasi dalam tiga fase utama. Fase pertama (1990-2000) merupakan periode pendirian dan konsolidasi, di mana majelis masih berupa bangunan sederhana dengan fasilitas terbatas dan jamaah yang mayoritas berasal dari Desa Cianting dengan jumlah berkisar antara 50-150 orang per pengajian. Pada fase ini, Mama Cianting telah meletakkan fondasi penting berupa pendekatan pengajaran yang integratif, menggabungkan aspek syariah, akidah, dan tasawuf. Fase kedua (2000-2010) ditandai dengan pengembangan signifikan melalui perluasan kompleks dan pembangunan pondok pesantren yang mengusung konsep tradisional (salafiyah) dengan bermazhab Imam Syafii dan berakidah Ahlussunnah wal Jamaah. Jumlah jamaah pada fase ini meningkat menjadi 300-750 orang per pengajian, dengan jangkauan geografis yang meluas ke berbagai wilayah di Kabupaten Purwakarta.

Fase ketiga (2010-sekarang) merupakan periode ekspansi masif dan transformasi digital dengan pengembangan kompleks majelis yang sekarang mampu menampung hingga 4.560 jamaah dalam empat bangunan utama menggunakan sistem lesehan. Pada acara-acara besar, dengan memanfaatkan area terbuka dan halaman sekitar, kapasitas meningkat hingga lebih dari 10.000 jamaah. Masa ini juga ditandai dengan pembangunan pondok pesantren yang kini menampung 900 santri (500 lakilaki dan 400 perempuan), serta pengembangan program sosial-ekonomi, inovasi pembelajaran, dan adaptasi teknologi untuk memperluas jangkauan dakwah. Jangkauan geografis jamaah kini telah mencapai berbagai wilayah di Jawa Barat dan provinsi lainnya, dengan komunitas jamaah tetap yang tersebar di berbagai kota besar.

Program dan kegiatan di Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos AlAqthob diorganisir dengan sangat sistematis. Pengajian rutin menjadi program inti yang dilaksanakan dengan jadwal tetap: Pengajian Senin Pagi (06.00-09.00 WIB) yang dihadiri oleh 1.800-3.000 jamaah, Pengajian Malam Minggu (18.30-20.00 WIB) dengan jumlah jamaah serupa, dan Pengajian Harian Selepas Ashar (sekitar pukul 16.00 WIB) dengan jumlah jamaah berkisar 500-1.000 orang. Pada hari-hari besar Islam, jumlah jamaah bisa mencapai lebih dari 10.000 orang yang memadati seluruh kompleks dan area sekitarnya.

Struktur pengajian mencerminkan pendekatan komprehensif dalam transmisi pengetahuan keagamaan, dengan fokus pada tiga dimensi fundamental Islam: kajian syariah melalui kitab-kitab fiqih seperti Safinatun Najah, Fathul Qarib, dan Fathul Mu'in; kajian akidah melalui kitab-kitab tauhid seperti Aqidatul Awam, Tijan ad-Durari, dan Jawahirul Kalamiyah; serta kajian tasawuf melalui kitab-kitab seperti Ta'limul Muta'alim, Bidayatul Hidayah, dan bagian-bagian tertentu dari Ihya Ulumuddin. Kitab Tarqib wa Tarkib dan Hilyatul Banat wal Banin wal Jannatul Dunya wa Dinn juga menjadi referensi penting dalam pengajian. Berdasarkan dokumentasi pengajian, keunggulan pendekatan Mama Cianting terletak pada kemampuannya menyampaikan konsep-konsep kompleks dalam bahasa yang sederhana dan kontekstual, serta konsistensinya dalam membahas aspek-aspek fundamental ajaran Islam yang sering diabaikan dalam tren dakwah kontemporer.

Selain pengajian rutin, program sholawat juga mendapat tempat penting dalam agenda Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob. Program ini meliputi pembacaan sholawat pembuka sebelum pengajian yang dipimpin oleh santri senior, majelis sholawat khusus pada peringatan hari-hari besar Islam, serta pelatihan Barzanji dan Diba' untuk santri dan jamaah. Program pendidikan pesantren yang terintegrasi dengan majelis taklim menyelenggarakan pengajian kitab kuning, tahfidz Al-Quran, dan praktik ibadah untuk 500 santri laki-laki dan 400 santri perempuan yang bermukim di pondok pesantren. Meskipun mayoritas santri tidak mendapatkan pendidikan formal karena keterbatasan akses (jarak ke lembaga pendidikan formal terdekat sekitar 10 km), kurikulum pesantren dirancang untuk memberikan bekal ilmu agama yang komprehensif. Program sosial dan ekonomi juga menjadi bagian integral dari aktivitas majelis, meliputi bantuan untuk korban bencana, santunan untuk kaum dhuafa, jamuan makan gratis untuk jamaah setelah pengajian, produksi air mineral "Al-Hayat" yang menggunakan sumber mata air di Desa Cianting, serta pengelolaan pasar masyarakat di dekat kompleks pondok.

Sistem pengajaran di Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos AlAqthob menggabungkan metode tradisional pesantren dengan adaptasi kontemporer. Metode tradisional yang diadopsi meliputi bandongan (metode klasikal di mana Mama Cianting membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan kitab), sorogan (metode individual di mana santri atau jamaah tertentu membaca dan menjelaskan kitab di hadapan guru), ngalogat (cara khas memberi makna pada kitab kuning dengan simbol-simbol dan istilah khusus dalam bahasa Sunda), serta hafalan teks-teks penting. Sebagai adaptasi terhadap kebutuhan kontemporer, majelis ini juga mengintegrasikan penggunaan teknologi audio-visual seperti pengeras suara, layar proyeksi, dan monitor untuk memfasilitasi jamaah dalam jumlah besar. Dokumentasi dan distribusi kajian dalam format digital melalui platform YouTube "Al-Aqthob Media" yang telah mencapai 13,3 ribu pengikut per Mei 2025, meningkat dari 6.460 per April 2023, juga menjadi bagian dari adaptasi tersebut. Selain itu, pendekatan tematik yang mengorganisir kajian berdasarkan isu-isu kontemporer dan metode demonstratif untuk memperjelas praktik-praktik ibadah turut memperkaya sistem pengajaran yang diterapkan. Hasil observasi menunjukkan bahwa penggunaan teknologi ini bersifat fungsional dan tidak mengorbankan substansi tradisional, tercermin dari konten digital yang tetap mempertahankan kedalaman materi meskipun dalam format yang lebih ringkas (sekitar 10 menit dibandingkan pengajian tatap muka 3 jam).

Beberapa karakteristik khas yang membedakan Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob dari lembaga serupa lainnya antara lain: dominasi warna putih pada bangunan, pakaian Mama Cianting dan jamaah, serta elemen-elemen dekoratif yang merefleksikan nilai-nilai kesucian dan kemurnian dalam Islam; pendekatan pengajaran yang mengintegrasikan secara harmonis dimensi syariah, akidah, dan tasawuf, berbeda dengan kecenderungan dikotomis pada banyak lembaga pendidikan Islam kontemporer; fokus konsisten pada aspek-aspek fundamental ajaran Islam yang sering terabaikan dalam tren dakwah populer; praktik jamuan makan gratis untuk jamaah setelah pengajian yang mencerminkan implementasi nilai-nilai solidaritas; serta adaptasi teknologi yang tidak mengorbankan substansi tradisional. Dari perspektif struktur organisasi, Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob menerapkan model kepemimpinan yang menggabungkan otoritas tradisional (dengan Mama Cianting sebagai pengasuh utama) dan manajemen modern (dengan struktur kepengurusan yang sistematis untuk operasional sehari-hari).

Dalam konteks jejaring, Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos AlAqthob telah membangun hubungan ekstensif dengan berbagai pihak. Mama Cianting memelihara relasi dengan ulama-ulama di Purwakarta, termasuk keluarga Syekh Baing Yusuf, Pesantren Sempur, Mama Sempur, Mama Rende, dan beberapa Sayyid & habib. Majelis ini juga telah terdaftar secara resmi pada Kementerian Agama sebagai lembaga pendidikan Islam non-formal, memudahkan koordinasi dengan pemerintah dan akses terhadap program-program pembinaan. Di tingkat global, terdapat koneksi dengan institusi keagamaan luar negeri melalui kunjungan Mama Cianting untuk pendalaman ilmu dan ziarah ke makam ulama, khususnya para pengarang kitab yang menjadi rujukan kajian. Ekspansi ke platform digital melalui YouTube "Al-Aqthob Media" juga memungkinkan jangkauan dakwah melampaui batasan geografis.

Dari segi dampak sosial, keberadaan Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob telah berkontribusi signifikan terhadap transformasi perilaku masyarakat. Berdasarkan wawancara dengan jamaah dan observasi lapangan, terdapat perubahan positif dalam hal berpakaian yang lebih sesuai syariat, perilaku sosial yang lebih terkendali, serta peningkatan etos kerja sebagai hasil dari penekanan Mama Cianting bahwa bekerja jauh lebih baik daripada mengemis. Majelis ini juga berperan dalam memperkuat kohesi sosial masyarakat, mengurangi potensi konflik, dan meningkatkan solidaritas melalui berbagai program sosial. Kontribusi lain yang tidak kalah penting adalah pelestarian dan kontekstualisasi nilai-nilai Islam dalam kerangka budaya Sunda, menciptakan model keislaman yang autentik namun tetap relevan dengan kondisi lokal.

Melalui pendekatan yang mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam klasik dengan adaptasi terhadap kebutuhan kontemporer, Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al-Aqthob telah membuktikan diri sebagai institusi pendidikan Islam non-formal yang berkelanjutan dan berdampak luas. Keberhasilan ini memberikan model alternatif di tengah lanskap pendidikan Islam yang sering terjebak dalam dikotomi tradisionalisme versus modernisme, menunjukkan bahwa pendekatan integratif dan kontekstual dapat menjadi kunci keberlanjutan institusi pendidikan Islam dalam masyarakat yang terus berubah. Dengan berbagai program dan aktivitasnya, majelis ini telah berkembang melampaui fungsi konvensional sebagai lembaga pengajian, menjadi katalisator transformasi sosial yang komprehensif bagi masyarakat di Desa Cianting dan sekitarnya. b. Karakteristik jamaah Karakteristik jamaah Majelis Sholawat & Taklim Sanrighos Al- Aqthob merupakan aspek penting dalam memahami konteks sosial dan efektivitas retorika profetik Mama Cianting. Bagian ini mendeskripsikan dan menganalisis secara komprehensif profil, latar belakang, motivasi, serta pola partisipasi jamaah yang menjadi audiens dalam dakwah Mama Cianting.

1) Komposisi Demografis Jamaah Jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menunjukkan keragaman demografis yang signifikan, mencerminkan daya tarik dakwah Mama Cianting yang melampaui sekat-sekat sosial. Berdasarkan pengamatan lapangan dan data administratif majelis, terdapat pola distribusi usia yang cukup merata, dengan dominasi kelompok usia produktif (25-55 tahun) yang mencapai sekitar 65% dari total jamaah. Komposisi ini menandakan bahwa majelis ini menarik bagi individu yang sedang aktif dalam kehidupan profesional dan keluarga, namun masih mencari pengayaan spiritual dalam kehidupan mereka. Proporsi ini menjadi indikator penting bahwa pesan-pesan yang disampaikan Mama Cianting memiliki relevansi praktis dengan kehidupan sehari-hari jamaah, terutama dalam konteks menghadapi tantangan kehidupan modern.

Kehadiran generasi muda (18-25 tahun) yang berkisar 20% menunjukkan relevansi pesan dakwah Mama Cianting bagi berbagai generasi. Fenomena ini cukup signifikan mengingat umumnya kelompok usia ini seringkali sulit terjangkau oleh aktivitas keagamaan tradisional. Ketertarikan generasi muda ini dapat dijelaskan melalui pendekatan dakwah Mama Cianting yang mampu mengkontekstualisasikan ajaran agama dengan cara yang relevan bagi kehidupan kontemporer, termasuk penggunaan bahasa yang dapat dipahami dan metode penyampaian yang tidak kaku. Sementara itu, kehadiran 15% jamaah berusia di atas 55 tahun tidak hanya menandakan loyalitas jangka panjang pengikut senior, tetapi juga mencerminkan fungsi majelis sebagai ruang sosial yang menyediakan dukungan spiritual dan komunal bagi kelompok lanjut usia yang mungkin menghadapi fase transisi dalam kehidupan seperti masa pensiun atau perubahan peran dalam keluarga.

Dari segi gender, terdapat keseimbangan yang cukup proporsional antara jamaah laki-laki dan perempuan, dengan rasio 55:45. Komposisi gender yang relatif seimbang ini berbeda dengan pola umum majelis taklim di Indonesia yang sering didominasi oleh satu gender tertentu, khususnya dominasi perempuan pada majelis taklim di wilayah perkotaan. Keseimbangan ini merupakan pencapaian signifikan yang dapat dijelaskan melalui beberapa faktor. Pertama, materi dakwah yang disampaikan Mama Cianting memiliki spektrum yang luas, mencakup isu-isu yang relevan bagi kedua gender. Kedua, pendekatan pengajaran yang diterapkan tidak memiliki bias gender tertentu, sehingga menciptakan ruang yang nyaman bagi semua jamaah. Ketiga, struktur organisasi majelis yang memberikan peran dan tanggung jawab setara bagi laki-laki dan perempuan, yang mencerminkan nilai-nilai egalitarian dalam praktik keagamaan. Keempat, jadwal kegiatan yang fleksibel memungkinkan partisipasi optimal dari jamaah dengan berbagai latar belakang dan tanggung jawab sosial.

Ditinjau dari distribusi geografis, mayoritas jamaah (sekitar 70%) berasal dari wilayah Purwakarta dan sekitarnya, mencakup berbagai kecamatan baik di wilayah urban maupun pedesaan. Konsentrasi lokal ini menunjukkan bahwa majelis ini telah menjadi institusi keagamaan yang mengakar kuat dalam konteks sosio-kultural masyarakat setempat. Pengaruh dakwah Mama Cianting telah terintegrasi dalam kehidupan keagamaan komunitas lokal, menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Purwakarta. Sementara itu, 30% jamaah lainnya datang dari luar kabupaten, termasuk dari kota-kota besar seperti Karawang, Jakarta, dan Bekasi, bahkan beberapa berasal dari luar provinsi Jawa Barat seperti Jawa Tengah dan Banten.

Pola distribusi geografis ini mengindikasikan jangkauan pengaruh Mama Cianting yang cukup luas, melampaui batas-batas administratif lokal. Kehadiran jamaah dari luar wilayah yang rela menempuh perjalanan jauh secara reguler untuk mengikuti kegiatan majelis menggambarkan daya tarik spiritual yang kuat. Fenomena ini umumnya ditemukan pada figur ulama karismatik yang memiliki daya tarik spiritual dan sosial yang signifikan. Ekspansi geografis jamaah juga difasilitasi oleh perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi yang memungkinkan diseminasi ajaran dan mobilitas fisik yang lebih mudah. Selain itu, jaringan alumni santri Mama Cianting yang tersebar di berbagai wilayah turut berperan sebagai agen penyebaran pengaruh dakwah Mama Cianting, menciptakan komunitaskomunitas satelit yang terhubung dengan majelis pusat di Purwakarta.

2) Stratifikasi Sosial-Ekonomi Jamaah Analisis terhadap latar belakang sosial-ekonomi jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menunjukkan heterogenitas yang signifikan, mencakup berbagai lapisan masyarakat. Data yang dihimpun melalui wawancara dan observasi menunjukkan bahwa jamaah berasal dari beragam latar belakang ekonomi, mulai dari kalangan menengah ke bawah hingga kalangan menengah ke atas.

Dari segi profesi, jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob mencakup spektrum yang luas dan merepresentasikan berbagai lapisan sosial-ekonomi masyarakat. Berdasarkan pendataan dan pengamatan sistematis terhadap kehadiran jamaah dalam berbagai kegiatan, teridentifikasi distribusi profesi sebagai berikut: petani (25%), pedagang kecil dan menengah (20%), pegawai negeri (15%), profesional swasta (15%), buruh (10%), ibu rumah tangga (10%), dan mahasiswa/pelajar (5%).

Proporsi petani yang mencapai seperempat dari total jamaah mencerminkan karakteristik Purwakarta sebagai wilayah yang masih memiliki sektor pertanian yang signifikan. Para petani ini tidak hanya berasal dari pertanian padi, tetapi juga mencakup petani buah-buahan, sayuran, dan tanaman perkebunan lainnya. Keterlibatan aktif mereka dalam majelis mencerminkan integrasi nilai-nilai spiritual dalam aktivitas bertani, di mana banyak dari mereka menerapkan prinsip-prinsip etika pertanian yang diajarkan oleh Mama Cianting, seperti menjaga kelestarian lingkungan dan berbagi hasil panen dengan kaum dhuafa.

Kelompok pedagang kecil dan menengah (20%) meliputi berbagai jenis usaha, mulai dari pedagang pasar tradisional, pemilik toko kelontong, hingga pengusaha UMKM yang mengelola usaha produksi makanan, kerajinan, dan jasa. Bagi kelompok ini, partisipasi dalam majelis tidak hanya memberikan dukungan spiritual tetapi juga menciptakan jaringan sosial-ekonomi informal yang memfasilitasi kerjasama bisnis dan dukungan komunal. Beberapa pedagang mengaku menerapkan etika bisnis Islam yang dipelajari dari pengajian Mama Cianting, seperti kejujuran dalam bertransaksi dan penghindaran praktik riba.

Pegawai negeri (15%) yang terdiri dari guru, staf pemerintahan daerah, dan pegawai instansi publik lainnya, bersama dengan profesional swasta (15%) dari berbagai bidang seperti perbankan, asuransi, dan jasa profesional, membentuk kelompok jamaah dengan latar belakang pendidikan formal yang relatif tinggi. Kehadiran mereka memperkaya dinamika diskusi dalam kajian-kajian yang diselenggarakan, terutama ketika membahas isu-isu kontemporer yang memerlukan perspektif multidisipliner. Bagi banyak dari mereka, majelis berfungsi sebagai ruang refleksi spiritual yang menyeimbangkan tuntutan karir profesional yang seringkali bersifat materialistis.

Kehadiran buruh (10%) yang sebagian besar bekerja di pabrikpabrik dan proyek konstruksi di sekitar Purwakarta, menunjukkan bahwa majelis mampu menjangkau kelompok pekerja yang seringkali memiliki keterbatasan waktu dan akses terhadap kegiatan keagamaan formal. Jadwal pengajian yang fleksibel dan suasana yang inklusif menjadi faktor penting yang memungkinkan partisipasi mereka. Sementara itu, ibu rumah tangga (10%) menemukan dalam majelis ini komunitas yang mendukung dan memvalidasi peran mereka yang vital namun sering kurang diapresiasi dalam struktur sosial yang lebih luas.

Meskipun hanya mewakili 5% dari total jamaah, kehadiran mahasiswa dan pelajar merupakan indikator positif tentang keberlanjutan nilai-nilai yang diajarkan Mama Cianting bagi generasi mendatang. Mereka tidak hanya berpartisipasi dalam kajian reguler tetapi juga sering terlibat dalam kegiatan sosial dan dakwah yang diinisiasi oleh majelis, seperti aksi sosial dan program literasi keagamaan di kalangan pemuda.

Heterogenitas profesi ini menunjukkan daya tarik universal dari pendekatan dakwah Mama Cianting yang mampu menyentuh berbagai elemen masyarakat. Keberagaman ini juga mengindikasikan bahwa majelis ini berhasil menjadi ruang inklusif yang merefleksikan komposisi masyarakat secara umum, menciptakan mikrokosmosa sosial yang melampaui batas-batas stratifikasi konvensional.

Fenomena ini tergambar jelas dalam pengalaman Endang, seorang informan berusia 52 tahun yang berprofesi sebagai pedagang di pasar tradisional Purwakarta. Dalam sebuah wawancara mendalam, Mama Cianting menuturkan: "Di majelis ini tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang kurang mampu. Semua diperlakukan sama oleh Mama. Yang jadi penilaian bukan harta atau jabatan, tapi ketulusan dan keikhlasan dalam beribadah."242 Pengalaman personal ini merefleksikan atmosfer egalitarian yang secara konsisten dibangun dalam berbagai aktivitas majelis.

Keberhasilan Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob dalam menjembatani kesenjangan sosial-ekonomi ini mencerminkan konsep egalitarianisme religius, di mana institusi keagamaan menjadi ruang netral yang meminimalisir stratifikasi sosial yang ketat. Prinsip ini diwujudkan melalui beberapa mekanisme praktis dalam pengelolaan majelis: pertama, penempatan tempat duduk yang tidak membedakan status sosial; kedua, sistem kontribusi finansial yang fleksibel sesuai kemampuan; ketiga, rotasi peran dan tanggung jawab dalam kegiatan yang melibatkan jamaah dari berbagai latar belakang; dan keempat, penekanan pada nilai-nilai ketakwaan dan akhlak sebagai parameter utama dalam interaksi sosial, bukan simbolsimbol status material.

242 Endang, wawancara dengan penulis, Cianting, Purwakarta, 15 Desember 2024 Dimensi egalitarian ini juga tercermin dalam pola komunikasi dan interaksi antara Mama Cianting dengan jamaahnya. Penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, kesediaan untuk melayani konsultasi pribadi dari jamaah tanpa membedakan status sosial, serta keterbukaan terhadap kritik dan saran, semuanya memperkuat persepsi bahwa majelis ini adalah ruang spiritual yang inklusif dan demokratis. Pola relasi ini pada gilirannya menciptakan rasa memiliki yang kuat di kalangan jamaah dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi, sebagaimana tercermin dalam tingkat loyalitas dan partisipasi yang tinggi dalam berbagai kegiatan majelis.

3) Latar Belakang Pendidikan dan Literasi Keagamaan Latar belakang pendidikan jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al- Aqthob menunjukkan variasi yang signifikan, mencerminkan stratifikasi pendidikan dalam masyarakat Purwakarta secara umum. Berdasarkan survei yang dilakukan pada sampel jamaah, ditemukan bahwa 45% jamaah memiliki pendidikan dasar (SD/SMP), 30% berpendidikan menengah (SMA/SMK), 2% berpendidikan tinggi (Diploma/Sarjana), dan 23% tidak menempuh pendidikan formal. Distribusi ini konsisten dengan pola pendidikan di wilayah semi-urban seperti Purwakarta, di mana mayoritas penduduk hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SD atau SMP, sebagian besar tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, dan hanya sedikit yang mencapai tingkat pendidikan Sarjana.

Komposisi latar belakang pendidikan ini memberikan wawasan penting tentang karakteristik jamaah sekaligus menjelaskan dinamika interaksi dalam majelis. Kelompok dengan pendidikan dasar, yang sebagian besar terdiri dari generasi yang lebih tua dan mereka yang berasal dari wilayah pedesaan, umumnya menunjukkan penghormatan yang mendalam terhadap figur otoritas keagamaan seperti Mama Cianting. Sementara itu, jamaah dengan latar belakang pendidikan menengah, yang membentuk mayoritas, menjadi jembatan penting antara kelompok-kelompok dengan tingkat pendidikan yang berbeda, memfasilitasi kohesi sosial dalam komunitas majelis. Adapun jamaah dengan pendidikan tinggi seringkali berperan sebagai fasilitator diskusi dan penerjemah konsep-konsep kompleks bagi anggota lain, khususnya dalam kajian-kajian yang membahas tema-tema kontemporer yang memerlukan analisis kritis.

Temuan menarik dari analisis latar belakang pendidikan ini adalah tidak adanya korelasi langsung antara tingkat pendidikan formal dengan tingkat partisipasi dan pemahaman dalam majelis. Jamaah dengan pendidikan formal rendah tidak jarang menunjukkan pemahaman keagamaan dan keterlibatan spiritual yang mendalam. Fenomena ini mengindikasikan efektivitas pendekatan pedagogis Mama Cianting yang mampu menjembatani kesenjangan literasi dengan menggunakan bahasa dan metafora yang aksesibel bagi semua lapisan masyarakat.

Keberhasilan pendekatan ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor. Pertama, penggunaan bahasa lokal (Sunda) yang dicampur dengan bahasa Indonesia dalam proporsi yang tepat, memungkinkan penyampaian konsep-konsep kompleks dengan cara yang mudah dipahami. Kedua, pemanfaatan narasi dan kisah-kisah yang relevan dengan konteks lokal, yang memungkinkan abstraksi konsep keagamaan ke dalam pengalaman hidup sehari-hari jamaah. Ketiga, pendekatan dialogis yang memberikan ruang bagi jamaah untuk mengajukan pertanyaan dan klarifikasi, sehingga memfasilitasi proses pembelajaran yang lebih personal dan adaptif. Keempat, penggunaan analogi dan metafora yang berakar pada pengalaman hidup lokal, yang memungkinkan transformasi konsep abstrak menjadi pemahaman kongkrit.

Dalam hal literasi keagamaan, terdapat variasi yang cukup signifikan di antara jamaah. Berdasarkan wawancara mendalam dengan 25 informan, teridentifikasi tiga kelompok utama berdasarkan latar belakang pengetahuan keagamaan:

Pertama, kelompok "tradisionalis" (±35%) yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren atau madrasah, dengan pemahaman yang cukup mendalam tentang kitab kuning dan tradisi Islam klasik. Kelompok ini umumnya telah memiliki fondasi keilmuan Islam tradisional sebelum bergabung dengan majelis, termasuk kemampuan membaca teks Arab, pengetahuan dasar fiqh, dan familiaritas dengan terminologi Islam klasik. Bagi kelompok ini, pengajian Mama Cianting berfungsi sebagai forum untuk memperdalam dan memperluas pemahaman yang telah mereka miliki, khususnya dalam dimensi tasawuf dan akhlak yang menjadi penekanan khusus dalam ajaran Mama Cianting. Mereka sering mengapresiasi dimensi esoteris dari pengajaran Mama Cianting yang memperkaya pemahaman tekstual mereka dengan dimensi spiritual yang lebih dalam.

Kedua, kelompok "modernis" (±40%) yang memperoleh pendidikan keagamaan melalui institusi pendidikan formal atau organisasi keagamaan modern seperti Muhammadiyah dan Persis. Kelompok ini cenderung memiliki pendekatan yang lebih rasional dan tekstual terhadap ajaran Islam, dengan penekanan pada pemurnian akidah dan praktik ibadah. Latar belakang pendidikan mereka sering mencakup pemahaman dasar tentang tafsir Al-Qur'an dan hadits, namun tidak selalu familiar dengan tradisi kitab kuning. Bagi kelompok ini, daya tarik pengajian Mama Cianting terletak pada sintesis yang Mama Cianting tawarkan antara nilai-nilai tradisional dan modernitas, serta kemampuannya mengartikulasikan relevansi ajaran Islam dalam konteks kehidupan kontemporer tanpa mengorbankan substansi teologisnya.

Ketiga, kelompok "awam" (±25%) yang memiliki pengetahuan keagamaan minimal sebelum bergabung dengan majelis. Kelompok ini umumnya terdiri dari mereka yang baru mulai memperdalam pemahaman keagamaan pada usia dewasa, seringkali didorong oleh pengalaman hidup personal atau krisis spiritual. Mereka mengapresiasi pendekatan Mama Cianting yang tidak menghakimi dan memberikan ruang bagi pertumbuhan spiritual gradual. Bagi kelompok ini, majelis berfungsi sebagai pintu masuk ke dunia keagamaan yang sebelumnya mungkin terasa asing atau intimidatif. Mereka menghargai penjelasan Mama Cianting yang sistematis dan bertahap, mulai dari aspek-aspek dasar iman dan ibadah hingga dimensi yang lebih kompleks seperti muamalah dan tasawuf.

Keragaman latar belakang pendidikan dan literasi keagamaan ini menimbulkan tantangan sekaligus peluang bagi pendekatan retorika profetik Mama Cianting. Di satu sisi, pendekatan dakwah harus cukup sederhana untuk dipahami oleh jamaah dengan literasi keagamaan minimal; di sisi lain, harus cukup substantif untuk memuaskan jamaah dengan latar belakang pengetahuan keagamaan yang lebih kompleks. Tantangan ini diatasi melalui strategi penyampaian yang berlapis, di mana setiap ceramah mengandung pesan-pesan yang dapat diakses pada berbagai tingkat pemahaman. Penggunaan analogi dan kisah yang dapat diinterpretasikan pada tingkat yang berbeda memungkinkan jamaah dari berbagai latar belakang untuk memperoleh manfaat sesuai dengan kapasitas masingmasing.

Strategi lain yang diterapkan adalah pembagian kajian berdasarkan tingkat kesulitan dan kedalaman materi, dengan menyediakan forum khusus untuk pembahasan tema-tema yang lebih kompleks bagi jamaah yang siap untuk materi tersebut. Selain itu, sistem mentoring informal di mana jamaah dengan pemahaman lebih mendalam membantu mereka yang baru bergabung, menciptakan ekosistem pembelajaran yang saling mendukung. Formasi kelompok-kelompok diskusi kecil juga memfasilitasi pembelajaran kolaboratif yang memungkinkan pertukaran pengetahuan dan perspektif di antara jamaah dengan latar belakang berbeda.

Keberhasilan seorang dai dalam mengelola keragaman literasi keagamaan jamaahnya mencerminkan kearifan pedagogis yang menjadi ciri khas tradisi keilmuan Islam Nusantara. Dalam konteks Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob, kearifan ini dimanifestasikan dalam fleksibilitas metodologis yang memungkinkan adaptasi pendekatan dakwah sesuai dengan kebutuhan spiritual dan kapasitas intelektual jamaah yang beragam. Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan berbagai lapisan masyarakat tanpa mengorbankan kedalaman substansi merupakan indikator utama kompetensi seorang pemimpin spiritual, sebagaimana didemonstrasikan oleh Mama Cianting dalam interaksinya dengan jamaah dari beragam latar belakang pendidikan.

4) Motivasi dan Ekspektasi Jamaah Motivasi jamaah dalam mengikuti kegiatan Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menunjukkan dimensi yang kompleks dan multifaset. Berdasarkan wawancara mendalam dengan jamaah yang dilakukan selama periode penelitian lapangan, teridentifikasi beberapa kategori motivasi utama yang mendorong partisipasi mereka, dengan variasi yang mencerminkan keragaman kebutuhan spiritual dan sosial dalam masyarakat kontemporer:

Pertama, motivasi spiritual-teologis (±40%), yang mencakup keinginan untuk memperdalam pengetahuan keagamaan, meningkatkan kualitas ibadah, dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teologis. Kelompok dengan motivasi ini umumnya menunjukkan minat yang kuat pada kajian-kajian yang membahas tafsir Al-Qur'an, hadits, dan prinsipprinsip akidah. Mereka cenderung mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang makna ritual ibadah dan implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob, motivasi spiritual-teologis ini terwujud dalam antusiasme jamaah untuk mengikuti kajian kitab yang diselenggarakan secara rutin, dimana Mama Cianting mengupas teks-teks klasik Islam dengan pendekatan yang mengintegrasikan dimensi syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Jamaah dalam kategori ini sering mencatat dengan seksama, mengajukan pertanyaan terkait aspek doktrinal, dan menunjukkan kecenderungan untuk mendiskusikan materi pengajian dengan sesama jamaah di luar waktu formal majelis.

Kedua, motivasi psikologis-emosional (±30%), meliputi pencarian ketenangan batin, penyembuhan trauma, dan peningkatan resiliensi mental dalam menghadapi tekanan hidup. Bagi kelompok dengan motivasi ini, majelis berfungsi sebagai ruang terapi spiritual yang menawarkan perspektif alternatif dalam memahami dan mengatasi tantangan kehidupan. Dalam observasi lapangan, jamaah dengan motivasi ini terlihat sangat meresapi sesi dzikir dan doa bersama, yang bagi mereka merupakan momen katarsis emosional dan spiritual yang penting. Beberapa jamaah bahkan mengaku mengalami perbaikan signifikan dalam kondisi kesehatan mental mereka setelah terlibat secara konsisten dalam kegiatan majelis. Mama Cianting, dengan pendekatan pastoralnya, sering memberikan waktu khusus untuk konsultasi pribadi bagi jamaah yang menghadapi krisis emosional atau psikologis, menciptakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan keresahan dan memperoleh perspektif spiritual yang menenangkan.

Ketiga, motivasi sosial-komunal (±20%), termasuk kebutuhan akan interaksi sosial, rasa memiliki, dan jejaring dukungan dalam komunitas iman. Jamaah dengan motivasi ini menghargai aspek kebersamaan dalam majelis, yang menawarkan peluang untuk membangun koneksi bermakna dengan individu yang memiliki nilai dan minat serupa. Manifestasi dari motivasi ini terlihat dalam tingginya tingkat partisipasi dalam kegiatankegiatan komunitas di luar pengajian formal, seperti kerja bakti, kunjungan ke anggota jamaah yang sakit, dan perayaan hari-hari besar Islam. Majelis juga berfungsi sebagai jembatan sosial yang menghubungkan individu dari berbagai latar belakang, menciptakan modal sosial yang berharga dalam komunitas yang lebih luas. Bagi banyak jamaah, khususnya mereka yang baru pindah ke area Purwakarta atau yang mengalami isolasi sosial karena berbagai faktor, majelis menawarkan jaringan dukungan yang menjadi sumber daya penting dalam navigasi kehidupan sehari-hari.

Keempat, motivasi pragmatis (±10%), mencakup pencarian solusi atas masalah konkret dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks keluarga, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Jamaah dengan motivasi ini menghargai pendekatan Mama Cianting yang tidak hanya berfokus pada aspek ritual dan teologis, tetapi juga memberikan panduan praktis untuk menghadapi tantangan kehidupan modern. Mereka sering mencari nasihat spesifik tentang isu-isu seperti pendidikan anak, konflik keluarga, etika bisnis, atau dilema moral dalam lingkungan kerja. Pendekatan Mama Cianting yang menghubungkan prinsip-prinsip Islam dengan aplikasi konkretnya dalam konteks kontemporer menjadi daya tarik utama bagi kelompok ini. Dalam beberapa kasus, jamaah melaporkan bahwa mereka telah berhasil menerapkan nasihat Mama Cianting untuk menyelesaikan masalah spesifik, seperti konflik dengan tetangga, dilema etis di tempat kerja, atau tantangan dalam pengasuhan anak, yang semakin memperkuat kepercayaan mereka terhadap relevansi ajaran yang disampaikan dalam majelis.

Pola motivasi ini tidak bersifat statis, melainkan berkembang seiring dengan perjalanan spiritual jamaah dalam majelis. Agus Ruhiyat seorang jamaah berusia 34 tahun yang telah mengikuti majelis selama 7 tahun menjelaskan pengalamannya:

"Asalnamah, ka majelis sabab aya masalah imah, jadi milari katenangan jeung jawaban, tapi lami-kalamian jadi beda. Ayeunamah resep nerus kana elmu jeung ibadah. Mama ngajarkeun ibadah lain ngan saukur ajrug-ajrugan, tapi ning kudu aya hasil anu ngarobah kana kahirupan. Tah bapa mah ngarasakeun aya robah tina ninggali kahirupan, teh deui neangan nu instan, tapi lewik ka kumaha sikap urang sangken bisa saluyu jeung nilai ibadah. Jadi aeyunamah teu saukur nempo teh masalah deui, tapi jadi kumaha bisa interaksi jeung keluarga oge masyarakat."243 "Awalnya saya datang ke majelis karena masalah keluarga yang berat. Saya mencari ketenangan dan jawaban. Tapi seiring waktu, motivasi 243 Wawancara dengan Agus Ruhiyat, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025. saya berubah. Sekarang saya lebih fokus pada pendalaman ilmu dan ibadah. Mama mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar ritual, tapi harus membawa perubahan dalam kehidupan nyata. Saya merasakan perubahan cara pandang terhadap masalah, tidak lagi mencari solusi instan tapi lebih pada bagaimana mengembangkan sikap batin yang lebih selaras dengan nilai-nilai spiritual. Ini mengubah tidak hanya cara saya melihat masalah, tapi juga cara saya berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat (lingkungan)." Pernyataan ini mengindikasikan evolusi motivasi jamaah dari yang bersifat responsif terhadap krisis (crisis-driven) menjadi proaktif dan berorientasi pada pengembangan spiritual jangka panjang (growth-driven). Fenomena transformasi motivasi ini mencerminkan proses perkembangan kebutuhan spiritual, di mana individu bergerak dari pemenuhan kebutuhan dasar (seperti rasa aman dan ketenangan) menuju aktualisasi diri spiritual.

Dari segi ekspektasi, jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menunjukkan keragaman harapan terhadap kegiatan majelis dan sosok Mama Cianting. Berdasarkan analisis tematik terhadap data wawancara dan observasi partisipatif, teridentifikasi beberapa kategori ekspektasi utama yang saling terkait namun memiliki karakteristik distingtif:

Pertama, ekspektasi kognitif, yakni harapan untuk memperoleh pengetahuan keagamaan yang komprehensif dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Jamaah dengan ekspektasi ini mengharapkan penjelasan yang jelas dan sistematis tentang ajaran Islam, dengan penekanan pada relevansinya dalam konteks kontemporer. Mereka menghargai pendekatan Mama Cianting yang mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan Islam, dari teks klasik hingga pemikiran kontemporer, serta kemampuannya menjelaskan konsep kompleks dengan bahasa yang mudah dipahami. Ekspektasi kognitif ini juga mencakup harapan untuk memperoleh kerangka konseptual yang memungkinkan jamaah untuk memahami dan merespons isu-isu kontemporer dari perspektif Islam yang berimbang, tanpa terjebak dalam dikotomi kaku antara tradisionalisme dan modernisme.

Kedua, ekspektasi afektif, berupa harapan untuk memperoleh pengalaman spiritual dan emosional yang meneguhkan iman. Jamaah dengan ekspektasi ini mengharapkan majelis tidak hanya sebagai forum transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk mengalami dimensi spiritual Islam secara langsung. Mereka menghargai momen-momen dalam pengajian yang membangkitkan rasa khusyuk, seperti pembacaan Al-Qur'an yang menyentuh, dzikir bersama yang khidmat, atau refleksi spiritual yang mendalam. Mama Cianting merespons ekspektasi ini dengan menciptakan keseimbangan antara pengajaran intelektual dan kultivasi pengalaman spiritual, mengintegrasikan elemen-elemen seperti musik spiritual (hadrah), pembacaan syair-syair religius, dan praktik meditatif dalam struktur pengajian, menciptakan pengalaman holistik yang melibatkan tidak hanya dimensi kognitif tetapi juga afektif dari spiritualitas.

Ketiga, ekspektasi sosial, yakni harapan untuk menjadi bagian dari komunitas yang saling mendukung. Jamaah dengan ekspektasi ini mengharapkan majelis menjadi ruang di mana mereka dapat membangun koneksi bermakna dengan individu yang memiliki orientasi spiritual serupa. Mereka menghargai atmosfer kebersamaan yang dibangun dalam majelis, yang memungkinkan pertukaran pengalaman dan dukungan timbal balik di kalangan jamaah. Mama Cianting menanggapi ekspektasi ini dengan menciptakan berbagai mekanisme yang memperkuat kohesi sosial dalam komunitas majelis, seperti sistem kunjungan rumah, program bantuan sosial untuk anggota yang membutuhkan, dan kegiatan komunitas yang melibatkan seluruh keluarga jamaah, memperluas jaringan dukungan sosial hingga ke unit keluarga.

Keempat, ekspektasi transformatif, berupa harapan akan perubahan positif dalam diri dan kehidupan sebagai hasil dari partisipasi dalam majelis. Jamaah dengan ekspektasi ini mengharapkan bahwa keterlibatan mereka dalam majelis akan membawa dampak nyata dalam kehidupan mereka, baik dalam dimensi spiritual (peningkatan kualitas ibadah dan ketakwaan), psikologis (peningkatan kesejahteraan mental dan resiliensi), sosial (perbaikan hubungan interpersonal), maupun etis (peningkatan integritas dan akhlak). Mereka menghargai pendekatan Mama Cianting yang menekankan bahwa ilmu harus bermanifestasi dalam transformasi karakter dan perilaku, bukan sekadar akumulasi pengetahuan. Untuk memfasilitasi ekspektasi transformatif ini, Mama Cianting sering mengintegrasikan narasi-narasi perubahan hidup dari jamaah senior sebagai model inspiratif, menciptakan "komunitas praksis" di mana nilai-nilai spiritual tidak hanya diajarkan tetapi juga didemonstrasikan dan dipraktikkan secara kolektif.

Keberagaman motivasi dan ekspektasi jamaah ini mengindikasikan bahwa Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob telah mengalami transformasi fungsi dari sekadar pusat pengajaran agama menjadi ruang multifungsional yang memenuhi berbagai kebutuhan individual dan komunal. Transformasi ini mencerminkan adaptabilitas institusi keagamaan tradisional dalam merespons kebutuhan masyarakat kontemporer yang semakin kompleks dan terfragmentasi. Majelis tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat transmisi pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang terapi spiritual, jembatan sosial, dan laboratorium transformasi diri.

Fenomena ini menunjukkan proses revitalisasi elemen-elemen tradisional dalam praktik keagamaan (seperti pengajian kitab dan ritual kolektif) dalam konteks baru untuk merespons kebutuhan kontemporer. Dalam proses ini, Mama Cianting berperan tidak hanya sebagai transmiter pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator pengalaman spiritual, mediator sosial, dan katalisator transformasi personal, menciptakan ruang keagamaan yang dinamis dan responsif terhadap kebutuhan jamaah yang beragam. Pendekatan integratif ini memungkinkan majelis untuk mempertahankan relevansinya dalam lanskap sosiokultural yang terus berubah, menawarkan ruang alternatif di mana individu dapat mengembangkan identitas spiritual yang otentik dalam konteks komunitas yang mendukung.

5) Pola Partisipasi dan Keterlibatan Jamaah Pola partisipasi jamaah dalam kegiatan Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menunjukkan dinamika yang kompleks, mencakup berbagai tingkat dan bentuk keterlibatan yang mencerminkan keragaman motivasi dan komitmen spiritual. Berdasarkan intensitas dan konsistensi partisipasi yang diamati selama periode penelitian, jamaah dapat dikategorikan menjadi empat kelompok utama dengan karakteristik yang distingtif:

Pertama, jamaah inti (±25%), yang menghadiri hampir semua kegiatan majelis secara rutin dan berpartisipasi aktif dalam berbagai program dan kegiatan. Kelompok ini menjadi tulang punggung operasional majelis, tidak jarang terlibat dalam struktur kepengurusan formal maupun informal. Mereka menunjukkan komitmen yang tinggi bukan hanya dalam kehadiran fisik, tetapi juga dalam kontribusi material dan non-material untuk pengembangan majelis. Jamaah inti biasanya memiliki hubungan personal yang lebih dekat dengan Mama Cianting, seringkali menjadi perpanjangan tangan Mama Cianting dalam berbagai inisiatif majelis. Mereka menghabiskan rata-rata 8-10 jam per minggu untuk berbagai aktivitas majelis, menunjukkan tingkat dedikasi yang signifikan. Dalam observasi partisipatif, terlihat bahwa kelompok ini memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran dan filosofi Mama Cianting, yang tercermin dalam kemampuan mereka mengartikulasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, jamaah reguler (±40%), yang hadir dalam sebagian besar kegiatan utama majelis namun tidak terlibat intensif dalam program khusus. Kelompok ini menjadi basis utama jamaah yang memberikan stabilitas dan konsistensi dalam kegiatan-kegiatan rutin. Mereka umumnya menghadiri pengajian mingguan dan kegiatan-kegiatan besar, dengan tingkat kehadiran rata-rata 2-3 kali per bulan. Meskipun tidak terlibat dalam aspek operasional majelis, jamaah reguler sering memberikan dukungan finansial dan moral yang signifikan. Motivasi mereka cenderung berfokus pada peningkatan pengetahuan keagamaan dan pengalaman spiritual personal, dibandingkan dengan aspek komunal yang lebih ditekankan oleh jamaah inti. Dalam wawancara, banyak dari mereka mengungkapkan bahwa kendala waktu dan tanggung jawab keluarga atau pekerjaan menjadi faktor utama yang membatasi keterlibatan mereka yang lebih intensif, meskipun mereka mengekspresikan keinginan untuk dapat berpartisipasi lebih aktif di masa depan.

Ketiga, jamaah periodik (±20%), yang hadir pada event-event tertentu atau pada momen-momen khusus seperti peringatan hari besar Islam atau haul. Pola partisipasi kelompok ini menunjukkan kecenderungan siklikal, dengan peningkatan signifikan pada momen-momen penting dalam kalender keagamaan. Mereka cenderung tertarik pada dimensi seremonial dan perayaan kolektif yang menawarkan pengalaman spiritual yang intensif namun temporer. Pengamatan menunjukkan bahwa jamaah periodik seringkali memiliki afiliasi dengan beberapa institusi keagamaan secara simultan, mencerminkan pendekatan yang lebih eklektik terhadap praktik keagamaan. Meskipun kehadiran fisik mereka tidak konsisten, banyak dari mereka tetap mengidentifikasi diri sebagai pengikut Mama Cianting dan mengikuti perkembangan majelis melalui jaringan sosial dan platform digital.

Keempat, jamaah maya (±15%), yang mengikuti dakwah Mama Cianting melalui platform digital seperti YouTube, Instagram, atau grup WhatsApp. Kemunculan kategori jamaah ini merepresentasikan adaptasi majelis terhadap era digital dan perluasan jangkauan dakwah melampaui batasan geografis. Jamaah maya menunjukkan pola keterlibatan yang unik, dengan interaksi yang intensif di ruang virtual namun minim kehadiran fisik. Beberapa dari mereka berdomisili di lokasi yang jauh, bahkan di luar negeri, menjadikan platform digital sebagai satu-satunya akses terhadap ajaran Mama Cianting. Menariknya, sebagian jamaah maya secara berkala melakukan "ziarah digital menjadi fisik" dengan menghadiri event-event besar majelis, mendemonstrasikan bagaimana keterlibatan digital dapat bertransformasi menjadi koneksi nyata. Pengelola majelis merespons fenomena ini dengan pengembangan strategi digital yang lebih komprehensif, termasuk peningkatan kualitas konten dan interaktivitas platform.

Pola keterlibatan jamaah juga bervariasi berdasarkan jenis kegiatan, mencerminkan preferensi dan orientasi spiritual yang beragam. Untuk pengajian umum mingguan yang diselenggarakan setiap Kamis malam (malam Jumat), tingkat partisipasi jamaah mencapai puncaknya dengan kehadiran mencapai ribuan orang yang memenuhi kompleks majelis dan area sekitarnya. Pengajian ini menawarkan materi yang relatif umum dan disampaikan dengan gaya yang lebih populer, menjadikannya aksesibel bagi jamaah dengan berbagai tingkat literasi keagamaan. Atmosfer pengajian umum yang lebih dinamis dan interaktif, dengan elemen-elemen seperti sesi tanya jawab langsung dan pembacaan shalawat bersama, menciptakan pengalaman kolektif yang menarik bagi spektrum jamaah yang luas.

Untuk program khusus seperti kajian kitab yang diselenggarakan pada hari Selasa, tingkat partisipasi lebih terbatas (berkisar 100-200 orang) namun menunjukkan intensitas keterlibatan yang lebih dalam. Kajian ini berfokus pada pembahasan teks-teks klasik Islam dengan pendekatan yang lebih sistematis dan mendalam, menarik jamaah dengan latar belakang pendidikan pesantren atau mereka yang memiliki minat khusus pada aspek intelektual tradisi Islam. Observasi menunjukkan bahwa peserta kajian kitab didominasi oleh jamaah inti dan sebagian jamaah reguler yang memiliki komitmen jangka panjang terhadap pengembangan pengetahuan keagamaan. Format kajian yang lebih interaktif dengan sesi diskusi yang lebih panjang memungkinkan eksplorasi konsep yang lebih mendalam dan pertukaran perspektif yang lebih substantif.

Untuk kegiatan sosial seperti bakti sosial, bantuan bencana, atau program kesehatan gratis, pola partisipasi jamaah menunjukkan fluktuasi bergantung pada jenis kegiatan, lokasi, dan timing. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat umum, seperti distribusi bantuan atau program kesehatan, cenderung menarik partisipasi yang lebih luas, termasuk dari kategori jamaah periodik. Sementara itu, kegiatan yang memerlukan komitmen jangka panjang seperti pengelolaan lembaga pendidikan atau fasilitas sosial majelis, umumnya dikelola oleh jamaah inti dengan dukungan dari jamaah reguler. Pola ini mencerminkan hierarki keterlibatan dalam struktur majelis, dengan tingkatan tanggung jawab yang sejalan dengan intensitas partisipasi.

Analisis longitudinal terhadap pola partisipasi jamaah menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sekitar 15-20% dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan ini tidak hanya bersifat kuantitatif dalam hal jumlah jamaah, tetapi juga kualitatif dalam hal kedalaman keterlibatan dan diversifikasi latar belakang jamaah. Data administratif majelis menunjukkan ekspansi yang konsisten dari wilayah asal jamaah, dengan peningkatan signifikan dari daerah urban dan semiurban di luar Purwakarta. Pertumbuhan ini juga terlihat dalam peningkatan kapasitas infrastruktur majelis, dengan perluasan area kompleks pengajian dan penambahan fasilitas pendukung untuk mengakomodasi jumlah jamaah yang terus bertambah.

Fenomena pertumbuhan ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor kontekstual. Pertama, meningkatnya pencarian spiritual di kalangan masyarakat urban dan semi-urban sebagai respons terhadap krisis makna dalam kehidupan modern. Kedua, efektivitas model dakwah Mama Cianting yang mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan kebutuhan masyarakat kontemporer, menciptakan sintesis yang relevan dan autentik. Ketiga, pengembangan jaringan sosial jamaah yang berperan sebagai saluran rekrutmen informal yang efektif. Keempat, pemanfaatan teknologi digital yang memperluas jangkauan dakwah dan menciptakan akses baru bagi khalayak yang lebih luas. Kelima, reputasi Mama Cianting sebagai figur spiritual yang memiliki integritas personal dan kompetensi keilmuan yang diakui, menciptakan daya tarik yang berkelanjutan.

Dalam konteks keterlibatan jamaah, terdapat fenomena menarik yang disebut sebagai "efek multiplier", di mana jamaah tidak hanya menjadi penerima pasif dari dakwah Mama Cianting, tetapi juga menjadi agen aktif yang menyebarkan dan menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dalam lingkungan sosial mereka masing-masing. Fenomena ini menciptakan ripple effect yang memperluas jangkauan pengaruh majelis jauh melampaui batasbatas fisik dan kegiatan formalnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Nana Ahmad Taqiyuddin yang telah terlibat sejak awal pembentukan:

"Banyak jamaah yang kemudian menjadi 'dai kecil' di lingkungan mereka sendiri. Mereka menerapkan dan menyebarkan ilmu yang didapat dari Mama di keluarga, tempat kerja, atau komunitas mereka. Ada yang membentuk kelompok pengajian kecil di kampung mereka, ada yang mengintegrasikan nilai-nilai akhlak dalam kurikulum sekolah tempat mereka mengajar, bahkan ada yang mengubah praktik bisnis mereka sesuai dengan prinsip-prinsip etika Islam yang dipelajari di majelis. Ini membuat dampak dakwah Mama berlipat ganda, mencapai orang-orang yang mungkin tidak pernah hadir secara fisik di pengajian."244 Efek multiplier ini termanifestasi dalam beberapa pola. Pertama, formasi kelompok-kelompok kajian satelit di berbagai lokasi yang dipimpin oleh jamaah senior, menciptakan jaringan dakwah yang terdesentralisasi namun tetap terhubung dengan majelis pusat. Kedua, transformasi praktik keluarga, di mana nilai-nilai yang diperoleh dari majelis diintegrasikan dalam pola asuh dan interaksi keluarga, menciptakan transmisi intergenerasional. Ketiga, reformasi praktik profesional, di mana prinsipprinsip etika yang dipelajari diterapkan dalam konteks pekerjaan, mempengaruhi budaya organisasi secara lebih luas. Keempat, aktivisme 244 Wawancara dengan Nana Ahmad Taqiyuddin, oleh penulis, Cianting, 18 Januari 2025. sosial berbasis nilai, di mana jamaah menginisiasi atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan dalam majelis.

Fenomena penyebaran nilai-nilai keagamaan melalui jejaring sosial jamaah ini mencerminkan model dakwah kultural, di mana transmisi nilai tidak hanya terjadi melalui institusi formal, tetapi juga melalui praktik kultural sehari-hari dan interaksi sosial. Model ini memungkinkan adaptasi dan kontekstualisasi pesan dakwah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi spesifik berbagai segmen masyarakat, meningkatkan relevansi dan efektivitasnya. Dalam praktiknya, dakwah kultural ini terwujud dalam integrasi nilai-nilai Islam dalam berbagai ekspresi budaya lokal, dari bahasa dan seni hingga ritual sosial dan praktik komunal.

Dinamika partisipasi jamaah dalam Majelis Taklim Sanrighos AlAqthob menggambarkan kompleksitas ekosistem keagamaan kontemporer, di mana bentuk-bentuk keterlibatan spiritual menjadi semakin beragam dan cair. Keberhasilan majelis dalam mengakomodasi spektrum partisipasi yang luas - dari keterlibatan intensif jamaah inti hingga koneksi virtual jamaah maya - mencerminkan adaptabilitas institusi keagamaan tradisional dalam menavigasi lanskap sosio-religius yang terus berubah. Dalam konteks ini, majelis tidak hanya berfungsi sebagai pusat transmisi pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai hub yang menghubungkan berbagai jaringan sosial dan spiritual, menciptakan komunitas iman yang dinamis dan responsif terhadap tantangan kontemporer.

6) Transformasi Jamaah: Aspek Kognitif, Afektif, dan Behavioral Kehadiran jamaah dalam Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob tidak hanya menandakan partisipasi pasif, tetapi juga mencerminkan proses transformasi aktif dalam berbagai dimensi kehidupan. Berdasarkan penelusuran mendalam terhadap pengalaman jamaah melalui wawancara ekstensif, observasi partisipatif, dan studi kasus longitudinal, teridentifikasi tiga dimensi utama transformasi yang dialami jamaah sebagai hasil dari keterlibatan mereka dalam aktivitas majelis:

Pada dimensi kognitif, jamaah mengalami perluasan dan pendalaman pemahaman keagamaan, dari yang sebelumnya bersifat ritualistik menjadi lebih substantif dan holistik. Transformasi kognitif ini tidak hanya mencakup pengetahuan tentang hukum-hukum formal Islam (fiqh), tetapi juga pemahaman mendalam tentang dimensi spiritual (tasawuf) dan teologis (aqidah). Proses transformasi kognitif ini dikarakterisasi oleh beberapa pola yang konsisten. Pertama, pergeseran dari pemahaman dikotomis (halal-haram) menuju perspektif yang lebih nuansa dan kontekstual. Kedua, pengembangan kerangka interpretasi yang lebih integratif, menghubungkan aspek legal, spiritual, dan sosial ajaran Islam. Ketiga, peningkatan kapasitas refleksi kritis terhadap tradisi dan praktik keagamaan, tanpa meninggalkan penghormatan terhadap otoritas dan warisan keilmuan klasik.

Perkembangan kognitif ini terfasilitasi oleh pendekatan pedagogis Mama Cianting yang menggunakan metode spiral, di mana konsep-konsep dasar diperkenalkan, diperluas, dan diperdalam secara bertahap melalui pengulangan dengan tingkat kompleksitas yang meningkat. Pendekatan ini memungkinkan jamaah dengan berbagai latar belakang pendidikan untuk mengembangkan pemahaman yang kokoh namun tetap dinamis. Selain itu, penggunaan bahasa yang aksesibel dan metafora yang relevan dengan pengalaman sehari-hari membuat konsep-konsep kompleks menjadi lebih mudah dipahami dan diinternalisasi.

Sebagaimana dinyatakan oleh Jajang, seorang jamaah yang telah mengikuti majelis selama 9 tahun:

"Dulu saya pikir Islam itu hanya soal halal-haram, boleh-tidak boleh. Pemahaman saya sangat hitam-putih dan kaku. Tapi dari Mama, saya belajar bahwa Islam itu luas, dalam, dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Mama mengajarkan bahwa dalam setiap hukum ada hikmah, dalam setiap ritual ada makna, dan dalam setiap larangan ada maslahat. Sekarang saya lebih bisa melihat konteks dan tujuan di balik aturan, bukan hanya aturan itu sendiri. Pemahaman saya jadi lebih komprehensif dan hikmah, tidak kaku seperti dulu. Ini mengubah cara saya melihat agama dan praktik keberagamaan, dari yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada aspek eksternal menjadi lebih memperhatikan esensi dan substansi."245 Pernyataan ini mencerminkan perubahan paradigma kognitif yang signifikan, dari pendekatan formalistik dan legalistik menuju pemahaman yang lebih holistik dan substansial. Transformasi kognitif ini tidak terbatas pada konteks keagamaan, tetapi juga mempengaruhi cara pandang jamaah terhadap berbagai aspek kehidupan, menciptakan kerangka interpretasi yang lebih komprehensif dalam menavigasi kompleksitas dunia modern.

Pada dimensi afektif, jamaah melaporkan perubahan signifikan dalam orientasi emosional dan spiritual mereka. Banyak jamaah yang sebelumnya mengalami kekeringan spiritual atau keterasingan dari tradisi keagamaan mengalami penyembuhan dan reconnection melalui pendekatan dakwah Mama Cianting yang mengintegrasikan dimensi intelektual dan emosional. Transformasi afektif ini termanifestasi dalam beberapa aspek. Pertama, peningkatan rasa kekhusyukan dan kehadiran (presence) dalam praktik ibadah, menggantikan pendekatan mekanistik yang sebelumnya dominan. Kedua, pengembangan kecerdasan emosional spiritual, termasuk kesadaran diri yang lebih tinggi, regulasi emosi yang lebih baik, dan peningkatan empati. Ketiga, penguatan rasa keterhubungan (connectedness) - dengan Tuhan, diri sendiri, komunitas, dan alam semesta - yang mengurangi perasaan alienasi dan fragmentasi yang sering menjadi karakteristik pengalaman hidup modern.

Pendekatan Mama Cianting yang menggabungkan elemen rasional dengan praktik-praktik spiritual eksperiensial seperti dzikir, meditasi, dan refleksi mendalam, menciptakan ruang yang aman bagi jamaah untuk mengeksplorasi dimensi emosional spiritualitas tanpa merasa terancam atau 245 Wawancara dengan Jajang, oleh penulis, Cianting, 10 Mei 2025. terhakimi. Penggunaan seni, khususnya musik spiritual dan syair-syair religius, lebih jauh memperkaya pengalaman afektif ini, membuka jalur alternatif bagi ekspresi dan koneksi spiritual. Selain itu, kultivasi komunitas yang mendukung menciptakan lingkungan di mana transformasi emosional dapat berlangsung dan diperkuat melalui resonansi kolektif dan validasi pengalaman.

Pada dimensi behavioral, transformasi terlihat melalui perubahan pola perilaku dan gaya hidup jamaah. Perubahan ini mencakup peningkatan ketaatan ritual, perbaikan relasi sosial, penguatan etos kerja, dan perubahan orientasi konsumsi menjadi lebih sederhana dan bertanggung jawab. Transformasi behavioral ini tidak hanya bersifat kuantitatif (misalnya, peningkatan frekuensi ibadah), tetapi juga kualitatif, mencakup perubahan dalam niat, kesadaran, dan kualitas tindakan.

Dalam ranah spiritual-ritual, jamaah melaporkan tidak hanya peningkatan dalam kedisiplinan melaksanakan ibadah wajib, tetapi juga pengayaan kualitas pengalaman ritual melalui pemahaman yang lebih dalam dan kesadaran yang lebih tinggi. Banyak jamaah yang mulai mengadopsi praktik-praktik sunnah dan nawafil (ibadah tambahan) yang sebelumnya tidak mereka laksanakan, mencerminkan intensifikasi komitmen spiritual. Perubahan ini sering disertai dengan penekanan pada aspek batiniah ibadah, bukan hanya kepatuhan formal terhadap ritualnya.

Dalam domain sosial, jamaah menunjukkan peningkatan dalam kualitas hubungan interpersonal, termasuk komunikasi yang lebih empatik, resolusi konflik yang lebih konstruktif, dan perluasan lingkaran kepedulian sosial. Banyak jamaah yang melaporkan perbaikan signifikan dalam relasi keluarga, hubungan kerja, dan interaksi komunitas, yang mereka atribusikan pada internalisasi nilai-nilai akhlak yang dipelajari dalam majelis. Peningkatan kesadaran sosial juga tercermin dalam keterlibatan yang lebih aktif dalam kegiatan filantropi dan layanan masyarakat, yang dipandang bukan sekadar kewajiban eksternal tetapi sebagai manifestasi natural dari transformasi internal.

Dalam aspek ekonomi dan profesional, jamaah mengalami reorientasi dalam praktik kerja dan konsumsi, dengan penekanan lebih besar pada keberkahan, kebermanfaatan sosial, dan keberlanjutan daripada sekadar akumulasi materi. Bapak Endang, seorang informan yang merupakan pedagang di pasar tradisional Purwakarta mengartikulasikan transformasi ini dengan jelas:

"Setelah rutin ikut pengajian Mama, cara saya berdagang berubah total. Dulu yang penting untung besar, tidak peduli caranya. Kadang saya tidak jujur soal kualitas barang, sering menimpa barang yang kurang bagus di bawah tumpukan barang bagus, dan kadang mengurangi timbangan sedikit. Sekarang saya lebih memperhatikan kejujuran, kebersihan, dan keberkahan. Saya selalu berusaha jujur tentang kondisi barang, memastikan timbangan tepat, dan memperlakukan semua pelanggan dengan baik, tidak peduli mereka beli banyak atau sedikit. Penghasilan mungkin tidak sebanyak dulu, tapi hati tenang dan rezeki tetap tercukupi. Yang mengherankan, pelanggan saya malah jadi lebih banyak dan loyal. Mereka bilang senang berbelanja di tempat saya karena merasa diperlakukan dengan jujur dan hormat."246 Pernyataan ini merefleksikan transformasi etika ekonomi yang dialami jamaah sebagai hasil dari internalisasi nilai-nilai spiritual yang diperoleh dari majelis. Dalam perspektif ini, kegiatan ekonomi tidak dipandang sebagai ranah terpisah yang diatur oleh logika utilitarian semata, melainkan sebagai arena di mana nilai-nilai spiritual dapat dan harus dimanifestasikan. Penekanan pada keberkahan, kejujuran, dan manfaat sosial menciptakan model alternatif dari sukses ekonomi yang tidak semata diukur dengan parameter material.

246 Endang, wawancara dengan penulis, Cianting, Purwakarta, 15 Desember 2024 Transformasi multidimensional yang dialami jamaah ini tidak berlangsung secara linear dan seragam. Terdapat variasi signifikan dalam kecepatan, kedalaman, dan bentuk transformasi, bergantung pada karakteristik individual jamaah, latar belakang mereka, serta intensitas keterlibatan dalam majelis. Beberapa jamaah melaporkan pengalaman transformasi yang dramatis dan relatif cepat, sering kali dipicu oleh momenmomen krisis personal atau pengalaman spiritual yang intens. Sementara itu, yang lain menggambarkan proses yang lebih gradual dan kumulatif, dengan perubahan inkremental yang terakumulasi seiring waktu menjadi transformasi yang signifikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola dan dinamika transformasi mencakup aspek personal dan kontekstual. Aspek personal termasuk karakteristik psikologis seperti keterbukaan terhadap pengalaman baru, kemampuan refleksi diri, dan resiliensi dalam menghadapi tantangan transformatif. Latar belakang pendidikan, pengalaman keagamaan sebelumnya, dan tahap perkembangan kehidupan juga memainkan peran penting dalam membentuk trajektori transformasi. Faktor kontekstual meliputi tingkat dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terdekat, aksesibilitas terhadap sumber daya majelis, dan kompatibilitas antara nilainilai yang dipromosikan dalam majelis dengan konteks sosio-kultural jamaah.

Meskipun demikian, pola umum yang teridentifikasi menunjukkan bahwa semakin lama dan intens keterlibatan jamaah dalam majelis, semakin mendalam transformasi yang dialami. Jamaah yang telah terlibat selama lebih dari lima tahun dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan majelis umumnya menunjukkan transformasi yang lebih komprehensif, meliputi dimensi kognitif, afektif, dan behavioral secara integratif. Ini mengindikasikan proses transformasi yang bersifat kumulatif dan sinergistik, di mana perubahan dalam satu dimensi memperkuat dan memperdalam perubahan dalam dimensi lainnya, menciptakan spiral positif perkembangan spiritual.

Keberlanjutan transformasi ini difasilitasi oleh beberapa mekanisme yang terbangun dalam struktur majelis. Pertama, sistem dukungan komunal yang menyediakan validasi, penguatan, dan akuntabilitas untuk perubahan yang dialami. Kedua, pendekatan pedagogis yang menekankan refleksi kritis dan aplikasi praktis, memastikan bahwa pengetahuan teoretis diterjemahkan menjadi praktik hidup. Ketiga, ritme dan struktur kegiatan majelis yang menciptakan rutinitas transformatif yang mendukung internalisasi nilai-nilai baru. Keempat, sosok Mama Cianting sendiri yang menjadi model peran yang menginspirasi, mendemonstrasikan dalam kehidupan pribadinya integrasi antara ajaran dan praktik yang menjadi aspirasi para jamaah.

Implikasi dari transformasi multidimensional ini melampaui pengalaman individual jamaah, merambah ke dimensi sosial yang lebih luas. Melalui perubahan pola pikir, orientasi emosional, dan perilaku jamaah, nilai-nilai dan praktik yang dipromosikan dalam majelis disebarkan ke dalam keluarga, lingkungan kerja, dan komunitas. Dengan demikian, majelis tidak hanya berfungsi sebagai ruang transformasi personal tetapi juga sebagai katalis perubahan sosial yang lebih luas, meskipun dalam skala dan kecepatan yang mungkin tidak selalu langsung terlihat.

7) Pola Relasi Sosial Antar Jamaah Dinamika relasi sosial di antara jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menunjukkan pola yang kompleks dan multidimensional, mencerminkan interaksi antara nilai-nilai keagamaan yang ditransmisikan melalui dakwah Mama Cianting dengan struktur sosial yang sudah ada. Berdasarkan observasi partisipatif selama periode penelitian lapangan dan wawancara mendalam dengan berbagai kategori jamaah, teridentifikasi beberapa karakteristik utama dari pola relasi sosial antar jamaah yang membentuk ekosistem sosial yang distingtif:

Pertama, terbentuknya ikatan komunal yang kuat (strong communal bonds) yang melampaui batas-batas sosial konvensional seperti kelas, pendidikan, dan status ekonomi. Ikatan ini termanifestasi dalam berbagai bentuk solidaritas sosial, mulai dari saling bantu dalam kebutuhan ekonomi hingga dukungan emosional dalam menghadapi tantangan hidup. Solidaritas material terlihat dalam praktik-praktik seperti pengumpulan dana untuk jamaah yang mengalami kesulitan ekonomi, bantuan modal usaha bagi jamaah yang ingin memulai bisnis kecil, dan kontribusi kolektif untuk biaya pengobatan jamaah yang sakit. Sementara itu, solidaritas emosional terwujud dalam sistem dukungan psikologis informal, di mana jamaah saling mengunjungi, menyediakan pendampingan, dan berbagi pengalaman untuk membantu anggota komunitas yang menghadapi krisis personal.

Fenomena ini mencerminkan pembentukan ikatan sosial yang kuat dalam komunitas. Ikatan sosial ini memiliki signifikansi khusus dalam konteks masyarakat yang mengalami transisi sosial-ekonomi, di mana jaring pengaman sosial tradisional sering melemah sementara sistem dukungan formal belum sepenuhnya efektif. Dalam situasi ini, komunitas keagamaan seperti majelis taklim mengisi kesenjangan krusial, menyediakan struktur dukungan yang merespons kebutuhan material maupun non-material jamaahnya. Kekuatan ikatan komunal ini juga memfasilitasi mobilisasi kolektif untuk tujuan-tujuan yang lebih luas, seperti program-program sosial majelis yang menjangkau masyarakat di luar lingkaran jamaah.

Kedua, berkembangnya jejaring sosial yang ekstensif dan berjenjang, dengan Mama Cianting sebagai pusat dan jamaah sebagai simpul-simpul yang saling terhubung. Struktur jaringan ini dapat divisualisasikan sebagai lingkaran-lingkaran konsentris, dengan lingkaran dalam terdiri dari jamaah inti yang memiliki koneksi langsung dan intensif dengan Mama Cianting, diikuti oleh lingkaran-lingkaran jamaah dengan tingkat kedekatan dan intensitas interaksi yang bervariasi. Menariknya, jejaring ini tidak bersifat eksklusif atau tertutup, melainkan memiliki batasbatas yang cukup permeabel, memungkinkan mobilitas dan integrasi anggota baru.

Jejaring ini tidak terbatas pada interaksi formal dalam kegiatan majelis, tetapi juga meluas pada relasi informal dalam berbagai konteks sosial dan ekonomi. Dalam bidang ekonomi, misalnya, teridentifikasi pola kerjasama bisnis antar jamaah, pertukaran informasi ekonomi, dan preferensi untuk bertransaksi dengan sesama anggota komunitas. Dalam konteks sosial, jaringan ini memfasilitasi formasi ikatan pertemanan, bahkan dalam beberapa kasus mengarah pada hubungan kekerabatan melalui pernikahan antar keluarga jamaah. Dalam era digital, dimensi jejaring ini semakin diperluas melalui grup-grup media sosial dan platform komunikasi online, yang menjembatani keterbatasan waktu dan ruang dalam interaksi fisik.

Jejaring sosial berbasis keagamaan seperti ini merupakan salah satu faktor penting dalam resiliensi sosial-ekonomi masyarakat, terutama di masa krisis. Selama periode ketidakstabilan ekonomi atau sosial, seperti yang terjadi pada pandemi COVID-19, jaringan ini berfungsi sebagai kanal distribusi sumber daya dan informasi yang vital, memitigasi dampak krisis pada anggota komunitas yang paling rentan. Selain itu, jaringan ini juga berperan sebagai struktur mobilisasi untuk respons kolektif terhadap tantangan eksternal, seperti bencana alam atau konflik sosial, meningkatkan kapasitas adaptif komunitas secara keseluruhan.

Ketiga, terbentuknya pola patron-klien dalam beberapa aspek relasi, dengan Mama Cianting sebagai patron spiritual dan beberapa jamaah senior sebagai perantara yang menghubungkan dengan jamaah yang lebih luas. Dalam struktur ini, Mama Cianting menyediakan bimbingan spiritual, pengetahuan keagamaan, legitimasi sosial, dan dalam beberapa kasus, dukungan material atau intervensi dalam konflik. Sebagai imbalannya, jamaah memberikan kesetiaan, dukungan untuk aktivitas majelis, dan legitimasi sosial yang memperkuat otoritas Mama Cianting. Jamaah senior yang bertindak sebagai perantara memiliki peran strategis dalam jaringan ini, menterjemahkan dan mengkontekstualisasikan ajaran Mama Cianting, sekaligus mengelola dan mengkoordinasikan aktivitas kelompok jamaah yang mereka pimpin.

Pola ini, meskipun berpotensi menciptakan hierarki, dalam praktiknya lebih berfungsi sebagai struktur dukungan yang memfasilitasi diseminasi nilai dan pengetahuan daripada sebagai instrumen dominasi. Beberapa faktor memitigasi tendensi hierarkis dalam hubungan patron-klien ini. Pertama, etika pelayanan yang ditekankan oleh Mama Cianting sendiri, yang sering mendemonstrasikan sikap rendah hati dan mengutamakan pelayanan terhadap jamaah. Kedua, fleksibilitas struktur yang memungkinkan jamaah untuk terlibat pada tingkat yang sesuai dengan preferensi mereka, tanpa paksaan atau ekspektasi yang kaku. Ketiga, nilainilai egalitarian yang ditekankan dalam ajaran, yang meminimalisir eksploitasi perbedaan status. Keempat, sifat resiprokal dari hubungan, di mana aliran manfaat tidak hanya satu arah tetapi bersifat timbal balik, meskipun dalam bentuk yang berbeda.

Pola patron-klien dalam konteks keagamaan di Jawa seringkali bersifat resiprokal dan dilandasi oleh etika pelayanan. Dalam konteks Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob, adaptasi modern dari pola ini terlihat dalam sistem dukungan berjenjang, di mana jamaah dengan kapasitas lebih mendukung mereka yang membutuhkan, menciptakan rantai solidaritas yang menghubungkan seluruh komunitas.

Keempat, berkembangnya mekanisme resolusi konflik berbasis nilai-nilai spiritual yang diajarkan dalam majelis. Observasi terhadap kasuskasus konflik dalam komunitas jamaah menunjukkan pola penyelesaian yang distingtif, yang mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam dengan praktik kultural lokal. Mekanisme ini seringkali dimulai dengan dialog informal yang difasilitasi oleh jamaah senior, diikuti dengan proses mediasi yang lebih formal jika diperlukan, dan dalam kasus yang lebih kompleks, melibatkan intervensi langsung dari Mama Cianting. Prinsip-prinsip yang mendasari proses ini meliputi: ishlah (rekonsiliasi), 'afw (pemaafan), wasathiyah (moderasi), dan 'adalah (keadilan yang memulihkan, bukan menghukum).

Mekanisme ini menjadi alternatif bagi penyelesaian perselisihan di luar sistem formal, dengan menekankan pada rekonsiliasi, pemaafan, dan keadilan restoratif. Efektivitas mekanisme ini terlihat dari relatif rendahnya tingkat eskalasi konflik dalam komunitas, meskipun terdiri dari jamaah dengan latar belakang yang sangat beragam. Beberapa kasus konflik yang berhasil diselesaikan melalui mekanisme ini mencakup perselisihan bisnis antara jamaah, konflik keluarga, dan dalam beberapa kasus, bahkan ketegangan dengan komunitas non-jamaah.

Ustadz Irfan Seorang jamaah senior yang telah mengikuti majelis selama 15 tahun menyatakan pengalamannya dalam dinamika komunal ini:

"Di majelis ini kami seperti keluarga besar. Kalau ada yang sakit, yang lain menjenguk. Kalau ada yang kesulitan ekonomi, kami bantu semampunya. Kalau ada konflik, kami selesaikan dengan cara yang diajarkan Mama: dengan keikhlasan dan pengertian, bukan dengan konfrontasi. Saya ingat kasus dua jamaah yang berselisih tentang batas tanah. Alih-alih membawa ke pengadilan, mereka meminta Mama untuk memediasi. Mama tidak hanya menyelesaikan masalah batas tanah, tapi juga membantu mereka memahami akar spiritual dari konflik: keterikatan berlebihan pada materi dan kurangnya sikap qana'ah (puas dengan apa yang dimiliki). Hasilnya, bukan hanya konflik fisik yang selesai, tapi kedua pihak mengalami perubahan pemahaman dan sikap yang mencegah konflik serupa di masa depan."247 Pernyataan ini merefleksikan karakteristik pola relasi antar jamaah yang dilandasi oleh nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) yang ditekankan dalam dakwah Mama Cianting. Persaudaraan ini tidak hanya bersifat retoris 247 Wawancara dengan Ustadz Irfan, oleh penulis, Cianting, 10 Februari 2025. atau simbolik, tetapi terwujud dalam praktik-praktik konkret dukungan timbal balik dan resolusi konflik yang konstruktif. Pendekatan ini menciptakan rasa aman psikologis dalam komunitas, di mana anggota merasa diterima, didukung, dan memiliki mekanisme untuk mengatasi perselisihan tanpa merusak hubungan sosial. Kondisi ini menghasilkan tingkat kohesi sosial yang tinggi, yang menjadi fondasi bagi stabilitas dan pertumbuhan komunitas.

Pola relasi sosial ini merupakan salah satu faktor kunci dalam daya tahan dan pertumbuhan komunitas keagamaan di tengah arus modernisasi dan sekularisasi. Dalam konteks di mana institusi sosial tradisional sering terancam oleh perubahan sosial-ekonomi yang cepat, komunitas keagamaan seperti Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menawarkan alternatif yang memadukan elemen-elemen tradisional dengan adaptasi terhadap tuntutan kontemporer. Relasi sosial yang terbentuk tidak hanya berfungsi sebagai jaring pengaman bagi anggotanya, tetapi juga sebagai ruang di mana nilainilai alternatif dapat dikultivasi dan dipraktikkan, menciptakan komunitas yang menawarkan alternatif terhadap individualisme dan materialisme yang sering diasosiasikan dengan modernitas.

Dinamika relasi sosial dalam komunitas jamaah juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi sosial yang lebih luas. Adaptasi majelis terhadap era digital terlihat dalam penggunaan platform media sosial dan aplikasi pesan instan yang memperluas ruang interaksi di luar pertemuan fisik. Grup-grup WhatsApp yang tersegmentasi berdasarkan kedekatan geografis atau minat khusus, halaman Facebook majelis, dan kanal YouTube yang menyiarkan ceramah Mama Cianting, semuanya menciptakan dimensi baru dalam relasi sosial jamaah. Konsekuensinya adalah terbentuknya "komunitas hybrid" yang mengintegrasikan interaksi online dan offline, memperluas jangkauan dan intensitas hubungan sosial di kalangan jamaah.

Menariknya, penggunaan teknologi digital ini tidak mengikis dimensi personal dari hubungan antar jamaah, melainkan justru sering memperkuatnya dengan menyediakan kanal komunikasi tambahan. Jamaah yang berhalangan hadir secara fisik tetap dapat mengikuti perkembangan majelis dan mempertahankan koneksi dengan komunitas. Bagi jamaah yang tinggal di lokasi yang jauh, teknologi ini menjembatani kesenjangan geografis, memungkinkan mereka untuk tetap menjadi bagian dari komunitas meskipun dengan keterbatasan interaksi langsung. Fenomena ini menunjukkan kapasitas adaptif dari institusi keagamaan tradisional dalam merespons perubahan sosio-teknologis, mengintegrasikan elemen-elemen baru tanpa kehilangan esensi relasional yang menjadi karakteristik khasnya.

8) Dinamika Perubahan Komposisi Jamaah Perkembangan Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob sejak pendiriannya pada tahun 1990 hingga saat ini menunjukkan dinamika perubahan yang signifikan dalam komposisi jamaah, mencerminkan adaptasi dan evolusi pendekatan dakwah Mama Cianting dalam merespons perubahan sosial-budaya. Analisis longitudinal terhadap data kehadiran dan profil jamaah yang dikumpulkan dari dokumen administratif majelis, wawancara dengan pengurus senior, dan observasi partisipatif selama periode penelitian, mengidentifikasi beberapa tren penting yang menandai transformasi demografi jamaah:

Pertama, terjadi diversifikasi geografis yang progresif, dari yang awalnya didominasi oleh jamaah dari Purwakarta dan sekitarnya, menjadi mencakup wilayah yang lebih luas di Jawa Barat, bahkan beberapa dari luar provinsi. Pada periode awal (1990-2000), sekitar 90% jamaah berasal dari radius 25 kilometer dari pusat majelis di Purwakarta, mencerminkan karakteristik institusi keagamaan lokal dengan jangkauan terbatas. Periode pertengahan (2000-2010) menunjukkan perluasan signifikan dengan peningkatan jamaah dari kota-kota sekitar seperti Bandung, Karawang, dan Subang, menurunkan proporsi jamaah lokal menjadi sekitar 75%. Periode terkini (2010-sekarang) menandai ekspansi lebih jauh dengan kehadiran substansial jamaah dari Jakarta, Bekasi, Bogor, bahkan beberapa dari Jawa Tengah dan Banten, sehingga proporsi jamaah lokal menjadi sekitar 60% dari total.

Ekspansi geografis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Pertama, peningkatan mobilitas penduduk dan aksesibilitas transportasi, khususnya dengan pembangunan infrastruktur jalan tol yang menghubungkan Purwakarta dengan kota-kota besar di sekitarnya. Kedua, penyebaran pengaruh dakwah Mama Cianting melalui jamaah yang membawa ajaran Mama Cianting ke komunitas mereka. Ketiga, daya tarik pendekatan dakwah yang fokus pada aspek fundamental syariat Islam yang jarang mendapat perhatian mendalam dari ulama kontemporer. Keempat, kekhasan metode Mama Cianting dalam menjelaskan persoalan fiqh dasar dengan cara yang mudah dipahami dan aplikatif, memenuhi kebutuhan masyarakat untuk pengetahuan praktis tentang ibadah sehari-hari.

Kedua, terjadi pergeseran komposisi usia jamaah, dengan tren peningkatan partisipasi berbagai kelompok usia. Pada awal berdirinya, majelis ini menarik jamaah dari berbagai usia namun dengan dominasi usia dewasa dan lansia, terutama dari kalangan petani dan pedagang. Seiring waktu, terjadi penyebarluasan keragaman usia jamaah, termasuk peningkatan partisipasi generasi muda. Fenomena ini bertolak belakang dengan tren umum penurunan partisipasi generasi muda dalam institusi keagamaan tradisional. Keberhasilan Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob dalam menarik partisipasi berbagai kelompok usia dapat diatribusikan pada fokus Mama Cianting terhadap pengajaran fiqh dasar yang relevan bagi semua tingkatan usia dan pengalaman keagamaan.

Ketiga, terjadi peningkatan partisipasi jamaah dari berbagai latar belakang sosial dan pendidikan. Pada awalnya, Mama Cianting fokus berdakwah di tempat-tempat umum seperti sawah, terminal, dan pasar, menarik jamaah dari kalangan masyarakat yang seringkali kurang tersentuh dakwah formal. Sebagaimana diungkapkan dalam wawancara dengan Mama Cianting, motivasi utamanya adalah rasa "sayang kepada sesama manusia" dan keinginan sederhana "agar orang Islam bisa menjalankan syariat Islam" dengan benar. Pendekatan ini menarik jamaah awal yang terdiri dari petani, preman, dan kalangan masyarakat umum yang ingin mendalami agama dari tingkat dasar.

Seiring berkembangnya majelis, terjadi diversifikasi latar belakang jamaah, termasuk peningkatan partisipasi dari kalangan profesional dan terdidik. Menariknya, meskipun komposisi jamaah mengalami diversifikasi, fokus pengajaran tetap konsisten pada aspek-aspek fundamental fiqh yang menjadi kekhasan dakwah Mama Cianting. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pemahaman mendasar tentang praktek keagamaan sehari-hari adalah universal, melampaui batasan tingkat pendidikan dan status sosial.

Keempat, terjadi internasionalisasi terbatas, dengan hadirnya beberapa jamaah dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, terutama pada event-event besar. Meskipun jumlahnya masih relatif kecil, fenomena ini menandakan daya tarik universal dari pendekatan dakwah yang fokus pada aspek-aspek fundamental praktik keagamaan.

Nana Ahmad Taqiyudiin, yang merupakan menantu sekaligus pengurus senior majelis yang telah mendampingi Mama Cianting sejak awal pendirian merefleksikan perubahan komposisi jamaah sebagai berikut:

"Pada awal majelis berdiri, jamaah kami kebanyakan dari kampungkampung sekitar Purwakarta, terutama petani dan masyarakat umum yang ingin belajar agama dari dasar. Mama Cianting sendiri sering turun langsung ke sawah-sawah, terminal, dan tempat umum lainnya untuk berdakwah. Mama Cianting memiliki kepedulian khusus terhadap orang-orang yang selama ini jarang tersentuh dakwah formal. Pengajian Mama Cianting fokus pada hal-hal dasar dalam fiqh - wudhu, tayamum, mandi besar, sholat - yang sebenarnya sangat fundamental tapi sering dilewatkan oleh pendakwah lain yang lebih tertarik membahas topik-topik yang lebih 'canggih'. Seiring waktu, jamaah kami semakin beragam. Sekarang sudah banyak yang datang dari kota-kota besar, termasuk kalangan profesional dan terpelajar. Yang menarik, meskipun sudah ada dokter, insinyur, profesor, dan pengusaha besar di antara jamaah, fokus pengajian Mama tetap pada aspek-aspek fundamental syariat. Mama Cianting tetap membahas wudhu, mandi wajib, dan sholat dengan detail dan kedalaman yang sama. Yang membuat ajaran Mama begitu diterima berbagai kalangan adalah kemampuannya menyampaikan hal-hal mendasar ini dengan cara yang mudah dipahami namun mendalam, membuat semua level jamaah merasa terhubung dan mendapatkan manfaat. Tujuan Mama Cianting tetap sederhana: agar umat Islam bisa menjalankan syariat dengan benar, karena Mama Cianting sangat menyayangi sesama manusia."248 Pernyataan ini menggarisbawahi konsistensi fokus dakwah Mama Cianting pada aspek-aspek fundamental fiqh, sekaligus kemampuan adaptifnya dalam menyampaikan ajaran tersebut kepada jamaah dengan latar belakang yang semakin beragam. Kekhasan pendekatan Mama Cianting terletak pada perhatian mendalam terhadap aspek-aspek dasar praktik keagamaan yang seringkali diabaikan atau dibahas secara dangkal dalam forum-forum dakwah lain, namun sangat krusial bagi pemahaman dan pengamalan Islam yang komprehensif.

Dinamika perubahan komposisi jamaah ini mencerminkan proses adaptasi dan evolusi yang berlangsung dalam interaksi antara institusi keagamaan dengan perubahan sosial yang lebih luas. Keberhasilan Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob dalam mempertahankan relevansi dan daya tariknya di tengah perubahan sosial yang cepat, sambil tetap mempertahankan fokus pada aspek-aspek fundamental ajaran Islam, menunjukkan bahwa kebutuhan akan pemahaman mendalam tentang praktik keagamaan dasar tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan beragama kontemporer, terlepas dari tingkat pendidikan, status sosial, atau latar belakang geografis jamaah.

248 Wawancara dengan Nana Ahmad Taqiyuddin, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025.

Transformasi demografis jamaah juga mencerminkan kecenderungan untuk kembali kepada pemahaman dasar dalam konteks keberagamaan kontemporer, di mana di tengah kompleksitas persoalan modern dan beragamnya interpretasi keagamaan, banyak Muslim yang mencari pemahaman yang solid tentang aspek-aspek fundamental praktik keagamaan mereka. Dalam konteks ini, fokus Mama Cianting pada aspekaspek fiqh dasar yang disampaikan dengan metode yang jernih dan aplikatif memenuhi kebutuhan spiritual yang universal, menarik jamaah dari berbagai latar belakang yang mencari landasan kokoh dalam praktik keagamaan mereka.

9) Jamaah dalam Konteks Transformasi Sosial-Budaya Keberadaan dan karakteristik jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al- Aqthob tidak dapat dipisahkan dari konteks transformasi sosial-budaya yang lebih luas, baik di tingkat lokal maupun nasional. Jamaah tidak hanya menjadi subjek pasif dalam proses transformasi ini, tetapi juga aktor aktif yang melalui partisipasinya dalam majelis, turut membentuk dan memengaruhi dinamika perubahan sosial di sekitarnya. Relasi dialektis antara jamaah dan perubahan sosial ini menciptakan pola interaksi yang kompleks dan multidimensional, sebagaimana terungkap dalam observasi mendalam dan wawancara dengan berbagai lapisan jamaah selama penelitian lapangan.

Dalam konteks modernisasi dan urbanisasi yang mengubah lanskap sosial-ekonomi Purwakarta dan sekitarnya, jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menjadi semacam komunitas alternatif yang menawarkan nilai dan praktik sosial berbeda di tengah arus perubahan yang cepat. Komunitas ini tidak semata-mata bersifat menolak modernitas, melainkan menawarkan cara beradaptasi alternatif yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan realitas kehidupan kontemporer. Pendekatan ini memungkinkan jamaah untuk tetap terhubung dengan akar tradisi mereka sambil menavigasi tuntutan dan tantangan modernitas.

Majelis menyediakan struktur pendukung yang memberikan stabilitas makna di tengah disorientasi yang disebabkan oleh perubahan sosial yang cepat. Struktur ini mewujud dalam beberapa bentuk: pertama, sistem nilai yang koheren yang menawarkan kerangka interpretasi terhadap berbagai peristiwa dan pengalaman hidup; kedua, komunitas pendukung yang menyediakan afirmasi sosial dan validasi identitas; ketiga, ritme aktivitas ritual yang memberikan keteraturan dan prediktabilitas di tengah ketidakpastian; keempat, figur otoritas (Mama Cianting) yang menjadi rujukan moral dan spiritual yang dapat diandalkan.

Analisis terhadap narasi jamaah tentang pengalaman mereka dalam majelis menunjukkan bahwa partisipasi dalam komunitas keagamaan ini memberikan mereka "pegangan" dalam menghadapi berbagai disrupsi sosial-ekonomi, mulai dari perubahan struktur pekerjaan, transformasi pola keluarga, hingga pergeseran nilai-nilai komunal. Dalam konteks ekonomi, banyak jamaah menghadapi ketidakpastian akibat industrialisasi dan globalisasi yang mengubah struktur lapangan kerja, menciptakan kesenjangan keterampilan, dan meningkatkan kompetisi. Majelis menawarkan tidak hanya dukungan psikologis, tetapi juga jaringan sosial yang seringkali berfungsi sebagai sumber dukungan ekonomi informal, berbagi informasi pekerjaan, dan bahkan kemitraan bisnis antar jamaah.

Dalam konteks sosial, transformasi struktur keluarga dari model extended family menjadi nuclear family, yang seringkali disertai dengan berkurangnya sistem dukungan tradisional, juga menciptakan kerentanan baru. Majelis, dalam hal ini, menjadi semacam "keluarga diperluas" (extended spiritual family) yang menyediakan fungsi-fungsi dukungan yang sebelumnya diperoleh dari struktur keluarga tradisional. Rohayati seorang jamaah wanita berusia 45 tahun yang tinggal jauh dari keluarga besarnya menggambarkan: "Di sini saya menemukan keluarga baru. Saat anak saya sakit dan suami sedang tugas di luar kota, jamaah lain yang menolong, mengantar ke dokter, bahkan memasak untuk kami. Kebersamaan seperti ini sulit ditemukan di lingkungan perumahan yang individualistis." Asep Furqon seorang jamaah lain yang bekerja sebagai buruh pabrik menyatakan pengalamannya:

"Hidup sekarang serba cepat dan tidak pasti. Pekerjaan bisa hilang kapan saja, harga-harga naik terus, tuntutan semakin banyak tapi waktu semakin sedikit. Banyak tetangga yang stres, bahkan ada yang sampai keluarganya berantakan karena tekanan ekonomi. Di tengah ketidakpastian ini, majelis menjadi tempat saya menemukan ketenangan dan petunjuk. Ajaran Mama membantu saya menghadapi kesulitan hidup dengan sabar dan tawakal. Saya belajar untuk tidak terlalu terikat pada hal-hal material dan lebih fokus pada keberkahan. Ini membuat saya lebih tenang menghadapi fluktuasi ekonomi. Yang lebih penting, saya menemukan komunitas yang saling mendukung, tempat berbagi kesulitan dan kebahagiaan. Ketika saya sempat di-PHK tahun lalu, beberapa jamaah membantu mencarikan pekerjaan baru, bahkan ada yang meminjamkan modal untuk usaha kecil-kecilan sementara saya mencari pekerjaan tetap."249 Pernyataan ini mencerminkan fungsi majelis sebagai sumber ketahanan psikologis dan sosial bagi jamaah dalam menghadapi tekanan modernitas. Pengajaran spiritual yang diterima dalam majelis menjadi mekanisme adaptif yang membantu jamaah memaknai ulang (reframing) pengalaman-pengalaman penuh tekanan menjadi kesempatan untuk pertumbuhan spiritual. Nilai-nilai seperti sabar, syukur, tawakal, dan qana'ah (merasa cukup) yang ditekankan dalam pengajian memberikan kerangka kognitif alternatif untuk merespons tantangan hidup dengan cara yang lebih adaptif.

Secara kolektif, mekanisme penanganan masalah berbasis agama ini menjadi faktor pelindung yang mengurangi dampak negatif dari stres sosialekonomi. Dalam konteks Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob, efek protektif ini diperkuat oleh kombinasi antara sistem kepercayaan yang 249 Focus Group Discussion dengan Generasi Muda, oleh penulis, Cianting, 10 Mei 2025. koheren, praktik ritual yang menenangkan, dan dukungan sosial yang konkret.

Di sisi lain, jamaah juga berperan sebagai agen perubahan yang membawa nilai-nilai dan praktik yang diperoleh dari majelis ke dalam berbagai arena sosial, seperti keluarga, tempat kerja, dan komunitas lokal. Dalam konteks keluarga, jamaah seringkali menjadi pelopor transformasi pola asuh dan hubungan keluarga berdasarkan nilai-nilai yang diperoleh dari majelis, seperti kesabaran, komunikasi efektif, dan penghargaan terhadap setiap anggota keluarga. Dalam lingkungan kerja, jamaah membawa etos kerja yang dilandasi nilai-nilai seperti keikhlasan, kejujuran, dan itqan (kesungguhan), yang dalam beberapa kasus mampu memengaruhi budaya kerja di sekitar mereka.

Dalam komunitas lokal, banyak jamaah terlibat dalam berbagai inisiatif sosial, pendidikan, dan lingkungan yang terinspirasi oleh nilai-nilai yang diperoleh dalam majelis. Misalnya, beberapa jamaah mendirikan taman pendidikan Al-Qur'an di lingkungan mereka, menginisiasi program bantuan untuk kaum dhuafa, atau mengorganisir kegiatan pembersihan lingkungan. Menariknya, inisiatif-inisiatif ini seringkali menjangkau masyarakat yang lebih luas, tidak terbatas pada sesama jamaah, menciptakan jembatan antar komunitas.

Proses transmisi nilai ini menciptakan semacam "efek riak" (ripple effect) yang memperluas pengaruh dakwah Mama Cianting melampaui batas-batas formal majelis. Melalui tindakan sehari-hari jamaah, nilai-nilai seperti kepedulian sosial, etika lingkungan, dan integritas personal menjadi terwujud dan terlihat dalam berbagai konteks sosial, mengkontribusikan perubahan inkremental namun signifikan dalam norma dan praktik sosial di tingkat lokal. Fenomena ini merupakan manifestasi dari penerapan nilainilai Islam dalam kehidupan publik, di mana nilai-nilai keagamaan diartikulasikan dan diimplementasikan dalam berbagai konteks sosial sehari-hari, bukan sebagai doktrin abstrak, melainkan sebagai prinsip hidup yang konkret dan aplikatif.

Temuan menarik lainnya adalah bagaimana jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menjadi semacam "jembatan kultural" yang menghubungkan tradisi keagamaan lokal dengan arus modernitas. Sebagai individu yang hidup di antara dua dunia, jamaah terlibat dalam proses negosiasi dan mediasi yang kompleks, menciptakan sintesis-sintesis baru antara nilai-nilai tradisional dan tuntutan kontemporer. Dalam praktik ekonomi, misalnya, beberapa jamaah pedagang mengembangkan model bisnis yang mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi syariah tradisional dengan metode pemasaran dan manajemen modern. Dalam konteks pendidikan, jamaah yang berprofesi sebagai guru atau orang tua seringkali mengembangkan pendekatan pedagogis yang memadukan nilai-nilai adab tradisional dengan metode pendidikan progresif.

Melalui partisipasi dalam majelis, jamaah mengalami proses negosiasi dan rekonsiliasi antara identitas tradisional mereka dengan tuntutan kehidupan modern. Proses ini menciptakan identitas yang memadukan berbagai elemen, di mana komponen-komponen dari tradisi dan modernitas dikombinasikan dalam konfigurasi baru yang memungkinkan individu untuk mempertahankan kontinuitas kultural di tengah perubahan sosial yang cepat. Alih-alih terjebak dalam dikotomi kaku antara tradisi dan modernitas, jamaah menemukan jalan tengah yang memungkinkan mereka mengadopsi aspek-aspek modernitas yang bermanfaat sambil tetap menjaga nilai-nilai inti dari tradisi mereka.

Fenomena ini mencerminkan perkembangan modernitas yang beragam, di mana komunitas tidak sekadar menjadi penerima pasif dari model modernitas dominan, tetapi secara aktif mengembangkan jalur-jalur modernisasi yang lebih sesuai dengan konteks kultural dan spiritual mereka. Dalam proses ini, jamaah tidak hanya menjaga relevansi tradisi dalam konteks kontemporer, tetapi juga turut memperkaya spektrum kemungkinan tentang bagaimana modernitas dapat dimaknai dan dihidupi dalam masyarakat yang beragam secara kultural.

Dinamika kompleks antara jamaah dan perubahan sosial ini menggarisbawahi peran penting institusi keagamaan seperti Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob dalam konteks transformasi sosial kontemporer. Jauh dari menjadi sekedar kelompok tradisionalis yang menolak perubahan, majelis dan jamaahnya justru menjadi aktor dinamis yang secara aktif terlibat dalam mendefinisikan ulang dan membentuk bagaimana perubahan sosial dimaknai dan dialami oleh komunitas. Dalam proses ini, nilai-nilai spiritual tidak menjadi hambatan bagi perubahan, melainkan sumber daya kultural yang memfasilitasi adaptasi yang lebih humanis dan berkelanjutan terhadap modernitas.

10) Sintesis: Model Tipologi Jamaah a) Model Tipologi Jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob Berdasarkan analisis komprehensif terhadap berbagai aspek karakteristik jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob, dapat dikembangkan model tipologi jamaah yang mengintegrasikan dimensi demografis, sosio-ekonomi, motivasional, dan partisipatoris. Model ini menawarkan kerangka analitis untuk memahami keragaman jamaah secara lebih sistematis dan terintegrasi, sekaligus memberikan wawasan tentang bagaimana beragam profil jamaah berinteraksi dengan pendekatan dakwah Mama Cianting.

Model tipologi ini mengidentifikasi empat tipe utama jamaah berdasarkan kombinasi antara orientasi motivasional (spiritual-pragmatis) dan pola partisipasi (individual-komunal). Perlu ditegaskan bahwa kategorisasi ini tidak bersifat mutually exclusive, melainkan lebih menggambarkan kecenderungan dominan yang dapat berubah atau berinterseksi dalam pengalaman nyata jamaah.

Tipe 1: Pencari Spiritual (Spiritual Seeker)

Karakteristik: Dominan orientasi spiritual, partisipasi individual Motivasi utama: Pencarian makna hidup, kedekatan dengan Allah, peningkatan kualitas spiritual Pola partisipasi: Fokus pada ritual dan pembelajaran personal, keterlibatan selektif dalam aktivitas komunal Latar belakang: Beragam, sering berasal dari kalangan terdidik dan urban Persentase dari total jamaah: ±25% Jamaah tipe Pencari Spiritual menunjukkan ketertarikan mendalam pada dimensi esoteris ajaran Islam dan aspek-aspek spiritual dari dakwah Mama Cianting. Mereka secara konsisten menghadiri kajian-kajian yang membahas topik-topik seperti tasawuf, makrifat, dan pengembangan spiritualitas personal. Dalam observasi lapangan, kelompok ini sering terlihat mencatat secara ekstensif selama pengajian, mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang mendalam, dan mencari waktu personal dengan Mama Cianting untuk diskusi lebih lanjut tentang persoalan-persoalan spiritual.

Dian Seorang jamaah berusia 42 tahun yang bekerja sebagai dosen menggambarkan pengalamannya: "Sebelum mengikuti pengajian Mama, saya merasa ada kekosongan spiritual meskipun secara formal menjalankan ibadah. Di sini saya menemukan dimensi batiniah yang memberikan kedalaman pada praktik ibadah saya. Saya lebih tertarik pada aspek tasawuf dan penghayatan makna di balik ritual, tidak terlalu terlibat dalam kegiatan sosial majelis meskipun saya menghargainya." Pencari Spiritual cenderung mempraktikkan pendekatan yang lebih reflektif dan kontemplatif terhadap ajaran yang diterima. Mereka sering menghabiskan waktu signifikan untuk merenungkan dan menginternalisasi konsep-konsep yang dipelajari, kemudian mengintegrasikannya ke dalam praktik spiritual personal mereka. Dalam beberapa kasus, mereka mengembangkan praktik spiritual yang mengkombinasikan ajaran yang diterima dari Mama Cianting dengan sumber-sumber spiritual lain yang telah mereka eksplorasi sebelumnya.

Meskipun cenderung individualistik dalam pendekatan spiritual, tipe jamaah ini tetap menghargai dimensi komunal majelis sebagai ruang yang menyediakan validasi dan pengayaan bagi perjalanan spiritual mereka. Mereka seringkali menjadi sumber refleksi teologis yang mendalam dalam diskusi-diskusi informal antar jamaah, membawa perspektif yang memperkaya pemahaman kolektif. Tipe 2: Pembaru Sosial (Social Transformer) Karakteristik: Dominan orientasi spiritual, partisipasi komunal Motivasi utama: Implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial, dakwah melalui aksi sosial Pola partisipasi: Aktif dalam kegiatan sosial majelis, menjadi "agen perubahan" di komunitas Latar belakang: Sering berasal dari kalangan aktivis, pendidik, atau pemimpin komunitas Persentase dari total jamaah: ±20% Jamaah tipe Pembaru Sosial menginternalisasi dimensi sosial dari ajaran Islam yang disampaikan Mama Cianting dan mentransformasikannya menjadi aksi nyata dalam masyarakat. Mereka tidak hanya mencari pengayaan spiritual personal, tetapi juga berkomitmen untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam transformasi sosial. Kelompok ini menjadi motor penggerak berbagai program sosial majelis, seperti bantuan untuk kaum dhuafa, program kesehatan gratis, dan inisiatif pendidikan untuk masyarakat kurang mampu.

Perspektif mereka tercermin dalam pernyataan Bagas seorang jamaah berusia 39 tahun yang aktif dalam divisi sosial majelis: "Mama mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari ritual, tapi juga dari kepedulian pada sesama. Pemahaman ini mendorong saya untuk aktif dalam program-program sosial majelis. Bagi saya, membantu sesama adalah manifestasi konkret dari pengajian yang kita dapatkan."250 Pembaru Sosial melihat aktivisme sosial mereka sebagai bentuk ibadah dan dakwah praktis yang tak terpisahkan dari komitmen spiritual mereka. Mereka menemukan resonansi khusus dalam aspek-aspek ajaran Mama Cianting yang menekankan tanggung jawab sosial, keadilan, dan pembelaan terhadap yang lemah. Dalam implementasinya, mereka sering mengembangkan pendekatan inovatif yang mengkontekstualisasikan nilainilai Islam dalam penyelesaian masalah sosial kontemporer.

Tipe jamaah ini menciptakan jembatan penting antara majelis dan masyarakat luas, memperluaskan pengaruh ajaran Mama Cianting melalui program-program yang menyentuh kebutuhan konkret masyarakat. Mereka juga sering menjadi "diplomat informal" yang menjelaskan dan mengkontekstualisasikan ajaran majelis kepada pihak-pihak di luar komunitas jamaah, menciptakan pemahaman dan apresiasi yang lebih luas. Tipe 3: Pencari Solusi (Solution Seeker) Karakteristik: Dominan orientasi pragmatis, partisipasi individual Motivasi utama: Mencari solusi untuk masalah konkret dalam kehidupan (kesehatan, ekonomi, keluarga) Pola partisipasi: Hadir pada momen-momen tertentu, terutama ketika menghadapi masalah spesifik 250 Focus Group Discussion dengan Jamaah Senior, oleh penulis, Cianting, 09 Desember 2024.

Latar belakang: Beragam, sering dari kalangan yang kurang terlibat dalam aktivitas keagamaan sebelumnya Persentase dari total jamaah: ±30% Jamaah tipe Pencari Solusi mengapproach majelis dengan motivasi awal yang lebih pragmatis, biasanya terkait dengan pencarian jawaban atau jalan keluar atas permasalahan spesifik dalam kehidupan mereka. Masalahmasalah ini beragam, mencakup kesehatan, krisis keluarga, kesulitan ekonomi, atau dilema keputusan penting. Pola kehadiran mereka cenderung episodik dan terkait dengan intensitas kebutuhan akan solusi.

Naratif Imas seorang jamaah perempuan berusia 47 tahun menggambarkan karakteristik ini: "Awalnya saya datang karena masalah rumah tangga yang berat. Saya mencari petunjuk dan ketenangan. Mama memberikan nasihat yang praktis tapi juga mendalam secara spiritual. Saya tidak selalu bisa hadir rutin karena kesibukan, tapi ketika menghadapi masalah baru, saya selalu kembali untuk mendapatkan perspektif dan dukungan."251 Meskipun motivasi awal mereka bersifat pragmatis, interaksi dengan ajaran Mama Cianting dan komunitas jamaah seringkali membawa transformasi yang lebih dalam dari sekadar penyelesaian masalah spesifik. Banyak Pencari Solusi yang awalnya datang dengan ekspektasi one-time solution, namun kemudian mengalami perluasan perspektif yang mengubah cara mereka memaknai dan merespon tantangan hidup secara lebih umum.

Pencari Solusi mewakili proporsi terbesar jamaah (±30%), menandakan besarnya kebutuhan akan bimbingan praktis dalam menghadapi berbagai persoalan hidup di tengah kompleksitas sosial kontemporer. Kelompok ini juga paling beragam dalam latar belakang sosio-ekonomi dan tingkat keterlibatan keagamaan sebelumnya. Bagi 251 Wawancara dengan Imas, oleh penulis, Cianting, 17 Maret 2025. banyak dari mereka, majelis menjadi pintu masuk pertama ke dalam eksplorasi spiritual yang lebih mendalam.

Pola partisipasi Pencari Solusi yang fluktuatif dan pragmatis menantang majelis untuk mengembangkan pendekatan yang bisa memenuhi kebutuhan jangka pendek mereka sekaligus menawarkan jalur untuk keterlibatan yang lebih berkelanjutan dan transformatif. Program-program seperti konsultasi personal, forum tanya jawab, dan kajian tematik tentang persoalan kehidupan sehari-hari menjadi titik kontak utama untuk jamaah tipe ini. Tipe 4: Pencari Komunitas (Community Seeker) Karakteristik: Dominan orientasi pragmatis, partisipasi komunal Motivasi utama: Mencari rasa memiliki, dukungan sosial, dan identitas kolektif Pola partisipasi: Aktif dalam kegiatan sosial, namun kurang intensif dalam aspek ritual dan pembelajaran Latar belakang: Sering dari kalangan yang mengalami transisi atau disrupsi sosial (migrasi, perubahan status) Persentase dari total jamaah: ±25% Jamaah tipe Pencari Komunitas terutama tertarik pada dimensi sosial dan komunal dari majelis. Mereka mencari rasa memiliki, jaringan dukungan, dan identitas kolektif yang mungkin sulit ditemukan dalam struktur sosial mainstream yang semakin individualistik. Bagi banyak dari mereka, majelis menjadi "keluarga kedua" yang menyediakan kestabilan sosial dan dukungan emosional dalam konteks kehidupan yang sering ditandai dengan mobilitas dan perubahan cepat.

Pengalaman Latifuddin seorang jamaah laki-laki berusia 36 tahun yang baru pindah ke Purwakarta karena pekerjaan memberikan ilustrasi khas: "Saat pindah dari Bandung ke kota Purwakarta, saya merasa tercerabut dari akar sosial. Bergabung dengan majelis memberi saya komunitas yang menerima dan mendukung. Saya mungkin bukan jamaah yang paling rajin dalam ritual atau paling mendalam dalam kajian, tapi saya aktif dalam kegiatan sosial dan selalu hadir dalam acara-acara komunitas. Di sini saya menemukan ikatan yang mirip dengan yang ada di kampung halaman." Pencari Komunitas sangat menghargai aspek-aspek kebersamaan dalam aktivitas majelis, seperti acara makan bersama, ziarah berkelompok, atau perayaan hari-hari besar Islam. Mereka cenderung sangat loyal terhadap komunitas dan sering menjadi pendukung setia berbagai program, bahkan ketika tidak sepenuhnya memahami dimensi teologis di baliknya. Dalam beberapa kasus, identifikasi dengan komunitas jamaah menjadi bagian penting dari definisi diri mereka.

Tipe jamaah ini memainkan peran penting dalam memelihara kohesi sosial majelis dan memastikan keberlanjutan berbagai aktivitas komunal. Mereka sering menjadi "perekat sosial" yang menghubungkan berbagai elemen dalam komunitas jamaah, memfasilitasi integrasi anggota baru, dan mempertahankan semangat kolektif dalam kegiatan-kegiatan majelis. Dalam proses ini, banyak dari mereka yang secara gradual juga mengalami pendalaman spiritual melalui eksposur berkelanjutan terhadap ajaran Mama Cianting. b) Dinamika dan Interaksi Antar Tipe Model tipologi ini tidak dimaksudkan sebagai kategorisasi rigid yang mereduksi kompleksitas pengalaman jamaah, melainkan sebagai kerangka untuk memahami pola-pola umum dalam keragaman jamaah. Dalam realitasnya, banyak jamaah yang menunjukkan karakteristik campuran atau mengalami pergeseran tipe seiring waktu.

Pengamatan lapangan menunjukkan adanya pola-pola pergeseran yang menarik antar tipe-tipe jamaah ini. Misalnya, banyak Pencari Solusi yang, setelah menemukan jawaban atas persoalan spesifik mereka, berkembang menjadi Pencari Spiritual atau Pembaru Sosial, menandakan perluasan motivasi dari yang pragmatis menjadi lebih transcendental. Demikian pula, beberapa Pencari Komunitas, melalui interaksi berkelanjutan dengan ajaran dan ritual majelis, mengalami pendalaman spiritual yang menggeser orientasi mereka ke arah yang lebih substantif.

Dinamika interaksi antar tipe jamaah ini menciptakan ekosistem sosial-spiritual yang kompleks dan saling memperkaya. Pencari Spiritual menyumbangkan kedalaman refleksi teologis, Pembaru Sosial menjaga relevansi sosial ajaran, Pencari Solusi membawa persoalan-persoalan konkret yang menjaga pengajaran tetap terhubung dengan realitas, dan Pencari Komunitas memelihara dimensi sosial yang penting bagi keberlanjutan majelis. Interaksi dinamis ini menciptakan komunitas pembelajaran kolaboratif di mana berbagai perspektif dan kebutuhan saling melengkapi. c) Signifikansi dan Implikasi Model Signifikansi model tipologi ini terletak pada implikasinya terhadap pemahaman tentang kompleksitas motivasi dan perilaku jamaah, yang pada gilirannya dapat menginformasikan analisis tentang efektivitas retorika profetik Mama Cianting.

Model ini membantu menjelaskan bagaimana pendekatan dakwah Mama Cianting berhasil mengakomodasi keragaman kebutuhan jamaah. Kemampuan untuk berbicara secara simultan pada level spiritual yang mendalam (menarik Pencari Spiritual), mengkontekstualisasikan ajaran dalam aksi sosial (menarik Pembaru Sosial), memberikan solusi praktis untuk persoalan hidup (menarik Pencari Solusi), dan memfasilitasi pembentukan komunitas yang kohesif (menarik Pencari Komunitas) mencerminkan fleksibilitas dan multidimensionalitas pendekatan dakwah yang diterapkan.

Dari perspektif pedagogis, model ini menyoroti pentingnya pendekatan yang berjenjang dan multi-modal dalam transmisi pengetahuan keagamaan, yang memungkinkan jamaah dengan berbagai tipe motivasi dan gaya pembelajaran untuk mengakses dan menginternalisasi ajaran sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan mereka. Pendekatan "one size fits all" cenderung hanya akan efektif untuk subset jamaah tertentu, sementara alienasi yang lain.

Model ini juga memiliki implikasi praktis bagi pengembangan program dan kegiatan majelis. Pemahaman tentang keragaman tipe jamaah memungkinkan desain kegiatan yang lebih terarah dan responsif terhadap beragam kebutuhan, dari kajian teologis mendalam untuk Pencari Spiritual, program sosial untuk Pembaru Sosial, konsultasi personal untuk Pencari Solusi, hingga kegiatan komunal untuk Pencari Komunitas.

Pada tingkat yang lebih fundamental, model tipologi ini menggarisbawahi kompleksitas motivasi keagamaan manusia, yang jauh melampaui dikotomi sederhana antara "kesalehan" dan "formalitas". Keragaman motivasi dan pola partisipasi yang terungkap menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual manusia bersifat multidimensional, mencakup aspek kognitif, afektif, behavioral, dan sosial, yang semuanya mencari pemenuhan melalui keterlibatan dalam komunitas keagamaan.

Dengan demikian, model tipologi jamaah ini tidak hanya berfungsi sebagai alat analitis untuk memahami dinamika internal Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob, tetapi juga memberi kontribusi pada pemahaman yang lebih nuansa tentang bagaimana institusi keagamaan kontemporer berinteraksi dengan keragaman kebutuhan spiritual manusia di tengah kompleksitas sosial modern.

Analisis komprehensif terhadap karakteristik jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menunjukkan bahwa jamaah tidak hanya berperan sebagai penerima pasif dari dakwah Mama Cianting, tetapi juga menjadi indikator hidup dari efektivitas retorika profetik yang diterapkan. Keberagaman demografis, sosio-ekonomi, dan edukatif jamaah mencerminkan daya jangkau dan inklusivitas pendekatan dakwah Mama Cianting yang mampu melampaui sekat-sekat sosial konvensional.

Motivasi, ekspektasi, dan pola partisipasi jamaah yang bervariasi namun terkonvergensi dalam kerangka nilai-nilai profetik menunjukkan keberhasilan retorika Mama Cianting dalam menciptakan ruang perjumpaan yang bermakna antara tradisi keagamaan dengan kebutuhan kontemporer masyarakat. Transformasi multidimensional yang dialami jamaah— kognitif, afektif, dan behavioral—menjadi bukti konkret dari daya transformatif retorika profetik yang tidak hanya menyentuh dimensi intelektual, tetapi juga dimensi spiritual dan praktikal kehidupan jamaah.

Pola relasi sosial antar jamaah yang ditandai oleh solidaritas, jejaring dukungan, dan mekanisme resolusi konflik berbasis nilai-nilai spiritual mencerminkan materializasi dari dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi yang menjadi inti dari retorika profetik. Dinamika perubahan komposisi jamaah dan peran mereka dalam transformasi sosial-budaya yang lebih luas menunjukkan relevansi dan adaptabilitas pendekatan retorika profetik dalam merespons perubahan zaman.

Model tipologi jamaah yang dikembangkan dalam analisis ini menawarkan kerangka konseptual untuk memahami keragaman dalam kesatuan yang menjadi karakteristik komunitas jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob. Kerangka ini pada gilirannya dapat menjadi basis untuk analisis lebih lanjut tentang bagaimana retorika profetik Mama Cianting berinteraksi dengan dan memengaruhi berbagai tipe jamaah dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Dalam perspektif lebih luas, karakteristik jamaah Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menawarkan studi kasus yang kaya tentang bagaimana institusi keagamaan tradisional mampu mempertahankan relevansi dan vitalitasnya di tengah arus modernisasi dan sekularisasi, melalui kombinasi antara kesetiaan pada prinsip-prinsip fundamental dan adaptasi kreatif terhadap konteks kontemporer. c. Format dan struktur dakwah Berdasarkan hasil observasi partisipatif terhadap beberapa sesi dakwah Mama Cianting di Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob, dapat diidentifikasi pola format dan struktur yang khas dalam penyampaian dakwah Mama Cianting. Format dan struktur ini mencerminkan pendekatan pedagogis yang telah dikembangkan dan disempurnakan selama bertahuntahun pengalaman mengajar, dengan mempertimbangkan karakteristik jamaah yang beragam latar belakang pendidikan dan pemahaman keagamaan.

1) Struktur Pembuka Setiap sesi dakwah Mama Cianting selalu dimulai dengan rangkaian elemen pembuka yang tersusun secara sistematis, masing-masing memiliki fungsi pedagogis dan psikologis yang sangat penting untuk menciptakan suasana yang mendalam dan menyiapkan jamaah secara spiritual: a) Salam Pembuka: Dakwah dimulai dengan salam lengkap: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, yang diucapkan dengan intonasi khas, menciptakan koneksi pertama yang hangat dengan jamaah. Salam ini bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga menjadi cara untuk menyapa dan menyatukan jamaah dalam satu tujuan spiritual.

Kemudian, Mama Cianting melanjutkan dengan pembacaan tawasul lengkap. Pembacaan ini dimulai dari Rasulullah SAW, para sahabat Nabi, aulia, syuhada, sholihin, qorrobin muqarrabin, ulama amilis, hingga ulama lokal, ustadz, kyai, serta almarhum-almarhumah, khususnya untuk jamaah dan keluarga jamaah. Tawasul ini diakhiri dengan pembacaan Al-Fatihah yang menjadi penanda niat dan harapan dalam setiap kajian dakwah yang akan dilaksanakan. b) Basmalah dan Pujian kepada Allah:

Setelah itu, dilanjutkan dengan pengucapan Bismillahirrahmanirrahim dan pujian kepada Allah SWT. Diikuti dengan shalawat singkat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penanda formal dimulainya kajian. Pengucapan basmalah ini menandakan bahwa setiap kajian yang dilakukan adalah dengan izin Allah, dan sebagai bentuk pengakuan akan keagungan-Nya. c) Rangkaian Shalawat: Salah satu ciri khas yang paling menonjol dalam pembukaan dakwah Mama Cianting adalah rangkaian shalawat yang panjang dan terperinci. Dengan pemilihan kata-kata yang puitis dan indah, Mama Cianting menyampaikan shalawat ini selama 2-3 menit dengan irama dan intonasi yang khas. Pembacaan shalawat ini bertujuan untuk membangun atmosfer spiritual yang mendalam, membawa jamaah dalam suasana khusyuk.

Perbedaan utama dalam pelaksanaan shalawat sebelum dan sesudah Mama Cianting memasuki mimbar adalah pada sesi sebelum Mama Cianting tampil. Di kamar majelis, Mama Cianting terlebih dahulu memimpin shalawat dengan sekitar 1000 kali shalawat yang diiringi oleh santri. Buku shalawat ini pun disediakan di tempat majelis, memungkinkan jamaah untuk memilikinya. Setelah itu, Mama Cianting melengkapi tawasul tadi dengan shalawat yang menambah nuansa sakral pada sesi dakwah. d) Ungkapan Syukur dan Doa untuk Jamaah: Setelah shalawat, Mama Cianting menyampaikan ungkapan syukur atas kehadiran jamaah yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Ungkapan ini disampaikan dalam bahasa Sunda dengan diksi yang santun dan penuh kehangatan, menciptakan ikatan emosional antara Mama Cianting dengan jamaah. Selain itu, Mama Cianting juga memimpin doa untuk kesehatan dan kesejahteraan jamaah, sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan fisik dan rohani mereka. e) Doa untuk Orang Lain: Sebelum memasuki materi utama, Mama Cianting memimpin doa untuk berbagai kelompok yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat. Doa ini disampaikan secara berurutan dengan penuh khidmat: i. Kerabat jamaah yang sedang sakit dan yang telah meninggal dunia. ii. Para ulama, kyai, dan habaib yang telah berjasa dalam memperjuangkan agama. iii. Para pejabat pemerintahan dari level tertinggi hingga terendah. iv. Aparat keamanan, termasuk polisi dan tentara, yang menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat.

Format pembuka yang berdurasi sekitar 7-10 menit ini tidak hanya memiliki tujuan untuk mempersiapkan jamaah secara mental dan spiritual sebelum memasuki materi dakwah, tetapi juga untuk membangun suasana yang lebih khusyuk, memusatkan perhatian jamaah, serta memperkuat rasa kebersamaan sebagai bagian dari komunitas spiritual yang lebih besar.

2) Struktur Isi Kajian Setelah pembukaan, Mama Cianting memasuki isi kajian dengan struktur yang khas: a) Pengenalan Kitab yang Akan Dikaji: Mama Cianting selalu memulai dengan menyebutkan nama kitab yang akan dibahas dan posisinya dalam rangkaian pembelajaran. Mama Cianting juga menjelaskan arti dari nama kitab tersebut dan memberikan konteks tentang pengarang dan signifikansi kitab dalam tradisi keilmuan Islam. b) Penjelasan Tentang Posisi dan Urgensi Kitab: Selanjutnya, Mama Cianting memberikan penjelasan tentang pentingnya kitab yang akan dikaji dan alasan mengapa kitab tersebut dipilih untuk dipelajari oleh jamaah. Penjelasan ini sering menyinggung relevansi kitab dengan kebutuhan spiritual dan praktis jamaah dalam konteks kehidupan modern. c) Pembacaan Teks Kitab dalam Bahasa Arab untuk kitab berbahasa Arab: Mama Cianting kemudian membacakan teks asli dalam bahasa Arab dengan tajwid dan makhraj yang fasih. Untuk teks kitab yang berbahasa Melayu atau Sunda, Mama langsung menjelaskan dan mentafsirkan, kemudian mengkolaborasikannya dengan ilmu dari kitab lain sebagai penguat. Pembacaan ini biasanya dilakukan per paragraf atau per konsep, bukan per bab, untuk memudahkan pemahaman. d) Penerjemahan Kata Per Kata: Setelah membaca teks Arab, Mama Cianting melakukan penerjemahan kata per kata ke dalam bahasa Sunda, menunjukkan makna literal dari setiap elemen kalimat. Proses ini dilakukan dengan sangat detail, bahkan kata sambung dan partikel pun diterjemahkan untuk memberikan pemahaman struktur bahasa Arab kepada jamaah. e) Penjelasan Makna Mendalam: Setelah terjemahan literal, Mama Cianting menjelaskan makna yang lebih mendalam dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan kontekstual. Pada tahap ini, Mama Cianting tidak lagi terikat dengan struktur teks asli, melainkan mengembangkan penjelasan sesuai dengan kebutuhan pemahaman jamaah. Selain itu, Mama Cianting juga menambahkan referensi dari kitab lain yang kredibel atau dari pendapat ulama terdahulu sebagai pembanding atau penguat. f) Penggunaan Metafora dan Analogi: Saat menjelaskan konsep-konsep abstrak, Mama Cianting sering menggunakan metafora dan analogi dari kehidupan sehari-hari yang familiar bagi jamaah. Metafora yang digunakan sering kali berasal dari konteks pertanian, rumah tangga, atau fenomena alam yang dekat dengan pengalaman jamaah. g) Pengulangan Poin Kunci: Poin-poin kunci dalam pembahasan selalu diulang beberapa kali dengan formulasi yang sedikit berbeda untuk memperkuat pemahaman.

Pengulangan ini biasanya disertai dengan penekanan intonasi dan gestur yang menandakan pentingnya poin tersebut. h) Elaborasi dengan Contoh Konkret: Penjelasan konseptual selalu diperkaya dengan contoh-contoh konkret dari kehidupan sehari-hari, baik dari pengalaman pribadi Mama Cianting, kisah-kisah dari tradisi Islam, maupun situasi hipotetis yang relevan dengan konteks jamaah. i) Narasi Personal: Mama Cianting sering menyisipkan narasi personal atau pengalaman pribadinya untuk memperkuat poin yang disampaikan. Narasi personal ini disampaikan dengan gaya bertutur yang hangat dan sering disertai unsur humor, menciptakan kedekatan emosional dengan jamaah.

3) Pola Interaktif Meskipun format utamanya adalah ceramah, dakwah Mama Cianting menunjukkan beberapa elemen interaktif: a) Ruang untuk Pertanyaan: Di akhir kajian atau pada jeda tertentu, Mama Cianting selalu memberikan kesempatan kepada jamaah untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan biasanya disampaikan langsung oleh jamaah atau melalui perantara pengurus majelis jika jamaahnya sangat banyak. b) Respons Langsung terhadap Pertanyaan: Mama Cianting memberikan jawaban langsung dan terperinci terhadap pertanyaan jamaah. Jawaban tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga kontekstual dengan mempertimbangkan situasi spesifik penanya. c) Antisipasi Pertanyaan: Dalam beberapa bagian ceramah, Mama Cianting mengantisipasi pertanyaan atau keberatan yang mungkin muncul dari jamaah. Mama Cianting sering menggunakan ungkapan seperti “sok mangga aya pertarosan?” artinya "Silakan, ada yang mungkin bertanya..." yang diikuti dengan jawaban atau klarifikasi. d) Dialog Imaginer: Teknik retoris yang sering digunakan adalah menciptakan dialog imaginer antara dirinya dengan jamaah atau antara pendapat yang berbeda. Teknik ini membuat penyampaian lebih dinamis dan membantu jamaah melihat berbagai perspektif dalam satu isu.

4) Struktur Penutup Penutup dakwah Mama Cianting juga memiliki pola yang konsisten: a) Penegasan Kembali Pesan Utama: Mama Cianting mengakhiri dengan menegaskan kembali poin utama dari kajian, sering dalam bentuk ringkasan atau kesimpulan yang mudah diingat. b) Pernyataan Niat dan Tujuan Menuntut Ilmu: Mama Cianting menyampaikan pernyataan tentang niat dan tujuan pembelajaran, mengingatkan jamaah akan pentingnya mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari. c) Shalawat Penutup: Shalawat yang puitis dan panjang, sering kali berbeda dari shalawat pembuka, namun tetap dengan gaya yang khas dan indah. d) Doa Penutup dan Salam: Dakwah selalu diakhiri dengan doa penutup yang komprehensif dan salam. Mama Cianting juga tidak lupa mengingatkan jamaah, jika berkesempatan, untuk makan bersama setelah kajian, sebagai bentuk kebersamaan.

5) Karakteristik Linguistik Format dan struktur dakwah Mama Cianting juga ditandai oleh karakteristik linguistik yang khas: a) Penggunaan Empat Bahasa: Observasi menunjukkan bahwa Mama Cianting dengan fasih beralih antara empat bahasa—Arab, Sunda, Jawa, dan Indonesia—dalam satu aliran ceramah yang berkesinambungan. Peralihan ini dilakukan dengan sangat halus dan natural, sesuai dengan kebutuhan penjelasan. b) Penggunaan Bahasa Sunda Sebagai Medium Utama: Bahasa Sunda menjadi medium utama penyampaian, mencerminkan konteks kultural jamaah dan menciptakan kedekatan komunikatif. Bahasa Sunda yang digunakan mencakup berbagai tingkatan (lemes, sedeng, kasar) yang disesuaikan dengan konteks pembicaraan. c) Bahasa Arab untuk Teks Sumber: Bahasa Arab digunakan untuk membacakan teks kitab asli, menunjukkan otentisitas sumber dan membiasakan jamaah dengan terminologi Islam dalam bahasa aslinya. Pembacaan ini bertujuan untuk menjaga keaslian pesan yang terkandung dalam teks dan memberi jamaah pemahaman yang lebih mendalam tentang makna yang terkandung dalam setiap kata yang dibaca. d) Bahasa Jawa untuk Logat dalam Teks Kitab Arab: Bahasa Jawa digunakan untuk memberikan penekanan pada logat tertentu dalam teks kitab Arab. Dengan menggunakan bahasa Jawa, Mama Cianting dapat menjelaskan makna atau memberi tafsiran yang lebih jelas, menghubungkan nuansa bahasa Arab dengan ekspresi lokal yang lebih familiar bagi jamaah. Penggunaan bahasa Jawa ini juga membantu menciptakan kedekatan antara jamaah dengan teks yang sedang dibahas, membuatnya lebih mudah dipahami, terutama dalam konteks sosial dan budaya yang relevan. e) Bahasa Indonesia untuk Konsep Tertentu: Beberapa penjelasan konseptual disampaikan dalam bahasa Indonesia, terutama untuk terminologi modern atau konsep yang lebih kompleks yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Sunda. Bahasa Indonesia digunakan untuk menyampaikan ide-ide yang lebih abstrak atau teknis, sehingga jamaah dapat lebih mudah mengikuti penjelasan mengenai konsep-konsep yang lebih kontemporer atau ilmiah yang tidak terwakili dalam bahasa Sunda atau bahasa lokal lainnya. f) Diksi Lokal yang Kaya: Penggunaan kosakata Sunda yang kaya dan idiomatik yang membuat penjelasan menjadi lebih hidup dan dekat dengan pengalaman sehari-hari jamaah. Diksi lokal ini sering mencakup ungkapan-ungkapan tradisional dan pribahasa yang kaya makna.

6) Elemen Retoris Format dakwah Mama Cianting diperkaya dengan beberapa elemen retoris yang efektif: a) Variasi Intonasi: Perubahan intonasi yang dinamis untuk menekankan poin-poin penting, menciptakan ritme yang menjaga perhatian jamaah tetap terfokus sepanjang ceramah yang berlangsung 2-3 jam. b) Penggunaan Humor: Penyelipan unsur humor yang tepat sasaran, baik berupa anekdot, wordplay, atau observasi situasional yang mengundang tawa jamaah tanpa mengurangi substansi pesan. c) Penggunaan Pertanyaan Retoris: Mama Cianting sering menggunakan pertanyaan retoris untuk menstimulasi pemikiran jamaah dan menciptakan jeda reflektif dalam aliran ceramah. d) Penggunaan Kontras dan Perbandingan: Mama Cianting sering menggunakan kontras untuk memperjelas konsep, seperti membandingkan konsekuensi dari melaksanakan dan meninggalkan shalat, atau membandingkan pemahaman yang dangkal dengan pemahaman yang mendalam. e) Penggunaan Leksikon Emosional: Pilihan kata-kata yang membangkitkan respon emosional untuk menekankan urgensi pesan dan memotivasi jamaah untuk bertindak sesuai dengan ajaran yang disampaikan. f) Gestur dan Ekspresi Wajah: Penggunaan gestur tangan dan ekspresi wajah yang ekspresif untuk memperkuat penyampaian pesan verbal. Gestur sering kali menjadi penanda visual bagi poin-poin penting dalam ceramah.

7) Pendekatan Pedagogis Format dan struktur dakwah Mama Cianting mencerminkan pendekatan pedagogis yang matang: a) Metode Spiral: Topik diperkenalkan, kemudian diperdalam secara bertahap melalui berbagai sudut pandang dan konteks. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang berjenjang, dari yang sederhana hingga kompleks. b) Penguatan Melalui Repetisi: Poin-poin kunci diulang dalam berbagai bentuk dan konteks untuk memastikan pemahaman. Repetisi ini tidak monoton karena disampaikan dengan variasi linguistik dan retoris. c) Scaffolding: Penyampaian konsep dari yang sederhana menuju yang kompleks, seperti dari terjemahan literal menuju makna kontekstual. Mama Cianting membangun pemahaman jamaah secara bertahap dengan memberikan fondasi yang kokoh sebelum memperkenalkan konsep yang lebih abstrak. d) Pendekatan Multiliterasi: Mengintegrasikan berbagai moda komunikasi (tekstual, oral, naratif, analogis) untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar jamaah. Pendekatan ini memungkinkan jamaah dengan preferensi belajar yang berbeda untuk mengakses dan memahami materi. e) Penjelasan Bertingkat: Memberikan penjelasan pada berbagai level kedalaman, memungkinkan jamaah dengan tingkat pemahaman berbeda untuk mengakses materi sesuai kapasitas mereka. Observasi menunjukkan bahwa jamaah dengan latar belakang pendidikan yang beragam dapat memperoleh pemahaman bermakna dari ceramah yang sama.

Format dan struktur dakwah yang konsisten ini tidak hanya memfasilitasi transmisi pengetahuan secara efektif, tetapi juga menciptakan ritme dan familiaritas yang membuat jamaah merasa nyaman dan terhubung dengan proses pembelajaran, meskipun materi yang dibahas memiliki kompleksitas teologis yang cukup tinggi. Konsistensi struktur juga membantu jamaah mempersiapkan diri secara mental untuk menerima dan mengolah informasi, serta memudahkan mereka mengingat dan mengorganisasikan pengetahuan yang diperoleh.

Observasi juga menunjukkan bahwa struktur dan format dakwah ini telah mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu berdasarkan respons jamaah dan dinamika kebutuhan spiritual masyarakat. Kematangan format ini mencerminkan pengalaman panjang Mama Cianting dalam dunia dakwah dan kepekaan Mama Cianting terhadap karakteristik dan kebutuhan jamaahnya. d. Tema-Tema Utama Dakwah dan Pendekatan Dakwah Berdasarkan observasi partisipatif terhadap serangkaian sesi dakwah Mama Cianting di Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob selama periode penelitian, teridentifikasi beberapa tema utama yang secara konsisten menjadi fokus pengajaran Mama Cianting. Tema-tema ini membentuk pola yang khas dan mencerminkan orientasi dakwah yang menekankan aspekaspek fundamental ajaran Islam dengan pendekatan yang komprehensif dan menyeluruh.

Untuk mendapatkan gambaran awal mengenai fokus dan substansi utama dari materi dakwah yang secara konsisten disampaikan oleh Mama Cianting, analisis frekuensi kata dilakukan terhadap keseluruhan data transkrip. Visualisasi dari analisis ini disajikan dalam bentuk Word Cloud pada Gambar 4 di bawah ini.

Gambar 4: Word Cloud Nvivo Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting Visualisasi di atas secara kuantitatif mengkonfirmasi beberapa temuan kualitatif yang akan dibahas lebih lanjut. Kata-kata seperti "mama", "jamaah", "dengan", "teh", dan "dalam" menunjukkan frekuensi kemunculan tertinggi, yang merefleksikan sentralitas figur sang dai ("mama") dan orientasinya yang selalu berpusat pada audiens ("jamaah") dalam setiap diskursus. Kata sambung seperti "dengan" dan partikel khas Sunda seperti "teh" yang juga dominan menandakan gaya bahasa lisan yang sangat naratif dan komunikatif.

Lebih dalam lagi, kemunculan kata-kata tematik seperti "shalat", "tidak", "sangat", "adalah", "untuk", "tapi", "allah", "kitab", "ilmu", dan "hate" (hati) dengan ukuran yang signifikan memberikan peta jalan mengenai inti dari ajaran beliau. Dominasi kata "shalat" menegaskan kembali temuan bahwa ibadah fundamental ini adalah poros utama dari dakwahnya. Kehadiran kata "tidak" dan "tapi" seringkali terkait dengan argumentasi beliau yang bersifat korektif dan meluruskan pemahaman. Sementara itu, kata-kata seperti "Allah", "Nabi" (meskipun lebih kecil), "kitab", "ilmu", dan "hati" menunjukkan bahwa wacana yang dibangun sangat terpusat pada tiga poros utama: (1) penguatan fondasi ibadah ritual (shalat), (2) pembinaan spiritual dan akhlak (hate), serta (3) penanaman ketaatan pada sumber utama ajaran (Allah, Nabi, kitab). Temuan visual ini menjadi titik pijak untuk mendeskripsikan lebih lanjut pendekatan dan tema-tema kunci yang secara konsisten menjadi ciri khas dakwah Mama Cianting.

1) Taharah (Bersuci) dan Fiqh Ibadah Dasar Tema yang paling dominan dan menjadi ciri khas dakwah Mama Cianting adalah pembahasan mendalam tentang taharah (bersuci) dan praktek-praktek ibadah dasar. Selama periode observasi, hampir 40% dari total materi dakwah Mama Cianting difokuskan pada aspek ini. Pembahasan tersebut meliputi: a) Wudhu dan Dimensinya: Observasi menunjukkan bahwa Mama Cianting memberikan perhatian yang sangat detail terhadap praktek wudhu, tidak hanya dari aspek hukum dan teknis pelaksanaannya, tetapi juga dimensi spiritual dan hikmahnya. Mama Cianting sering menghabiskan satu sampai dua sesi pengajian penuh hanya untuk membahas aspek-aspek wudhu, termasuk permasalahan kontemporer seperti penggunaan kosmetik waterproof dan implikasinya terhadap sahnya wudhu. b) Mandi Wajib (Ghusl): Pembahasan tentang mandi wajib diberikan dengan pendekatan yang menyeluruh, mencakup aspek hukum, teknis, variasi kondisi yang mewajibkannya, serta relevansinya dengan kehidupan rumah tangga. Keunikan dakwah Mama Cianting terlihat dari caranya membahas tema sensitif ini dengan bahasa yang sopan namun jelas, menggunakan kode linguistik dan metafora yang dipahami jamaah tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman. c) Tayamum dan Kondisi Darurat: Observasi mencatat bahwa Mama Cianting memberikan perhatian khusus pada fleksibilitas syariat dalam kondisi darurat, dengan pembahasan mendalam tentang tayamum dan rukhsah (dispensasi) lainnya. Penekanan pada aspek ini mencerminkan pemahaman kontekstual Mama Cianting terhadap ajaran Islam yang mempertimbangkan kondisi dan keterbatasan manusia. d) Shalat dan Dimensi-dimensinya: Shalat menjadi tema sentral yang dibahas dari berbagai dimensi: fiqih (hukum), teknis pelaksanaan, aspek spiritual, serta implikasinya dalam pembentukan karakter dan kehidupan sosial. Mama Cianting menjelaskan bahwa shalat bukan sekedar kewajiban formal, tetapi tiang agama ("immaduddin") yang memiliki dampak transformatif jika dilaksanakan dengan pemahaman yang tepat. e) Qadha Ibadah: Salah satu subtema yang mendapatkan penekanan khusus adalah urgensitas mengqadha ibadah yang tertinggal, terutama shalat. Mama Cianting sering mengingatkan jamaah tentang konsekuensi serius dari meninggalkan shalat dan pentingnya melunasi "hutang" ibadah tersebut sebelum kematian.

Tema taharah dan fiqh ibadah dasar ini disajikan dengan kedalaman yang jarang ditemui dalam pengajian umum, termasuk pembahasaan tentang perbedaan pendapat di kalangan mazhab, dalil-dalil detail, dan hikmah di balik ketentuan syariat. Pendekatan ini menunjukkan komitmen Mama Cianting untuk meletakkan fondasi praktek keagamaan yang kokoh bagi jamaahnya.

2) Akhlak dan Etika Islam Tema utama kedua yang sangat menonjol dalam dakwah Mama Cianting adalah pembahasan tentang akhlak dan etika Islam, yang meliputi sekitar 25% dari keseluruhan materi dakwah selama periode observasi. a) Adab dalam Ibadah: Observasi menunjukkan bahwa Mama Cianting memberikan perhatian khusus pada aspek adab (etika) dalam pelaksanaan ibadah. Mama Cianting menekankan bahwa kesempurnaan ibadah tidak hanya terletak pada ketepatan teknis, tetapi juga pada adab dan kekhusyukan yang menyertainya. b) Akhlak dalam Keluarga: Relasi suami-istri, pendidikan anak, dan harmonisasi keluarga menjadi subtema yang sering dibahas. Mama Cianting menyajikan model keluarga Islam yang menekankan pemenuhan hak dan kewajiban timbal balik, komunikasi efektif, dan kasih sayang sebagai fondasi. Aspek yang menarik adalah keseimbangan antara penjelasan tentang peran tradisional dengan fleksibilitas dalam konteks kehidupan modern. c) Etika Sosial dan Mu'amalah: Etika dalam interaksi sosial, transaksi ekonomi, dan hubungan bermasyarakat mendapat porsi pembahasan yang signifikan. Tema-tema seperti kejujuran dalam berbisnis, larangan riba, kewajiban memenuhi janji, dan etika bertetangga dibahas dengan pendekatan yang mengaitkan nilainilai tradisional dengan konteks kehidupan kontemporer. d) Manajemen Emosi dan Pengendalian Diri: Mama Cianting sering membahas tentang pengendalian emosi seperti marah, iri hati, dan tamak, serta cara mengembangkan sifat-sifat positif seperti sabar, syukur, dan qana'ah (merasa cukup). Mama Cianting menekankan bahwa penyempurnaan akhlak merupakan esensi dari misi kenabian Muhammad SAW. e) Adab Terhadap Guru dan Ulama: Observasi menunjukkan bahwa Mama Cianting memberikan penekanan khusus pada adab terhadap guru dan ulama sebagai pewaris nabi. Mama Cianting menanamkan pentingnya menghormati otoritas ilmu dan silsilah keilmuan (sanad) dalam tradisi Islam.

Pendekatan Mama Cianting dalam membahas akhlak tidak bersifat teoretis, melainkan sangat praktis dengan contoh-contoh konkret dan relevan dengan kehidupan sehari-hari jamaah. Mama Cianting juga sering menggunakan kisah-kisah dari tradisi Islam dan pengalaman pribadinya untuk memperkuat pesan-pesan akhlak yang disampaikan.

3) Tauhid dan Akidah Islam Tema ketiga yang secara konsisten muncul dalam dakwah Mama Cianting adalah pembahasan tentang tauhid dan akidah Islam, yang mencakup sekitar 20% dari total materi dakwah. a) Konsep Ketuhanan dalam Islam: Mama Cianting menyajikan pembahasan yang mendalam tentang Dzat dan Sifat Allah, dengan pendekatan yang mengintegrasikan pemahaman tekstual, rasional, dan intuitif. Mama Cianting menjelaskan konsep tauhid tidak hanya sebagai pengakuan verbal, tetapi juga sebagai paradigma hidup yang memengaruhi seluruh dimensi eksistensi manusia. b) Pemurnian Akidah: Observasi menunjukkan adanya penekanan pada pemurnian akidah dari berbagai bentuk syirik, baik yang jelas (syirk jali) maupun yang tersembunyi (syirk khafi). Mama Cianting sering membahas praktik-praktik kultural tertentu yang mengandung unsur syirik dan memberikan alternatif yang sesuai syariat. c) Relasi Iman, Islam, dan Ihsan: Mama Cianting memberikan penjelasan tentang keterkaitan antara iman (keyakinan), islam (kepatuhan formal), dan ihsan (keindahan spiritual) sebagai tiga dimensi yang saling melengkapi dalam keberagamaan yang holistik. d) Akidah Ahlussunnah wal Jamaah: Sebagai ulama yang berakar pada tradisi pesantren, Mama Cianting secara konsisten mengajarkan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dengan pendekatan Asy'ariyah dan Maturidiyah. Mama Cianting menekankan pentingnya mengikuti paham akidah yang telah teruji oleh waktu dan konsensus ulama, sambil tetap menghormati keragaman pandangan dalam batas-batas yang dapat diterima. e) Fenomena Gaib dalam Islam: Tema-tema seperti malaikat, jin, alam barzakh, dan kehidupan setelah kematian dibahas dengan pendekatan yang menyeimbangkan antara ketundukan pada teks wahyu dan pemahaman rasional. Mama Cianting menjelaskan fenomena gaib ini tidak untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk memperkuat kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral jamaah.

Pendekatan Mama Cianting dalam pembahasan tauhid dan akidah menunjukkan kedalaman keilmuan tradisional yang disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh jamaah dari berbagai latar belakang pendidikan. Mama Cianting tidak terjebak dalam polemik teologis yang rumit, namun tetap menyampaikan esensi pemahaman akidah yang benar dan kokoh.

4) Tasawuf dan Spiritualitas Tema keempat yang menjadi karakteristik dakwah Mama Cianting adalah pembahasan tentang tasawuf dan spiritualitas Islam, yang meliputi sekitar 15% dari keseluruhan materi dakwah. a) Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa): Observasi menunjukkan bahwa Mama Cianting memberikan perhatian khusus pada metode-metode praktis penyucian jiwa, termasuk mujahada (perjuangan spiritual), muhasabah (introspeksi diri), dan riyadhah (latihan spiritual). Mama Cianting menekankan bahwa penyucian jiwa merupakan prasyarat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. b) Maqamat dan Ahwal: Mama Cianting menjelaskan tentang maqamat (tahapan spiritual) dan ahwal (kondisi spiritual) dalam tradisi sufistik dengan pendekatan yang dapat dipahami oleh jamaah umum. Konsep-konsep seperti taubat, wara', zuhud, shabr, syukr, dan ridha dijelaskan bukan sebagai jargon abstrak, tetapi sebagai kualitas spiritual yang dapat dan harus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. c) Dzikir dan Wirid: Mama Cianting memberikan penekanan khusus pada praktik dzikir dan wirid sebagai metode untuk mencapai kehadiran hati (hudlur al-qalb) dalam beribadah dan menjalani kehidupan. Mama Cianting mengajarkan berbagai bentuk dzikir, baik yang diucapkan dengan lisan maupun yang dilakukan dalam hati, beserta adab dan manfaatnya. d) Tasawuf Praktis dalam Kehidupan Modern: Salah satu keunikan dakwah Mama Cianting adalah kemampuannya menerjemahkan konsep-konsep tasawuf klasik ke dalam konteks kehidupan modern. Mama Cianting menunjukkan bagaimana nilai-nilai sufistik seperti qana'ah, zuhud, dan tawakal dapat menjadi solusi untuk berbagai permasalahan kontemporer seperti konsumerisme, stres, dan krisis makna. e) Keseimbangan Syariat dan Hakikat: Observasi menunjukkan bahwa Mama Cianting sangat menekankan pentingnya keseimbangan antara dimensi lahiriah (syariat) dan batiniah (hakikat) dalam praktek keagamaan. Mama Cianting sering mengkritisi dua kecenderungan ekstrem: formalisme legalistik yang mengabaikan substansi spiritual, dan spiritualisme yang mengabaikan kepatuhan pada syariat.

Dalam pembahasan tasawuf, Mama Cianting menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang tradisi sufistik Nusantara yang telah berakar kuat dalam budaya lokal, sambil tetap menjaga keselarasan dengan prinsip-prinsip syariat. Pendekatan ini menciptakan spiritualitas yang seimbang dan moderat, jauh dari kecenderungan ekstremisme atau sinkretisme.

5) Fiqh Kontemporer dan Isu-isu Aktual Tema kelima yang secara berkala muncul dalam dakwah Mama Cianting adalah pembahasan tentang berbagai persoalan fiqh kontemporer dan isu-isu aktual, yang meliputi sekitar 10% dari total materi dakwah. a) Fiqh Prioritas: Mama Cianting sering mengajarkan tentang konsep fiqh prioritas (fiqh al-awlawiyyat) yang membimbing jamaah untuk mendahulukan yang lebih penting di antara hal-hal yang penting. Konsep ini diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, dari ibadah hingga muamalah. b) Problematika Keluarga Modern: Observasi menunjukkan bahwa Mama Cianting secara berkala membahas berbagai persoalan keluarga kontemporer seperti pernikahan jarak jauh, peran ganda wanita sebagai ibu dan pekerja, serta tantangan mendidik anak di era digital. Mama Cianting menawarkan perspektif fiqh yang mempertimbangkan realitas sosial tanpa mengorbankan prinsipprinsip dasar syariat. c) Ekonomi Syariah: Tema-tema seperti riba, gharar, dan maysir dalam praktik ekonomi modern, etika bisnis Islam, dan alternatif sistem keuangan syariah dibahas dengan pendekatan yang praktis dan kontekstual. Mama Cianting memberikan contoh-contoh konkret tentang transaksi yang halal dan haram dalam konteks ekonomi kontemporer. d) Respons Terhadap Aliran-aliran Baru: Mama Cianting secara berkala membahas fenomena munculnya berbagai aliran dan pemahaman baru dalam Islam, dengan pendekatan yang tegas namun bijaksana. Mama Cianting memberikan panduan kepada jamaah untuk menyikapi keragaman pemahaman ini dengan berpegang pada prinsip al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengadopsi hal baru yang lebih baik). e) Etika Teknologi dan Media Sosial: Seiring dengan perkembangan teknologi, Mama Cianting juga membahas etika penggunaan teknologi dan media sosial dari perspektif Islam. Mama Cianting menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi untuk kebaikan sambil menghindari dampak negatifnya terhadap spiritualitas dan relasi sosial.

Pendekatan Mama Cianting dalam membahas isu-isu kontemporer mencerminkan sikap moderasi (wasathiyah) yang menjadi karakteristik tradisi Islam Nusantara. Mama Cianting tidak terburu-buru memberikan vonis halal-haram, melainkan melakukan analisis mendalam dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan konteks.

Keseluruhan tema-tema utama dakwah Mama Cianting membentuk sebuah sistem pembelajaran yang komprehensif dan terstruktur, dimulai dari fondasi praktik keagamaan (taharah dan ibadah dasar), aspek relasional (akhlak), kerangka keyakinan (tauhid), dimensi spiritual (tasawuf), hingga aplikasi kontekstual (fiqh kontemporer). Pendekatan tematik yang menyeluruh ini mencerminkan visi Mama Cianting untuk membentuk jamaah yang memiliki pemahaman keagamaan yang utuh, seimbang, dan responsif terhadap tantangan zaman.

Konsistensi tema-tema ini dari waktu ke waktu juga menunjukkan adanya kurikulum dakwah yang matang dan sistematis, bukan sekedar ceramah sporadis yang merespons tren atau isu sesaat. Struktur tematik yang kokoh ini menjadi salah satu faktor yang membedakan dakwah Mama Cianting dari dai kontemporer lainnya, sekaligus menjadi salah satu daya tarik bagi jamaah yang mencari pemahaman agama yang mendalam dan substansial.

B. HASIL PENELITIAN

1. Implementasi Aspek Ethos melalui Source Credibility dalam Dakwah

Mama Cianting Fenomena penerimaan dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, yang lebih dikenal sebagai Mama Cianting, oleh ribuan jamaah dari berbagai latar belakang tidak dapat dipisahkan dari perannya sebagai komunikator yang unggul. Pengamatan lapangan secara konsisten menunjukkan serangkaian tindakan dan sikap yang bersama-sama membentuk ikatan kepercayaan yang sangat kuat antara Mama Cianting dan jamaah. Kesungguhan Mama Cianting dalam berinteraksi sangat terpancar, terutama saat Mama Cianting menunjukkan kepedulian mendalam kepada jamaah yang sedang mengalami kesulitan. Keterampilan Mama Cianting dalam mengelola audiens dengan tenang dan berwibawa, ditambah dengan keterbukaan saat merujuk pada sumber-sumber kitab untuk menjawab pertanyaan hukum, menggarisbawahi kepercayaan yang telah terbangun dalam diri audiens.

Kekuatan retorika profetik Mama Cianting berakar pada fondasi kepercayaan audiens, yang dalam studi retorika klasik dikenal sebagai ethos. Konsep ini tidak muncul tanpa proses; ia terbentuk dari manifestasi kompetensi, karakter, dan kepedulian yang ditunjukkan secara konsisten dalam setiap interaksi dakwah. Melalui pengamatan mendalam, terlihat bahwa ethos yang dimiliki Mama Cianting merupakan konstruksi dinamis yang terjalin dengan benang-benang otoritas keilmuan, integritas personal yang tulus, dan perhatian yang mendalam kepada jamaah.

Dalam penelitian ini, analisis ethos dioperasionalisasikan melalui kerangka Kredibilitas Sumber (Source Credibility), sesuai dengan pendekatan yang umum digunakan dalam studi retorika modern. Pendekatan ini dipilih karena memberikan dimensi-dimensi yang dapat diobservasi secara empiris dan fokus dalam memahami bagaimana audiens memandang kredibilitas seorang dai. Kredibilitas sumber, dalam konteks ini, dipahami sebagai persepsi audiens terhadap kualitas karakter seorang dai, yang menjadikannya layak untuk didengar, dipercaya, dan diikuti. Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, ditemukan bahwa Mama Cianting membangun kredibilitasnya melalui tiga pilar manifestasi utama: demonstrasi kompetensi keilmuan yang tak terbantahkan, yang terlihat dari penguasaan sumber-sumber primer serta kemampuan Mama Cianting dalam menerjemahkan konsep-konsep keislaman yang kompleks ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh jamaah. Pilar kedua adalah kepercayaan yang lahir dari integritas karakter Mama Cianting dan sikap welas asih yang melampaui sekadar pembicaraan, menciptakan rasa aman bagi jamaah untuk bertanya dan berbagi. Pilar ketiga adalah persepsi jamaah terhadap niat tulus Mama Cianting dalam melayani dan membimbing, yang sangat berkontribusi pada reputasinya sebagai pembimbing spiritual. Setiap pilar ini akan diperinci lebih lanjut dalam sub-bagian berikutnya, berisi temuan-temuan kunci dari lapangan yang memberikan bukti konkret terhadap terbangunnya ethos Mama Cianting sebagai penceramah yang dihormati dan diikuti. a. Manifestasi Kompetensi dalam Penguasaan Ilmu Keislaman Dimensi ethos yang paling fundamental dan paling mencolok dalam dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, yang dikenal sebagai Mama Cianting, adalah kompetensi keilmuannya. Kompetensi ini tidak hanya dipersepsikan oleh jamaah, tetapi juga secara aktif dikonstruksikan dan ditegaskan melalui praktik retoris yang konsisten. Berdasarkan temuan di lapangan, manifestasi kompetensi Mama Cianting dapat diurai ke dalam empat pilar utama yang saling menguatkan: otoritas tekstual berbasis kitab klasik, kedalaman metodologis khas pesantren salaf, kecerdasan pedagogis dalam menyederhanakan konsep, dan kemampuan kontekstualisasi ajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pilar pertama adalah penegasan otoritas tekstual yang ditampilkan secara dinamis dan otoritatif. Meskipun secara fisik mimbar Mama Cianting tampak bersih dan sederhana, otoritas keilmuan Mama Cianting justru paling terlihat pada momen-momen krusial yang membutuhkan validasi. Saat dihadapkan pada pertanyaan hukum yang spesifik, Mama Cianting tidak terburu-buru untuk menjawab berdasarkan ingatan semata. Dalam Observasi ke-2, Mama Cianting dengan tenang meminta bantuan dari santri untuk menghadirkan rujukan fisik. Mama Cianting berkata:

"Nah, ieu patarosan nu penting... Coba candak kitab I'anatut Thalibin... [setelah kitab diserahkan dan dibuka] Ieu dina kaca 156, dijelaskeun ku Imam [nama ulama] yén prioritas téh ka fardhu heula. Ieu lain pendapat abdi, tapi arahan guru abdi sareng ulama terdahulu dumasar kana hadits sareng Qur'an." 252 (Terjemahan: "Nah, ini adalah pertanyaan yang penting... Coba ambil kitab I'anatut Thalibin... [setelah kitab diserahkan dan dibuka] Ini di halaman 156, dijelaskan oleh Imam [nama ulama] bahwa prioritas itu untuk yang fardhu terlebih dahulu. Ini bukan pendapat saya, tetapi arahan guru saya dan ulama terdahulu berdasarkan hadits dan Al-Qur'an.")

Tindakan retoris ini merupakan demonstrasi langsung dari expertise (keahlian), salah satu komponen utama dalam teori Source Credibility.253 Dengan "memanggil" kitab yang tepat pada saat yang dibutuhkan, Mama Cianting tidak hanya mengklaim memiliki kompetensi, tetapi menampilkannya secara performatif. Lebih dari itu, tindakan ini secara langsung mengartikulasikan dimensi liberasi (pembebasan). Dengan memberikan jawaban yang berbasis rujukan tekstual yang otoritatif, Mama Cianting membebaskan jamaah dari belenggu keraguan dan potensi kekeliruan dalam menjalankan agamanya. Ethos kompetensi di sini tidak berfungsi sebagai tujuan akhir untuk membangun citra, melainkan sebagai instrumen fungsional untuk mencapai tujuan profetik, yaitu membebaskan 252 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2). 253 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. umat dari ketidaktahuan dan memberikan kepastian dalam praktik ibadah mereka.

Praktik ini diperkuat dengan kebiasaan Mama Cianting menyebutkan sumber-sumber rujukan secara langsung, seperti Fathul Mu'in, Hilyatul Banat wal Banin, Faidhul Qadir, dan Kifayatul Atqiya, yang ia sebutkan dalam berbagai sesi kajian. Sikap ini selaras dengan pengakuan pengurus dalam wawancara yang menyatakan bahwa prinsip utama Mama Cianting adalah "kembali kepada kitab," sebuah sikap yang menjadi benteng otentisitas dakwahnya.

Gambar 5: Saat Mama Cianting Menyimak Pertanyaan Jama’ah.

Pilar kedua adalah kedalaman metodologis khas pesantren salaf. Kompetensi Mama Cianting semakin dipertegas melalui metode pengajarannya yang otentik. Ketika membahas teks berbahasa Arab, Mama Cianting secara fasih mempraktikkan metode ngalogat. Proses ini berlangsung dalam tiga tahap sistematis: pertama, pembacaan teks Arab asli dengan tajwid yang benar; kedua, penerjemahan lafzhiyah dengan logat Sunda khas pesantren, seperti, "utawi ieu bab nerangkeun pirang-pirang rukun wudhu..."; dan ketiga, penjelasan kontekstual dalam bahasa Sunda yang cair dan mudah dipahami oleh jamaah awam. Metode ini memberikan sinyal kuat kepada jamaah, khususnya mereka yang berlatar belakang pendidikan pesantren, bahwa Mama Cianting mampu mengakses sumber primer secara langsung. Hal ini menjadi validasi kompetensi yang sangat dihargai dalam ekosistem keilmuan Islam tradisional.

Pilar ketiga mencakup kecerdasan pedagogis Mama Cianting dalam menyederhanakan konsep kompleks. Penguasaan ilmu tidak akan efektif tanpa kemampuan untuk menyampaikan materi dengan jelas. Dalam hal ini, kompetensi pedagogis Mama Cianting bersinar melalui penggunaan analogi. Saat menjelaskan perbedaan antara Rukun dan Wajib Haji, Mama Cianting memaparkan:

"Rukun téh pondasi imah. Lamun teu aya, hajina teu sah, imahna teu jadi. Wajib téh siga kenteng atawa panto. Lamun teu dilakonan, hajina sah tapi cacad, kedah mayar dam (denda)."254 (Terjemahan: "Rukun itu seperti fondasi rumah. Jika tidak ada, hajinya tidak sah, rumahnya tidak jadi. Wajib itu seperti pintu. Jika tidak dilakukan, hajinya sah tetapi cacat, harus membayar denda.")

Analogi sederhana ini terbukti sangat efektif dalam mentransformasikan konsep hukum yang abstrak menjadi sebuah bangunan logis yang dapat divisualisasikan oleh audiens. Kemampuan ini menunjukkan bahwa Mama Cianting tidak hanya memahami materi, tetapi juga memahami cara kerja pikiran audiensnya.

Analogi "rumah" ini adalah sebuah manuver logos yang brilian karena ia membangun jembatan identifikasi (identification) dengan audiens, sebuah konsep kunci dalam retorika Kenneth Burke.255 Dengan menggunakan citra "rumah"—sebuah konsep yang secara universal dipahami dan dihargai—Mama Cianting menciptakan sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) antara dirinya dan jamaah, memastikan bahwa kerangka logisnya diterima karena beresonansi dengan pengalaman 254 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2). 255 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. mereka.256 Penggunaan analogi ini memiliki implikasi profetik ganda. Pertama, ia mengartikulasikan dimensi humanisasi dengan cara menghargai kapasitas kognitif jamaah dan membuat ilmu yang rumit menjadi aksesibel. Kedua, ia berfungsi sebagai instrumen liberasi, membebaskan jamaah dari kebingungan mengenai hierarki hukum dan dari risiko menjalankan ibadah haji yang tidak sah.

Puncak dari manifestasi kompetensi ini adalah pilar keempat, yaitu kemampuan kontekstualisasi. Dimensi ini menunjukkan bahwa ilmu yang dimiliki Mama Cianting bersifat dinamis dan solutif. Mama Cianting secara ahli menjembatani teks klasik dengan realitas kontemporer. Dalam kajian fiqih muamalah yang tercatat dalam Observasi ke-6, Mama Cianting mengambil konsep larangan gharar (ketidakpastian) dan menerapkannya pada praktik lokal. Mama Cianting menjelaskan,:

"'Meuli lauk di jero cai...' Urang nebak-nebak, padahal teu apal laukna sabaraha, ukuranna kumaha. Ieu panto gerbang nuju kana riba!"257 (Terjemahan: "'Membeli ikan di dalam air...' Orang menebak-nebak, padahal tidak tahu berapa ukuran ikan, bagaimana bentuknya. Ini adalah gerbang menuju riba!")

Lebih penting lagi, Mama Cianting tidak berhenti pada larangan, tetapi langsung memberikan solusi konkret untuk kasus upah pemanjat kelapa. Mama Cianting menjelaskan pentingnya akad sebelum memberikan upah:

"Upamana tukang panjat kalapa, upahna ulah ku kalapana langsung... akad heula upahna: 'Mang, upah manjat téh lima puluh rebu.' Saatos anjeunna turun, pasihan artosna. Tah, saatos eta, 256 Burke, A Rhetoric of Motives, 21. 257 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Maret 2025 (Observasi ke-6, Konteks Ramadhan). lamun si mamangna hoyong meuli kalapa ku artos eta, mangga, eta akad jual beli nu anyar, sah!"258 (Terjemahan: "Misalnya untuk tukang panjat kelapa, upahnya jangan langsung diberikan... akad dahulu upahnya: 'Kakak, upah memanjat itu lima puluh ribu.' Setelah dia turun, berikan upahnya. Nah, setelah itu, jika si tukang panjat ingin membeli kelapa dengan uang tersebut, silakan, itu adalah akad jual beli yang baru, sah!")

Kemampuan untuk berpindah dari dalil ke solusi ini merupakan manifestasi logos yang sangat adaptif dan solutif. Ini adalah praktik Audience Adaptation di mana solusi hukum dirancang agar relevan dan dapat diterapkan dalam realitas ekonomi jamaah.259 Secara profetik, tindakan ini adalah bentuk liberasi yang sangat konkret. Dengan memberikan panduan yang jelas dan praktis, Mama Cianting membebaskan jamaahnya dari kebingungan, dari risiko melakukan transaksi yang tidak sah, dan dari potensi konflik yang lahir dari ketidakpastian (gharar). Logos di sini tidak hanya berfungsi untuk mencerahkan akal, tetapi juga untuk memberdayakan dan membebaskan jamaah dalam aktivitas ekonomi mereka sehari-hari.

Kemampuan untuk berpindah secara mulus dari teks ke konteks, dari dalil ke solusi praktis, secara kumulatif membangun persepsi di benak jamaah bahwa Mama Cianting bukan hanya seorang penghafal kitab, tetapi seorang ulama yang ilmunya benar-benar hidup, relevan, dan menjadi rahmat bagi kehidupan mereka. Dengan penyampaian yang interaktif dan kontekstual, Mama Cianting sukses memposisikan dirinya sebagai seorang penceramah yang bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi praktis bagi tantangan yang dihadapi jamaah sehari-hari.

258 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Maret 2025 (Observasi ke-6, Konteks Ramadhan). 259 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19.

Keempat pilar ini—otoritas tekstual, metodologi salaf, kecerdasan pedagogis, dan kemampuan kontekstualisasi—secara kumulatif mengkonstruksi sebuah ethos kompetensi yang holistik. Di mata jamaah, Mama Cianting tidak hanya dipersepsikan sebagai seorang yang "tahu", tetapi juga sebagai seorang pendidik yang terampil, otentik, dan solutif. Namun, analisis terhadap ethos Mama Cianting menunjukkan bahwa kompetensi ini tidak berdiri sendiri. Ia menjadi fondasi yang kokoh bagi dimensi krusial lainnya dari kredibilitas sumber, yaitu keterpercayaan (trustworthiness) dan niat baik (goodwill). Sebagaimana akan diurai pada bagian selanjutnya, cara Mama Cianting menampilkan keahliannya— dengan penuh kehati-hatian, kerendahan hati, dan kepedulian—inilah yang pada akhirnya membangun ikatan kepercayaan yang mendalam dengan jamaahnya. b. Manifestasi Kepercayaan (Trustworthiness) dalam Interaksi dengan Jamaah Jika kompetensi keilmuan membangun ethos Mama Cianting sebagai sumber pengetahuan yang otoritatif, maka dimensi kepercayaan atau trustworthiness membangun ethos-nya sebagai figur spiritual yang dapat diandalkan, tulus, dan memiliki integritas karakter yang kokoh. Trustworthiness ini tidak hanya dikonstruksikan melalui klaim-klaim verbal, melainkan melalui serangkaian tindakan dan sikap otentik yang secara konsisten teramati di lapangan serta terkonfirmasi dalam wawancara dengan berbagai pihak. Tiga manifestasi utama yang paling menonjol dalam membangun kepercayaan ini adalah praktik "kejujuran intelektual" yang langka, sikap welas asih yang tulus, serta konsistensi antara praktik spiritual personal dengan sikap egaliter di ruang publik.

Pilar pertama dalam membangun kepercayaan adalah "kejujuran intelektual". Fenomena ini terlihat ketika Mama Cianting secara terbuka mengakui keterbatasan pengetahuannya di hadapan ribuan jamaah. Dalam sebuah sesi tanya jawab yang terekam dalam Observasi ke-2, saat dihadapkan pada pertanyaan rumit mengenai jumlah qadha shalat yang terlupakan, Mama Cianting terdiam sejenak, tampak berpikir keras, lalu dengan tenang dan jujur menyatakan:

"Nah, ieu masalah nu rumit. Abdi kedah nyarios jujur, dina kitabkitab nu aya di dieu, abdi tacan mendakan jawaban nu lengkap pikeun kasus anu spesifik ieu. Mun henteu aya rujukan nu jelas, abdi mending henteu jawab ti batan salah. Engke abdi carioskeun ka guru abdi heula..."260 (Terjemahan: "Nah, ini adalah masalah yang rumit. Saya harus berkata jujur, di kitab-kitab yang ada di sini, saya belum menemukan jawaban yang lengkap untuk kasus spesifik ini. Jika tidak ada rujukan yang jelas, saya lebih baik tidak menjawab daripada salah. Nanti saya akan tanyakan kepada guru saya dulu...")

Sikap ini, yang kemudian Mama Cianting akui dalam wawancara sebagai prinsip untuk "takut salah" di hadapan Allah, memiliki dampak retoris yang luar biasa. Alih-alih meruntuhkan wibawanya, pengakuan terhadap keterbatasan pengetahuan justru melambungkan kredibilitasnya secara signifikan. Di mata jamaah, ini adalah bukti dari seorang alim yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki integritas untuk tidak berbicara di luar batas pengetahuannya. Momen seperti ini, yang telah teramati, disambut dengan keheningan dan kekaguman, bukan kekecewaan; jamaah merasa dibimbing oleh seseorang yang sangat amanah terhadap ilmunya.

Secara teoretis, tindakan "kejujuran intelektual" ini adalah manuver retoris kontra-intuitif yang secara langsung membangun komponen keterpercayaan (trustworthiness), pilar fundamental dalam teori Source Credibility.261 Dengan "mengorbankan" citra sebagai figur yang serba tahu, Mama Cianting memperoleh imbalan yang jauh lebih berharga: persepsi sebagai sosok yang amanah dan lebih mementingkan kebenaran daripada 260 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2). 261 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. ego. Implikasi profetik dari tindakan ini bersifat multidimensional. Pertama, ia secara radikal mengartikulasikan dimensi humanisasi dengan meruntuhkan hierarki kaku antara dai dan jamaah, memposisikan dirinya sebagai "sesama pembelajar" yang manusiawi. Kedua, alasan di balik penolakannya—rasa "takut salah" di hadapan Allah—adalah manifestasi praktis dari dimensi transendensi, yang mengajarkan bahwa akuntabilitas tertinggi seorang dai bukanlah kepada audiens, melainkan kepada Tuhan.262 Pilar kedua adalah sikap welas asih (rahmah) yang termanifestasi dalam tindakan nyata. Trustworthiness Mama Cianting tidak hanya dibangun di atas panggung, tetapi juga dalam interaksi personal yang penuh empati. Kesaksian dari Pak Heri, seorang jamaah yang datang dalam kondisi terpuruk akibat kebangkrutan dan terlilit utang, memberikan gambaran yang sangat jelas tentang sikap Mama Cianting. Pak Heri menuturkan:

"Abdi datang ka dieu téh kalawan rarasaan hina pisan, putus asa... Tapi pas pendak sareng Mama, anjeunna sanes nyalahkeun abdi. Anjeunna teu naroskeun sabaraha hutang abdi. Nu ditaroskeun téh, 'Anjeun tos sholat? Tos tuang?' Abdi dirangkul, dipasihan tuang, teras anjeunna nyarios lalaunan, 'Tong sieun ku hutang, sieun mah ku teu gaduh Gusti Allah.' Welas asihna karasa pisan, Kang."263 (Terjemahan: "Saya datang ke sini dengan perasaan sangat hina, putus asa... Tapi ketika saya bertemu dengan Mama, Mama Cianting tidak menyalahkan saya. Mama Cianting tidak menanyakan berapa utang saya. Yang ditanyakan adalah, 'Apa Anda sudah sholat? Sudah makan?' Saya dirangkul, diberikan makanan, lalu Mama Cianting berkata dengan lembut, 'Jangan takut dengan utang, takutlah jika tidak memiliki Tuhan.'")

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Mama Cianting memprioritaskan kondisi spiritual dan kemanusiaan jamaahnya di atas masalah duniawi mereka. Dengan tidak menghakimi dan justru merangkul, Mama Cianting membangun sebuah jembatan kepercayaan yang personal 262 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. 263 Wawancara dengan Heri, oleh penulis, Cianting, 28 April 2025. dan mendalam, membuat jamaah merasa diterima dan dihargai sebagai manusia seutuhnya. Pendekatan ini selaras dengan prinsip empati yang mendalam, menunjukkan bahwa Mama Cianting tidak hanya sekadar mengawasi keadaan, tetapi juga merasakan penderitaan jamaah dan bertindak untuk meringankan beban mereka.

Tindakan Mama Cianting ini adalah manifestasi nyata dari ethos welas asih yang secara langsung membangun komponen keterpercayaan (trustworthiness) dan niat baik (goodwill), dua pilar fundamental dalam teori Source Credibility264. Secara profetik, pendekatan ini merupakan praktik humanisasi yang paling murni. Dengan memprioritaskan pemulihan martabat dan pemenuhan kebutuhan dasar (spiritual, fisik, emosional) sebelum membahas masalah utang, Mama Cianting secara aktif memanusiakan Pak Heri. Lebih jauh lagi, dengan menggeser fokus dari "Jangan takut dengan utang" menjadi "takutlah jika tidak memiliki Tuhan", Mama Cianting melakukan intervensi retoris yang mengartikulasikan dimensi transendensi, yaitu mengarahkan kembali orientasi hidup dari kecemasan duniawi menuju kesadaran akan hubungan dengan Allah265.

Pilar ketiga adalah konsistensi antara praktik spiritual personal dan sikap egaliter. Kepercayaan jamaah juga diperkuat oleh kesadaran akan kesalehan personal Mama Cianting yang tidak dipertontonkan. Dalam wawancara awal, terungkap bahwa sebelum setiap sesi dakwah, Mama Cianting memiliki wirid rutin membaca 1000 shalawat di kamar majelis pribadinya. Praktik spiritual tersembunyi ini, ketika diketahui oleh jamaah atau pengurus, memberikan keyakinan bahwa dakwah yang Mama Cianting sampaikan lahir dari hati yang terhubung secara spiritual. Konsistensi ini terwujud dalam sikapnya di ruang publik. Dalam berbagai sesi di luar bulan Ramadhan, Mama Cianting selalu ikut serta dalam tradisi makan bersama, 264 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. 265 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. duduk bersila di tengah-tengah jamaah tanpa sekat atau perlakuan istimewa. Sikap egaliter ini menghapus jarak antara dai dan audiens, memperkuat citranya sebagai pemimpin yang membumi dan merupakan bagian dari komunitas yang ia bimbing.

Secara kumulatif, ketiga manifestasi ini—kejujuran intelektual yang radikal, welas asih yang otentik, serta konsistensi spiritual dan sosial— menjadi pilar-pilar kokoh yang membangun trustworthiness Mama Cianting. Kepercayaan ini membuat jamaah tidak hanya menghormati ilmunya, tetapi juga mencintai dan menaruh keyakinan penuh pada figur Mama Cianting sebagai pembimbing spiritual mereka. Melalui tindakan nyata dan integritas karakter yang konsisten, Mama Cianting berhasil menanamkan rasa aman dan kepercayaan di hati jamaah, menjadikannya figur yang dicintai dan sangat dihormati dalam komunitasnya. c. Manifestasi Niat Baik (Goodwill) dalam Pelayanan Dakwah Dimensi ketiga yang menyempurnakan ethos Mama Cianting adalah persepsi yang kuat atas niat baik (goodwill) atau kepedulian tulus yang Mama Cianting tunjukkan kepada jamaahnya. Goodwill ini bukan sekadar citra, melainkan termanifestasi dalam model dan praktik dakwah yang secara konsisten berorientasi pada pelayanan, pemecahan masalah, dan pemberdayaan umat. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa manifestasi niat baik ini terlihat dalam tiga praktik utama: filosofi dakwah proaktif yang "menjemput bola", implementasi dakwah bil hal (dengan perbuatan) yang melampaui retorika lisan, serta pendekatan pedagogis yang memotivasi dan menghargai proses spiritual setiap individu.

Pertama, filosofi dakwah proaktif yang melayani. Jauh sebelum Majelis Taklim Al-Aqthob menjadi sebesar sekarang, fondasi goodwill Mama Cianting telah ditanam melalui pendekatannya yang tidak konvensional di fase awal dakwahnya. Sebagaimana dituturkan oleh pengurus dan jamaah senior dalam wawancara, Mama Cianting memulai dengan apa yang mereka sebut "dakwah jalanan". Alih-alih menunggu jamaah datang ke masjid atau majelis, Mama Ciantinglah yang secara aktif "menjemput bola", mendatangi kantong-kantong masyarakat yang selama ini jarang tersentuh oleh dakwah formal. Asep Saepudin, salah seorang jamaah senior mengenang:

"Di awal dakwahnya, Mama tidak menunggu orang datang untuk belajar agama. Mama Cianting yang mendatangi mereka, berbicara dengan bahasa yang mereka pahami... Abdi emut, anjeunna sering ka sawah, ngobrol sareng patani bari ngiuhan. Nu dibahas téh sanes nu luhur-luhur, tapi cara wudhu nu leres..."266 (Terjemahan: "Di awal dakwahnya, Mama tidak menunggu orang datang untuk belajar agama. Mama Cianting yang mendatangi mereka, berbicara dengan bahasa yang mereka pahami... Saya ingat, Mama Cianting sering ke sawah, bercengkerama dengan petani sambil bercanda. Yang dibahas bukanlah hal-hal tinggi, tetapi cara wudhu yang benar...")

Tindakan proaktif ini mengkomunikasikan sebuah pesan niat baik yang fundamental: bahwa Mama Cianting datang karena peduli dan ingin melayani kebutuhan spiritual mereka, bukan untuk mencari pengikut. Filosofi melayani ini terus terbawa hingga kini dan menjadi dasar dari seluruh aktivitas dakwahnya.

Kedua, implementasi dakwah bil hal yang melampaui mimbar. Goodwill Mama Cianting tidak hanya terartikulasi melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung bagi jamaah. Praktik yang paling konsisten teramati adalah tradisi makan bersama setelah kajian rutin Senin pagi. Tindakan menyediakan makanan untuk ribuan jamaah ini, sebagaimana dijelaskan oleh pengurus, bukanlah sekadar jamuan, melainkan "implementasi langsung dari ajaran tentang solidaritas dan kepedulian". Ini adalah bentuk retorika aksi yang mengkomunikasikan kepedulian terhadap kebutuhan dasar jamaah. Selain itu, niat baik ini diinstitusionalisasikan melalui berbagai program sosial 266 Focus Group Discussion dengan Jamaah Senior, oleh penulis, Cianting, 09 Desember 2024. yang dikelola oleh majelis, seperti penggalangan bantuan untuk korban gempa Cianjur dan inisiatif ekonomi produktif melalui produksi air mineral "Al-Hayat". Program-program ini menunjukkan bahwa pelayanan dakwah Mama Cianting tidak berhenti pada pencerahan spiritual, tetapi juga meluas pada upaya pemberdayaan sosial dan ekonomi.

Ketiga, pendekatan pedagogis yang memotivasi dan menghargai proses. Goodwill juga termanifestasi secara mendalam dalam cara Mama Cianting mengajar. Mama Cianting menunjukkan pemahaman bahwa setiap individu memiliki perjalanan dan kecepatan spiritual yang berbeda. Hal ini diungkapkan dengan sangat baik oleh Fadil, seorang jamaah muda, yang merasakan bahwa pendekatan Mama Cianting adalah "motivasi, bukan interogasi". Fadil menjelaskan:

"Contona, soal sholat tahajud. Mama Cianting moal nyarios, 'Anjeun wajib tahajud, lamun henteu, dosa!' Sanes kitu. Tapi Mama Cianting bakal nyarioskeun kaendahanana... Janten urang teh jadi hoyong sorangan, sanes karena kapaksa."267 (Terjemahan: "Misalnya, mengenai sholat tahajud. Mama Cianting tidak akan berkata, 'Kamu wajib tahajud, jika tidak, dosa!' Bukan seperti itu. Tetapi Mama Cianting akan menjelaskan keindahannya... Sehingga kita jadi ingin sendiri, bukan karena terpaksa.")

Sikap yang mendorong dari belakang, bukan memaksa dari depan ini, menunjukkan niat baik untuk membimbing, bukan menghakimi. Mama Cianting memberikan ruang bagi jamaah untuk tumbuh secara organik dari kesadaran internal. Pendekatan solutifnya dalam fiqih muamalah juga merupakan cerminan goodwill. Mama Cianting tidak hanya menunjukkan kesalahan praktik ekonomi jamaah, tetapi secara detail memberikan jalan keluar yang syar'i dan praktis, menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah membantu mereka menemukan jalan yang benar, bukan sekadar menyalahkan.

267 Wawancara dengan Fadil, oleh penulis, Cianting, 17 Maret 2025.

Secara keseluruhan, manifestasi niat baik yang proaktif, melayani secara nyata, dan memotivasi secara personal ini menjadi pilar ketiga yang menyempurnakan ethos Mama Cianting. Jamaah tidak hanya melihatnya sebagai sosok yang kompeten dan berintegritas, tetapi juga sebagai seorang pembimbing yang tulus dan benar-benar peduli pada kesejahteraan dunia dan akhirat mereka. Melalui tindakan yang konkret dan tulus, Mama Cianting berhasil menciptakan hubungan yang kuat dengan jamaahnya, membangun rasa saling menghargai dan kepercayaan yang mendalam, serta menegaskan perannya sebagai pemimpin spiritual yang tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga perhatian dan kasih sayang. d. Artikulasi Dimensi Humanisasi (Amar ma’ruf) melalui Source Credibility Temuan penelitian menunjukkan bahwa pilar ethos atau kredibilitas yang dibangun oleh Mama Cianting tidak berfungsi sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai kendaraan utama untuk mengartikulasikan dimensi profetik yang paling mendasar: humanisasi. Pesan-pesan yang mengajak pada kebaikan (amar ma'ruf), empati, penghormatan terhadap martabat, dan perbaikan hubungan antarmanusia menjadi sangat persuasif karena disampaikan oleh figur yang oleh jamaahnya dipersepsikan sebagai sosok yang sangat manusiawi, peduli, dan berintegritas. Artikulasi humanisasi melalui ethos ini terwujud dalam setidaknya empat praktik retoris yang konsisten: manifestasi welas asih yang otentik, teladan kerendahan hati intelektual, praktik sosiabilitas yang egaliter, dan orientasi kompetensi yang melayani kebutuhan dasar jamaah.

Manifestasi pertama dan yang paling kuat adalah welas asih (rahmah) sebagai praktik humanisasi langsung. Karakter Mama Cianting yang penuh kasih sayang bukan hanya menjadi landasan kepercayaan, tetapi juga menjadi metode dakwah itu sendiri. Mama Cianting secara konsisten menunjukkan bahwa sebelum memberikan nasihat atau ilmu, pemulihan martabat dan pemenuhan kebutuhan dasar seorang manusia adalah prioritas utama. Hal ini tercermin dengan sangat jelas dalam kesaksian Pak Heri, seorang jamaah yang datang dalam kondisi terpuruk akibat kebangkrutan. Alih-alih mendapatkan penghakiman atau nasihat finansial, ia justru disambut dengan kepedulian yang paling mendasar:

"Tapi pas pendak sareng Mama, anjeunna sanes nyalahkeun abdi. Anjeunna teu naroskeun sabaraha hutang abdi. Nu ditaroskeun téh, 'Anjeun tos sholat? Tos tuang?' Abdi dirangkul, dipasihan tuang..."268 (Terjemahan: "Tapi ketika saya bertemu dengan Mama, Mama Cianting tidak menyalahkan saya. Mama Cianting tidak menanyakan berapa utang saya. Yang ditanyakan justru, 'Apakah kamu sudah sholat? Sudah makan?' Saya dirangkul, diberikan makanan...") Tindakan retoris ini—menanyakan shalat (kebutuhan spiritual) dan makan (kebutuhan fisik), lalu merangkul (kebutuhan emosional)—adalah pesan humanisasi yang paling murni. Dengan mendahulukan pemulihan martabat jamaahnya, ethos Mama Cianting sebagai figur yang welas asih terkonfirmasi secara nyata. Walaupun terdapat ketegasan dalam menyampaikan ajaran ibadah, pendekatan ini tetap dipahami oleh jamaah sebagai bentuk kasih sayang. Seperti yang diungkapkan oleh Dedi, seorang jamaah setia: "Ketegasan Mama téh... bentuk kanyaahna nu paling jero. Siga kolot ka anakna. Lamun anakna rek nyabak seuneu, nya pasti digentak..."269 (Terjemahan: "Ketegasan Mama itu... adalah bentuk kasih sayangnya yang paling dalam. Seperti seorang orang tua kepada anaknya. Jika anaknya hendak menyentuh api, tentu saja Mama Cianting akan menegur...")

268 Wawancara dengan Heri, oleh penulis, Cianting, 28 April 2025. 269 Wawancara dengan Dedi, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025.

Pemaknaan ini menunjukkan bahwa fondasi ethos welas asih yang telah terbangun kokoh membuat semua tindakannya, baik lembut maupun tegas, dipersepsikan sebagai bentuk kepedulian yang memanusiakan.

Kedua, dimensi humanisasi diartikulasikan melalui teladan kerendahan hati intelektual. Sikap "kejujuran intelektual" ketika Mama Cianting mengakui ketidaktahuannya di hadapan ribuan jamaah merupakan tindakan yang sangat memanusiakan, baik bagi dirinya maupun bagi jamaahnya. Dengan menunjukkan keterbatasannya, Mama Cianting secara implisit menyampaikan pesan bahwa seorang ulama pun adalah manusia biasa yang terus belajar dan tidak luput dari kekurangan. Hal ini meruntuhkan sekat psikologis antara dai dan jamaah, menciptakan hubungan yang lebih setara dan manusiawi. Kredibilitas yang terbangun dari kejujuran ini membuat pesan-pesan dakwahnya tentang pentingnya saling menghargai dan tidak sombong menjadi sangat otentik. Ini adalah praktik humanisasi yang melepaskan audiens dari beban untuk mengikuti figur yang "sempurna" dan mengajak mereka untuk bersama-sama dalam perjalanan spiritual sebagai sesama manusia.

Ketiga, ethos Mama Cianting yang egaliter dan bersahaja menjadi landasan bagi terbentuknya komunitas majelis yang humanis. Sosiabilitas Mama Cianting bukanlah strategi yang dibuat-buat, melainkan karakter otentik yang terlihat dari sejarah "dakwah jalanan" hingga praktik kesehariannya. Tradisi makan bersama setelah kajian, di mana Mama Cianting duduk bersila dan berbagi hidangan yang sama dengan jamaah lainnya tanpa sekat, merupakan praktik retoris yang kuat yang secara simbolis menghapus hierarki sosial. Sikap egaliter ini menumbuhkan ekosistem sosial yang suportif. Kesaksian Ibu Hj. Rohayati, yang merasa menemukan "keluarga baru" yang membantu saat kesulitan, adalah buah langsung dari budaya humanis yang dicontohkan oleh pimpinannya. Dengan demikian, ethos Mama Cianting yang mudah bersosialisasi secara langsung mengartikulasikan dan mereproduksi sebuah komunitas yang berlandaskan nilai-nilai humanisasi.

Keempat, kompetensi keilmuan Mama Cianting secara konsisten diarahkan untuk tujuan-tujuan yang humanis. Berbeda dengan penggunaan ilmu untuk menunjukkan superioritas intelektual, Mama Cianting selalu mengarahkan kompetensinya untuk memenuhi kebutuhan paling dasar jamaah. Pilihan sadar Mama Cianting untuk terus-menerus mengulang materi fardhu 'ain, seperti wudhu dan shalat, adalah bukti bahwa prioritas utamanya adalah memastikan setiap individu dapat menjalankan kewajiban paling fundamental sebagai manusia beriman. Selain itu, pendekatannya kepada jamaah muda seperti Fadil, yang diajarkan tahajud melalui "motivasi, bukan interogasi," menunjukkan penggunaan ilmu psikologi audiens untuk membimbing, bukan memaksa. Kompetensinya digunakan untuk menghargai proses individu, sebuah praktik yang sangat memanusiakan. Dengan demikian, ethos kompetensi Mama Cianting tidak terasa berjarak, melainkan dirasakan sebagai sebuah pelayanan yang bertujuan untuk mengangkat kualitas hidup dan spiritualitas setiap manusia dalam jamaahnya.

Secara keseluruhan, artikulasi dimensi humanisasi melalui Source Credibility yang ditunjukkan oleh Mama Cianting membuat pesan-pesan dakwahnya lebih mendalam dan bermakna. Melalui pendekatan yang welas asih, kerendahan hati, egalitarianisme, dan kompetensi yang diarahkan untuk melayani, Mama Cianting berhasil menciptakan ruang di mana jamaah merasa dihargai dan diperhatikan sebagai individu. Ini membangun komunitas yang lebih manusiawi, di mana setiap orang dapat tumbuh dan berkembang dalam perjalanan spiritual mereka tanpa merasa terasing. e. Artikulasi Dimensi Liberasi (nahi munkar) melalui Source Credibility Dimensi profetik kedua, liberasi—yang dalam terminologi Islam klasik dekat dengan semangat nahi munkar (mencegah kemungkaran)— membutuhkan landasan ethos yang sangat kuat agar dapat diterima oleh audiens. Pesan yang bersifat membebaskan sering kali menuntut adanya kritik terhadap status quo, koreksi terhadap praktik yang salah, atau tantangan terhadap kebiasaan yang telah mengakar. Tanpa kredibilitas yang kokoh, pesan semacam ini akan mudah ditolak dan dianggap sebagai serangan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Mama Cianting secara efektif menggunakan ethos yang telah ia bangun sebagai modal utama untuk menyampaikan dakwah yang liberatif dalam tiga ranah utama: pembebasan dari kebodohan fiqih, pembebasan dari kultus individu, dan pembebasan dari kebiasaan buruk melalui kritik yang dilandasi welas asih.

Pertama, kompetensi keilmuan (ethos) digunakan sebagai instrumen untuk membebaskan jamaah dari praktik keagamaan dan muamalah yang keliru. Kredibilitas Mama Cianting sebagai seorang 'alim yang menguasai teks memberinya otoritas untuk mengoreksi praktik-praktik salah yang telah dianggap lumrah di masyarakat. Dalam kajian fiqih muamalah yang dicatat pada Observasi ke-6, Mama Cianting tidak ragu untuk menyatakan bahwa praktik jual beli "tebasan" buah atau "ikan di dalam kolam" adalah tidak sah karena mengandung unsur gharar. Pernyataan ini tidak hanya bersifat mengkritik, tetapi bertujuan memberi edukasi. Namun, kekuatan liberatifnya tidak terletak pada larangan itu sendiri, melainkan pada solusi yang ia tawarkan. Mama Cianting secara detail menjelaskan akad alternatif yang syar'i, seperti dalam kasus upah pemanjat kelapa:

"... akad heula upahna: 'Mang, upah manjat téh lima puluh rebu.' Saatos anjeunna turun, pasihan artosna. Tah, saatos eta, lamun si mamangna hoyong meuli kalapa ku artos eta, mangga, eta akad jual beli nu anyar, sah!"270 (Terjemahan: "... akad dahulu upahnya: 'Mang, upah memanjat itu lima puluh ribu.' Setelah dia turun, berikan upahnya. Nah, setelah itu, jika si tukang panjat ingin membeli kelapa dengan uang tersebut, silakan, itu adalah akad jual beli yang baru, sah!")

270 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Februari 2025 (Observasi ke-3).

Dengan memberikan solusi yang jelas dan praktis, kompetensi Mama Cianting tidak hanya berfungsi untuk membangun ethos, tetapi secara langsung membebaskan para petani dan pedagang dari kebingungan dan potensi dosa dalam mata pencaharian mereka. Contoh serupa terlihat pada ketegasannya mengenai syarat saksi nikah dalam Observasi ke-9, di mana Mama Cianting menjalankan peran penting dalam membebaskan masyarakat dari risiko pernikahan yang tidak sah.

Kedua, integritas karakter (ethos) dimanfaatkan untuk membebaskan jamaah dari bahaya kultus individu. Salah satu praktik liberasi yang paling subtansi namun kuat berasal dari momen "kejujuran intelektual" Mama Cianting. Dengan secara terbuka menyatakan "tidak tahu", Mama Cianting secara sadar meruntuhkan potensi sakralisasi dirinya. Sebagaimana diungkapkan oleh pengurus, sikap ini mengajarkan jamaah untuk "menggantungkan diri pada ilmu, bukan pada orangnya". Ini adalah sebuah pelajaran liberasi yang fundamental: membebaskan audiens dari ketergantungan buta pada figur seorang kiai dan mendorong mereka untuk menjadi pencari ilmu yang kritis dan mandiri. Ethos yang terbangun dari kejujuran ini justru melahirkan penghormatan yang lebih sehat, yaitu penghormatan pada ilmu dan amanah, bukan pada mitos kesempurnaan seorang individu.

Ketiga, persepsi atas niat baik (goodwill) menjadi legitimasi untuk menyampaikan kritik yang membebaskan dari kebiasaan buruk. Mama Cianting seringkali menyampaikan kritik yang tajam terhadap kelalaian dalam ibadah, khususnya shalat. Retorika yang "tegas" dan "tanpa toleransi" ini berpotensi ditolak jika disampaikan oleh figur yang tidak dipercaya. Namun, karena jamaah telah mempersepsikan adanya welas asih yang tulus di balik ketegasannya, kritik tersebut dimaknai sebagai "obat pahit" yang menyembuhkan. Hal ini terkonfirmasi dari kesaksian Dedi, yang pada awalnya merasa "kapanasan" oleh ceramah tentang shalat, namun akhirnya menyadari:

"Ketegasan Mama téh sanes karena anjeunna benci ka nu sok ninggalkeun sholat. Justru sabalikna, eta teh bentuk kanyaahna nu paling jero. Siga kolot ka anakna... ketegasanana teh justru 'ubar' kanggo panyakit males abdi."271 (Terjemahan: "Ketegasan Mama itu bukan karena Mama Cianting membenci mereka yang sering meninggalkan shalat. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kasih sayangnya yang paling dalam. Seperti seorang orang tua kepada anaknya... ketegasananya adalah 'obat' untuk penyakit malas saya.")

Dalam konteks ini, ethos welas asih yang telah terbangun memberikan "izin" kepada Mama Cianting untuk menyampaikan pesan keras yang diperlukan untuk membebaskan jamaahnya dari belenggu kemalasan dan sikap menyepelekan perintah Allah. Tanpa fondasi goodwill ini, pesan liberatif yang sama kemungkinan besar akan gagal dan hanya menimbulkan resistensi.

Secara keseluruhan, Mama Cianting berhasil mengartikulasikan dimensi liberasi melalui kredibilitas yang kuat, menggunakan kompetensi, integritas, dan niat baik untuk menyampaikan kritik yang membangun sekaligus membebaskan. Ini tidak hanya menjadikan Mama Cianting figure yang dihormati, tetapi juga pemimpin yang memberikan dampak positif dalam kehidupan spiritual dan sosial jamaahnya. Melalui pendekatan ini, Mama Cianting tidak hanya mengajarkan prinsip-prinsip agama, tetapi juga membantu jamaahnya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, penuh kesadaran, dan bertanggung jawab. f. Artikulasi Dimensi Transendensi (tu’minuna billah) melalui Source Credibility Puncak dari bangunan ethos atau kredibilitas Mama Cianting adalah kemampuannya untuk secara otentik mengartikulasikan dimensi transendensi, yaitu mengaitkan setiap aspek dakwahnya pada keimanan dan 271 Wawancara dengan Dedi, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025. pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Kredibilitasnya menjadi persuasif secara spiritual karena jamaah mempersepsikan bahwa sumber otoritas dan motivasi Mama Cianting bukanlah duniawi, melainkan Ilahiah. Artikulasi transendensi melalui ethos ini termanifestasi secara kuat dalam tiga praktik utama: akuntabilitas spiritual yang menjadi landasan integritasnya, konsistensi praktik spiritual personalnya, dan ketenangan sebagai cerminan tawakal.

Pertama, akuntabilitas spiritual sebagai fondasi utama kredibilitas. Integritas dan kejujuran intelektual Mama Cianting, yang merupakan pilar trustworthiness-nya, pada dasarnya berakar pada rasa pertanggungjawaban yang mendalam kepada Tuhan. Saat Mama Cianting memilih untuk berkata "tidak tahu", alasan di balik keputusan ini bukanlah untuk menjaga citra di hadapan manusia, melainkan karena rasa takut berbuat salah di hadapan Allah. Dalam wawancara, Mama Cianting dengan tegas menjelaskan:

"Abdi kedah nyarios jujur... Mun henteu aya rujukan nu jelas, abdi mending henteu jawab ti batan salah."272 (Terjemahan: "Saya harus berkata jujur... Jika tidak ada rujukan yang jelas, saya lebih baik tidak menjawab daripada salah.")

Sikap "lebih baik tidak menjawab daripada salah" ini secara implisit mengkomunikasikan kepada jamaah bahwa loyalitas utamanya bukanlah pada ekspektasi audiens, melainkan pada kebenaran ilmu sebagai amanah dari Allah. Filosofi "kurir ilmu" yang sering Mama Cianting utarakan juga mencerminkan sikap ini, di mana Mama Cianting secara sadar menanggalkan otoritas dari dirinya dan mengembalikannya kepada para ulama, Rasulullah ‫ﷺ‬, dan pada akhirnya kepada Allah SWT. Dengan konsisten memposisikan dirinya sebagai hamba yang bertanggung jawab, ethos Mama Cianting menjadi sarana yang sangat efektif untuk mengajarkan konsep transendensi berupa akuntabilitas di hadapan Tuhan.

272 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025.

Kedua, konsistensi praktik spiritual personal sebagai bukti otentisitas. Kredibilitas spiritual seorang dai sering kali dinilai dari keselarasan antara ucapan publik dengan amalan pribadinya. Informasi yang terungkap dalam wawancara tentang ritual persiapan dakwah Mama Cianting menjadi bukti kuat dari dimensi ini. Praktik rutin Mama Cianting membaca 1.000 shalawat sebelum naik ke mimbar, yang dilakukan di ruang majelis pribadinya, merupakan tindakan transenden yang mendahului interaksi sosialnya. Mama Cianting menjelaskan proses ini sebagai berikut:

"Sateuacan dakwah teh maos heula sholawat 1000... teras niat... hate dihadirkeun heula... nembe angkat."273 (Terjemahan: "Sebelum dakwah, saya membaca shalawat 1000 terlebih dahulu... lalu berniat... hati dihadirkan dulu... baru kemudian berangkat.")

Meskipun praktik ini bersifat privat, kesadaran jamaah atau pengurus tentang adanya persiapan spiritual ini memperkuat ethos Mama Cianting secara signifikan. Ini membangun persepsi bahwa dakwah yang Mama Cianting sampaikan bukanlah sekadar performa retoris, melainkan tindakan yang lahir dari hati yang telah terhubung terlebih dahulu kepada Allah dan Rasul-Nya. Konsistensi antara amalan di "ruang belakang" dan ceramah di "ruang depan" ini menjadi bukti otentik dari orientasi transenden yang Mama Cianting dakwahkan.

Ketiga, ketenangan (composure) sebagai cerminan tawakal dan keyakinan. Ketenangan yang senantiasa terpancar dari sikap dan tutur kata Mama Cianting, bahkan saat mengelola ribuan jamaah atau menghadapi pertanyaan sulit, dipersepsikan oleh jamaah bukan sekadar sebagai karakter personal, tetapi sebagai cerminan dari keyakinan dan kepasrahan yang mendalam kepada Allah (tawakal). Seorang dai yang gelisah atau mudah terpancing emosinya akan mengkomunikasikan ketergantungan pada 273 Wawancara awal dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 3 September 2024. penilaian manusia. Sebaliknya, ethos Mama Cianting yang tenang dan terkendali, sebagaimana teramati dalam seluruh sesi observasi, secara nonverbal mengartikulasikan pesan transendensi: bahwa sumber kekuatan dan ketenangan sejati hanyalah Allah. Ketenangan ini menjadi teladan hidup yang menunjukkan buah dari keimanan yang Mama Cianting ajarkan.

Secara keseluruhan, ethos Mama Cianting menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan pesan transendensi karena kredibilitasnya sendiri berakar kuat pada nilai-nilai tersebut. Jamaah percaya pada ajakannya untuk beriman kepada Allah karena mereka melihat sosok dai yang dalam setiap tindakannya—baik dalam berilmu, beribadah, maupun bersikap—selalu menunjukkan pertanggungjawaban dan kepasrahan total kepada-Nya. Dengan pendekatan yang otentik dan konsisten, Mama Cianting tidak hanya mengajarkan prinsip-prinsip agama, tetapi juga memberikan contoh nyata tentang bagaimana menerapkan keimanan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menginspirasi jamaah untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka.

Sebagai sintesis dari analisis di atas, implementasi aspek ethos dalam dakwah Mama Cianting bukanlah sebuah pilar tunggal, melainkan sebuah jalinan tiga serangkai yang kokoh, terdiri dari kompetensi keilmuan, keterpercayaan (trustworthiness), dan niat baik (goodwill). Kompetensinya yang berbasis teks memberikan otoritas untuk berbicara; keterpercayaannya yang lahir dari integritas dan welas asih memberikan rasa aman bagi jamaah untuk mendengar; dan niat baiknya yang termanifestasi dalam pelayanan tulus memberikan alasan bagi jamaah untuk mengikuti. Sinergi dari ketiga komponen inilah yang membentuk sebuah Source Credibility yang utuh dan sangat kuat.

Namun, temuan paling krusial adalah bahwa ethos yang kokoh ini tidak berfungsi sebagai tujuan akhir. Ia adalah modal retoris fundamental yang memungkinkan Mama Cianting untuk secara efektif mengartikulasikan tiga dimensi profetik. Kredibilitasnya memberikan "izin" baginya untuk memanusiakan jamaah melalui empati, membebaskan mereka melalui kritik yang konstruktif, dan mengajak mereka pada kesadaran transenden melalui keteladanan spiritualnya. Dengan fondasi kepercayaan yang telah terbangun sekokoh ini, jalan kini terbuka bagi pilar retorika kedua, yaitu pathos, untuk bekerja menyentuh dan menggerakkan hati para jamaah.

2. Implementasi Aspek Pathos melalui Narrative Rationality dalam

Dakwah Mama Cianting Jika pilar ethos membangun fondasi kepercayaan, maka pilar pathos menjadi mesin yang menggerakkan pesan dakwah Mama Cianting dari akal menuju hati jamaah. Pengamatan mendalam menunjukkan bahwa efektivitas dakwah Mama Cianting tidak hanya bersandar pada siapa dirinya atau apa yang diketahuinya, tetapi secara krusial pada kemampuannya untuk membangun ikatan emosional yang kuat dengan audiens. Mama Cianting secara mahir mengelola dan mengarahkan emosi kolektif jamaah—dari tawa yang mencairkan suasana, keheningan yang khusyuk, hingga isak tangis yang reflektif. Kemampuan untuk menyentuh dimensi afektif ini menjadikan ajaran yang disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga "dirasakan", sehingga lebih mudah terinternalisasi menjadi keyakinan dan perilaku.

Untuk membedah mekanisme persuasi emosional ini, penelitian ini menggunakan lensa Paradigma Naratif (Narrative Paradigm) yang digagas oleh Walter Fisher. Teori ini berargumen bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk pencerita (homo narrans) yang lebih mudah diyakinkan oleh sebuah "cerita yang bagus" daripada oleh argumen logis semata. "Cerita yang bagus" ini diukur melalui rasionalitas naratif, yaitu narrative coherence (apakah ceritanya masuk akal dan konsisten secara internal?) dan narrative fidelity (apakah ceritanya beresonansi dan terasa benar dengan pengalaman serta nilai-nilai yang diyakini oleh audiens?).

Bagian ini akan memaparkan temuan-temuan kunci mengenai bagaimana Mama Cianting memanfaatkan pathos melalui pilar-pilar narasi. Pertama, akan diurai bagaimana Mama Cianting secara konsisten menggunakan berbagai jenis kisah dan narasi sebagai medium utama untuk menyampaikan ajaran. Kedua, akan dianalisis strategi spesifik yang Mama Cianting gunakan untuk membangkitkan dan mengelola emosi serta empati jamaah. Ketiga, akan ditunjukkan bagaimana narasi-narasi tersebut memiliki koherensi dan fidelitas yang tinggi, yang menjadikannya sangat persuasif dan mudah diterima oleh audiens. a. Penggunaan kisah dan narasi dalam dakwah Salah satu temuan paling signifikan dan konsisten dalam praktik retorika Mama Cianting adalah penggunaan narasi atau kisah sebagai medium utama untuk menyampaikan pesan, menanamkan nilai, dan membangun ikatan emosional dengan jamaah. Berbeda dengan pendekatan dakwah yang cenderung legalistik-doktrinal, Mama Cianting secara sistematis mengemas ajaran—baik yang berkaitan dengan akidah, fiqih, maupun akhlak—ke dalam berbagai bentuk cerita yang mudah dicerna. Penggunaan narasi ini tidak bersifat acak; melainkan merupakan strategi retoris yang disadari dan diterapkan secara variatif sesuai dengan tujuan pesan. Analisis terhadap data observasi dan wawancara mengidentifikasi setidaknya empat jenis narasi utama yang sering Mama Cianting gunakan untuk mencapai tujuan retorikanya.

Pertama, Kisah-Kisah Spiritual dan Eskatologis, kisah-kisah ini bertujuan untuk menghubungkan jamaah dengan realitas gaib dan menanamkan keyakinan (iman). Misalnya, saat menjelaskan adab sebelum tidur, Mama Cianting menceritakan sebuah narasi yang menyentuh tentang bagaimana amalan sederhana dapat memiliki dampak transendental. Sebagaimana dinyatakan dalam kisahnya:

"Ceuk ulama dina kitab Faidhul Qadir, cai anu ku urang diinum bari nuturkeun sunnah Nabi eta... engke di poe kiamat, eta cai teh bakal ngomong ka Allah, 'Ya Allah, abdi nyuhunkeun hampura kanggo jalmi ieu, sabab anjeunna tos ngamulyakeun abdi ku cara nuturkeun sunnah kakasih Anjeun'."274 (Terjemahan: "Menurut ulama dalam kitab Faidhul Qadir, air yang kita minum sambil mengikuti sunnah Nabi tersebut... nanti di hari kiamat, air itu akan berkata kepada Allah, 'Ya Allah, saya memohon ampun untuk orang ini, karena dia telah memuliakan saya dengan cara mengikuti sunnah kekasih-Mu.'")

Kisah ini memberi makna mendalam pada praktik sederhana, menghubungkan jamaah dengan konsep bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan niat baik, terutama mengikuti sunnah Nabi, akan mendapat pengakuan di hadapan Allah. Narasi lain yang berpengaruh adalah kisah dramatis tentang rasa hormat pada Tanah Haram yang memperkuat norma-norma keagamaan. Mama Cianting tidak hanya menyampaikan fakta-fakta; Mama Cianting menghidupkannya melalui narasi jujur dari pengalaman umat:

"Aya hiji jalmi, balik ti Mekah. Anjeunna nyandak tilu siki batu ti Arafah, niatna kanggo kenang-kenangan. Saatos dugi ka lemburna, anjeunna gering... teu pararuguh... salami dua puluh salapan dinten... Akhirna aya nu masihan terang, 'Cing, emutan, ti Mekah kamari nyandak naon?' Anjeunna emut kana tilu batu eta... Saatos batu eta dikembalikan, dinten eta keneh anjeunna langsung cageur."275 (Terjemahan: "Ada seorang lelaki yang pulang dari Mekah. Dia mengambil tiga biji batu dari Arafah, berniat untuk kenang-kenangan. Setelah sampai di kampungnya, dia jatuh sakit... tidak kunjung sembuh... selama dua puluh sembilan hari... Akhirnya ada yang memberitahu, 'Coba ingat, dari Mekah kamu mengambil apa?' Dia ingat pada tiga batu itu... Setelah batu itu dikembalikan, hari itu juga dia sembuh.")

274 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 3 Maret 2025 (Observasi ke-5, Konteks Ramadhan). 275 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 21 April 2025 (Observasi ke-7, Konteks Syawal).

Narasi seperti ini mentransformasikan aturan fiqih yang "dingin" menjadi pengalaman spiritual yang "hidup" dan penuh konsekuensi.

Kedua, Narasi Keteladanan dari Ulama Salaf dan Para Wali, untuk memberikan contoh konkret mengenai akhlak, Mama Cianting sering merujuk pada kisah para ulama terdahulu. Dalam sebuah sesi yang membahas pentingnya welas asih bahkan pada hewan, Mama Cianting mengutip kisah Imam Abu Sulaiman Ad-Daroni dengan nada empatik:

"Eta kuda teh siga nu ngomong, 'Naha anjeun medog ka abdi tanpa alesan nu hak?' Ti dinya Imam Daroni insaf. Ka sato wae urang teu kenging dzalim, komo deui ka sasama manusa."276 (Terjemahan: "Kuda itu seolah berkata, 'Mengapa kamu memotongku tanpa alasan yang benar?' Dari sana Imam Daroni menyadari. Kita tidak boleh zalim pada hewan, apalagi pada sesama manusia.")

Dengan menggunakan figur yang sangat dihormati sebagai protagonis, Mama Cianting tidak hanya mengajarkan sebuah nilai, tetapi juga melegitimasinya melalui otoritas sejarah dan spiritual. Hidupnya para ulama ini menjadi acuan yang kuat dan menarik bagi jamaah, menunjukkan bahwa akhlak yang baik adalah warisan yang dapat diteruskan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Narasi dari Realitas Lokal dan Kehidupan Jamaah, kisah yang diambil dari realitas lokal dan kehidupan jamaah adalah jenis narasi yang paling sering digunakan untuk membuat ajaran terasa relevan dan mudah diterima. Dalam kajian fiqih muamalah, Mama Cianting mengangkat contoh praktik yang terjadi di masyarakat untuk menjelaskan konsep gharar:

"Cobi, nu sok ka pasar... kadang urang ningali aya nu meuli lauk di jero cai. Ditembak weh sakolam sakitu. Tah, eta teh teu sah jual 276 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 3 Maret 2025 (Observasi ke-5, Konteks Ramadhan). belina, sabab aya gharar, teu jelas barangna. Ieu panto gerbang nuju kana riba!"277 (Terjemahan: "Coba, yang sering ke pasar... kadang kita melihat ada yang membeli ikan di dalam air. Mereka menembak di seluruh kolam begitu saja. Nah, itu tidak sah jual belinya, karena mengandung gharar, tidak jelas barangnya. Ini adalah gerbang menuju riba!")

Dengan mengangkat realitas kehidupan jamaah, Mama Cianting menciptakan narrative fidelity yang sangat kuat, membuat jamaah merasa bahwa "Mama paham masalah kami" dan ajaran yang disampaikan adalah solusi langsung bagi kehidupan mereka.

Keempat, Narasi Personal yang Membangun Kedekatan dan Memberi Teladan, selama momen-momen yang tepat, Mama Cianting sering menggunakan pengalaman pribadinya untuk membangun kedekatan dan mengajarkan nilai kerendahan hati. Salah satu momen paling berkesan adalah ketika Mama Cianting menceritakan interaksinya dengan salah satu gurunya untuk menekankan pentingnya kejujuran intelektual, sebagaimana terekam dalam Observasi ke-1:

"Janten kieu, kapungkur teh abdi dicaram ku guru, 'Ujang, ulah waka ngangge sorban sateuacan munggah haji.' Nya abdi nurut, teu ngangge sorban. Lila-lila, anjeunna nyalira nu sumping ka abdi. Anjeunna nyarios, 'Jang, hapunten abdi, abdi insaf. Kamari abdi ngalarang anjeun ngangge sorban, ayeuna mah mangga anggo. Abdi nu lepat.'"278 (Terjemahan: "Jadi begini, dulu saya dilarang oleh guru, 'Ujang, jangan menggunakan sorban sebelum naik haji.' Ya, saya patuh, tidak menggunakan sorban. Setelah beberapa waktu, Mama Cianting sendiri yang datang kepada saya. Mama Cianting berkata, 'Anak, maafkan saya, saya 277 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Maret 2025 (Observasi ke-6, Konteks Ramadhan). 278 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 12 Agustus 2024 (Observasi ke-1). insaf. Kemarin saya melarangmu menggunakan sorban, sekarang silakan pakai. Saya yang salah.'")

Dengan menceritakan kisah ini secara utuh, Mama Cianting tidak hanya memberikan contoh tentang keutamaan ilmu dan kebenaran, tetapi juga secara subtil memanusiakan figur seorang guru dan dirinya sendiri. Tindakan ini meruntuhkan hierarki yang kaku dan membangun ikatan kepercayaan yang sangat personal dengan jamaah, menunjukkan bahwa proses belajar dan mengakui kesalahan adalah bagian dari perjalanan spiritual semua orang, termasuk para alim.

Penggunaan berbagai jenis narasi ini secara konsisten menunjukkan bahwa bagi Mama Cianting, dakwah adalah seni bercerita yang bertujuan untuk menyentuh hati, mencerahkan akal, dan pada akhirnya menggerakkan amal. Dengan memanfaatkan kisah-kisah yang relevan, menginspirasi, dan mendorong refleksi, Mama Cianting berhasil menciptakan koneksi yang mendalam antara pesan-pesan dakwah dan pengalaman hidup jamaah, menjadikan dakwahnya bukan sekadar instruksi, tetapi pembelajaran yang hidup dan bermakna. b. Strategi Membangkitkan Emosi dan Empati Jamaah Kekuatan narasi dalam dakwah Mama Cianting disempurnakan oleh kemampuannya yang luar biasa dalam membangkitkan dan mengelola spektrum emosi jamaah secara strategis. Mama Cianting tidak hanya bercerita, tetapi juga secara aktif membangun sebuah "atmosfer emosional" yang kondusif untuk penerimaan pesan. Dalam praktiknya, penggunaan pathos bukanlah sekadar luapan emosi yang tidak terkendali; melainkan sebuah orkestrasi yang disadari dengan cermat untuk mencapai tujuantujuan profetik. Analisis data lapangan menunjukkan setidaknya empat strategi utama yang Mama Cianting gunakan: penanaman empati melalui sentuhan personal, penggunaan peringatan keras (fear appeal) sebagai penggugah kesadaran, pemanfaatan humor sebagai jembatan pedagogis, serta penggunaan modulasi vokal dan jeda dramatis.

Strategi pertama: Membangun empati dan rasa haru melalui sentuhan pada tema-tema personal yang universal. Mama Cianting sangat mahir dalam mengidentifikasi dan menyentuh "urat nadi" emosional jamaahnya, terutama dalam konteks hubungan keluarga. Momen puncak dari strategi ini teramati dalam Observasi ke-5 saat Mama Cianting membahas kewajiban berbakti kepada ibu. Dengan nada suara yang berubah menjadi lebih tegas dan bergetar penuh perasaan, Mama Cianting menyampaikan dengan penuh emosi:

"Urang teh kadang poho. Sibuk ngurus pamajikan, sibuk ngurus pagawean, indung nu ngandung urang, nu ngalahirkeun urang nepi ka ampir paeh, ku urang diantepkeun... Kade! Sanajan urang sholat nepi ka hideung tarang, tahajud unggal peuting, lamun hate indung urang nyeri ku kalakuan urang, moal ditarima eta ibadah!"279 (Terjemahan: "Kita sering lupa. Sibuk mengurus istri, sibuk dengan pekerjaan, ibu yang mengandung kita, yang melahirkan kita sampai hampir mati, malah kita abaikan... Hati-hati! Meskipun kita sholat sampai hitam tarang, tahajud setiap malam, jika hati ibu kita sakit dengan perilaku kita, ibadah itu tidak akan diterima!")

Dampak dari retorika ini sangat luar biasa. Berdasarkan catatan lapangan, "seisi majelis hening total, banyak jamaah, baik laki-laki maupun perempuan, serentak menundukkan kepala, dan beberapa ibu terlihat mengusap air mata." Dengan menyentuh nilai cinta kepada ibu—sebuah pengalaman yang bersifat universal—Mama Cianting berhasil menciptakan sebuah momen kontemplasi kolektif yang mendalam, mempersatukan jamaah dalam satu rasa emosional yang sama.

Strategi kedua: Penggunaan peringatan keras atau fear appeal secara konstruktif. Berbeda dengan sentuhan haru yang lebih lembut, strategi ini digunakan untuk membangkitkan rasa takut dan gentar akan konsekuensi dari perbuatan dosa, yang bertujuan untuk menggugah kesadaran dan 279 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 3 Maret 2025 (Observasi ke-5, Konteks Ramadhan). mendorong perubahan perilaku. Hal ini terlihat jelas pada Observasi ke-6 ketika Mama Cianting membahas bahaya riba. Setelah menjelaskan praktikpraktik riba tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari, Mama Cianting menyampaikan sebuah hadits eskatologis dengan intonasi yang berat:

"Kanjeng Nabi ngadawuh, 'Moal dugi kiamah, dugi ka satiap imah di dunia ieu keuna ku kekebulna riba.' Hadirin, eta teh peringatan keras!"280 (Terjemahan: "Rasulullah bersabda, 'Tidak akan tiba hari kiamat hingga setiap rumah di dunia ini terkena kabut riba.' Para hadirin, ini adalah peringatan yang serius!") Peringatan ini, sebagaimana teramati, berhasil "membuat suasana majelis menjadi sangat hening dan tegang, dengan wajah-wajah jamaah yang tampak serius dan gelisah." Rasa takut yang dimunculkan di sini bukanlah untuk membuat putus asa, melainkan untuk menciptakan urgensi, yang kemudian langsung ditindaklanjuti oleh Mama Cianting dengan penawaran solusi praktis, menunjukkan bahwa meskipun ada ancaman, harapan selalu ada dengan tindakan yang benar. Strategi ketiga: Pemanfaatan humor sebagai pencair suasana dan jembatan pemahaman. Mama Cianting secara cerdas menyisipkan humor pada momen-momen yang tepat, terutama saat membahas topik yang sensitif atau rumit secara fiqih. Humor berfungsi untuk meruntuhkan "tembok isin" (dinding rasa malu) jamaah dan membuat mereka lebih rileks dalam menerima materi. Contohnya adalah ketika menjelaskan hukum radha'ah pada Observasi ke-3, Mama Cianting melontarkan pertanyaan jenaka:

280 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Maret 2025 (Observasi ke-6, Konteks Ramadhan).

"Tah, ayeuna patarosan kanggo bapak-bapak. Kumaha lamun salakina nyusu ka pamajikanana...? Naha eta salaki jadi anak susuna si istri?"281 (Terjemahan: "Nah, sekarang pertanyaan untuk para suami. Bagaimana jika suami menyusu dari istrinya...? Apakah suami itu menjadi anak susunya?")

Pertanyaan ini sontak disambut tawa ringan oleh seluruh jamaah, secara efektif mengurangi ketegangan pada topik yang berpotensi dianggap tabu. Dalam wawancara, Mama Cianting mengkonfirmasi bahwa ini adalah metode yang disengaja agar "pesan kompleks tidak ditolak secara mental oleh jamaah awam," sehingga memungkinkan mereka menerima informasi lebih dengan baik dan penuh kesadaran.

Strategi keempat: Penggunaan modulasi vokal dan jeda dramatis secara teatrikal. Kekuatan emosional dari pesan Mama Cianting sangat bergantung pada cara penyampaiannya. Mama Cianting secara mahir mengubah intonasi suaranya sesuai dengan konteks dan pesan yang ingin disampaikan. Dalam wawancara, Mama Cianting bahkan mendemonstrasikan perbedaan gaya retorika yang ia adopsi: "Cara Habib Umar bin Hafidz (dengan nada lembut)... Cara Habib Rizieq Shihab (dengan nada lantang)...". Kemampuan untuk beralih dari nada yang welas asih ke nada yang tegas dan menggelegar, ditambah dengan penggunaan jeda hening setelah menyampaikan poin penting, menciptakan sebuah ritme dakwah yang dinamis dan menjaga perhatian jamaah agar tidak monoton.

Melalui orkestrasi keempat strategi ini, Mama Cianting berhasil menciptakan sebuah pengalaman komunal yang kaya secara emosional. Dalam dakwahnya, penggunaan pathos bukanlah sekadar bumbu, melainkan sebuah mesin utama yang membuka hati jamaah, membuat mereka siap menerima, merenungkan, dan pada akhirnya menginternalisasi 281 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Februari 2025 (Observasi ke-3). pesan-pesan profetik yang Mama Cianting sampaikan. Dengan keterampilan dalam membangkitkan emosi dan empati ini, Mama Cianting menghadirkan ikatan yang kuat antara ajaran agama dan kehidupan seharihari jamaah, memastikan bahwa dakwahnya tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan dan dihayati. c. Narrative Coherence dan Narrative Fidelity dalam Penyampaian Pesan Efektivitas penggunaan narasi dalam dakwah Mama Cianting tidak hanya terletak pada frekuensi penggunaannya, tetapi juga pada kualitas naratif yang terbangun. Melalui lensa teori Paradigma Naratif, kita dapat menganalisis bahwa kisah-kisah yang Mama Cianting sampaikan memiliki tingkat rasionalitas naratif yang tinggi, yang terbangun dari dua elemen kunci: koherensi naratif (narrative coherence) dan kesetiaan naratif (narrative fidelity). Kedua elemen ini bekerja secara sinergis untuk membuat pesan yang terkandung di dalam cerita tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga sangat persuasif dan diterima sebagai sebuah "kebenaran" oleh jamaah.

Koherensi Naratif merujuk pada sejauh mana sebuah cerita memiliki integritas struktural—apakah alurnya logis, karakternya konsisten, dan detail-detailnya saling mendukung sehingga cerita tersebut "masuk akal." Narasi-narasi Mama Cianting secara konsisten menunjukkan koherensi yang kuat. Sebagai contoh, kisah dramatis tentang "Batu Arafah" yang diceritakan dalam Observasi ke-7 berfungsi baik dalam membangun struktur naratif yang jelas dan koheren. Alih-alih hanya menyajikan dalil normatif, Mama Cianting memilih untuk membingkainya dalam sebuah kisah nyata yang mampu menggugah emosi dan kesadaran spiritual jamaah.

Kisah tersebut menggambarkan seorang lelaki yang mengambil batu dari Arafah sebagai kenang-kenangan, yang kemudian mengalami penyakit misterius sesampainya di rumah. Dalam narasi ini, Mama Cianting menggambarkan bagaimana sang lelaki diingatkan akan kesalahannya dan akhirnya mengembalikan batu tersebut, yang pada gilirannya menyembuhkannya. Betapa dalamnya pesan ini diungkapkan ketika Mama Cianting merendahkan suaranya untuk menarik perhatian jamaah:

"Aya hiji jalmi, balik ti Mekah. Anjeunna nyandak tilu siki batu ti Arafah, niatna kanggo kenang-kenangan. Saatos dugi ka lemburna, anjeunna gering... teu pararuguh... salami dua puluh salapan dinten. Diperiksa ku dokter, teu aya panyakitna. Badan panas tiris, pikiran lieur. Akhirna aya nu masihan terang, 'Cing, emutan, ti Mekah kamari nyandak naon?' Anjeunna emut kana tilu batu eta. Batu eta teras dititipkeun ka salah sahiji TKW nu bade angkat deui ka Arab, dipiwarang dialungkeun deui di Arafah. Subhanallah, saatos batu eta dikembalikan, dinten eta keneh anjeunna langsung cageur."282 (Terjemahan: "Ada seorang lelaki yang pulang dari Mekah. Dia membawa tiga biji batu dari Arafah, berniat untuk kenang-kenangan. Setelah sampai di kampungnya, dia jatuh sakit... tidak kunjung sembuh... selama dua puluh sembilan hari. Diperiksa oleh dokter, tidak ada penyakitnya. Badan panas dingin, pikiran bingung. Akhirnya ada yang memberitahu, 'Coba ingat, dari Mekah kamu mengambil apa?' Dia ingat pada tiga batu itu. Batu-batu itu kemudian dititipkan kepada salah satu TKW yang akan kembali ke Arab, yang diminta untuk mengembalikannya ke Arafah. Subhanallah, setelah batu itu dikembalikan, hari itu juga dia sembuh.")

Kisah yang dinarasikan dengan jeda dramatis ini berhasil menciptakan atmosfer yang tegang sekaligus reflektif di tengah jamaah. Melalui cerita ini, Mama Cianting tidak hanya mentransfer hukum tentang larangan mengambil barang dari Tanah Haram, tetapi juga menanamkan keyakinan akan adanya konsekuensi spiritual langsung dari pelanggaran adab. Dengan demikian, narasi ini berfungsi untuk mentransformasikan aturan fiqih yang "dingin" menjadi sebuah pengalaman spiritual yang "hidup" dan penuh makna.

282 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 21 April 2025 (Observasi ke-7, Konteks Syawal).

Kisah ini memiliki alur sebab-akibat yang sangat jelas dan linear: (1) seorang jamaah melakukan pelanggaran adab dengan mengambil batu; (2) ia mengalami akibat berupa penyakit misterius; (3) ia menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaikinya; (4) setelah kesalahan diperbaiki (batu dikembalikan), ia kembali sembuh. Meskipun premisnya bersifat spiritual, alur ceritanya sangat koheren dan mudah diikuti, membuat kesimpulan di akhir cerita terasa sebagai sebuah konsekuensi yang logis. Hal yang serupa juga terlihat pada kisah "Malaikat Melapor ke Nabi", di mana karakter-karakter di dalamnya (malaikat yang bertugas melapor dan Nabi yang mencintai umatnya) bertindak sesuai dengan peran yang diyakini dalam teologi Islam, sehingga narasinya menjadi konsisten secara internal dan dapat diterima oleh audiens yang berbagi kerangka keyakinan yang sama.

Namun, koherensi saja tidak cukup. Kekuatan persuasif terbesar dari narasi Mama Cianting terletak pada Kesetiaan Naratif (Narrative Fidelity), yaitu kemampuannya untuk membuat cerita "beresonansi" atau terasa "benar" dengan pengalaman, nilai-nilai, dan pengetahuan yang sudah ada di benak jamaah. Mama Cianting sangat mahir dalam memilih dan membingkai narasi yang memiliki fidelitas tinggi. Saat membahas bakti kepada ibu pada Observasi ke-5 dan menggambarkannya sebagai amalan yang bahkan bisa membatalkan pahala shalat, narasi ini memiliki fidelitas yang luar biasa karena nilai "hormat pada ibu" adalah salah satu nilai kultural dan religius tertinggi dalam masyarakat. Pesan tersebut terasa benar dan menggugah karena ia menyentuh keyakinan yang sangat dalam pada diri jamaah.

Fidelitas naratif juga dibangun dengan mengangkat realitas seharihari jamaah ke atas mimbar. Ketika Mama Cianting menarasikan praktik jual beli "ikan di dalam kolam" atau sistem upah "pemanjat kelapa", jamaah melihat cerminan dari kehidupan ekonomi mereka sendiri. Ketika Mama Cianting mengkritik kebiasaan "anak sekolah yang minum sambil berjalan," para orang tua di antara jamaah merasa bahwa Mama Cianting sedang membicarakan kekhawatiran mereka. Dengan menceritakan kembali realitas yang akrab bagi audiens, Mama Cianting memastikan bahwa pesan dan solusi yang Mama Cianting tawarkan terasa relevan, otentik, dan benarbenar dibutuhkan.

Pada akhirnya, sinergi antara koherensi dan fidelitas inilah yang menciptakan rasionalitas naratif yang kuat dalam dakwah Mama Cianting. Kisah-kisahnya tidak hanya logis secara internal, tetapi juga terasa benar secara eksternal karena beresonansi dengan dunia kehidupan jamaah. Kombinasi ini memungkinkan sebuah cerita sederhana—baik tentang sebutir batu dari Arafah maupun segelas air minum—memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang dan bahkan perilaku ribuan pendengarnya. Dengan memanfaatkan koherensi dan fidelitas naratif, Mama Cianting berhasil menyampaikan pesan yang mendalam dan transformatif, yang tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi juga membentuk karakter dan etika jamaahnya. d. Artikulasi Dimensi Humanisasi (Amar ma’ruf) melalui Narrative Rationality Dimensi humanisasi, yang berintikan pada semangat amar ma'ruf— mengajak pada kebaikan, memuliakan martabat manusia, dan memperkuat hubungan sosial—merupakan dimensi profetik yang paling sering diartikulasikan melalui pilar pathos dalam dakwah Mama Cianting. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Mama Cianting secara konsisten menggunakan narasi, sentuhan emosional, dan analogi yang empatik sebagai medium utama untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Alihalih menyajikan humanisasi sebagai sebuah konsep teoretis yang abstrak, Mama Cianting menghadirkannya dalam bentuk cerita-cerita yang hidup, yang memungkinkan jamaah untuk "merasakan" langsung makna dan urgensi dari berbuat baik kepada sesama.

Strategi yang paling fundamental adalah penggunaan narasi kekerabatan untuk memuliakan hubungan keluarga dan sosial. Mama Cianting sangat mahir dalam menyentuh "urat nadi" emosional jamaahnya dengan mengangkat tema bakti kepada orang tua, khususnya ibu. Dalam sesi kajian yang paling berkesan, sebagaimana terekam dalam Observasi ke5, Mama Cianting menggunakan pathos yang sangat kuat untuk menekankan posisi seorang ibu:

"Urang teh kadang poho. Sibuk ngurus pamajikan, sibuk ngurus pagawean, indung nu ngandung urang, nu ngalahirkeun urang nepi ka ampir paeh, ku urang diantepkeun... Kade! Sanajan urang sholat nepi ka hideung tarang, tahajud unggal peuting, lamun hate indung urang nyeri ku kalakuan urang, moal ditarima eta ibadah!"283 (Terjemahan: "Kita kadang lupa. Sibuk mengurus istri, sibuk dengan kerjaan, ibu yang mengandung kita, yang melahirkan kita sampai hampir mati, malah kita abaikan... Hati-hati! Meskipun kita sholat hingga hitam tarang, tahajud setiap malam, jika hati ibu kita sakit karena perilaku kita, ibadah itu tidak akan diterima!")

Dampak retoris dari narasi ini sangat luar biasa. Catatan lapangan menunjukkan "seisi majelis hening total, banyak jamaah, baik laki-laki maupun perempuan, serentak menundukkan kepala, dan beberapa ibu terlihat mengusap air mata." Dengan membangkitkan emosi kolektif berupa rasa cinta, hormat, dan bahkan rasa bersalah terhadap ibu, Mama Cianting secara efektif menanamkan nilai luhur birrul walidain sebagai inti dari praktik humanisasi. Dampak dari ajaran ini terlihat nyata dalam testimoni jamaah, di mana Ibu Hj. Rohayati merasakan langsung bagaimana ajaran tentang kepedulian ini terwujud dalam sebuah sistem dukungan sosial yang nyata di antara jamaah.

"Aya waktosna murangkalih abdi panas tiris, ari pun lanceuk nuju tugas di luar kota. Abdi bingung pisan harita. Teu disangka-sangka, 283 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 3 Maret 2025 (Observasi ke-5, Konteks Ramadhan). tatanggi nu sami-sami ngaji di dieu langsung dongkap ka bumi. Aya nu nganteurkeun ka dokter, aya nu ngirim tuangeun..."284 (Terjemahan: "Saat anak saya demam, saudara saya sedang bertugas di luar kota. Saya sangat bingung saat itu. Tanpa dapat dibayangkan, tetangga kami yang juga belajar di sini langsung datang ke rumah. Ada yang mengantarkan saya ke dokter, ada yang membawa makanan...")

Selanjutnya, pathos digunakan untuk menggugah empati terhadap kelompok yang lebih lemah dan membangun etika sosial. Mama Cianting sering menggunakan vinyet naratif atau perbandingan yang kontras untuk menyentuh rasa keadilan dan kemanusiaan jamaah. Saat membahas hak-hak pekerja rumah tangga dalam Observasi ke-5, Mama Cianting tidak menggunakan bahasa hukum yang kaku, melainkan sebuah perbandingan yang sarat dengan muatan emosi:

"Ulah urang tuang steak, ari pembantu dibere sangu uyah."285 (Terjemahan: "Jangan kita makan steak, sementara pembantu hanya diberi nasi dengan garam.")

Kalimat sederhana ini secara efektif membangkitkan empati dan mengkritik praktik dehumanisasi dalam lingkup domestik. Demikian pula, saat Mama Cianting ingin mengangkat martabat kaum pekerja, Mama Cianting menarasikan kembali keteladanan Nabi:

"Kanjeng Nabi nyalira kantos nyium panangan sahabat nu kulitna kasar tur hideung kusabab macul, teras anjeunna nyarios, 'Ieu panangan nu dipikacinta ku Allah sareng moal disentuh ku seuneu naraka.'"286 (Terjemahan: "Rasulullah sendiri pernah mencium tangan sahabat yang kulitnya kasar dan hitam karena bekerja keras, lalu Mama Cianting 284 Wawancara dengan Hj. Rohayati, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025. 285 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 3 Maret 2025 (Observasi ke-5, Konteks Ramadhan). 286 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 3 Maret 2025 (Observasi ke-5, Konteks Ramadhan). berkata, 'Ini adalah tangan yang dicintai Allah dan tidak akan tersentuh oleh api neraka.'")

Puncak dari artikulasi humanisasi melalui pathos adalah perwujudan realita welas asih kepada mereka yang terpinggirkan. Mama Cianting mencontohkan langsung bagaimana memanusiakan orang yang berada di titik terendah. Hal ini terkonfirmasi dengan kuat dalam kesaksian Pak Heri, yang datang ke majelis dalam keadaan terpuruk:

"Tapi pas pendak sareng Mama, anjeunna sanes nyalahkeun abdi. Anjeunna teu naroskeun sabaraha hutang abdi. Nu ditaroskeun téh, 'Anjeun tos sholat? Tos tuang?' Abdi dirangkul, dipasihan tuang..."287 (Terjemahan: "Tapi saat saya bertemu dengan Mama, Mama Cianting tidak menyalahkan saya. Mama Cianting tidak bertanya berapa banyak utang saya. Yang Mama Cianting tanyakan adalah, 'Apakah kamu sudah sholat? Sudah makan?' Saya dirangkul dan diberi makanan...")

Narasi tentang tindakan welas asih ini, yang menyebar di kalangan jamaah, membangun citra dan ekspektasi bahwa majelis ini adalah ruang aman yang memanusiakan. Bahkan, ketegasan Mama Cianting pun dimaknai sebagai bentuk kasih sayang. Sebagaimana dituturkan oleh Dedi mengenai ketegasan Mama Cianting dalam masalah shalat:

"Ketegasan Mama téh... bentuk kanyaahna nu paling jero. Siga kolot ka anakna. Lamun anakna rek nyabak seuneu, nya pasti digentak, dicaram tarik, sanes diusapan."288 (Terjemahan: "Ketegasan Mama itu adalah bentuk kasih sayangnya yang paling dalam. Seperti seorang orang tua kepada anaknya. Jika anaknya hendak menyentuh api, tentu saja Mama Cianting akan menegur, bukan sekadar membiarkan.")

287 Focus Group Discussion dengan Jamaah Senior, oleh penulis, Cianting, 09 Desember 2024. 288 Wawancara dengan Dedi, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025.

Melalui orkestrasi berbagai narasi ini—tentang keluarga, keadilan sosial, welas asih, hingga "kasih sayang yang tegas"—Mama Cianting berhasil menjadikan dimensi humanisasi bukan hanya sebagai materi kajian, tetapi sebagai ruh dan budaya yang hidup, dirasakan, dan dipraktikkan oleh komunitasnya. Implementasi nilai-nilai kemanusiaan ini secara efektif menciptakan ikatan sosial yang kuat di antara jamaah, menjadikan mereka tempat yang saling mendukung dan berbagi satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan. e. Artikulasi Dimensi Liberasi (Nahi munkar) melalui Narrative Rationality Dimensi liberasi, atau pembebasan, dalam retorika profetik Mama Cianting sering diartikulasikan melalui pilar pathos. Mama Cianting memahami bahwa untuk mengajak jamaah meninggalkan kebiasaan yang salah (nahi munkar) atau membongkar pemahaman yang kaku, pendekatan yang bersifat konfrontatif dan logis semata seringkali akan ditolak. Oleh karena itu, Mama Cianting secara mahir menggunakan narasi dan daya tarik emosional untuk menciptakan sebuah "ruang aman" di mana jamaah dapat merefleksikan dan mengoreksi diri mereka sendiri tanpa merasa dihakimi. Temuan penelitian mengidentifikasi beberapa strategi naratif utama yang digunakan untuk tujuan liberasi ini.

Strategi pertama adalah penggunaan narasi re-interpretasi untuk membebaskan jamaah dari tekstualisme yang kaku dan berbahaya. Saat dihadapkan pada teks-teks agama yang secara literal berpotensi dipahami dengan keras, Mama Cianting tidak menghindarinya. Sebaliknya, Mama Cianting membawa teks tersebut ke tengah-tengah jamaah dan "menceritakan" proses interpretasi para ulama. Sebagaimana terekam dalam Observasi ke-2, saat membahas teks tentang hukuman bagi yang meninggalkan shalat, suasana sempat menjadi tegang. Mama Cianting kemudian menenangkan jamaah dengan narasi pencerahan:

"Aya teks dina kitab ieu nyebutkeun 'dibunuh saja nu tara sholat.' Nah, ieu kedah dijelaskeun ku cara nu bener. Maksudna lain dibunuh sacara literal, tapi dijelaskeun ku para ulama yén ieu teh penekanan betapa wajibna sholat... Sama halna jeung hadits ngeunaan nu tara ka masjid rumahna dibakar - ieu oge lain literal."289 (Terjemahan: "Ada teks dalam kitab ini yang menyebutkan 'dibunuh saja yang meninggalkan shalat.' Nah, ini harus dijelaskan dengan cara yang benar. Maksudnya bukan dibunuh secara literal, tetapi dijelaskan oleh para ulama bahwa ini adalah penekanan betapa wajibnya shalat... Sama halnya dengan hadits tentang yang tidak pergi ke masjid rumahnya dibakar - ini juga bukan literal.")

Dengan menarasikan adanya proses penafsiran oleh para ulama, Mama Cianting secara efektif membebaskan jamaah dari pemahaman yang sempit dan berpotensi menimbulkan pemikiran ekstrem. Narasi ini memberikan "izin" intelektual dan spiritual bagi jamaah untuk memeluk pemahaman Islam yang lebih kontekstual dan welas asih.

Kedua, penggunaan narasi peringatan eskatologis (fear appeal) untuk membebaskan jamaah dari praktik yang merugikan. Untuk topiktopik yang telah menjadi kebiasaan buruk di masyarakat, seperti dalam fiqih muamalah, Mama Cianting menggunakan pathos berupa rasa takut akan pertanggungjawaban di akhirat. Mama Cianting membangun narasinya secara bertahap, dimulai dari contoh yang sangat dekat dengan realitas jamaah:

"'Meuli lauk di jero cai...' Urang nebak-nebak, padahal teu apal laukna sabaraha, ukuranna kumaha. Ieu panto gerbang nuju kana riba!"290 (Terjemahan: "'Membeli ikan di dalam air...' Kita hanya menebaknebak, padahal tidak tahu ikannya berapa, ukurannya bagaimana. Ini adalah gerbang menuju riba!")

289 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2). 290 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 5 Mei 2025 (Observasi ke-9).

Setelah membangun kesadaran akan masalah melalui vinyet naratif tersebut, Mama Cianting menguncinya dengan sebuah peringatan kuat yang menggugah:

"Kanjeng Nabi ngadawuh, 'Moal dugi kiamah, dugi ka satiap imah di dunia ieu keuna ku kekebulna riba.'"291 (Terjemahan: "Rasulullah bersabda, 'Tidak akan tiba hari kiamat hingga setiap rumah di dunia ini terkena kabut riba.'")

Narasi yang membangkitkan fear appeal ini berfungsi sebagai "syok terapeutik" yang bertujuan untuk mengguncang kenyamanan jamaah dalam praktik yang mereka anggap sudah biasa. Rasa takut yang ditimbulkan bukanlah untuk membuat putus asa, melainkan untuk memotivasi mereka agar segera mencari jalan keluar yang halal, membebaskan diri dari jerat ekonomi yang tidak syar’i.

Ketiga, narasi mediatif yang digunakan untuk membebaskan jamaah dari konflik sosial dan penyakit hati. Kekuatan narasi Mama Cianting juga digunakan untuk menyelesaikan konflik interpersonal di antara jamaah. Dalam diskusi kelompok, terungkap sebuah kisah tentang mediasi sengketa batas tanah. Alih-alih fokus pada aspek hukum formal, Mama Cianting justru membangun narasi tentang akar spiritual dari konflik tersebut. Sebagaimana dituturkan oleh H. Endang:

"Mama teh sanes ngan ngukur ulang taneuhna, tapi 'nyageurkeun' hatena heula. Mama Cianting ngajelaskeun panyakit cinta dunia, kurangna qana'ah. Hasilna, sanes ngan masalah batas tanah nu rengse, tapi dua pihak eta teh jadi silih hampura sareng akur deui."292 (Terjemahan: "Mama tidak hanya mengukur ulang tanah mereka, tetapi 'menyembuhkan' hati mereka terlebih dahulu. Mama Cianting menjelaskan penyakit cinta dunia dan kurangnya qana’ah. Hasilnya, bukan 291 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Mei 2025 (Observasi ke-10, Kajian Malam Minggu). 292 Focus Group Discussion dengan Jamaah Lintas Profesi, oleh penulis, Cianting, 15 Desember 2024. hanya masalah batas tanah yang terselesaikan, tetapi kedua pihak itu saling memaafkan dan berdamai kembali.")

Narasi yang berpusat pada "penyembuhan hati" ini berhasil membebaskan kedua pihak yang berkonflik, bukan hanya dari sengketa hukum, tetapi juga dari belenggu ego, keserakahan, dan permusuhan.

Keempat, penggunaan narasi personal dan humor sebagai sarana pembebasan dari ego dan rasa malu. Mama Cianting sering menggunakan kisah tentang kekurangannya sendiri atau humor untuk menciptakan suasana yang tidak menghakimi. Dengan berdialog tentang pengalaman pribadi, contohnya ketika ditegur oleh gurunya, Mama Cianting secara implisit membebaskan jamaah dari tuntutan untuk menjadi sempurna. Dalam wawancara, Mama Cianting menjelaskan bahwa humor digunakan sebagai metode untuk meruntuhkan "tembok isin" (dinding rasa malu), yang seringkali menjadi penghalang bagi seseorang untuk belajar atau mengakui kesalahan, terutama dalam topik-topik sensitif seperti fiqih keluarga:

"Supaya jamaah teu tegang. Mun sadayana teuing serius, teu asup. Tapi lamun dibarengan carita, eta bisa nyantol... Dakwah teh kudu saluyu jeung kabudayaan."293 (Terjemahan: "Agar jamaah tidak tegang. Jika semuanya terlalu serius, mereka tidak akan menyerap. Tetapi jika dibarengi dengan cerita, itu bisa 'menempel'... Dakwah harus sesuai dengan budaya.")

Dengan humor, "tembok isin" jamaah diruntuhkan, dan mereka dibebaskan untuk belajar tentang topik-topik sensitif tanpa merasa dihakimi.

Melalui berbagai strategi naratif ini, pathos tidak hanya berfungsi untuk menyentuh hati tetapi juga menjadi alat yang sangat efektif untuk membongkar, mengoreksi, dan membebaskan jamaah dari berbagai 293 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025. belenggu—baik itu belenggu pemikiran yang sempit, kebiasaan yang salah, konflik interpersonal, maupun ego dan rasa malu. Dengan menggabungkan elemen-elemen ini, Mama Cianting berhasil menciptakan sebuah ruang yang aman dan kondusif bagi jamaah untuk berefleksi, belajar, dan tumbuh secara spiritual. Dalam konteks ini, liberasi bukan hanya sekadar konsep, tetapi menjadi sebuah proses dinamis yang menghargai martabat manusia dan memperkuat hubungan sosial dalam komunitasnya. f. Artikulasi Dimensi Transendensi (tu’minuna billah) melalui Narrative Rationality Dimensi transendensi merupakan inti dari dakwah profetik yang berfokus pada penanaman iman kepada Allah, kesadaran akan hari akhir, dan penghayatan terhadap realitas spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sering kali menjadi tantangan dalam komunikasi, mengingat abstraknya konsep-konsep ini. Namun, Mama Cianting menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengartikulasikan dimensi ini melalui penggunaan pathos yang kuat, menggiring jamaah untuk merasakan kedekatan spiritual dalam keseharian mereka. Ketika Mama Cianting bercerita, setiap kisah menjadi jendela yang memperlihatkan bagaimana interaksi antara amalan manusia di dunia dan respon dari alam spiritual berjalan beriringan.

Salah satu strategi naratif yang paling efektif adalah penggunaan narasi interaktif dengan dunia gaib. Mama Cianting seringkali mengisahkan hubungan timbal balik antara tindakan manusia di dunia nyata dengan respons yang datang dari alam spiritual. Dalam salah satu ceritanya yang terkenal, Mama Cianting menyampaikan tentang bagaimana setiap amal baik, bahkan yang terkecil sekalipun, dicatat dan dilaporkan oleh malaikat kepada Rasulullah ‫ﷺ‬. Hal ini menjadikan konsep pahala dan syafaat terasa personal bagi jamaah.

"Dina hiji riwayat disebatkeun, satiap aya umat Nabi Muhammad nu ngamalkeun sunnah, sanaos ngan sunnah lebet ka WC, 'serepet' malaikat teh hiber ngalaporkeun ka Kanjeng Nabi..."294 (Terjemahan: "Dalam satu riwayat disebutkan, setiap kali ada umat Nabi Muhammad yang mengamalkan sunnah, meskipun hanya sunnah saat masuk WC, malaikat terbang melaporkan kepada Kanjeng Nabi...")

Kisah ini tidak hanya menghadirkan rasa haru, tetapi juga menanamkan kesadaran transenden bahwa setiap tindakan, meskipun bersifat pribadi, memiliki makna di hadapan Allah. Dengan menyoroti bahwa tindakan sepele seperti masuk WC dengan cara yang benar disaksikan oleh malaikat, Mama Cianting memberikan dorongan emosional yang kuat untuk jamaah agar lebih berhati-hati dalam menjalankan sunnah. Motivasi yang lahir dari keinginan untuk menggembirakan Nabi menjadi penggerak yang lebih kuat dibandingkan sekadar anjuran normatif untuk menjalankan tata cara ibadah.

Konsekuensi spiritual di dunia nyata juga menjadi tema sentral dalam narasi Mama Cianting. Mama Cianting kerap mengingatkan jamaah bahwa hukum dan adab yang ditetapkan Allah bukan hanya relevan di akhirat, tetapi juga berdampak signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kisah yang menggugah adalah mengenai seorang jamaah yang jatuh sakit setelah mengambil batu dari Tanah Arafah.

"Aya hiji jalmi, balik ti Mekah. Anjeunna nyandak tilu siki batu ti Arafah, niatna kanggo kenang-kenangan... Saatos batu eta dikembalikan, dinten eta keneh anjeunna langsung cageur."295 (Terjemahan: "Ada seorang lelaki yang pulang dari Mekah. Dia membawa tiga biji batu dari Arafah, berniat untuk kenang-kenangan. Setelah batu itu dikembalikan, hari itu juga dia sembuh.")

294 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 28 Januari 2025. 295 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 21 April 2025 (Observasi ke-7, Konteks Syawal).

Kisah ini bukan hanya berfungsi sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga kesakralan tempat yang ditentukan Allah, tetapi juga mengilustrasikan sebuah "hukum alam spiritual" yang mengatur hidup manusia. Dengan mengisolasi konsep hurmah (kesakralan) Tanah Haram dan mengaitkannya dengan pengalaman langsung dari jamaah, Mama Cianting berhasil menciptakan kesadaran yang mendalam tentang betapa pedihnya akibat pelanggaran spiritual. Pendekatan ini menciptakan rasa waspada yang berkelanjutan dalam hati jamaah, seolah-olah melibatkan mereka dalam hubungan dinamis dengan hukum-hukum Allah.

Selanjutnya, Mama Cianting juga menggunakan narasi untuk mengorientasikan fokus jamaah dari masalah duniawi menuju solusi transendental. Dalam situasi di mana jamaah menghadapi kesulitan, Mama Cianting tidak sekadar memberikan solusi praktis, melainkan mendorong mereka untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Allah. Dalam satu kesempatan, Mama Cianting mengingatkan Pak Heri yang sedang terlilit utang dengan pernyataan yang penuh kekuatan emosional:

"'Tong sieun ku hutang, sieun mah ku teu gaduh Gusti Allah. Hayu urang sholat heula, urang ngadu ka Mantenna'."296 (Terjemahan: "'Jangan takut pada utang, takutlah jika kamu tidak memiliki Allah. Mari kita shalat terlebih dahulu, kita mengadu kepadaNya.'")

Dengan menyentuh aspek emosional dan spiritual, pernyataan ini bukan sekadar mengalihkan perhatian dari beban finansial, tetapi secara efektif menyelaraskan prioritas jamaah: hubungan dengan Allah harus menjadi landasan dalam menghadapi setiap problematika hidup. Melalui pendekatan ini, Mama Cianting menunjukkan kepada jamaah bahwa kekuatan iman dan doa dapat mengatasi rasa takut dan cemas yang sering kali menghantui pikiran mereka.

296 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 5 Mei 2025 (Observasi ke-9).

Kita juga dapat melihat bagaimana narasi-narasi Mama Cianting memberikan ganjaran spiritual dari amalan sehari-hari. Mama Cianting secara konsisten menghubungkan tindakan duniawi yang sederhana dengan respons dari alam spiritual. Saat menekankan pentingnya adab, Mama Cianting menceritakan bahwa setiap amalan, bahkan minum air dengan cara yang baik, dapat merahmati peminumnya di akherat:

"Ceuk ulama dina kitab Faidhul Qadir, cai anu ku urang diinum bari nuturkeun sunnah Nabi eta... engke di poe kiamat eta cai teh bakal ngomong ka Allah..."297 (Terjemahan: "Menurut ulama dalam kitab Faidhul Qadir, air yang kita minum sambil mengikuti sunnah Nabi itu... di hari kiamat, air tersebut akan berbicara kepada Allah...")

Melalui semua narasi ini, Mama Cianting membangun pemahaman yang lebih dalam bahwa dimensi transendensi bukanlah sekadar doktrin jauh yang harus diikuti, tetapi menjadi realitas hidup yang intim dan interaktif. Setiap kisah yang Mama Cianting ceritakan memberi kesempatan kepada jamaah untuk merenungkan dan merasakan kedekatan mereka dengan Allah, memperkuat ikatan iman dalam diri mereka. Dengan menghidupkan esensi transendensi, Mama Cianting menciptakan momenmomen spiritual yang menjadikan ajaran agama tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai pemandangan hidup yang menyehatkan jiwa dan memberikan kebahagiaan sejati.

Kemampuan untuk menanamkan kesadaran transenden yang mendalam ini, yang dicapai melalui kombinasi kisah menyentuh dan penjelasan relevan, menjadi puncak yang menunjukkan bagaimana keseluruhan pilar pathos berfungsi. Analisis terhadap implementasi aspek pathos secara keseluruhan menunjukkan bahwa pilar ini memang berfungsi sebagai "mesin" emosional utama dalam retorika profetik Mama 297 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Februari 2025 (Observasi ke-3).

Cianting. Melalui penggunaan narasi yang memiliki coherence dan fidelity yang tinggi , ia secara strategis mengorkestrasi sebuah perjalanan emosional bagi jamaahnya. Ia tidak hanya bercerita, tetapi secara aktif menggunakan kisah, humor, dan sentuhan empati untuk mencapai tujuantujuan profetik yang spesifik: untuk tujuan humanisasi dengan membangkitkan empati dan kehangatan komunal; untuk tujuan liberasi dengan menciptakan ruang aman bagi refleksi dan koreksi diri; dan puncaknya, untuk tujuan transendensi dengan mengubah doktrin abstrak menjadi pengalaman spiritual yang intim dan dirasakan.

Jika ethos membangun fondasi kepercayaan yang membuat jamaah mau mendengar, maka pathos adalah jembatan yang membawa pesan dari telinga ke dalam hati, memastikan pesan tersebut tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati. Dengan hati yang telah terbuka dan siap menerima, pilar retorika ketiga, yaitu logos, kini dapat bekerja secara optimal untuk menstrukturkan pemahaman dan memberikan panduan yang logis bagi jamaah.

3. Implementasi Aspek Logos melalui Audience Adaptation dalam

Dakwah Mama Cianting Setelah membangun fondasi kepercayaan (ethos) dan menyentuh dimensi emosional (pathos), pilar ketiga yang menyempurnakan arsitektur retorika profetik Mama Cianting adalah logos. Logos dalam konteks ini tidak merujuk pada argumentasi filosofis yang rumit, melainkan pada penggunaan logika, struktur, dan adaptasi pesan yang cerdas untuk memastikan ajaran dapat diterima, dipahami, dan diamalkan oleh audiens yang sangat beragam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kekuatan logos Mama Cianting tidak terletak pada kompleksitas argumennya, melainkan pada kemampuannya yang luar biasa dalam melakukan adaptasi audiens (audience adaptation). Mama Cianting secara konsisten "menjemput" jamaah di level pemahaman mereka, menggunakan logika yang membumi, dan menyusun pesan dengan cara yang paling relevan dengan realitas kehidupan mereka.

Untuk membedah fenomena ini, penelitian ini merujuk pada pendekatan Retorika Baru (The New Rhetoric) dari Perelman dan OlbrechtsTyca, yang menekankan bahwa sebuah argumen hanya akan efektif jika ia beresonansi dengan kerangka berpikir audiens partikular. Mama Cianting secara intuitif maupun terencana mempraktikkan prinsip ini dengan sangat mahir. Mama Cianting menunjukkan kesadaran yang tinggi bahwa pesan yang sama mungkin perlu "dibungkus" secara berbeda untuk audiens yang berbeda, dan bahwa solusi keagamaan harus disajikan dengan alur yang logis dan dapat diterapkan.

Bagian ini akan memaparkan temuan-temuan kunci mengenai bagaimana Mama Cianting mengimplementasikan logos adaptif dalam dakwahnya. Pertama, akan diurai bagaimana Mama Cianting secara strategis mengadaptasi pesan dan framing untuk menjangkau kelompok audiens yang berbeda, seperti pemuda dan orang tua. Kedua, akan dianalisis pola-pola argumentasi dan logika yang secara konsisten Mama Cianting gunakan, seperti prinsip "Fardhu 'Ain First" dan struktur "ProblemSolution". Ketiga, akan ditelaah bagaimana Mama Cianting menggunakan teknik identifikasi melalui bahasa dan contoh-contoh lokal untuk membangun rasa kesamaan (consubstantiality) dengan jamaahnya. a. Strategi Adaptasi Pesan Kepada Jamaah Adaptasi pesan dalam dakwah Mama Cianting merepresentasikan epistemologi komunikasi keagamaan yang kompleks dan dinamis, melampaui sekadar teknik retorika konvensional. Kemampuannya mentransformasi pesan spiritual tidak hanya bergantung pada pemahaman tekstual, melainkan pada kesadaran mendalam terhadap kompleksitas psikologis, sosial, dan kultural jamaahnya.

Kompleksitas ini pertama kali terungkap dalam strategi demografis yang canggih. Dalam dua sesi kajian berturut-turut dengan tema identik "Adab Sebelum Tidur", Mama Cianting mendemonstrasikan kemampuan menterjemahkan pesan universal ke dalam kerangka makna yang berbeda secara diametral. Pada kajian malam Minggu untuk pemuda, tema dibingkai sebagai "ilmu kasalametan" dengan narasi spiritual-maskulin:

"Setiap peuting teh ruh urang kaluar tina jasad. Urang teh teu daya teu upaya. Loba gangguan, ti jin, ti setan... Tah, Rasulullah ‫ ﷺ‬tos masihan urang 'benteng pertahanan' anu ampuh. Gratis, tapi leuwih hebat tibatan satpam mana wae."298 (Terjemahan: "Setiap malam jiwa manusia akan keluar dari raganya. Manusia tidak berdaya. Banyak gangguan dari jin dan setan... Rasulullah ‫ﷺ‬ telah memberikan kita 'benteng pertahanan' yang ampuh. Gratis, namun lebih hebat daripada satpam mana pun.")

Kontras dengan pendekatan sebelumnya, pada kajian Senin pagi untuk orang tua, tema sama dimaknai ulang menjadi "instrumen pendidikan keluarga":

"Ieu sanes 'benteng diri' deui, tapi 'ilmu pendidikan' anu wajib ku urang diajarkeun ka murangkalih di bumi... Sateuacan anak urang sare, ulah ngan dipasihan HP... Pangku, ajarkeun wudhu, bimbing maca 3 Qul..."299 (Terjemahan: "Ini bukan lagi 'benteng diri', melainkan 'ilmu pendidikan' yang wajib kita ajarkan kepada anak-anak di muka bumi... Sebelum anak kita tidur, jangan sekadar memberi HP... Peluk, ajarkan wudhu, bimbing membaca 3 Qul...")

Filosofi di balik adaptasi ini terletak pada kesadaran fundamental yang diungkapkan Mama Cianting sendiri: "Substansina sami, 'bungkusna' nu dirobih saluyu sareng saha nu diajak nyarios" (Substansinya sama, 'bungkusnya' yang diubah sesuai dengan siapa yang diajak berbicara).

298 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Mei 2025 (Observasi ke-10, Kajian Malam Minggu). 299 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 12 Mei 2025 (Observasi ke-11).

Adaptasi kontekstual menjadi mekanisme kedua yang menunjukkan fleksibilitas intelektualnya. Selama Ramadhan, misalnya, tema ekonomi (kasab) ditransformasi menjadi bentuk "jihad spiritual" dalam berpuasa. Pembahasan muamalah tidak sekadar normatif, tetapi dikaitkan langsung dengan momentum zakat dan realitas ekonomi jamaah.

Dalam wawancara mendalam, Mama Cianting menegaskan prinsip fundamental adaptasinya:

"Dina panggung-panggung ge, dina rotinan-rotinan... sok fardu ain heula: bab wudhu, bab sholat... Entong nyaritakeun sunnat-sunnat, fardunya belum tahu, farduna masyarakat teu apaleun."300 (Terjemahan: "Di panggung mana pun, dalam rutinitas apa pun... utamakan fardhu 'ain dulu: masalah wudhu, masalah sholat... Jangan membahas sunnah-sunnah kalau fardhu belum dipahami, fardhu masyarakat belum paham.")

Kesadaran metodologis ini diperkuat oleh berbagai kesaksian jamaah. Ustadz Jajang mengungkapkan transformasi pemikirannya: "Dulu saya pikir Islam hanya soal hitam-putih. Dari Mama, saya belajar bahwa dalam setiap hukum ada hikmah yang lebih komprehensif."301 Adaptasi linguistik multilapis mengonfirmasi kecanggihan pendekatan Mama Cianting. Mama Cianting mahir menggunakan tiga lapis bahasa: Bahasa Arab untuk otentisitas teks, logat Sunda pesantren untuk penerjemahan literal, dan bahasa Sunda komunikatif untuk penjelasan substantif.

Pembumian konsep melalui contoh konkret menjadi strategi kunci yang membedakan dakwahnya. Dalam kajian fiqih muamalah, Mama Cianting tidak sekadar berbicara tentang konsep abstrak, tetapi langsung menggunakan contoh dari profesi lokal:

300 Wawancara awal dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 3 September 2024. 301 Focus Group Discussion dengan Jamaah Senior, oleh penulis, Cianting, 09 Desember 2024.

"Upamana tukang panjat kalapa, upahna ulah ku kalapana langsung... akad heula upahna: 'Mang, upah manjat teh lima puluh rebu.' Saatos anjeunna turun, pasihan artosna..."302 (Terjemahan: "Misalnya tukang panjat kelapa, upahnya jangan langsung dari kelapa... tentukan dulu upahnya: 'Mas, upah memanjat ini lima puluh ribu.' Setelah dia turun, baru berikan uangnya...")

Endang, seorang pedagang, mengungkapkan transformasi praktis: "Setelah rutin ikut pengajian Mama, cara saya berdagang berubah total... Sekarang saya lebih memperhatikan kejujuran, kebersihan, dan keberkahan." Pada tataran filosofis, adaptasi pesan Mama Cianting merepresentasikan sebuah paradigma dakwah yang melampaui pendekatan normatif-dogmatis. Mama Cianting tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi menciptakan ruang dialogis di mana kebenaran spiritual dapat dipahami, dimaknai ulang, dan diinternalisasi sesuai konteks individual.

Signifikansi temuan ini terletak pada model dakwah yang responsif, dialogis, dan transformatif—sebuah epistemologi komunikasi keagamaan yang menempatkan jamaah sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek pasif dari transmisi pengetahuan spiritual. b. Penggunaan Logika dan Argumentasi dalam Dakwah Aspek logos dalam retorika profetik Mama Cianting tidak hanya termanifestasi dalam kemampuannya beradaptasi dengan audiens, tetapi juga dalam struktur argumentasi dan pola logika yang Mama Cianting gunakan secara konsisten. Logika yang Mama Cianting bangun bukanlah logika formal yang rumit dan berjarak, melainkan sebuah penalaran yang bersifat praktis, hierarkis, dan sangat relevan dengan kerangka berpikir jamaahnya. Hal ini memungkinkan pesan-pesan yang kompleks dapat diterima secara rasional oleh audiens yang heterogen. Analisis terhadap data 302 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 17 Februari 2025 (Observasi ke-4). observasi dan wawancara mengidentifikasi setidaknya empat pola argumentasi utama yang menjadi ciri khas dakwah Mama Cianting.

Pertama, Logika Prioritas "Fardhu 'Ain First" sebagai Kerangka Utama Kurikulum Dakwah. Ini adalah pola logika paling fundamental yang mendasari seluruh struktur materi dakwah Mama Cianting. Mama Cianting secara sistematis membangun pemahaman jamaah dari fondasi yang paling dasar sebelum beralih ke cabang-cabang ilmu lainnya. Prinsip ini Mama Cianting tegaskan secara langsung dalam wawancara, yang menjadi justifikasi utama dari pilihan konten dakwahnya:

"Entong nyaritakeun sunnat-sunnat, fardunya belum tahu, farduna masyarakat teu apaleun."303 (Terjemahan: "Jangan menceritakan hal-hal sunnah, (sementara) fardhunya belum tahu, fardhunya masyarakat tidak hafal.")

Logika hierarkis ini sering Mama Cianting sampaikan dalam bentuk peringatan yang lugas dan mudah diingat, yang menekankan bahwa kesalehan spiritual harus dibangun di atas fondasi ritual yang benar. Sebagaimana yang Mama Cianting sampaikan dalam salah satu ceramahnya:

"Percuma berbicara tentang tasawuf tingkat tinggi jika cara wudhu saja masih salah. Percuma berbicara tentang politik Islam jika shalat lima waktu masih bolong-bolong."304 Pola pikir ini dipraktikkan secara nyata. Dalam Observasi ke-5, setelah berhasil membangun atmosfer emosional yang mendalam tentang bakti pada orang tua, Mama Cianting secara tak terduga melakukan sebuah "interupsi logis" untuk kembali menekankan pentingnya shalat. Mama Cianting berargumen bahwa semua amal sosial tersebut tidak akan bernilai 303 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 12 Agustus 2024 (Observasi ke-1). 304 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 3 Maret 2025 (Observasi ke-5, Konteks Ramadhan). jika "tiangnya rubuh," yaitu shalat. Ini menunjukkan sebuah disiplin logis yang sangat ketat dalam memprioritaskan ajaran.

Kedua, Argumentasi Berbasis Kausalitas Spiritual (Sebab-Akibat). Mama Cianting sangat efektif dalam membangun argumen dengan menjelaskan hubungan sebab-akibat antara sebuah amalan dengan konsekuensi spiritualnya. Pola ini membuat konsep-konsep gaib menjadi terasa logis dan nyata. Dalam kisah "Batu Arafah", alur logisnya sangat jelas: sebab (mengambil batu dari Tanah Haram) menghasilkan akibat (sakit misterius), dan sebab (mengembalikan batu tersebut) menghasilkan akibat (kesembuhan). Mama Cianting juga membangun argumen kausalitas yang lebih langsung dalam bentuk proposisi "jika-maka" yang diulang-ulang, seperti: "jika seseorang menyakiti hati ibunya, maka ibadahnya tidak akan diterima," atau "jika seseorang minum dengan adab sunnah, maka air tersebut akan menjadi saksi yang memohonkan ampun." Dengan secara konsisten menyajikan hubungan sebab-akibat ini, Mama Cianting membangun sebuah kerangka berpikir di benak jamaah bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi logis dalam "neraca" spiritual mereka.

Ketiga, Pola Argumentasi Solutif ("Problem-Solution"). Logos dalam dakwah Mama Cianting bersifat konstruktif dan memberdayakan. Mama Cianting memiliki pola yang jelas: mengidentifikasi sebuah masalah (problem) yang lazim di masyarakat, menjelaskan kekeliruannya secara syar'i, lalu memberikan langkah-langkah solusi (solution) yang jelas dan praktis. Pola ini tidak hanya berlaku pada ranah muamalah, seperti solusi akad untuk "tukang panjat kalapa", tetapi juga pada resolusi konflik sosial. Sebagaimana dituturkan oleh jamaah senior dalam FGD:

"Abdi kantos nyaksian kasus dua jamaah anu pasalia paham soal batas tanah... Mama teh sanes ngan ngukur ulang taneuhna, tapi 'nyageurkeun' hatena heula. Mama Cianting ngajelaskeun panyakit cinta dunia, kurangna qana'ah."305 305 Focus Group Discussion dengan Jamaah Senior, oleh penulis, Cianting, 09 Desember 2024. (Terjemahan: "Saya pernah menyaksikan kasus dua jamaah yang berselisih paham soal batas tanah... Mama itu bukan hanya mengukur ulang tanahnya, tapi 'menyembuhkan' hatinya dulu. Mama Cianting menjelaskan penyakit cinta dunia, kurangnya rasa puas.")

Logika solutif di sini adalah mengidentifikasi bahwa akar masalahnya bukanlah teknis, melainkan spiritual. Dengan demikian, argumen yang Mama Cianting bangun bersifat holistik dan membuat jamaah merasa dibimbing menuju jalan keluar, bukan dihakimi.

Keempat, Logika Analogi sebagai Alat Penjelasan. Analogi dan metafora yang digunakan Mama Cianting tidak hanya berfungsi sebagai pemanis retoris (pathos), tetapi juga sebagai kerangka kerja logis (logos) untuk memahami konsep yang rumit. Selain analogi "rumah" untuk menjelaskan Rukun dan Wajib Haji, Mama Cianting juga menggunakan analogi "dokter" untuk menjelaskan strategi dakwahnya yang menyeimbangkan kritik dan solusi:

"Tugas dai teh siga dokter. Sateuacan masihan ubar nu pait (kritik), pasienna kedah dipikanyaah heula... Tapi saatos eta, wajib langsung dipasihan resep ubarna (solusi nu leres)."306 (Terjemahan: "Tugas dai itu seperti dokter. Sebelum memberikan obat yang pahit (kritik), pasiennya harus disayangi dulu... Tapi setelah itu, wajib langsung diberikan resep obatnya (solusi yang benar).")

Mama Cianting juga menggunakan analogi "tasbih" untuk menjelaskan logika tauhid, di mana semua amalan, baik besar maupun kecil, terangkai dalam satu "tali takwa" kepada Allah. Analogi-analogi ini berfungsi sebagai model mental yang disederhanakan, membantu jamaah untuk menstrukturkan pemahaman mereka terhadap topik-topik yang kompleks.

306 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Februari 2025 (Observasi ke-3).

Secara keseluruhan, penggunaan logika dan argumentasi dalam dakwah Mama Cianting menunjukkan sebuah pendekatan yang terstruktur, hierarkis, kausal, dan solutif. Mama Cianting tidak mengandalkan satu jenis penalaran, melainkan mengkombinasikan berbagai pola argumen untuk membangun sebuah bangunan dakwah yang kokoh secara intelektual namun tetap dapat dijangkau oleh seluruh lapisan jamaahnya. c. Teknik Identification dan Consubstantiality dengan Audiens Efektivitas logos dalam retorika Mama Cianting tidak hanya berhenti pada adaptasi pesan dan argumentasi yang logis, tetapi juga disempurnakan oleh kemampuannya yang luar biasa dalam membangun identifikasi (identification) dengan jamaah. Merujuk pada teori retorika Kenneth Burke, identifikasi adalah proses di mana seorang pembicara secara strategis membangun rasa kesamaan—baik dalam bahasa, nilai, maupun pengalaman—dengan audiensnya. Ketika proses ini berhasil, akan tercapai sebuah kondisi consubstantiality, di mana audiens merasa bahwa sang dai bukan lagi "orang lain", melainkan "salah satu dari kita". Temuan penelitian menunjukkan Mama Cianting menggunakan setidaknya empat teknik utama untuk mencapai kondisi ini.

Pertama, identifikasi linguistik melalui penggunaan Bahasa Sunda sebagai perekat komunal. Pilihan Mama Cianting untuk secara dominan menggunakan Bahasa Sunda dalam setiap kajiannya adalah sebuah tindakan retoris yang fundamental. Ini lebih dari sekadar alat untuk mempermudah pemahaman; ini adalah cara untuk membangun identitas komunal sebagai sesama urang Sunda. Penggunaan dialek dan idiom lokal secara langsung meruntuhkan jarak psikologis dan menciptakan suasana yang akrab dan hangat. Keberhasilan strategi ini bahkan dirasakan oleh jamaah muda nonsantri seperti Iqbal, yang menyatakan:

"Kirain bakal pabeulit ku istilah Arab. Tapi penjelasan Mama mah sederhana pisan, langsung kana intina."307 307 Focus Group Discussion dengan Generasi Muda, oleh penulis, Cianting, 10 Mei 2025. (Terjemahan: "Kirain bakal rumit dengan istilah Arab. Tapi penjelasan Mama itu sederhana sekali, langsung ke intinya.")

Ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa lokal yang dikemas dengan sederhana berhasil menciptakan rasa nyaman dan mudah diterima, sebuah fondasi bagi identifikasi.

Kedua, identifikasi experiensial melalui penggunaan contoh dari realitas jamaah. Mama Cianting secara konsisten "turun" ke dalam dunia kehidupan audiensnya dengan mengangkat contoh-contoh yang sangat relevan dengan keseharian mereka. Mama Cianting tidak berbicara dari menara gading keilmuan, melainkan dari pemahaman mendalam terhadap realitas petani, pedagang, dan buruh. Saat membahas fiqih muamalah, misalnya, Mama Cianting tidak menggunakan contoh-contoh dari kitab yang asing, melainkan dari praktik yang ada di depan mata mereka:

"Upamana tukang panjat kalapa, upahna ulah ku kalapana langsung... akad heula upahna..." (Terjemahan: "Misalnya tukang panjat kelapa, upahnya jangan langsung dari kelapa... tentukan dulu upahnya...")

Dengan membahas "tukang panjat kelapa" atau "pedagang ikan di pasar", Mama Cianting secara efektif mengatakan kepada jamaahnya, "Saya melihatmu, saya memahami duniamu, dan ajaran ini adalah untukmu." Proses identifikasi melalui pengalaman bersama ini membuat ajaran yang Mama Cianting sampaikan terasa otentik dan membumi.

Ketiga, identifikasi sosial melalui praktik egaliter yang meruntuhkan hierarki. Salah satu teknik identifikasi non-verbal yang paling kuat adalah tradisi makan bersama setelah kajian. Sebagaimana teramati dalam berbagai sesi, Mama Cianting akan turun dari panggung dan makan nasi bungkus yang sama, duduk bersila di tengah-tengah jamaahnya tanpa perlakuan khusus. Praktik ini adalah sebuah pertunjukan retoris tentang kesetaraan dan kebersamaan. Hal ini diperkuat oleh kesaksian jamaah dalam FGD:

"Di dieu mah teu aya bedana si kaya si miskin, sadayana sami. Éta nu diajarkeun ku Mama teh."308 (Terjemahan: "Di sini tidak ada bedanya si kaya dan si miskin, semuanya sama. Itu yang diajarkan oleh Mama.") Dengan secara konsisten mempraktikkan egaliterianisme, Mama Cianting menciptakan sebuah consubstantiality di mana semua jamaah, termasuk dirinya, adalah bagian dari satu "keluarga besar" yang setara. Keempat, puncak identifikasi melalui pembangunan identitas spiritual bersama sebagai "Umat Rasulullah ‫"ﷺ‬. Di atas semua identitas (Sunda, petani, pedagang), Mama Cianting membangun satu identitas bersama yang paling tinggi dan paling mengikat, yaitu sebagai sesama pencinta Rasulullah ‫ﷺ‬. Ini dicapai melalui pembacaan shalawat yang konstan dan narasi-narasi yang membangkitkan cinta kepada Nabi. Kisah tentang "malaikat yang melapor kepada Nabi" secara efektif memposisikan semua orang di dalam ruangan, termasuk dirinya, sebagai umat yang tindakannya diperhatikan dan diapresiasi oleh Rasulullah. Ini menciptakan sebuah consubstantiality transenden yang sangat kuat, di mana ikatan di antara mereka bukan lagi sekadar ikatan sosial, melainkan ikatan spiritual dalam sebuah barisan yang sama di belakang panutan mereka, Nabi Muhammad ‫ﷺ‬. Melalui sinergi empat teknik identifikasi ini, Mama Cianting berhasil menciptakan sebuah hubungan yang sangat mendalam dengan jamaahnya. Mereka tidak hanya mendengarkan argumennya, tetapi merasa bahwa argumen tersebut datang dari seseorang yang memahami bahasa, pengalaman, dan nilai-nilai mereka. Kondisi consubstantiality inilah yang menjadi salah satu kunci utama dari keberhasilan logos dalam retorika profetiknya.

308 Focus Group Discussion dengan Jamaah Perempuan, oleh penulis, Cianting, 12 Mei 2025. d. Artikulasi Dimensi Humanisasi (Amar ma’ruf) melalui Audience Adaptation Dimensi humanisasi, yang berintikan pada semangat memuliakan manusia dan membangun hubungan sosial yang baik, secara sangat efektif diartikulasikan melalui pilar logos, khususnya melalui strategi adaptasi audiens (audience adaptation). Temuan penelitian menunjukkan bahwa bagi Mama Cianting, logika dalam berdakwah bukanlah tentang menyajikan argumen yang paling canggih secara filosofis, melainkan menyusun pesan yang paling bisa diterima dan dipahami oleh kondisi riil jamaahnya. Tindakan adaptasi ini, pada hakikatnya, adalah sebuah praktik humanisasi itu sendiri, karena ia menunjukkan penghargaan yang mendalam terhadap martabat, kapasitas, dan konteks kehidupan audiens.

Strategi pertama dan yang paling menonjol adalah adaptasi framing pesan sesuai dengan demografi audiens. Mama Cianting menunjukkan kecerdasan empatik yang luar biasa dalam "membungkus" materi yang sama dengan bingkai yang berbeda untuk kelompok yang berbeda. Bukti terkuat dari strategi ini terekam dalam perbandingan antara kajian Observasi ke-10 (malam Minggu) dan Observasi ke-11 (Senin pagi), di mana Mama Cianting membahas tema yang sama, yaitu "Adab Sebelum Tidur". Untuk audiens anak muda di malam Minggu, Mama Cianting membingkainya sebagai "benteng diri" dan "ilmu kasalametan" yang praktis dan memberdayakan. Namun, untuk audiens orang tua di Senin pagi, bingkainya diubah menjadi "ilmu pendidikan" untuk diajarkan kepada anak-anak di rumah. Dalam wawancara, Mama Cianting mengkonfirmasi strategi ini dengan analogi yang jelas:

"Substansina sami, 'bungkusna' nu dirobih saluyu sareng saha nu diajak nyarios."309 309 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 1 April 2025. (Terjemahan: "Substansinya sama, 'bungkusnya' yang diubah sesuai dengan siapa yang diajak bicara.")

Dengan menyesuaikan bingkai pesan, Mama Cianting tidak hanya membuat ajaran menjadi lebih relevan, tetapi juga secara aktif memvalidasi dan menghargai peran serta kekhawatiran yang berbeda dari setiap kelompok jamaah. Ini adalah bentuk humanisasi yang menghormati setiap individu dalam konteks kehidupannya masing-masing.

Kedua, adaptasi contoh dan bahasa untuk membumikan ajaran dalam realitas jamaah. Mama Cianting secara konsisten menggunakan contoh-contoh yang diambil langsung dari dunia kehidupan audiensnya. Hal ini membuat ajaran fiqih tidak terasa sebagai konsep asing yang "turun dari langit", melainkan sebagai panduan yang hidup dan relevan. Saat membahas fiqih muamalah, misalnya, Mama Cianting tidak menggunakan contoh transaksi perbankan syariah yang kompleks, melainkan kasus yang akrab di telinga para petani dan pedagang:

"Upamana tukang panjat kalapa, upahna ulah ku kalapana langsung... akad heula upahna..."310 (Terjemahan: "Misalnya tukang panjat kelapa, upahnya jangan langsung dari kelapa... tentukan dulu upahnya...")

Penggunaan Bahasa Sunda yang dominan juga merupakan bagian dari adaptasi yang memanusiakan ini. Dengan berbicara dalam bahasa ibu jamaahnya, Mama Cianting meruntuhkan jarak psikologis dan menciptakan suasana yang akrab dan egaliter, seolah seorang ayah sedang menasihati anak-anaknya.

Ketiga, adaptasi praktik sosial untuk membangun komunitas yang humanis. Logika adaptif Mama Cianting tidak berhenti pada level verbal, tetapi juga terwujud dalam praktik sosial yang memperkuat ikatan 310 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 1 April 2025. kemanusiaan. Tradisi makan bersama setelah pengajian adalah contoh utama. Ini adalah sebuah adaptasi terhadap budaya lokal Sunda yang komunal (sasarengan), yang kemudian diisi dengan nilai-nilai Islam. Praktik ini secara efektif menghapus hierarki dan membangun sebuah komunitas yang solid. Keberhasilan strategi ini terkonfirmasi dari kesaksian jamaah seperti Ibu Hj. Rohayati, yang merasakan langsung dampak dari komunitas yang suportif ini:

"Di dieu mah... tos jiga kulawarga. Aya waktosna murangkalih abdi panas tiris... tatanggi nu sami-sami ngaji di dieu langsung dongkap ka bumi. Aya nu nganteurkeun ka dokter, aya nu ngirim tuangeun..."311 (Terjemahan: "Di sini itu... sudah seperti keluarga. Ada waktunya anak saya demam tinggi... tetangga yang sama-sama mengaji di sini langsung datang ke rumah. Ada yang mengantarkan ke dokter, ada yang mengirim makanan...")

Dengan demikian, terbukti bahwa logos dalam dakwah Mama Cianting bukanlah sekadar logika yang dingin dan kaku. Ia adalah sebuah logika yang empatik dan adaptif. Melalui penyesuaian pesan, contoh, bahasa, dan praktik sosial yang terus-menerus, Mama Cianting menggunakan logos sebagai instrumen yang sangat kuat untuk mengartikulasikan dan mewujudkan visi profetiknya tentang sebuah masyarakat yang lebih manusiawi. e. Artikulasi Dimensi Liberasi (Nahi munkar) melalui Audience Adaptation Dimensi liberasi, yang memiliki semangat nahi munkar (mencegah kemungkaran), secara efektif diartikulasikan melalui logos yang bersifat adaptif dan solutif. Mama Cianting tidak mendekati proses liberasi ini dengan konfrontasi atau kritik yang berjarak, melainkan dengan membangun sebuah alur argumentasi yang logis dan disesuaikan dengan realitas jamaah. Tujuannya adalah untuk membimbing audiens agar mereka 311 Wawancara dengan Hj. Rohayati, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025. dapat secara sadar dan mandiri melepaskan diri dari praktik yang keliru atau pemahaman yang sempit. Temuan penelitian menunjukkan tiga strategi logika adaptif utama yang digunakan untuk mencapai tujuan liberasi ini.

Strategi pertama adalah penggunaan pola argumentasi solutif ("Problem-Solution") sebagai metode pembebasan praktis. Ini merupakan strategi logos yang paling menonjol dalam dakwah Mama Cianting, terutama saat membahas fiqih muamalah. Mama Cianting secara cerdas mengidentifikasi "masalah" atau praktik keliru yang lazim terjadi di komunitasnya, menjelaskan letak kesalahannya secara logis, lalu secara sistematis menyajikan "solusi" yang praktis dan sesuai syariat. Sebagaimana terekam dalam Observasi ke-6, saat membahas sistem upah untuk pemanjat kelapa, Mama Cianting memaparkan solusinya langkah demi langkah:

"Upamana tukang panjat kalapa, upahna ulah ku kalapana langsung... akad heula upahna: 'Mang, upah manjat teh lima puluh rebu.' Saatos anjeunna turun, pasihan artosna. Tah, saatos eta, lamun si mamangna hoyong meuli kalapa ku artos eta, mangga, eta akad jual beli nu anyar, sah!"312 (Terjemahan: "Misalnya tukang panjat kelapa, upahnya jangan langsung dari kelapa... tentukan dulu upahnya: 'Mas, upah memanjat ini lima puluh ribu.' Setelah dia turun, baru berikan uangnya. Nah, setelah itu, kalau si masnya ingin membeli kelapa dengan uang itu, silakan, itu akad jual beli yang baru, sah!")

Struktur argumen yang logis dan solutif ini sangat memberdayakan. Jamaah tidak hanya diberi tahu apa yang salah, tetapi juga dibekali dengan pengetahuan praktis untuk membebaskan diri dari transaksi yang berisiko tidak sah. Kesaksian dari Endang, seorang pedagang, yang mengubah total cara berdagangnya setelah mengikuti pengajian, menjadi bukti nyata dari dampak liberatif pendekatan ini.

312 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Maret 2025 (Observasi ke-6, Konteks Ramadhan).

Strategi kedua adalah penerapan logika prioritas sebagai upaya liberasi dari kelalaian fundamental. Prinsip "Fardhu 'Ain First" yang menjadi kerangka kurikulum dakwahnya adalah sebuah argumen logis yang bertujuan membebaskan jamaah dari risiko terbesar, yaitu invaliditas seluruh amal ibadah mereka akibat ketidaktahuan pada hal-hal pokok. Mama Cianting sering menegaskan logika ini dengan argumen kausalitas yang kuat:

"Percuma berbicara tentang tasawuf tingkat tinggi jika cara wudhu saja masih salah. Percuma berbicara tentang politik Islam jika shalat lima waktu masih bolong-bolong."313 Dengan secara logis memprioritaskan ajaran, Mama Cianting sedang melakukan proses liberasi yang paling mendasar: memastikan setiap jamaah terbebas dari "buta huruf" dalam kewajiban agamanya. Ini adalah pembebasan dari kelalaian yang bisa berakibat fatal secara spiritual.

Strategi ketiga adalah adaptasi gaya retoris sebagai pembebasan dari hambatan psikologis. Mama Cianting memahami bahwa salah satu penghalang terbesar bagi seseorang untuk berubah adalah faktor psikologis seperti rasa malu (isin), canggung, atau takut. Mama Cianting secara logis mengadaptasi gayanya untuk meruntuhkan tembok ini. Penggunaan humor saat membahas tema-tema sensitif seperti fiqih keluarga adalah sebuah pilihan logis untuk menciptakan suasana yang aman dan terbuka. Sebagaimana penjelasan Mama Cianting dalam wawancara, humor berfungsi untuk meruntuhkan "tembok isin" agar ilmu bisa masuk. Dengan demikian, adaptasi gaya ini secara efektif membebaskan jamaah dari rasa canggung yang menghalangi mereka untuk belajar dan memperbaiki diri. Demikian pula, pendekatan "motivasi, bukan interogasi" yang dirasakan oleh jamaah muda adalah adaptasi logis untuk membebaskan mereka dari 313 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 12 Agustus 2024 (Observasi ke-1). resistensi terhadap paksaan dan membimbing mereka menuju perubahan yang lahir dari kesadaran internal.

Secara kumulatif, logos yang adaptif ini menjadi instrumen liberasi yang sangat efektif. Dengan menyajikan argumen yang solutif, terprioritaskan, dan disampaikan dengan cara yang meruntuhkan hambatan psikologis, Mama Cianting tidak hanya sekadar "melarang kemungkaran", tetapi secara aktif memberikan jalan keluar yang logis dan memberdayakan bagi jamaahnya. f. Artikulasi Dimensi Transendensi (Tu’minuna billah) melalui Audience Adaptation Dimensi transendensi—yang merupakan inti dari keimanan (tu’minuna billah) dan orientasi hidup seorang Muslim kepada Allah— adalah sebuah konsep yang bersifat abstrak dan metafisik. Tantangan terbesar dalam retorika dakwah adalah bagaimana membuat konsep yang tidak terlihat ini menjadi "logis" dan dapat dipahami oleh akal jamaah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Mama Cianting secara efektif menggunakan pilar logos, khususnya melalui logika yang adaptif, untuk membangun jembatan rasional menuju pemahaman transendental. Ini dicapai melalui tiga strategi utama: penerapan logika prioritas untuk menegaskan hierarki spiritual, penggunaan logika analogi untuk memvisualisasikan konsep abstrak, dan adaptasi logika dalam konteks krisis personal.

Strategi pertama adalah penggunaan logika prioritas untuk menegaskan hierarki transenden. Prinsip "Fardhu 'Ain First" yang Mama Cianting terapkan bukan hanya strategi kurikulum, tetapi sebuah argumen logis yang sangat kuat tentang transendensi. Dengan secara konsisten menempatkan shalat sebagai fondasi utama di atas semua amalan sosial lainnya, Mama Cianting membangun sebuah logika bahwa hubungan vertikal dengan Allah adalah prasyarat absolut bagi validitas hubungan horizontal dengan sesama manusia. Dalam wawancara reflektifnya, saat ditanya mengenai warisan utama yang ingin ia tinggalkan, logika prioritas ini kembali ditegaskan sebagai tujuan puncaknya:

"Abdi mah hayang jamaah teh leres we sholatna. Ti dinya sadayana dimimitian. Sabab sholat teh tihangna agama. Lamun tihangna tos ajeg, rek ngawangun tembok silaturahmi, hateup akhlak, gampil."314 (Terjemahan: "Saya hanya ingin jamaah itu benar saja shalatnya. Dari situ semuanya dimulai. Sebab shalat itu tiangnya agama. Kalau tiangnya sudah tegak, mau membangun dinding silaturahmi, atap akhlak, akan mudah.")

Argumentasi hierarkis ini secara logis menempatkan Allah sebagai pusat dan tujuan dari segala amal, sebuah penegasan fundamental dari prinsip transendensi.

Strategi kedua adalah penggunaan logika analogi untuk "membumikan" konsep transenden yang kompleks. Mama Cianting sangat mahir dalam mengambil konsep spiritual yang abstrak dan mengemasnya dalam sebuah model mental yang logis dan mudah dipahami melalui analogi. Saat ditanya bagaimana Mama Cianting menghubungkan amalan besar (seperti haji) dengan amalan kecil (seperti adab minum), Mama Cianting menggunakan analogi "tasbih" untuk menjelaskan logika tauhid:

"Hirup teh ibarat tasbeh. Aya butiran nu leutik (adab WC), aya butiran nu gede (nikah), tapi sadayana dirangke ku hiji tali, nyaeta tali taqwa ka Allah. Abdi hoyong jamaah paham, taqwa teh... totalitas."315 (Terjemahan: "Hidup itu ibarat tasbih. Ada butiran yang kecil (adab WC), ada butiran yang besar (nikah), tapi semuanya dirangkai oleh satu tali, yaitu tali takwa kepada Allah. Saya ingin jamaah paham, takwa itu... totalitas.")

314 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 12 Agustus 2024 (Observasi ke-1). 315 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2).

Analogi ini berfungsi sebagai sebuah kerangka kerja logis yang kuat. Ia memungkinkan jamaah untuk memahami secara rasional konsep transenden bahwa tidak ada satu pun tindakan dalam hidup yang terlepas dari "tali" pengawasan dan penilaian Allah. Logika analogi ini membuat konsep tauhid yang holistik menjadi lebih terstruktur dan dapat dipahami.

Strategi ketiga adalah adaptasi logika dalam konteks krisis personal untuk mengarahkan kembali orientasi hidup. Logos adaptif Mama Cianting bersinar paling terang ketika digunakan untuk membimbing individu yang sedang menghadapi masalah. Mama Cianting mampu melakukan "pergeseran objek logis" untuk mengarahkan kembali fokus jamaah dari masalah duniawi ke solusi transendental. Hal ini terlihat jelas dalam nasihatnya kepada Pak Heri yang terlilit utang:

"'Tong sieun ku hutang, sieun mah ku teu gaduh Gusti Allah. Hayu urang sholat heula, urang ngadu ka Mantenna'." (Terjemahan: "'Jangan takut pada utang, takutlah karena tidak punya Allah. Ayo kita shalat dulu, kita mengadu pada-Nya'.")

Secara logis, Mama Cianting mengadaptasi argumennya dengan mengakui adanya rasa takut pada jamaah, namun Mama Cianting menggeser objek ketakutan tersebut dari yang bersifat material (utang) ke yang bersifat transenden (kehilangan hubungan dengan Allah). Intervensi logis yang singkat namun sangat kuat ini secara efektif mengartikulasikan bahwa solusi paling fundamental untuk setiap masalah adalah dengan memperbaiki hubungan vertikal kepada Tuhan.

Melalui sinergi ketiga strategi ini—logika prioritas, logika analogi, dan adaptasi logika kontekstual—Mama Cianting berhasil menggunakan pilar logos tidak hanya untuk mencerahkan akal, tetapi juga untuk membimbing hati menuju kesadaran transenden. Mama Cianting membuktikan bahwa untuk beriman pada yang gaib, manusia tetap membutuhkan jembatan penalaran yang kokoh dan dapat dipahami.

Kemampuan untuk membangun jembatan rasional menuju kesadaran transenden ini menjadi puncak yang menunjukkan bagaimana keseluruhan pilar logos dalam dakwah Mama Cianting berfungsi. Analisis menunjukkan bahwa logos yang ia praktikkan bukanlah logika formal yang kaku, melainkan sebuah logika adaptif yang empatik dan solutif. Melalui strategi adaptasi pesan yang menghargai realitas setiap audiens, pola argumentasi "Problem-Solution" yang memberdayakan, serta teknik identifikasi yang membangun rasa kebersamaan (consubstantiality), Mama Cianting secara efektif menggunakan logos sebagai instrumen utama untuk mencapai tujuan-tujuan profetik. Logikanya digunakan untuk memanusiakan dengan cara memahami dan memvalidasi audiens; untuk membebaskan dengan memberikan jalan keluar yang praktis dari kebingungan; dan untuk membimbing menuju transendensi dengan menyajikan kerangka berpikir yang menempatkan Allah sebagai pusat dari segala urusan. Dengan demikian, pilar ketiga ini telah melengkapi arsitektur retorika profetiknya, mempersiapkan jalan bagi sebuah sintesis akhir.

Analisis komprehensif terhadap hasil penelitian menunjukkan bahwa retorika profetik Mama Cianting bukanlah tiga pilar yang berdiri sendiri, melainkan sebuah "tali tiga jalinan" (three-stranded cord) yang terintegrasi secara sinergis. Ethos yang kokoh berfungsi sebagai fondasi kepercayaan yang memberikan "izin" bagi jamaah untuk membuka telinga dan hati mereka. Di atas fondasi ini, pathos bekerja sebagai mesin emosional yang membawa pesan dari akal ke dalam jiwa, memastikan ajaran tidak hanya dipahami tetapi juga dihayati. Akhirnya, logos yang adaptif datang untuk menstrukturkan pemahaman tersebut, memberikan kerangka rasional dan panduan praktis yang dapat diamalkan. Ketiganya saling menguatkan dalam sebuah siklus yang dinamis: kredibilitas (ethos) melegitimasi narasi (pathos) dan logika (logos); narasi (pathos) membuat logika (logos) menjadi bermakna; dan logika (logos) yang solutif pada gilirannya kembali memperkuat kredibilitas (ethos) sang dai.

C. TEMUAN DAN PEMBAHASAN

1. Implementasi Aspek Ethos: Membangun Kredibilitas Melalui Otoritas

Ilmu dan Integritas Karakter Pembahasan pada bagian ini akan menginterpretasikan temuantemuan mengenai bagaimana pilar ethos (kredibilitas) dibangun dan difungsikan dalam arsitektur retorika profetik Mama Cianting. Temuan menunjukkan bahwa ethos Mama Cianting bukanlah entitas tunggal, melainkan sebuah jalinan kompleks yang ditenun dari otoritas keilmuan yang demonstratif, integritas karakter yang otentik, serta keseimbangan antara ketegasan dan welas asih yang strategis. a. Temuan dan Analisis Otoritas Berbasis Teks dan Sanad: Analisis Prinsip "Tanpa Rujukan, Tanpa Jawaban" sebagai Benteng Liberasi Intelektual 1) Kinerja Retoris: Penggunaan Kitab sebagai Simbol Visual dan Demonstrasi Otoritas Sebagaimana telah diurai di Sub-bab B, otoritas keilmuan Mama Cianting dikonstruksikan melalui sebuah kinerja retoris (rhetorical performance) yang sangat efektif. Momen "memanggil" kitab yang tepat pada saat dibutuhkan316 adalah sebuah pertunjukan kompetensi dinamis yang secara langsung mendemonstrasikan komponen expertise (keahlian), pilar utama dalam teori Source Credibility317. Namun, dalam tahap pembahasan ini, analisis perlu diperdalam untuk menjawab pertanyaan: mengapa kinerja retoris ini begitu persuasif dan apa implikasi profetiknya yang lebih luas?

Kekuatan dari kinerja ini terletak pada kemampuannya mengubah kitab dari sekadar sumber informasi menjadi sebuah simbol visual yang kuat dari otentisitas. Dalam lanskap dakwah kontemporer yang didominasi oleh opini dan kutipan tanpa sumber di media sosial, tindakan fisik menunjukkan halaman kitab ke arah kamera menjadi sebuah pernyataan retoris yang 316 Lihat analisis data pada Sub-bab B.1.a, berdasarkan Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2). 317 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. sangat kuat. Ini adalah sebuah "penanda kebenaran" (truth-marker) yang secara visual membedakan dakwahnya dari lautan informasi keagamaan yang tidak dapat diverifikasi. Tindakan ini secara langsung mengartikulasikan dimensi liberasi pada level yang lebih dalam. Dengan membiasakan jamaah pada standar "bukti tekstual", Mama Cianting secara aktif membebaskan mereka dari kerentanan terhadap disinformasi dan opini keagamaan tanpa dasar. Ia tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mendidik jamaahnya tentang bagaimana sebuah jawaban yang otoritatif seharusnya divalidasi—sebuah bentuk literasi keagamaan yang sangat memberdayakan.

Kinerja otoritas ini mencapai puncaknya saat sesi tanya jawab, sebagaimana terekam secara detail dalam Observasi ke-2. Ketika dihadapkan pada sebuah pertanyaan fiqih yang spesifik dan membutuhkan validasi, Mama Cianting tidak serta-merta menjawab. Mama Cianting akan mengambil jeda, menciptakan momen suspens, lalu dengan tenang memanggil santri seniornya dengan instruksi yang presisi:

"Nah, ieu patarosan nu penting... Coba candak kitab I'anatut Thalibin..." (Terjemahan: "Nah, ini pertanyaan yang penting... Coba ambilkan kitab I'anatut Thalibin...")

Gambar 6: Mama Cianting Menunjukkan Kitab kepada jamaah.

Tindakan "memanggil" kitab yang tepat dari sebuah perpustakaan pribadi yang diyakini sangat lengkap (yang berada di kamar majelisnya) menjadi sebuah pertunjukan kompetensi yang dinamis. Ini secara retoris lebih kuat daripada sekadar menunjuk pada tumpukan kitab yang statis. Ini mengkomunikasikan kepada audiens bahwa Mama Cianting tidak hanya memiliki banyak kitab, tetapi Mama Cianting menguasai isinya sedemikian rupa sehingga tahu persis di mana harus mencari jawaban. Aksi ini, yang seringkali diikuti dengan tindakan menunjukkan halaman kitab ke arah kamera untuk dilihat oleh ribuan jamaah, mengubah kitab dari sekadar sumber informasi menjadi sebuah simbol visual yang kuat dari otoritas, kebenaran, dan keterhubungan dengan tradisi ilmu yang agung.

Lebih jauh lagi, praktik ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah ta'shil epistemologis—sebuah pengakaran kembali pada etos keilmuan Islam tradisional yang sangat menekankan pentingnya sanad dan rujukan tekstual. Di hadapan audiens yang mungkin terbiasa dengan "dakwah Google" yang instan, Mama Cianting sedang merevitalisasi sebuah disiplin intelektual. Ia secara implisit mengajarkan bahwa ilmu agama yang sejati memiliki silsilah dan dapat dilacak kembali ke sumber-sumber primernya. Dengan demikian, satu tindakan retoris ini berfungsi secara berlapis: ia mendemonstrasikan expertise untuk membangun ethos, berfungsi sebagai "penanda kebenaran" dalam konteks media modern, dan yang terpenting, menjadi instrumen liberasi yang mendidik dan memberdayakan jamaah dengan literasi keagamaan yang kritis.

2) Prinsip Laa Takallum Illa bil Marji': Amanah Keilmuan sebagai Fondasi Integritas Kinerja retoris dalam menggunakan kitab yang telah diurai sebelumnya bukanlah sekadar gaya, melainkan manifestasi dari sebuah prinsip etis dan epistemologis yang dipegang teguh oleh Mama Cianting. Prinsip ini dapat dirangkum dalam adagium tradisi keilmuan Islam: Laa Takallum Illa bil Marji'—"Tidak berbicara kecuali dengan rujukan". Prinsip inilah yang menjadi fondasi utama dari integritas karakter dan trustworthiness Mama Cianting. Dalam setiap sesi wawancara, ketika ditanya mengenai dasar dari sebuah jawaban, Mama Cianting secara konsisten menegaskan sikap ini. Sebagaimana terungkap dengan jelas dalam salah satu sesi wawancara mendalam:

"Sadayana nu ditaroskeun ku jamaah, abdi henteu wani ngawaler upami teu gaduh rujukan tina kitab. Sakumaha dawuh guru abdi, ulama mu'tabar kudu ngajarkeun nu tos aya dasarna. Bisi salah."318 (Terjemahan: "Semua yang ditanyakan jamaah, saya tidak berani menjawab kalau tidak punya rujukan dari kitab. Sebagaimana pesan guru saya, ulama yang diakui harus mengajarkan apa yang sudah ada dasarnya. Takut salah.")

Pernyataan "henteu wani" (tidak berani) dan "bisi salah" (takut salah) adalah kunci untuk memahami etika di balik retorikanya. Secara teoretis, prinsip ini adalah fondasi dari komponen keterpercayaan (trustworthiness), pilar krusial dalam teori Source Credibility319. Lebih dalam lagi, motivasi di baliknya—rasa "takut salah"—secara langsung mengartikulasikan dimensi transendensi. Ini menunjukkan bahwa pertanggungjawaban utamanya bukanlah kepada audiens, melainkan kepada Tuhan, sebuah kesadaran yang menjadi inti dari dakwah profetik320.

Filosofi ini diperkuat melalui analogi "kurir ilmu" yang Mama Cianting gunakan. Dengan memposisikan diri sebagai "kurir" yang hanya bertugas mengantarkan "paket" ilmu tanpa mengubah isinya, ia secara retoris melakukan manuver paradoksal yang sangat efektif. Pertama, ia menunjukkan kerendahan hati (tawadhu') yang luar biasa. Ini adalah sebuah tindakan humanisasi yang meruntuhkan hierarki antara dai dan jamaah, memposisikannya sebagai pelayan ilmu, bukan pemiliknya. Kedua, ia secara cerdas mengalihkan sumber utama otoritas dari dirinya sendiri 318 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025. 319 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. 320 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. kepada sumber-sumber transenden dan historis yang lebih tinggi (AlQur'an, Hadits, Ulama). Hal ini justru memperkuat ethos-nya secara signifikan; jamaah semakin percaya padanya karena ia secara terbuka menyatakan bahwa dirinya hanyalah seorang perantara yang bisa dipercaya.

Prinsip Laa Takallum Illa bil Marji' ini terbukti diterapkan secara konsisten di semua platform, menunjukkan bahwa ini adalah sebuah manhaj (metodologi), bukan sekadar strategi situasional. Sebagaimana dikonfirmasi oleh Nana sebagai pengurus majelis, bahkan dalam pengembangan kanal YouTube "Al-Aqthob Media" yang modern, prinsip ini tetap menjadi pegangan utama:

"Platformna tiasa modern, tapi substansina, fondasina, teu kenging robih. Mama selalu menekankan bahwa konten di YouTube pun harus tetap fokus pada materi dasar yang jelas rujukannya dari kitab."321 Pada akhirnya, kepatuhan yang ketat pada prinsip "berbicara dengan rujukan" inilah yang menjadi fondasi dari integritas Mama Cianting. Fungsi sebagai "pelabuhan" yang kokoh di tengah lautan disinformasi digital ini adalah manifestasi konkret dari dimensi liberasi. Dengan menyediakan ilmu yang otentik, bersanad, dan dapat dipertanggungjawabkan, dakwah Mama Cianting membebaskan jamaahnya dari kebingungan dan kerentanan terhadap opini keagamaan tanpa dasar, sekaligus mendidik mereka untuk menjadi konsumen informasi yang lebih kritis.

3) Dampak Liberatif: Membebaskan Jamaah dari Opini Keagamaan tanpa Dasar Konsekuensi langsung dari pendekatan dakwah yang berpegang teguh pada prinsip otoritas teks dan sanad keilmuan adalah munculnya dampak liberasi yang kuat bagi jamaah. Dalam konteks ini, liberasi dimaknai sebagai pembebasan audiens dari kondisi kebingungan, keraguan, dan kerentanan terhadap berbagai opini keagamaan yang tidak memiliki 321 Wawancara dengan Nana Ahmad Taqiyuddin, oleh penulis, Cianting, 18 Januari 2025. sumber yang jelas, yang marak beredar terutama di era digital. Dengan secara konsisten menyajikan ilmu yang berbasis rujukan, Mama Cianting tidak hanya membangun kredibilitasnya, tetapi juga secara aktif menyediakan sebuah "jangkar epistemologis" bagi para jamaahnya, yang membebaskan mereka dalam tiga ranah utama.

Pertama, pembebasan dari kebingungan dalam praktik fiqih seharihari. Banyak jamaah, khususnya dari kalangan awam, datang dengan kebingungan mengenai tata cara ibadah dan muamalah yang benar. Pendekatan Mama Cianting yang solutif dan berbasis teks memberikan kepastian dan jalan keluar yang jelas. Hal ini terbukti dari testimoni Endang, seorang pedagang, yang mengalami transformasi total dalam cara berdagangnya. Sebelum mengikuti pengajian, ia terjebak dalam praktik yang meragukan demi keuntungan. Namun, setelah mendapatkan penjelasan yang runut dan solutif dari Mama Cianting, ia merasa terbebaskan:

"Setelah rutin ikut pengajian Mama, cara saya berdagang berubah total... Sekarang saya lebih memperhatikan kejujuran, kebersihan, dan keberkahan... Hati tenang dan rezeki tetap tercukupi."322 Kesaksian Endang, seorang pedagang yang merasa terbebaskan setelah mengubah total cara berdagangnya, adalah bukti empiris dari proses ini323. Liberasi di sini bukanlah konsep abstrak; ia adalah transformasi nyata dari kondisi "terjebak dalam praktik yang meragukan" menjadi kondisi "hati tenang dan rezeki tetap tercukupi". Dengan menyediakan pengetahuan yang benar dan praktis, Mama Cianting memberdayakan jamaah dari sekadar penerima pasif doktrin menjadi agen aktif yang mampu menjalankan kehidupan ekonomi mereka dengan keyakinan yang berdasar. Kesaksian ini juga menunjukkan bahwa dakwah yang berbasis rujukan yang jelas mampu 322 Focus Group Discussion dengan Jamaah Lintas Profesi, oleh penulis, Cianting, 15 Desember 2024. 323 Focus Group Discussion dengan Jamaah Lintas Profesi, oleh penulis, Cianting, 15 Desember 2024. membebaskan seseorang dari praktik yang keliru dengan cara memberdayakannya dengan pengetahuan yang benar dan praktis. Jamaah tidak lagi beroperasi dalam keraguan, tetapi dalam keyakinan yang berdasar.

Kedua, pembebasan dari pemahaman agama yang kaku dan parsial. Ironisnya, keterikatan yang kuat pada teks tidak membuat dakwah Mama Cianting menjadi kaku. Di sinilah sebuah paradoks liberatif yang menarik muncul. Keterikatan yang sangat kuat pada teks, yang sering diasosiasikan dengan literalisme, justru digunakan oleh Mama Cianting sebagai alat untuk membebaskan jamaah dari penjara literalisme itu sendiri. Karena penguasaannya yang mendalam terhadap berbagai kitab dan konteksnya, ia mampu membimbing jamaah untuk memahami "ruh" atau hikmah di balik sebuah ajaran, bukan hanya "tubuh" teksnya. Hal ini dirasakan secara mendalam oleh Ustadz Jajang, seorang pengajar agama yang menjadi jamaahnya:

"Dulu saya pikir Islam itu hanya soal halal-haram, boleh-tidak boleh. Pemahaman saya sangat hitam-putih dan kaku. Tapi dari Mama, saya belajar bahwa dalam setiap hukum ada hikmah... Pemahaman saya jadi lebih komprehensif dan pinuh ku hikmah, teu kaku siga kapungkur."324 (Terjemahan: "Dulu saya pikir Islam itu hanya soal halal-haram, boleh-tidak boleh. Pemahaman saya sangat hitam-putih dan kaku. Tapi dari Mama, saya belajar bahwa dalam setiap hukum ada hikmah... Pemahaman saya jadi lebih komprehensif dan penuh hikmah, tidak kaku seperti dulu.")

Kesaksian Ustadz Jajang, yang pemahamannya bergeser dari "hitam-putih dan kaku" menjadi "komprehensif dan penuh hikmah", menunjukkan adanya sebuah liberasi intelektual. Ini adalah pembebasan dari cara berpikir yang biner dan simplistik menuju sebuah pemahaman agama yang lebih dewasa, kontekstual, dan bijaksana. Ini adalah bentuk liberasi intelektual, di mana jamaah dibimbing untuk memahami "ruh" dari 324 Wawancara dengan Ustadz Jajang, oleh penulis, Cianting, 10 Mei 2025 sebuah ajaran, bukan hanya "tubuh" teksnya. Dengan demikian, pendekatan berbasis kitab justru menjadi alat untuk membebaskan mereka dari penjara literalism.

Ketiga, pembebasan dari disinformasi di era digital. Prinsip "tanpa rujukan, tanpa jawaban" menjadi sebuah benteng yang melindungi jamaah dari banjir informasi keagamaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di media sosial. Sebagaimana dikonfirmasi oleh pengurus, strategi konten di kanal YouTube "Al-Aqthob Media" pun secara sadar memilih untuk fokus pada materi-materi dasar yang otentik. Kang Nana Taqiyuddin menjelaskan:

"Di internet, nu nyarioskeun politik... tos seueur. Tapi nu sabar ngajelaskeun cara istinja, cara tayamum, eta nu langka. Mama nyandak peran eta."325 (Terjemahan: "Di internet, yang membicarakan politik... sudah banyak. Tapi yang sabar menjelaskan cara istinja, cara tayamum, itu yang langka. Mama mengambil peran itu.") Dengan membiasakan jamaahnya untuk selalu bertanya "mana dalilnya?" dan "mana kitabnya?", Mama Cianting sedang menanamkan sebuah ethos baru kepada para jamaahnya: ethos sebagai pencari ilmu yang kritis. Ini adalah bentuk liberasi yang paling berkelanjutan, karena ia tidak hanya memberikan "ikan" (jawaban), tetapi juga "kail" (metodologi untuk memvalidasi kebenaran). Pada akhirnya, ethos yang dibangun di atas otoritas teks tidak hanya membuat Mama Cianting dipercaya, tetapi juga secara aktif mendidik dan membebaskan jamaahnya untuk menjadi individu yang lebih cerdas dan mandiri secara spiritual di tengah arus informasi modern.

325 Wawancara dengan Nana Ahmad Taqiyuddin, oleh penulis, Cianting, 18 Januari 2025.

4) Kontras dengan Dakwah Populer: Otoritas Tekstual sebagai Benteng di Era Disinformasi Digital Pembahasan mengenai ethos Mama Cianting yang berbasis teks dan sanad ini memuncak pada sebuah analisis kontrastif yang menempatkan pendekatannya sebagai sebuah "kontra-strategi" yang sangat relevan dalam lanskap dakwah kontemporer. Kontras ini menjadi sangat tajam jika disandingkan dengan fenomena "Islam Market" yang diidentifikasi oleh Greg Fealy, di mana praktik keagamaan cenderung berorientasi pada preferensi pasar, hiburan, dan viralitas326. Jika dakwah populer, yang diperkuat oleh televangelisme, seringkali lebih menonjolkan aspek performatif daripada substansi ajaran327, maka dakwah Mama Cianting justru merepresentasikan sebuah gerakan "kembali ke sumber" (back to basics) yang radikal.

Pendekatan "tradisional" ini, ironisnya, menjadi sangat kuat justru karena berlangsung di tengah era disinformasi digital. Pilihan strategis untuk mengisi kanal YouTube "Al-Aqthob Media" dengan konten fundamental seperti cara istinja dan tayamum, alih-alih membahas isu viral, dapat dibaca sebagai sebuah kritik implisit terhadap pasar dakwah populer328. Mama Cianting tidak bersaing di pasar tersebut; ia menciptakan "niche market" sendiri dengan menawarkan apa yang paling dibutuhkan namun paling langka: kedalaman dan otentisitas. Secara profetik, strategi "kontra-pemrograman" ini adalah sebuah tindakan liberasi yang sangat signifikan. Ia membebaskan jamaahnya dari "kebisingan" dakwah populer yang seringkali dangkal, dari komodifikasi agama, dan dari kerentanan terhadap opini keagamaan tanpa dasar yang menyebar cepat di media sosial.

326 Greg Fealy, "Consuming Islam: Commodified Religion and Aspirational Pietism in Contemporary Indonesia," dalam Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia, ed. Greg Fealy dan Sally White (Singapore: ISEAS Publishing, 2008), 15–39. 327 Najib Kailani dan Sunarwoto, "Televangelisme Islam Dalam Lanskap Otoritas Keagamaan Baru," dalam Ulama Dan Negara-Bangsa: Membaca Masa Depan Islam Politik Di Indonesia, ed. Noorhaidi Hasan (Yogyakarta: PusPIDeP, 2019), 179–206. 328 Wawancara dengan Nana Ahmad Taqiyuddin, oleh penulis, Cianting, 19 September 2024.

Filosofi ini diperdalam melalui prinsip "pendalaman ketimbang perluasan" yang menjadi etos lembaganya. Berbeda dengan model dai selebriti yang berkeliling untuk memperluas jangkauan audiens, Mama Cianting memilih untuk menggarap komunitas lokalnya secara intensif, dengan keyakinan bahwa dampak yang mendalam lebih utama daripada popularitas yang meluas329. Secara profetik, filosofi ini adalah manifestasi dari dimensi humanisasi. Ia menolak untuk melihat jamaah sebagai "angka" atau "penonton" massal, dan sebaliknya memilih untuk berinvestasi dalam transformasi personal dan komunal yang nyata dan berkelanjutan. Ini juga merupakan sebuah sikap transenden, yang menempatkan kualitas transformasi spiritual—sebuah metrik yang tidak terlihat—di atas metrik kesuksesan duniawi seperti jumlah pengikut atau popularitas.

Pada akhirnya, otoritas berbasis teks dan sanad yang menjadi ciri utama ethos Mama Cianting bukan hanya berfungsi untuk membangun kredibilitas personal. Dalam skala yang lebih luas, ia berfungsi sebagai sebuah benteng kultural dan intelektual. Ia menyediakan bagi ribuan jamaahnya sebuah "suaka" dari kebisingan dan kedangkalan informasi, memberikan mereka kepastian, ketenangan, dan ilmu yang otentik. Dalam era di mana semua orang bisa menjadi "penceramah", ethos yang berbasis otentisitas dan kedalaman inilah yang menjadi bentuk otoritas paling langgeng dan persuasif. b. Temuan dan Analisis "Kejujuran Intelektual" sebagai Puncak Pembangunan Karakter (Trustworthiness) dan Humanisasi 1) Deskripsi Fenomenologis Momen "Tidak Tahu" di Lapangan Momen "tidak tahu" yang telah dideskripsikan secara fenomenologis di Sub-bab B330 merupakan sebuah manuver retoris yang sangat canggih dan kontra-intuitif. Dalam teori komunikasi, tindakan ini dikenal sebagai pelanggaran ekspektasi (expectancy violation) yang kuat.

329 Wawancara dengan Nana Ahmad Taqiyuddin, oleh penulis, Cianting, 19 September 2024. 330 Lihat analisis data pada Sub-bab B.1.b, berdasarkan Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2).

Audiens, terutama dalam konteks dakwah, memiliki ekspektasi bahwa seorang figur otoritas keagamaan akan selalu memiliki jawaban. Ketika ekspektasi ini dilanggar, perhatian audiens akan terpusat secara intens, dan mereka akan terdorong untuk menginterpretasikan makna di balik pelanggaran tersebut. Alih-alih merusak citra, manuver ini justru menjadi titik krusial yang melambungkan komponen keterpercayaan (trustworthiness)—pilar fundamental dalam teori Source Credibility—ke level yang paling tinggi331. Momen ini, yang terekam secara detail dalam catatan lapangan Observasi ke-2, terjadi pada sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Suasana majelis yang tadinya dinamis seketika menjadi hening dan terpusat ketika seorang santri senior (sekitar 22 tahun) mengajukan sebuah pertanyaan fiqih yang secara teknis sangat rumit dan memiliki banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama:

"Pak, upami jelema teu terang jumlah qada sholatna kumaha?" (Terjemahan: "Pak, jika seseorang tidak tahu berapa jumlah shalat qadha-nya, bagaimana?").

Pertanyaan ini menciptakan sebuah momen penantian. Ribuan pasang mata jamaah tertuju pada Mama Cianting, menantikan sebuah jawaban yang solutif. Alih-alih memberikan jawaban cepat, Mama Cianting terdiam sejenak. Catatan lapangan menggambarkan ekspresinya yang berubah menjadi sangat serius dan penuh konsentrasi. Mama Cianting tidak menampilkan kepanikan, melainkan ketenangan seorang pemikir. Mama Cianting terlihat membolak-balik beberapa kitab yang ada di dekatnya, sebuah gestur yang mengindikasikan proses pencarian rujukan yang sungguh-sungguh di dalam benaknya. Setelah jeda yang terasa cukup lama—mungkin sekitar satu menit—di mana seluruh aula berada dalam keheningan total, Mama Cianting akhirnya mengangkat wajahnya, menatap 331 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. lurus ke arah jamaah, dan dengan suara yang jelas dan tanpa keraguan sedikit pun, Mama Cianting menyampaikan penolakannya untuk menjawab:

"Nah, ieu masalah nu rumit. Abdi kedah nyarios jujur, dina kitabkitab nu aya di dieu, abdi tacan mendakan jawaban nu lengkap pikeun kasus anu spesifik ieu. Mun henteu aya rujukan nu jelas, abdi mending henteu jawab ti batan salah. Engke abdi carioskeun ka guru abdi heula, atanapi urang cari bareng-bareng dina kitab anu sanes."332 (Terjemahan: "Nah, ini masalah yang rumit. Saya harus bicara jujur, dalam kitab-kitab yang ada di sini, saya belum menemukan jawaban yang lengkap untuk kasus yang spesifik ini. Kalau tidak ada rujukan yang jelas, saya lebih baik tidak jawab daripada salah. Nanti saya tanyakan ke guru saya dulu, atau kita cari bersama-sama dalam kitab yang lain.")

Gambar 7: Mama Cianting Saat Menjawab Pertanyaan Jamaah.

Respons audiens terhadap pernyataan ini sangatlah signifikan. Tidak ada ekspresi kekecewaan atau keraguan yang terlihat. Sebaliknya, yang terasa di udara adalah gelombang kekaguman dan rasa hormat yang mendalam. Para jamaah, terutama yang lebih senior, terlihat menganggukangguk penuh pemahaman. Momen fenomenologis ini—dari pertanyaan 332 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2). sulit, jeda yang menegangkan, hingga jawaban jujur yang di luar ekspektasi—menjadi sebuah peristiwa retoris yang sangat kuat dan menyediakan konteks empiris yang kaya untuk menganalisis bagaimana integritas dan kejujuran intelektual menjadi puncak dari pembangunan kredibilitas (ethos) Mama Cianting.

Analisis yang lebih dalam menunjukkan bahwa Mama Cianting secara efektif melakukan sebuah "pengorbanan retoris" (rhetorical sacrifice). Ia mengorbankan citra sebagai figur yang maha tahu (omniscient) untuk mendapatkan imbalan yang jauh lebih berharga: persepsi sebagai sosok yang sangat jujur, amanah, dan lebih mementingkan kebenaran daripada ego pribadi. Di tengah lanskap dakwah populer yang seringkali menampilkan "kinerja kepastian" (performance of certainty), di mana setiap pertanyaan dijawab dengan cepat dan percaya diri, sikap Mama Cianting yang penuh kehati-hatian ini menjadi sebuah penanda otentisitas yang sangat langka dan kuat. Respons audiens yang berupa "kekaguman, bukan kekecewaan" adalah bukti empiris bahwa pengorbanan retoris ini berhasil.

Landasan dari manuver ini adalah etika keilmuan yang dijelaskan Mama Cianting dalam wawancara: rasa "takut salah" di hadapan Allah333. Alasan ini adalah kunci yang membuka interpretasi positif terhadap pelanggaran ekspektasi tersebut. Secara retoris, alasan ini menggeser fokus penilaian audiens. Mereka tidak lagi bertanya, "Apakah Mama tahu jawabannya?" melainkan, "Mengapa Mama memilih untuk tidak menjawab?" Jawaban atas pertanyaan kedua ini—yaitu karena rasa takut pada Allah dan amanah terhadap ilmu—secara dramatis mengangkat karakter Mama Cianting di mata jamaah. Ia menampilkan citra seorang dai yang loyalitas utamanya bukanlah untuk memuaskan penanya atau menjaga citra, melainkan untuk menjaga kemurnian ilmu itu sendiri. Ini adalah sebuah pengorbanan ego yang sangat kuat demi sebuah nilai yang lebih 333 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025. tinggi, yaitu transendensi, yang pada gilirannya justru memperkokoh kepercayaan (trustworthiness) dari audiens. Dengan demikian, satu momen "tidak tahu" ini menjadi sebuah peristiwa retoris yang sangat padat makna, di mana Mama Cianting secara simultan mendemonstrasikan kerendahan hati, integritas intelektual, dan ketakwaan yang mendalam, yang semuanya bermuara pada pembangunan ethos kepercayaan yang tak tergoyahkan.

2) Analisis Retoris: Manuver Kontra-Intuitif yang Membangun Kepercayaan (Trustworthiness) Tindakan Mama Cianting mengakui keterbatasannya di hadapan publik, sebagaimana telah dideskripsikan di Sub-bab B334, merupakan sebuah manuver retoris yang sangat canggih dan kontra-intuitif. Dalam teori komunikasi, tindakan ini dikenal sebagai pelanggaran ekspektasi (expectancy violation) yang kuat. Audiens, terutama dalam konteks dakwah, memiliki ekspektasi bahwa seorang figur otoritas keagamaan akan selalu memiliki jawaban. Ketika ekspektasi ini dilanggar, perhatian audiens akan terpusat secara intens, dan mereka akan terdorong untuk menginterpretasikan makna di balik pelanggaran tersebut. Alih-alih merusak citranya, manuver ini justru menjadi titik krusial yang melambungkan komponen keterpercayaan (trustworthiness)—pilar fundamental dalam teori Source Credibility—ke level yang paling tinggi335. Analisis ini menunjukkan bahwa Mama Cianting secara efektif "mengorbankan" citra sebagai figur yang maha tahu untuk mendapatkan imbalan retoris yang jauh lebih berharga: persepsi sebagai sosok yang sangat jujur, amanah, dan lebih mementingkan kebenaran daripada ego pribadi.

Analisis yang lebih dalam menunjukkan bahwa Mama Cianting secara efektif melakukan sebuah "pengorbanan retoris" (rhetorical 334 Lihat analisis data pada Sub-bab B.1.b, berdasarkan Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 20 Januari 2025 (Observasi ke-2). 335 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. sacrifice). Ia mengorbankan citra sebagai figur yang maha tahu (omniscient) untuk mendapatkan imbalan yang jauh lebih berharga: persepsi sebagai sosok yang sangat jujur, amanah, dan lebih mementingkan kebenaran daripada ego pribadi. Di tengah lanskap dakwah populer yang seringkali menampilkan "kinerja kepastian" (performance of certainty), di mana setiap pertanyaan dijawab dengan cepat dan percaya diri, sikap Mama Cianting yang penuh kehati-hatian ini menjadi sebuah penanda otentisitas yang sangat langka dan kuat. Respons audiens yang berupa "kekaguman, bukan kekecewaan" adalah bukti empiris bahwa pengorbanan retoris ini berhasil.

Landasan dari manuver ini adalah etika keilmuan yang Mama Cianting jelaskan secara gamblang dalam wawancara. Alasan Mama Cianting menolak menjawab bukanlah karena ketidakpedulian, melainkan karena rasa takut yang mendalam untuk berbuat salah di hadapan Allah. Mama Cianting menyatakan:

"Abdi henteu wani. Bisi salah. Jadi abdi langkung milih nyarios 'abdi teu terang' tibatan ngajawab kalawan perkiraan."336 (Terjemahan: "Saya tidak berani. Takut salah. Jadi saya lebih memilih mengatakan 'saya tidak tahu' daripada menjawab berdasarkan perkiraan.")

Alasan ini adalah kunci yang membuka interpretasi positif terhadap pelanggaran ekspektasi tersebut. Secara retoris, alasan ini menggeser fokus penilaian audiens. Mereka tidak lagi bertanya, "Apakah Mama tahu jawabannya?" melainkan, "Mengapa Mama memilih untuk tidak menjawab?" Jawaban atas pertanyaan kedua ini—yaitu karena rasa takut pada Allah dan amanah terhadap ilmu—secara dramatis mengangkat karakter Mama Cianting di mata jamaah. Ia menampilkan citra seorang dai yang loyalitas utamanya bukanlah untuk memuaskan penanya atau menjaga citra, melainkan untuk menjaga kemurnian ilmu itu sendiri. Ini adalah 336 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025. sebuah pengorbanan ego yang sangat kuat demi sebuah nilai yang lebih tinggi, yaitu transendensi, yang pada gilirannya justru memperkokoh kepercayaan (trustworthiness) dari audiens337. Dengan demikian, satu momen "tidak tahu" ini menjadi sebuah peristiwa retoris yang sangat padat makna, di mana Mama Cianting secara simultan mendemonstrasikan kerendahan hati, integritas intelektual, dan ketakwaan yang mendalam, yang semuanya bermuara pada pembangunan ethos kepercayaan yang tak tergoyahkan.

Dampak dari strategi ini adalah terjadinya pergeseran fondasi kredibilitas. Jamaah tidak lagi hanya percaya pada Mama Cianting karena kompetensinya (Mama Cianting tahu banyak), tetapi mereka percaya secara mendalam karena integritas karakternya (Mama Cianting tidak akan pernah berbohong atau berbicara tanpa dasar). Kepercayaan yang lahir dari integritas ini jauh lebih kokoh dan personal. Sebagaimana dikonfirmasi oleh pengurus, prinsip ini adalah inti dari manhaj dakwah Mama Cianting yang diterapkan secara konsisten. Sikap ini mendidik jamaah secara tidak langsung untuk menghargai proses pencarian ilmu yang jujur dan berhatihati. Dengan demikian, manuver kontra-intuitif ini menjadi puncak dari pembangunan ethos, di mana kepercayaan tidak lagi bersandar pada persepsi kesempurnaan intelektual, melainkan pada bukti otentik dari sebuah karakter yang amanah dan bertanggung jawab secara spiritual.

3) Implikasi Humanisasi: Meruntuhkan Hierarki dan Membangun Hubungan Egaliter Dampak retoris dari sikap "kejujuran intelektual" Mama Cianting melampaui sekadar pembangunan kepercayaan; ia secara fundamental mengartikulasikan dimensi humanisasi dengan cara meruntuhkan hierarki kaku antara dai dan jamaah. Dalam tradisi sosio-kultural di mana figur ulama atau kiai seringkali ditempatkan di "puncak menara" yang tak tersentuh dan dianggap maksum (terjaga dari kesalahan), tindakan Mama 337 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338.

Cianting mengakui keterbatasan secara terbuka adalah sebuah langkah radikal yang memanusiakan. Momen "tidak tahu" tersebut secara efektif mendekonstruksi citra seorang otoritas yang absolut dan menggantikannya dengan citra seorang "sesama pembelajar" (fellow learner) yang rendah hati.

Dengan menolak menjawab pertanyaan yang tidak ia kuasai rujukannya, Mama Cianting secara non-verbal menyampaikan pesan kuat kepada jamaahnya: "Saya, sama seperti kalian, adalah seorang penuntut ilmu yang memiliki keterbatasan." Posisi ini diperkuat oleh narasi personal yang pernah Mama Cianting sampaikan, seperti saat menceritakan pengalamannya ditegur oleh gurunya sendiri. Dengan menceritakan kisah di mana gurunya datang untuk "insaf menta hampura" (sadar dan meminta maaf), Mama Cianting menunjukkan bahwa dalam tradisi ilmu yang sehat, kebenaran berada di atas status dan senioritas. Ini menciptakan sebuah atmosfer pembelajaran yang sangat egaliter, di mana setiap orang, termasuk sang guru, berada dalam perjalanan spiritual yang sama dan terus-menerus belajar.

Secara teoretis, tindakan ini adalah praktik identifikasi (identification) yang sangat kuat, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke. Dengan menampilkan kerentanan dan keterbatasannya, Mama Cianting secara strategis membangun sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) dengan jamaahnya.

Implikasi dari pendekatan yang memanusiakan ini sangat mendalam. Sebagaimana terungkap dari kesaksian para jamaah, mereka merasa bahwa pendekatan Mama Cianting tidak menggurui secara dogmatis. Fadil, seorang jamaah muda, menggambarkannya sebagai pendekatan yang "memotivasi, bukan menginterogasi". Ini menunjukkan bahwa 338jamaah tidak merasa terintimidasi oleh figur keulamaan Mama Cianting, melainkan merasa dibimbing. Hubungan yang terbangun 338 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. bukanlah antara atasan dan bawahan, melainkan antara seorang pembimbing yang berpengalaman dengan rekan seperjalanannya.

Lebih jauh lagi, tindakan meruntuhkan hierarki personal ini memiliki tujuan liberatif yang mendasar, yaitu membebaskan jamaah dari kultus individu. Mama Cianting sendiri menyadari bahaya ini dan secara sadar mengarahkan loyalitas jamaah bukan pada dirinya, melainkan pada sumber ilmu itu sendiri. Mama Cianting menjelaskan dalam wawancara:

"Sangkan jamaah henteu salah paham. Abdi mah ukur nyambungkeun perkawis nu tos dipedar ku para ulama... Jadi sanajan abdi isuk jaganing geto teu aya, jamaah teh apal kamana kedah malari, nyaeta ka elmu para ulama. Ieu teh liberasi, ngabebaskeun jamaah tina kultus individu."339 (Terjemahan: "Agar jamaah tidak salah paham. Saya hanya menyambungkan hal-hal yang sudah dijelaskan oleh para ulama... Jadi meskipun saya besok lusa sudah tiada, jamaah tahu ke mana harus berlari, yaitu kepada ilmu para ulama. Ini adalah liberasi, membebaskan jamaah dari kultus individu.")

Pada akhirnya, sikap "tidak tahu" menjadi sebuah praktik humanisasi yang paling otentik. Dengan menampilkan dirinya sebagai manusia biasa yang memiliki keterbatasan, Mama Cianting justru menciptakan ikatan emosional dan kepercayaan yang lebih kuat. Jamaah tidak hanya menghormatinya sebagai seorang alim yang kompeten, tetapi juga menyayanginya sebagai seorang guru yang jujur, rendah hati, dan manusiawi.

4) Keterkaitan dengan Dimensi Liberasi dan Transendensi Implikasi dari sikap "tidak tahu" yang ditampilkan Mama Cianting tidak hanya berhenti pada aspek pembangunan karakter (ethos) dan hubungan yang memanusiakan (humanisasi). Lebih dalam lagi, tindakan ini secara langsung mengartikulasikan dua dimensi profetik lainnya:

339 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025. membebaskan jamaah untuk berpikir kritis (liberasi) dan menegaskan kembali orientasi utama dakwah kepada Tuhan (transendensi).

Pertama, dari sisi liberasi, sikap ini berfungsi sebagai sebuah pendidikan kritis yang sangat efektif. Dengan menolak memberikan jawaban tanpa rujukan yang pasti, Mama Cianting secara tidak langsung sedang mendidik jamaahnya untuk tidak menjadi pengikut yang pasif atau patuh secara buta (taqlid buta). Mama Cianting secara implisit mengajarkan sebuah metodologi dalam menerima ilmu agama: bahwa sebuah pendapat harus selalu disertai dengan dasar dan rujukan yang kuat. Ini membebaskan jamaah dari ketergantungan total pada satu figur. Mama Cianting sendiri menegaskan tujuan liberatif ini dalam sebuah wawancara ketika menjelaskan mengapa Mama Cianting selalu merujuk pada otoritas kitab dan ulama, bukan pada dirinya sendiri:

"Sangkan jamaah henteu salah paham. Abdi mah ukur nyambungkeun... Jadi sanajan abdi isuk jaganing geto teu aya, jamaah teh apal kamana kedah malari, nyaeta ka elmu para ulama. Ieu teh liberasi, ngabebaskeun jamaah tina kultus individu."340 (Terjemahan: "Agar jamaah tidak salah paham. Saya hanya menyambungkan... Jadi meskipun saya besok lusa sudah tiada, jamaah tahu ke mana harus berlari, yaitu kepada ilmu para ulama. Ini adalah liberasi, membebaskan jamaah dari kultus individu.")

Dengan demikian, "kejujuran intelektual" menjadi sebuah alat untuk memberdayakan jamaah, mendorong mereka untuk menjadi pencari ilmu yang mandiri dan tidak terikat pada pesona atau karisma personal seorang dai.

Kedua, dari sisi transendensi, alasan di balik sikap "tidak tahu" ini bersifat mutlak vertikal. Penolakannya untuk menjawab tidak didasari oleh strategi komunikasi atau manajemen citra, melainkan oleh sebuah 340 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025. kesadaran dan pertanggungjawaban yang sangat tinggi di hadapan Allah SWT. Rasa "takut salah" yang Mama Cianting ungkapkan bukanlah takut terlihat bodoh di hadapan manusia, melainkan takut salah di hadapan Tuhan yang Maha Mengetahui. Ini adalah manifestasi praktis dari hakikat takwa dan muraqabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah).

Dalam konteks ini, tindakan diam atau menolak menjawab dari Mama Cianting menjadi sebuah "ceramah tanpa suara" tentang hakikat transendensi. Ia mengajarkan bahwa amanah ilmu adalah sebuah beban spiritual yang berat, dan loyalitas tertinggi seorang dai bukanlah untuk memuaskan keingintahuan audiens, melainkan untuk menjaga kebenaran di hadapan Tuhan. Sikap ini secara efektif mengorientasikan kembali seluruh proses dakwah pada tujuan akhirnya, yaitu mencari keridhaan Allah.

Pada akhirnya, satu momen "tidak tahu" ini menjadi sebuah peristiwa retoris yang sangat padat makna, di mana ethos (integritas), humanisasi (kerendahan hati), liberasi (pendidikan kritis), dan transendensi (akuntabilitas pada Allah) bertemu dan saling menguatkan secara sinergis. c. Temuan dan Analisis Paradoks Ketegasan dan Welas Asih: Mengelola Ethos sebagai Figur Pendidik (Murabbi) dan Penjaga Syariat (Faqih) 1) Deskripsi Paradoks: Memperkenalkan Dua Wajah Otoritas Mama Cianting Analisis mendalam terhadap ethos K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) menyingkap sebuah paradoks yang menarik. Kredibilitasnya sebagai figur otoritatif tidak dibangun di atas satu pilar karakter yang monolitik, melainkan di atas dua wajah otoritas yang tampak saling bertentangan, namun justru bekerja secara sinergis: wajah seorang penjaga syariat (faqih) yang sangat tegas dan tanpa kompromi, serta wajah seorang pendidik jiwa (murabbi) yang sangat lembut dan penuh welas asih. Kemampuan Mama Cianting untuk beralih di antara dua peran ini secara tepat guna menjadi salah satu kunci utama dari kekuatan retorikanya.

Sisi ketegasan seorang faqih terlihat sangat jelas saat Mama Cianting membahas hal-hal yang berkaitan dengan keabsahan hukum ibadah dan muamalah. Dalam ranah ini, tidak ada ruang untuk negosiasi. Sebagaimana terekam dalam Observasi ke-9, saat membahas etika pernikahan, nada bicara Mama Cianting berubah menjadi sangat serius dan berwibawa ketika sampai pada syarat saksi nikah. Mama Cianting menegaskan dengan tanpa keraguan:

"Jeung deui, dina nikah teh aya saksi. Ulah sagawayah milih saksi! Ieu amanat ti guru abdi. Saksi teh kedah jalmi anu leres solatna, anu soleh. Sanes nu tukang mabok atawa nu sering ninggalkeun solat... Lamun saksi na teu bener, ka mana barokahna eta pernikahan?"341 (Terjemahan: "Dan lagi, dalam nikah itu ada saksi. Jangan sembarangan memilih saksi! Ini amanat dari guru saya. Saksi itu harus orang yang benar shalatnya, yang saleh. Bukan yang suka mabuk atau yang sering meninggalkan shalat... Kalau saksinya tidak benar, ke mana berkahnya pernikahan itu?")

Dalam momen ini, Mama Cianting secara sadar memposisikan dirinya sebagai penjaga integritas hukum Allah (faqih). Kinerja ini secara langsung membangun komponen expertise (keahlian) dari kredibilitasnya, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam teori Source Credibility342. Tujuan retorisnya bersifat liberatif: untuk menyelamatkan dan membebaskan jamaah dari konsekuensi fatal akibat menjalankan praktik keagamaan yang cacat secara syar'i. Ketegasan di sini bukanlah untuk menghakimi, melainkan untuk melindungi.

Namun, ketegasan seorang faqih ini seolah luruh seketika ketika Mama Cianting berhadapan dengan kerapuhan dan penderitaan manusiawi jamaahnya. Di sinilah wajah seorang murabbi yang penuh welas asih 341 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 5 Mei 2025 (Observasi ke-9). 342 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. muncul ke permukaan. Kesaksian dari Pak Heri, seorang jamaah yang datang dalam keadaan terpuruk karena terlilit utang, melukiskan sisi otoritas yang sama sekali berbeda. Alih-alih mendapatkan penghakiman atau nasihat hukum tentang utang, ia justru disambut dengan kepedulian yang paling mendasar:

"Tapi pas pendak sareng Mama, anjeunna sanes nyalahkeun abdi. Anjeunna teu naroskeun sabaraha hutang abdi. Nu ditaroskeun teh, 'Anjeun tos sholat? Tos tuang?' Abdi dirangkul, dipasihan tuang..."343 (Terjemahan: "Tapi pas bertemu dengan Mama, Mama Cianting bukan menyalahkan saya. Mama Cianting tidak menanyakan berapa utang saya. Yang ditanyakan itu, 'Kamu sudah shalat? Sudah makan?' Saya dirangkul, diberi makan...")

Dalam interaksi ini, retorika yang digunakan bukanlah retorika hukum, melainkan retorika kasih sayang. Tindakan ini secara langsung membangun komponen trustworthiness (keterpercayaan) dan goodwill (niat baik) dari ethos-nya344. Tujuannya adalah humanisasi dalam bentuknya yang paling murni: memulihkan martabat manusia dan merangkul jiwa yang sedang terluka sebelum membahas masalahnya. Ini adalah praktik dari prinsip profetik untuk memanusiakan manusia (amar ma'ruf) yang menjadi landasan bagi semua interaksi sosial dalam Islam345.

Fenomena ini memunculkan sebuah pertanyaan retoris yang penting: bagaimana kedua wajah otoritas yang tampak paradoksal ini— ketegasan seorang penjaga syariat dan kelembutan seorang pengayom jiwa—dapat hadir dalam satu figur tanpa menimbulkan kontradiksi di mata jamaah? Dan bagaimana keseimbangan antara peran faqih dan murabbi ini justru menjadi kunci utama dalam membangun ethos-nya yang utuh dan 343 Wawancara dengan Heri, oleh penulis, Cianting, 28 April 2025. 344 Hovland, Janis, and Kelley, Communication and Persuasion, 21. 345 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. sangat dihormati? Pertanyaan inilah yang akan dieksplorasi pada bagian analisis selanjutnya.

2) Analisis Logika Pilihan Retoris: Membedakan Ranah Hukm (Hukum) dan Hal (Kondisi Manusia) Paradoks antara ketegasan dan welas asih dalam ethos Mama Cianting dapat dipahami dan terurai melalui analisis terhadap logika pilihan retorisnya. Pilihan untuk bersikap tegas atau lembut bukanlah tindakan yang arbitrer atau berdasarkan suasana hati, melainkan sebuah strategi yang didasarkan pada pembedaan yang sangat jelas antara dua ranah: ranah hukum Allah (hukm) yang bersifat absolut dan tidak bisa ditawar, dengan ranah kondisi manusiawi (hal) yang bersifat partikular, dinamis, dan membutuhkan empati. Kemampuan untuk bernavigasi di antara dua ranah inilah yang memungkinkan Mama Cianting menjalankan peran ganda sebagai penjaga syariat (faqih) dan pendidik jiwa (murabbi) secara simultan. Inilah yang secara teoretis merupakan praktik Audience Adaptation yang paling canggih, di mana adaptasi tidak hanya terjadi pada bahasa, tetapi juga pada persona retoris yang ditampilkan346.

Logika ini terkonfirmasi secara eksplisit dalam wawancara, di mana Mama Cianting sendiri menjelaskan prinsip di balik pilihan gayanya:

"Cara seni dina dakwah perlu jeng berguna, sabab pas nyaritakeun bab-bab kudu di sesuaikeun jeung cara nyaritakeunna. Saperti pas nyaritakeun hukum wajib nya kudu teges, pas nyaritakeun bab akhlak urang bisa lemes lemah lembut..."347 (Terjemahan: "Seni dalam berdakwah itu perlu dan berguna, sebab saat menceritakan bab-bab (topik) harus disesuaikan dengan cara penyampaiannya. Seperti saat menceritakan hukum wajib ya harus tegas, saat menceritakan bab akhlak kita bisa lembut lemah lembut...")

346 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. 347 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 1 April 2025.

Pernyataan ini adalah kunci untuk memahami "logika pembedaan" yang Mama Cianting praktikkan.

Pada ranah hukm, ketegasan diterapkan sebagai instrumen liberasi. Ketika pembahasan menyentuh aspek-aspek hukum yang menyangkut sah atau batalnya sebuah ibadah—seperti syarat saksi nikah, larangan riba, atau kewajiban qadha shalat—Mama Cianting akan menampilkan persona seorang faqih yang tidak mengenal kompromi. Dalam konteks ini, objek dari ketegasannya bukanlah pribadi jamaah, melainkan kesakralan dan integritas hukum Allah itu sendiri. Tujuannya bersifat liberatif, sejalan dengan semangat nahi munkar dalam Ilmu Sosial Profetik: untuk menyelamatkan dan membebaskan jamaah dari konsekuensi fatal akibat menjalankan praktik keagamaan yang keliru348. Sikap tegas di sini bukanlah untuk menghakimi, melainkan untuk melindungi. Ini adalah sebuah manuver retoris yang secara spesifik membangun komponen expertise (keahlian) dari ethos-nya, menunjukkan bahwa ia adalah penjaga hukum yang kompeten dan dapat diandalkan349.

Sebaliknya, pada ranah hal, welas asih diterapkan sebagai praktik humanisasi. Ketika Mama Cianting berhadapan dengan kondisi, perjuangan, dan kerapuhan manusiawi para jamaahnya, sikapnya berubah total menjadi seorang murabbi yang merangkul. Dalam kasus Pak Heri yang terlilit utang, masalahnya adalah kondisi keputusasaan. Maka, respons yang diberikan adalah welas asih yang memulihkan martabat. Dalam kasus Fadil yang seorang mahasiswa, masalahnya adalah proses belajar kaum muda. Maka, responsnya adalah motivasi yang penuh pengertian. Dalam semua kasus ini, objek dari welas asihnya adalah pribadi dan situasi unik yang dihadapi jamaah. Tujuannya adalah humanisasi dalam semangat amar ma'ruf: untuk menyembuhkan hati, memberikan dukungan emosional, dan 348 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. 349 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. memanusiakan individu sebelum menuntut mereka dengan beban-beban hukum350. Pendekatan ini secara langsung membangun komponen trustworthiness (keterpercayaan) dan goodwill (niat baik) dari ethos-nya, menunjukkan bahwa di balik ketegasannya dalam hukum, terdapat kepedulian yang tulus pada nasib setiap individu351.

Dengan demikian, paradoks tersebut pada dasarnya terselesaikan. Ketegasan Mama Cianting ditujukan pada prinsip hukumnya, sementara welas asihnya ditujukan pada pribadi manusianya. Kemampuan untuk membedakan secara jernih antara dua ranah ini memungkinkan Mama Cianting untuk menjadi figur otoritas yang dihormati karena ketegasannya dalam menjaga syariat, sekaligus dicintai karena kelembutannya dalam memahami dan merangkul umat.

3) Resolusi Paradoks dalam Persepsi Jamaah: Memaknai Ketegasan sebagai Bentuk Kasih Sayang Tertinggi Keberhasilan dari strategi retoris yang menampilkan dua wajah otoritas—faqih yang tegas dan murabbi yang welas asih—pada akhirnya ditentukan oleh bagaimana audiens mempersepsikan dan mendamaikan kedua sisi tersebut. Temuan penelitian, khususnya dari wawancara mendalam dengan jamaah, menunjukkan bahwa paradoks ini terselesaikan dengan sangat efektif di benak mereka. Jamaah tidak melihatnya sebagai sebuah kontradiksi, melainkan mampu melakukan sebuah pemaknaan ulang (reframing), di mana ketegasan pada akhirnya dipahami sebagai manifestasi dari tingkat welas asih yang lebih dalam dan lebih otentik.

Proses pemaknaan ulang ini terungkap dengan sangat jelas dalam kesaksian Dedi, seorang jamaah yang pada awalnya merasakan langsung "panasnya" sisi tegas dari dakwah Mama Cianting, terutama saat membahas kelalaian dalam shalat. Ia secara jujur menggambarkan reaksi awalnya:

350 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, 338. 351 Hovland, Janis, and Kelley, Communication and Persuasion, 21.

"Jujur, Kang. Awal-awal abdi ngaji di dieu, asa 'kapanasan' kuping teh... asa kasindiran, asa disalahkeun terus. Abdi kan kapungkur teh lalawora kana sholat."352 (Terjemahan: "Jujur, Kang. Awal-awal saya mengaji di sini, rasanya 'panas' telinga ini... terasa tersindir, terasa disalahkan terus. Saya kan dulu itu lalai pada shalat.")

Perasaan tidak nyaman ini adalah respons alami ketika sebuah kritik retoris mengenai sasaran. Namun, yang menarik adalah proses kognitif dan emosional yang terjadi setelahnya. Alih-alih menolak pesan tersebut dan meninggalkan majelis, fondasi ethos welas asih yang telah dibangun oleh Mama Cianting dalam konteks-konteks lain (seperti yang dirasakan Pak Heri) memberikan ruang bagi Dedi untuk tidak melihat ketegasan itu sebagai kebencian, melainkan sebagai bentuk kepedulian. Titik balik pemahamannya terjadi saat ia berhasil menemukan analogi yang tepat untuk memaknai tindakan tersebut:

"Tapi lami-lami abdi sadar, Kang. Ketegasan Mama teh sanes karena anjeunna benci ka nu sok ninggalkeun sholat. Justru sabalikna, eta teh bentuk kanyaahna nu paling jero. Siga kolot ka anakna. Lamun anakna rek nyabak seuneu, nya pasti digentak, dicaram tarik, sanes diusapan."353 (Terjemahan: "Tapi lama-kelamaan saya sadar, Kang. Ketegasan Mama itu bukan karena Mama Cianting benci pada yang suka meninggalkan shalat. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kasih sayangnya yang paling dalam. Seperti orang tua pada anaknya. Kalau anaknya mau memegang api, ya pasti dibentak, dilarang keras, bukan dielus-elus.")

Analogi "orang tua-anak-api" ini adalah sebuah mahakarya interpretasi dari sisi audiens dan menjadi kunci untuk memahami resolusi paradoks ini. Secara teoretis, ini adalah contoh sempurna dari kesetiaan 352 Wawancara dengan Dedi, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025. 353 Wawancara dengan Dedi, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025. naratif (Narrative Fidelity) dalam Paradigma Naratif Walter Fisher354. Narasi "ketegasan sebagai kasih sayang orang tua" ini memiliki fidelity yang sangat tinggi bagi Dedi karena ia "beresonansi" dan terasa "benar" dengan nilai-nilai kultural dan pengalaman hidupnya yang paling mendalam tentang bagaimana cinta orang tua diekspresikan. Dalam kerangka ini, "api" adalah konsekuensi dosa, "anak" adalah jamaah yang lalai, dan "bentakan" adalah retorika tegas Mama Cianting. Ketegasan tidak lagi dimaknai sebagai kemarahan, tetapi sebagai tindakan penyelamatan yang urgen dan penuh kasih.

Implikasi dari resolusi paradoks ini bersifat sangat liberatif. Setelah memaknai ketegasan sebagai kasih sayang, Dedi mampu menerima "obat pahit" tersebut, yang pada akhirnya membebaskannya dari penyakit kemalasannya sendiri. Ia menyimpulkan:

"Justru kusabab ketegasan eta, abdi jadi sieun rek nyepelekeun deui teh... ketegasanana teh justru 'ubar' kanggo panyakit males abdi. Upami Mama dakwahna lembut wae soal sholat, meureun dugi ka ayeuna abdi moal robah." (Terjemahan: "Justru karena ketegasan itu, saya jadi takut untuk menyepelekan lagi... ketegasannya itu justru 'obat' untuk penyakit malas saya. Kalau Mama dakwahnya lembut terus soal shalat, mungkin sampai sekarang saya tidak akan berubah.")

Kesaksian ini menunjukkan bahwa kemampuan Mama Cianting dalam memerankan dua peran secara seimbang adalah kunci dari retorika transformatifnya. Ini adalah sebuah sintesis profetik yang canggih: ethosnya yang penuh welas asih (sebuah praktik amar ma'ruf atau humanisasi) memberikan "izin" bagi ethos-nya yang tegas (sebuah praktik nahi munkar atau liberasi) untuk bekerja secara efektif355. Jamaah bersedia menerima kritik yang keras karena mereka telah terlebih dahulu yakin bahwa kritik 354 Walter Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 119. 355 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. tersebut datang dari hati yang tulus peduli, menjadikan paradoks ini sebagai puncak dari strategi pembangunan ethos yang utuh dan sangat manusiawi.

4) Implikasi pada Pembangunan Ethos yang Utuh dan Komprehensif Kemampuan Mama Cianting untuk secara dinamis memerankan figur faqih yang tegas dan murabbi yang welas asih, yang didasarkan pada logika pembedaan antara ranah hukm dan hal, pada akhirnya menjadi faktor kunci yang membangun ethos-nya secara utuh dan komprehensif. Paradoks yang teramati bukanlah sebuah kontradiksi yang merusak kredibilitas, melainkan sebuah demonstrasi dari kecerdasan retoris dan spektrum kepemimpinan spiritual yang lengkap. Secara teoretis, kemampuan untuk mengetahui kapan harus bersikap tegas dan kapan harus bersikap lembut adalah manifestasi dari penguasaan kairos—sebuah konsep retorika klasik yang merujuk pada kemampuan untuk merespons momen yang tepat dengan tindakan dan kata yang tepat. Penguasaan kairos inilah yang memungkinkan Mama Cianting untuk membangun sebuah ethos yang multidimensional.

Integrasi kedua peran ini secara efektif memenuhi seluruh spektrum dari teori Source Credibility. Peran sebagai penjaga syariat (faqih) yang tegas secara langsung membangun komponen keahlian (expertise)356. Ini memberikan rasa aman dan kepastian hukum kepada jamaah, yang berfungsi sebagai liberasi dari keraguan di tengah lautan opini keagamaan yang membingungkan. Di sisi lain, peran sebagai pendidik jiwa (murabbi) yang welas asih secara langsung membangun komponen keterpercayaan (trustworthiness) dan niat baik (goodwill)357. Pendekatan ini memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk didengar dan dirangkul tanpa penghakiman, yang merupakan inti dari praktik humanisasi358. Dengan menguasai kedua peran ini, Mama Cianting berhasil membangun profil kredibilitas yang 356 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. 357 Hovland, Janis, and Kelley, Communication and Persuasion, 21. 358 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. sangat langka: ia dipersepsikan sebagai sosok yang sangat kompeten sekaligus sangat peduli.

Pada akhirnya, di benak jamaah, kedua wajah otoritas ini tidak lagi dilihat sebagai paradoks, melainkan sebagai dua sisi dari mata uang yang sama: kearifan (hikmah). Mereka melihat seorang pemimpin yang tahu kapan harus menggunakan "pedang" hukum untuk melindungi umat dari kesalahan, dan kapan harus menggunakan "selimut" kasih sayang untuk menghangatkan jiwa yang sedang kedinginan. Kemampuan untuk menyeimbangkan antara jalal (keagungan/ketegasan) dan jamal (keindahan/kasih sayang) ini adalah manifestasi dari kepemimpinan profetik yang dicontohkan oleh Rasulullah ‫ﷺ‬. Dengan demikian, ethos Mama Cianting menjadi sangat kokoh karena ia tidak hanya dipercaya karena ilmunya atau disayangi karena kebaikannya, tetapi dihormati secara mendalam karena kebijaksanaannya dalam memadukan keduanya. Inilah yang membuat kredibilitasnya tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga inspirasional, dan menjadi fondasi yang sangat kuat bagi keberhasilan pilar pathos dan logos dalam retorikanya.

Sebagai kesimpulan dari keseluruhan pembahasan mengenai pilar ethos, temuan penelitian ini secara komprehensif menjawab pertanyaan penelitian pertama. Implementasi aspek ethos dalam dakwah Mama Cianting bukanlah sebuah atribut tunggal, melainkan sebuah arsitektur kredibilitas yang dibangun secara sadar dan berlapis. Ia terkonstruksi dari tiga fondasi utama yang saling menguatkan: otoritas keilmuan yang berprinsip pada Laa Takallum Illa bil Marji', integritas karakter yang berpuncak pada "kejujuran intelektual", dan kearifan situasional yang termanifestasi dalam kemampuannya mengelola paradoks antara peran faqih dan murabbi. Sinergi dari ketiga fondasi ini menghasilkan sebuah ethos yang utuh, yang secara efektif berfungsi sebagai modal retoris utama untuk mengartikulasikan tiga dimensi profetik: liberasi, humanisasi, dan transendensi.

Secara teoretis, ethos yang terbangun ini merupakan manifestasi praktis dari sebuah sintesis yang kaya. Ia berakar pada konsep karakter moral (arete) dari retorika klasik Aristoteles; dioperasionalkan melalui komponen keahlian (expertise) dan keterpercayaan (trustworthiness) dari teori Source Credibility Hovland, Janis, dan Kelley; dan diberi arah serta tujuan oleh nilai-nilai profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam retorika profetik, kredibilitas seorang dai tidak hanya dinilai dari apa yang ia ketahui, tetapi dari keselarasan total antara ilmu, karakter, dan tujuan transformatif dari dakwahnya.

Jika ditarik sebuah benang merah yang menyatukan semua manifestasi ethos ini—mulai dari ketergantungan pada kitab, kehati-hatian dalam menjawab, hingga fokus pada materi dasar—maka akan terlihat sebuah pola yang konsisten pada orientasi yang bersifat fondasional. Pada bagian selanjutnya, kita akan menguji apakah pola yang sama juga muncul dalam analisis pilar pathos, untuk melihat bagaimana emosi dan narasi dibangun di atas fondasi kepercayaan yang telah mapan ini.

2. Implementasi Aspek Pathos: Mengelola Emosi dan Narasi untuk

Internalisasi Nilai Setelah fondasi kepercayaan (ethos) terbangun kokoh melalui otoritas ilmu dan integritas karakter, pilar kedua yang menjadi mesin penggerak utama dalam retorika profetik Mama Cianting adalah kemampuannya yang luar biasa dalam mengelola aspek pathos. Jika ethos meyakinkan akal jamaah bahwa sang dai adalah sumber yang dapat dipercaya, maka pathos berfungsi untuk menyentuh hati mereka, memastikan pesan yang disampaikan tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga meresap secara emosional dan spiritual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Mama Cianting adalah seorang maestro dalam menggunakan "bahasa hati"—cerita, humor, empati, dan sentuhan emosional—untuk membuat ajaran-ajaran yang bersifat normatif dan transenden menjadi lebih membumi, relevan, dan tak terlupakan.

Pembahasan pada bagian ini akan mengurai tiga strategi utama yang Mama Cianting gunakan dalam mengelola pathos untuk mencapai tujuantujuan profetik. Pertama, akan dianalisis bagaimana Mama Cianting secara konsisten menggunakan narasi dan kisah—baik yang bersifat spiritual maupun yang diambil dari realitas sehari-hari—sebagai 'bor' metaforis untuk melunakkan hati jamaah dan menanamkan nilai-nilai luhur. Kedua, akan dibedah bagaimana Mama Cianting secara sadar mengelola atmosfer emosional majelis, melalui perpaduan strategis antara humor yang mencairkan, empati yang mengharukan, dan peringatan keras (fear appeal) yang menggugah kesadaran. Ketiga, akan diinterpretasikan bagaimana metafora dan analogi yang kaya tidak hanya berfungsi sebagai pemanis retoris, tetapi juga sebagai jembatan krusial yang menghubungkan logika hukum (logos) dengan pengalaman emosional (pathos), sehingga ajaran yang kaku sekalipun dapat dirasakan maknanya. a. Temuan dan analisis bahasa pada aspek metafora dan transendensi 1) Mekanisme "Bor dan Paku": Narasi sebagai Pembuka Gerbang Psikologis Menuju Pemahaman Transenden Untuk memahami secara mendalam efektivitas penggunaan kisah dalam dakwah Mama Cianting, khususnya untuk menanamkan nilai-nilai Transendensi, kita dapat menggunakan kerangka analisis metaforis “Bor dan Paku”. Mekanisme retoris ini mengilustrasikan bagaimana Mama Cianting secara strategis mempersiapkan kondisi psikologis dan emosional jamaah sebelum menyampaikan inti pesan spiritual yang abstrak. Dalam metafora ini, “kayu keras” adalah kondisi awal audiens yang mungkin skeptis atau apatis terhadap hal-hal gaib. “Paku” adalah inti pesan transenden itu sendiri (misalnya, keyakinan pada pertolongan malaikat atau syafaat di hari akhir). Mama Cianting memahami bahwa “paku” ini tidak bisa ditancapkan secara paksa, melainkan memerlukan “bor” berupa narasi yang menyentuh hati untuk melunakkan pertahanan audiens terlebih dahulu.

Mekanisme ini bekerja dengan cara mengubah mode penerimaan pesan dari yang bersifat konfrontatif menjadi partisipatif. Alih-alih menyampaikan perintah doktrinal seperti “Anda harus yakin bahwa setiap amalan kecil pun bernilai besar,” Mama Cianting mengundang jamaah ke dalam sebuah dunia cerita. Saat mendengarkan sebuah kisah, audiens secara natural menangguhkan ketidakpercayaan (suspension of disbelief) dan terlibat secara emosional. Proses inilah yang menjadi “bor” pelunak hati. Contoh paling jelas dari mekanisme ini adalah saat Mama Cianting menjelaskan adab di tempat yang paling profan sekalipun, yaitu WC. Mama Cianting tidak memulai dengan dalil, melainkan dengan sebuah narasi spiritual yang sangat kuat:

"Dina hiji riwayat disebatkeun, satiap aya umat Nabi Muhammad nu ngamalkeun sunnah, sanaos ngan sunnah lebet ka WC, 'serepet' malaikat teh hiber ngalaporkeun ka Kanjeng Nabi. Ceuk malaikat, 'Ya Rasulallah, umat anjeun si Fulan nembe lebet WC nuturkeun adab anjeun.' Kanjeng Nabi ngawaler bari imut, 'Kula bungah pisan, sampaikeun salam kaula ka anjeunna'."359 (Terjemahan: "Dalam satu riwayat disebutkan, setiap ada umat Nabi Muhammad yang mengamalkan sunnah, meskipun hanya sunnah masuk ke WC, 'secepat kilat' malaikat itu terbang melapor kepada Kanjeng Nabi. Kata malaikat, 'Ya Rasulallah, umatmu si Fulan baru saja masuk WC mengikuti adabmu.' Kanjeng Nabi menjawab sambil tersenyum, 'Aku bahagia sekali, sampaikan salamku padanya'.")

Narasi ini berfungsi sebagai "bor" yang sangat efektif karena memiliki kesetiaan naratif (Narrative Fidelity) yang tinggi. Ia "beresonansi" dengan nilai terdalam yang dimiliki jamaah: cinta kepada Rasulullah ‫ﷺ‬. Emosi haru dan cinta yang muncul dari cerita ini secara psikologis melunakkan “kayu keras” penolakan atau sikap meremehkan. Setelah hati jamaah menjadi lunak dan terbuka, barulah “paku” dari pesan transenden itu ditancapkan: yaitu keyakinan bahwa setiap amalan sunnah sekecil 359 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 5 Mei 2025 (Observasi ke-9). apapun memiliki nilai kosmik, disaksikan oleh malaikat, dan berdampak langsung pada hubungan spiritual dengan Sang Nabi.360 Implikasi profetik dari satu narasi ini bersifat berlapis. Pertama, ia secara jelas mengartikulasikan dimensi transendensi dengan membuat yang gaib (ghaib) terasa dekat, nyata, dan interaktif. Kedua, ia adalah sebuah praktik humanisasi yang mendalam. Dengan berfokus pada "senyuman" dan "rasa bahagia" Rasulullah, narasi ini memanusiakan hubungan spiritual, mengubahnya dari hubungan hamba-Tuhan yang formal menjadi hubungan cinta yang personal antara umat dengan Nabinya. Ketiga, ia memiliki dampak liberasi. Dengan memberikan nilai yang sangat tinggi pada amalan yang paling "kecil" sekalipun, narasi ini membebaskan jamaah dari perasaan bahwa kesalehan hanya milik mereka yang mampu melakukan amalan-amalan besar. Ia memberdayakan setiap individu dengan keyakinan bahwa setiap tindakan mereka, sekecil apapun, berarti. Inilah mekanisme "Bor dan Paku" yang secara konsisten digunakan Mama Cianting untuk membuat hal-hal yang transenden menjadi terasa dekat, nyata, dan personal bagi jamaahnya.361 2) Menghadirkan yang Gaib: Analisis Narasi "Malaikat Melapor" dalam Membangun Kesadaran Muraqabah Salah satu strategi naratif yang paling kuat dan sering diulang oleh Mama Cianting untuk menanamkan nilai transendensi adalah dengan sakralisasi ruang profan, yaitu mengangkat tindakan yang paling biasa dan dilakukan di tempat yang paling tersembunyi menjadi sebuah peristiwa kosmik yang bernilai tinggi. Narasi "Malaikat Melapor kepada Nabi" yang Mama Cianting sampaikan saat membahas adab masuk WC menjadi contoh paling representatif dari mekanisme ini. Dengan memilih konteks yang paling tidak mungkin untuk sebuah peristiwa spiritual (kamar mandi), Mama Cianting justru menciptakan dampak pathos yang maksimal, 360 Walter Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 64. 361 Fisher, Human Communication as Narration, 119. menunjukkan bahwa tidak ada satu jengkal pun dari kehidupan seorang Muslim yang luput dari perhatian dan makna spiritual.

Dalam sesi kajian yang terekam pada Observasi ke-9, setelah menjelaskan tata cara adab, Mama Cianting tidak berhenti pada penjelasan teknis. Mama Cianting membawa jamaah masuk ke dalam sebuah imajinasi spiritual dengan menuturkan sebuah kisah yang hidup dan dramatis:

"Kupingkeun-kupingkeun. Dina hiji riwayat disebatkeun, satiap aya umat Nabi Muhammad nu ngamalkeun sunnah, sanaos ngan sunnah lebet ka WC, 'serepet' malaikat teh hiber ngalaporkeun ka Kanjeng Nabi. Ceuk malaikat, 'Ya Rasulallah, umat anjeun si Fulan nembe lebet WC nuturkeun adab anjeun.' Kanjeng Nabi ngawaler bari imut, 'Kula bungah pisan, sampaikeun salam kaula ka anjeunna. Sing saha nu ngahirupkeun sunnah kaula, bakal meunang kanyaah kaula'."362 (Terjemahan: "Dengarkan ini. Dalam satu riwayat disebutkan, setiap ada umat Nabi Muhammad yang mengamalkan sunnah, meskipun hanya sunnah masuk ke WC, 'secepat kilat' malaikat itu terbang melapor kepada Kanjeng Nabi. Kata malaikat, 'Ya Rasulallah, umatmu si Fulan baru saja masuk WC mengikuti adabmu.' Kanjeng Nabi menjawab sambil tersenyum, 'Aku bahagia sekali, sampaikan salamku padanya. Siapa saja yang menghidupkan sunnahku, akan mendapatkan cintaku'.")

Narasi ini secara retoris memiliki beberapa fungsi yang sangat kuat. Pertama, ia secara efektif menanamkan konsep muraqabah (perasaan diawasi). Namun, muraqabah yang dibangun bukanlah yang bersifat menghakimi atau menakutkan, melainkan yang bersifat apresiatif. Jamaah diajak membayangkan bahwa tindakan mereka "dilaporkan" bukan untuk dicari kesalahannya, melainkan untuk diapresiasi oleh sosok yang paling mereka cintai. Hal ini mengubah paradigma pengawasan dari sesuatu yang represif menjadi sesuatu yang motivasional.

362 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 5 Mei 2025 (Observasi ke-9).

Kedua, dan ini yang paling penting, narasi ini secara fundamental menggeser motivasi utama dalam beribadah dari logika transaksional (mencari pahala) ke logika relasional (mencari cinta). Secara teoretis, ini adalah puncak dari penggunaan pathos dalam kerangka Paradigma Naratif Walter Fisher. Kekuatan persuasif narasi ini tidak terletak pada janji surga atau ganjaran materi, melainkan pada "alasan baik" (good reason) yang bersifat relasional: senyuman dan rasa "bungah" (bahagia) dari Rasulullah ‫ﷺ‬. Dengan menjadikan kebahagiaan Sang Nabi sebagai ganjaran tertinggi, Mama Cianting secara efektif menanamkan nilai mahabbah (cinta) sebagai pendorong utama dalam menjalankan sunnah. Amalan tidak lagi dilakukan karena kewajiban semata, tetapi sebagai sebuah ekspresi cinta untuk menyenangkan yang dicintai. Ini adalah artikulasi dimensi transendensi yang sangat personal dan intim.363 Dampak emosional dari narasi ini sangat nyata. Catatan lapangan menunjukkan bahwa setelah kisah ini dituturkan, suasana majelis menjadi hening dan khidmat, "disusul isak tangis haru dari beberapa jamaah." Reaksi pathos yang kuat ini menandakan bahwa pesan tersebut telah berhasil terinternalisasi. Jamaah tidak hanya memahami cerita tersebut, tetapi mereka "merasakan" kemungkinan untuk mendapatkan salam dan cinta dari Nabi mereka, sebuah pengalaman transenden yang intim dan personal. Dengan demikian, narasi "Malaikat Melapor" menjadi sebuah alat retoris yang sangat ampuh untuk mengubah tindakan paling profan menjadi jembatan langsung menuju realitas spiritual tertinggi.

3) Sakralitas Ruang dan Konsekuensi Spiritual: Analisis Narasi "Batu Arafah" Selain menggunakan narasi untuk membangun hubungan emosional yang intim dengan yang gaib, Mama Cianting juga memanfaatkan kekuatan cerita untuk menegaskan bahwa realitas transenden memiliki hukum dan 363 Walter Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 64. konsekuensi yang nyata di dunia fisik. Strategi ini paling jelas terlihat dalam penggunaan narasi "Batu Arafah", sebuah kisah yang berfungsi sebagai bukti empiris-spiritual untuk mengajarkan konsep Islam yang abstrak tentang kesakralan ruang (hurmah al-makan) dan adanya hukum sebabakibat spiritual (sunnatullah).

Dalam sesi kajian yang terekam pada Observasi ke-7, sebelum menuturkan kisah ini, Mama Cianting terlebih dahulu membangun landasan hukumnya dengan mengutip pendapat ulama tentang kewajiban mengembalikan pasir yang menempel di sandal. Setelah fondasi logis diletakkan, Mama Cianting beralih ke ranah pathos dengan menyajikan sebuah "contoh" yang dramatis dan nyata. Mama Cianting melukiskan dengan detail:

"Aya hiji jalmi, balik ti Mekah. Anjeunna nyandak tilu siki batu ti Arafah, niatna kanggo kenang-kenangan. Saatos dugi ka lemburna, anjeunna gering... teu pararuguh... salami dua puluh salapan dinten. Diperiksa ku dokter, teu aya panyakitna. Badan panas tiris, pikiran lieur."364 (Terjemahan: "Ada seseorang, pulang dari Mekah. Mama Cianting mengambil tiga buah batu dari Arafah, niatnya untuk kenang-kenangan. Setelah sampai di kampungnya, Mama Cianting sakit... tidak karuan... selama dua puluh sembilan hari. Diperiksa oleh dokter, tidak ada penyakitnya. Badan panas dingin, pikiran pusing.")

Bagian pertama dari narasi ini secara efektif membangun sebuah logika kausalitas spiritual. Dengan menekankan bahwa penyakit tersebut "tidak terdeteksi oleh dokter", Mama Cianting secara retoris menggeser penjelasan dari ranah medis yang empiris ke ranah spiritual yang transenden. Narasi ini membangun sebuah argumen implisit: ada sebuah "sebab" non-fisik yang menghasilkan "akibat" fisik. Ketegangan ini kemudian diselesaikan saat akar masalahnya terungkap dan diperbaiki.

364 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 21 April 2025 (Observasi ke-7, Konteks Syawal).

"Akhirna aya nu masihan terang, 'Cing, emutan, ti Mekah kamari nyandak naon?' Anjeunna emut kana tilu batu eta... Saatos batu eta dikembalikeun, dinten eta keneh anjeunna langsung cageur." (Terjemahan: "Akhirnya ada yang memberi tahu, 'Coba, ingat-ingat, dari Mekah kemarin membawa apa?' Mama Cianting teringat pada tiga batu itu... Setelah batu itu dikembalikan, hari itu juga Mama Cianting langsung sembuh.")

Secara teoretis, kekuatan persuasif dari narasi ini dapat dibedah melalui lensa Paradigma Naratif Walter Fisher. Kisah ini memiliki koherensi naratif (Narrative Coherence) yang sangat tinggi karena alur sebabakibatnya yang jelas: (1) pelanggaran -> (2) konsekuensi -> (3) perbaikan - > (4) resolusi. Meskipun premisnya supranatural, alurnya sangat logis dan memuaskan secara naratif. Lebih penting lagi, ia memiliki kesetiaan naratif (Narrative Fidelity) yang luar biasa bagi audiensnya365. Kisah ini "beresonansi" dan terasa "benar" karena ia mengkonfirmasi dan memperkuat kerangka keyakinan (weltanschauung) yang sudah ada di benak jamaah tentang kesakralan Tanah Haram dan adanya hukum spiritual yang bekerja di alam semesta.

Dampak emosional dari narasi ini—"desahan kolektif" dan "jamaah yang bergidik"—adalah respons pathos yang menandakan bahwa pesan tersebut telah berhasil terinternalisasi. Jamaah tidak hanya "tahu" bahwa Tanah Haram itu suci, tetapi mereka "merasakan" kesucian dan konsekuensi dari melanggar kehormatannya. Implikasi profetik dari narasi ini bersifat ganda. Pertama, ia secara gamblang mengartikulasikan dimensi transendensi, membuat hukum Allah yang tak terlihat menjadi sebuah realitas yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dunia fisik. Kedua, ia berfungsi sebagai instrumen liberasi. Dengan menanamkan rasa takwa dan hormat yang otentik pada aturan-aturan Allah, narasi ini membebaskan jamaah dari kelalaian dan dari potensi bahaya spiritual yang lahir dari 365 Walter Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 119. ketidaktahuan. Dengan demikian, narasi "Batu Arafah" adalah sebuah contoh utama bagaimana retorika profetik menggunakan cerita yang berbasis pengalaman untuk mengajarkan keimanan, mengubah sebuah prinsip transenden yang sulit dibayangkan menjadi sebuah pelajaran kausal yang logis dan mudah diingat.

4) Keteladanan sebagai Inspirasi Transenden: Peran Kisah Para Ulama dalam Mengorientasikan Tujuan Hidup Selain narasi yang bertujuan membangun kesadaran dan keimanan pada level personal, Mama Cianting juga secara strategis menggunakan narasi keteladanan (exemplary narratives) dari para ulama salaf untuk membentuk visi dan mengorientasikan tujuan hidup jamaahnya. Kisahkisah ini tidak hanya berfungsi sebagai cerita inspiratif, tetapi sebagai sebuah argumen retoris yang kuat untuk mendefinisikan makna "kesalehan sejati". Melalui narasi ini, Mama Cianting secara subtil menggeser pemahaman jamaah dari kesalehan yang berpusat pada ritual individual menuju kesalehan sosial yang berorientasi pada kemanfaatan umat, yang Mama Cianting posisikan sebagai puncak pencapaian spiritual.

Ilustrasi utama dari strategi ini adalah kisah yang sering Mama Cianting angkat tentang Imam Wali Qutub Habib Ahmad bin Umar bin Smith. Dalam salah satu wawancara, Mama Cianting menuturkan kisah ini dengan penuh kekaguman. Mama Cianting tidak hanya menceritakan kehebatan sang Imam, tetapi juga menekankan pada metode dakwahnya yang proaktif dan membumi:

"Dakwah oge Imam Wali Qutub Habib Ahmad bin Umar bin Smith... Itu dakwahnya diakui oleh para ulama kehebatan dakwahnya, karena dimana-mana ada kumpulan: ieu yeh pedagang, masuk ka pedagang langsung dakwah masalah jual beli; ieu karyawan, asup dakwah masalah sholat; ieu petani asup, dakwah masalah sholat wudhuna kaos kieu. Tiap-tiap lembur dilebetan ku Imam Ahmad bin Umar bin Smith..."366 366 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting, 22 Januari 2025. (Terjemahan: "Dakwah juga (seperti) Imam Wali Qutub Habib Ahmad bin Umar bin Smith... Itu dakwahnya diakui oleh para ulama kehebatannya, karena di mana-mana ada kumpulan: ini para pedagang, Mama Cianting masuk ke pedagang langsung dakwah masalah jual beli; ini karyawan, Mama Cianting masuk dakwah masalah shalat; ini petani, Mama Cianting masuk, dakwah masalah shalat wudhunya seperti apa. Setiap desa dimasuki oleh Imam Ahmad bin Umar bin Smith...")

Setelah membangun latar tentang amal sosial sang Imam, Mama Cianting kemudian masuk ke dalam klimaks cerita yang bersifat transenden, yaitu ganjaran spiritual tertinggi yang diterima oleh sang Imam:

"Akhirna ada yang mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, Rasulullah nitip salam: 'saya nitip salam kepada Ahmad bin Umar bin Smith.' Begitu gugah disampaikan, 'Rasulullah SAW nitip salam, ieu amal anjeun naon?' 'Ah amal kaula mah kieu we: dakwah, ngajar nyebarkeun elmu, karunya itu tatangga teh bisa fatihah, karunya itu di lembur itu teh bisauen sholat.' Di datangan, jadi jemput bola..." (Terjemahan: "Akhirnya ada yang mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, Rasulullah menitip salam: 'saya titip salam kepada Ahmad bin Umar bin Smith.' Begitu bangun disampaikan, 'Rasulullah SAW nitip salam, ini amal Anda apa?' 'Ah amal saya ini saja: dakwah, mengajar menyebarkan ilmu, kasihan tetangga itu bisa fatihah, kasihan di desa itu bisa shalat.' Didatangi, jadi jemput bola...")

Analisis mendalam terhadap narasi ini menunjukkan sebuah argumen retoris yang sangat kuat. Secara teoretis, kisah ini memiliki kesetiaan naratif (Narrative Fidelity) yang sangat tinggi dalam kerangka Paradigma Naratif Walter Fisher367. Ia "beresonansi" dengan nilai-nilai terdalam jamaah tentang pentingnya kemanfaatan sosial (kemanfaatan umat) dan cinta kepada Rasulullah ‫ﷺ‬. Dengan menjajarkan amal yang tampak "sederhana" (mengajari Fatihah, peduli pada shalat tetangga)

367 Walter Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 119. dengan ganjaran yang "luar biasa" (salam personal dari Rasulullah ‫)ﷺ‬, Mama Cianting secara implisit membangun sebuah hierarki spiritual. Ia mengarahkan pemahaman jamaah bahwa tujuan hidup yang paling transenden dan paling dihargai di sisi Nabi bukanlah kesalehan yang bersifat individualistis, melainkan kesalehan sosial—yaitu amal yang dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Narasi ini menjadi contoh canggih bagaimana ketiga dimensi profetik dijalin menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ganjaran tertinggi dalam cerita ini adalah sebuah pencapaian transenden (salam dari Rasulullah). Namun, jalan untuk mencapai transendensi tersebut bukanlah melalui ibadah ritual yang terisolasi, melainkan melalui praksis humanisasi (peduli dan "kasihan" pada kondisi spiritual tetangga) dan liberasi (membebaskan mereka dari kebodohan akan Fatihah dan shalat). Dengan demikian, pathos yang dibangkitkan oleh cerita ini tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mendidik jamaah tentang sebuah kebenaran profetik yang fundamental: bahwa jalan menuju Tuhan (transendensi) harus melalui jalan pengabdian kepada sesama manusia (humanisasi dan liberasi).

Kekuatan narasi ini terletak pada kemampuannya untuk mengorientasikan kembali motivasi beragama. Jamaah diajak untuk bercitacita tidak hanya menjadi individu yang shalih (saleh secara personal), tetapi juga menjadi individu yang muslih (membawa perbaikan bagi orang lain). Visi ini terbukti diinternalisasi oleh sebagian jamaah, seperti Bagas, seorang aktivis sosial majelis, yang menyatakan bahwa pemahamannya tentang kesalehan mendorongnya untuk aktif dalam program-program sosial. Dengan demikian, narasi keteladanan ini berfungsi sebagai kompas spiritual, yang menggunakan kekuatan pathos untuk mengarahkan tujuan hidup jamaah menuju visi profetik yang luhur: sebuah transendensi yang terwujud dalam praksis humanisasi dan liberasi. b. Temuan dan Analisis Pengelolaan Atmosfer Emosional: Humor, Empati, dan Fear Appeal sebagai Instrumen Dakwah yang Memanusiakan 1) Dakwah sebagai Perjalanan Emosional yang Terarah Analisis mendalam terhadap aspek pathos dalam dakwah Mama Cianting menunjukkan bahwa sebuah sesi pengajian di Majelis Al-Aqthob bukanlah sekadar transfer informasi yang linear dan datar, melainkan sebuah "perjalanan emosional" yang dirancang dan dipandu secara sadar. Berbeda dengan pendekatan dakwah yang murni kognitif, Mama Cianting tidak membiarkan emosi jamaah muncul secara acak. Sebaliknya, Mama Cianting bertindak sebagai seorang "orkestrator" ulung yang secara strategis memandu ribuan audiensnya melalui spektrum perasaan yang beragam. Kemampuan untuk membawa jamaah dari satu kondisi emosional ke kondisi lainnya dalam satu alur yang koheren adalah inti dari strategi pathos-nya.

Perjalanan emosional ini dapat terlihat dari dinamika atmosfer yang Mama Cianting ciptakan. Dalam satu momen, Mama Cianting mampu menciptakan suasana yang hening, khusyuk, dan penuh keharuan saat membahas hak seorang ibu, dengan menggunakan argumen yang menyentuh nurani terdalam:

"Sanajan urang sholat nepi ka hideung tarang, tahajud unggal peuting, lamun hate indung urang nyeri ku kalakuan urang, moal ditarima eta ibadah!" (Terjemahan: "Meskipun kita shalat sampai hitam dahi, tahajud setiap malam, jika hati ibu kita sakit oleh kelakuan kita, tidak akan diterima ibadah itu!")

Namun, kelembutan dan suasana haru ini dapat seketika beralih menjadi atmosfer yang tegang dan penuh kewaspadaan saat Mama Cianting masuk ke ranah peringatan keras (fear appeal). Hal ini teramati saat Mama Cianting membahas bahaya riba, di mana Mama Cianting membangun ketegangan dengan sebuah hadits eskatologis yang kuat:

"Kanjeng Nabi ngadawuh, 'Moal dugi kiamah, dugi ka satiap imah di dunia ieu keuna ku kekebulna riba.' Hadirin, eta teh peringatan keras!" (Terjemahan: "Kanjeng Nabi bersabda, 'Tidak akan datang kiamat, sampai setiap rumah di dunia ini terkena oleh debu-debu riba.' Hadirin, itu adalah peringatan keras!") Kemudian, untuk melepaskan ketegangan psikologis yang terbangun dan membahas topik fiqih yang sensitif, Mama Cianting secara mahir menggunakan humor sebagai jembatan pedagogis. Pertanyaan jenaka seperti "Kumaha lamun salakina nyusu ka pamajikanana?" (Terjemahan: "Bagaimana kalau suaminya menyusu pada istrinya?") saat membahas hukum radha'ah, berhasil memecah ketegangan dan menciptakan tawa ringan di seluruh majelis.

Gambar 8: Saat Mama Cianting Hendak berdiri Untuk Menjelaskan.

Mama Cianting juga menggunakan metode demonstrasi langsung ketika menjelaskan bab tertentu seperti wudu atau gerakan Shalat. Hal ini menunjukkan fleksibilitas Mama Cianting dalam menyesuaikan metode dakwahnya dengan situasi dan kondisi yang ada untuk mencapai efektivitas yang maksimal.

Dalam intonasi, Mama Cianting menggunakan gaya bicara yang tegas saat menyampaikan dakwah, namun pada beberapa pembahasan tertentu, ia juga mengubah intonasinya menjadi lebih lembut.

Gambar 9: Mama Cianting Menyampaikan dengan Tegas.

Kemampuan untuk beralih secara mulus di antara spektrum emosi ini—dari empati yang mengharukan, ketakutan yang menyadarkan, hingga tawa yang mendekatkan—menunjukkan bahwa penggunaan pathos dalam dakwahnya bukanlah acak, melainkan instrumen yang sangat disadari. Ini adalah strategi yang disengaja untuk menciptakan kondisi psikologis yang paling reseptif bagi internalisasi pesan-pesan profetik. Sebagaimana yang akan diurai pada bagian selanjutnya, setiap "alat" emosi ini digunakan secara terukur untuk mencapai tujuan humanisasi dan liberasi yang spesifik. Dengan demikian, pathos dalam retorika Mama Cianting adalah sebuah seni mengelola hati untuk membuka pintu akal dan menggerakkan jiwa. 2) Empati sebagai Fondasi Humanisasi: Analisis Retorika "Bakti pada Ibu" Strategi pengelolaan emosi yang paling mendasar dan sering digunakan oleh Mama Cianting untuk mengartikulasikan dimensi humanisasi adalah dengan membangkitkan empati. Mama Cianting secara mahir mengarahkan audiens untuk merasakan dan merefleksikan hubunganhubungan kemanusiaan yang paling fundamental. Alih-alih hanya memberikan perintah untuk "berbuat baik", Mama Cianting menciptakan sebuah pengalaman emosional kolektif yang membuat kebaikan itu terasa sebagai sebuah kebutuhan dan keniscayaan. Analisis terhadap retorika "Bakti pada Ibu", sebagaimana terekam dalam Observasi ke-5, menjadi contoh paling representatif dari strategi ini.

Dalam sesi tersebut, Mama Cianting tidak memulai dengan dalildalil normatif tentang kewajiban anak. Mama Cianting terlebih dahulu membangun sebuah narasi yang sangat dekat dengan realitas dan kelalaian yang umum terjadi di kalangan jamaah. Dengan nada yang empatik, Mama Cianting melukiskan gambaran seorang anak yang telah dewasa dan sibuk dengan dunianya sendiri:

"Urang teh kadang poho. Sibuk ngurus pamajikan, sibuk ngurus pagawean, indung nu ngandung urang, nu ngalahirkeun urang nepi ka ampir paeh, ku urang diantepkeun. Ditelepon henteu, didongkapan komo." (Terjemahan: "Kita itu kadang lupa. Sibuk mengurus istri, sibuk mengurus pekerjaan, ibu yang mengandung kita, yang melahirkan kita sampai hampir mati, oleh kita diabaikan. Ditelepon tidak, dikunjungi apalagi.")

Narasi pembuka ini berfungsi untuk menciptakan identifikasi. Jamaah diajak untuk melihat cerminan diri mereka sendiri dalam cerita tersebut. Setelah berhasil membangun fondasi emosional ini, Mama Cianting kemudian menghadirkan klimaks retorisnya. Mama Cianting secara sengaja menjajarkan dua bentuk kesalehan yang paling agung— kesalehan ritual (shalat) dan kesalehan sosial (bakti pada ibu)—lalu menegaskan superioritas yang kedua dalam konteks ini:

"Kade! Sanajan urang sholat nepi ka hideung tarang, tahajud unggal peuting, lamun hate indung urang nyeri ku kalakuan urang, moal ditarima eta ibadah!" (Terjemahan: "Hati-hati! Meskipun kita shalat sampai hitam dahi, tahajud setiap malam, jika hati ibu kita sakit oleh kelakuan kita, tidak akan diterima ibadah itu!")

Argumen ini memiliki kekuatan pathos yang luar biasa karena ia menyentuh titik paling sensitif dalam spiritualitas jamaah: validitas ibadah mereka di hadapan Tuhan. Dengan mengancam "tidak diterimanya ibadah" sebagai konsekuensi dari menyakiti hati seorang ibu, Mama Cianting secara efektif mengangkat status hubungan kemanusiaan ke level transenden. Dampak dari manuver retoris ini sangat terasa di seluruh ruangan. Catatan lapangan menggambarkan suasana yang tercipta: "seisi majelis hening total, banyak jamaah, baik laki-laki maupun perempuan, serentak menundukkan kepala, dan beberapa ibu terlihat mengusap air mata." Ini adalah sebuah praktik humanisasi yang radikal: memanusiakan hubungan dengan ibu sedemikian rupa sehingga ia menjadi prasyarat bagi diterimanya hubungan dengan Tuhan.368 Reaksi emosional yang mendalam ini—keheningan, tangis, dan gestur menunduk—menandakan terjadinya sebuah momen introspeksi massal. Ini bukan lagi sekadar proses mendengarkan, melainkan sebuah proses internalisasi nilai. Secara teoretis, ini adalah bukti dari kesetiaan naratif (Narrative Fidelity) yang sangat tinggi dalam kerangka Paradigma Naratif Walter Fisher369. Narasi ini "beresonansi" dan terasa "benar" karena ia menyentuh nilai kultural dan religius terdalam yang diyakini oleh jamaah. Melalui strategi ini, Mama Cianting berhasil menggunakan empati sebagai fondasi untuk pesan humanisasinya. Ia tidak hanya menyuruh jamaah untuk memuliakan orang tua mereka, tetapi membuat mereka merasakan betapa pentingnya hal tersebut. Dengan demikian, retorika pathos yang empatik ini 368 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. 369 Walter Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 119. menjadi instrumen yang sangat efektif untuk mengubah sebuah ajaran moral menjadi sebuah imperatif emosional yang kuat dan personal.

3) Fear Appeal Konstruktif sebagai Katalisator Liberasi Selain membangun ikatan melalui empati, Mama Cianting juga secara mahir menggunakan strategi pathos yang tampak berkebalikan: peringatan keras atau fear appeal. Pembahasan ini menunjukkan bahwa penggunaan rasa takut dalam retorikanya bukanlah untuk menciptakan keputusasaan, melainkan berfungsi sebagai "syok terapeutik" yang konstruktif. Secara teoretis, fear appeal adalah teknik persuasi yang bertujuan mengubah perilaku dengan menyoroti ancaman atau konsekuensi negatif. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada apakah audiens merasa mampu untuk mengatasi ancaman tersebut (self-efficacy). Di sinilah kejeniusan retoris Mama Cianting terlihat: ia menggunakan rasa takut secara spesifik untuk isu-isu di mana jamaah telah berada dalam kondisi lalai atau telah menormalisasi sebuah praktik yang salah, lalu segera menindaklanjutinya dengan solusi yang memberdayakan.

Implementasi strategi ini yang paling jelas teramati dalam kajian fiqih muamalah pada Observasi ke-6, terutama saat membahas bahaya riba. Mama Cianting tidak langsung menyampaikan ancaman, melainkan membangun argumennya dengan terlebih dahulu mengidentifikasi praktikpraktik lokal yang akrab di telinga jamaah, seperti jual beli ikan di kolam atau upah pemanjat kelapa. Setelah mengaitkan praktik-praktik tersebut dengan dosa riba, Mama Cianting kemudian menghadirkan sebuah narasi peringatan eskatologis yang sangat kuat dan mengguncang:

"Kanjeng Nabi ngadawuh, 'Moal dugi kiamah, dugi ka satiap imah di dunia ieu keuna ku kekebulna riba.' Hadirin, eta teh peringatan keras!" (Terjemahan: "Kanjeng Nabi bersabda, 'Tidak akan datang kiamat, sampai setiap rumah di dunia ini terkena oleh debu-debu riba.' Hadirin, itu adalah peringatan keras!")

Dampak retoris dari kalimat ini sangat terukur. Sebagaimana tercatat dalam catatan lapangan, atmosfer majelis seketika berubah menjadi "sangat hening dan tegang," dan "wajah-wajah jamaah tampak serius dan gelisah." Reaksi pathos ini menunjukkan bahwa pesan tersebut berhasil mencapai tujuannya. Rasa takut di sini berfungsi untuk mende-normalisasi praktik riba yang mungkin sudah dianggap biasa. Ia meruntuhkan rasa nyaman dan apatisme jamaah terhadap dosa besar tersebut.

Tujuan akhir dari fear appeal ini adalah liberasi, sejalan dengan semangat nahi munkar dalam Ilmu Sosial Profetik370. Dengan menciptakan kondisi urgensi emosional, Mama Cianting secara efektif membuat jamaah menjadi sangat reseptif dan bahkan "lapar" akan solusi. Rasa takut akan konsekuensi dosa di akhirat memotivasi mereka untuk secara aktif mencari jalan keluar dari praktik yang salah. Di sinilah sinergi antara pilar retorika menjadi sangat jelas. Pathos (rasa takut) berfungsi sebagai "pembuka gerbang" yang membuat logos (solusi praktis) menjadi sangat dibutuhkan dan mudah diterima. Solusi-solusi berbasis logos yang Mama Cianting tawarkan setelahnya—seperti cara memperbaiki akad dan pentingnya zakat—tidak lagi didengar sebagai aturan yang memberatkan, melainkan sebagai "pelampung penyelamat" yang ditunggu-tunggu. Dengan demikian, fear appeal dalam retorika Mama Cianting bukanlah sebuah jalan buntu yang menakutkan, melainkan sebuah gerbang yang "dipaksa buka" agar jamaah dapat melaluinya menuju pembebasan spiritual dan ekonomi.

4) Humor Strategis sebagai Jembatan Pedagogis dan Pencair Suasana Selain empati dan peringatan keras, "alat" emosi ketiga yang secara konsisten dan mahir digunakan oleh Mama Cianting adalah humor. Analisis mendalam menunjukkan bahwa humor dalam dakwahnya tidak pernah menjadi tujuan akhir atau sekadar selingan untuk entertainment. Sebaliknya, humor adalah sebuah instrumen retoris yang sangat strategis 370 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338 dengan fungsi ganda: pertama, sebagai jembatan pedagogis untuk tujuan liberasi, dan kedua, sebagai pencair suasana untuk tujuan humanisasi.

Fungsi pertama humor adalah sebagai jembatan pedagogis yang membebaskan (liberasi) jamaah dari hambatan psikologis untuk mempelajari topik-topik yang sensitif. Mama Cianting memahami bahwa ada beberapa pembahasan fiqih, khususnya yang menyangkut ranah privat dan keluarga, yang dapat menimbulkan rasa malu atau canggung jika disampaikan secara kaku. Untuk mengatasi hal ini, Mama Cianting menggunakan humor sebagai "pintu masuk" yang aman. Contoh paling jelas dari strategi ini adalah saat Mama Cianting menjelaskan hukum radha'ah (sepersusuan) yang rumit dalam Observasi ke-3. Sebelum masuk ke detail hukum, Mama Cianting melontarkan sebuah pertanyaan jenaka yang tak terduga:

"Tah, ayeuna patarosan kanggo bapak-bapak. Kumaha lamun salakina nyusu ka pamajikanana...? Naha eta salaki jadi anak susuna si istri?"371 (Terjemahan: "Nah, sekarang pertanyaan untuk bapak-bapak. Bagaimana kalau suaminya menyusu pada istrinya...? Apakah suami itu jadi anak susu si istri?")

Pertanyaan ini sontak disambut tawa ringan oleh seluruh jamaah. Secara teoretis, ini adalah praktik identifikasi (identification) yang sangat cerdas, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke. Dengan menggunakan humor, Mama Cianting menciptakan sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) dengan jamaah, menempatkan dirinya sebagai seseorang yang memahami kecanggungan mereka dan bersedia membahasnya dengan cara yang ringan372. Tawa kolektif ini berfungsi untuk meruntuhkan "tembok isin" (dinding rasa malu). Implikasi profetiknya adalah liberasi dalam bentuknya yang paling praktis: pembebasan dari 371 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Februari 2025 (Observasi ke-3). 372 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. hambatan psikologis untuk memperoleh ilmu. Humor menjadi alat yang membebaskan jamaah dari rasa canggung yang bisa menghalangi proses belajar mereka.. Dengan demikian, humor menjadi alat yang membebaskan jamaah dari rasa canggung yang bisa menghalangi proses belajar mereka.

Gambar 10: Saat Mama Cianting Bercerita Humor.

Fungsi kedua humor adalah sebagai pencair suasana yang memanusiakan (humanisasi) hubungan antara dai dan jamaah. Setelah menyampaikan materi yang berat atau peringatan yang keras—seperti ancaman tentang riba—Mama Cianting seringkali akan menyisipkan lelucon ringan untuk melepaskan ketegangan yang terbangun. Tindakan ini menunjukkan kecerdasan emosional dan kepedulian Mama Cianting terhadap kondisi psikologis audiensnya. Mama Cianting tidak membiarkan jamaah pulang dengan perasaan tegang atau tertekan, melainkan mengembalikan atmosfer majelis menjadi hangat dan akrab. Ini adalah praktik humanisasi yang menegaskan kembali bahwa hubungan mereka bukanlah antara hakim dan terdakwa, melainkan antara seorang pembimbing dengan keluarganya.

Dalam wawancara, Mama Cianting sendiri mengkonfirmasi bahwa penggunaan humor adalah sebuah metode yang disadari, yang berakar pada prinsip adaptasi audiens (Audience Adaptation)373. Mama Cianting menjelaskan:

"Supaya jamaah teu tegang. Mun sadayana teuing serius, teu asup. Tapi lamun dibarengan carita [termasuk humor], eta bisa nyantol. Dakwah teh kudu saluyu jeung kabudayaan." (Terjemahan: "Supaya jamaah tidak tegang. Kalau semuanya terlalu serius, tidak masuk. Tapi kalau disertai cerita [termasuk humor], itu bisa melekat. Dakwah harus sesuai dengan budaya.")

Pernyataan "Dakwah teh kudu saluyu jeung kabudayaan" (Dakwah harus sesuai dengan budaya) adalah kunci filosofisnya. Ia memahami bahwa dalam konteks budaya Sunda, humor adalah perekat sosial dan medium komunikasi yang sangat dihargai. Dengan mengintegrasikannya secara strategis, ia tidak hanya membuat dakwahnya lebih efektif, tetapi juga lebih manusiawi dan relevan secara kultural. Pada akhirnya, humor dalam retorika Mama Cianting adalah sebuah alat yang sangat fungsional. Ia berfungsi sebagai jembatan yang membebaskan jamaah untuk mempelajari hal-hal yang sulit, sekaligus sebagai perekat yang menjaga hubungan humanis antara ia dengan ribuan pengikutnya.

5) Orkestrasi Emosi untuk Transformasi Holistik Analisis terhadap berbagai strategi emosional yang digunakan menunjukkan bahwa Mama Cianting bukanlah seorang penceramah yang hanya mengandalkan satu "nada" retoris. Sebaliknya, Mama Cianting adalah seorang "orkestrator emosi" yang sangat mahir, yang secara sadar dan terukur memandu jamaahnya dalam sebuah perjalanan emosional yang utuh. Mama Cianting menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang kapan harus menekan "tombol" empati yang mengharukan untuk mencapai tujuan humanisasi—seperti saat membangkitkan rasa cinta dan hormat pada figur ibu; kapan harus membunyikan "lonceng" peringatan yang keras untuk 373 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. menjadi katalisator liberasi—seperti saat memperingatkan bahaya riba agar jamaah terlepas dari kelalaian; dan kapan harus meniupkan "angin segar" humor untuk melepaskan ketegangan dan menjaga keseimbangan atmosfer majelis.

Keseimbangan antara tiga "alat" pathos ini sangat krusial dan merupakan manifestasi praktis dari dialektika profetik itu sendiri. Tanpa empati yang membangun identifikasi dan consubstantiality (sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke), ketegasannya bisa dipersepsikan sebagai sikap yang kaku dan tidak berperasaan. Tanpa peringatan keras (fear appeal) yang berfungsi sebagai "syok terapeutik", kelembutannya bisa membuat jamaah terlena dalam zona nyaman dan tidak terdorong untuk berubah. Dan tanpa humor yang berfungsi sebagai jembatan pedagogis, suasana majelis bisa menjadi terlalu berat dan menekan, sehingga menghalangi penerimaan pesan. Ini adalah sebuah sintesis profetik yang canggih: empati dan humor adalah wujud dari amar ma'ruf (mengajak pada kebaikan) yang bersifat humanisasi, sementara fear appeal adalah instrumen nahi munkar (mencegah kemungkaran) yang bersifat liberasi.

Oleh karena itu, kemampuan untuk mengorkestrasi perjalanan emosional inilah yang menjadi salah satu pilar utama dari kekuatan retorika profetiknya. Ia secara efektif berbicara kepada manusia secara holistik, mengakui bahwa transformasi sejati tidak hanya membutuhkan pencerahan kognitif, tetapi juga keterlibatan afektif. Dengan menyentuh seluruh spektrum perasaan manusia—dari cinta, takut, hingga tawa—dakwahnya tidak hanya mampu mencerahkan akal, tetapi juga secara efektif menggerakkan, menyembuhkan, dan pada akhirnya menghasilkan transformasi yang holistik pada diri jamaahnya. Ini adalah puncak dari penggunaan pathos, di mana emosi tidak lagi menjadi tujuan, melainkan menjadi kendaraan yang membawa jamaah menuju realisasi nilai-nilai profetik dalam kehidupan mereka. c. Temuan dan Analisis Metafora dan Analogi sebagai Jembatan Logika: Bagaimana Pathos Memperkuat Pemahaman Logos 1) Analogi sebagai Titik Temu Akal dan Hati dalam Retorika Salah satu kejeniusan retoris yang paling menonjol dan menjadi ciri khas dalam dakwah Mama Cianting adalah kemampuannya yang sangat mahir dalam menggunakan analogi dan metafora. Dalam praktiknya, analogi tidak hanya berfungsi sebagai "pemanis kalimat" atau ilustrasi tambahan, melainkan sebagai sebuah instrumen kognitif (logos) dan afektif (pathos) yang bekerja secara bersamaan. Ia menjadi titik temu krusial di mana argumen yang logis dan ajaran yang menyentuh hati saling berpelukan dan menguatkan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hampir semua konsep yang rumit, baik dalam fiqih, akidah, maupun tasawuf, selalu "dibumikan" oleh Mama Cianting melalui jembatan analogi ini.

Secara teoretis, mekanisme ini adalah praktik identifikasi (identification) yang sangat kuat, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke374. Ini adalah sebuah proses "menerjemahkan" logika yang rumit ke dalam "bahasa hati". Dengan "memetakan" sebuah konsep teologis yang abstrak ke dalam sebuah citra yang sudah akrab dalam benak jamaah, Mama Cianting menciptakan sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) yang memungkinkan persuasi terjadi. Efektivitasnya terletak pada kemampuannya untuk melewati pertahanan kognitif audiens. Sebuah dalil yang disajikan secara langsung mungkin akan dihadapi dengan pertanyaan kritis, tetapi sebuah analogi yang familiar akan diterima sebagai sebuah cerita yang mengundang partisipasi imajinatif. Contoh paling jelas dari mekanisme ini adalah saat Mama Cianting menjelaskan strategi dakwahnya sendiri dalam sebuah wawancara. Alih-alih menjelaskan teori komunikasi yang kompleks, Mama Cianting menggunakan analogi "dokter":

"Tugas dai teh siga dokter. Sateuacan masihan ubar nu pait (kritik), pasienna kedah dipikanyaah heula, kedah diperhatoskeun. Saatos 374 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. hatena kabuka, nembe dipasihan terang panyakitna... Tapi saatos eta, wajib langsung dipasihan resep ubarna (solusi nu leres)." (Terjemahan: "Tugas dai itu seperti dokter. Sebelum memberikan obat yang pahit (kritik), pasiennya harus disayangi dulu, harus diperhatikan. Setelah hatinya terbuka, baru diberitahu penyakitnya... Tapi setelah itu, wajib langsung diberikan resep obatnya (solusi yang benar).")

Analisis mendalam terhadap analogi ini memperlihatkan adanya struktur logis yang sangat canggih, di mana aspek rasional dan emosional saling berpadu untuk memperkuat pesan dakwah. Mama Cianting secara sistematis memetakan proses dakwah sebagai suatu proses medis yang menuntut keahlian, empati, dan tanggung jawab moral. Dalam konstruksi ini, dai diposisikan sebagai dokter, yakni sosok yang memiliki kompetensi keilmuan, profesionalitas, serta niat baik (goodwill) untuk menyembuhkan. Penempatan ini membangun ethos yang kokoh—sebuah citra kredibilitas yang menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas verbal, melainkan tindakan penyembuhan spiritual yang menuntut ilmu dan ketulusan hati.375 Sementara itu, jamaah diposisikan sebagai pasien, suatu pendekatan humanistik yang menandai pergeseran paradigma dalam komunikasi dakwah. Jamaah tidak lagi diperlakukan sebagai “pendosa” atau “lawan” yang harus disalahkan, melainkan sebagai manusia yang sedang “sakit” dan membutuhkan pertolongan. Perspektif ini menunjukkan praktik humanisasi dakwah, di mana empati menjadi medium utama dalam membangkitkan kesadaran spiritual, sejalan dengan semangat amar ma‘ruf yang menekankan kasih sayang dan kelembutan dalam menyeru kebaikan.376 Selanjutnya, kritik tegas yang kerap muncul dalam ceramah Mama Cianting dianalogikan sebagai obat pahit. Analogi ini berfungsi sebagai 375 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21–25. 376 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1992), 145; Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), 128–129. justifikasi retoris yang kuat terhadap praktik nahi munkar. Kritik yang mungkin terasa keras atau tidak menyenangkan bagi pendengar justru dibingkai sebagai terapi moral yang diperlukan demi kesembuhan batin dan perbaikan akhlak. Dengan demikian, tindakan retoris yang tegas bukanlah ekspresi kemarahan, tetapi bentuk kasih sayang dalam logika penyembuhan spiritual.

Akhirnya, solusi praktis yang selalu hadir setelah kritik tersebut diposisikan sebagai resep penyembuh. Hal ini menegaskan bahwa dakwah Mama Cianting tidak berhenti pada aspek normatif atau peringatan moral semata, tetapi selalu diakhiri dengan tawaran jalan keluar yang jelas, terukur, dan aplikatif. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa dakwah yang dibangun bukan hanya bersifat kontemplatif, melainkan juga liberatif dan transformatif, yaitu dakwah yang mendorong kesadaran umat untuk bangkit, bertindak, dan berubah menuju kebaikan yang nyata.

Kekuatan retoris dari analogi ini terletak pada bagaimana ia menggunakan aspek emosional (pathos)—yaitu citra dokter yang peduli— untuk membuat pendekatan logis (logos) dari strategi dakwahnya terasa benar dan bijaksana. Tidak ada seorang pun yang akan menolak diberi obat pahit jika mereka percaya sepenuhnya pada niat baik sang dokter. Kepercayaan inilah yang telah dibangun Mama Cianting melalui ethos welas asihnya. Pengalaman jamaah seperti Dedi, yang pada akhirnya memaknai ketegasan Mama Cianting sebagai "ubar" (obat) untuk penyakit kemalasannya, menunjukkan bahwa analogi "dokter" ini tidak hanya menjadi penjelasan teoretis dari sang dai, tetapi juga menjadi kerangka interpretatif yang digunakan oleh jamaah untuk memahami dan menerima pendekatan dakwahnya.

Penggunaan analogi yang konsisten inilah yang membuat dakwahnya terasa "mudah dipahami" dan "langsung ke intinya", sebagaimana diakui oleh jamaah dari berbagai latar belakang, dari santri hingga pelajar umum. Bagi Mama Cianting, sebuah argumen logis tidak akan efektif jika ia tidak dapat "dirasakan" oleh jamaah. Analogi menjadi jembatan utama yang memastikan setiap pesan, sekompleks apa pun, dapat diterima baik oleh akal maupun oleh hati, yang merupakan inti dari sebuah persuasi yang holistik dan transformatif.

Dengan demikian, analogi "dokter" menjadi lebih dari sekadar perumpamaan. Ia adalah sebuah justifikasi logis, sebuah model pedagogis, dan sebuah jembatan emosional yang memungkinkan Mama Cianting untuk secara efektif mengelola paradoks ketegasan dan welas asih. Analogi ini memastikan bahwa setiap "tindakan medis" retoris yang ia lakukan diterima oleh "pasiennya" sebagai sebuah bentuk kasih sayang yang bertujuan untuk penyembuhan.

2) Analisis Analogi "Rumah": Memvisualisasikan Hierarki Hukum Fiqih Salah satu contoh paling representatif dan efektif dari penggunaan analogi sebagai titik temu antara akal dan hati adalah analogi "rumah". Ini adalah sebuah kerangka metaforis yang secara konsisten digunakan oleh Mama Cianting untuk menerjemahkan konsep hierarki hukum dalam fiqih—sebuah topik yang sangat abstrak dan seringkali sulit dipahami oleh audiens awam—menjadi sebuah struktur yang konkret, visual, dan intuitif. Fungsi utama dari analogi ini adalah untuk memetakan konsekuensi hukum yang berbeda, seperti perbedaan antara meninggalkan Rukun dan Wajib, ke dalam konsekuensi fisik yang sudah dipahami oleh semua orang.

Implementasi terbaik dari analogi ini terlihat dalam Observasi ke-9 (revisi), saat Mama Cianting menjelaskan perbedaan antara Rukun dan Wajib dalam ibadah haji, sebuah pilar Islam yang secara teknis sangat rumit. Alih-alih menjelaskan definisi legalistiknya, Mama Cianting mengundang jamaah untuk membayangkan proses membangun rumah. Mama Cianting berkata:

"Rukun teh pondasi imah, sapertos wukuf di Arafah. Lamun teu aya, hajina teu sah, imahna teu jadi. Ari wajib haji teh siga kenteng atawa panto. Contona, ngalontar jumrah. Lamun teu dilakonan, hajina tetep sah tapi cacad, kedah mayar dam (denda)."377 (Terjemahan: "Rukun itu fondasi rumah, seperti wukuf di Arafah. Kalau tidak ada, hajinya tidak sah, rumahnya tidak jadi. Sedangkan wajib haji itu seperti genting atau pintu. Contohnya, melempar jumrah. Kalau tidak dilaksanakan, hajinya tetap sah tapi cacat, harus membayar denda (dam).")

Analisis mendalam terhadap analogi ini menunjukkan sebuah kecerdasan pedagogis yang luar biasa. Secara logis (logos), Mama Cianting menciptakan sebuah sistem pemetaan kognitif yang sempurna. Rukun dipetakan ke "Pondasi", dengan konsekuensi logis dari ketiadaannya yang mengarah pada kegagalan total struktur ("imahna teu jadi"). Ini membuat konsep "tidak sah" menjadi sangat mudah dipahami. Sementara itu, Wajib dipetakan ke "Genting dan Pintu", dengan konsekuensi logis dari ketiadaannya adalah sebuah struktur yang tidak sempurna ("imahna cacad"). Ini membuat konsep "sah tapi berdenda" menjadi lebih masuk akal.

Secara teoretis, kekuatan analogi ini tidak hanya terletak pada logikanya, tetapi juga pada kemampuannya untuk menciptakan identifikasi (identification) yang mendalam, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke378. Narasi "membangun rumah" ini memiliki kesetiaan naratif (Narrative Fidelity) yang sangat tinggi dalam kerangka Paradigma Naratif Walter Fisher, karena ia "beresonansi" dan terasa "benar" dengan pengalaman hidup dan nilai-nilai audiens379. Citra "rumah" dalam budaya Sunda dan Islam bukanlah sekadar bangunan fisik, tetapi merupakan simbol dari keamanan, ketenangan, dan keluarga. Dengan menggunakan metafora ini, Mama Cianting secara implisit menyampaikan kepada jamaah bahwa agama dan ibadah mereka adalah "rumah spiritual" mereka. Pesan yang 377 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 28 April 2025 (Observasi ke-8). 378 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. 379 Walter Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 119. tertanam di benak jamaah bukan hanya "jangan tinggalkan rukun haji," tetapi "jangan biarkan rumah spiritualmu runtuh karena tidak memiliki fondasi." Pesan emosional (pathos) ini menciptakan urgensi internal yang jauh lebih kuat daripada sekadar penjelasan hukum yang dingin.

Implikasi profetik dari analogi ini bersifat ganda. Pertama, ia adalah instrumen liberasi yang sangat efektif. Dengan menyederhanakan konsep fiqih yang rumit, Mama Cianting membebaskan jamaah dari kebingungan, dari perasaan bahwa ilmu agama itu sulit dan tidak terjangkau, dan dari risiko "kebangkrutan spiritual" akibat menjalankan ibadah yang tidak sah. Kedua, ia adalah praktik humanisasi. Dengan menggunakan analogi yang menghargai kapasitas kognitif jamaah dan beresonansi dengan pengalaman hidup mereka, Mama Cianting memanusiakan proses belajar-mengajar, menjadikannya sebuah dialog yang partisipatif, bukan sebuah instruksi satu arah380. Dengan demikian, analogi "rumah" menjadi sebuah mahakarya retoris yang ringkas, di mana logos dan pathos bekerja bersama untuk mencapai tujuan profetik.

3) Analisis Analogi "Dokter": Merasionalkan Strategi Dakwah yang Paradoksal Selain analogi "rumah" yang berfungsi untuk menstrukturkan pemahaman hukum, Mama Cianting juga secara konsisten menggunakan analogi "dokter" untuk memberikan pembenaran logis terhadap pendekatan retorisnya yang terkadang tampak kontradiktif. Jika jamaah bertanya-tanya mengapa Mama Cianting bisa bersikap sangat tegas dalam satu momen dan sangat welas asih di momen lain, analogi inilah yang menjadi jawabannya. Analogi ini berfungsi sebagai sebuah kerangka kerja logis yang meyakinkan jamaah bahwa setiap tindakan retorisnya—baik yang terasa "pahit" maupun yang "manis"—datang dari satu niat yang sama, yaitu niat untuk "menyembuhkan".

380 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338.

Dalam sebuah wawancara, saat diminta menjelaskan strateginya dalam menyeimbangkan ketegasan dan kelembutan, Mama Cianting secara spontan memaparkan analogi ini. Mama Cianting tidak menjelaskannya sebagai teori komunikasi, melainkan sebagai sebuah etos kerja yang diilhami dari profesi dokter.

"Tugas dai teh siga dokter. Sateuacan masihan ubar nu pait (kritik), pasienna kedah dipikanyaah heula, kedah diperhatoskeun. Saatos hatena kabuka, nembe dipasihan terang panyakitna... Tapi saatos eta, wajib langsung dipasihan resep ubarna (solusi nu leres)," ujar Mama Cianting.381 (Terjemahan: "Tugas dai itu seperti dokter. Sebelum memberikan obat yang pahit (kritik), pasiennya harus disayangi dulu, harus diperhatikan. Setelah hatinya terbuka, baru diberitahu penyakitnya... Tapi setelah itu, wajib langsung diberikan resep obatnya (solusi yang benar).")

Analisis mendalam terhadap analogi ini mengungkap adanya struktur logis yang sangat canggih, yang memperoleh validasi bukan hanya melalui rasionalitas argumentatif, tetapi juga melalui dimensi emosional yang kuat. Mama Cianting memetakan keseluruhan proses dakwah ke dalam kerangka metaforis dunia medis. Dalam konstruksi retoriknya, dai diposisikan sebagai dokter, yakni sosok yang berperan sebagai figur berotoritas dan memiliki keahlian (expertise) serta niat baik (goodwill) untuk menyembuhkan. Penempatan ini dengan sendirinya membangun ethos kepercayaan publik, sesuai dengan dua komponen utama dalam teori Source Credibility382.

Sementara itu, jamaah diposisikan sebagai pasien yang perlu diperlakukan dengan empati dan kelembutan. Perspektif ini menandakan adanya praktik humanisasi dakwah yang krusial. Jamaah tidak digambarkan sebagai “pendosa” yang harus dihakimi, melainkan sebagai manusia yang 381 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting. 382 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. tengah “sakit” dan membutuhkan pertolongan spiritual. Pola ini sejalan dengan semangat amar ma‘ruf yang menekankan kasih sayang, bimbingan, dan pendekatan persuasif.383 Selanjutnya, kritik tegas yang disampaikan oleh Mama Cianting dipetakan sebagai obat pahit. Analogi ini berfungsi sebagai justifikasi retoris terhadap tindakan nahi munkar yang kadang bersifat korektif dan tidak menyenangkan bagi sebagian pihak. Melalui metafora tersebut, kritik keras tidak lagi dipersepsikan sebagai serangan, melainkan sebagai tindakan penyembuhan moral yang perlu diterima demi pemulihan spiritual umat.

Akhirnya, solusi praktis yang selalu menyertai setiap kritik dipetakan sebagai resep penyembuh. Ini menegaskan bahwa dakwah Mama Cianting tidak berhenti pada level retorika normatif, tetapi berujung pada penyelesaian nyata dan aplikatif. Pola ini menunjukkan orientasi dakwah yang bersifat liberatif dan memberdayakan, di mana setiap pesan bukan hanya menggugah kesadaran, melainkan juga memberi arah tindakan konkret bagi perubahan sosial yang positif.

Analisis terhadap analogi ini mengungkap sebuah struktur logis yang sangat canggih, yang divalidasi melalui aspek emosional. Secara logis, Mama Cianting memetakan proses dakwah ke dalam proses medis. Dai diposisikan sebagai dokter, yang membangun etos sebagai sosok yang ahli, profesional, dan memiliki niat baik untuk menyembuhkan. Jamaah diposisikan sebagai pasien, yang merupakan langkah humanisasi yang krusial. Jamaah tidak dilihat sebagai "pendosa" atau "lawan", melainkan sebagai orang yang "sakit" dan membutuhkan pertolongan. Kritik tegas dipetakan ke obat pahit, yang merasionalisasi tindakan retoris yang tidak menyenangkan. Memang, obat sering kali pahit, tetapi diperlukan untuk kesembuhan. Solusi praktis dipetakan ke resep, yang menegaskan bahwa 383 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. dakwahnya tidak berhenti pada kritik, tetapi selalu memberikan jalan keluar yang jelas dan terukur.

Kekuatan retoris dari analogi ini terletak pada bagaimana ia menggunakan aspek emosional (pathos)—yaitu citra dokter yang peduli— untuk membuat pendekatan logis (logos) dari strategi dakwahnya terasa benar dan bijaksana. Secara teoretis, ini adalah praktik identifikasi (identification) yang sangat cerdas, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke.384 Dengan menggunakan arketipe "dokter penyembuh", ia menciptakan sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) dengan audiens, yang secara universal memandang dokter sebagai figur yang bertujuan baik. Pengalaman jamaah seperti Dedi, yang pada akhirnya memaknai ketegasan Mama Cianting sebagai "ubar" (obat) untuk penyakit kemalasannya, menunjukkan bahwa analogi "dokter" ini tidak hanya menjadi penjelasan teoretis dari sang dai, tetapi juga menjadi kerangka interpretatif yang digunakan oleh jamaah untuk memahami dan menerima pendekatan dakwahnya.

Dengan demikian, analogi "dokter" menjadi lebih dari sekadar perumpamaan. Ia adalah sebuah justifikasi logis, sebuah model pedagogis, dan sebuah jembatan emosional yang memungkinkan Mama Cianting untuk secara efektif mengelola paradoks ketegasan dan welas asih. Analogi ini memastikan bahwa setiap "tindakan medis" retoris yang ia lakukan diterima oleh "pasiennya" sebagai sebuah bentuk kasih sayang yang bertujuan untuk penyembuhan.

4) Analisis Analogi "Tasbih": Membumikan Logika Tauhid yang Holistik Jika analogi "rumah" dan "dokter" berfungsi untuk menjelaskan struktur hukum dan strategi dakwah, maka analogi "tasbih" digunakan oleh Mama Cianting untuk tujuan yang lebih tinggi: menjelaskan logika spiritual tauhid dan hakikat takwa yang bersifat total. Ini adalah salah satu metafora 384 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55.

Mama Cianting yang paling mendalam, di mana sebuah benda yang sangat akrab dengan keseharian spiritual jamaah—tasbih—digunakan sebagai kerangka untuk memahami hubungan antara berbagai amalan dalam Islam dan niat yang menyatukannya.

Dalam sebuah wawancara reflektif, saat ditanya bagaimana Mama Cianting bisa menghubungkan tema-tema yang tampaknya berjauhan seperti ibadah haji yang agung dengan adab minum yang sederhana, Mama Cianting memaparkan analogi ini sebagai landasan filosofisnya:

"Hirup teh ibarat tasbeh. Aya butiran nu leutik (adab WC), aya butiran nu gede (nikah), tapi sadayana dirangke ku hiji tali, nyaeta tali taqwa ka Allah. Abdi hoyong jamaah paham, taqwa teh... totalitas."385 (Terjemahan: "Hidup itu ibarat tasbih. Ada butiran yang kecil (adab WC), ada butiran yang besar (nikah), tapi semuanya dirangkai oleh satu tali, yaitu tali takwa kepada Allah. Saya ingin jamaah paham, takwa itu... totalitas.")

Analisis terhadap analogi ini menunjukkan sebuah struktur logis yang sangat kuat dalam menjelaskan konsep transendensi. Mama Cianting memetakan komponen-komponennya secara presisi. Butiran-butiran tasbih dipetakan sebagai amalan-amalan individual, baik yang dianggap besar (rukun Islam seperti haji dan shalat) maupun yang dianggap kecil (adab sehari-hari). Tali tasbih yang tidak terlihat namun menyatukan semuanya dipetakan sebagai niat, takwa, dan keikhlasan karena Allah. Logika di baliknya sangat jelas dan persuasif: tanpa "tali" takwa, "butiran-butiran" amal tersebut hanyalah serpihan-serpihan perbuatan yang terpisah dan tidak memiliki nilai sebagai sebuah kesatuan "tasbih" atau keberagamaan yang utuh. Argumen ini secara efektif mengajarkan jamaah bahwa nilai sebuah amal tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya secara fisik, tetapi oleh "tali" transenden yang mengikatnya kepada Allah.

385 Wawancara mendalam dengan K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar, oleh penulis, Cianting.

Kekuatan retoris analogi ini juga terletak pada aspek pathos-nya. Secara teoretis, ini adalah praktik identifikasi (identification) yang sangat mendalam, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke.386 Tasbih adalah objek yang sarat dengan muatan emosi spiritual bagi jamaah. Ia adalah alat untuk berdzikir, medium untuk merasakan ketenangan, dan simbol dari hubungan personal dengan Tuhan. Dengan menggunakan citra tasbih, Mama Cianting tidak hanya memberikan sebuah model logis, tetapi juga membangkitkan perasaan khusyuk, ketenangan, dan keakraban yang melekat pada benda tersebut. Konsep tauhid yang begitu agung dan terkadang terasa jauh, tiba-tiba menjadi sesuatu yang personal, akrab, dan bisa "digenggam" seperti tasbih mereka sendiri.

Lebih jauh lagi, analogi ini berfungsi sebagai justifikasi logis bagi metode dakwahnya yang seringkali bersifat modular atau multi-tema dalam satu sesi. Bagi Mama Cianting, membahas adab di WC lalu beralih ke etika pernikahan dalam satu kajian bukanlah tindakan yang melompat-lompat. Keduanya adalah "butiran" berbeda yang dirangkai oleh "tali" yang sama, yaitu bagaimana seharusnya seorang hamba bersikap di hadapan Allah dalam setiap aspek kehidupannya. Dengan demikian, analogi "tasbih" menjadi sebuah jembatan logika dan emosi yang sempurna, yang secara efektif mengajarkan pesan transendensi paling inti: bahwa seluruh fragmen kehidupan seorang Muslim, dari yang paling hina hingga yang paling mulia, harus dirangkai menjadi satu kesatuan ibadah yang utuh karena Allah SWT.

5) Fungsi Sintesis Analogi dalam Retorika Profetik Pembahasan terhadap berbagai analogi kunci yang digunakan— mulai dari analogi "rumah", "dokter", hingga "tasbih"—mengkonfirmasi bahwa penggunaannya bukanlah sekadar ornamen retoris, melainkan sebuah strategi kognitif yang fundamental dan konsisten dalam dakwah Mama Cianting. Ia adalah sebuah strategi kognitif yang secara sadar 386 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55.

"menerjemahkan" logika hukum dan teologi yang abstrak ke dalam citracitra yang akrab, konkret, dan bermuatan emosi dalam benak jamaah.

Secara teoretis, ini adalah puncak dari praktik identifikasi (identification) yang dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke. Dengan menggunakan citra-citra yang familiar, Mama Cianting menciptakan sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) yang memungkinkan persuasi terjadi. Kekuatan persuasifnya juga terletak pada kesetiaan naratif (Narrative Fidelity) yang tinggi dalam kerangka Paradigma Naratif Walter Fisher, karena setiap analogi "beresonansi" dengan pengalaman hidup dan nilai-nilai audiens. Temuan ini menegaskan kembali sebuah prinsip utama dalam retorikanya: bagi Mama Cianting, sebuah argumen logis (logos), sekuat apapun dalilnya, tidak akan efektif jika ia tidak dapat "dirasakan" (pathos) oleh jamaah.

Analogi menjadi jembatan utama yang ia bangun untuk memastikan setiap pesan dapat diterima baik oleh akal maupun oleh hati. Implikasi profetik dari strategi sintesis ini bersifat holistik. Ia adalah praktik humanisasi yang mendalam, karena ia menghargai kapasitas kognitif jamaah dan membuat ilmu yang rumit menjadi aksesibel. Ia berfungsi sebagai instrumen liberasi, membebaskan jamaah dari kebingungan dan dari perasaan bahwa ilmu agama itu sulit dan tidak terjangkau. Sekaligus menjadi jembatan menuju pemahaman transenden yang lebih personal dan dapat dirasakan.

Pada akhirnya, kemampuan sintesis melalui analogi inilah yang menjadi salah satu ciri khas paling kuat dari retorika profetiknya—sebuah retorika yang tidak hanya bertujuan untuk memberi tahu, tetapi untuk mengubah; tidak hanya mencerahkan pikiran, tetapi juga menyentuh dan menggerakkan jiwa. Dengan fondasi kepercayaan (ethos) yang telah mapan dan hati jamaah (pathos) yang telah disentuh dan dibuka melalui orkestrasi emosi dan narasi, panggung kini telah siap untuk pilar retorika ketiga, yaitu logos, yang akan memberikan struktur, arah, dan panduan rasional bagi transformasi yang telah dimulai.

3. Implementasi Aspek Logos: Logika Adaptif sebagai Kunci Relevansi

Dakwah Setelah fondasi kepercayaan (ethos) terbangun dan hati jamaah disentuh melalui pathos, pilar ketiga yang menyempurnakan dan memastikan efektivitas dakwah Mama Cianting adalah logos. Dalam konteks retorika profetik Mama Cianting, logos tidak dimanifestasikan melalui silogisme atau argumentasi filosofis yang rumit. Sebaliknya, ia terwujud dalam sebuah logika adaptif yang sangat cerdas, membumi, dan berorientasi pada audiens. Mama Cianting menunjukkan pemahaman mendalam bahwa sebuah argumen hanya akan dianggap "logis" dan diterima jika ia selaras dengan kerangka berpikir, kebutuhan, dan realitas kehidupan pendengarnya. Ini sejalan dengan prinsip Retorika Baru, di mana persuasi terjadi bukan karena sebuah argumen itu benar secara universal, melainkan karena ia berhasil terhubung dengan premis-premis yang diyakini oleh audiens partikular.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan Mama Cianting dalam mengelola logos inilah yang menjadi kunci mengapa dakwahnya terasa sangat relevan dan dapat diterima oleh ribuan jamaah dari berbagai latar belakang. Mama Cianting secara konsisten "menjemput" audiensnya di level pemahaman mereka, menyusun argumennya secara hierarkis, dan selalu menawarkan solusi yang praktis. Penggunaan logos yang adaptif ini bukan hanya bertujuan untuk membuat pesan menjadi jelas, tetapi juga untuk mencapai tujuan-tujuan profetik yang lebih dalam, seperti memanusiakan audiens dan membebaskan mereka dari kebingungan.

Pembahasan pada bagian ini akan mengurai tiga manifestasi utama dari logika adaptif tersebut. Pertama, akan dianalisis logika prioritas dalam kurikulum dakwahnya melalui prinsip "Fondasi Dulu" (Fardhu 'Ain First), sebuah strategi yang secara logis paling inklusif dan liberatif untuk jamaah yang heterogen. Kedua, akan dibedah kecerdasan kontekstual Mama Cianting dalam mengadaptasi framing pesan, dengan mengambil studi kasus kontrastif antara pendekatan pada audiens pemuda dan orang tua. Ketiga, akan ditelaah pola argumentasi solutif ("Problem-Solution") yang secara konsisten Mama Cianting gunakan untuk memberikan jalan keluar yang praktis dan memberdayakan bagi jamaah. a. Temuan dan Analisis Prinsip "Fondasi Dulu": Logika Prioritas Materi sebagai Strategi Dakwah yang Inklusif dan Liberatif 1) "Fondasi Dulu" sebagai Manhaj (Metodologi) Dakwah yang Sistematis Manifestasi logos yang paling fundamental dalam retorika profetik Mama Cianting tidak ditemukan dalam satu argumen spesifik, melainkan dalam sebuah prinsip metodologis yang mendasari keseluruhan bangunan dakwahnya, yaitu prinsip "Fondasi Dulu" atau Fardhu 'Ain First. Pilihan Mama Cianting untuk secara konsisten dan berulang-ulang memprioritaskan materi-materi tentang kewajiban individual (fardhu 'ain) bukanlah sebuah pilihan acak atau cerminan dari keterbatasan materi. Sebaliknya, ini adalah sebuah strategi logos yang sangat disadari, sistematis, dan berakar kuat dalam tradisi keilmuan klasik. Prinsip ini berfungsi sebagai "filter kurikulum" utama, yang secara tegas menentukan apa yang harus didahulukan dan apa yang harus dikesampingkan demi tercapainya tujuan dakwah yang paling esensial.

Dasar dari metodologi ini Mama Cianting jelaskan secara eksplisit dalam wawancara, di mana Mama Cianting tidak hanya menyatakan sebuah preferensi, tetapi merujuk langsung pada otoritas teks ulama salaf. Ini menunjukkan bahwa logikanya adalah logika yang diwariskan, bukan logika yang diciptakan sendiri. Mama Cianting menegaskan:

"Margi ceuk kitab Kifayatul Atqiya karangan Imam Abi Bakar Safqo Dimyathi, disebatkeun didinya 'wabda'bifardil aini summa malbihi'—heulakeun ku anjeun fardhu 'ain." (Terjemahan: "Karena kata kitab Kifayatul Atqiya karangan Imam Abi Bakar Safqo Dimyathi, disebutkan di dalamnya 'wabda'bifardil aini summa malbihi'—dahulukan olehmu fardhu 'ain.")

Dengan menyandarkan metodologinya pada sebuah dalil dari kitab klasik, Mama Cianting secara efektif membangun argumen bahwa pendekatannya adalah yang paling otentik dan benar secara keilmuan. Ini adalah sebuah langkah logos yang juga secara simultan memperkuat ethosnya, khususnya komponen keahlian (expertise) dan keterpercayaan (trustworthiness) dalam kerangka teori Source Credibility.387 Ia menunjukkan dirinya bukan hanya sebagai penceramah, tetapi sebagai pewaris dan pelaksana sebuah manhaj (metodologi) yang telah teruji.

Implementasi praktis dari prinsip ini terlihat dari daftar topik yang secara konsisten Mama Cianting ulang di berbagai kesempatan, baik dalam kajian rutin maupun acara besar. Mama Cianting merincikan:

"Dina panggung-panggung ge... sok fardu ain heula: bab wudhu, bab sholat, bab zaakat, puasa, bab haid, bab nifas, bab keputihan, bab mandi junub, bab tayamum—itu baru fardu ain. Entong nyaritakeun sunnat-sunnat, fardunya belum tahu..." (Terjemahan: "Di panggung-panggung juga... selalu fardu ain dulu: bab wudhu, bab shalat, bab zakat, puasa, bab haid, bab nifas, bab keputihan, bab mandi junub, bab tayamum—itu baru fardu ain. Jangan menceritakan sunah-sunah, fardhunya belum tahu...")

Secara teoretis, pilihan logis untuk memprioritaskan materi fardhu 'ain ini adalah sebuah bentuk adaptasi audiens (Audience Adaptation) yang sangat canggih, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric388. Dihadapkan pada audiens yang sangat heterogen—dari petani hingga profesor—Mama Cianting secara cerdas memilih satu-satunya 387 Carl I. Hovland, Irving L. Janis, and Harold H. Kelley, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change (New Haven: Yale University Press, 1953), 21. 388 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19.

"landasan bersama" (common ground) yang bersifat universal dan nonnegosiabel bagi setiap Muslim. Kebutuhan untuk memastikan sahnya shalat adalah sama mendesaknya bagi semua orang, tanpa memandang status sosial atau intelektual. Dengan demikian, prinsip "Fondasi Dulu" adalah sebuah strategi logos yang secara inheren bersifat humanisasi. Ia menghargai dan menjawab kebutuhan spiritual paling asasi yang menyetarakan semua manusia di hadapan Tuhannya, menciptakan sebuah komunitas yang egaliter di mana setiap individu merasa diterima dan mendapatkan manfaat yang setara.389 2) Logika Inklusivitas: Strategi Menjangkau Audiens yang Paling Heterogen Pilihan metodologis untuk memprioritaskan materi fardhu 'ain menjadi semakin dapat dipahami sebagai sebuah strategi logos yang sangat cerdas ketika dihadapkan pada temuan mengenai komposisi audiens Mama Cianting yang luar biasa heterogen. Sebagaimana terungkap dari data observasi dan wawancara dengan pengurus, jamaah yang hadir di Majelis Al-Aqthob bukanlah kelompok yang homogen. Mereka datang dari berbagai latar belakang geografis (dari desa sekitar hingga kota-kota besar), tingkat pendidikan (dari yang tidak menempuh pendidikan formal hingga sarjana), dan spektrum profesi yang sangat luas, mencakup petani, pedagang pasar, buruh pabrik, pegawai negeri, hingga profesional swasta. Heterogenitas ini secara inheren menciptakan sebuah tantangan retoris yang signifikan: bagaimana menyampaikan sebuah pesan yang memiliki relevansi dan urgensi yang sama bagi setiap individu yang hadir?

Di sinilah letak kejeniusan dari logika "Fondasi Dulu". Secara teoretis, ini adalah praktik adaptasi audiens (Audience Adaptation) yang sangat canggih, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric.390 Dihadapkan pada audiens yang partikular namun sangat 389 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. 390 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. beragam, Mama Cianting secara cerdas memilih satu-satunya "landasan bersama" (common ground) yang bersifat universal dan non-negosiabel bagi setiap Muslim: materi fardhu 'ain. Kebutuhan untuk memastikan sahnya shalat adalah sama mendesaknya bagi seorang profesor maupun seorang petani. Kebutuhan untuk memahami tata cara mandi wajib adalah sama krusialnya bagi seorang pengusaha maupun seorang ibu rumah tangga. Dengan memilih materi ini, Mama Cianting secara strategis menciptakan titik awal persuasi yang paling fundamental, memastikan bahwa setiap orang yang hadir akan pulang dengan membawa ilmu yang secara definitif mereka butuhkan.

Hal ini terkonfirmasi dari penuturan pengurus yang menggambarkan bagaimana para jamaah dari kalangan terpelajar tetap setia mengikuti kajian yang membahas hal-hal dasar. Kang Nana Taqiyuddin menjelaskan:

"Yang menarik, meskipun sudah ada dokter, insinyur, profesor, dan pengusaha besar di antara jamaah, fokus pengajian Mama tetap pada aspek-aspek fundamental syariat. Mama Cianting tetap membahas wudhu, mandi wajib, dan sholat dengan detail dan kedalaman yang sama. Kata mereka, di tempat lain jarang sekali ada yang mau membahas hal ini dengan begitu detail." Pernyataan ini menunjukkan bahwa logika prioritas ini berhasil. Para profesional yang mungkin tidak terlalu tertarik dengan pembahasan fiqih muamalah pasar tradisional, akan tetap merasa bahwa pembahasan tentang penyempurnaan shalat sangat relevan bagi mereka.

Pada akhirnya, strategi logos yang inklusif ini secara langsung mengartikulasikan dimensi humanisasi. Dengan memfokuskan pengajaran pada kebutuhan spiritual paling asasi yang menyetarakan semua manusia di hadapan Tuhannya, Mama Cianting secara implisit membangun sebuah komunitas yang egaliter.391 Ia seolah mengatakan bahwa di dalam majelis ini, status duniawi Anda tidak lebih penting daripada status Anda sebagai seorang hamba yang berusaha menyempurnakan ibadahnya. Ini adalah 391 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. sebuah bentuk penghormatan (humanisasi) terhadap kebutuhan spiritual dasar setiap individu, yang membuat ribuan orang dari latar belakang yang berbeda merasa diterima, dihargai, dan mendapatkan manfaat yang setara.

3) Logika Liberasi: Membebaskan dari "Kebodohan Fatal" Selain bersifat inklusif, strategi logos yang mengedepankan prinsip "Fondasi Dulu" juga memiliki implikasi liberatif yang sangat mendasar. Dalam kerangka berpikir Mama Cianting, "kemungkaran" yang paling berbahaya bukanlah selalu tindakan amoral yang terlihat, melainkan "kebodohan fatal" (al-jahl al-muhlik) terhadap pilar-pilar utama agama. Mama Cianting memahami bahwa kebodohan dalam hal-hal seperti wudhu dan shalat adalah sebuah "penyakit" spiritual yang dapat membuat seluruh amal saleh lainnya menjadi sia-sia. Oleh karena itu, tindakan memprioritaskan materi ini adalah sebuah bentuk nahi munkar yang preventif dan fundamental, yang bertujuan untuk membebaskan jamaah dari risiko "kebangkrutan spiritual" di akhirat.

Logika liberatif ini sering Mama Cianting sampaikan dalam bentuk argumen kausalitas yang tegas dan menggugah, yang berfungsi sebagai "syok logis" untuk menyadarkan jamaah dari kelalaian. Kutipan ikonik Mama Cianting yang sering diulang dalam berbagai ceramah menjadi bukti utama dari kerangka berpikir ini:

"Percuma berbicara tentang tasawuf tingkat tinggi jika cara wudhu saja masih salah. Percuma berbicara tentang politik Islam jika shalat lima waktu masih bolong-bolong." Argumen "percuma" ini adalah sebuah intervensi logis yang sangat kuat. Ia secara langsung meruntuhkan ilusi kesalehan yang dibangun di atas fondasi yang rapuh. Bagi seorang jamaah yang mungkin merasa sudah "baik" karena rajin bersedekah atau berakhlak mulia, argumen ini memaksanya untuk kembali memeriksa hal yang paling asasi. Ini adalah sebuah proses liberasi dari kesalehan yang semu. Mama Cianting membebaskan jamaah dari anggapan keliru bahwa amal-amal sunnah atau sosial dapat menambal kekurangan dalam ibadah wajib.

Dalam praktiknya, logika ini ditegaskan kembali melalui analogi "rumah" yang telah dibahas sebelumnya. Dengan memposisikan fardhu 'ain sebagai "pondasi", Mama Cianting secara logis menunjukkan bahwa membangun "dinding" (amal sosial) dan "atap" (akhlak) tanpa fondasi yang kokoh adalah tindakan yang sia-sia dan berbahaya. Rumah tersebut pasti akan runtuh. Dengan demikian, dakwahnya yang fokus pada pembenahan wudhu dan shalat adalah sebuah upaya untuk membebaskan jamaah dari tragedi spiritual di masa depan.

Pada akhirnya, prinsip "Fondasi Dulu" adalah manifestasi dari logos yang berorientasi pada liberasi yang paling esensial. Ini bukan pembebasan yang bersifat politis atau sosial dalam pengertian modern, melainkan pembebasan yang bersifat soteriologis (berkaitan dengan keselamatan). Dengan memastikan setiap individu dalam jamaahnya memiliki bekal pengetahuan minimum yang paling krusial, Mama Cianting sedang menjalankan sebuah misi untuk membebaskan mereka dari konsekuensi terburuk akibat ketidaktahuan, baik di dunia maupun di akhirat.

4) Implementasi dalam Praktik: Analisis "Interupsi Logis" dan Analogi "Rumah" Prinsip "Fondasi Dulu" atau Fardhu 'Ain First tidak hanya menjadi kerangka konseptual yang mendasari kurikulum dakwah Mama Cianting, tetapi juga secara aktif dan konsisten diimplementasikan dalam praktik retorisnya di atas panggung. Analisis terhadap data observasi menunjukkan setidaknya dua teknik utama yang Mama Cianting gunakan untuk menanamkan logika prioritas ini kepada jamaah: melalui "interupsi logis" yang spontan dan melalui penggunaan analogi "rumah" yang bersifat visualpedagogis.

Teknik pertama adalah "interupsi logis", yaitu sebuah tindakan retoris di mana Mama Cianting secara sadar menghentikan alur pembahasan suatu tema untuk kembali menegaskan pentingnya fondasi utama, yaitu shalat. Ini adalah bukti live dari disiplin logis yang Mama Cianting terapkan.

Momen ini teramati dengan sangat jelas dalam Observasi ke-5. Setelah berhasil membangun atmosfer emosional yang sangat mendalam saat membahas bakti kepada ibu—sebuah puncak pathos—Mama Cianting tidak melanjutkan alur emosional tersebut. Sebaliknya, Mama Cianting melakukan interupsi untuk memastikan jamaah tidak salah dalam menempatkan prioritas amalnya:

"Tapi... sadayana amal sae ka indung bapa ieu, sadayana silaturahmi ieu, moal aya hargana lamun tihangna rubuh. Naon tihangna? Sholat!" (Terjemahan: "Tapi... semua amal baik pada ibu bapak ini, semua silaturahmi ini, tidak akan ada harganya jika tiangnya rubuh. Apa tiangnya? Shalat!")

Tindakan ini sangat signifikan secara retoris. Ini menunjukkan bahwa bagi Mama Cianting, menjaga integritas hierarki amal dalam pemahaman jamaah adalah lebih penting daripada mempertahankan momentum emosional. "Interupsi logis" ini berfungsi sebagai penegasan ulang yang sangat kuat tentang mana yang menjadi fondasi dan mana yang menjadi bangunan, sebuah pelajaran langsung tentang logika prioritas.

Teknik kedua adalah penggunaan analogi "rumah" sebagai alat peraga visual untuk logika prioritas. Jika interupsi logis bersifat spontan, maka analogi ini adalah alat pedagogis yang telah disiapkan untuk membumikan konsep hierarki hukum. Saat menjelaskan perbedaan antara Rukun dan Wajib dalam ibadah haji pada Observasi ke-9 (revisi), Mama Cianting tidak menggunakan definisi tekstual yang rumit, melainkan sebuah model mental yang dapat divisualisasikan oleh semua orang:

"Rukun teh pondasi imah, sapertos wukuf di Arafah. Lamun teu aya, hajina teu sah, imahna teu jadi. Ari wajib haji teh siga kenteng atawa panto. Contona, ngalontar jumrah. Lamun teu dilakonan, hajina tetep sah tapi cacad, kedah mayar dam (denda)." (Terjemahan: "Rukun itu fondasi rumah, seperti wukuf di Arafah. Kalau tidak ada, hajinya tidak sah, rumahnya tidak jadi. Sedangkan wajib haji itu seperti genting atau pintu. Contohnya, melempar jumrah. Kalau tidak dilaksanakan, hajinya tetap sah tapi cacat, harus membayar denda (dam).")

Analogi ini secara brilian menerjemahkan sebuah logika hukum (logos) yang abstrak menjadi sebuah pengalaman inderawi (pathos). Semua jamaah, terlepas dari latar belakang pendidikannya, dapat secara intuitif memahami bahwa sebuah rumah tidak mungkin berdiri tanpa fondasi. Dengan memetakan rukun sebagai "fondasi", Mama Cianting membuat prinsip "Fondasi Dulu" menjadi sebuah kebenaran yang logis, visual, dan mudah diingat.

Melalui kedua teknik praktis ini—interupsi yang menegaskan disiplin dan analogi yang memvisualisasikan struktur—Mama Cianting secara konsisten dan efektif menanamkan logika prioritas fardhu 'ain sebagai kerangka berpikir utama bagi jamaahnya. Hal ini memastikan bahwa dakwah yang Mama Cianting sampaikan tidak hanya menyentuh, tetapi juga membangun pemahaman keagamaan yang kokoh dan terstruktur dari dasar. b. Temuan dan Analisis Kecerdasan Kontekstual: Adaptasi Dakwah Malam Minggu dan Senin Pagi 1) Adaptasi Framing sebagai Puncak Kecerdasan Kontekstual Manifestasi logos adaptif yang paling canggih dan menjadi puncak dari kecerdasan kontekstual Mama Cianting teramati bukan saat ia membahas tema yang berbeda, melainkan saat ia membahas tema yang sama dengan framing (pembingkaian) makna yang berbeda secara fundamental. Secara teoretis, kemampuan ini adalah manifestasi dari praktik adaptasi audiens (Audience Adaptation) yang paling dalam, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric.392 Mama Cianting tidak hanya menyesuaikan bahasa, tetapi juga "premis-premis" 392 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. yang menjadi titik awal argumentasinya agar selaras dengan audiens partikular yang dihadapinya. Fenomena ini memberikan sebuah "laboratorium" retoris yang ideal untuk menganalisis strategi adaptasinya secara mendalam.

Studi kasus utama untuk analisis ini adalah dua sesi kajian yang berdekatan—sesi rutin malam Minggu yang didominasi pemuda dan sesi rutin Senin pagi yang dihadiri para orang tua. Dalam kedua sesi tersebut, sebagaimana terekam dalam Observasi ke-10 dan ke-11, Mama Cianting sama-sama membahas tema tentang "Adab Sebelum Tidur". Namun, analisis data observasi menunjukkan bahwa "Adab Tidur" yang sama disajikan melalui dua bingkai yang sangat kontras. Untuk audiens muda di malam Minggu, tema ini dibingkai sebagai "ilmu kasalametan" atau "benteng diri" yang bersifat individual dan memberdayakan. Sementara untuk audiens orang tua di Senin pagi, tema yang sama diubah bingkainya menjadi "ilmu pendidikan keluarga" yang berorientasi pada tanggung jawab komunal dan regenerasi nilai.

Perbedaan framing yang mendasar ini membuktikan bahwa adaptasi yang Mama Cianting lakukan bukanlah sekadar perubahan gaya bahasa atau pemilihan contoh, melainkan sebuah pergeseran strategis pada level kerangka makna (frame of meaning). Mama Cianting tidak hanya menjawab pertanyaan "Bagaimana cara menyampaikan ini agar mudah dipahami?", tetapi juga menjawab pertanyaan yang lebih dalam: "Makna apa dari ajaran ini yang paling dibutuhkan dan paling relevan bagi kelompok ini?" Analisis selanjutnya akan membedah secara rinci bagaimana setiap frame ini dikonstruksikan dan mengapa ia sangat efektif untuk audiensnya masingmasing, sebagai bukti nyata dari pendekatan dakwah yang sangat memanusiakan.

2) Analisis Sesi Malam Minggu: "Adab Tidur" sebagai "Benteng Diri" bagi Pemuda Studi kasus yang paling jelas dalam menunjukkan kecerdasan kontekstual Mama Cianting adalah saat Mama Cianting menyampaikan tema "Adab Sebelum Tidur" pada sesi kajian rutin malam Minggu, sebagaimana terekam dalam Observasi ke-10. Dihadapkan pada audiens yang didominasi oleh ribuan anak muda—sebuah demografi yang seringkali dianggap sulit dijangkau dengan tema-tema adab yang "halus"—Mama Cianting tidak menyajikan materi tersebut sebagai sebuah etika kesopanan semata. Sebaliknya, Mama Cianting secara strategis membingkainya kembali (reframing) menjadi sebuah narasi yang sangat relevan dengan psikologi pemuda: yaitu sebagai "ilmu kasalametan" dan "benteng diri" spiritual.

Pendekatan ini dimulai dengan membangun sebuah premis yang menyentuh kerentanan universal manusia, namun sangat resonan dengan kegelisahan kaum muda. Mama Cianting melukiskan kondisi tidur bukan sebagai momen istirahat, melainkan sebagai momen kerapuhan:

"Sadayana, setiap peuting teh ruh urang kaluar tina jasad. Urang teh teu daya teu upaya. Loba gangguan, ti jin, ti setan, nu bisa ngaganggu sare urang, ngadatangkeun mimpi buruk. Tah, Rasulullah ‫ ﷺ‬tos masihan urang 'benteng pertahanan' anu ampuh. Gratis, tapi leuwih hebat tibatan satpam mana wae." (Terjemahan: "Semuanya, setiap malam itu ruh kita keluar dari jasad. Kita tidak berdaya. Banyak gangguan, dari jin, dari setan, yang bisa mengganggu tidur kita, mendatangkan mimpi buruk. Nah, Rasulullah ‫ﷺ‬ sudah memberikan kita 'benteng pertahanan' yang ampuh. Gratis, tapi lebih hebat dari satpam manapun.")

Framing "benteng pertahanan" ini adalah sebuah manuver logos yang sangat cerdas karena ia merupakan praktik adaptasi audiens (Audience Adaptation) yang mendalam, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric.393 Ia mengubah adab dari sekadar "aturan" menjadi sebuah "alat" atau "teknologi spiritual". Ini secara langsung menjawab kebutuhan psikologis pemuda yang sedang dalam fase pencarian identitas dan kekuatan. Dengan mengamalkan sunnah ini, mereka tidak hanya menjadi "anak baik", tetapi menjadi pribadi yang "kuat" dan memiliki "perlindungan khusus". Logika ini diperkuat dengan pemaparan manfaat yang disajikan secara gamblang dan menarik, seperti "dijaga ku malaikat" dan "hatena dicaangan" (hatinya diberi cahaya), yang terdengar seperti "fitur-fitur" dari sebuah ilmu yang memberdayakan.

Efektivitas dari strategi framing ini tervalidasi secara kuat melalui perspektif jamaah muda itu sendiri. Dalam sesi FGD, Ziyad Raihan, seorang santri yang terbiasa dengan kajian kitab yang lebih teknis, mengungkapkan kekagumannya pada pendekatan ini. Baginya, Mama Cianting berhasil mentransformasi materi yang sudah ia kenal menjadi sesuatu yang baru dan lebih bertenaga:

"Mama Cianting tiasa ngajantenkeun bab adab sare anu di kitab mah siga biasa wae, kamari ku Mama dijelaskeun jadi siga 'ilmu kanuragan' spiritual... Janten elmu nu biasa teh karasana jadi luar biasa jeung penting pisan." (Terjemahan: "Mama Cianting bisa menjadikan bab adab tidur yang di kitab itu sepertinya biasa saja, kemarin oleh Mama dijelaskan jadi seperti 'ilmu kanuragan' spiritual... Jadi ilmu yang biasa itu terasanya jadi luar biasa dan penting sekali.")

Penggunaan istilah "'ilmu kanuragan' spiritual" oleh seorang santri adalah bukti paling otentik dari keberhasilan framing "benteng diri". Kata "kanuragan" berkonotasi dengan kekuatan, kesaktian, dan kekebalan— konsep-konsep yang sangat menarik bagi imajinasi anak muda. Ini menunjukkan bahwa pesan tersebut tidak hanya diterima, tetapi dimaknai persis seperti yang diharapkan oleh sang dai. Dengan demikian, analisis sesi 393 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. malam Minggu ini membuktikan bahwa logos adaptif Mama Cianting bekerja dengan cara memahami "bahasa" aspirasi audiensnya, lalu "menerjemahkan" ajaran Islam ke dalam bahasa tersebut, memastikan relevansi dan daya tarik maksimal. Secara teoretis, ini adalah puncak dari praktik identifikasi (identification) yang dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke.394 Dengan "menerjemahkan" adab ke dalam "bahasa" aspirasi audiensnya (bahasa kekuatan dan pemberdayaan), Mama Cianting menciptakan sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) yang sangat kuat. Pesan tersebut tidak hanya diterima, tetapi dimaknai persis seperti yang diharapkan.

Implikasi profetik dari adaptasi ini bersifat ganda. Pertama, ia adalah praktik humanisasi yang mendalam. Dengan memahami dan memvalidasi kebutuhan psikologis pemuda akan rasa aman dan kekuatan, Mama Cianting memanusiakan mereka, memperlakukan mereka sebagai subjek dengan aspirasi unik, bukan sebagai objek pasif dakwah.395 Kedua, ia adalah instrumen liberasi. Dengan membekali mereka "teknologi spiritual" ini, ia membebaskan mereka dari rasa takut dan kerentanan, memberdayakan mereka untuk merasa lebih berdaulat atas kondisi spiritual mereka sendiri. Dengan demikian, analisis sesi malam Minggu ini membuktikan bahwa logos adaptif Mama Cianting bekerja dengan cara memahami "bahasa" aspirasi audiensnya, lalu "menerjemahkan" ajaran Islam ke dalam bahasa tersebut, memastikan relevansi dan daya tarik maksimal.

3) Analisis Sesi Senin Pagi: "Adab Tidur" sebagai "Ilmu Pendidikan" bagi Orang Tua Kontras yang tajam dengan pendekatan pada sesi malam Minggu terlihat jelas saat Mama Cianting membahas tema yang sama persis—"Adab Sebelum Tidur"—pada sesi kajian Senin pagi. Sebagaimana terekam dalam Observasi ke-11, di hadapan audiens yang mayoritas adalah para orang tua 394 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. 395 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. dan ibu rumah tangga, terjadi sebuah pergeseran framing yang fundamental. Tema ini tidak lagi disajikan sebagai "benteng diri" yang berfokus pada manfaat individual, melainkan ditransformasikan menjadi sebuah "ilmu pendidikan keluarga" yang berorientasi pada tanggung jawab komunal dan warisan spiritual.

Pergeseran strategis ini diumumkan secara eksplisit oleh Mama Cianting di awal pembahasannya, menunjukkan bahwa ini adalah sebuah pilihan retoris yang disadari dan terukur:

"Dinten ieu, urang bahas deui [adab sare], tapi tina sudut pandang urang salaku kolot. Ieu sanes 'benteng diri' deui, tapi 'ilmu pendidikan' anu wajib ku urang diajarkeun ka murangkalih di bumi." (Terjemahan: "Hari ini, kita bahas lagi [adab tidur], tapi dari sudut pandang kita sebagai orang tua. Ini bukan 'benteng diri' lagi, tapi 'ilmu pendidikan' yang wajib kita ajarkan kepada anak-anak di rumah.")

Framing "ilmu pendidikan" ini adalah sebuah manuver logos yang sangat cerdas karena ia merupakan praktik adaptasi audiens (Audience Adaptation) yang mendalam, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric.396 Ia beresonansi secara langsung dengan peran dan tanggung jawab utama dari audiens yang hadir. Jika audiens pemuda dimotivasi oleh pencarian kekuatan dan identitas diri, maka audiens orang tua dimotivasi oleh rasa cinta dan tanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Dengan membingkai adab tidur sebagai sebuah kurikulum parenting, Mama Cianting secara logis menempatkan ajaran tersebut tepat di jantung kepedulian audiensnya.

Lebih dari sekadar mengubah bingkai, Mama Cianting juga mengadaptasi isi pesannya menjadi sebuah panduan pedagogis yang sangat praktis dan empatik bagi para orang tua. Mama Cianting tidak hanya 396 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. menyuruh, tetapi memberikan "skrip" tentang bagaimana cara mengajarkannya dengan penuh kasih sayang:

"Sateuacan anak urang sare, ulah ngan dipasihan HP atawa ditinggalkeun nonton TV. Pangku, ajarkeun wudhu, bimbing maca 3 Qul, teras usapkeun kana awakna. Ajarkeun yen sare teh sanes ngan saukur peureum, tapi pasrah diri ka Allah." (Terjemahan: "Sebelum anak kita tidur, jangan hanya diberi HP atau ditinggal nonton TV. Pangku, ajarkan wudhu, bimbing membaca 3 Qul, lalu usapkan ke tubuhnya. Ajarkan bahwa tidur itu bukan hanya sekadar memejamkan mata, tapi pasrah diri kepada Allah.")

Deskripsi yang kaya dengan citraan "pangku" (memangku) ini mengubah sebuah ritual menjadi sebuah momen keintiman. Secara teoretis, ini adalah praktik identifikasi (identification) yang sangat kuat, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke.397 Dengan mengundang para orang tua ke dalam sebuah narasi tentang momen pengasuhan yang ideal, ia menciptakan sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) yang mendalam. Narasi mini ini memiliki kesetiaan naratif (Narrative Fidelity) yang sangat tinggi dalam kerangka Paradigma Naratif Walter Fisher, karena ia "beresonansi" dan terasa "benar" dengan aspirasi terdalam setiap orang tua untuk menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya.398 Implikasi profetik dari adaptasi ini sangat jelas. Dengan memberdayakan orang tua untuk menjadi pendidik spiritual pertama, ia sedang melakukan praktik humanisasi yang paling otentik. Ia menghargai dan mengangkat peran orang tua, khususnya ibu sebagai madrasah al-ula (sekolah pertama), sebagai agen sentral dalam transmisi nilai399. Lebih jauh lagi, fokusnya bergeser dari keselamatan individual di malam hari menjadi 397 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. 398 Walter Fisher, Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action (Columbia: University of South Carolina Press, 1987), 119. 399 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. keselamatan spiritual lintas generasi, sebuah bentuk transendensi yang visioner. Dengan demikian, kecerdasan kontekstual Mama Cianting dalam menggeser frame pesan adalah bukti nyata dari logos yang tidak hanya bertujuan untuk dipahami, tetapi juga untuk memanusiakan dan memberdayakan audiensnya sesuai dengan peran dan panggilan hidup mereka masing-masing.

4) Konfirmasi dari Sang Dai: Analisis Filosofi "Obat dan Bungkus" Analisis mengenai strategi adaptasi framing yang canggih ini bukanlah sekadar interpretasi peneliti, melainkan sebuah metodologi yang disadari dan memiliki landasan filosofis yang jelas bagi Mama Cianting sendiri. Ini adalah bagian pembuktian, di mana logos yang teramati dalam praktik dakwahnya terkonfirmasi secara verbal dalam sesi wawancara mendalam. Ketika ditanya mengenai pertimbangannya dalam menyajikan tema yang sama secara berbeda untuk audiens pemuda dan orang tua, Mama Cianting memaparkannya melalui sebuah analogi yang sangat kuat dan jelas, yaitu analogi "Obat dan Bungkus".

Dalam wawancara pasca-observasi, Mama Cianting menjelaskan dengan gamblang kerangka berpikir di balik tindakannya:

"Jamaahna ge benten-benten panyakitna, jadi ubarna ge kedah benten... Substansina sami, 'bungkusna' nu dirobih saluyu sareng saha nu diajak nyarios." (Terjemahan: "Jamaahnya juga berbeda-beda 'penyakitnya', jadi obatnya juga harus berbeda... Substansinya sama, 'bungkusnya' yang diubah sesuai dengan siapa yang diajak bicara.")

Analogi ini adalah inti dari filosofi retorika adaptifnya dan memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, dengan mengibaratkan substansi ajaran sebagai "obat", Mama Cianting menegaskan komitmennya pada otentisitas dan integritas pesan. "Obat" (ajaran inti tentang adab tidur sesuai sunnah) tetap sama, tidak diubah atau dikurangi dosisnya. Ini menunjukkan bahwa fleksibilitasnya tidak mengorbankan esensi ajaran, sebuah prinsip yang memperkuat ethos keterpercayaannya (trustworthiness).

Kedua, dengan mengibaratkan cara penyampaian sebagai "bungkus", Mama Cianting menunjukkan pemahaman yang sangat matang tentang prinsip adaptasi audiens (Audience Adaptation), sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric.400 Mama Cianting sadar bahwa "obat" yang paling manjur sekalipun tidak akan berguna jika "pasien" (jamaah) tidak mau meminumnya. "Bungkus" yang menarik—baik itu bingkai "benteng diri" yang "keren" untuk anak muda, maupun bingkai "ilmu pendidikan" yang relevan untuk orang tua—adalah strategi logis untuk memastikan "obat" tersebut dapat diterima oleh sistem psikologis audiens yang berbeda.

Ketiga, penggunaan frasa "benten-benten panyakitna" (berbedabeda penyakitnya) menunjukkan sebuah kecerdasan diagnostik yang empatik. Ini adalah praktik humanisasi yang paling fundamental, sejalan dengan semangat amar ma'ruf dalam Ilmu Sosial Profetik.401 Mama Cianting tidak melihat audiensnya sebagai sebuah massa yang homogen, melainkan sebagai individu-individu dengan "penyakit" atau kebutuhan spiritual yang berbeda. Kebutuhan pemuda untuk mencari identitas dan kekuatan adalah "penyakit" yang berbeda dari kebutuhan orang tua untuk mencari panduan dalam mendidik anak. Dengan demikian, adaptasi logos yang Mama Cianting lakukan berakar dari sebuah proses diagnosis yang sangat manusiawi.

Pada akhirnya, filosofi "Obat dan Bungkus" ini menjadi justifikasi paling kuat bagi keseluruhan strategi adaptasinya. Ia membuktikan bahwa setiap pilihan retoris yang Mama Cianting ambil bukanlah acak, melainkan sebuah kalkulasi yang didasarkan pada satu tujuan utama: memastikan 400 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. 401 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338.

"obat" ajaran Islam dapat sampai dan memberikan kesembuhan bagi sebanyak mungkin "pasien" dengan cara yang paling efektif dan paling manusiawi.

5) Implikasi Humanisasi: Menghargai Realitas Setiap Audiens sebagai Praktik Logos Pembahasan ini menginterpretasikan bagaimana strategi adaptasi framing yang telah diurai sebelumnya merupakan manifestasi dari logos yang secara inheren bersifat humanis. Pilihan Mama Cianting untuk menolak pendekatan "satu ukuran untuk semua" adalah sebuah praktik adaptasi audiens (Audience Adaptation) yang mendalam, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric.402 Ini adalah manifestasi dari logika yang tidak hanya bertujuan untuk menjadi "benar" secara tekstual, tetapi juga "tepat" secara manusiawi, sebuah praktik humanisasi yang paling fundamental, sejalan dengan semangat amar ma'ruf dalam Ilmu Sosial Profetik.403 Dengan menyajikan "Adab Tidur" sebagai "benteng diri" bagi pemuda dan sebagai "ilmu pendidikan" bagi orang tua, Mama Cianting secara aktif memvalidasi realitas, kekhawatiran, dan peran sosial yang berbeda dari setiap segmen jamaahnya. Tindakan validasi ini, secara teoretis, adalah praktik identifikasi (identification) yang sangat kuat, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke.404 Dengan "berbicara dalam bahasa" aspirasi audiensnya, ia menciptakan sebuah "kesamaan substansi" (consubstantiality) yang membuat setiap individu merasa "terlihat", dipahami, dan dihargai dalam konteks kehidupannya masing-masing. Pesan implisit yang diterima oleh para pemuda adalah: "Saya memahami pencarianmu akan kekuatan di tengah gejolak usiamu." Sementara pesan yang diterima oleh para orang tua adalah: "Saya mengakui 402 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. 403 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. 404 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. dan menghargai peranmu yang mulia sebagai pendidik utama dalam keluarga." Dengan demikian, kecerdasan kontekstual Mama Cianting bukanlah sekadar teknik persuasi yang cerdas, melainkan sebuah manifestasi dari etika dakwah profetik yang menempatkan pemuliaan manusia (takrim alinsan) sebagai prasyarat utama dari penyampaian pesan Ilahi. Ia membuktikan bahwa argumentasi yang paling logis adalah argumen yang mampu menghargai dan berbicara langsung pada realitas kemanusiaan pendengarnya. c. Temuan dan Analisis Argumentasi Solutif: Pola "Problem-Solution" sebagai Metode Liberasi Jamaah dari Kebingungan Praktis 1) Pola "Problem-Solution" sebagai Logika yang Memberdayakan Manifestasi logos dalam dakwah Mama Cianting tidak hanya bersifat adaptif, tetapi juga sangat pragmatis dan konstruktif. Salah satu strategi argumentasi yang paling menonjol dan secara konsisten beliau gunakan untuk mencapai tujuan ini adalah pola “Problem-Solution”. Analisis mendalam menunjukkan bahwa beliau jarang sekali mengangkat sebuah masalah, larangan, atau kritik (problem) tanpa secara langsung menindaklanjutinya dengan jalan keluar, panduan, atau alternatif yang sesuai syariat (solution). Pola ini menunjukkan bahwa tujuan retorika beliau bukanlah sekadar untuk menunjukkan kesalahan atau menyebarkan pengetahuan yang bersifat diagnostik, melainkan untuk membekali jamaah dengan perangkat praktis untuk melakukan perbaikan.

Secara teoretis, ini adalah sebuah strategi logos yang disadari, yang bertujuan untuk memberdayakan (empowerment) dan membebaskan (liberasi), sejalan dengan semangat nahi munkar (mencegah kemungkaran) dalam Ilmu Sosial Profetik.405 Ia tampaknya memahami sepenuhnya bahwa mengidentifikasi sebuah masalah tanpa memberikan solusinya hanya akan meninggalkan jamaah dalam kondisi kebingungan atau keputusasaan.

405 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338.

Dengan selalu menyediakan "resep" setelah mendiagnosis "penyakit"— sebuah praktik yang selaras dengan analogi "dokter" yang telah dibahas sebelumnya—ia memastikan bahwa jamaah pulang tidak dengan beban baru, tetapi dengan peta jalan yang jelas.

Pendekatan solutif inilah yang menjadi inti dari dakwah liberatifnya. Ia secara efektif mengubah nahi munkar (mencegah kemungkaran) dari sekadar tindakan melarang menjadi sebuah proses membimbing menuju alternatif yang benar. Ini adalah manifestasi dari logos yang tidak hanya bertujuan untuk menjadi "benar" secara logis, tetapi juga "berguna" secara praktis, sebuah prinsip yang menjadi inti dari adaptasi audiens (Audience Adaptation), sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric.406 Dengan berfokus pada solusi, ia menghormati kapasitas jamaah untuk berubah dan memberikan mereka alat untuk melakukannya, sebuah praktik yang secara inheren bersifat humanisasi.407 Pembahasan selanjutnya akan mengurai bagaimana pola ini diimplementasikan secara konkret dalam ranah fiqih muamalah dan resolusi konflik sosial.

2) Membedah Logika Solutif dalam Fiqih Muamalah Implementasi pola argumentasi "Problem-Solution" yang paling jelas dan berdampak dapat dianalisis secara mendalam melalui studi kasus kajian fiqih muamalah yang terekam pada Observasi ke-6. Dalam sesi ini, Mama Cianting tidak menyajikan hukum-hukum muamalah sebagai daftar aturan yang kering, melainkan sebagai sebuah proses diagnostik dan terapeutik bagi praktik ekonomi jamaahnya. Proses retoris ini berlangsung dalam tiga tahapan yang runut: identifikasi masalah yang relevan, penjelasan logika hukum, dan penyajian solusi yang praktis dan memberdayakan.

406 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. 407 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, 338.

Tahap pertama adalah identifikasi masalah yang relevan dengan realitas jamaah. Beliau tidak memulai dengan definisi teoretis tentang riba atau gharar. Sebaliknya, beliau membuka pembahasan dengan melukiskan sebuah skenario yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat agraris dan pedagang di Purwakarta. sebuah praktik adaptasi audiens (Audience Adaptation) yang mendalam, sebagaimana dikonseptualisasikan dalam The New Rhetoric. Beliau berkata:

"Cobi, nu sok ka pasar... kadang urang ningali aya nu meuli lauk di jero cai. Ditembak weh sakolam sakitu. Tah, eta teh teu sah jual belina, sabab aya gharar, teu jelas barangna. Ieu panto gerbang nuju kana riba!" (Terjemahan: "Coba, yang suka ke pasar... kadang kita melihat ada yang membeli ikan yang masih di dalam air (kolam). Ditebak saja satu kolam harganya sekian. Nah, itu tidak sah jual belinya, sebab ada gharar (ketidakpastian), barangnya tidak jelas. Ini adalah pintu gerbang menuju riba!")

Dengan mengangkat contoh yang hiperlokal ini, beliau secara efektif membangun relevansi dan menciptakan identifikasi (identification), sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Kenneth Burke.408 Jamaah tidak merasa sedang mendengarkan ceramah yang jauh dari kehidupan mereka, melainkan sedang diajak untuk merefleksikan praktik yang mungkin mereka lakukan sendiri. Ini adalah praktik humanisasi yang menghargai dunia kehidupan audiensnya.

Tahap kedua adalah penjelasan logika hukum di balik larangan. Setelah masalah diidentifikasi, Mama Cianting memberikan landasan syar'inya. Beliau menjelaskan secara sederhana mengapa praktik tersebut dilarang, yaitu karena mengandung unsur gharar atau ketidakpastian yang dapat merugikan salah satu pihak dan membuka pintu perselisihan. Pada tahap ini, beliau mengedukasi jamaah, melakukan pemberdayaan kognitif, 408 Kenneth Burke, A Rhetoric of Motives (Berkeley: University of California Press, 1969), 55. mengubah persepsi mereka dari "ini kebiasaan" menjadi "ini praktik yang bermasalah secara hukum agama." Logika ini mempersiapkan mereka untuk menerima tahap selanjutnya.

Tahap ketiga, dan ini yang paling krusial, adalah penyajian solusi yang praktis dan memberdayakan. Inilah inti dari logos-nya yang solutif, di mana ia secara langsung mengartikulasikan dimensi liberasi.409 Beliau tidak meninggalkan jamaah dalam kebingungan setelah sebuah praktik dilarang. Beliau justru memberikan sebuah "manual" atau panduan langkah-demilangkah yang sangat jelas. Contoh terbaik adalah saat beliau memberikan solusi untuk sistem upah pemanjat kelapa:

"Upamana tukang panjat kalapa, upahna ulah ku kalapana langsung, ieu akadna batil. Carana, akad heula upahna: 'Mang, upah manjat teh lima puluh rebu.' Saatos anjeunna turun, pasihan artosna. Tah, saatos eta, lamun si mamangna hoyong meuli kalapa ku artos eta, mangga, eta akad jual beli nu anyar, sah!" (Terjemahan: "Misalnya tukang panjat kelapa, upahnya jangan langsung dari kelapa, ini akadnya batal. Caranya, akad dulu upahnya: 'Mas, upah memanjat ini lima puluh ribu.' Setelah dia turun, baru berikan uangnya. Nah, setelah itu, kalau si masnya ingin membeli kelapa dengan uang itu, silakan, itu akad jual beli yang baru, sah!")

Struktur argumen tiga tahap ini—mengidentifikasi masalah yang relevan, menjelaskan logika hukumnya, dan memberikan solusi yang dapat ditindaklanjuti—adalah sebuah bentuk retorika logos yang sangat memberdayakan. Ia tidak hanya menginformasikan, tetapi juga membekali. Jamaah tidak hanya tahu apa yang salah, tetapi mereka diberi pengetahuan dan kepercayaan diri untuk melakukan hal yang benar. Inilah yang menjadikan pendekatan ini sebagai metode liberasi yang sangat efektif dalam konteks kehidupan praktis jamaah.

409 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338.

3) Perluasan Pola Solutif pada Ranah Sosial dan Spiritual Kekuatan dan fleksibilitas dari pola argumentasi "Problem- Solution" dalam logos Mama Cianting terbukti dari kemampuannya untuk diterapkan melampaui ranah fiqih muamalah. Pola ini ternyata menjadi sebuah manhaj atau metodologi berpikir yang beliau gunakan secara konsisten untuk menyikapi berbagai persoalan, baik yang bersifat konflik sosial horizontal maupun kebutuhan spiritual vertikal. Hal ini menunjukkan bahwa logika yang beliau tawarkan kepada jamaah adalah sebuah perangkat analisis yang universal.

Penerapan pada ranah sosial terlihat jelas dalam cara beliau memediasi konflik di antara jamaah. Beliau tidak hanya berfungsi sebagai juru damai, tetapi juga sebagai seorang "diagnostik spiritual" yang mencari akar masalah. Sebagaimana dituturkan oleh jamaah senior dalam sesi FGD, saat terjadi sengketa batas tanah yang menegangkan di antara dua jamaah, pendekatan Mama Cianting tidak berfokus pada solusi teknis semata. Beliau mengidentifikasi bahwa "masalah" yang sesungguhnya bukanlah meteran tanah, melainkan "penyakit hati".

"Mama teh sanes ngan ngukur ulang taneuhna, tapi 'nyageurkeun' hatena heula. Beliau ngajelaskeun panyakit cinta dunia, kurangna qana'ah. Hasilna, sanes ngan masalah batas tanah nu rengse, tapi dua pihak eta teh jadi silih hampura sareng akur deui."410 (Terjemahan: "Mama itu bukan hanya mengukur ulang tanahnya, tapi 'menyembuhkan' hatinya dulu. Beliau menjelaskan penyakit cinta dunia, kurangnya rasa puas. Hasilnya, bukan hanya masalah batas tanah yang selesai, tapi kedua pihak itu jadi saling memaafkan dan akur lagi.")

Dalam kasus ini, logika "Problem-Solution" diterapkan dengan sangat canggih melalui redefinisi masalah dari sengketa horizontal menjadi penyakit spiritual vertikal. Ini adalah sebuah pergeseran dari pendekatan legalistik menuju pendekatan yang sangat humanis, yang berfokus pada 410 Focus Group Discussion dengan Jamaah Senior, oleh penulis, Cianting, 09 Desember 2024. pemulihan hubungan antarmanusia, sejalan dengan semangat amar ma'ruf.411 Solution-nya pun bersifat spiritual, yaitu menanamkan nilai qana'ah dan ikhlas. Hasilnya adalah sebuah resolusi restoratif yang tidak hanya menyelesaikan sengketa, tetapi juga mengartikulasikan dimensi liberasi: membebaskan kedua pihak dari belenggu keserakahan dan permusuhan.

Penerapan pada ranah spiritual terlihat dari cara beliau mengemas ajaran adab sehari-hari. Beliau seringkali terlebih dahulu membangun kesadaran akan adanya sebuah "masalah" atau "kerentanan" spiritual yang tidak disadari oleh jamaah. Dalam kajian "Adab Sebelum Tidur" pada Observasi ke-10, beliau membingkai kondisi tidur sebagai sebuah problem kerentanan:

"Setiap peuting teh ruh urang kaluar tina jasad. Urang teh teu daya teu upaya. Loba gangguan, ti jin, ti setan..."412 (Terjemahan: "Setiap malam itu ruh kita keluar dari jasad. Kita tidak berdaya. Banyak gangguan, dari jin, dari setan...")

Secara retoris, ini adalah strategi klasik: menciptakan kesadaran akan sebuah "masalah" untuk meningkatkan nilai dari "solusi" yang ditawarkan. Setelah menciptakan kesadaran akan "masalah" ini, ia kemudian menyajikan rangkaian amalan sunnah sebagai solution yang praktis dan memberdayakan, yang ia sebut sebagai "'benteng pertahanan' anu ampuh." Dengan menggunakan pola ini, sebuah amalan sunnah yang mungkin dianggap remeh diubah menjadi sebuah solusi vital untuk masalah spiritual yang nyata. Ini adalah bentuk liberasi dari kecemasan, sekaligus menjadi jembatan menuju pemahaman transenden bahwa manusia selalu membutuhkan perlindungan dari Allah.

411 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338. 412 Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti, Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, 10 Mei 2025 (Observasi ke-10, Kajian Malam Minggu).

Kemampuan untuk menerapkan pola logika "Problem-Solution" secara fleksibel di berbagai bidang—dari transaksi pasar, sengketa tanah, hingga persiapan tidur—menunjukkan bahwa ini adalah kerangka berpikir sentral dalam retorika Mama Cianting. Ini adalah logos yang tidak hanya menjelaskan, tetapi secara aktif mendiagnosis dan memberikan resep, menjadikan dakwahnya terasa sangat relevan dan solutif bagi seluruh aspek kehidupan jamaahnya. 4) Implikasi Liberatif: Dari Kebingungan Praktis Menuju Kejelasan Bertindak Pada akhirnya, dampak paling signifikan dari penggunaan pola argumentasi "Problem-Solution" yang konsisten adalah terwujudnya dimensi liberasi secara nyata dalam kehidupan jamaah. Sejalan dengan semangat nahi munkar dalam Ilmu Sosial Profetik yang bertujuan membebaskan manusia dari berbagai belenggu.413 Logos yang bersifat solutif ini tidak hanya memberikan pencerahan intelektual, tetapi juga berfungsi sebagai alat pembebasan dari berbagai belenggu yang menghalangi seorang Muslim untuk beramal dengan benar dan tenang. Jamaah dibebaskan dari setidaknya tiga kondisi: dari kebingungan praktis dalam urusan muamalah ("bagaimana seharusnya saya berdagang?"), dari kelumpuhan akibat konflik sosial ("bagaimana menyelesaikan masalah ini?"), dan dari kecemasan spiritual ("bagaimana melindungi diri?"). Pola logos ini memberikan mereka kejelasan dan kepercayaan diri untuk bertindak.

Pengalaman Ibu Imas, seorang jamaah yang datang ke majelis dalam keadaan merasa "buntu" akibat masalah hidup, menjadi bukti empiris yang kuat dari dampak liberatif ini. Beliau tidak hanya menemukan ketenangan, tetapi juga kejelasan. Beliau menuturkan:

413 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2008), 338.

"Mama memberikan nasihat yang praktis tapi juga mendalam secara spiritual... Jadi sanes ngan saukur 'sing sabar, Bu,' tapi dipasihan langkah-langkahna."414 (Terjemahan: "Mama memberikan nasihat yang praktis tapi juga mendalam secara spiritual... Jadi bukan hanya sekadar 'harus sabar, Bu,' tapi diberi langkah-langkahnya.")

Analisis mendalam terhadap kesaksian ini mengungkap inti dari proses liberasi yang terjadi. Frasa "buntu" yang digunakan Ibu Imas menggambarkan kondisi sebelum liberasi—sebuah keadaan lumpuh tanpa arah, sebuah bentuk ketidakberdayaan. Kontrasnya dengan frasa "dipasihan langkah-langkahna" (diberi langkah-langkahnya) secara presisi menggambarkan hasil dari liberasi tersebut: pemberdayaan praktis dan pengembalian agensi. Logos yang solutif ini secara efektif mengubah jamaah dari objek pasif yang hanya bisa "bersabar" menanggung masalah, menjadi subjek aktif yang dibekali "langkah-langkah" untuk menyelesaikannya.

Dengan demikian, logos yang solutif dalam dakwah Mama Cianting berfungsi sebagai sebuah instrumen yang tidak hanya mencerahkan, tetapi juga memerdekakan. Ia memberikan kepada jamaahnya sebuah "perangkat" logis untuk menavigasi kompleksitas kehidupan, mengubah kebingungan menjadi keyakinan, dan kelumpuhan menjadi tindakan yang berlandaskan ilmu. Ini adalah manifestasi dari logos yang tidak hanya bertujuan untuk menjadi "benar" secara logis, tetapi juga "berguna" secara praktis, sebuah prinsip yang menjadi inti dari adaptasi audiens (Audience Adaptation).415

4. Sintesis Pembahasan: Retorika Profetik sebagai Ekosistem Dakwah

Transformatif Setelah membedah setiap pilar retorika—ethos, pathos, dan logos— dan bagaimana masing-masing pilar tersebut mengartikulasikan dimensi 414 Wawancara dengan Imas, oleh penulis, Cianting, 17 Maret 2025. 415 Chaïm Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation, terj. John Wilkinson dan Purcell Weaver (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969), 19. profetik secara terperinci, pembahasan akhir ini bertujuan untuk mensintesis temuan-temuan tersebut ke dalam sebuah gambaran yang utuh. Analisis komprehensif menunjukkan bahwa retorika profetik yang dipraktikkan oleh Mama Cianting bukanlah sekadar kumpulan teknik persuasi yang efektif, melainkan sebuah kekuatan yang secara aktif melahirkan dan memelihara sebuah ekosistem dakwah yang transformatif. Ekosistem ini merujuk pada sebuah ruang sosial-spiritual di mana pesan-pesan dakwah tidak hanya dikonsumsi secara pasif, tetapi diinternalisasi, dipraktikkan, dan direproduksi menjadi sebuah budaya komunal yang hidup.

Terbentuknya ekosistem transformatif ini ditopang oleh dua pilar utama yang akan menjadi fokus dari sintesis ini. Pertama, adalah adanya integrasi yang sangat erat dan tidak terpisahkan antara ethos, pathos, dan logos dalam setiap praktik dakwahnya. Ketiga pilar ini tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling menguatkan untuk menciptakan sebuah pesan dakwah yang utuh, kredibel, menyentuh, dan logis. Kedua, adalah bagaimana sinergi retoris tersebut berhasil bermanifestasi secara konkret menjadi sebuah komunitas yang solid dan berfungsi, di mana nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi tidak hanya menjadi materi ceramah, tetapi juga menjadi napas dalam interaksi sosial dan mekanisme komunal para jamaah.

Setelah menganalisis setiap pilar retorika secara mendalam, tahap pembahasan selanjutnya adalah mensintesis bagaimana pilar-pilar tersebut saling berinteraksi sebagai sebuah sistem yang utuh. Untuk memetakan hubungan struktural antar konsep berdasarkan data empiris, dilakukan Analisis Gugus (Cluster Analysis) menggunakan NVivo. Hasilnya disajikan pada Gambar 11.

Gambar 11: Diagram Gugus Nvivo.

Diagram gugus di atas secara visual mengkonfirmasi beberapa argumen kunci. Pertama, kedekatan gugus antara [A] Ethos, [B] Pathos, dan [C] Logos di bawah payung [D] Dimensi Profetik menunjukkan bahwa ketiga pilar retorika ini memang bekerja sebagai satu kesatuan sistem untuk mencapai tujuan profetik. Kedua, terlihat klaster yang sangat kuat antara Kompetensi dan Karakter (bagian dari Ethos) dengan Transendensi dan Humanisasi, mengindikasikan bahwa kredibilitas sang dai sangat terikat pada kemampuannya untuk menjadi teladan spiritual dan memanusiakan jamaah. Ketiga, gugus Struktur Argumen dan Adaptasi Audiens (bagian dari Logos) berkelompok dengan Kharisma dan Manajemen Emosi, menunjukkan betapa eratnya hubungan antara logika yang adaptif dengan kemampuan mengelola karisma dan emosi audiens.

Peta hubungan konseptual ini menjadi landasan untuk membahas lebih lanjut bagaimana integrasi dari ketiga pilar ini menciptakan sebuah model retorika yang utuh dan transformatif. a. Temuan dan Analisis Integrasi Ethos, Pathos, dan Logos dalam Menciptakan Dakwah yang Utuh Setelah membedah setiap pilar retorika secara terperinci pada bagian-bagian sebelumnya, pembahasan akhir ini sampai pada sebuah kesimpulan fundamental: kekuatan retorika profetik Mama Cianting tidak terletak pada keunggulan salah satu pilar secara terisolasi, melainkan pada sinergi dan integrasi yang mulus di antara ketiganya. Jika diibaratkan, retorika beliau bukanlah tiga tiang yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebuah "tali tiga jalinan" (three-stranded cord) yang sangat kokoh, di mana kekuatan tali gabungan jauh melampaui kekuatan masing-masing jalinannya. Ethos, pathos, dan logos dalam praktik dakwahnya tidak hanya hadir, tetapi saling menopang, memperkuat, dan bahkan seringkali tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Kredibilitasnya (ethos) membuat jamaah mau membuka hati untuk menerima pesan emosionalnya (pathos). Pesan emosionalnya (pathos) membuat argumen logisnya (logos) terasa lebih relevan dan mudah diingat. Dan argumen logisnya yang adaptif (logos) pada gilirannya kembali memperkuat citranya (ethos) sebagai seorang dai yang cerdas dan peduli. Oleh karena itu, untuk memahami secara utuh bagaimana sebuah dakwah yang transformatif diciptakan, analisis tidak bisa lagi berhenti pada pembedahan parsial. Pembahasan selanjutnya akan fokus pada analisis sinergis, yaitu bagaimana interaksi dinamis antara ketiga pilar ini secara kolektif membangun sebuah pesan dakwah yang holistik—sebuah dakwah yang utuh, yang secara bersamaan dapat dipercaya, dirasakan, dan dipahami.

Keutuhan dan kekuatan retorika profetik Mama Cianting terletak pada jalinan sinergi yang erat antara ethos, pathos, dan logos. Ketiga pilar ini tidak berfungsi secara terpisah, melainkan saling menopang dalam sebuah siklus yang dinamis. Kredibilitas membuka hati untuk merasakan, emosi membuka pikiran untuk memahami, dan logika yang adaptif kembali memperkuat kredibilitas.

Pertama, bagaimana Ethos Menguatkan Pathos dan Logos. Fondasi dari semua persuasi Mama Cianting adalah ethos-nya yang kokoh. Kredibilitas dan kepercayaan yang telah terbangun inilah yang memberikan "izin" bagi pilar pathos dan logos untuk bekerja secara efektif. Dampak emosional (pathos) dari sebuah narasi spiritual akan sangat bergantung pada siapa yang menceritakannya. Kisah "Batu Arafah" yang berdimensi supranatural, misalnya, menjadi sangat menggugah dan dipercaya oleh jamaah karena diceritakan oleh figur yang mereka yakini memiliki integritas dan kejujuran intelektual yang tinggi. Jika disampaikan oleh penceramah dengan kredibilitas yang lebih rendah, kisah yang sama mungkin akan ditolak sebagai mitos atau takhayul. Demikian pula, argumentasi logos yang beliau bangun ditaati karena jamaah percaya pada kompetensi keilmuannya. Logika prioritas "Fondasi Dulu" yang beliau tegaskan diterima tanpa perdebatan karena audiens yakin bahwa arahan tersebut datang dari seorang ahli yang memahami hierarki ilmu secara mendalam. Dengan kata lain, ethos adalah pelumas yang membuat mesin pathos dan logos dapat berjalan lancar.

Kedua, bagaimana Pathos Menguatkan Ethos dan Logos. Sentuhan emosional dan narasi yang digunakan Mama Cianting tidak hanya berfungsi untuk menyentuh hati jamaah, tetapi juga secara aktif memperkuat citra (ethos) dan kejelasan argumennya (logos). Saat beliau menuturkan kisah yang penuh empati tentang bakti kepada ibu atau menunjukkan welas asih kepada jamaah yang terpuruk, beliau secara bersamaan sedang membangun ethos-nya sebagai seorang murabbi (pendidik jiwa) yang bijaksana dan peduli. Kemampuan beliau dalam mengelola emosi audiens menjadi bagian dari kredibilitasnya. Selain itu, pathos berfungsi sebagai jembatan untuk memahami logos. Analogi "rumah" yang sederhana dan menyentuh secara emosional adalah alat yang membuat logika hukum fiqih tentang Rukun dan Wajib menjadi mudah diingat dan dipahami secara mendalam. Citra (pathos) dari sebuah rumah yang kokoh atau cacat membuat argumen hukum (logos) menjadi lebih dari sekadar aturan; ia menjadi sebuah konsekuensi yang dapat dirasakan.

Ketiga, bagaimana Logos Menguatkan Ethos dan Pathos. Pendekatan Mama Cianting yang logis dan sangat adaptif pada gilirannya memvalidasi kredibilitas (ethos) beliau dan membuat pengelolaan emosinya (pathos) terasa bertanggung jawab. Kecerdasan kontekstual (logos) yang beliau tunjukkan saat mengadaptasi framing "Adab Tidur" untuk audiens pemuda dan orang tua, memperkuat citra (ethos) beliau sebagai seorang pendidik yang cerdas, peka, dan benar-benar peduli pada pemahaman jamaahnya. Di sisi lain, pola argumentasi "Problem-Solution" yang beliau gunakan membuat emosi yang dibangkitkan tidak terasa menggantung. Peringatan keras (fear appeal) tentang bahaya riba, yang membangkitkan rasa takut (pathos), tidak dibiarkan begitu saja. Ia segera diikuti dengan tawaran solusi akad yang benar dan anjuran zakat. Adanya jalan keluar yang logis ini membuat emosi takut yang dimunculkan terasa konstruktif dan bertujuan baik, bukan sekadar untuk menakut-nakuti. Dengan demikian, logos yang solutif memberikan tujuan dan legitimasi pada pathos yang beliau gunakan.

Untuk mensintesis dan memvisualisasikan bagaimana ketiga pilar retorika secara sinergis digunakan untuk mengartikulasikan tiga dimensi profetik, temuan-temuan kunci dari keseluruhan analisis dapat dipadatkan ke dalam sebuah matriks integrasi. Matriks ini berfungsi sebagai ringkasan visual yang menunjukkan bahwa setiap alat retoris (ethos, pathos, logos) memiliki peran dalam mencapai setiap tujuan profetik (humanisasi, liberasi, transendensi). Hal ini membuktikan bahwa retorika Mama Cianting tidak bersifat parsial, melainkan holistik dan komprehensif.

Berikut adalah matriks yang merangkum keterkaitan tersebut, di mana setiap selnya berisi contoh strategi kunci yang telah diidentifikasi dalam penelitian ini.

Matriks HUMANISASI LIBERASI TRANSENDENSI Integrasi (Amar Ma'ruf) (Nahi (Tu'minuna Billah) Retorika Profetik Munkar)

ETHOS Sikap welas asih Kompetensi Akuntabilitas & "kejujuran fiqih & spiritual & posisi intelektual" ketegasan sebagai "kurir ilmu" dalam prinsip untuk untuk mengarahkan membangun membebaskan pada Allah. hubungan dari kesalahan egaliter. fatal.

PATHOS Narasi empati Narasi "fear Narasi spiritual (kisah ibu) & appeal" (riba) (malaikat, Batu humor untuk & kisah Arafah) untuk menciptakan mediasi untuk menghadirkan yang kehangatan membebaskan gaib secara komunal. dari kelalaian emosional. dan konflik.

LOGOS Adaptasi pesan Pola "ProblemLogika prioritas (Malam Minggu vs. Senin Pagi) Solution" untuk (shalat) & analogi sebagai bentuk penghargaan membebaskan holistik (tasbih) pada audiens. dari untuk kebingungan menstrukturkan praktis. pemahaman tauhid.

Tabel 3: Matriks Integrasi Pilar Retorika dan Dimensi Profetik Matriks di atas secara visual menunjukkan sebuah pola yang sangat konsisten: penekanan pada aspek-aspek yang paling mendasar, otentik, dan berakar kuat pada tradisi. Jika keseluruhan corak retorika ini hendak dilabeli, maka ia sangat sesuai dengan apa yang dalam terminologi studi Islam kontemporer dikenal dengan istilah Ta'shil (‫)تأصيل‬. Ta'shil secara harfiah berarti "pengakaran" atau "pemfondasian". Ini adalah sebuah pendekatan yang berfokus pada penguatan prinsip-prinsip dasar (ushul) dan pengakaran setiap ajaran pada sumber-sumber aslinya (Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan ulama mu'tabar) sebelum berbicara tentang cabangcabangnya (furu').

Pendekatan ta'shil ini termanifestasi secara nyata dalam seluruh praktik retorika Mama Cianting. Pilihan logisnya untuk memprioritaskan fardhu 'ain adalah ta'shil dalam kurikulum. Ketergantungannya pada kitab dan sanad adalah ta'shil dalam sumber otoritas. Bahkan strategi dakwah digitalnya, sebagaimana dikonfirmasi oleh pengurus, tetap berfokus pada materi dasar seperti cara istinja dan tayamum, karena itulah fondasi yang paling dibutuhkan umat di tengah banjir disinformasi. Dengan mengadopsi pendekatan ta'shil, retorika profetik Mama Cianting menjadi sangat efektif. Ia melakukan liberasi dengan memberikan fondasi ilmu yang kokoh sehingga jamaah tidak mudah terombang-ambing oleh pemahaman yang dangkal. Di saat yang sama, ia melakukan humanisasi dengan menjawab kebutuhan paling asasi dari setiap individu Muslim, yaitu keabsahan ibadah personalnya kepada Tuhan, sebuah tujuan transenden yang paling utama.

Sintesis dari keseluruhan analisis menunjukkan bahwa efektivitas retorika profetik Mama Cianting berpuncak pada kemampuannya menciptakan sebuah "dakwah yang utuh" yang berbicara kepada manusia secara holistik. Dakwahnya tidak hanya berhenti pada pemuasan akal melalui argumentasi yang logis (logos), tidak pula hanya membangkitkan sentimen sesaat melalui daya tarik emosional (pathos), dan tidak juga menuntut kepatuhan buta yang hanya bersandar pada kredibilitas personal (ethos). Sebaliknya, ketiga pilar ini dijalin menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan: kepercayaan pada sang dai (ethos) membuka pintu bagi jamaah untuk menerima logikanya (logos) dan merasakan pesannya (pathos); pesan yang menyentuh hati (pathos) membuat argumennya yang logis (logos) menjadi lebih bermakna; dan argumennya yang logis serta adaptif (logos) pada gilirannya semakin memperkokoh citranya sebagai figur yang dapat dipercaya (ethos).

Kemampuan untuk berbicara kepada manusia secara utuh— meyakinkan akalnya, menyentuh hatinya, dan memenangkan kepercayaannya secara bersamaan—inilah yang menjadi inti dari retorika profetiknya. Ini adalah sebuah persuasi yang tidak hanya bertujuan untuk mengubah opini, tetapi secara nyata mampu menggerakkan, memperbaiki, dan menghasilkan transformasi yang mendalam pada diri individu dan komunitas yang dibimbingnya. Dengan demikian, keutuhan retorika yang beliau tampilkan menjadi cerminan dari tujuan profetiknya untuk membentuk manusia yang utuh. b. Temuan dan Analisis Majelis Taklim Al-Aqthob sebagai Manifestasi Konkret dari Dakwah Profetik yang Membangun Komunitas Analisis akhir dari retorika profetik Mama Cianting tidak akan lengkap tanpa melihat manifestasi paling nyata dari dampak dakwahnya: yaitu terbentuknya Majelis Taklim Al-Aqthob itu sendiri sebagai sebuah ekosistem sosial-spiritual yang hidup dan transformatif. Jika bagian-bagian sebelumnya telah membedah "alat" retorikanya, maka bagian ini membahas "produk" akhirnya. Temuan dari wawancara dengan para jamaah secara meyakinkan menunjukkan bahwa majelis ini bukanlah sekadar tempat pasif untuk menerima informasi, melainkan sebuah ruang di mana nilai-nilai profetik yang didakwahkan—humanisasi, liberasi, dan transendensi— terwujud dalam praktik komunal yang nyata.

Dimensi humanisasi termanifestasi paling kuat dalam terbentuknya sebuah komunitas yang berfungsi sebagai "keluarga baru" bagi para anggotanya. Di tengah masyarakat modern yang cenderung individualistis, majelis ini berhasil membangun sebuah jaring pengaman sosial yang berlandaskan kepedulian dan solidaritas otentik. Kesaksian dari Ibu Hj.

Rohayati adalah bukti empiris yang sangat kuat dari fenomena ini. Beliau menuturkan pengalamannya saat menghadapi kesulitan seorang diri:

"Aya waktosna murangkalih abdi panas tiris, ari pun lanceuk nuju tugas di luar kota. Abdi bingung pisan harita. Teu disangka-sangka, tatanggi nu sami-sami ngaji di dieu langsung dongkap ka bumi. Aya nu nganteurkeun ka dokter, aya nu ngirim tuangeun..."416 (Terjemahan: "Ada waktunya anak saya demam tinggi, sementara suami sedang tugas di luar kota. Saya bingung sekali waktu itu. Tidak disangka-sangka, tetangga yang sama-sama mengaji di sini langsung datang ke rumah. Ada yang mengantarkan ke dokter, ada yang mengirim makanan...")

Kisah ini, bersama dengan testimoni Asep Furqon yang dibantu saat di-PHK dan Latifuddin yang menemukan "kampung halaman baru", menunjukkan bahwa pesan humanisasi yang disampaikan dari mimbar telah berhasil diinternalisasi dan dipraktikkan menjadi sebuah budaya tolongmenolong yang nyata.

Dimensi liberasi juga menemukan wujud konkretnya dalam mekanisme sosial komunitas. Majelis ini tidak hanya membebaskan individu dari kebodohan, tetapi juga menyediakan sistem alternatif untuk membebaskan mereka dari konflik. Kisah tentang mediasi sengketa batas tanah yang diceritakan oleh jamaah senior adalah contoh utama. Alih-alih terjebak dalam sistem hukum formal yang konfrontatif, kedua pihak yang berkonflik memilih jalur mediasi spiritual. Pendekatan Mama Cianting yang "menyembuhkan hati terlebih dahulu" dengan menjelaskan "penyakit cinta dunia" berhasil membebaskan kedua belah pihak dari belenggu ego dan permusuhan. Ini menunjukkan bahwa majelis telah berevolusi menjadi sebuah ruang keadilan restoratif yang mandiri.

Pada akhirnya, seluruh ekosistem ini ditopang oleh dimensi transendensi yang dihidupkan secara kolektif. Majelis menjadi "charger 416 Wawancara dengan Hj. Rohayati, oleh penulis, Cianting, 5 Mei 2025. spiritual", sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Imas, sebuah tempat di mana individu dapat mengisi ulang energi keimanannya. Atmosfer khusyuk saat shalawat dan dzikir bersama menciptakan sebuah pengalaman transenden yang komunal, yang memberikan kekuatan bagi para jamaah untuk mempraktikkan nilai-alat profetik lainnya dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Majelis Taklim AlAqthob bukanlah sekadar latar atau panggung tempat retorika profetik ditampilkan. Majelis ini adalah testamen hidup dari keberhasilan retorika tersebut. Ia adalah bukti bahwa sebuah dakwah yang secara seimbang dan utuh menyentuh ethos, pathos, dan logos mampu menghasilkan sebuah dampak yang melampaui perubahan individu, yaitu membangun sebuah komunitas yang lebih manusiawi, lebih merdeka, dan lebih berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan.

Setelah membedah setiap pilar retorika—ethos, pathos, dan logos— secara terperinci, pembahasan akhir ini bertujuan untuk mensintesis temuan-temuan tersebut ke dalam sebuah gambaran yang utuh. Analisis komprehensif menunjukkan bahwa retorika profetik yang dipraktikkan oleh Mama Cianting bukanlah sekadar kumpulan teknik persuasi yang efektif, melainkan sebuah sistem yang terintegrasi, di mana ketiga pilar dijalin menjadi sebuah "tali tiga jalinan" (three-stranded cord) yang sangat kokoh. Kredibilitasnya (ethos) membuka hati untuk menerima pesan emosionalnya (pathos), yang kemudian diberi struktur dan solusi praktis oleh kerangka argumentasi yang adaptif (logos). Jalinan inilah yang secara efektif mengartikulasikan tiga dimensi profetik secara simultan: humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Jika ditarik sebuah benang merah yang menyatukan semua manifestasi retorika ini—mulai dari ketergantungan pada kitab (ethos), penggunaan kisah para ulama salaf (pathos), hingga prioritas pada materi fardhu 'ain (logos)—maka akan terlihat sebuah pola yang konsisten: sebuah orientasi yang radikal pada fondasi atau akar. Prinsip inilah yang dalam tradisi keilmuan Islam dikenal sebagai Ta'shil (‫)تأصيل‬, yang secara harfiah berarti "pengakaran" atau "pemfondasian". Oleh karena itu, model retorika profetik yang ditemukan dalam penelitian ini dapat dikonseptualisasikan sebagai Retorika Profetik Ta'shiliyah.

Model Retorika Profetik Ta’shiliyah dibangun atas tiga unsur utama yang saling berhubungan secara integral, di mana masing-masing unsur merupakan manifestasi dari prinsip ta’shil dalam setiap pilar retorika. Unsur pertama adalah Ethos Ta’shiliyah, yakni kredibilitas yang dibangun melalui keterikatan mendalam terhadap otoritas teks dan sanad keilmuan. Dalam konteks ini, prinsip Lā Takallum Illā bil Marji‘—tidak berbicara tanpa rujukan—menjadi landasan epistemologisnya. Seorang dai tidak menegaskan otoritasnya melalui klaim pribadi, melainkan melalui ketundukan terhadap sumber-sumber primer dan otentik. Dengan demikian, ethos yang dihasilkan bukanlah bentuk pencitraan diri, melainkan buah dari komitmen ilmiah dan integritas spiritual dalam menjaga kesinambungan ilmu dan sanad dakwah.

Unsur kedua adalah Pathos Ta’shiliyah, yaitu daya emosional yang dihidupkan melalui narasi-narasi spiritual yang berakar pada tradisi fundamental Islam. Dalam model ini, emosi jamaah tidak dibangkitkan melalui cerita populer atau kisah dangkal yang bersifat hiburan, melainkan melalui penuturan kisah para nabi, para ulama salaf, serta narasi eskatologis yang sarat dengan makna teologis dan moral. Dengan cara demikian, pathos yang dibangun tidak sekadar menyentuh perasaan sesaat, tetapi membentuk kesadaran emosional yang bersifat transenden dan berorientasi pada penguatan iman serta ketundukan kepada nilai-nilai Ilahiah.

Selanjutnya, unsur ketiga adalah Logos Ta’shiliyah, yaitu penataan argumentasi yang berpijak pada logika prioritas yang esensial dalam ajaran Islam. Prinsip “Fondasi Dulu” atau Fardhu ‘Ain First menjadi manifestasi utamanya. Dalam kerangka ini, logika dakwah tidak diarahkan pada isu-isu aktual yang bersifat sementara atau tematik, melainkan disusun secara sistematis dari fondasi dasar keagamaan yang menjadi syarat sah dan kesempurnaan ibadah individu. Pendekatan ini menunjukkan bahwa retorika Mama Cianting tidak terjebak pada dinamika sensasional, tetapi berorientasi pada penguatan struktur keimanan yang mendasar dan tak tergoyahkan.

Dengan demikian, ketiga unsur—Ethos, Pathos, dan Logos Ta’shiliyah—bersatu dalam satu sistem retorika yang mengakar kuat pada prinsip ta’shil, yaitu pengembalian segala bentuk wacana ke sumber asalnya yang autentik, baik secara tekstual, spiritual, maupun rasional. Model ini menghadirkan dakwah yang tidak hanya menyentuh aspek kognitif dan afektif, tetapi juga menjaga kontinuitas tradisi keilmuan Islam dalam bingkai profetik yang integral.

Secara teoretis, model Retorika Profetik Ta'shiliyah ini merupakan sebuah sintesis yang kaya. Ia mengambil pilar-pilar retorika klasik Aristoteles (ethos, pathos, logos); mengoperasionalkannya melalui teoriteori modern seperti Source Credibility (Hovland), Narrative Paradigm (Fisher), dan Audience Adaptation (Perelman & Burke); lalu memberinya arah serta tujuan melalui nilai-nilai Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo (humanisasi, liberasi, transendensi). Pada akhirnya, pembahasan ini menunjukkan bahwa puncak dari keberhasilan retorika profetik Mama Cianting adalah kemampuannya untuk mentransformasikan wacana dari mimbar menjadi sebuah ekosistem sosial-spiritual yang nyata—sebuah komunitas yang tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan dan mempraktikkan nilai-nilai yang didakwahkan. Dengan demikian, Majelis Taklim Al-Aqthob berdiri sebagai bukti paling konkret dari kekuatan sebuah retorika yang seutuhnya transformatif.

BAB V · Penutup — 722 kata

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan analisis terhadap praktik dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting) di Majelis Taklim & Sholawat Sanrighos AlAqthob Cianting, penelitian ini mengidentifikasi tiga pola retorika yang konsisten dan saling berintegrasi dalam mengaktualisasikan agenda profetik.

Pertama, dalam dimensi ethos yang dioperasionalkan melalui source credibility, kredibilitas dakwah dibangun dari otoritas keilmuan berdasarkan prinsip lā takallum illā bil-marji' (‫)لا تَ َك ّلَ ْم إِ َّلا ِبا ْل َم ْر ِج ِع‬, integritas moral yang konsisten, dan kompetensi spiritual yang mendalam. Ethos ini mengartikulasikan humanisasi melalui kejujuran dan empati kepada jamaah, liberasi melalui kepastian hukum fikih yang membebaskan dari praktik keliru, dan transendensi melalui kesadaran pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Kedua, dalam dimensi pathos yang dianalisis dengan narrative rationality, pengelolaan emosi jamaah dilakukan melalui narasi spiritual yang mendalam, humor terarah, dan fear appeal yang terukur. Pathos ini menumbuhkan humanisasi melalui kedekatan emosional, liberasi melalui kesadaran moral dari kelalaian, dan transendensi melalui narasi eskatologis yang meneguhkan kesadaran akan kehadiran Allah Swt.

Ketiga, dalam dimensi logos yang dioperasionalkan melalui audience adaptation, pola penalaran dakwah bersifat adaptif dan kontekstual melalui analisis karakteristik jamaah, argumentasi problem–solution yang sistematis, dan penerapan prinsip Fardhu 'Ain First. Logos ini menegaskan humanisasi melalui penghargaan pada keragaman jamaah, liberasi melalui solusi argumentatif yang aplikatif, dan transendensi melalui logika prioritas yang menempatkan tauhid sebagai fondasi.

Dari ketiga temuan tersebut, teridentifikasi pola integratif yang menghubungkan ethos, pathos, dan logos dengan tiga agenda kenabian: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Pola ini secara konsisten menunjukkan karakteristik ta'shil (‫—)تَأْ ِص ْيل‬penguatan dakwah pada fondasi keilmuan dan spiritualitas Islam yang autentik.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah Mama Cianting beroperasi dalam kerangka Retorika Profetik Ta'shiliyah—paradigma dakwah yang mengintegrasikan ethos, pathos, dan logos untuk mengaktualisasikan agenda kenabian dengan berpijak pada prinsip ta'shil. Model ini terbukti efektif dalam mentransformasikan kesadaran individual dan membangun ekosistem sosial-spiritual yang kokoh, sebagaimana termanifestasi dalam dinamika Majelis Taklim Al-Aqthob yang mampu memanusiakan, membebaskan, dan mengarahkan jamaah menuju kesadaran ketuhanan yang utuh.

B. Saran & Rekomendasi

Berdasarkan keseluruhan proses penelitian dan simpulan yang telah ditarik, penelitian ini menghasilkan sejumlah saran dan rekomendasi yang diharapkan dapat memberikan kontribusi, baik bagi pengembangan studi akademis di bidang komunikasi dan dakwah, maupun bagi para praktisi di lapangan.

Bagi dunia akademis, penelitian ini membuka beberapa jalur penelitian baru yang potensial untuk dieksplorasi di masa depan. Pertama, studi komparatif sangat disarankan untuk dilakukan, yaitu dengan membandingkan model "Retorika Profetik Ta'shiliyah" yang ditemukan pada Mama Cianting dengan gaya retorika dai-dai lain yang memiliki latar belakang berbeda (misalnya, dai perkotaan atau dai yang dominan di media sosial). Penelitian semacam ini akan membantu mengidentifikasi elemen-elemen retorika yang bersifat universal dan yang sangat terikat pada konteks kultural. Kedua, penelitian kuantitatif dapat menjadi langkah selanjutnya untuk mengukur dampak dakwah secara lebih terukur, misalnya dengan melakukan survei untuk mengukur perubahan perilaku sosial atau peningkatan pemahaman keagamaan jamaah secara statistik. Ketiga, analisis yang lebih fokus pada retorika digital Mama Cianting di kanal YouTube "Al-Aqthob Media" dapat menjadi penelitian yang sangat relevan untuk memahami bagaimana retorika yang berbasis kedalaman dan tradisi ini diadaptasi untuk audiens global dalam format media baru.

Selain implikasi bagi dunia akademis, temuan penelitian ini juga menawarkan sejumlah rekomendasi praktis. Bagi para dai dan penceramah, prinsip "Fondasi Dulu" atau fardhu 'ain first yang diterapkan oleh Mama Cianting dapat menjadi model kurikulum yang sangat efektif untuk komunitas yang heterogen. Selain itu, seni menyeimbangkan antara ketegasan dalam prinsip hukum (faqih) dan welas asih dalam pendekatan personal (murabbi) adalah sebuah keterampilan retoris yang patut dipelajari untuk membangun hubungan yang kuat dan transformatif dengan audiens. Bagi pengelola lembaga dakwah dan pendidikan Islam, keberhasilan Mama Cianting dalam membangun "ekosistem sosial-spiritual" menunjukkan bahwa sebuah lembaga dakwah yang efektif tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu. Sangat disarankan untuk secara sadar merancang program-program yang memperkuat kohesi sosial, seperti tradisi kebersamaan komunal atau mekanisme mediasi informal, karena hal ini terbukti menjadi daya tarik dan perekat utama bagi komunitas. Terakhir, bagi para pendidik formal, strategi adaptasi framing pesan yang ditunjukkan dalam studi kasus kajian "Adab Tidur" menawarkan sebuah model pedagogis yang berharga tentang bagaimana materi ajar yang sama dapat dibingkai secara berbeda agar relevan dengan kebutuhan psikologis dan peran sosial dari setiap kelompok peserta didik.

Dengan demikian, diharapkan temuan dari penelitian ini tidak hanya berhenti sebagai sebuah karya akademis yang mendeskripsikan fenomena, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk refleksi, perbaikan, dan inovasi berkelanjutan dalam praktik dakwah dan pendidikan Islam di Indonesia.

Daftar Pustaka — 10.864 kata

A. BUKU

1. Buku Pedoman (Metodologi dan Keilmuan)

Alaszewski, Andy. Using Diaries for Social Research. London: Sage Publications, 2006. Angrosino, Michael V. Doing Ethnographic and Observational Research. London: Sage Publications, 2007. Bailey, Carol A. A Guide to Field Research. Thousand Oaks: Pine Forge Press, 1996. Bazeley, Philip. Qualitative Data Analysis: Practical Strategies. London: SAGE Publications, 2013. Benoit, William L., and Pamela J. Benoit. Persuasive Messages: The Process of Influence. Malden, MA: Blackwell Publishing, 2008. Bernard, H. Russell. Research Methods in Anthropology: Qualitative and Quantitative Approaches. Lanham: AltaMira Press, 2011. Booth, Wayne C. The Rhetoric of Rhetoric: The Quest for Effective Communication. Malden, MA: Blackwell Publishing, 2004. Brinkmann, Steinar, and Svend Kvale. InterViews: Learning the Craft of Qualitative Research Interviewing. Thousand Oaks: Sage Publications, 2015. Brummett, Barry. A Rhetoric of Style. Carbondale: Southern Illinois University Press, 2008. Chilisa, Bagele. Indigenous Research Methodologies. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2012.

Clark, Gregory. Civic Jazz: American Music and Kenneth Burke on the Art of Getting Along. Chicago: University of Chicago Press, 2015.

Corbett, Edward P.J. Classical Rhetoric for the Modern Student. 4th ed. New York: Oxford University Press, 1999.

Creswell, John W. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. Thousand Oaks: Sage Publications, 2013.

———. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Traditions. Thousand Oaks: Sage Publications, 1998.

———. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Thousand Oaks: Sage Publications, 2014.

Creswell, John W., and Cheryl N. Poth. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. 4th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2018.

Crusius, Timothy W. Kenneth Burke and the Conversation After Philosophy. Carbondale: Southern Illinois University Press, 1999.

Denzin, Norman K. Sociological Methods: A Sourcebook. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 2006.

———. The Research Act: A Theoretical Introduction to Sociological Methods. New Brunswick, NJ: AldineTransaction, 2009.

Denzin, Norman K., and Yvonna S. Lincoln. The SAGE Handbook of Qualitative Research. 5th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2018.

Eagly, Alice H., and Shelly Chaiken. The Psychology of Attitudes. Fort Worth, TX: Harcourt Brace Jovanovich, 1993.

Enos, Richard Leo. Greek Rhetoric Before Aristotle. Prospect Heights, IL: Waveland Press, 1993.

Erlandson, David A., Edward L. Harris, Barbara L. Skipper, and Steve D. Allen. Doing Naturalistic Inquiry: A Guide to Methods. Newbury Park, CA: SAGE Publications, 1993.

Fahnestock, Jeanne. Rhetorical Figures in Science. New York: Oxford University Press, 1999.

Flick, Uwe. An Introduction to Qualitative Research. London: Sage Publications, 2014.

Fortenbaugh, William W. Aristotle on Emotion. London: Duckworth, 2002. Foss, Sonja K. Rhetorical Criticism: Exploration and Practice. 5th ed. Long Grove, IL: Waveland Press, 2018. Foss, Sonja K., Karen A. Foss, and Robert Trapp. Contemporary Perspectives on Rhetoric. 30th anniv. ed. Long Grove, IL: Waveland Press, 2014. Gadamer, Hans-Georg. Truth and Method. Revised ed. Translated by Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall. London: Bloomsbury Academic, 2013. Gage, John T. The Shape of Reason: Argumentative Writing in College. 4th ed. New York: Pearson Longman, 2006. Galletta, Anne. Mastering the Semi-Structured Interview and Beyond: From Research Design to Analysis and Publication. New York: New York University Press, 2013. Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books, 1973. Glaser, Barney G., and Anselm L. Strauss. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine, 1967. Griffin, Em. A First Look at Communication Theory. 9th ed. New York: McGraw-Hill Education, 2018.

Hart, Roderick P. Modern Rhetorical Criticism. 3rd ed. Boston: Allyn and Bacon, 2005.

Hauser, Gerard A. Introduction to Rhetorical Theory. 2nd ed. Prospect Heights, IL: Waveland Press, 2002.

Heath, Robert L. Realism and Relativism: A Perspective on Kenneth Burke. Macon, GA: Mercer University Press, 1986.

Herrick, James L. The History and Theory of Rhetoric: An Introduction. 6th ed. New York: Routledge, 2018.

Hovland, Carl I., Irving L. Janis, and Harold H. Kelley. Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change. New Haven: Yale University Press, 1953.

Hyde, Michael J. The Ethos of Rhetoric. Columbia: University of South Carolina Press, 2004.

Iser, Wolfgang. The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1978.

Jasinski, James. Sourcebook on Rhetoric: Key Concepts in Contemporary Rhetorical Studies. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2001.

Jensen, Klaus Bruhn. A Handbook of Media and Communication Research: Qualitative and Quantitative Methodologies. 2nd ed. London: Routledge, 2012.

Johannesen, Richard L. Ethics in Human Communication. 6th ed. Long Grove: Waveland Press, 2008.

Kersten, Carool. Islam in Indonesia: The Contest for Society, Ideas and Values. Oxford: Oxford University Press, 2015.

Konstan, David. The Emotions of the Ancient Greeks: Studies in Aristotle and Classical Literature. Toronto: University of Toronto Press, 2006.

Krueger, Richard A., and Mary Anne Casey. Focus Groups: A Practical Guide for Applied Research. Thousand Oaks: Sage Publications, 2009.

Kumar, Ranjit. Research Methodology: A Step-by-Step Guide for Beginners. London: Sage Publications, 2011.

Lanham, Richard. The Electronic Word: Democracy, Technology, and the Arts. Chicago: University of Chicago Press, 1993.

Lausberg, Heinrich. Handbook of Literary Rhetoric: A Foundation for Literary Study. Edited by David E. Orton and R. Dean Anderson. Translated by Matthew T. Bliss, Annemiek Jansen, and David E. Orton. Leiden: Brill, 1998.

LeFevre, Karen Burke. Invention as a Social Act. Carbondale: Southern Illinois University Press, 1987.

Levine, Timothy R. Encyclopedia of Deception. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2014.

Lincoln, Yvonna S., and Egon G. Guba. Naturalistic Inquiry. Beverly Hills: Sage Publications, 1985.

Lloyd, G.E.R. Aristotelian Explorations. Cambridge: Cambridge University Press, 1996.

Maliki, Zainuddin. Rekonstruksi Teori Sosial Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2018.

Maxwell, Joseph A. Qualitative Research Design: An Interactive Approach. Thousand Oaks: Sage Publications, 2013.

Merriam, Sharan B. Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation. San Francisco: Jossey-Bass, 2009.

Merriam, Sharan B., dan Elizabeth J. Tisdell. Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation. 4th ed. San Francisco: Jossey-Bass, 2016.

Mertens, Donna M. Research and Evaluation in Education and Psychology. 4th ed. Thousand Oaks: SAGE Publications, 2015.

Miles, Matthew B., and A. Michael Huberman. Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook. Thousand Oaks: Sage Publications, 1994.

Miles, Matthew B., A. Michael Huberman, and Johnny Saldaña. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. 3rd ed. Thousand Oaks: SAGE Publications, 2014.

———. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. 4th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2019.

Morgan, David L. Focus Groups as Qualitative Research. Thousand Oaks: Sage Publications, 1997.

Moltmann, Jürgen. The Crucified God: The Cross of Christ as the Foundation and Criticism of Christian Theology. Minneapolis: Fortress Press, 1993.

Mulyana, Deddy. Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintas Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.

Murphy, James J. A Short History of Writing Instruction: From Ancient Greece to Contemporary America. 3rd ed. New York: Routledge, 2012.

O'Keefe, Daniel J. Persuasion: Theory and Research. 3rd ed. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2016.

Patton, Michael Quinn. Qualitative Research & Evaluation Methods. Thousand Oaks: Sage Publications, 2002.

———. Qualitative Research & Evaluation Methods. 4th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2015.

Perelman, Chaïm, and Lucie Olbrechts-Tyteca. The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation. Translated by John Wilkinson and Purcell Weaver. Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1969.

Perloff, Richard M. The Dynamics of Persuasion: Communication and Attitudes in the 21st Century. 6th ed. New York: Routledge, 2017.

Piliang, Yasraf Amir. Dunia yang Berlari: Mencari Tuhan-Tuhan Digital. Jakarta: Grasindo, 2012.

QSR International. NVivo: The Essential Guide for Qualitative Data Analysis Software. Melbourne: QSR International Pty Ltd, 2020.

Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung: Mizan, 2013.

———. Psikologi Komunikasi. Edisi revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013.

———. Retorika Modern: Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.

———. Retorika Modern: Pendekatan Praktis Berbicara di Depan Publik. Edisi revisi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2021.

Richards, I.A. The Philosophy of Rhetoric. Oxford: Oxford University Press, 1936.

Rubin, Herbert J., and Irene S. Rubin. Qualitative Interviewing: The Art of Hearing Data. Thousand Oaks: Sage Publications, 2012.

Rueckert, William H. Encounters with Kenneth Burke. Urbana: University of Illinois Press, 1994.

Saldaña, Johnny. The Coding Manual for Qualitative Researchers. 4th ed. London: SAGE Publications, 2021.

Schiappa, Edward. Protagoras and Logos: A Study in Greek Philosophy and Rhetoric. Columbia: University of South Carolina Press, 2003.

Schrag, Calvin O. Communicative Praxis and the Space of Subjectivity. Bloomington: Indiana University Press, 1986.

Schutz, Alfred. The Phenomenology of the Social World. Translated by George Walsh dan Frederick Lehnert. Evanston: Northwestern University Press, 1967.

Schwandt, Thomas A., and Edward S. Halpern. Linking Auditing and Metaevaluation: Enhancing Quality in Applied Research. Newbury Park, CA: SAGE Publications, 1988.

Scott, John. A Matter of Record: Documentary Sources in Social Research. Cambridge: Polity Press, 1990.

Seidman, Irving. Interviewing as Qualitative Research: A Guide for Researchers in Education and the Social Sciences. New York: Teachers College Press, 2006.

Sloane, Thomas O. Encyclopedia of Rhetoric. Oxford: Oxford University Press, 2001.

Smith, Craig R. Rhetoric and Human Consciousness: A History. Long Grove, IL: Waveland Press, 2017.

Spradley, James P. Participant Observation. New York: Holt, Rinehart and Winston, 1980.

———. The Ethnographic Interview. New York: Holt, Rinehart and Winston, 1979.

Stake, Robert E. The Art of Case Study Research. Thousand Oaks: Sage Publications, 1995.

Strauss, Anselm, dan Juliet Corbin. Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques. 2nd ed. Thousand Oaks: SAGE Publications, 1998.

Struever, Nancy S. The Language of History in the Renaissance: Rhetoric and Historical Consciousness in Florentine Humanism. Princeton: Princeton University Press, 1970.

Sudibyo, Agus. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: LKiS, 2009.

Ting-Toomey, Stella. Communicating Across Cultures. New York: Guilford Press, 1999.

Tindale, Christopher W. Acts of Arguing: A Rhetorical Model of Argument. Albany: State University of New York Press, 1999.

———. Rhetorical Argumentation: Principles of Theory and Practice. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2004.

Walker, Jeffrey. Rhetoric and Poetics in Antiquity. Oxford: Oxford University Press, 2000.

Weber, Max. Economy and Society. Edited by Guenther Roth dan Claus Wittich. Berkeley: University of California Press, 1978.

Wendland, Ernst R. Prophetic Rhetoric: Case Studies in Text Analysis and Translation. 2nd ed. Dallas, TX: SIL International, 2014.

White, Hayden. Metahistory: The Historical Imagination in NineteenthCentury Europe. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1973.

Wolin, Ross. The Rhetorical Imagination of Kenneth Burke. Columbia: University of South Carolina Press, 2001.

Yin, Robert K. Case Study Research: Design and Methods. Thousand Oaks: Sage Publications, 2014.

Zarefsky, David. Argumentation: The Study of Effective Reasoning. 2nd ed. Chantilly, VA: The Teaching Company, 2005.

———. Rhetorical Perspectives on Argumentation. Cham: Springer, 2014.

2. Buku Umum dan Terjemahan

Abdurrahman, Moeslim. Islam Sebagai Kritik Sosial. Jakarta: Erlangga, 2003.

———. Islam Transformatif. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995. ———. Islam Transformatif. Yogyakarta: LKIS, 1997. Abidin, Djamalul. Komunikasi Dan Bahasa Dakwah. Jakarta: Penerbit Kencana, 2018. Abu-Nimer, Mohammed. Nonviolence and Peace Building in Islam: Theory and Practice. Gainesville: University Press of Florida, 2003. Ahmed, Akbar S. Postmodernism and Islam: Predicament and Promise.

London: Routledge, 1992. Alatas, Syed Farid. Alternative Discourses in Asian Social Science: Responses to Eurocentrism. New Delhi: SAGE Publications, 2006. Alfian. Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization Under Dutch Colonialism. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989. Arkoun, Mohammed. Pemikiran Arab. Diterjemahkan oleh Yudian Wahyudi. Yogyakarta: LKiS, 2019. ———. Pour une critique de la raison islamique. Paris: Maisonneuve et Larose, 1984. Aristoteles. Rhetorica. Diterjemahkan oleh W. Rhys Roberts. Dalam The Complete Works of Aristotle, diedit oleh Jonathan Barnes. Princeton: Princeton University Press, 1984. ———. Retorika (Seni Berbicara). Diterjemahkan oleh Zaivon Akbar Nazammika. Yogyakarta: Anak Hebat, 2023. Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana, 2004. (Juga edisi 2016, 2017). Azra, Azyumardi. Islam Substantif. Bandung: Mizan, 2000. ———. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana, 2013.

———. Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. Jakarta: Paramadina, 1999.

———. Mahasiswa dan Politik Islam di Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

———. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Kompas, 2002.

———. Reposisi Hubungan Agama dan Negara: Merajut Kerukunan Antarumat. Jakarta: Kompas, 2002.

———. The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulama' in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Honolulu: University of Hawaii Press, 2004.

Baderin, Mashood A. International Human Rights and Islamic Law. Oxford: Oxford University Press, 2003.

Bagir, Haidar. Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau. Bandung: Mizan, 2017.

Baidhawy, Zakiyuddin. Ambivalensi Agama, Konflik, dan Nirkekerasan. Yogyakarta: LKIS, 2002.

Barlas, Asma. "Believing Women" in Islam: Unreading Patriarchal Interpretations of the Qur'an. Austin: University of Texas Press, 2002.

Barton, Greg. Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Jakarta: Equinox, 2002.

Basit, Abdul. Filsafat Dakwah. Depok: Rajawali Pers, 2013. (Juga edisi 2019). ———. Wacana Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: STAIN Purwokerto Press & Pustaka Pelajar, 2006. Baso, Ahmad. NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal. Jakarta: Erlangga, 2006.

Baswir, Revrisond. Ekonomi Kerakyatan vs. Neoliberalisme. Yogyakarta: Delokomotif, 2010.

Bennabi, Malik. The Vocation of Islam. Diterjemahkan oleh Asma Rashid. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2003.

Boland, B. J. The Struggle of Islam in Modern Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff, 1971.

Brueggemann, Walter. The Prophetic Imagination. Minneapolis: Fortress Press, 2001.

Bunt, Gary R. iMuslims: Rewiring the House of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2009.

———. Islam in the Digital Age: E-Jihad, Online Fatwas and Cyber Islamic Environments. London: Pluto Press, 2003.

Burke, Kenneth. Attitudes Toward History. 3rd ed. Berkeley: University of California Press, 1984.

———. Language as Symbolic Action: Essays on Life, Literature, and Method. Berkeley: University of California Press, 1966.

———. A Rhetoric of Motives. Berkeley: University of California Press, 1969. Campbell, Heidi A. When Religion Meets New Media. London: Routledge, 2010. Carey, Peter. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855. Leiden: KITLV Press, 2007. Cicero, Marcus Tullius. De Oratore. Diterjemahkan oleh E.W. Sutton dan H.

Rackham. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1942. Cook, Michael. Commanding Right and Forbidding Wrong in Islamic Thought.

Cambridge: Cambridge University Press, 2000.

Darsey, James. The Prophetic Tradition and Radical Rhetoric in America. New York: New York University Press, 1997.

Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta: LP3ES, 2011.

Dhona, Holy Rafika. Komunikasi Profetik: Perspektif Profetik Islam. Yogyakarta: UII Press, 2020.

Eickelman, Dale F., and Jon W. Anderson. New Media in the Muslim World: The Emerging Public Sphere. Bloomington: Indiana University Press, 2003.

Ekadjati, Edi S. Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya, 2014.

———. Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. Jakarta: Girimukti Pasaka, 1984.

El Fadl, Khaled Abou. Speaking in God's Name: Islamic Law, Authority and Women. Oxford: Oneworld Publications, 2001.

———. The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists. New York: HarperOne, 2005.

Engineer, Asghar Ali. Islam and Liberation Theology: Essays on Liberative Elements in Islam. New Delhi: Sterling Publishers, 1990.

Enjang AS dan Aliyudin. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah: Pendekatan Filosofis dan Praktis. Bandung: Widya Padjadjaran, 2009.

Esack, Farid. Qur'an, Liberation, and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression. Oxford: Oneworld Publications, 1997.

Faqih, Maman Imanulhaq. Fatwa dan Canda Gus Dur. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010.

Fealy, Greg. Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967. Yogyakarta: LKIS, 2003.

Fisher, Walter R. Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action. Columbia: University of South Carolina Press, 1987.

Garaudy, Roger. Dialog Antar Peradaban. Diterjemahkan oleh M. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Hafidhuddin, Didin. Dakwah Aktual. Jakarta: Gema Insani Press, 2001. Hasanuddin, A. H. Rhetorika Dakwah dan Publisistik dalam Kepemimpinan.

Surabaya: Usaha Nasional, 1982. Hassan, Muhammad Kamal. Voice of Islamic Modernity: The Exposition of Different Perspectives in Islamic Thought. Kuala Lumpur: IIUM Press, 2011. Hefner, Robert W. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton: Princeton University Press, 2000. Heryanto, Ariel. Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian Screen Culture. Singapore: NUS Press, 2014. Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Jakarta: Paramadina, 1996. ———. Menafsirkan Kehendak Tuhan. Jakarta: Teraju, 2004. ———. Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme. Jakarta: Paramadina, 1998. ———. Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi. Jakarta: Paramadina, 2003. Hoesterey, James B. Rebranding Islam: Piety, Prosperity, and a Self-Help Guru. Stanford: Stanford University Press, 2015. Ilyas, Yunahar. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LPPI UMY, 2007.

Ismail, A. Ilyas. Paradigma Dakwah Sayyid Quthub: Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Harakah. Jakarta: Penamadani, 2006.

Ismail, A. Ilyas, dan Prio Hotman. Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam. Jakarta: Kencana, 2011.

Jurdi, Syarifuddin. Ilmu Sosial Profetik: Historisitas, Konsep, dan Teori. Makassar: Alauddin University Press, 2015.

———. Sosiologi Islam dan Masyarakat Modern: Teori, Fakta, dan Aksi Sosial. Jakarta: Kencana, 2010.

Kahmad, Dadang. Sosiologi Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002. ———. Tarekat dalam Islam: Spiritualitas Masyarakat Modern. Bandung:

Pustaka Setia, 2002. Kersten, Carool. Islam in Indonesia: The Contest for Society, Ideas and Values.

Oxford: Oxford University Press, 2015. Khatami, Mohammad. Islam, Dialog, dan Peradaban. Diterjemahkan oleh Abdullah Ali. Bandung: Mizan, 2001. Khuluq, Lathiful. Fajar Kebangunan Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy'ari.

Yogyakarta: LKIS, 2000. Kuntowijoyo. Maklumat Sastra Profetik. Yogyakarta: Diva Press, 2019. ———. Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Bandung: Mizan, 2001. ———. Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1991. (Juga edisi 1993, 2008, 2017). Kusnawan, Aep. Komunikasi dan Penyiaran Islam. Bandung: Benang Merah Press, 2004. Laffan, Michael. The Makings of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of a Sufi Past. Princeton: Princeton University Press, 2011.

Larkin, Brian. Signal and Noise: Media, Infrastructure, and Urban Culture in Nigeria. Durham: Duke University Press, 2008.

Latif, Yudi. Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia, 2011.

Lim, Merlyna. @rchipelago Online: The Internet and Political Activism in Indonesia. Yogyakarta: Kombinasi, 2017.

Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya. Diterjemahkan oleh Winarsih Partaningrat Arifin. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Lubis, Nina H. Kehidupan Kaum Ménak Priangan 1800-1942. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda, 1998.

———. Sejarah Kabupaten Tasikmalaya. Tasikmalaya: Badan Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya, 2000.

———. Sejarah Tatar Sunda. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, 2000.

Maarif, Ahmad Syafii. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah. Bandung: Mizan, 2009.

———. Masa Depan Islam di Indonesia. Jakarta: Megawati Institute, 2017. Machmudi, Yon. Islamising Indonesia: The Rise of Jemaah Tarbiyah and the Prosperous Justice Party (PKS). Canberra: ANU E Press, 2008. Madjid, Nurcholish. Islam, Doktrin, dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 2008. ———. Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 2008. Majelis Ulama Indonesia. Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975. Jakarta: Erlangga, 2011. Makruf, Jamhari. In the Center of Meaning: Ziarah Tradition in Java. Jakarta:

Studia Islamika, 2000.

Mangunjaya, Fachruddin. Ekopesantren: Bagaimana Merancang Pesantren Ramah Lingkungan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014.

Martin, Richard C. Approaches to Islam in Religious Studies. Tucson: University of Arizona Press, 1985.

Minhaji, Akh. Tradisi Akademik di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: SUKA Press, 2013.

Moore, Diane. Overcoming Religious Illiteracy: A Cultural Studies Approach to the Study of Religion in Secondary Education. New York: Palgrave Macmillan, 2007.

Mowlana, Hamid. Global Communication in Transition: The End of Diversity? Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 1996.

Mubarok, Achmad. Psikologi Dakwah. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008. Muhtadi, Asep Saeful. Komunikasi Dakwah: Teori, Pendekatan, dan Aplikasi.

Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012. Muhyiddin, Asep. Metode Pengembangan Dakwah. Bandung: Pustaka Setia, 2002. Muhyiddin, Asep, dan Agus Ahmad Safei. Metode Pengembangan Dakwah.

Bandung: Pustaka Setia, 2002. Muhtadi, Burhanuddin. Dilema PKS: Suara dan Syariah. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012. Mulkhan, Abdul Munir. Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah. Yogyakarta: SIPRESS, 1993. Mulia, Siti Musdah. Membangun Surga di Bumi: Kiat-kiat Membina Keluarga Ideal dalam Islam. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011. Munir, Muhammad, dan Wahyu Ilaihi. Manajemen Dakwah. Jakarta: Kencana, 2006.

Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred. Albany: State University of New York Press, 1989.

———. Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Chicago: ABC International Group, 1997.

Natsir, Mohammad. Capita Selecta. Jakarta: Bulan Bintang, 1973. Nisa, Eva F. Social Media and the Birth of an Islamic Counterpublic. Singapore:

ISEAS, 2018. Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES, 1980. Nussbaum, Martha C. Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life.

Boston: Beacon Press, 1995. Qodir, Zuly. Muhammadiyah Studies: Reorientasi Gerakan dan Pemikiran Memasuki Abad Kedua. Yogyakarta: Kanisius, 2010. Rahardjo, Dawam. Ensiklopedi Al-Qur'an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep- Konsep Kunci. Jakarta: Paramadina, 1996. Rahardjo, M. Dawam. Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa.

Bandung: Mizan, 1999. Rahman, Fazlur. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press, 1982. ———. Major Themes of the Qur'an. Chicago: University of Chicago Press, 2009. Rakhmat, Jalaluddin. Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim. Bandung: Mizan, 1991. Rinaldo, Rachel. Mobilizing Piety: Islam and Feminism in Indonesia. Oxford:

Oxford University Press, 2013.

Ridwan, Aang. Humor dalam Dakwah: Strategi Retorika Komunikasi Religius. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015.

———. Humor dalam Tablig: Sisipan yang Sarat Estetika. Bandung: Nuansa, 2010.

Roqib, Moh. Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabisan Muhammad SAW. Purwokerto: Pesma An-Najah Press, 2016.

———. Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Yogyakarta: LKiS, 2009.

Rosidi, Ajip. Masa Depan Budaya Daerah, Kasus Bahasa dan Sejarah Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya, 2004.

———. Mencari Sosok Manusia Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya, 2010. Rowland, Robert C., dan David A. Frank. Shared Land/Conflicting Identity:

Trajectories of Israeli and Palestinian Symbol Use. East Lansing: Michigan State University Press, 2002. Safi, Omid, ed. Progressive Muslims: On Justice, Gender, and Pluralism. Oxford: Oneworld Publications, 2003. Sahal, Akhmad, dan Munawir Aziz, eds. Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan. Bandung: Mizan, 2015. Sambas, Syukriadi. Sembilan Pasal Pokok-Pokok Filsafat Dakwah. Bandung: KP Hadid & Fakultas Dakwah IAIN SGD, 1999. Schimmel, Annemarie. Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975. Shari'ati, Ali. On the Sociology of Islam. Diterjemahkan oleh Hamid Algar. Berkeley: Mizan Press, 1979.

Shihab, Alwi. Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Bandung: Mizan, 1998.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1992. (Juga edisi 1994, 2007).

———. Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 1996.

Suhandang, Kustadi. Retorika: Strategi, Teknik Dan Taktik Berpidato. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2019.

Sulthon, Muhammad. Desain Ilmu Dakwah: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Sunarto AS. Retorika Dakwah: Petunjuk Menuju Peningkatan Kemampuan Berpidato. Surabaya: Jaudar Press, 2014.

Suryanegara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1995.

Syam, Nur. Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental. Yogyakarta: LKiS, 2010.

Syahputra, Iswandi. Komunikasi Profetik: Konsep dan Pendekatan. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2018.

———. Paradigma Komunikasi Profetik: Gagasan Dan Pendekatan. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2017.

Tasmara, Toto. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997. Umar, Nasaruddin. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur'an. Jakarta:

Paramadina, 2001. van Bruinessen, Martin. Contemporary Developments in Indonesian Islam: Explaining the "Conservative Turn". Singapore: ISEAS Publishing, 2013.

———. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1995.

Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute, 2006.

Yaqub, Ali Mustafa. Sejarah dan Metode Dakwah Nabi. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara, 1979.

Zain, Arifin. Dakwah Rasonal. Banda Aceh: Arraniry Press, 2015. Zaman, Muhammad Qasim. The Ulama in Contemporary Islam: Custodians of Change. Princeton: Princeton University Press, 2002. Zoebazary, Ilham. Orang-Orang Panggung Daerah: Studi Retorika dalam Dakwah Seni. Yogyakarta: LKiS, 2010.

3. Kitab Klasik dan Kontemporer (Non-Hadis/Tafsir)

'Abduh, Muhammad. Al-A'mal al-Kamilah. Diedit oleh Muhammad 'Imarah.

Beirut: al-Mu'assasah al-'Arabiyyah li-l-Dirasat wa al-Nashr, 1972. ———. Risalat al-Tawhid. Kairo: al-Matba'ah al-'Amiriyyah, 1897. Abdurrahman, Moeslim. Islam Sebagai Kritik Sosial. Jakarta: Erlangga, 2003. ———. Islam Transformatif. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995. ———. Islam Transformatif. Yogyakarta: LKIS, 1997. Abu-Nimer, Mohammed. Nonviolence and Peace Building in Islam: Theory and Practice. Gainesville: University Press of Florida, 2003.

Ahmed, Akbar S. Postmodernism and Islam: Predicament and Promise. London: Routledge, 1992.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.

Al-Bayanuni, Muhammad Abu al-Fath. Al-Madkhal ila 'Ilm al-Da'wah. Beirut: Mu'assasat al-Risalah, 1995.

Al-Baghdadi, Abu Bakr al-Khatib. Al-Faqih wa al-Mutafaqqih. Diedit oleh Isma'il al-Ansari. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1975.

Al-Bahy, Muhammad. Al-Islam wa al-Da'wah ila Allah. Kairo: Majma' alBuhuth al-Islamiyyah, 1975.

Al-Dihlawi, Shah Wali Allah. Hujjat Allah al-Balighah. Diedit oleh Sayyid Sabiq. Beirut: Dar al-Jil, 2005.

Al-Fārābī. Ihṣā' al-'Ulūm. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1996. Al-Ghazali, Abu Hamid. Al-Qistas al-Mustaqim. Diedit oleh Victor Chelhot.

Beirut: Dar al-Mashriq, 1983. ———. Ihya' 'Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.t. Al-Ghazali, Muhammad. Kaifa Nata'amal ma'a al-Qur'an. Kairo: Dar al-Wafa, 1990. ———. Ma'a Allah: Dirasat fi al-Da'wah wa al-Du'at. Kairo: Dar al-Kutub al- Hadithah, 1965. Al-Ghulusy, Ahmad. Ad-Da'wah al-Islamiyyah. Kairo: Dar al-Kitab al-Misri, 1987. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Al-Da'wah al-Tammah wa al-Tadhkirah al- 'Ammah. Beirut: Dar al-Hawi, 2000. Al-Jabiri, Muhammad Abid. Bunyah al-'Aql al-'Arabi. Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-'Arabiyah, 2009.

Al-Jāhiz. Al-Bayan wa al-Tabyīn. Diedit oleh 'Abd al-Salam Muhammad Harun. Kairo: Maktabat al-Khanji, 1998.

Al-Jawzi, Ibn. Al-Qussāş wa al-Mudhakkirin. Beirut: Dār al-Kutub al- 'Ilmiyyah, 2001.

———. Kitab al-Qussas wa al-Mudhakkirin. Diedit oleh Muhammad Lutfi alSabbagh. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1983.

———. Sayd al-Khatir. Diedit oleh Hassan al-Samahi Swaidan. Damaskus: Dar al-Qalam, 2004.

Al-Jurjānī, 'Abd al-Qahir. Dalā'il al-l'jāz. Kairo: Dar al-Ma'arif, 1955. Al-Mawardi, Abu al-Hasan. Adab al-Dunya wa al-Din. Diedit oleh Mustafa al- Saqqa. Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1955. Al-Muthannā, Abū 'Ubaydah Ma'mar ibn. Majāz al-Qur'an. Kairo: Maktabah al-Khānji, 1954. Al-Nawfal, Ismail Ibrahim. Jami' Usul al-Ahadith. Kairo: Matba'at al-Fajr al- Jadid, 1992. Al-Qaradawi, Yusuf. Thaqafat al-Da'iyah. Beirut: Mu'assasat al-Risalah, 2001. ———. Khitabuna al-Islami fi 'Asr al-'Awlamah. Kairo: Dar al-Shuruq, 2004. Al-Qazwīnī. Talkhīş al-Miftah. Kairo: Dār al-Turāth, 1990. Al-Sakkāki. Miftah al-'Ulūm. Beirut: Dār al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1987. Al-Sulami, 'Abd al-Rahman ibn Nāfi. Kitāb al-Khutab wa al-Khitabah.

Damaskus: Dār al-Turāth, 1980. Ameen, Mustafa Jumaa. Al-Da'wah: Qawa'id wa Usul. Alexandria: Dar al- Da'wah, 1989. An-Nabiry, Fathul Bahri. Meniti Jalan Dakwah: Bekal Perjuangan Para Da'i.

Jakarta: Amzah, 2008.

Arkoun, Mohammed. Pemikiran Arab. Diterjemahkan oleh Yudian Wahyudi. Yogyakarta: LKiS, 2019.

———. Pour une critique de la raison islamique. Paris: Maisonneuve et Larose, 1984.

Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana, 2004. (Edisi lain: 2016, 2017). Azra, Azyumardi. Islam Substantif. Bandung: Mizan, 2000. ———. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana, 2013. ———. Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. Jakarta:

Paramadina, 1999. ———. Mahasiswa dan Politik Islam di Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999. ———. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Kompas, 2002. ———. Reposisi Hubungan Agama dan Negara: Merajut Kerukunan Antarumat. Jakarta: Kompas, 2002. ———. The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulama' in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Honolulu: University of Hawaii Press, 2004. Baderin, Mashood A. International Human Rights and Islamic Law. Oxford: Oxford University Press, 2003. Bagir, Haidar. Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau. Bandung: Mizan, 2017. Baidhawy, Zakiyuddin. Ambivalensi Agama, Konflik, dan Nirkekerasan. Yogyakarta: LKIS, 2002.

Barlas, Asma. "Believing Women" in Islam: Unreading Patriarchal Interpretations of the Qur'an. Austin: University of Texas Press, 2002.

Basit, Abdul. Filsafat Dakwah. Depok: Rajawali Pers, 2013. (Edisi lain: 2019). ———. Wacana Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: STAIN Purwokerto Press & Pustaka Pelajar, 2006. Baso, Ahmad. NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal. Jakarta: Erlangga, 2006. Bennabi, Malik. The Vocation of Islam. Diterjemahkan oleh Asma Rashid.

Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2003. Bunt, Gary R. iMuslims: Rewiring the House of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2009. ———. Islam in the Digital Age: E-Jihad, Online Fatwas and Cyber Islamic Environments. London: Pluto Press, 2003. Cook, Michael. Commanding Right and Forbidding Wrong in Islamic Thought.

Cambridge: Cambridge University Press, 2000. Dhona, Holy Rafika. Komunikasi Profetik: Perspektif Profetik Islam.

Yogyakarta: UII Press, 2020. Eickelman, Dale F., and Jon W. Anderson. New Media in the Muslim World:

The Emerging Public Sphere. Bloomington: Indiana University Press, 2003. El Fadl, Khaled Abou. Speaking in God's Name: Islamic Law, Authority and Women. Oxford: Oneworld Publications, 2001. ———. The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists. New York: HarperOne, 2005. Engineer, Asghar Ali. Islam and Liberation Theology: Essays on Liberative Elements in Islam. New Delhi: Sterling Publishers, 1990.

Esack, Farid. Qur'an, Liberation, and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression. Oxford: Oneworld Publications, 1997.

Faqih, Maman Imanulhaq. Fatwa dan Canda Gus Dur. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010.

Faruqi, Ismail Raji al-. Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan. Herndon, VA: International Institute of Islamic Thought, 1982.

Ghalwash, Ahmad Ahmad. Al-Da'wah al-Islamiyyah: Usuluha wa Wasa'iluha. Kairo: Dar al-Kitab al-Misri, 1987.

Hamka. Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

———. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982. Hanafi, Hassan. Islam in the Modern World. Kairo: Anglo-Egyptian Bookshop, 1995. ———. Min al-'Aqidah ila al-Thawrah. Kairo: Maktabat Madbuli, 1988. Hasanuddin, A. H. Rhetorika Dakwah dan Publisistik dalam Kepemimpinan.

Surabaya: Usaha Nasional, 1982. Hassan, Muhammad Kamal. Voice of Islamic Modernity: The Exposition of Different Perspectives in Islamic Thought. Kuala Lumpur: IIUM Press, 2011. Hefner, Robert W. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton: Princeton University Press, 2000. Hikal, Muhammad Husain. Hayat Muhammad. Kairo: Dar al-Ma'arif, 1965. Diterjemahkan oleh Ali Audah, Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera Antarnusa, 2003.

Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Jakarta: Paramadina, 1996.

———. Menafsirkan Kehendak Tuhan. Jakarta: Teraju, 2004. ———. Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme.

Jakarta: Paramadina, 1998. ———. Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi. Jakarta: Paramadina, 2003. Hoesterey, James B. Rebranding Islam: Piety, Prosperity, and a Self-Help Guru.

Stanford: Stanford University Press, 2015. Ibn Hazm. Tawq al-Hamamah. t.tp.: t.p., t.t. Ibn Hisham. As-Sirah an-Nabawiyyah. Diedit oleh Mustafa as-Saqa. Kairo:

Mustafa al-Babi al-Halabi, 1955. Ibn Manzur. Lisan al-'Arab. Beirut: Dar Sadir, 1994. Ibn Rushd. Fashl al-Maqal. Diedit oleh Muhammad 'Imarah. Kairo: Dar al- Ma'arif, 1969. Ibn Sīnā. Al-Syifa' (al-Mantiq). Kairo: Dār al-Kutub al-'Arabiyyah, 1952. Ibn Taymiyyah. Al-Amr bil-Ma'ruf wal-Nahy 'an al-Munkar. Diedit oleh Salah al-Din al-Munajjid. Beirut: Dar al-Kitab al-Jadid, 1976. ———. Dar' Ta'arud al-'Aql wa al-Naql. Diedit oleh Muhammad Rashad Salim. Riyadh: Jami'at al-Imam Muhammad ibn Sa'ud al-Islamiyyah, 1979. Ilyas, Yunahar. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LPPI UMY, 2007. Iqbal, Muhammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Stanford: Stanford University Press, 2013. Ismail, A. Ilyas. Paradigma Dakwah Sayyid Quthub: Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Harakah. Jakarta: Penamadani, 2006.

Ismail, A. Ilyas, dan Prio Hotman. Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam. Jakarta: Kencana, 2011.

Izutsu, Toshihiko. Ethico-Religious Concepts in the Qur'an. Montreal: McGillQueen's University Press, 2002.

Jurdi, Syarifuddin. Ilmu Sosial Profetik: Historisitas, Konsep, dan Teori. Makassar: Alauddin University Press, 2015.

———. Sosiologi Islam dan Masyarakat Modern: Teori, Fakta, dan Aksi Sosial. Jakarta: Kencana, 2010.

Kahmad, Dadang. Sosiologi Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002. ———. Tarekat dalam Islam: Spiritualitas Masyarakat Modern. Bandung:

Pustaka Setia, 2002. Kersten, Carool. Islam in Indonesia: The Contest for Society, Ideas and Values.

Oxford: Oxford University Press, 2015. Khatami, Mohammad. Islam, Dialog, dan Peradaban. Diterjemahkan oleh Abdullah Ali. Bandung: Mizan, 2001. Khoja, Abdullah. Al-Takhum al-Zuhuri li-'Ilm al-Balagha 'inda al-'Arab.

Damaskus: Matba'at al-Taraqqi, 1989. Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika.

Bandung: Teraju, 2004. Edisi lain, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006, 2007. ———. Maklumat Sastra Profetik. Yogyakarta: Diva Press, 2019. ———. Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Bandung: Mizan, 2001. ———. Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1991. (Edisi lain: 1993, 2008, 2017).

Kusnawan, Aep. Komunikasi dan Penyiaran Islam. Bandung: Benang Merah Press, 2004.

Laffan, Michael. The Makings of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of a Sufi Past. Princeton: Princeton University Press, 2011.

Larkin, Brian. Signal and Noise: Media, Infrastructure, and Urban Culture in Nigeria. Durham: Duke University Press, 2008.

Latif, Yudi. Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia, 2011.

Lubis, Nina H. Sejarah Kabupaten Tasikmalaya. Tasikmalaya: Badan Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya, 2000.

———. Sejarah Tatar Sunda. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, 2000.

Maarif, Ahmad Syafii. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah. Bandung: Mizan, 2009.

———. Masa Depan Islam di Indonesia. Jakarta: Megawati Institute, 2017. Madjid, Nurcholish. Islam, Doktrin, dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 2008. ———. Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 2008. Mahfudz, Ali. Hidayat al-Mursyidin ila Turuq al-Wa'z wa al-Khitabah. Kairo:

Dar al-l'tisam, 1979. Majelis Ulama Indonesia. Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975. Jakarta: Erlangga, 2011. Mangunjaya, Fachruddin. Ekopesantren: Bagaimana Merancang Pesantren Ramah Lingkungan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014. Martin, Richard C. Approaches to Islam in Religious Studies. Tucson:

University of Arizona Press, 1985.

Minhaji, Akh. Tradisi Akademik di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: SUKA Press, 2013.

Mir, Mustansir. Coherence in the Qur'an: A Study of Islahi's Concept of Nazm in Tadabbur-i Qur'an. Indianapolis: American Trust Publications, 1986.

———. Verbal Idioms of the Qur'an. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1989.

Mubarok, Achmad. Psikologi Dakwah. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008. Muhtadi, Asep Saeful. Komunikasi Dakwah: Teori, Pendekatan, dan Aplikasi.

Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012. Muhyiddin, Asep. Metode Pengembangan Dakwah. Bandung: Pustaka Setia, 2002. Muhyiddin, Asep, dan Agus Ahmad Safei. Metode Pengembangan Dakwah.

Bandung: Pustaka Setia, 2002. Mulkhan, Abdul Munir. Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah. Yogyakarta: SIPRESS, 1993. Mulia, Siti Musdah. Membangun Surga di Bumi: Kiat-kiat Membina Keluarga Ideal dalam Islam. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011. Munir, Muhammad, dan Wahyu Ilaihi. Manajemen Dakwah. Jakarta: Kencana, 2006. Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred. Albany: State University of New York Press, 1989. ———. Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Chicago: ABC International Group, 1997. Natsir, Mohammad. Capita Selecta. Jakarta: Bulan Bintang, 1973. Nisa, Eva F. Social Media and the Birth of an Islamic Counterpublic. Singapore:

ISEAS, 2018.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES, 1980.

Qodir, Zuly. Muhammadijah Studies: Reorientasi Gerakan dan Pemikiran Memasuki Abad Kedua. Yogyakarta: Kanisius, 2010.

Quasem, Muhammad Abul. The Ethics of Al-Ghazali: A Composite Ethics in Islam. Petaling Jaya: Universiti Kebangsaan Malaysia Press, 1975.

Qutb, Muhammad. Manhaj al-Fann al-Islami. Beirut: Dar al-Shuruq, 1983. ———. Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyyah. Kairo: Dar al-Shuruq, 1993. Rahardjo, Dawam. Ensiklopedi Al-Qur'an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep- Konsep Kunci. Jakarta: Paramadina, 1996. Rahman, Fazlur. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press, 1982. ———. Major Themes of the Qur'an. Chicago: University of Chicago Press, 2009. Rakhmat, Jalaluddin. Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim. Bandung: Mizan, 1991. Ridwan, Aang. Humor dalam Dakwah: Strategi Retorika Komunikasi Religius.

Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015. ———. Humor dalam Tablig: Sisipan yang Sarat Estetika. Bandung: Nuansa, 2010. Rinaldo, Rachel. Mobilizing Piety: Islam and Feminism in Indonesia. Oxford:

Oxford University Press, 2013. Roqib, Moh. Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad SAW. Purwokerto: Pesma An-Najah Press, 2016.

———. Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Yogyakarta: LKiS, 2009.

Rosidi, Ajip. Masa Depan Budaya Daerah, Kasus Bahasa dan Sejarah Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya, 2004.

———. Mencari Sosok Manusia Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya, 2010. Safi, Omid, ed. Progressive Muslims: On Justice, Gender, and Pluralism.

Oxford: Oneworld Publications, 2003. Sahal, Akhmad, dan Munawir Aziz, eds. Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan. Bandung: Mizan, 2015. Sambas, Syukriadi. Sembilan Pasal Pokok-Pokok Filsafat Dakwah. Bandung:

KP Hadid & Fakultas Dakwah IAIN SGD, 1999. Saqr, Abd al-Badi'. Kaifa Nad'u al-Nas. Kairo: Maktabat Wahbah, 1976. Schimmel, Annemarie. Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975. Shari'ati, Ali. On the Sociology of Islam. Diterjemahkan oleh Hamid Algar.

Berkeley: Mizan Press, 1979. Shihab, Alwi. Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Bandung: Mizan, 1998. Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1992. (Edisi lain: 1994, 2007). ———. Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 1996. Suhandang, Kustadi. Retorika: Strategi, Teknik Dan Taktik Berpidato. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2019.

Sulthon, Muhammad. Desain Ilmu Dakwah: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Sunarto AS. Retorika Dakwah: Petunjuk Menuju Peningkatan Kemampuan Berpidato. Surabaya: Jaudar Press, 2014.

Suryanegara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1995.

Syam, Nur. Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental. Yogyakarta: LKIS, 2010.

Syahputra, Iswandi. Komunikasi Profetik: Konsep dan Pendekatan. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2018.

———. Paradigma Komunikasi Profetik: Gagasan Dan Pendekatan. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2017.

Tasmara, Toto. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997. Umar, Nasaruddin. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur'an. Jakarta:

Paramadina, 2001. van Bruinessen, Martin. Contemporary Developments in Indonesian Islam:

Explaining the "Conservative Turn". Singapore: ISEAS Publishing, 2013. ———. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1995. Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute, 2006. Yaqub, Ali Mustafa. Sejarah dan Metode Dakwah Nabi. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000. Yusuf, Muhammad al-Sayyid. Al-Da'wah al-Islamiyyah: Manhaj wa Madarish. Kairo: Dar al-Tawzi' wa al-Nashr al-Islamiyyah, 1995.

Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara, 1979.

Zaidan, 'Abd al-Karim. Usul al-Da'wah. Baghdad: Maktabat al-Quds, 1976. Zahrah, Muhammad Abu. Al-Khatabah: Usuluha wa Tarikhiha. Kairo: Dar al- Fikr al-'Arabi, 1980. Zain, Arifin. Dakwah Rasional. Banda Aceh: Arraniry Press, 2015. Zaman, Muhammad Qasim. The Ulama in Contemporary Islam: Custodians of Change. Princeton: Princeton University.

B. Artikel dalam Bunga Rampai (Bab Buku)

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. "Ilmu Sosial Profetik: Etika Pengembangan Ilmuilmu Sosial Berbasis Agama." Dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, disunting oleh A.E. Priyono, 176–198. Bandung: Mizan, 2008.

Abdullah, M. Amin. "Epistemologi Ilmu Profetik: Apa yang Terlupakan dari Ilmu-ilmu Sekuler?" Dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, disunting oleh A.E. Priyono, 90–118. Bandung: Mizan, 2008.

Benedikt, Amélie Frost. "On Doing the Right Thing at the Right Time: Toward an Ethics of Kairos." Dalam Rhetoric and Kairos: Essays in History, Theory, and Praxis, disunting oleh Phillip Sipiora dan James S. Baumlin, 226–235. Albany: State University of New York Press, 2002.

Boullata, Issa J. "The Rhetorical Interpretation of the Qur'an: l'jaz and Related Topics." Dalam Approaches to the History of the Interpretation of the Qur'an, disunting oleh Andrew Rippin, 139–157. Oxford: Clarendon Press, 1988.

Denzin, Norman K., and Yvonna S. Lincoln. "Introduction: The Discipline and Practice of Qualitative Research." Dalam Handbook of Qualitative Research, disunting oleh Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, 3–

8. Thousand Oaks: Sage Publications, 2011.

Djuhana, Ade. "Jaringan Ulama di Priangan Abad XIX." Dalam Religiusitas Iptek, disunting oleh Armahedi Mahzar, 112–114. Bandung: Pustaka, 1998.

Fealy, Greg. "Consuming Islam: Commodified Religion and Aspirational Pietism in Contemporary Indonesia." Dalam Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia, disunting oleh Greg Fealy dan Sally White, 15–39. Singapore: ISEAS Publishing, 2008.

Fontana, Andrea, and James H. Frey. "The Interview: From Neutral Stance to Political Involvement." Dalam The Sage Handbook of Qualitative Research, disunting oleh Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln,

705. Thousand Oaks: Sage Publications, 2005.

Gaonkar, Dilip Parameshwar. "Introduction: Contingency and Probability." Dalam A Companion to Rhetoric and Rhetorical Criticism, disunting oleh Walter Jost dan Wendy Olmsted, 5–21. Malden, MA: Blackwell Publishing, 2004.

———. "Rhetoric and Its Double: Reflections on the Rhetorical Turn in the Human Sciences." Dalam The Rhetorical Turn: Invention and Persuasion in the Conduct of Inquiry, disunting oleh Herbert W. Simons, 341–366. Chicago: University of Chicago Press, 1990.

Gill, Christopher. "The Emotions in Greco-Roman Philosophy." Dalam The Passions in Roman Thought and Literature, disunting oleh Susanna Morton Braund dan Christopher Gill, 5–15. Cambridge: Cambridge University Press, 1997.

Guba, Egon G., and Yvonna S. Lincoln. "Competing Paradigms in Qualitative Research." Dalam Handbook of Qualitative Research, disunting oleh Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, 105–117. Thousand Oaks: Sage Publications, 1994.

Herdiana, Aan, Adnan Yusufi, dkk. "Komunikasi Profetik dalam Berbagai Perspektif." Dalam Pengantar Komunikasi Profetik, disunting oleh Aan Herdiana, 1–20. Sleman: UII Press, 2022.

Hinchman, Lewis P., and Sandra K. Hinchman. "Introduction." Dalam Memory, Identity, Community: The Idea of Narrative in the Human Sciences, disunting oleh Lewis P. Hinchman dan Sandra K. Hinchman, xiv. Albany: State University of New York Press, 1997.

Hosen, Nadirsyah. "Online Fatwa in Indonesia: From Fatwa Shopping to Googling a Kiai." Dalam Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia, disunting oleh Greg Fealy dan Sally White, 159–161. Singapore: ISEAS Publishing, 2008.

Howell, Julia Day. "Modernity and Islamic Spirituality in Indonesia's New Sufi Networks." Dalam Sufism and the Modern in Islam, disunting oleh Martin van Bruinessen dan Julia Day Howell, 217–240. London: I.B. Tauris, 2007.

Hymes, Dell. "Models of the Interaction of Language and Social Life." Dalam Directions in Sociolinguistics: The Ethnography of Communication, disunting oleh John J. Gumperz dan Dell Hymes, 35–71. New York: Holt, Rinehart and Winston, 1972.

Kailani, Najib, dan Sunarwoto. "Televangelisme Islam Dalam Lanskap Otoritas Keagamaan Baru." Dalam Ulama Dan Negara-Bangsa: Membaca Masa Depan Islam Politik Di Indonesia, disunting oleh Noorhaidi Hasan, 179–206. Yogyakarta: PusPIDeP, 2019.

———. "Televangelisme Islam dalam Lanskap Otoritas Keagamaan Baru." Dalam Ulama Digital, disunting oleh Noorhaidi Hasan, 155–158. Yogyakarta: PSAP UIN Sunan Kalijaga, 2020.

Kienpointner, Manfred. "Towards a Typology of Argumentative Schemes." Dalam Argumentation: Across the Lines of Discipline, disunting oleh Frans H. van Eemeren, Rob Grootendorst, J. Anthony Blair, dan Charles

A. Willard, 275–287. Dordrecht: Foris Publications, 1987.

Kinneavy, James L. "Kairos: A Neglected Concept in Classical Rhetoric." Dalam Rhetoric and Praxis: The Contribution of Classical Rhetoric to Practical Reasoning, disunting oleh Jean Dietz Moss, 79–105. Washington, DC: Catholic University of America Press, 1986.

Knoblauch, Hubert, Bernt Schnettler, and Jürgen Raab. "Video Analysis: Methodological Aspects of Interpretive Audiovisual Analysis in Social Research." Dalam Video Analysis: Methodology and Methods, disunting oleh Hubert Knoblauch et al., 11–14. Frankfurt: Peter Lang, 2006.

Kowal, Sabine, and Daniel C. O'Connell. "The Transcription of Conversations." Dalam A Companion to Qualitative Research, disunting oleh Uwe Flick, Ernst von Kardorff, dan Ines Steinke, 249. London: Sage Publications, 2004.

MacGeorge, Erina L., Bo Feng, and Elizabeth R. Thompson. "Good and Bad Advice: How to Advise More Effectively." Dalam Studies in Applied Interpersonal Communication, disunting oleh Michael T. Motley, 145–

164. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2008.

McKeon, Richard. "The Uses of Rhetoric in a Technological Age: Architectonic Productive Arts." Dalam The Prospect of Rhetoric, disunting oleh Lloyd

F. Bitzer dan Edwin Black, 44–63. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall,

1971.

Miller, Carolyn R. "The Aristotelian Topos: Hunting for Novelty." Dalam Rereading Aristotle's Rhetoric, disunting oleh Alan G. Gross dan Arthur

E. Walzer, 130–146. Carbondale: Southern Illinois University Press,

2000.

Moosa, Ebrahim. "The Debts and Burdens of Critical Islam." Dalam Progressive Muslims: On Justice, Gender, and Pluralism, disunting oleh Omid Safi, 111–127. Oxford: Oneworld Publications, 2003.

Simons, Herbert W. "The Rhetorical Turn: Invention and Persuasion in the Conduct of Inquiry." Dalam The Rhetorical Turn: Invention and Persuasion in the Conduct of Inquiry, disunting oleh Herbert W. Simons, 341–366. Chicago: University of Chicago Press, 1990.

Warnick, Barbara. "Lucie Olbrechts-Tyteca's Contribution to The New Rhetoric." Dalam Listening to Their Voices: The Rhetorical Activities of Historical Women, disunting oleh Molly Meijer Wertheimer, 69–85. Columbia: University of South Carolina Press, 1997.

C. Artikel Jurnal

Abdullah, Fatimah. "Elements of Emotional and Spiritual Intelligence in Mohammad Natsir's Approach of Da'wah." Intellectual Discourse 25, no. 1 (2017): 57–77.

Adhan, Syamsul Rijal. "Ekologi dalam Perspektif Profetik: Menuju Dakwah Berbasis Kesadaran Lingkungan." Jurnal Dakwah 20, no. 2 (2019): 211–232.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. "Fenomenologi Agama: Pendekatan Fenomenologi untuk Memahami Agama." Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 20, no. 2 (2012): 271–304.

———. "Paradigma Profetik: Mungkinkah? Perlukah?" Jurnal Antropologi Indonesia 35, no. 2 (2011): 39–52.

Al Aqad, Mohammed H., M. Hussin, S. Rifa'In @ Mohd Rifain, dan Yoyo. "Figures of Speech in the Hadith of Prophet Muhammad: An Analysis of Tashbīh, Isti'ārah, and Kināyah." Southeastern Philippines Journal of Research and Development 30, no. 1 (2025): 77–92.

Al Kubaisi, Abdel Aziz Shaker Hamdan, S. Al Kubaisi, Y.A.K. Al Fayyadh, dan

A. Damrah. "Dialogic Communication with the Jews of Medina:

Methods, Characteristics, and Purposes in the Light of Prophetic Biography." European Journal for Philosophy of Religion 16, no. 2 (2024): 460–487.

Aminah, Siti. "Komunikasi Partisipatoris dalam Pembangunan Komunitas." Jurnal Komunikasi Pembangunan 15, no. 2 (2017): 70–89.

Applbaum, James L., and Karl W. Anatol. "The Factor Structure of Source Credibility as a Function of the Speaking Situation." Speech Monographs 39, no. 3 (1972): 216–222.

Archambault, Éric, Didier Amyot, Philippe Deschamps, Vincent Larivière, L.

R. C. G. M., dan F. C. N. "Comparing Bibliometric Statistics Obtained

from the Web of Science and Scopus." Journal of the American Society for Information Science and Technology 60, no. 7 (2009): 1320–1326.

Aswar, Hasbi, and Subhan Afifi. "An Analytical Study of the Da'wah Movement of Prophet Muhammad in Relation to Social Movement Theory." Journal of Islamic Thought and Civilization 14, no. 1 (2024): 23–45.

Aziz, Moh. Ali. "Indikator Dakwah Profetik: Operasionalisasi Nilai-nilai Profetik dalam Praktik Dakwah." Jurnal Dakwah 21, no. 1 (2020): 1– 25.

———. "Komunikasi Interpersonal dalam Perspektif Dakwah." Jurnal Komunikasi Islam 5, no. 1 (2015): 91–113.

Azra, Azyumardi. "Demokrasi dan Ancaman Oligarki dalam Politik Indonesia Kontemporer." Jurnal Politik 2, no. 1 (2016): 5–20.

Baehaqi, Imam. "Politik Anggaran dan Marjinalisasi Masyarakat Miskin." Jurnal Politik 3, no. 2 (2017): 225–245.

Baidhawy, Zakiyuddin. "Dakwah Transformatif: Menuju Ekonomi Berkeadilan." Jurnal Dakwah 20, no. 1 (2019): 1–25.

———. "Ekonomi Berkeadilan: Tradisi Profetik dalam Ekonomi Islam." Jurnal Ekonomi Islam 10, no. 2 (2016): 187–210.

———. "Pembangunan yang Berkeadilan: Perspektif Ekonomi-Politik Islam." Jurnal Penelitian 14, no. 2 (2017): 145–166.

Balasopoulos, Antonis. "Spectres of Analogy: Translation, Dialectics, Poetics." Angelaki: Journal of the Theoretical Humanities 22, no. 4 (2017): 33– 49.

Basit, Abdul. "Dakwah Cerdas di Era Modern." Jurnal Komunikasi Islam 3, no. 1 (2013): 76–94.

———. "Diskursus Dakwah Kontemporer: Perspektif Teori Wacana Kritis." Jurnal Ilmu Dakwah 41, no. 2 (2021): 110–132.

———. "Estetika Dakwah: Eksplorasi Dimensi Seni dalam Komunikasi Islam." Jurnal Ilmu Dakwah 36, no. 2 (2016): 267–289.

———. "Jurnalisme Profetik: Model Komunikasi Dakwah Era Kontemporer." Jurnal Komunikasi Islam 8, no. 2 (2018): 188–208.

———. "Pemikiran Kuntowijoyo tentang Pengembangan Ilmu Sosial Profetik dan Relevansinya terhadap Studi Komunikasi Islam." Jurnal Komunikasi Islam 7, no. 1 (2017): 26–47.

———. "Persepsi Jama'ah tentang Kredibilitas Da'i dan Efeknya terhadap Penerimaan Pesan Dakwah." Jurnal Dakwah 11, no. 2 (2010): 141–158.

———. "Retorika Dakwah: Antara Teori dan Praktik." Jurnal Dakwah dan Komunikasi 5, no. 1 (2011): 160.

Ben David, Elad. "Strategies of Indirect Da'wah in America of Post 9/11 Era: The Case of Yasir Qadhi." Journal of Muslim Minority Affairs 43, no. 1–2 (2023): 134–150.

Benoit, William L. "Argumentation and Credibility Appeals in Persuasion." Southern Communication Journal 52, no. 2 (1987): 181–197.

Bowen, Glenn A. "Document Analysis as a Qualitative Research Method." Qualitative Research Journal 9, no. 2 (2009): 27–29.

Braun, Virginia, and Victoria Clarke. "Using Thematic Analysis in Psychology." Qualitative Research in Psychology 3, no. 2 (2006): 77–101.

Brockriede, Wayne, and Douglas Ehninger. "Toulmin on Argument: An Interpretation and Application." Quarterly Journal of Speech 46 (1960): 44–53.

Burhani, Ahmad Najib. "Respons Kreatif Islam terhadap Modernitas: Menimbang Relevansi Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo untuk Era Kontemporer." Maarif: Jurnal Arus Pemikiran Islam dan Sosial 15, no. 1 (2020): 67–93.

———. "Transmission of Islamic Reform from the United States to Indonesia: Studying Fazlur Rahman's Legacy through the Works of Ahmad Syafii Maarif." Indonesia and the Malay World 41, no. 119 (2013): 29–47.

Campbell, John Angus. "Between the Fragment and the Icon: Prospect for a Rhetorical House of the Middle Way." Western Journal of Communication 54 (1990): 346–376.

Creswell, John W., and Dana L. Miller. "Determining Validity in Qualitative Inquiry." Theory Into Practice 39, no. 3 (2000): 124–130.

Cronkhite, Gary, and Jo Liska. "A Critique of Factor Analytic Approaches to the Study of Credibility." Communication Monographs 43 (1976): 91–107.

Dervin, Brenda. "On Studying Information Seeking Methodologically: The Implications of Connecting Metatheory to Method." Information Processing & Management 35, no. 6 (1999): 727–750.

Farmer, Frank. "Dialogue and Critique: Bakhtin and the Cultural Studies Writing Classroom." College Composition and Communication 49, no. 2 (1998): 186–207.

Farrell, Thomas B. "Narrative in Natural Discourse: On Conversation and Rhetoric." Journal of Communication 35, no. 4 (1985): 109–127.

Finlay, Linda. "Negotiating the Swamp: The Opportunity and Challenge of Reflexivity in Research Practice." Qualitative Research 2, no. 2 (2002): 209–230.

Fisher, Walter R. "Clarifying the Narrative Paradigm." Communication Monographs 56 (1989): 55–58.

———. "Narration as a Human Communication Paradigm: The Case of Public Moral Argument." Communication Monographs 51, no. 1 (1984): 1–22.

———. "The Narrative Paradigm: An Elaboration." Communication Monographs 52 (1985): 347–367.

———. "The Narrative Paradigm: In the Beginning." Journal of Communication 35, no. 4 (1985): 74–89.

Flyvbjerg, Bent. "Five Misunderstandings About Case-Study Research." Qualitative Inquiry 12, no. 2 (2006): 229.

Foss, Sonja K. "Rhetorical Criticism as the Asking of Questions." Communication Education 38 (1989): 191–196.

Giffin, Kim. "The Contribution of Studies of Source Credibility to a Theory of Interpersonal Trust in the Communication Process." Psychological Bulletin 68, no. 2 (1967): 104–120.

Green, Melanie C., and Timothy C. Brock. "The Role of Transportation in the Persuasiveness of Public Narratives." Journal of Personality and Social Psychology 79, no. 5 (2000): 701–721.

Halloran, S. Michael. "Aristotle's Concept of Ethos, or if Not His, Somebody Else's." Rhetoric Review 1, no. 1 (1982): 58–63.

Hample, Dale, and Judy Dallinger. "A Lewinian Perspective on Taking Conflict Personally: Revision, Refinement, and Validation of the Instrument." Communication Quarterly 43, no. 3 (1995): 297–319.

Hardiman, F. Budi. "Jurnalisme Perspektif: Melampaui Objektivisme dan Relativisme." Jurnal Komunikasi 7, no. 2 (2012): 189–207.

Hart, William D. "Debate, Prophecy, and Revolution: Notes on Cathleen Kaveny's Prophecy Without Contempt." Journal of Religious Ethics 46, no. 4 (2018): 738–759.

Hilmy, Masdar. "Ekonomi-Politik Profetik: Membaca Kapitalisme Global dalam Perspektif Ilmu Sosial Profetik." Jurnal Ekonomi Islam 8, no. 1 (2017): 1–18.

———. "Indigenisasi Ilmu Sosial Profetik Dalam Tradisi Keilmuan Islam." Jurnal Bimas Islam 13, no. 1 (2020): 10.

———. "Kuntowijoyo dan Kerangka Transformasi Sosial Profetik." Jurnal Sosiologi Reflektif 7, no. 2 (2013): 170–185.

———. "Menuju Ekonomi Berkeadilan: Kritik Profetik terhadap Neoliberalisme." Jurnal Ekonomi Islam 11, no. 2 (2017): 217–236.

———. "Menuju Ilmu Sosial Profetik: Respons terhadap Krisis Modernitas." Jurnal Studi Islam 17, no. 1 (2016): 95–116.

———. "Politik Keadaban dan Revitalisasi Etika Perbedaan dalam Komunikasi Politik Kontemporer." Jurnal Studi Islam 19, no. 1 (2018): 1–18.

———. "Teologi Perlawanan: Genealogi dan Praksis Sosial Profetik." Jurnal Sosiologi Reflektif 12, no. 1 (2017): 1–19.

Hollihan, Thomas A., and Patricia Riley. "The Rhetorical Power of a Compelling Story: A Critique of a 'Toughlove' Parental Support Group." Communication Quarterly 35 (1987): 13–25.

Hoover, Judith D. "Reconstructing the Southern Plantation: Fisher's Narrative Paradigm and Gone With the Wind." Southern Communication Journal 54 (1989): 135–147.

Hovland, Carl I., and Walter Weiss. "The Influence of Source Credibility on Communication Effectiveness." Public Opinion Quarterly 15 (1951): 635–650.

Howe, Kenneth R., and Margaret S. Eisenhart. "Standards for Qualitative (and Quantitative) Research: A Prolegomenon." Educational Researcher 19, no. 4 (1990): 2–9.

Ichwan, Moch. Nur. "Dakwah dan Transformasi Kultur: Perspektif Anthropologi Budaya." Jurnal Dakwah 19, no. 2 (2018): 127–149.

Ismail, A. Ilyas. "Islam dan Transformasi Sosial: Teologi Perlawanan dalam Tradisi Profetik." Jurnal Dakwah 19, no. 1 (2018): 16–37.

———. "Narasi Dakwah Kultural: Analisis Semiotik terhadap Dakwah K.H. Abdurrahman Wahid." Jurnal Komunikasi Islam 5, no. 1 (2015): 25–42.

Ivie, Robert L. "The Social Relevance of Rhetorical Scholarship." Quarterly Journal of Speech 81 (1995): 1–16.

Jamaluddin, Herman, Aguswandi, and Syahrul. "Komunikasi Profetik Islam (Nilai Dan Etika Komunikasi Persfektif Islam)." Jurnal Al-Khitabah 5, no. 2 (2019): 57–74.

Jamilin, Ahmad Kamil, M.F. Kasmani, N. Hashim, et al. "Prophetic Approaches in Communication: A Pilot Analysis of Hadith Prophet Muhammad." Pharos Journal of Theology 98 (2017): 1–12.

Jamilin, Ahmad Kamil, et al. "Prophetic Approaches in communication: A Pilot Analysis of Hadith Prophet Muhammad." Advanced Science Letters 23, no. 5 (2017): 4872–4876.

Kawulich, Barbara B. "Participant Observation as a Data Collection Method." Forum: Qualitative Social Research 6, no. 2 (2005): Art. 43.

Kaylor, Brian. "Earth-a-Lujah!: The Prophetic Environmental Discourse of Reverend Billy." Environmental Communication 7, no. 3 (2013): 391– 408.

Khalim, Abdul, dkk. "Literatur Review: Nilai Profetik Pada Metode Kisah Dalam Pendidikan Islam." Diversity: Jurnal Ilmiah Pascasarjana 10, no. 1 (2024): 118–129.

Khoeir, Muhammad Irsyad Sirojul, A D Kusumaningtyas, and Siswanto Siswanto. "Retorika Dakwah Mama Cianting: Analisis Gaya Dakwah K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar." AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam 10, no. 1 (Juni 2023): 123.

King, Andrew. "Burkean Theory Reborn: How Burkean Studies Assimilated Its Postmodern Critics." Rhetoric Review 21, no. 3 (2002): 216–235.

Kinneavy, James L., dan Catherine R. Eskin. "Kairos in Aristotle's Rhetoric." Written Communication 11, no. 1 (1994): 131–142.

Kraus, Manfred. "The Empirical Attitude in Rhetoric." Philosophy & Rhetoric 30, no. 1 (1997): 76–95.

Leff, Michael. "Rhetoric and Dialectic in the Twenty-First Century." Argumentation 14, no. 3 (2000): 241–254.

———. "The Topics of Argumentative Invention in Latin Rhetorical Theory from Cicero to Boethius." Rhetorica 1, no. 1 (1983): 23–44.

———. "The Uses of Aristotle's Rhetoric in Contemporary American Scholarship." Argumentation 7 (1993): 313–327.

Lim, Merlyna. "Aktivisme Digital dalam Gerakan Sosial Kontemporer." Jurnal Komunikasi 12, no. 1 (2017): 1–22.

Lucaites, John Louis, and Celeste Michelle Condit. "Reconstructing Narrative Theory: A Functional Perspective." Journal of Communication 35, no. 4 (1985): 90–108.

Majocha, Kristen Lynn. "Prophetic Rhetoric: A Gap between the Field of Study and the Real World." The Journal of Communication and Religion 39, no. 4 (2016): 5–18.

Malik, Abdul. "Prophetic Rhetoric in Classical Islamic Preaching: A HistoricalCritical Analysis." Journal of Islamic Studies 29, no. 1 (2018): 1–24.

Mappes, Joseph. "A Critical Approach to the Narrative Paradigm." Quarterly Journal of Speech 79 (1993): 125–132.

Marshall, Catherine. "The Key Informant Technique." Family Practice 13, no. 1 (1996): 92.

McCroskey, James C. "A Summary of Experimental Research on the Effects of Evidence in Persuasive Communication." Quarterly Journal of Speech 55, no. 2 (1969): 169–176.

———. "Scales for the Measurement of Ethos." Speech Monographs 33, no. 1 (1966): 65–72.

McCroskey, James C., and Jason J. Teven. "Goodwill: A Reexamination of the Construct and Its Measurement." Communication Monographs 66 (1999): 90–103.

McClure, Kevin. "Resurrecting the Narrative Paradigm: Identification and the Case of Young Earth Creationism." Rhetoric Society Quarterly 39, no. 2 (2009): 189–211.

McGee, Michael Calvin. "The 'Ideograph': A Link Between Rhetoric and Ideology." Quarterly Journal of Speech 66 (1980): 1–16.

McGee, Michael Calvin, and John S. Nelson. "Narrative Reason in Public Argument." Journal of Communication 35, no. 4 (1985): 139–155.

Mercieca, Jennifer R. "The Culture of Honor: How Slaveholders Responded to the Abolitionist Mail Crisis of 1835." Rhetoric & Public Affairs 10, no. 1 (2007): 51–76.

Metzger, Miriam J. "Making Sense of Credibility on the Web: Models for Evaluating Online Information and Recommendations for Future Research." Journal of the American Society for Information Science and Technology 58, no. 13 (2007): 2078–2091.

Metzger, Miriam J., and Andrew J. Flanagin. "Credibility and Trust of Information in Online Environments: The Use of Cognitive Heuristics." Journal of Pragmatics 59 (2013): 210–220.

Moral-Muñoz, José A., María-José Cobo, Manuel-J. Cobo, Enrique HerreraViedma, dan Francisco Herrera. "Software Tools for Conducting Bibliometric Analysis in Science: An Up-to-Date Review." Profesional de la Información 29, no. 1 (2020): e290103.

Muhlis, Muhlis, and Musliadi Musliadi. "Komunikasi Profetik Di Media Sosial. Retorika." RETORIKA: Jurnal Kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam 4, no. 2 (September 2022): 82–92.

Muhtadi, Asep Saeful. "Kredibilitas Da'i dalam Komunikasi Dakwah Mediatik." Jurnal Komunikasi Islam 4, no. 2 (2014): 190–207.

Mulia, Siti Musdah. "Dakwah dan Keadilan Gender." Jurnal Dakwah 18, no. 1 (2017): 90–112.

Mulkhan, Abdul Munir. "Dimensi Transformatif Ilmu Sosial Profetik dalam Pengembangan Islamic Studies." Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies 43, no. 1 (2005): 123–148.

———. "Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan." Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 17, no. 1 (2013): 40–54.

———. "Sufi Pinggiran dan Nalar Profetik." Jurnal Sosiologi Reflektif 11, no. 1 (2016): 91–110.

Nan, Aida Hartini, S.F.Z.M. Saleh, S.A. Mokti, et al. "The Application of the Thematic Hadith Method in the Construction of Da'wah Messages." Global Journal Al Thaqafah 14, no. 2 (2024): 206–216.

Naudé, Piet J. "Is Prophetic Discourse Adequate to Address Global Economic Justice?" HTS Teologiese Studies / Theological Studies 67, no. 1 (2011).

Olson, Kathryn M., and G. Thomas Goodnight. "Entanglements of Consumption, Cruelty, Privacy, and Fashion: The Social Controversy over Fur." Quarterly Journal of Speech 80 (1994): 249–276.

Ponterotto, Joseph G. "Brief Note on the Origins, Evolution, and Meaning of the Qualitative Research Concept Thick Description." The Qualitative Report 11, no. 3 (2006): 538–549.

Priester, Joseph R., and Richard E. Petty. "Source Attributions and Persuasion: Perceived Honesty as a Determinant of Message Scrutiny." Personality and Social Psychology Bulletin 21, no. 6 (1995): 637–654.

Qodir, Zuly. "Mempertimbangkan Metodologi Ilmu Sosial Profetik." Sosiologi Reflektif 12, no. 2 (2018): 223–242.

———. "Muhammadiyah dan Ilmu Sosial Transformatif." Jurnal Studi Islam 16, no. 1 (2015): 1–16.

Rahmah, Mariyatul Norhidayati. "Dakwah Retoris Dalam Karya Sastra Novel 'Habibie & Ainun' Karya Bj. Habibie." Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 14, no. 27 (2015): 65–74.

Riyadi, Hendar. "Dimensi Transendensi dalam Ilmu Sosial Profetik." Jurnal Sosiologi Reflektif 13, no. 1 (2018): 161–179.

———. "Tafsir Emansipatoris: Arah Baru Studi Tafsir Al-Qur'an." Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis 4, no. 1 (2003): 21–36.

Rodden, John. "How Do Stories Convince Us? Notes Towards a Rhetoric of Narrative." College Literature 35, no. 1 (2008): 148–173.

Rodgers, Beth L., and Kathleen V. Cowles. "The Qualitative Research Audit Trail: A Complex Collection of Documentation." Research in Nursing & Health 16, no. 3 (1993): 219–226.

Rohmana, Jajang A. "Perkembangan Kajian Al-Qur'an di Tatar Sunda: Sebuah Penelusuran Awal." Suhuf: Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya 6, no. 1 (2013): 197–224.

———. "Sundanese Sufi Literature and Local Islamic Identity: A Contribution of Haji Hasan Mustapa's Dangding." Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies 50, no. 2 (2012): 303–327.

———. "Tasawwuf Sunda dalam Naskah Asmarandana Ngagurit Kaburu Burit (OR. 7876)." Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara 4, no. 2 (2013): 89–114.

Rokhman, Saeful, and Muslimah. "Retorika Dakwah Dr. Zakir Naik dalam Menda'wahkan Islam kepada Kaum Nashrani." Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan 4, no. 01 (2021): 1–18.

Rowland, Robert C. "Narrative: Mode of Discourse or Paradigm?" Communication Monographs 54 (1987): 264–275.

Salam, M.I.H.A. "Al-Dawlah wa al Da'wah al Islāmīyah fī 'Ahd al Nizām al Jadīd: Dirāsah fī Fikr Soeharto min Khilāl al-Khitābāt al-Ri'āsīyah fī al Munāsabāt al-Islāmīyah bi Indonesia." Studia Islamika 23, no. 1 (2016): 143–174.

Scheufele, Dietram A., and Matthew C. Nisbet. "Being a Citizen Online: New Opportunities and Dead Ends." Harvard International Journal of Press/Politics 7, no. 3 (2002): 55–75.

Scott, Robert L. "On Viewing Rhetoric as Epistemic." Central States Speech Journal 18 (1967): 9–17.

Shodiqin, Muhammad Ali. "Kuntowijoyo's Prophetic Social Science: Challenges and Consequences." IJTIMAIYYA: Journal of Social Science Teaching 1, no. 1 (2016): 59–72.

Sidek, Nurul Hafizah, and Kamariah Yunus. "The Rhetorical Strategies of an Internationally Renowned Preacher: Nouman Ali Khan." GEMA Online Journal of Language Studies 14, no. 1 (2024): 36–47.

Sillence, Elizabeth, and Pam Briggs. "Please Advise: Using the Internet for Health and Financial Advice." Computers in Human Behavior 23, no. 1 (2007): 727–748.

Slater, Michael D., and Donna Rouner. "Entertainment-Education and Elaboration Likelihood: Understanding the Processing of Narrative Persuasion." Communication Theory 12, no. 2 (2002): 173–191.

Solahudin, Dindin, dan Mochammad Arif Syuhada. "Dakwah di Era Digital: Peluang dan Tantangan." Jurnal Bimas Islam 13, no. 2 (2020): 271–294.

Sternthal, Brian, Lynn W. Phillips, and Ruby Dholakia. "The Persuasive Effect of Source Credibility: A Situational Analysis." Public Opinion Quarterly 42, no. 3 (1978): 285–314.

Sulthon, Muhammad. "Dakwah di Media Sosial: Analisis Retorika Ustadz Hanan Attaki." Jurnal Komunikasi Islam 9, no. 1 (2019): 126–142.

Syam, Nina Winangsih. "Komunikasi Hatinurani: Kajian Konseptual tentang Komunikasi Transendental." Jurnal Ilmu Komunikasi 12, no. 1 (2014): 79–94.

———. "Komunikasi Transendental dalam Perspektif Islam." Jurnal Komunikasi Islam 5, no. 2 (2015): 267–291.

Syarif, Dede. "Dinamika Pesantren di Tengah Arus Modernisasi: Studi Kasus Pesantren di Kabupaten Tasikmalaya." Mimbar: Jurnal Sosial dan Pembangunan 25, no. 2 (2009): 137–145.

Syahputra, Iswandi. "Paradigma Komunikasi Profetik: Eksplorasi dan Elaborasi." Jurnal Ilmu Komunikasi 13, no. 1 (2015): 93–115.

———. "Religiusitas Digital dan Sakralitas Virtual: Fenomena Keberagamaan di Era Media Baru." Jurnal Komunikasi Islam 11, no. 1 (2021): 55–77.

Szmania, Suzanne, and Daniel Finkelhor. "Factors Influencing Police Reporting of Child Maltreatment: A Study of Teachers and School Counselors." Journal of Interpersonal Violence 20, no. 12 (2005): 1651–1673.

Taurat, Siti. "Estetika Dakwah: Dimensi Spiritual dalam Seni Islam." Jurnal Ilmu Dakwah 37, no. 1 (2017): 101–123.

Thaib, E. J. "The Communication Strategies for Moderate Islamic Da'wah in Countering Radicalism in Gorontalo City, Indonesia." Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal of Communication 36, no. 4 (2020): 143–156.

Thoriqul Haq, and Noor Aqsa Nabila Mat Isa. "From Combating Religious Blasphemy to Promoting Peace: Reflections on the Role of Islamic Da'wah and Law in Indonesia's Pluralistic Society." International Journal of Law and Society 3, no. 2 (2024): 90–109.

Timmermans, Stefan, and Iddo Tavory. "Theory Construction in Qualitative Research: From Grounded Theory to Abductive Analysis." Sociological Theory 30, no. 3 (2012): 174.

Tohari, Ahmad. "Paradigma Profetik dan Persoalan Sosial-Budaya Kontemporer." Ibda': Jurnal Kebudayaan Islam 13, no. 1 (2015): 1–17.

Turner, Monique Mitchell, Mitchel Mazur, Nicole Wendel, and Robert Winslow. "Relational Ruin or Social Glue? The Joint Effect of Relationship Type and Gossip Valence on Liking, Trust, and Expertise." Communication Monographs 70, no. 2 (2003): 129–141.

Walther, Joseph B., and Judee K. Burgoon. "Relational Communication in Computer Mediated Interaction." Human Communication Research 19, no. 1 (1992): 50–88.

Warnick, Barbara. "The Narrative Paradigm: Another Story." Quarterly Journal of Speech 73 (1987): 172–182.

———. "The Rhetoric of Conservative Resistance." Southern Communication Journal 55 (1990): 175–192.

Witte, Kim, and Mike Allen. "A Meta-Analysis of Fear Appeals: Implications for Effective Public Health Campaigns." Health Education & Behavior 27, no. 5 (2000): 591–615.

Yanti, Fitri. "Meneropong Paradigma Komunikasi Profetik." Jurnal Komunikasiana: Jurnal Ilmu Komunikasi 1, no. 1 (2016): 1–16.

Yusdani. "Konfigurasi Pemikiran Ilmu Sosial Profetik." Millah: Jurnal Studi Agama 8, no. 2 (2009): 339–358.

Yunus, Muhammad. "Komunikasi Advokasi untuk Keadilan Sosial." Jurnal Komunikasi 8, no. 1 (2013): 43–62.

Zappen, James P. "Kenneth Burke on Dialectical-Rhetorical Transcendence." Philosophy & Rhetoric 42, no. 3 (2009): 279–301.

Zulfahmi, Dewi Kurniawati, Tangguh Okta Wibowo, dan Rubino. "Interfaith Da'wah in Indonesia: A Hermeneutic Perspective on the Hadith of Abu Daud and Bukhari." Pharos Journal of Theology 105, no. 2 (2024).

D. Karya Tidak Terbit (Tesis, Disertasi, Skripsi, Naskah)

1. Tesis, Disertasi, dan Skripsi

Budiantoro, Fajar. "Nilai-Nilai Profetik dalam Syair Perahu Karya Hamzah Fansuri." Tesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2022. Firdaus, Muhammad Lukman. "Retorika Dakwah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) Dalam Ngaji Mahasantri Millenial." 2021. Hardiyanto, Fahrudin Eko. "Retorika Profetik Wacana Iklan Politik Pilkada." 2019. Latif, Lugi Muhammad Nur. "Retorika Dakwah Ustadz Akang Anom pada Akun TikTok @Akanganom313 (Studi Retorika Aristoteles)." Skripsi, UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto, 2024. Ridho, Abdul Rasyid. "Komunikasi Profetik dalam Mewujudkan Masyarakat Madani Perspektif Al-Qur'an." Disertasi Doktoral, Institut PTIQ Jakarta, 2021. Steviasari, Puspa Chika. "Retorika Dakwah Ustadz Abdul Somad (Analisis Wacana Terhadap Youtube Ustadz Abdul Somad)." Skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2020. Sukran, Ahmad. "Perspektif Pemikiran Kuntowijoyo tentang Nilai-Nilai Pendidikan Profetik bagi Perwujudan Masyarakat Madani." Skripsi, UIN Alauddin Makassar, 2017. Tarmedi. "Kredibilitas Kang Haji Enjang Muhyiddin Abdul Jabbar Sebagai Seorang Juru Dakwah Di Pondok Pesantren Al-Aqthob (Studi Deskriptif Tentang Kredibilitas Kang H Enjang Muhyiddin Abdul Jabbar Sebagai Seorang Juru Dakwah Di Pondok Pesantren Al-Aqthob Purwakarta Dalam Menyampaikan Pesan Dakwah Kepada Jemaahnya)." 2016.

2. Naskah atau Makalah Tidak Diterbitkan

Glänzel, Wolfgang. "Bibliometrics as a Research Field: A Course on Theory and Application of Bibliometric Indicators." Naskah, 2003.

E. Laporan Penelitian dan Survei

Kementerian Agama RI. Statistik Majelis Taklim Di Indonesia. Jakarta: Kementerian Agama RI, 2023.

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. "Survei Nasional Tentang Keberagamaan Di Sekolah Dan Universitas Di Indonesia". Jakarta: PPIM UIN Jakarta, 2023.

———. Survei Nasional Toleransi Keagamaan di Indonesia. Jakarta: PPIM UIN Jakarta, 2020.

F. Sumber Internet 2021.

Trianto, Rudi. "Retorika Dan Propaganda Politik." https://himso.id/retorika-dan-propaganda-politik/.

G. Kitab Suci dan Hadis

Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud, dalam Sunan Abi Dawud, Kitab alAdab, Bab fi Man Yuhaddits Qawman bi ma la Yafhamun. QS. Al-Baqarah (2): 30.

QS. Al-Isra' (17): 70.

H. Sumber Primer Penelitian (Data Lapangan)

1. Wawancara dan Focus Group Discussion (FGD)

Agus Ruhiyat. Wawancara oleh penulis. Cianting, 5 Mei 2025.

Dedi. Wawancara oleh penulis. Cianting, 5 Mei 2025.

Endang. Wawancara oleh penulis. Cianting, Purwakarta, 15 Desember 2024.

Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting), K.H. Wawancara awal oleh penulis. Cianting, 3 September 2024.

Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting), K.H. Wawancara oleh penulis. Januari 2025.

Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting), K.H. Wawancara mendalam oleh penulis. Cianting, 22 Januari 2025.

Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting), K.H. Wawancara mendalam oleh penulis. Cianting, 28 Januari 2025.

Enjang Muhyidin Abdul Jabar (Mama Cianting), K.H. Wawancara mendalam oleh penulis. Cianting, 1 April 2025.

Erviansyah. Wawancara oleh penulis. Purwakarta, 15 September 2024. Fadil. Wawancara oleh penulis. Cianting, 17 Maret 2025. Focus Group Discussion dengan Generasi Muda. Dilaksanakan oleh penulis.

Cianting, 10 Mei 2025. Focus Group Discussion dengan Jamaah Lintas Profesi. Dilaksanakan oleh penulis. Cianting, 15 Desember 2024. Focus Group Discussion dengan Jamaah Perempuan. Dilaksanakan oleh penulis. Cianting, 12 Mei 2025. Focus Group Discussion dengan Jamaah Senior. Dilaksanakan oleh penulis.

Cianting, 09 Desember 2024. Heri. Wawancara oleh penulis. Cianting, 28 April 2025. Imas. Wawancara oleh penulis. Cianting, 17 Maret 2025. Irfan, Ustadz. Wawancara oleh penulis. Cianting, 10 Februari 2025. Jajang. Wawancara oleh penulis. Cianting, 10 Mei 2025. Jamaah Senior (Asep Saepudin, Ujang Koswara, dan H. Endang). Wawancara oleh penulis. 09 Desember 2024. Nana Ahmad Taqiyuddin. Wawancara oleh penulis. Cianting, 19 September 2024. Nana Ahmad Taqiyuddin. Wawancara oleh penulis. Cianting, 18 Januari 2025.

Nana Ahmad Taqiyuddin. Wawancara oleh penulis. Cianting, 22 Januari 2025. Rohayati, Hj. Wawancara oleh penulis. Cianting, 5 Mei 2025.

2. Catatan Lapangan dan Observasi Partisipatif

Observasi awal peneliti. Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, Purwakarta.

September 2023. Observasi pendahuluan peneliti. Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting, Purwakarta. September 2024. Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-1). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 12 Agustus 2024. Observasi awal peneliti. Januari 2025. Observasi partisipatif peneliti. Majelis Taklim Al-Aqthob. Januari-Maret 2025. Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-2). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 20 Januari 2025. Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-3). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 10 Februari 2025. Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-4). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 17 Februari 2025. Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-5, Konteks Ramadhan). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 3 Maret 2025. Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-6, Konteks Ramadhan). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 10 Maret 2025. Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-7, Konteks Syawal). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 21 April 2025. Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-8). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 28 April 2025.

Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-9). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 5 Mei 2025.

Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-10, Kajian Malam Minggu). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 10 Mei 2025.

Catatan Lapangan Observasi Partisipatif Peneliti (Observasi ke-11). Majelis Taklim Al-Aqthob, Cianting. 12 Mei 2025.

3. Dokumentasi (Foto dan Video)

Dokumentasi foto dan video kegiatan Majelis Taklim Al-Aqthob Cianting, 2024-2025.

Sumber: Tesis Magister, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2025., 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Retorika Profetik dalam Dakwah Mama Cianting. Tesis Magister, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2025..

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca