Langsung ke isi

Mengembalikan Wajah Rahmatan lil-'Alamin

Esensi dakwah dalam Islam pada hakikatnya merupakan upaya untuk mengajak dan membimbing manusia menuju kebaikan dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun dalam perkembangannya,…

Esensi dakwah dalam Islam pada hakikatnya merupakan upaya untuk mengajak dan membimbing manusia menuju kebaikan dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun dalam perkembangannya, dakwah kerap kali disalahpahami dan dipraktikkan dengan cara-cara yang kontra-produktif, cenderung ekstrem dan eksklusif. Tidak mengherankan jika Islam kemudian mendapat stigma negatif, terutama di kalangan masyarakat Barat, sebagai agama yang membenarkan tindakan ekstrimis bahkan terorisme atas nama jihad.

Memasuki era milenial, dinamika dakwah menghadapi tantangan untuk mengembalikan wajah Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin yang mencerminkan spirit keramahan, kelembutan dan toleransi. Dr. Musthafa al-Siba’i dalam karyanya “Isykaaliyyat ad-Da’wah al-Islamiyyah al-Mu’ashirah” menekankan perlunya pendekatan dakwah yang lebih adaptif dan akomodatif terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan prinsip dan nilai ajaran Islam yang abadi (al-Siba’i, 2004). Beliau mengkritik keras metode dakwah yang bercorak tekstual-skripturalistik dan cenderung memaksakan satu kebenaran tanpa mempertimbangkan realitas sosial yang kompleks.

Prof. Dr. Quraish Shihab, melalui karya monumental tafsirnya Al-Mishbah, memberikan pencerahaan dalam memaknai etika dakwah berdasarkan spirit ayat Al-Quran, khususnya QS. An-Nahl [16]: 125. Dalam tafsirnya, beliau menguraikan bahwa ayat tersebut menganjurkan tiga prinsip utama dalam berdakwah, yakni hikmah (kebijaksanaan), mau’izhotun hasanah (nasihat/pengajaran yang baik) serta mujadalah (berdiskusi/berdialog dengan cara terbaik) (Shihab, 2002). Hikmah mengandung makna mendalam meliputi seluruh pendekatan sesuai dengan kondisi objek dakwah yang dihadapi. Diskusi dan dialog dalam dakwah juga harus dilandasi oleh akhlak yang mulia, menghindari kekerasan verbal maupun fisik. Lebih lanjut dalam karyanya “Membumikan Al-Quran”, Quraish Shihab menegaskan bahwa inti dari risalah kenabian adalah untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh alam (Shihab, 1994). Oleh karena itu esensi dakwah pun harus dilakukan dengan penuh kelembutan hati, jauh dari sikap kasar dan keras kepala.

Sejalan dengan itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar di UGM, secara lugas menggarisbawahi perlunya deradikalisasi pemahaman agama melalui pendidikan perdamaian. Dalam pidatonya beliau menyampaikan, “Islam yang ramah, yang penuh kasih, penyebar kedamaian dan rahmat itulah Islam yang kita harapkan” (Gus Mus, 2018). Nasihat Gus Mus ini mengingatkan kita untuk senantiasa merevitalisasi semangat Islam wasathiyah (moderat) yang anti kekerasan dan radikalisme.

Melalui pemahaman yang jernih dan pelaksanaan dinamika dakwah yang mencerminkan rahmatan lil’alamin, Islam akan dapat menampakkan kembali wajah ramah dan menyejukkan bagi seluruh umat manusia. Dambaan untuk menjadi agama yang membawa rahmat di muka bumi bukan sekadar imajinasi melainkan sungguh akan terwujud dengan pendekatan dakwah yang arif, lembut dan mencerahkan.

Referensi:

1. Al-Siba’i, M. (2004). Isykaaliyyat ad-Da’wah al-Islamiyyah al-Mu’ashirah. Beirut: Al-Maktab al-Islami.

2. Shihab, M.Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati.

3. Shihab, M.Q. (1994). Membumikan Al-Quran. Bandung: Mizan.

4. Gus Mus (2018, November 3). Deradikalisasi Agama Melalui Pendidikan Perdamaian [Pidato Pengukuhan Guru Besar]. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Mengembalikan Wajah Rahmatan lil-'Alamin. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca

Bacaan terkait

Lihat seluruh Khazanah