Media sosial telah menjadi sarana penting dalam penyebaran informasi dan ide di era digital ini, termasuk dalam konteks dakwah Islam. Salah satu platform media sosial yang populer di kalangan generasi muda saat ini adalah TikTok. Aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk membuat dan membagikan video pendek dengan berbagai tema, termasuk konten keagamaan.
Media sosial TikTok telah menjadi ruang baru bagi para pendakwah untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan, termasuk dakwah wasathiyyah (moderat). Dakwah wasathiyyah, yang menekankan pada keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman, berupaya menawarkan alternatif di tengah meningkatnya polarisasi dan ekstremisme dalam wacana keagamaan. Fenomena ini terlihat dari maraknya konten-konten keagamaan di media sosial yang cenderung mempromosikan pandangan eksklusif, intoleran, dan tidak jarang mengandung ujaran kebencian serta hasutan terhadap kelompok lain. Di sisi lain, terdapat pula konten dakwah yang cenderung liberal dan mengabaikan prinsip-prinsip dasar agama. Kedua kecenderungan ini, sebagaimana dijelaskan oleh Asep Muhyiddin (2014), menimbulkan permasalahan serius, seperti meningkatnya intoleransi, radikalisme, dan konflik antar umat beragama, sehingga diperlukan adanya moderasi beragama.
Dakwah wasathiyyah berupaya untuk membangun jembatan dialog dan kerjasama antar umat beragama, serta mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Dakwah wasathiyyah dapat dipahami sebagai pendekatan dakwah yang mengedepankan prinsip moderasi, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman. Prinsip ini tercermin dalam penyampaian pesan dakwah yang tidak ekstrem, tidak memaksakan kehendak, dan menghargai perbedaan pandangan. Namun, representasi dakwah wasathiyyah di TikTok masih belum banyak diteliti, terutama dalam kaitannya dengan pembentukan identitas keagamaan generasi muda Muslim yang merupakan pengguna aktif platform ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana wacana dakwah wasathiyyah dikonstruksi dan direpresentasikan dalam konten TikTok, serta menggali implikasinya terhadap pembentukan identitas keagamaan generasi muda Muslim.
Penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana wacana dakwah wasathiyyah dikonstruksi dan direpresentasikan dalam konten TikTok, baik secara linguistik (pilihan kata, gaya bahasa, narasi) maupun visual (simbol, gambar, video)? Apa implikasi dari representasi dakwah wasathiyyah di TikTok terhadap praktik keagamaan dan pembentukan identitas keagamaan generasi muda, baik dalam ranah individu (keyakinan, nilai, perilaku) maupun sosial (interaksi dengan sesama)?
Penelitian ini akan menggunakan beberapa landasan teori untuk menganalisis fenomena dakwah wasathiyyah di TikTok. Pertama, Teori Dakwah akan digunakan untuk memahami konsep dasar, tujuan, dan metode dakwah, serta bagaimana teori ini dapat diterapkan dalam konteks media sosial. Kedua, Etika Dakwah akan mengidentifikasi prinsip-prinsip etika yang relevan dengan dakwah wasathiyyah, seperti kejujuran, keadilan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan, yang akan digunakan sebagai acuan dalam analisis. Ketiga, Analisis Wacana Kritis (CDA) akan digunakan untuk menganalisis bahasa, simbol, dan praktik dalam konten TikTok guna mengungkap makna tersembunyi, ideologi, dan relasi kuasa yang terkait dengan dakwah wasathiyyah. Fairclough (1995) menjelaskan bahwa CDA merupakan pendekatan yang tepat untuk menganalisis bagaimana bahasa digunakan untuk membangun makna dan merepresentasikan realitas sosial tertentu, dalam hal ini dakwah wasathiyyah di TikTok. Terakhir, Teori Identitas Sosial dari Tajfel & Turner (1986) akan membantu memahami bagaimana identitas keagamaan dibentuk dan dinegosiasikan melalui interaksi sosial, termasuk melalui konsumsi media seperti TikTok.
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis (CDA) dan wawancara mendalam. Data akan dikumpulkan dari konten-konten dakwah wasathiyyah di TikTok yang memiliki jumlah penonton dan interaksi yang signifikan. Analisis isi akan dilakukan untuk mengidentifikasi tema-tema, pola, dan strategi komunikasi yang digunakan dalam konten tersebut. Wawancara mendalam akan dilakukan dengan para kreator konten untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana mereka memahami dan merespons dakwah wasathiyyah di platform ini.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana dakwah wasathiyyah direpresentasikan dan diinterpretasikan di media sosial, khususnya TikTok. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan tentang bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama dan membentuk identitas keagamaan generasi muda yang lebih inklusif dan toleran.j
Daftar Pustaka:
Abidin, Crystal. 2018. Internet Celebrity: Understanding Fame Online. Bingley: Emerald Publishing.
Fairclough, Norman. 1995. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language. London: Longman.
Muhyiddin, Asep et.al. 2014. Kajian Dakwah Multiperspektif: Teori, Metodologi, Problem, dan Aplikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Shihab, Quraish. 2017. Wasathiyah: Konsep dan Aplikasi dalam Kehidupan Beragama. Jakarta: Lentera Hati.
Tajfel, Henri, & John C. Turner. 1986. "The Social Identity Theory of Intergroup Behavior." In Psychology of Intergroup Relations, edited by Stephen Worchel and William G. Austin, 7–24. Chicago: Nelson-Hall.