1
Radikalisme Dakwah
Dindin Solahudin
I did not like the way she was dressed when she entered my office. However, the look in her eyes revealed sadness and bewilderment that called for compassion and patience. She sat down and started sharing her concerns hoping to find answers with me. I listened to her long enough. I learned that she was an Arab girl who received her education in France where she was raised. It was also clear that she barely knew Islam. I started explaining basic facts, dispelling suspicions, answering questions and refuting orientalists’ lies about Islam. I also did not forget to allude to today’s civilization and how it considers women as cheap flesh. At the end of my talk, the girl asked for a future appointment and excused herself. Soon after, a young man came storming into my office and said violently, “How come such wicked person was admitted here?” “The job of a physician is to accept. He doesn’t typically see healthy people, does he?” I replied. “Of course, you advised her to wear Hijab!” “The issue is much bigger than that. There is the foundation that has to be laid. There is the Belief in Allah and the Hereafter. There is the hearing and the obeying of what was revealed in the Qur’an and the Sunnah, in addition to the pillars of worship and manners; the pillars that Islam cannot exist without…” He interrupted me saying, “All of this does not mean we don’t order her to wear Hijab.” “I wouldn’t like it if she came in a nun’s clothes while her heart is void of Allah. I taught her the basis that will help her to choose, on her own free will, to wear more decent clothes,” I calmly replied. He tried to interruptme again, so I said firmly, “I can’t drag Islam by its tail as you do. I lay the foundation and then start building and I usually achieve what I want with wisdom.” Two weeks later, the girl came back. She was wearing much more decent clothes with a scarf over her head. She resumed her questions and I resumed my teaching. Then I asked, “Why don’t you go to the nearest mosque to your home?” The girl answered that she hated the People of Religion and that she did not like to listen to them. “Why?” I asked. “They are hard-hearted, and they treat us with contempt and scorn.” (Muhammad al-Gazālī)
Semula, kata ‘radikal’ bermakna amat positif: menyeluruh, mendasar, menyentuh tingkatan akar, dan memenuhi. Tidak berlebihan bila kemudian kata ‘radikal’ memiliki tingkat keterbandingan yang dekat dengan kata ‘fundamental’ yang juga bermakna amat positif: mendasar, prinsipil, menyangkut pokok-pokok, menyeluruh, dan sangat penting. Dus, sejauh tidak berembel-embel ‘ekstrem’ atau ‘fanatik,’ gerakan dakwah radikal atau juga fundamental itu bukan hanya dapat dibenarkan melainkan justeru begitulah seharusnya setiap gerakan dakwah. Model dakwah radikal/fundamental yang tidak baik itu hanyalah ‘radikal-ekstrem’ atau ‘fundamentalis-fanatik.’
Sejumlah pemikir dakwah menyebut ekstremisme dan fanatisisme di lapangan dakwah itu lebih disebabkan oleh kepicikan beripikir dan kemiskinan wawasan. Syaikh Gazālī, sebagai misal, mengkritisi kalangan yang dikenal sebagai kelompok fundamentalis fanatik. Menurutnya, kelompok ini cenderung terperangkap dalam langkah-langkah dakwah reaktif dan emosional, baik saat berhadapan dengan kelompok Muslim lain yang berseberangan maupun saat menghadapi pihak luar Islam. Mengacu kepada Alquran (QS 3: 98-115), Gazālī percaya bahwa dakwah berwawasan mesti proaktif dan kritis-rasional- dialogis, baik dalam hubungannya dengan kelompok-kelompok internal Islam maupun dalam kontaknya vis-à-vis non Islam. Dakwah Islam tidak semestinya dilandaskan pada reaksi-reaksi emosional yang lebih mengedepankan ‘ammārah alih-alih imārah. Arus aktifisme Islam model ini lebih berakar pada impuls emosional berupa perasaan kalah, teralienasi, dan frustrasi (Fadl 2006: 117).
Sama halnya, cara-cara memahami hadis tidak boleh picik-literal melainkan harus mampu melihat korelasi dan korespondensi antara satu hadis dengan hadis lainnya, terutama hadis-hadis yang menggambarkan praktik Nabi (af’āl) dan, karenanya, bernilai taqrīrī (penetapan, penyetujuan). Pola pikir kelompok fanatik-hadis begitu sederhana dalam memahami riwayat-riwayat hadis sehingga menimbulkan fitnah yang tidak diinginkan. Dalam perspektif1 dakwah, setiap keping hadis mesti dipahami sesuai asbāb al-wurūd-nya yang khas dan diletakkan dalam konteks kekinian dengan segala kebaruannya. Cara ini tentu saja memungkinkan pemahaman hadis yang jauh melampaui cakupan literal yang seringkali sangat rigid dan kurang berwawasan (Periksa Gazālī 1996). Tanpa pendekatan ini, orang hanya akan terjebak pada aliran Islam literalisme, antirasionalisme, dan antiinterpretasi (Fadl 2006: 109).
Membaca sketsa dakwah fardiyyah Gazālī menghadapi wanita keturunan Arab yang besar di Perancis, semestinya kita dapat belajar bahwa Gazālī tengah mengedepankan dakwah radikal sementara si pemuda yang merasa “radikal” itu justeru tidak radikal dalam arti yang sesungguhnya. Fakta bahwa Gazālī lebih fokus pada isi kepala dan dada si wanita membuktikan bahwa pada tingkat substansi dakwah Gazālī bersifat radikal (menyentuh akar masalah). Tapi, cara-cara Gazālī mendakwahi si wanita itu benar-benar bijak dan moderat. Hingga di sini, model dakwah Gazālīan ini bisa disebut sebagai radikal-moderat.
Di pihak lain, cara dakwah si pemuda yang merasa-diri “radikal” itu justeru amat parsial, permukaan, dangkal, tidak fundamental dan tidak menyeluruh. Ia terlampau fokus pada bungkus kepala alih-alih pada isinya, sedangkal permukaan dada alih-alih pada isi hatinya. Ini cara dakwah yang cacat-kwadrat: sudah tidak radikal-fundamental malahan ekstrem pula. Kontras jauh dari pikiran si pemuda ini, dakwah radikal-fundamental sesungguhnya sama dengan dakwah strategis yang bergerak pada dataran makro dan mengacu pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Daftar Pustaka
Fadl, Khaled Muhammad Abou El. 2006. Selamatkan Islam dari Muslim Puritan. Jakarta: Serambi.
Gazālī, Muhammad. 1996. As-Sunnah an-Nabawiyyah bain Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Ḥadīṡ, Cet. XI. Kairo: Dār al-Syurūq. Charon, Joel M. 1979. Symbolic Interactionism: An Introduction, an Interpretation, an Integration. USA: Englewood Clifs.
1Menurut Joel M. Charon (1979: 6-7), Perspectives are not perceptions but a guide to our perceptions. They influence what we see. They are our “eyeglasses” we put on to see. (Perspektif itu bukan persepsi melainkan panduan bagi persepsi kita. Perspektif memengaruhi apa yang kita lihat. Perspektif adalah ‘kacamata’ kita yang kita kenakan untuk melihat.).