Teori-Teori Komunikasi
Dosen Pengampu:
Dr. H. Darajat Wibawa, S.Sos., M.Si., CMBC
Oleh:
Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, S.Sos., | 2230100017
Fani Agung Mulyani, S.Sos., | 2230100006
PASCA SARJANA
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2023 M / 1444 H
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, Alhamdulillah telah memungkinkan kami menyelesaikan makalah berjudul "Teori Pengaruh Media Massa terhadap Masyarakat dan Budaya." Tak lupa shalawat dan salam semoga selalu tercurah-limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarganya, sahabatnya, serta seluruh umat Muslim yang semoga mendapatkan syafaatnya di yaumil qiyamah.
Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah “Teori-Teori Komunikasi”. Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kami akan membahas beberapa teori yang berkaitan dengan pengaruh media massa terhadap masyarakat, seperti Teori Hegemoni Media, Teori Kajian Budaya, Teori Spiral Keheningan, Teori Agenda Setting, Teori Masyarakat Massa, Teori Masyarakat Informasi, Teori Marxis Klasik, Teori Politik Ekonomi, dan Teori Ekologi Media. Tujuan penulisan makalah ini adalah memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih baik tentang dampak media massa terhadap masyarakat dan budaya.
Kami sadar bahwa makalah ini masih perlu perbaikan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk meningkatkan kualitasnya di masa mendatang.
Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu serta memberikan bimbingan dan arahan selama penyusunan makalah ini, juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dan masukan berharga.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan masyarakat pada umumnya. Terima kasih.
| Bandung, 07 November 2023 | ||
|---|---|---|
| Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, S.Sos., |
DAFTAR ISI
KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIii
ABSTRAKiii
BAB I1
PENDAHULUAN1
A. Latar Belakang1
B. Rumusan Masalah2
C. Tujuan3
BAB II4
PEMBAHASAN4
A. Pengertian Media Massa4
B. Pengertian Masyarakat dan Budaya6
C. Teori-Teori Pengaruh Komunikasi Massa Terhadap Masyarakat dan Budaya6
1. Teori Hegemoni Media6
2. Teori Kajian Budaya9
3. Teori Spiral Keheningan10
4. Teori Agenda Setting15
5. Teori Masyarakat Massa17
6. Teori Masyarakat Informasi20
7. Teori Marxis Klasik21
8. Teori Politik Ekonomi23
9. Teori Ekologi Media25
D. Analisis Teori-Teori Komunikasi Massa Berdasarkan Metode Penelitian28
BAB III34
KESIMPULAN34
Kesimpulan34
DAFTAR PUSTAKA35
ABSTRAK
Media massa merupakan sarana komunikasi yang memiliki pengaruh yang besar terhadap masyarakat dan budaya. Media massa dapat mempengaruhi opini, sikap, perilaku, dan nilai publik dalam berbagai aspek sosial, politik, ekonomi, dan kultural. Teori-teori komunikasi massa merupakan kerangka konseptual yang digunakan untuk menjelaskan dan memahami fenomena komunikasi massa, termasuk pengaruhnya terhadap masyarakat dan budaya. Teori-teori komunikasi massa berasal dari berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan budaya. Teori-teori komunikasi massa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, seperti waktu munculnya (lama atau baru), tingkat kepentingannya (dasar atau tambahan), atau metode penelitiannya (kualitatif atau kuantitatif). Makalah ini bertujuan untuk mengkaji teori-teori komunikasi massa yang berkaitan dengan pengaruh media massa terhadap masyarakat dan budaya. Makalah ini juga bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang teori-teori tersebut, serta klasifikasinya berdasarkan metode penelitian. Makalah ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara media massa, masyarakat, dan budaya.
Kata Kunci: Media Massa, Masyarakat, Budaya, Teori Komunikasi Massa, Metode Penelitian.
ABSTRACT
Mass media is a means of communication that wields significant influence over society and culture. Mass media can shape public opinion, attitudes, behaviors, and values across various social, political, economic, and cultural aspects. Mass communication theories serve as conceptual frameworks used to explain and comprehend mass communication phenomena, including their impact on society and culture. These theories stem from various disciplines such as sociology, psychology, politics, economics, and culture. Mass communication theories can be classified based on several criteria, including their time of emergence (historical or contemporary), level of significance (fundamental or supplementary), or research methodology (qualitative or quantitative). This paper aims to examine mass communication theories related to the influence of mass media on society and culture. Additionally, it provides a general overview of these theories and categorizes them based on research methods. The goal of this paper is to offer deeper insights and understanding of the relationship between mass media, society, and culture.
Keywords: Mass Media, Society, Culture, Mass Communication Theories, Research Methods.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan signifikan dalam masyarakat. Kemunculan media sosial telah mengubah pola perilaku masyarakat, termasuk budaya, etika, dan norma yang ada. Indonesia, dengan jumlah penduduk yang besar dan keragaman kultur suku, ras, dan agama, memiliki potensi perubahan sosial yang besar. Hampir semua lapisan masyarakat Indonesia, dari berbagai kelompok usia, kini memiliki dan menggunakan media sosial sebagai salah satu alat untuk memperoleh dan menyampaikan informasi kepada publik.
Keberadaan media sosial telah memengaruhi kehidupan sosial di masyarakat. Perubahan-perubahan ini dapat mencakup perubahan dalam hubungan sosial, seperti pergeseran keseimbangan dalam hubungan sosial, dan perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat. Hal ini berdampak pada sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara berbagai kelompok dalam masyarakat.
Media massa adalah salah satu fenomena sosial yang memiliki pengaruh signifikan dalam kehidupan manusia. Media massa dapat dijelaskan sebagai sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi, hiburan, pendidikan, atau pesan persuasif kepada khalayak luas. Media massa mencakup berbagai jenis dan bentuk, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, film, internet, dan media sosial. Peran media massa sangat penting dalam membentuk opini, sikap, perilaku, dan nilai-nilai di kalangan public (Panuju, 2018).
Pengaruh media massa terhadap masyarakat dan budaya merupakan topik yang menarik dan relevan untuk dikaji. Masyarakat dapat dijelaskan sebagai sekelompok individu yang hidup bersama dalam suatu sistem sosial. Budaya adalah kumpulan gagasan, nilai-nilai, norma, simbol, bahasa, dan artefak yang dibagikan oleh anggota masyarakat. Interaksi antara masyarakat dan budaya saling memengaruhi, dan media massa juga menjadi bagian dari proses interaksi dan pengaruh ini.
Teori-teori komunikasi massa adalah kerangka konseptual yang digunakan untuk menjelaskan dan memahami komunikasi massa, serta pengaruhnya pada masyarakat dan budaya. Teori-teori ini berasal dari berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan budaya. Mereka dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu munculnya, tingkat kepentingannya, atau metode penelitian yang digunakan (Mukarom, 2020).
Teori-teori tentang pengaruh media massa pada masyarakat dan budaya memiliki berbagai perspektif. Beberapa melihat media massa sebagai alat dominasi ideologi oleh kelompok elit, yang lain menekankan makna dan interpretasi yang dibangun oleh audiens ketika mengonsumsi media massa. Ada yang berpendapat bahwa media massa dapat memengaruhi opini publik dengan menciptakan ketakutan di kalangan pandangan minoritas, atau dengan menentukan isu-isu yang penting bagi masyarakat melalui pemberian perhatian lebih pada isu tertentu. Sementara yang lain menganggap media massa sebagai alat manipulasi dan pengendalian sosial yang bisa merusak nilai-nilai tradisional, atau sebagai pendorong perubahan mendasar dalam masyarakat melalui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa teori fokus pada hubungan antara media massa dan struktur kelas dalam masyarakat kapitalis, sementara yang lain menganalisis media massa sebagai industri yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik. Terakhir, ada yang meneliti dampak media massa pada lingkungan fisik dan sosial manusia (Hidayat et al., 2022).
Dengan memahami teori-teori pengaruh media massa terhadap masyarakat dan budaya, kita dapat meraih pemahaman tentang bagaimana media massa memengaruhi pembentukan, pemeliharaan, atau perubahan budaya, dan sebaliknya, bagaimana peran masyarakat dan budaya dalam memengaruhi media massa. Dengan pemahaman ini, kita dapat menjadi konsumen media massa yang kritis dan cerdas, serta berpartisipasi dalam proses komunikasi massa yang demokratis dan beradab.
Makalah ini bertujuan untuk mengkaji teori-teori komunikasi massa yang berkaitan dengan pengaruh media massa pada masyarakat dan budaya. Tujuan utama makalah ini adalah memberikan gambaran umum tentang teori-teori tersebut, serta mengklasifikasikannya berdasarkan metode penelitian yang digunakan. Diharapkan makalah ini dapat memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara media massa, masyarakat, dan budaya.
B. Rumusan Masalah
- Apa itu Media Massa?
- Apa itu Masyarakat dan Budaya?
- Bagaimana Media Massa Memengaruhi Masyarakat dan Budaya?
- Apa saja Teori-Teori Pengaruh Media Massa terhadap Masyarakat dan Budaya?
- Bagaimana Teori-teori Pengaruh Media Massa terhadap Masyarakat dan Budaya dapat dikelompokkan berdasarkan faktor seperti usia (lama/baru), dasar (dasar/tidak), dan pendekatan (kualitatif/kuantitatif)?
C. Tujuan
- Untuk Menggambarkan Pengertian Media Massa.
- Untuk Menjelaskan Konsep Masyarakat dan Budaya dalam Konteks Media Massa.
- Untuk Menganalisis Dampak Media Massa pada Masyarakat dan Budaya.
- Untuk Menelaah Teori-Teori yang Memahami Pengaruh Media Massa pada Masyarakat dan Budaya.
- Untuk Mengkategorikan Teori-Teori Pengaruh Media Massa pada Masyarakat dan Budaya berdasarkan Kriteria Usia (lama/baru), Dasar (dasar/tidak), dan Pendekatan (kualitatif/kuantitatif).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Media Massa
Media massa merupakan hasil dari kemajuan teknologi dalam bidang informasi dan komunikasi yang mencakup berbagai bentuk komunikasi yang mampu mencapai audiens yang luas. Ini mencakup koran, majalah, radio, televisi, dan internet. Media massa memainkan peran penting dalam menyampaikan informasi dan hiburan kepada masyarakat, sekaligus mencerminkan identitas suatu masyarakat. Selain itu, media massa juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk opini dan perilaku masyarakat.
Dalam konteks bahasa, media mengacu pada alat komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Media juga dapat diartikan sebagai perantara atau penghubung. Media massa adalah alat komunikasi resmi yang digunakan untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat secara luas. Ini juga didefinisikan sebagai saluran, sarana, atau alat yang digunakan dalam proses komunikasi massa, yaitu komunikasi yang ditujukan kepada banyak orang (Hidayat et al., 2022).
Menurut Cangara (2002), media massa adalah alat yang digunakan dalam mengirimkan pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi (Cangara, 2016). Menurut Effendy (2000), media massa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari umumnya meliputi surat kabar, radio, televisi, dan film, yang berfungsi dalam bidang informasi, edukasi, dan rekreasi, atau dalam kata lain, sebagai sumber informasi, pendidikan, dan hiburan (Rakhmat, 2023).
Secara praktis, media massa adalah saluran untuk publikasi karya jurnalistik. Dalam media cetak seperti koran, tabloid, dan majalah, media massa berisi teks, tulisan, dan gambar yang mengandung pesan atau informasi aktual dan penting yang harus diketahui oleh masyarakat.
Dalam era globalisasi, media massa mengalami perkembangan dengan beradaptasi pada kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Media massa juga digunakan sebagai sarana dakwah Islam melalui televisi.
Beberapa teori yang berkaitan dengan pengaruh media massa pada masyarakat dan budaya telah dikembangkan oleh para ahli, seperti Teori Agenda Setting, Teori Hegemoni Media, Teori Kajian Budaya, Teori Spiral Keheningan, Teori Masyarakat Massa, Teori Masyarakat Informasi, Teori Marxis Klasik, Teori Politik Ekonomi, dan Teori Ekologi Media. Teori-teori ini membantu kita memahami bagaimana media massa memengaruhi masyarakat dan budaya, serta memberikan sudut pandang yang beragam terhadap fenomena media massa.
Karakteristik media massa adalah ciri-ciri atau sifat-sifat yang membedakan media massa dari bentuk komunikasi lainnya. Berdasarkan hasil pencarian web, beberapa karakteristik media massa adalah:
- Bersifat melembaga, artinya media massa dikelola oleh organisasi besar yang terdiri dari banyak orang dengan tugas dan fungsi yang berbeda.
- Bersifat satu arah, artinya media massa menyampaikan pesan tanpa adanya dialog atau umpan balik langsung dari khalayak.
- Bersifat meluas dan serempak, artinya media massa dapat menjangkau khalayak yang banyak dan tersebar di berbagai tempat pada waktu yang bersamaan.
- Bersifat terbuka, artinya media massa dapat diakses dan dikonsumsi oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang atau identitas khalayak.
- Menggunakan peralatan teknis atau mekanis, artinya media massa memerlukan alat-alat seperti radio, televisi, surat kabar, internet, dan lain-lain untuk menyebarkan pesan.
Jenis-jenis media massa adalah kategori atau kelompok media massa berdasarkan bentuk, isi, atau cara penyampaian pesan kepada khalayak. Menurut hasil pencarian web, ada tiga jenis media massa yang umum, yaitu:
- Media cetak: Media massa yang menggunakan gambar dan tulisan di atas kertas dalam penyampaian informasinya. Contoh media cetak adalah koran, majalah, tabloid, dan buletin. Media cetak memiliki karakteristik seperti bersifat statis, membutuhkan biaya produksi dan distribusi yang tinggi, dan memiliki daya tahan yang lama. ¹²³
- Media elektronik: Media massa yang menggunakan berbagai macam peralatan elektronik dalam penyampaian informasinya. Contoh media elektronik adalah radio, televisi, dan film. Media elektronik memiliki karakteristik seperti bersifat dinamis, membutuhkan biaya produksi dan distribusi yang rendah, dan memiliki daya tahan yang singkat. ¹²⁴
- Media siber: Media massa yang menggunakan internet sebagai platform dalam penyampaian informasinya. Contoh media siber adalah website, portal berita, blog, dan media sosial. Media siber memiliki karakteristik seperti bersifat interaktif, membutuhkan biaya produksi dan distribusi yang sangat rendah, dan memiliki daya tahan yang bervariasi. ¹²³⁴
B. Pengertian Masyarakat dan Budaya
Masyarakat dan budaya adalah dua konsep yang saling terkait dan saling memengaruhi. Masyarakat merujuk kepada sekelompok individu yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan terikat oleh norma, nilai, dan kepentingan bersama. Budaya, di sisi lain, mencakup segala hal yang terkait dengan budi dan akal manusia, seperti teknologi, seni, agama, ideologi, filsafat, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Budaya mencakup hasil karya, perasaan, dan kreativitas dari Masyarakat (Hidayat et al., 2022).
Media memiliki potensi memengaruhi masyarakat dan budaya karena menjadi sarana dan saluran komunikasi kepada publik. Media memberikan informasi, pendidikan, hiburan, dan pesan persuasif yang dapat memengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak masyarakat. Media juga dapat membentuk opini publik, mengubah perilaku, menyebarkan nilai-nilai, dan membantu menciptakan identitas masyarakat. Selain itu, media dapat menjadi alat untuk memicu perubahan sosial atau mempertahankan status quo masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan budaya untuk bersikap kritis dan selektif dalam mengonsumsi media agar terhindar dari pengaruh negatif yang mungkin muncul.
C. Teori-Teori Pengaruh Komunikasi Massa Terhadap Masyarakat dan Budaya
Teori pengaruh komunikasi massa terhadap masyarakat dan budaya adalah serangkaian konsep yang menjelaskan bagaimana media massa memiliki kemampuan untuk memengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku masyarakat. Selain itu, media massa juga dapat membentuk atau mengubah nilai-nilai, norma, dan identitas budaya. Beberapa teori yang berkaitan dengan pengaruh media massa ini meliputi Teori Hegemoni Media, Teori Kajian Budaya, Teori Spiral Keheningan, Teori Agenda Setting, Teori Masyarakat Massa, Teori Masyarakat Informasi, Teori Marxis Klasik, Teori Politik Ekonomi, dan Teori Ekologi Media. Melalui pemahaman teori-teori ini, kita dapat menggali lebih dalam tentang bagaimana media massa berperan dalam membentuk lanskap budaya dan sosial kita.
1. Teori Hegemoni Media
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hegemoni adalah pengaruh kepemimpinan, dominasi, kekuasaan, dan sebagainya dalam suatu negara atas negara lain (atau negara bagian). Konsep hegemoni berfungsi untuk menyaksikan atau menampilkan usaha dalam mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Hegemoni sering disebut sebagai dominasi oleh satu kelompok kepada kelompok lain tanpa adanya suatu paksaan, sehingga dapat diterima dengan baik.
Teori hegemoni digagas oleh Antonio Gramsci, seorang filsuf, penulis, dan teoretikus politik Italia. Menurut Gramsci, teori hegemoni mengacu pada dominasi nilai-nilai kehidupan, prinsip-prinsip religius dan politik, hubungan sosial, makna intelektual, moral, dan budaya yang dilakukan oleh kelompok penguasa terhadap Masyarakat (Kustiawan et al., 2022).
Dengan kata lain, tindakan ini adalah suatu proses doktrin yang dilakukan dengan cara halus oleh kelompok penguasa kepada kelompok masyarakat lainnya, sehingga kelompok tersebut tidak merasa tertindas, melainkan menganggap apa yang diterapkan oleh penguasa sebagai sesuatu yang baik untuk kelompoknya dan diterima secara wajar (common sense). Hegemoni memengaruhi pemikiran melalui penggunaan bahasa atau tata bahasa produksi yang lebih intelektual, sehingga mereka yang tidak sependapat akan menganggap pandangan mereka sebagai pandangan yang salah atau menyimpang.
Hegemoni dalam Komunikasi
Teori hegemoni dalam komunikasi massa berkaitan dengan media massa sebagai sarana yang digunakan oleh penguasa untuk menaklukkan secara halus suatu kelompok (khalayak) dengan melancarkan sejumlah falsafah, kebudayaan, moralitas mereka sendiri. Media massa bukan merupakan institusi yang bersifat netral karena setiap media memiliki kepentingan tersendiri untuk menciptakan hegemoni dalam sebuah informasi. Tujuan utama teori hegemoni dalam komunikasi massa adalah untuk menyetarakan pandangan khalayak menjadi pandangan yang sepaham dengan media tersebut (Kustiawan et al., 2022).
Gramsci menekankan bahwa teori hegemoni dalam komunikasi massa menimbulkan pertarungan untuk merebut penerimaan publik terhadap pandangan suatu media. Strategi dalam menjalankan teori ini adalah nalar awam khalayak. Khalayak yang awam adalah khalayak yang tingkat pengetahuannya rendah terutama dalam bidang politik, sehingga khalayak awam dapat menerima semua informasi dari media ke dalam pikirannya. Pemikiran yang dipengaruhi media berkaitan ideologi, kesadaran, dan hegemoni kemudian membentuk pola hubungan antara media dan massa (Ambar, 2017).
Menurut Gramsci, faktor utama yang mempengaruhi teori hegemoni dalam komunikasi massa adalah faktor ideologi dan politik karena keduanya dapat menciptakan, mempengaruhi, mengendalikan, membentuk pola pikir masyarakat. Faktor lainnya adalah mempengaruhi dalam bentuk kekerasan seperti paksaan yang diberikan penguasa kepada khalayak, sanksi atau hukuman yang diberlakukan menakutkan, kebiasaan khalayak dalam mengikuti informasi atau hal yang baru, kesadaran dan persetujuan dengan unsur-unsur dalam masyarakat.
Gramsci berpendapat bahwa ada dua kategori intelektual dalam hegemoni, yaitu intelektual organik dan intelektual tradisional. Intelektual organik adalah tokoh moral dan intelektual yang secara dominan menentukan arah konflik, politik, dan wacana yang berkembang di masyarakat dengan menggunakan bahasa sebagai landasannya. Sedangkan, intelektual tradisional adalah seorang yang terlahir dari bagian kelas menengah atas. Misalnya seorang yang dididik dan dibesarkan dari keluarga penguasa.
Beberapa contoh penerapan teori hegemoni media dalam komunikasi massa adalah sebagai berikut:
- Media massa dapat digunakan untuk mempromosikan agenda politik tertentu dengan cara memberitakan hal-hal yang menguntungkan bagi pihak yang berkuasa, sementara menyembunyikan atau menjelek-jelekkan hal-hal yang merugikan bagi pihak yang berkuasa. Misalnya, media massa dapat menayangkan iklan-iklan yang menampilkan citra positif dari calon presiden yang didukung oleh penguasa, sementara mengabaikan atau mencela calon presiden lain yang bersaing dengan penguasa.
- Media massa dapat digunakan untuk membentuk opini publik dengan cara memilih dan menafsirkan fakta-fakta sesuai dengan sudut pandang yang dikehendaki oleh penguasa. Misalnya, media massa dapat melaporkan tentang demonstrasi buruh dengan cara yang negatif, seperti menyoroti kerusuhan, kerugian ekonomi, atau gangguan ketertiban umum, sementara mengesampingkan tuntutan-tuntutan atau aspirasi-aspirasi dari buruh itu sendiri.
- Media massa dapat digunakan untuk menyebarluaskan nilai-nilai dan kebudayaan tertentu yang dianggap superior atau universal oleh penguasa, sementara menggusur atau mengasingkan nilai-nilai dan kebudayaan lain yang dianggap inferior atau lokal oleh penguasa. Misalnya, media massa dapat menampilkan program-program hiburan yang menggambarkan gaya hidup konsumtif, individualis, atau hedonis sebagai sesuatu yang diidam-idamkan oleh masyarakat, sementara mengabaikan atau merendahkan gaya hidup sederhana, kolektif, atau religius sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman atau tidak modern.
2. Teori Kajian Budaya
Kajian budaya merupakan tinjauan teoritis yang berfokus pada bagaimana kebudayaan itu dipengaruhi oleh kelompok yang berkuasa serta dominan. Kajian kebudayaan berakar pada politik, tetapi bukan pada pengertian pemilu politik secara awam yang dipahami saat ini.
Dikutip dari Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi (2017) karya Richard West & Lynn H. Turner, teori kajian budaya merupakan teori karya Stuart Hall yang mengadopsi teri kritis Marx. Tujuan teori ini yaitu mengungkap hubungan kekuasaan serta mengkaji bagaimana hubungan tersebut memengaruhi berbagai bentuk kebudayaan (sosial-politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, hukum, dan lain-lain) (West & Turner, 2017).
Kajian budaya menekankan bahwa media menggunakan orang-orang yang dominan dan memiliki karakteristik kuat untuk memengaruhi orang-orang dengan karakteristik lemah.
Asumsi-Asumsi dari Kajian Budaya
Kajian budaya pada dasarnya berpusat pada bagaimana sekumpulan kaum elite, misalnya media, menggunakan kekuatan mereka atas kelompok minoritas. Teori tersebut berakar pada beberapa asumsi tentang kebudayaan dan kekuasaan, di antaranya:
- Kebudayaan terbentuk dan membentuk seluruh aspek perilaku manusia.
- Individu merupakan bagian dari struktur hierarkis kekuasaan
Berbagai jenis norma, ide, nilai, dan bentuk pemahaman dalam masyarakat yang dapat membantu individu untuk menginterpretasikan realitas mereka disebut sebagai bagian dari ideologi kebudayaan. Ideologi merupakan sebuah kerangka berpikir yang digunakan untuk menjelaskan mengenai eksistensi kita sebagai manusia. Sumber utama kekuatan di dalam masyarakat adalah media itu sendiri. Media berperan sangat besar dalam kebudayaan.
Teori Kajian Budaya adalah sebuah teori yang mengkaji fenomena budaya dari berbagai perspektif disiplin ilmu, seperti kritik sastra, sosiologi, sejarah, kajian media, dan lain-lain. Teori ini berfokus pada bagaimana budaya dipengaruhi oleh kelompok yang berkuasa dan dominan, serta bagaimana budaya mempengaruhi perilaku manusia. Teori ini juga menelaah hubungan antara budaya dan politik, ideologi, kekuasaan, identitas, perlawanan, dan perubahan sosial. Teori ini berasal dari pemikiran-pemikiran Marxis, terutama Antonio Gramsci, yang mengembangkan konsep hegemoni sebagai bentuk penguasaan melalui konsensus dan persuasi. Teori ini juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran lain, seperti Michel Foucault, Roland Barthes, Jacques Derrida, Edward Said, Stuart Hall, dan lain-lain (West & Turner, 2017).
Beberapa contoh penerapan teori kajian budaya dalam kajian komunikasi adalah sebagai berikut:
- Teori kajian budaya dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana media massa menggunakan orang-orang yang dominan dan memiliki karakteristik kuat untuk memengaruhi orang-orang dengan karakteristik lemah. Misalnya, teori ini dapat digunakan untuk mengkritisi bagaimana media massa menampilkan citra-citra wanita yang ideal sesuai dengan standar kecantikan yang ditetapkan oleh patriarki, sementara mengabaikan atau mengejek citra-citra wanita yang berbeda atau menyimpang dari standar tersebut.
- Teori kajian budaya dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana budaya populer sebagai produk media massa dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan identitas, nilai-nilai, dan kepentingan dari kelompok-kelompok subordinat yang memiliki pengalaman, latar belakang, dan kebudayaan yang berbeda dengan kelompok dominan. Misalnya, teori ini dapat digunakan untuk mengkaji bagaimana musik rap sebagai bentuk budaya populer dapat menjadi medium untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi dan perlawanan-perlawanan dari kaum minoritas etnis atau rasial.
- Teori kajian budaya dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana media massa dapat menjadi agen perubahan sosial dengan cara menyebarkan pesan-pesan yang kritis, edukatif, atau inspiratif kepada masyarakat. Misalnya, teori ini dapat digunakan untuk menilai bagaimana media massa dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam isu-isu lingkungan hidup, hak asasi manusia, demokrasi, dan lain-lain
3. Teori Spiral Keheningan
Spiral Keheningan merupakan salah satu teori komunikasi massa. Teori spiral keheningan ini biasa disebut sebagai “Spiral of Silence Theory” atau “Teori Spiral Kesunyian”. Secara bahasa, teori spiral keheningan diambil dari kata “Spiral” yang berarti suatu perputaran lingkaran dan “Keheningan” yang berarti sunyi. Sebenarnya, teori ini merupakan salah satu dari teori komunikasi politik (Ambar, 2017).
Dalam ilmu komunikasi, teori keheningan adalah salah satu dari teori komunikasi massa di mana seseorang memiliki opini dari berbagai isu namun terdapat keraguan dan ketakutan untuk memberikan opininya karena merasa terisolasi, sehingga opini tidak bersifat terbuka alias tertutup.
Dengan adanya isolasi akan opini setiap individu, maka orang tersebut mencoba mencari dukungan yang memihak pada opininya tersebut. Hal ini menyebabkan orang tersebut menjadi mayoritas yang awalnya hanya minoritas atau terkucilkan akan opininya. Kebanyakan orang mencari dukungan akan opininya tersebut melalui media massa atau mendekati orang yang sekiranya berpengaruh dalam kemasyarakatannya seperti seorang tokoh masyarakat atau public figure.
Akan tetapi, jika opini belum mendapatkan dukungan, maka orang tersebut akan berkomunikasi dengan menggunakan Spiral keheningan yang mana ia menyembunyikan opininya dan mau tidak mau menerima opini yang mayoritas.
Sejarah Teori Keheningan
Teori spiral keheningan dikembangkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann pada tahun 1973 dan 1980. Meskipun Noelle-Neumann adalah seorang sosiolog dan jurnalis Jerman. Teori ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana opini publik terbentuk, dan fokus utamanya adalah pada opini public (Kustiawan et al., 2022).
Teori ini terinspirasi oleh pengalaman Noelle-Neumann saat hidup pada era Nazi Jerman, di mana banyak orang merasa takut untuk mengungkapkan pendapat mereka yang berlawanan dengan rezim Nazi. Sebagai hasilnya, banyak individu yang merasa terisolasi dengan pandangan mereka mencari dukungan melalui media massa. Media massa memegang peran penting sebagai penyambung lidah masyarakat secara luas. Selain itu, media massa memiliki pengaruh dalam mengatur narasi dan opini publik.
Dua Asumsi mengenai Opini
Dalam teori spiral keheningan, situasi keminoritasan tidak selalu terjadi; dalam beberapa kasus, mayoritas masyarakat bisa merasakan efeknya, terutama ketika media mendukung sudut pandang tertentu yang sejalan dengan opini mayoritas. Namun, media tidak sembarangan dalam mendukung suatu opini, mereka secara cermat mempertimbangkan apakah opini tersebut layak untuk didukung.
Teori ini masih bersumber dari disiplin ilmu sosiopsikologi karena mencakup faktor-faktor psikologis dan situasi sosial dalam masyarakat. Teori ini menarik bagi masyarakat karena mencerminkan keinginan umum untuk menghindari keterpurukan dan keterasingan dalam interaksi sosial.
Pada dasarnya, teori spiral keheningan bergantung pada bagaimana individu mengharapkan opini mereka akan diterima oleh masyarakat. Dalam teori ini, terdapat dua asumsi utama: opini yang diterima dan opini yang tidak diterima oleh masyarakat, serta kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan persepsi masyarakat terhadap suatu opini.
Menurut Saverin dan Tankard (2001), manusia cenderung menggunakan indera semi statistik (quasi-statistical sense) untuk menilai opini dan perilaku mana yang sesuai atau tidak sesuai dengan norma sosial di lingkungan mereka, serta opini dan perilaku mana yang mendapatkan dukungan atau kehilangan kekuatan.
Penting untuk diingat bahwa opini tidak selalu perlu disampaikan secara lisan; seringkali, opini dapat disuarakan melalui tindakan seperti menempel stiker di berbagai tempat atau dengan memasang pamflet yang mencerminkan pandangan kita. Dalam teori spiral keheningan, beragam cara pengungkapan opini diakui sebagai contoh dalam menyampaikan pendapat. Seperti yang dikatakan oleh Littlejohn (1996), "Kita berani melakukannya karena kita yakin bahwa orang lain juga dapat menerima pandangan kita."
Opini dan Masyarakat
Dalam menghadapi berbagai isu yang dianggap kontroversial atau berpotensi memecah kerukunan, kesan tentang opini tersebut akan terbentuk. Masyarakat berusaha untuk menentukan apakah opini tersebut didukung oleh mayoritas atau minoritas, dan sejalan atau tidak sejalan dengan pandangan mereka.
Jika opini mayoritas tidak sejalan dengan pandangan masyarakat, maka sering kali masyarakat memilih untuk diam dan berada di kalangan minoritas. Namun, semakin lama masyarakat diam, semakin banyak sudut pandang yang tidak terungkap, dan diamnya masyarakat akan berkepanjangan.
Spiral keheningan pada dasarnya muncul karena pengucilan terhadap kelompok minoritas. Littlejohn (1996) mengutip Neumann dengan menyatakan, "Mengikuti arus mungkin lebih nyaman, tetapi hanya jika anda tidak bersedia menerima apa yang dianggap sebagai pandangan yang diterima secara umum. Setidaknya, Anda dapat berdiam diri agar orang lain dapat menerima Anda" (Heru, 2017).
Neumann berusaha menghubungkan peran media massa dalam pembentukan opini publik. Banyak mahasiswa hingga saat ini menggunakan teori ini dalam penelitian ilmu komunikasi massa. Banyak yang menyimpulkan bahwa kelompok minoritas perlu merahasiakan pendapat mereka dari kelompok mayoritas.
Masyarakat pada umumnya tidak ingin merasa terpinggirkan atau diasingkan dalam kelompok. Mereka ingin berinteraksi dengan orang lain dan merasa diterima. Mereka tidak ingin merasa sendirian meskipun tetap mempertahankan keyakinan mereka.
Oleh karena itu, masyarakat sering kali belajar tentang pandangan yang ada di lingkungannya dan mencari tahu opini mana yang lebih populer di komunitas mereka. Namun, karena keterbatasan waktu, banyak masyarakat yang cenderung menerima opini yang tidak didukung oleh media massa, dan mereka merasa terisolasi saat ingin mengungkapkan pendapat mereka kepada publik. Padahal, opini minoritas pun akhirnya bisa menjadi mayoritas seiring berjalannya waktu.
Hubungan Media dengan Opini
Sebagian besar masyarakat sulit membedakan dan menyangkal pengaruh media terhadap pandangan seseorang, walaupun opini publik sebenarnya merupakan pandangan pribadi. Hal ini disebabkan karena adanya individu yang ‘tidak berdaya’ di hadapan media yang dikarenakan dua alasan, di antaranya:
- Sulitnya mendapatkan publisitas suatu sudut pandang, dan Fitnah dari media yang disebut sebagai pillory function fungsi pasungan
- Media yang pada umumnya menonjolkan suatu opini membuat masyarakat sulit untuk membedakan antara pandangan yang diperoleh dari media dengan pandangan yang diperoleh dari sumber lain selain media.
Neolle-Neumann (1973) mengemukakan bahwa spiral keheningan mengajak kita kembali kepada teori media massa yang perkasa, yang mempengaruhi hampir setiap orang dengan cara yang sama. Saverin dan Tankard (2001) menyampaikan tiga cara media massa dalam mendistribusikan opini publik, di antaranya:
- Media massa membentuk kesan tentang opini yang dominan.
- Media masa membentuk kesan tentang opini mana yang sedang meningkat.
- Media masa membentuk kesan tentang opini mana yang dapat disampaikan di muka umum tanpa menjadi tersisih.
Sehingga teori spiral keheningan lebih berfokus pada suatu pandangan seseorang yang telah didefinisikan oleh media. Pada umumnya, kebanyakan orang akan memilih diam ketika mereka merasa berada di lingkungan minoritas dan merasa pendapat mereka telah dibatasi. Karena mereka merasa enggang untuk menyampaikan pendapat mereka dan takut dikucilkan. Sedangkan orang yang memiliki sudut pandang mayoritas akan lebih banyak bersuara dan berkoar.
Seperti halnya begini, ada si A yang berpendapat bahwa bumi itu datar dan si B berpendapat bahwa bumi itu bulat. Namun selama ini, kebanyakan orang menganggap bahwa bumi itu bulat, sehingga si B lebih mendominasi untuk bersuara dan si A lebih memilih untuk diam karena takut dikucilkan oleh orang lain.
Disisi lain, terdapat orang yang tidak terpengaruh akan adanya spiral keheningan yang disebut sebagai avant garde dan hard core. Avant grade merupakan orang yang merasa bahwa posisi mereka akan semakin kuat, sedangkan hard core merupakan orang-orang yang selalu menentang apapun konseskuensinya.
Teori Spiral Keheningan, yang dikembangkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann, adalah teori komunikasi yang menekankan bagaimana persepsi individu tentang opini publik dapat mempengaruhi kecenderungan mereka untuk berbicara atau tetap diam tentang suatu isu. Teori ini berdasarkan beberapa asumsi utama:
- Ketakutan Isolasi: Individu memiliki ketakutan akan isolasi sosial, yang mendorong mereka untuk mengamati opini yang dominan dalam masyarakat dan menyesuaikan pandangan mereka agar sesuai dengan opini tersebut.
- Penilaian Lingkungan: Orang cenderung menilai iklim opini publik sebelum mengungkapkan pandangan mereka, terutama pada isu kontroversial.
- Dominasi Opini Mayoritas: Ketika individu merasakan bahwa pendapat mereka sejalan dengan mayoritas, mereka lebih cenderung untuk berbicara; sebaliknya, jika pendapat mereka bertentangan, mereka cenderung untuk diam.
Teori ini menjelaskan bahwa media massa memainkan peran penting dalam membentuk persepsi tentang apa yang merupakan opini mayoritas atau minoritas. Media dapat memperkuat spiral keheningan dengan memberikan lebih banyak perhatian kepada opini yang dianggap dominan, sementara mengabaikan atau memberikan sedikit perhatian kepada opini minoritas. Hal ini dapat menyebabkan individu dengan pandangan minoritas merasa terisolasi dan kurang bersedia untuk berbicara.
Contoh dari teori ini dapat dilihat dalam peliputan media terhadap isu politik atau sosial di mana satu sudut pandang mendapatkan lebih banyak eksposur daripada yang lain, sehingga menciptakan persepsi bahwa itu adalah pendapat mayoritas. Akibatnya, orang-orang yang memiliki pandangan berbeda mungkin merasa tidak nyaman atau takut untuk mengungkapkan pendapat mereka karena takut akan reaksi negatif atau isolasi sosial.
Teori Spiral Keheningan juga relevan dalam konteks media sosial di mana “echo chambers” dan “filter bubbles” dapat memperkuat pandangan yang sudah ada dan mengurangi eksposur terhadap pandangan yang berbeda. Hal ini dapat memperdalam polarisasi dan kesenjangan dalam masyarakat.
4. Teori Agenda Setting
Teori agenda setting membicarakan tentang peran besar media massa dalam menentukan agenda individu atau kelompok, khususnya mereka yang terkena informasi dari siaran media massa.
Dalam komunikasi massa, teori agenda setting cukup sering digunakan untuk membahas bagaimana efek media massa terhadap publik atau khalayak luas.
Pengertian teori agenda setting
Sebagaimana mengutip dari jurnal Teori Agenda Setting dalam Ilmu Komunikasi (2018) karya Elfi Yanti Ritonga, Bernard C. Cohen mendefinisikan teori agenda setting sebagai berikut:
“Teori agenda setting adalah teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran, yang mampu mentransfer dua elemen, yakni kesadaran serta informasi ke dalam agenda publik. Caranya dengan mengarahkan kesadaran dan perhatian publik pada isu yang dianggap penting oleh media massa” (Ritonga, 208 C.E.).
Menurut Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, teori agenda setting adalah suatu teori yang menyatakan bahwa media memiliki peran dalam membentuk gambaran atau menonjolkan isu-isu yang dianggap penting dalam pikiran masyarakat, karena media harus selektif dalam pelaporan berita.
Lebih lanjut, Littlejohn dan Karen A. Foss mengungkapkan bahwa media, sebagai penjaga gerbang (gatekeeping) informasi, memiliki kemampuan untuk membuat keputusan tentang apa yang harus dilaporkan dan bagaimana cara melaporkannya. Singkatnya, apa yang diketahui oleh masyarakat pada suatu waktu tertentu merupakan hasil dari fungsi penjagaan gerbang (gatekeeping) oleh media.
Awal mula munculnya teori agenda setting
Menurut Khoirul Muslimin dalam Buku Ajar Komunikasi Politik (2020), teori agenda setting diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw, pada 1968, dalam penelitian tentang kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat.
Penelitian tersebut berhasil menemukan hubungan antara penekanan berita dengan bagaimana berita tersebut dinilai tingkatannya oleh pemilih. Hasil penelitian ini kemudian menjadi hipotesis teori agenda setting, dan menjadi awal mula kelahiran teori ini.
Asumsi teori agenda setting
Asumsi dalam teori agenda setting adalah bahwa jika media memberikan penekanan pada suatu peristiwa, media tersebut akan memengaruhi audiens sehingga menganggap peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang penting. Secara sederhana, apa yang dianggap penting oleh media akan juga dianggap penting oleh masyarakat.
Dalam bukunya yang berjudul "Komunikasi Penyuluhan Pembangunan" (2017), Wasis Sarjono menjelaskan bahwa dalam teori agenda setting, media diasumsikan memiliki pengaruh yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini terkait dengan proses pembentukan pemahaman, bukan perubahan sikap atau pendapat.
Ada dua asumsi mendasar dalam teori agenda setting, yaitu:
- Pers dan media massa tidak hanya mencerminkan kenyataan, melainkan mereka juga menyaring dan membentuk isu-isu.
- Media massa menampilkan sejumlah isu dan memberikan penekanan lebih pada beberapa isu tertentu, yang selanjutnya memberi kesempatan kepada publik untuk menentukan isu mana yang mereka anggap lebih penting daripada yang lain.
Setiap media memiliki potensi uniknya sendiri dalam membentuk dan membangun potensi agenda setting-nya. Pada dasarnya, kunci utama teori agenda setting adalah dalam penentuan proporsi perhatian yang diberikan kepada suatu isu atau peristiwa dalam proses gatekeeping. Pembentukan persepsi publik adalah upaya yang dilakukan oleh pihak media melalui pemberian proporsi pada setiap masalah.
Misalnya menonjolkan suatu isu. Penonjolan ini memperlihatkan perbedaan atensi, yang kemudian memberi pengaruh pada kognisi (pengetahuan dan citra) sebuah peristiwa atau isu di mata khalayak.
Beberapa contoh penerapan teori agenda setting dalam komunikasi massa adalah sebagai berikut:
- Media massa dapat digunakan untuk mempromosikan agenda politik tertentu dengan cara memberitakan hal-hal yang menguntungkan bagi pihak yang didukung oleh media, sementara menyembunyikan atau menjelek-jelekkan hal-hal yang merugikan bagi pihak yang bersaing dengan media. Misalnya, media massa dapat menayangkan iklan-iklan yang menampilkan citra positif dari calon presiden yang didukung oleh media, sementara mengabaikan atau mencela calon presiden lain yang bersaing dengan media.
- Media massa dapat digunakan untuk membentuk opini publik dengan cara memilih dan menafsirkan fakta-fakta sesuai dengan sudut pandang yang dikehendaki oleh media. Misalnya, media massa dapat melaporkan tentang pandemi Covid-19 dengan cara yang positif, seperti menyoroti upaya pemerintah, vaksinasi, atau pemulihan ekonomi, sementara mengesampingkan dampak negatif, seperti kematian, penularan, atau kesulitan masyarakat.
- Media massa dapat digunakan untuk menyebarluaskan nilai-nilai dan kebudayaan tertentu yang dianggap superior atau universal oleh media, sementara menggusur atau mengasingkan nilai-nilai dan kebudayaan lain yang dianggap inferior atau lokal oleh media. Misalnya, media massa dapat menampilkan program-program hiburan yang menggambarkan gaya hidup konsumtif, individualis, atau hedonis sebagai sesuatu yang diidam-idamkan oleh masyarakat, sementara mengabaikan atau merendahkan gaya hidup sederhana, kolektif, atau religius sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman atau tidak modern.
5. Teori Masyarakat Massa
Giner (1979) mengemukakan bahwa Teori Masyarakat Massa adalah teori yang menekankan ketergantungan timbal-balik antara institusi yang memegang kekuasaan dan integrasi media terhadap sumber kekuasaan sosial dan otoritas. Dengan demikian, isi media cenderung melayani kepentingan pemegang kekuasaan politik dan ekonomi (Ambar, 2017). Namun, media tetap memiliki kecenderungan yang membantu publik dalam menerima keberadaannya sebagaimana adanya.
Media dilihat memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membentuk persepsi dunia sosial dan memanipulasi tindakan secara tidak langsung, namun sangat efektif. Kelompok masyarakat elit yang memegang kekuasaan dapat memanipulasi media untuk menyajikan berita yang menguntungkan mereka kepada masyarakat. Bahkan, mereka dapat memutar balik fakta terkait isu-isu yang berkaitan dengan pemerintahan mereka agar masyarakat merasa seolah-olah isu tersebut tidak relevan. Dengan demikian, teori ini menganggap bahwa media memiliki pengaruh negatif yang dapat merusak kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat memerlukan pertahanan terhadap pengaruh-pengaruh media tersebut.
Asumsi-asumsi teori masyarakat massa adalah sebagai berikut:
- Media dipandang sebagai sesuatu yang berpotensi membahayakan, memiliki kekuatan besar dalam masyarakat, dan oleh karena itu perlu dilakukan pembersihan atau restrukturasi total.
- Media memiliki kekuatan untuk secara langsung menjangkau dan memengaruhi pemikiran rata-rata orang.
- Ketika pemikiran orang sudah terpengaruh oleh media, semua konsekuensinya bersifat negatif, yang dapat mengakibatkan kerusakan pada kehidupan individu dan masalah-masalah sosial yang meluas.
- Rata-rata orang mudah menyalahkan media karena mereka telah terputus atau diisolasi dari institusi sosial tradisional yang sebelumnya melindungi mereka dari manipulasi.
- Situasi sosial yang chaotic yang diberitakan oleh media akan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan, karena terjadi perubahan pada kekuatan kontrak sosial dalam sistem totaliter.
- Media massa dapat mengurangi nilai bentuk-bentuk budaya tertinggi dan berpotensi menyebabkan kemunduran peradaban secara umum.
Teori Masyarakat Massa sangat erat kaitannya dengan budaya massa, dan teori-teori baru menekankan ide-idenya tentang budaya pop. Media sebenarnya tidak menghilangkan budaya, tetapi justru dapat berperan di dalamnya, dan kadang-kadang perannya bisa kontraproduktif terhadap perubahan budaya. Terdapat dua konsep sosiologi yang berkaitan erat dengan masyarakat massa, konsep ini dikemukakan oleh Ferdinand Tönnies, yaitu konsep "Gemeinschaft" yang mewakili budaya-budaya tradisional, dan "Gesellschaft" yang mewakili masyarakat industri modern.
McQuail (1987) menganalisis relevansi teori ini dengan konsep kekuasaan dan integrasi. Relevansi dengan konsep integrasi: Teori masyarakat massa berangkat dari pandangan bahwa para anggota masyarakat tidak terintegrasi, atau setidaknya tidak terintegrasi dengan baik. Inti dari konsep masyarakat massa sebenarnya mencakup dimensi ketidakintegrasian, kurangnya saling mengenal satu sama lain, dan organisasi yang cenderung tidak terstruktur.
Relevansi dengan konsep kekuasaan: Teori ini menunjukkan bahwa media dapat dikendalikan atau dikelola secara monopoli dan dijadikan sebagai alat utama yang efektif dalam mengorganisasi massa. Media massa sering menjadi corong penguasa, pemberi pandangan dan instruksi, serta sumber kepuasan jiwa. Media tidak hanya membentuk ketergantungan warga masyarakat terhadap media dalam pembentukan pendapat, tetapi juga dalam hal penciptaan identitas dan kesadaran.
Teori Masyarakat Massa adalah teori yang menekankan pada ketergantungan timbal balik antara institusi yang memegang kekuasaan dan integrasi media terhadap sumber kekuasaan sosial dan otoritas. Teori ini, yang dikemukakan oleh Giner pada tahun 1979, berpendapat bahwa isi media cenderung melayani kepentingan pemegang kekuasaan politik dan ekonomi, sehingga media seringkai tidak menyajikan pandangan kritis atau alternatif terhadap masalah-masalah kehidupan.
Teori ini juga mengkritik bagaimana media massa dapat mengurangi nilai budaya tertinggi dan menyebabkan kemunduran peradaban secara umum. Dalam konteks Marxisme, media dilihat sebagai alat produksi yang dimonopoli oleh kelas kapitalis untuk menyebarkan ide dan cara pandang kelas penguasa, sementara menolak ide lain yang dapat menciptakan perubahan atau kesadaran kelas pekerja.
Beberapa contoh penerapan teori masyarakat massa dalam kajian media adalah:
- Studi tentang propaganda yang dilakukan oleh media massa pada masa Perang Dunia I dan II, yang menunjukkan bagaimana media massa dapat menyampaikan pesan-pesan yang diinginkan oleh pengirim kepada penerima secara langsung, tanpa ada hambatan atau resistensi dari penerima. Studi ini menggunakan teori "jarum suntik" (hypodermic needle theory), yang merupakan salah satu teori dalam masyarakat massa.
- Studi tentang hubungan antara media massa dan struktur kelas dalam masyarakat kapitalis, yang menunjukkan bagaimana media massa merupakan alat produksi yang dimiliki dan dikendalikan oleh kelas kapitalis. Mereka menggunakan media massa untuk mengeksploitasi kelas pekerja secara material dan ideologis. Studi ini menggunakan teori marxis klasik, yang juga termasuk dalam kerangka teori masyarakat massa.
- Studi tentang peran media massa dalam masyarakat modern, yang menunjukkan bagaimana media massa memiliki hubungan timbal balik dengan institusi yang memegang kekuasaan dan otoritas. Media massa cenderung melayani kepentingan pemegang kekuasaan politik dan ekonomi. Studi ini mengacu pada teori masyarakat massa yang dikemukakan oleh Giner (1979) sendiri.
6. Teori Masyarakat Informasi
Teori Masyarakat Informasi adalah teori yang mengkaji bagaimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti ekonomi, politik, budaya, sosial, dan lain-lain. Teori ini berpendapat bahwa masyarakat informasi adalah masyarakat yang melakukan kegiatan distribusi, penggunaan, dan manipulasi informasi secara signifikan dalam aktivitas sehari-hari. Tujuannya adalah untuk mendapatkan keuntungan kompetitif secara internasional melalui penggunaan teknologi informasi dengan cara kreatif dan produktif (Ambar, 2017).
Beberapa ciri-ciri masyarakat informasi adalah sebagai berikut:
- Adanya level intensitas informasi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari pada organisasi-organisasi yang ada, dan tempat-tempat kerja.
- Penggunaan teknologi informasi untuk kegiatan sosial, pengajaran dan bisnis, serta kegiatan-kegiatan lainnya.
- Kemampuan pertukaran data digital yang cepat dalam jarak yang jauh.
- Masyarakat yang sadar akan informasi dan mendapatkan informasi secara cukup.
- Menjadikan informasi sebagai komoditas bernilai ekonomis.
- Mengakses informasi super highway (berkecepatan tinggi).
Salah satu tokoh yang terkenal dalam teori masyarakat informasi adalah Manuel Castells, seorang sosiolog dan ahli komunikasi asal Spanyol. Castells mengembangkan konsep informasionalisme, masyarakat jaringan (network society), dan ekonomi informasional. Informasionalisme adalah mode produksi baru yang didasarkan pada kemampuan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing melalui penyebaran pengetahuan. Masyarakat jaringan adalah bentuk organisasi sosial baru yang didasarkan pada konektivitas dan fleksibilitas antara berbagai aktor melalui jaringan-jaringan global. Ekonomi informasional adalah sistem ekonomi global yang didominasi oleh sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah melalui inovasi dan teknologi.
Ada beberapa contoh yang berkaitan dengan bagaimana media massa mempengaruhi masyarakat dan budaya dalam kerangka teori masyarakat informasi. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
- Contoh pertama adalah tentang pengaruh media massa terhadap perubahan standar hidup layak masyarakat. Media massa sering menampilkan gaya hidup mewah, modern, dan glamor yang dianggap sebagai standar hidup layak oleh sebagian masyarakat. Hal ini dapat mempengaruhi masyarakat untuk mengikuti gaya hidup tersebut, baik dengan cara yang positif maupun negatif. Misalnya, masyarakat dapat termotivasi untuk bekerja keras dan meningkatkan kesejahteraan mereka, tetapi juga dapat terjerumus ke dalam konsumtif, materialistis, dan hedonis.
- Contoh kedua adalah tentang pengaruh media massa terhadap pergeseran tingkah laku masyarakat. Media massa dapat mempengaruhi nilai-nilai, norma, dan etika yang berlaku di masyarakat dengan berbagai cara. Misalnya, media massa dapat memberikan edukasi, inspirasi, dan hiburan yang positif bagi masyarakat, tetapi juga dapat memberikan informasi, propaganda, dan sensasi yang negatif bagi masyarakat. Hal ini dapat memengaruhi masyarakat untuk mengadopsi atau menolak tingkah laku tertentu yang ditampilkan oleh media massa.
- Contoh ketiga adalah tentang pengaruh media massa terhadap perubahan pola pikir masyarakat. Media massa dapat mempengaruhi cara berpikir dan cara masyarakat melihat dunia dengan menyajikan pandangan dunia yang semu, yang dapat menimbulkan ketidakpuasan dan kebingungan di kalangan masyarakat. Misalnya, media massa dapat memberikan informasi yang tidak akurat, tidak objektif, dan tidak seimbang tentang suatu isu atau peristiwa yang penting bagi masyarakat. Hal ini dapat memengaruhi masyarakat untuk memiliki pola pikir yang tidak kritis, tidak rasional, dan tidak mandiri.
7. Teori Marxis Klasik
Teori Marxis Klasik adalah teori yang didasarkan pada pemikiran-pemikiran Karl Marx dan Friedrich Engels, dua tokoh yang dianggap sebagai bapak komunisme modern. Teori ini mengkaji sistem ekonomi, sosial, dan politik dari sudut pandang kelas sosial, yaitu borjuasi (kapitalis) dan proletar (pekerja). Teori ini berpendapat bahwa kapitalisme adalah sistem yang mengeksploitasi pekerja dengan cara mengambil surplus nilai dari hasil kerja mereka. Teori ini juga berpendapat bahwa kapitalisme akan mengalami krisis dan kontradiksi yang akhirnya akan memicu revolusi proletar yang akan menggulingkan borjuasi dan mendirikan komunisme sebagai sistem yang adil dan egaliter (Ambar, 2017).
Beberapa konsep utama dalam teori Marxis klasik adalah sebagai berikut:
- Materialisme dialektis: Metode filsafat yang menganggap bahwa realitas adalah hasil dari proses perubahan materi yang terjadi melalui konflik antara tesis (keadaan awal) dan antitesis (keadaan yang menentang) yang menghasilkan sintesis (keadaan baru).
- Materialisme historis: Metode sejarah yang menganggap bahwa sejarah manusia adalah hasil dari perubahan mode produksi (cara manusia memproduksi barang) yang terjadi melalui konflik antara kelas-kelas sosial yang memiliki kepentingan berbeda terhadap alat-alat produksi (sumber daya ekonomi).
- Alienasi: Kondisi di mana pekerja terasing dari produk kerja mereka, proses kerja mereka, diri mereka sendiri, dan sesama pekerja karena tidak memiliki kendali atas alat-alat produksi dan harus menjual tenaga kerja mereka kepada borjuasi.
- Surplus nilai: Nilai tambah yang dihasilkan oleh pekerja melalui kerja mereka yang melebihi nilai upah yang mereka terima. Surplus nilai ini menjadi sumber keuntungan bagi borjuasi dan sumber eksploitasi bagi pekerja.
- Kelas sosial: Kelompok-kelompok manusia yang dibedakan berdasarkan hubungan mereka dengan alat-alat produksi. Kelas sosial utama dalam kapitalisme adalah borjuasi (yang memiliki alat-alat produksi) dan proletar (yang hanya memiliki tenaga kerja). Kelas-kelas sosial ini memiliki kepentingan dan kesadaran kelas yang berbeda dan bertentangan.
- Perjuangan kelas: Konflik antara kelas-kelas sosial yang disebabkan oleh ketimpangan dalam kepemilikan dan distribusi alat-alat produksi. Perjuangan kelas ini merupakan motor sejarah yang mendorong perubahan mode produksi. Perjuangan kelas tertinggi dalam kapitalisme adalah revolusi proletar yang akan mengakhiri kapitalisme dan membawa komunisme.
Teori marxis klasik adalah teori yang menyoroti hubungan antara media massa dan struktur kelas dalam masyarakat kapitalis. Teori ini menganggap bahwa media massa merupakan alat produksi yang dimiliki dan dikendalikan oleh kelas kapitalis, yang menggunakan media massa untuk mengeksploitasi kelas pekerja secara material dan ideologis. Teori ini muncul sebagai kritik terhadap sistem kapitalisme yang dianggap menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan sosial.
Contoh pengaruh media massa terhadap masyarakat dan budaya menurut teori marxis klasik adalah:
- Media massa dapat menciptakan kesadaran palsu (false consciousness) pada kelas pekerja. Kesadaran palsu adalah kondisi di mana kelas pekerja tidak menyadari bahwa mereka sedang dieksploitasi oleh kelas kapitalis dan menerima ideologi dominan sebagai kebenaran. Media massa dapat mencapainya dengan cara menyembunyikan konflik kelas, menjustifikasi ketidaksetaraan sosial, dan mengalihkan perhatian dari masalah-masalah struktural.
- Media massa dapat memperkuat ideologi dominan yang menguntungkan kelas kapitalis. Ideologi dominan adalah sistem nilai, norma, dan kepercayaan yang menentukan cara pandang dan perilaku masyarakat. Media massa dapat melakukannya dengan cara memproduksi dan mendistribusikan pesan-pesan yang sesuai dengan ideologi dominan, seperti individualisme, konsumsionisme, kompetisi, dan patriarki.
- Media massa dapat menghasilkan budaya populer yang homogen. Budaya populer yang homogen adalah budaya yang dibuat oleh industri media untuk memenuhi selera dan kebutuhan pasar yang luas. Media massa dapat melakukannya dengan cara menstandarisasi dan mengkomersialisasi produk-produk budaya, seperti film, musik, dan televisi. Budaya populer yang homogen dapat mengurangi keragaman dan kreativitas budaya, serta mengaburkan identitas dan perbedaan kelas.
8. Teori Politik Ekonomi
Teori Politik Ekonomi adalah teori yang mengkaji hubungan antara politik dan ekonomi dalam konteks masyarakat, negara, dan dunia. Teori ini mempelajari bagaimana kekuasaan, kepentingan, ideologi, dan institusi mempengaruhi kebijakan-kebijakan ekonomi dan dampaknya terhadap kesejahteraan, pembangunan, dan perubahan sosial. Teori ini juga mempelajari bagaimana kondisi-kondisi ekonomi mempengaruhi perilaku politik, partisipasi, konflik, dan kerja sama (Ambar, 2017).
Teori Politik Ekonomi memiliki berbagai cabang dan aliran yang berbeda-beda dalam perspektif, metode, dan fokusnya. Beberapa cabang utama dari Teori Politik Ekonomi adalah sebagai berikut:
- Politik Ekonomi Klasik: Cabang ini didasarkan pada pemikiran-pemikiran Adam Smith, David Ricardo, Thomas Malthus, dan John Stuart Mill yang mengembangkan konsep pasar bebas, nilai kerja, pertumbuhan ekonomi, dan peran negara dalam ekonomi. Cabang ini juga mengkritik sistem ekonomi feodal dan merkantilis yang dianggap menghambat kemajuan ekonomi.
- Politik Ekonomi Marxis: Cabang ini didasarkan pada pemikiran-pemikiran Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, dan Mao Zedong yang mengembangkan konsep kelas sosial, surplus nilai, alienasi, perjuangan kelas, dan revolusi sosialis. Cabang ini juga mengkritik sistem ekonomi kapitalis yang dianggap mengeksploitasi pekerja dan menciptakan ketimpangan sosial.
- Politik Ekonomi Institusional: Cabang ini didasarkan pada pemikiran-pemikiran Thorstein Veblen, John Commons, John Kenneth Galbraith, dan Douglass North yang mengembangkan konsep institusi, evolusi ekonomi, perilaku manusia, dan perubahan struktural. Cabang ini juga mengkritik pendekatan neoklasik yang dianggap terlalu rasionalis dan abstrak dalam menganalisis ekonomi.
- Politik Ekonomi Internasional: Cabang ini didasarkan pada pemikiran-pemikiran Alexander Hamilton, Friedrich List, John Maynard Keynes, Robert Gilpin, dan Joseph Stiglitz yang mengembangkan konsep perdagangan internasional, proteksionisme, keseimbangan pembayaran, sistem moneter internasional, globalisasi, dan pembangunan. Cabang ini juga mengkritik liberalisme ekonomi yang dianggap tidak adil dan tidak berkelanjutan dalam hubungan ekonomi antarnegara.
Teori politik ekonomi adalah teori yang menganalisis media massa sebagai industri yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik. Teori ini menganggap bahwa media massa tidak netral atau objektif, tetapi mencerminkan dan memperkuat ideologi dan agenda dari pemilik, pengiklan, pemerintah, atau kelompok kekuasaan lainnya. Teori ini muncul sebagai kritik terhadap sistem kapitalisme yang dianggap mengeksploitasi dan menindas masyarakat.
Contoh pengaruh media massa terhadap masyarakat dan budaya menurut teori politik ekonomi adalah:
- Media massa dapat mempengaruhi opini publik dengan cara menentukan isu-isu yang dianggap penting oleh masyarakat. Ini disebut sebagai agenda setting, yaitu proses di mana media massa menetapkan prioritas dan menentukan tingkat pentingnya berbagai isu publik. Media massa dapat melakukannya dengan cara memilih, menekankan, mengabaikan, atau menyensor berita-berita tertentu sesuai dengan kepentingan pemilik, pengiklan, atau pemerintah.
- Media massa dapat mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat dengan cara membentuk persepsi dan pemahaman mereka tentang realitas sosial. Ini disebut sebagai framing, yaitu proses di mana media massa menyajikan informasi dengan cara tertentu yang dapat mempengaruhi cara masyarakat memahami dan mengevaluasi suatu isu atau peristiwa.
- Media massa dapat mempengaruhi identitas dan nilai-nilai budaya masyarakat dengan cara menyebarkan budaya populer yang homogen dan komersial. Ini disebut sebagai cultural imperialism, yaitu proses di mana media massa dari negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, mendominasi dan menggantikan budaya lokal dari negara-negara berkembang. Media massa dapat melakukannya dengan cara memproduksi dan mendistribusikan produk-produk budaya, seperti film, musik, dan televisi, yang mengandung nilai-nilai, norma, dan gaya hidup Barat.
9. Teori Ekologi Media
Masyarakat terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Mulai dari penemuan bahasa hingga internet, teknologi telah memengaruhi dan dipengaruhi oleh media elektronik. Salah satu teori yang mengkaji hal ini adalah teori ekologi media (Hidayat et al., 2022).
Menurut buku "Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi" karya Richard West & Lynn H (2017), teori ekologi media adalah studi tentang bagaimana media dan proses komunikasi memengaruhi persepsi, perasaan, emosi, dan nilai-nilai manusia, terutama dalam konteks teknologi yang memengaruhi komunikasi melalui teknologi baru (West & Turner, 2017).
Teori ekologi media memiliki prinsip bahwa masyarakat tidak bisa menghindari pengaruh teknologi. Teknologi mempersatukan masyarakat dan akan tetap menjadi pusat kehidupan virtual manusia. Teori ini merupakan upaya dalam bidang komunikasi untuk memahami dampak media terhadap kebudayaan.
Salah satu aspek kunci dalam teori ekologi media adalah persepsi kita tentang media dan bagaimana kita menginterpretasikan berbagai persepsi. Dalam perspektif teori ini, yang memengaruhi kesadaran seseorang bukan hanya pesan yang disampaikan, tetapi juga mediumnya. Medium memiliki peran besar dalam memengaruhi pikiran bawah sadar manusia, dan bahkan membentuk pesan, bukan sebaliknya.
Asumsi-Asumsi Teori Ekologi Media
Kita telah melihat bahwa pengaruh teknologi media terhadap masyarakat merupakan ide utama dibalik teori ekologi media. Teori ekologi media mempunyai tiga asumsi utama, diantaranya:
- Media memengaruhi hampir seluruh aspek dalam tindak tanduk masyarakat
- Media melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat. Artinya, yang terpenting dari sebuah media adalah teknologinya, bukan isinya.
- Media memengaruhi persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kita.
Pandangan teori ekologi media adalah media merupakan sesuatu yang dapat memengaruhi kehidupan manusia, di mana dalam menilai sesuatu, bereaksi, dan merasakan sesuatu, manusia cenderung dipengaruhi oleh media.
Media mempersatukan seluruh dunia
Setiap peristiwa atau hal yang dilakukan oleh seluruh manusia di belahan dunia akan diketahui pula oleh semua orang. Media seolah mengikat dunia menjadi sebuah kesatuan, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Teori Ekologi Media adalah sebuah teori yang mempelajari bagaimana media, teknologi, dan proses komunikasi mempengaruhi lingkungan manusia. Teori ini berfokus pada bagaimana media dan teknologi menciptakan realitas sosial dan budaya yang dianggap benar dan sah oleh masyarakat. Teori ini juga menekankan pada bagaimana media dan teknologi memengaruhi persepsi, emosi, nilai, dan perilaku manusia. Teori ini menganggap bahwa media dan teknologi adalah lingkungan, dan lingkungan adalah media.
Beberapa prinsip utama dari Teori Ekologi Media adalah sebagai berikut:
- Media dan teknologi memiliki kekuatan besar dalam membentuk masyarakat dan budaya. Media dan teknologi dapat mempersatukan atau memecah belah masyarakat, dapat meningkatkan atau menurunkan kualitas hidup manusia, dapat menciptakan atau menghancurkan nilai-nilai dan norma-norma sosial.
- Media dan teknologi memiliki karakteristik dan efek yang berbeda-beda tergantung pada konteks sejarah, sosial, politik, dan ekonomi. Media dan teknologi tidak netral, tetapi memiliki ideologi dan kepentingan tertentu yang dapat mendukung atau menentang status quo.
- Media dan teknologi mempengaruhi kesadaran manusia secara langsung atau tidak langsung. Media dan teknologi dapat memperluas atau membatasi pandangan manusia tentang dunia, dapat meningkatkan atau mengurangi keterlibatan manusia dengan lingkungan, dapat memperkaya atau miskinkan pengalaman manusia.
Salah satu tokoh terkenal dalam Teori Ekologi Media adalah Marshall McLuhan, seorang filsuf dan ahli komunikasi asal Kanada. McLuhan mengembangkan konsep medium adalah pesan (the medium is the message), yang berarti bahwa medium itu sendiri memiliki dampak yang lebih besar daripada isi pesan yang disampaikan. McLuhan juga mengembangkan konsep desa global (the global village), yang berarti bahwa media elektronik telah membuat dunia menjadi lebih terhubung dan terpadu.
Teori ekologi media memfokuskan pada dampak media massa terhadap lingkungan fisik dan sosial manusia. Teori ini menganggap bahwa media massa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga lingkungan yang memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak manusia. Teori ini muncul sebagai respons terhadap perubahan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat dan radikal.
Contoh pengaruh media massa terhadap masyarakat dan budaya menurut teori ekologi media:
- Media massa menciptakan ekstensi manusia, seperti telepon memperluas kemampuan pendengaran, televisi memperluas kemampuan penglihatan, dan internet memperluas kemampuan berinteraksi. Ini dapat memperkaya pengalaman manusia, tetapi juga menimbulkan ketegangan dan ketidakseimbangan antara indera manusia.
- Media massa mengubah rasio manusia, seperti media cetak menekankan indera penglihatan, media elektronik menekankan indera pendengaran, dan media digital menekankan indera sentuhan. Rasio manusia dapat mempengaruhi pola pikir, gaya hidup, dan budaya manusia.
- Media massa mempengaruhi struktur sosial dan budaya manusia, seperti media tulisan menciptakan masyarakat alfabet, media cetak menciptakan masyarakat nasional, media elektronik menciptakan masyarakat global, dan media digital menciptakan masyarakat jaringan. Struktur sosial dan budaya manusia mempengaruhi identitas, nilai, dan norma manusia.
D. Analisis Teori-Teori Komunikasi Massa Berdasarkan Metode Penelitian
Berikut ini adalah analisis teori-teori komunikasi massa berdasarkan metode penelitian yang digunakan untuk menguji atau mengembangkan teori tersebut:
- Teori hegemoni media adalah teori yang menganggap media massa sebagai alat dominasi ideologi oleh kelompok elit. Teori ini menggunakan metode penelitian kualitatif, terutama analisis kritis terhadap teks media, untuk mengungkap bagaimana media massa memproduksi dan mereproduksi makna yang sesuai dengan kepentingan kelompok dominan (Kustiawan et al., 2022).
- Teori kajian budaya adalah teori yang menekankan pada makna dan interpretasi yang dibangun oleh audiens dalam mengonsumsi media massa. Teori ini menggunakan metode penelitian kualitatif, terutama etnografi dan wawancara mendalam, untuk memahami bagaimana audiens membaca, menegosiasikan, dan menentang pesan-pesan media massa sesuai dengan konteks sosial dan budaya mereka (Purwanti, 2018).
- Teori masyarakat massa adalah teori yang melihat media massa sebagai agen manipulasi dan pengendalian sosial yang merusak nilai-nilai tradisional. Teori ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, terutama survei dan eksperimen, untuk mengukur seberapa besar pengaruh media massa terhadap sikap dan perilaku masyarakat, terutama masyarakat yang tidak memiliki ikatan sosial yang kuat (Ambar, 2017).
- Teori masyarakat informasi adalah teori yang menggambarkan perubahan mendasar dalam masyarakat akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Teori ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, terutama analisis data statistik, untuk menunjukkan bagaimana teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi aspek-aspek ekonomi, sosial, politik, dan budaya dalam masyarakat (Fitriyah et al., 2023).
- Teori marxis klasik adalah teori yang menyoroti hubungan antara media massa dan struktur kelas dalam masyarakat kapitalis. Teori ini menggunakan metode penelitian kualitatif, terutama analisis kritis terhadap teks media, untuk menunjukkan bagaimana media massa merupakan alat produksi yang dimiliki dan dikendalikan oleh kelas kapitalis, yang menggunakan media massa untuk mengeksploitasi kelas pekerja secara material dan ideologis (Ambar, 2017).
- Teori ekologi media adalah teori yang memfokuskan pada dampak media massa terhadap lingkungan fisik dan sosial manusia. Teori ini menggunakan metode penelitian kualitatif, terutama studi kasus dan observasi partisipatif, untuk memahami bagaimana media massa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga lingkungan yang mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak manusia (Ambar, 2017).
- Teori politik ekonomi adalah teori yang menganalisis media massa sebagai industri yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik. Teori ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, terutama analisis data statistik, untuk menunjukkan bagaimana media massa tidak netral atau objektif, tetapi mencerminkan dan memperkuat ideologi dan agenda dari pemilik, pengiklan, pemerintah, atau kelompok kekuasaan lainnya (Ambar, 2017).
- Teori spiral keheningan adalah teori yang mengemukakan bahwa media massa dapat mempengaruhi opini publik dengan menimbulkan rasa takut pada orang-orang yang memiliki pandangan minoritas. Teori ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, terutama survei dan eksperimen, untuk mengukur seberapa besar pengaruh media massa terhadap persepsi dan perilaku orang-orang dalam menyatakan opini mereka (Ambar, 2017).
- Teori agenda setting adalah teori yang menyatakan bahwa media massa dapat menentukan isu-isu apa yang penting bagi masyarakat dengan cara memberi perhatian lebih pada isu-isu tertentu. Teori ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, terutama survei dan analisis isi, untuk mengukur seberapa besar korelasi antara isu-isu yang ditampilkan oleh media massa dan isu-isu yang dianggap penting oleh masyarakat (Ambar, 2017).
| No | Teori | Tokoh | Dasar | Pengertian | Contoh | Jenis |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Teori hegemoni media | Antonio Gramsci, Stuart Hall, Louis Althusser | Marxisme, strukturalisme | Teori yang menganggap media massa sebagai alat dominasi ideologi oleh kelompok elit | Media massa menampilkan citra wanita yang ideal sebagai kurus, cantik, dan putih, yang sesuai dengan standar kecantikan yang ditetapkan oleh industri mode dan kosmetik yang didominasi oleh kelompok elit | Kualitatif |
| 2 | Teori kajian budaya | Raymond Williams, Richard Hoggart, John Fiske | Humanisme, poststrukturalisme | Teori yang menekankan pada makna dan interpretasi yang dibangun oleh audiens dalam mengonsumsi media massa | Audiens yang menonton film horor dapat memiliki reaksi yang berbeda-beda, tergantung pada latar belakang sosial dan budaya mereka, seperti takut, tertawa, bosan, atau kritis | Kualitatif |
| 3 | Teori masyarakat massa | Harold Lasswell, Paul Lazarsfeld, Joseph Klapper | Fungsionalisme, behaviorisme | Teori yang melihat media massa sebagai agen manipulasi dan pengendalian sosial yang merusak nilai-nilai tradisional | Media massa dapat mempengaruhi masyarakat untuk memilih kandidat tertentu dalam pemilu dengan cara memberikan informasi yang positif atau negatif tentang kandidat tersebut | Kuantitatif |
| 4 | Teori masyarakat informasi | Daniel Bell, Manuel Castells, Yoneji Masuda | Modernisasi, globalisasi | Teori yang menggambarkan perubahan mendasar dalam masyarakat akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi | Teknologi informasi dan komunikasi dapat meningkatkan produktivitas, mobilitas, partisipasi, dan demokrasi dalam masyarakat, tetapi juga dapat menimbulkan masalah seperti ketimpangan, alienasi, dan fragmentasi | Kuantitatif |
| 5 | Teori marxis klasik | Karl Marx, Friedrich Engels, Theodor Adorno | Marxisme, kritisisme | Teori yang menyoroti hubungan antara media massa dan struktur kelas dalam masyarakat kapitalis | Media massa merupakan alat produksi yang dimiliki dan dikendalikan oleh kelas kapitalis, yang menggunakan media massa untuk mengeksploitasi kelas pekerja secara material dan ideologis | Kualitatif |
| 6 | Teori ekologi media | Marshall McLuhan, Neil Postman, Joshua Meyrowitz | Fenomenologi, pragmatisme | Teori yang memfokuskan pada dampak media massa terhadap lingkungan fisik dan sosial manusia | Media massa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga lingkungan yang mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak manusia, seperti televisi yang menciptakan budaya visual dan global, atau internet yang menciptakan budaya digital dan interaktif | Kualitatif |
| 7 | Teori politik ekonomi | Herbert Schiller, Robert McChesney, Vincent Mosco | Marxisme, kritisisme | Teori yang menganalisis media massa sebagai industri yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik | Media massa tidak netral atau objektif, tetapi mencerminkan dan memperkuat ideologi dan agenda dari pemilik, pengiklan, pemerintah, atau kelompok kekuasaan lainnya, seperti media massa yang mendukung kebijakan neoliberalisme atau perang | Kuantitatif |
| 8 | Teori spiral keheningan | Elisabeth Noelle-Neumann, Thomas Petersen, Jürgen Habermas | Fungsionalisme, psikologi sosial | Teori yang mengemukakan bahwa media massa dapat mempengaruhi opini publik dengan menimbulkan rasa takut pada orang-orang yang memiliki pandangan minoritas | Media massa dapat membuat orang-orang yang memiliki pandangan minoritas tentang isu-isu kontroversial, seperti LGBT, aborsi, atau korupsi, merasa tidak nyaman untuk menyatakan opini mereka, karena takut ditolak atau dikucilkan oleh mayoritas | Kuantitatif |
| 9 | Teori agenda setting | Maxwell McCombs, Donald Shaw, Walter Lippmann | Fungsionalisme, psikologi sosial | Teori yang menyatakan bahwa media massa dapat menentukan isu-isu apa yang penting bagi masyarakat dengan cara memberi perhatian lebih pada isu-isu tertentu | Media massa dapat membuat masyarakat menganggap isu-isu tertentu, seperti pandemi, terorisme, atau lingkungan, sebagai isu-isu yang penting dan mendesak, dengan cara memberikan liputan yang luas dan intensif tentang isu-isu tersebut | Kuantitatif |
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Media massa memiliki peran penting dalam membentuk pandangan dan perilaku masyarakat serta menciptakan atau mengubah budaya. media massa adalah saluran publikasi karya jurnalistik. Di media cetak (koran, tabloid, majalah), media massa berisi teks atau tulisan dan gambar berisi pesan atau informasi aktual dan penting diketahui masyarakat. Masyarakat dan budaya bisa terpengaruhi media karena media merupakan sarana, saluran, atau media untuk berkomunikasi kepada publik.
Berbagai teori telah dikemukakan untuk menjelaskan pengaruh media massa terhadap masyarakat dan budaya. Teori-teori ini meliputi: teori hegemoni media, yang menganggap media massa sebagai alat dominasi ideologi oleh kelompok elit; teori kajian budaya, yang menekankan pada makna dan interpretasi yang dibangun oleh audiens dalam mengonsumsi media massa; teori spiral keheningan, yang mengemukakan bahwa media massa dapat mempengaruhi opini publik dengan menimbulkan rasa takut pada orang-orang yang memiliki pandangan minoritas; teori agenda setting, yang menyatakan bahwa media massa dapat menentukan isu-isu apa yang penting bagi masyarakat dengan cara memberi perhatian lebih pada isu-isu tertentu; teori masyarakat massa, yang melihat media massa sebagai agen manipulasi dan pengendalian sosial yang merusak nilai-nilai tradisional; teori masyarakat informasi, yang menggambarkan perubahan mendasar dalam masyarakat akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi; teori marxis klasik, yang menyoroti hubungan antara media massa dan struktur kelas dalam masyarakat kapitalis; teori politik ekonomi, yang menganalisis media massa sebagai industri yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik; dan teori ekologi media, yang memfokuskan pada dampak media massa terhadap lingkungan fisik dan sosial manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Ambar. (2017, April 5). 15 Teori komunikasi Massa Menurut Para Ahli dan Pengertiannya. Pakar Komunikasi. https://pakarkomunikasi.com/teori-komunikasi-massa
Cangara, H. (2016). Pengantar ilmu komunikasi (2nd ed.). Raja Grafindo Persada.
Fitriyah, N., Krisnando Nathanael, G., Daud, R. F., Winangsih, R., Kania Kurniawati, N., Mitrin, A., Akib, S., Putra Ode Amane, A., & Winarti, Y. (2023). METODE PENELITIAN ILMU KOMUNIKASI. Widina Bhakti Persada Bandung. www.penerbitwidina.com
Heru. (2017, April 22). Teori Spiral Keheningan ( Spiral of Silence Theory) dan Asumsinya. Pakar Komunikasi. https://pakarkomunikasi.com/teori-spiral-keheningan
Hidayat, D., Christin, M., & Nur’aeni. (2022). Teori Komunikasi. Simbiosa Rekatama Media.
Kustiawan, W., Sri, A., Mz Siregar, M., Nabila, F., Harahap, K. H., Aini, L., Pulungan, N. L., & Faidah, Y. (2022). Teori-Teori dalam Komunikasi Massa. KENDALI DAN LISTRIK, 3(2).
Mukarom, Z. (2020). Teori-Teori Komunikasi. Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Panuju, R. (2018). Pengantar Studi (Ilmu) Komunikasi: Komunikasi Sebagai Kegiatan, Komunikasi Sebagai Ilmu (1st ed.). Prenadamedia Group.
Purwanti, P. (2018, June 9). Macam Macam Analisis Dalam Komunikasi yang Paling Umum Digunakan. Pakar Komunikasi. https://pakarkomunikasi.com/metode-penelitian-komunikasi
Rakhmat, J. (2023). Psikologi Komunikasi (5th ed.). Simbiosa Rekatama Media.
Ritonga, E. Y. (208 C.E.). Teori Agenda Setting dalam Ilmu Komunikasi. SIMBOLIKA.
West, R., & Turner, L. H. (2017). Pengantar teori komunikasi : analisis dan aplikasi = introducing communication theory : analysis and application (A. Susila & D. E. Irawan, Eds.; 5th ed.). Salemba Humanika.