Langsung ke isi

Dinamika Dakwah di Era Milenial

Islam sering kali dipandang sebagai agama dengan penganut ekstrimis, terutama di kalangan masyarakat Barat. Hal ini disebabkan oleh pemberitaan media yang sensasional dan stereotip yang keliru. Dakwah, sebagai upaya penyebaran agama Islam, perlu…

Mengembalikan Wajah Rahmatan Lil'alamin: Dinamika Dakwah di Era Milenial

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2230100017)

Islam sering kali dipandang sebagai agama dengan penganut ekstrimis, terutama di kalangan masyarakat Barat. Hal ini disebabkan oleh pemberitaan media yang sensasional dan stereotip yang keliru. Dakwah, sebagai upaya penyebaran agama Islam, perlu beradaptasi dengan arus baru dan tantangan zaman untuk menepis stigma tersebut.

Esensi dakwah dalam Islam pada hakikatnya merupakan upaya untuk mengajak dan membimbing manusia menuju kebaikan dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Namun dalam perkembangannya, dakwah kerap kali disalahpahami dan dipraktikkan dengan cara-cara yang kontra-produktif, cenderung ekstrem dan eksklusif. Tidak mengherankan jika Islam kemudian mendapat stigma negatif, terutama di kalangan masyarakat Barat, sebagai agama yang membenarkan tindakan ekstrimis bahkan terorisme atas nama jihad.

Memasuki era milenial, dinamika dakwah menghadapi tantangan untuk mengembalikan wajah Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin yang mencerminkan spirit keramahan, kelembutan dan toleransi. Dakwah di era modern harus relevan dengan konteks sosial dan budaya, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Dakwah perlu dilakukan dengan cara yang dialogis, inklusif, dan berorientasi pada solusi.

Prof. Dr. Quraish Shihab, melalui karya monumental tafsirnya Al-Mishbah, memberikan pencerahaan dalam memaknai etika dakwah berdasarkan spirit ayat Al-Quran, khususnya QS. An-Nahl [16]: 125. Dalam tafsirnya, beliau menguraikan bahwa ayat tersebut menganjurkan tiga prinsip utama dalam berdakwah, yakni hikmah (kebijaksanaan), mau'izhotun hasanah (nasihat/pengajaran yang baik) serta mujadalah (berdiskusi/berdialog dengan cara terbaik) (Shihab, 2002). Hikmah mengandung makna mendalam meliputi seluruh pendekatan sesuai dengan kondisi objek dakwah yang dihadapi. Diskusi dan dialog dalam dakwah juga harus dilandasi oleh akhlak yang mulia, menghindari kekerasan verbal maupun fisik. Lebih lanjut dalam karyanya "Membumikan Al-Quran", Quraish Shihab menegaskan bahwa inti dari risalah kenabian adalah untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh alam (Shihab, 1994). Oleh karena itu, esensi dakwah pun harus dilakukan dengan penuh kelembutan hati, jauh dari sikap kasar dan keras kepala. Hal ini sejalan dengan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menekankan pentingnya menghindari kekerasan dan ucapan keji. Syaikh Abdurrahman al-Saadi, seorang mufassir kontemporer dalam Taysir al-Karim al-Rahman, menguraikan bahwa Allah tidak menyukai orang yang kasar dan suka mengumbar ucapan keji serta berlaku keras dalam pergaulan, karena sifat seperti itu akan menjauhkan manusia darinya (al-Sa'di, 2000).

KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), secara lugas menggarisbawahi perlunya deradikalisasi pemahaman agama melalui pendidikan perdamaian. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan bahwa Islam yang ramah, penuh kasih, penyebar kedamaian, dan rahmat adalah Islam yang kita harapkan (Gus Mus, 2018). Nasihat Gus Mus ini mengingatkan kita untuk senantiasa merevitalisasi semangat Islam wasathiyah (moderat) yang anti kekerasan dan radikalisme.

Syaikh Abdurrahman al-Sa'di dalam Taysir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyeru manusia ke jalan-Nya dengan hikmah, nasihat yang baik, dan diskusi dengan cara yang terbaik (al-Sa'di, 2000). Lebih lanjut, Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhush Shalihin menukil perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya dalam kelembutan terdapat sesuatu yang tidak ada dalam kekerasan." (Nawawi, 2015). Kutipan tersebut menjelaskan dengan gamblang bahwa metode kelembutan dalam berdakwah jauh lebih efektif daripada kekerasan dan kekasaran.

Melalui pemahaman yang komprehensif dan pelaksanaan dinamika dakwah yang mencerminkan nilai-nilai rahmatan lil'alamin, kelembutan dan moderasi (wasathiyah), Islam akan dapat menampakkan kembali wajah ramah dan menyejukkan bagi seluruh umat manusia. Dambaan untuk menjadi agama yang membawa rahmat di muka bumi bukan sekadar imajinasi melainkan sungguh akan terwujud dengan pendekatan dakwah yang arif, lembut dan mencerahkan. Hanya dengan menggemakan semangat kasih sayang sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Islam akan benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.

Referensi:

Al-Sa'di, A.R. (2000). Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Muassasah al-Risalah.

Nawawi, M.Y. (2015). Riyadhush Shalihin. Beirut: Dar Al-Minhaj.

Shihab, M.Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati.

Shihab, M.Q. (1994). Membumikan Al-Quran. Bandung: Mizan.

Gus Mus (2018, November 3). Deradikalisasi Agama Melalui Pendidikan Perdamaian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Dinamika Dakwah di Era Milenial. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca