BEDAH BUKU
"THE PROPHET'S METHODS OF CORRECTING PEOPLE'S MISTAKES"
(Metode Nabi Muhammad saw. dalam Mengoreksi Kesalahan dan Implikasinya bagi Dakwah Masa Kini)
Oleh:
Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, M.Sos.,
NIM: 2230100017
PASCA SARJANA
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2023 M / 1444 H
KATA PENGANTAR
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
أَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita. Dengan keridhaan-Nya, kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang berjudul "Bedah Buku The Prophet's Methods Of Correcting People's Mistakes: Metode Nabi Muhammad saw. dalam Mengoreksi Kesalahan dan Implikasinya bagi Dakwah Masa Kini." Penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada-Nya, karena tanpa petunjuk dan pertolongan-Nya, makalah ini tidak akan terwujud.
Makalah ini merupakan hasil kerja keras kami dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah "Komunikasi Profetik," yang dengan penuh dedikasi dipandu oleh Bapak Prof. Dr. Asep Saepul Muhtadi, MA., sebagai dosen pengampu mata kuliah tersebut. Terima kasih atas bimbingan dan arahan yang berharga dari Bapak. Semoga makalah ini dapat mencerminkan pemahaman dan penerapan konsep-konsep komunikasi profetik yang diajarkan dalam mata kuliah ini.
Tentu, doa dan salam kami sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, sebaik-baik teladan bagi umat manusia. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarganya, para sahabat, dan seluruh umat Islam. Kami berdoa semoga makalah ini dapat menjadi bentuk kecil penghormatan kami terhadap ajaran dan contoh teladan luhur Nabi Muhammad SAW.
Meskipun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan memiliki keterbatasan, kami dengan rendah hati menerima kritik dan saran yang konstruktif. Baik dari pembaca umum maupun khususnya dari Bapak/Ibu dosen, kami menyambut dengan tangan terbuka setiap masukan yang dapat memperkaya isi dan substansi makalah ini. Dengan demikian, di masa yang akan datang, kami berupaya untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan.
Akhir kata, harapan kami adalah agar makalah ini dapat memberikan manfaat dan wawasan tidak hanya bagi penulis, tetapi juga bagi semua pembaca, terutama dalam memahami dan menerapkan metode mengoreksi kesalahan dengan memperhatikan implikasinya di era saat ini. Semoga makalah ini dapat menjadi pijakan bagi diskusi lebih lanjut mengenai tema yang diangkat.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
| Bandung, 28 November 2023 | ||
|---|---|---|
| Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir, S.Sos., |
DAFTAR ISI
KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIi
ABSTRAKiii
BAB I1
PENDAHULUAN1
A. Latar Belakang1
B. Rumusan Masalah4
C. Tujuan Penelitian4
D. Manfaat Penelitian4
BAB II7
KAJIAN TEORI7
A. Bedah Buku7
B. Pengertian Mengoreksi Kesalahan8
C. Landasan Teologis Mengoreksi Kesalahan9
D. Prinsip Mengoreksi Kesalahan10
E. Tujuan Mengoreksi Kesalahan11
BAB III13
METODOLOGI13
A. Pendekatan: Kualitatif Studi Kepustakaan13
B. Sumber Data: Buku "The Prophet's Methods Of Correcting People's Mistakes"15
C. Teknik Analisis Data: Content Analysis15
BAB IV16
HASIL DAN PEMBAHASAN16
A. Informasi Buku16
B. Struktur Buku19
C. Pesan Utama19
D. Berbagai Metode Koreksi Kesalahan Menurut Nabi Muhammad SAW22
F. Evaluasi Kritis74
G. Relevansi Metode Masa Kini75
BAB V77
KESIMPULAN77
A. Kesimpulan77
B. Rekomendasi78
DAFTAR PUSTAKA79
ABSTRAK
Bedah Buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes": Metode Nabi Muhammad saw. dalam Mengoreksi Kesalahan dan Implikasinya bagi Dakwah Masa Kini).
Pengoreksian kesalahan merupakan sebuah proses dakwah untuk mengajak dan membimbing umat kepada kebaikan serta mencegah dari perbuatan salah dan mungkar. Buku karangan Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid berjudul “The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes” ini menjelaskan berbagai metode bijak Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi dan menyikapi kesalahan yang dilakukan umatnya. Secara umum dijelaskan bahwa Nabi Muhammad menggunakan pendekatan yang sangat hati-hati dan bijaksana, dengan mempertimbangkan kondisi, situasi, dan konteks kesalahan yang ada. Cara ini jauh lebih efektif untuk memotivasi umat agar sadar dan kembali ke jalan yang benar dibanding dengan cara kekerasan atau mempermalukan orang di hadapan publik. Implikasinya, melalui pembelajaran terhadap metode bijak Nabi Muhammmad saw. tersebut, efektivitas dakwah masa kini dapat ditingkatkan manakala para mubalig, guru, dan pejuang kebajikan mampu menerapkan prinsip yang bijak dalam meluruskan kesalahan umat. Buku ini dianalisis dengan metode penelitian kepustakaan untuk mengambil pelajaran berharga guna meningkatkan kualitas dakwah moderat kontemporer.
Kata Kunci: Nabi Muhammad SAW, Koreksi Kesalahan, Dakwah Islam, Metode Bijak.
ABSTRACT
Title: "Dissecting the Book 'The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes': The Methods of Prophet Muhammad in Correcting Errors and Their Implications for Contemporary Islamic Preaching."
Correcting mistakes is a process of da'wah to invite and guide people to goodness and prevent them from doing wrong and bad things. The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes’s Shaykh Muhammed Salih Al-Munajjid explains the various wise methods of the Prophet Muhammad PBUH in correcting and responding to mistakes made by his people. In general, it is explained that the Prophet Muhammad used a very careful and wise approach, taking into account the conditions, situations, and context of the error. This method is much more effective in motivating people to realize and return to the right path than by means of violence or humiliating people in public. The implication is that through learning the wise method of Prophet Muhammad, the effectiveness of today's da'wah can be improved when preachers, teachers, and champions of virtue are able to apply wise principles in correcting people’s mistakes. This book is analyzed using the literature research method to draw valuable lessons to improve the quality of contemporary moderate da'wah.
Keywords: Prophet Muhammad SAW, Error Correction, Islamic Preaching, Wise Methods.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era yang serba cepat dan berubah ini, kita dihadapkan pada berbagai tantangan yang muncul dari kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan dinamika budaya. Tantangan-tantangan ini sering kali melahirkan fenomena sosial yang kompleks, di mana kesalahan dan penyimpangan perilaku menjadi semakin umum. Mulai dari kesalahpahaman dalam komunikasi hingga perilaku yang tidak etis dalam interaksi sehari-hari, masyarakat modern menghadapi berbagai isu yang memerlukan penanganan yang bijaksana dan penuh empati.
Salah satu aspek penting dalam konteks ini adalah bagaimana kita, sebagai bagian dari masyarakat, mengoreksi kesalahan baik pada diri sendiri maupun orang lain. Hal ini bukan hanya relevan dalam konteks personal, tetapi juga memiliki implikasi yang luas dalam bidang pendidikan, psikologi, dan bahkan dakwah. Dalam menghadapi tantangan ini, metode yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana digambarkan dalam buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes" oleh Sheikh Muhammed Salih Al-Munajjid, menjadi sangat relevan.
Pertama, kita harus memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari kehidupan manusia. Tidak ada satu pun individu yang sempurna; kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari proses belajar dan berkembang. Namun, cara kita menanggapi dan mengoreksi kesalahan ini adalah kunci untuk memastikan bahwa kesalahan tersebut menjadi pelajaran berharga dan bukan hambatan dalam pertumbuhan pribadi atau sosial (Al-Munajjid, 2004).
Dalam konteks dakwah, pentingnya mengoreksi kesalahan dengan cara yang tepat menjadi semakin penting. Dakwah tidak hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang bagaimana pesan itu disampaikan dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain dalam prosesnya. Nabi Muhammad SAW dikenal karena pendekatannya yang penuh kasih sayang dan empati. Beliau tidak hanya berfokus pada kesalahan itu sendiri, tetapi juga pada pribadi yang melakukan kesalahan, selalu berusaha untuk memahami konteks dan latar belakang mereka.
Di sisi lain, era digital saat ini membawa tantangan tersendiri dalam mengoreksi kesalahan. Media sosial, sebagai contoh, telah menjadi platform yang luas untuk interaksi sosial, tetapi juga sering menjadi tempat penyebaran informasi yang salah, ujaran kebencian, dan kesalahpahaman. Ini menunjukkan perlunya pendekatan yang bijaksana dan penuh pertimbangan dalam mengoreksi kesalahan di ruang digital (Budiantoro, 2018).
Tantangan dalam mengoreksi kesalahan di ruang digital bukan hanya terbatas pada interaksi tatap muka, tetapi juga meluas ke ranah digital, terutama di media sosial. Platform digital ini sering kali menjadi cerminan dari kompleksitas dan keragaman masyarakat modern. Kesalahan yang terjadi di ruang digital ini sering kali lebih sulit untuk dikelola, karena anonimitas dan jangkauan yang luas dapat menyebabkan kesalahan atau misinformasi tersebar dengan cepat dan luas. Dalam hal ini, metode Nabi Muhammad SAW dalam mengoreksi kesalahan, yang mengedepankan empati dan pemahaman, menjadi sangat penting untuk diadaptasi dalam konteks digital.
Selain itu, dampak dari kesalahan di era digital ini tidak hanya terbatas pada individu yang terlibat, tetapi juga dapat mempengaruhi persepsi dan sikap masyarakat secara luas. Kesalahan atau misinformasi yang tersebar di media sosial, misalnya, dapat menimbulkan polarisasi, konflik, dan bahkan kekerasan. Oleh karena itu, cara kita mengoreksi kesalahan di ruang digital ini harus dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana, yang tidak hanya menekankan kebenaran, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan emosional dari koreksi tersebut.
Dalam konteks pendidikan, pentingnya mengoreksi kesalahan dengan metode yang tepat menjadi semakin penting. Pendidik memegang peran kunci dalam membentuk cara pandang dan sikap siswa terhadap kesalahan. Mengadopsi metode Nabi Muhammad SAW dalam pendidikan, yang mengutamakan kebijaksanaan, empati, dan pemahaman, dapat membantu siswa tidak hanya memahami kesalahan mereka, tetapi juga mempelajari cara mengoreksi dan belajar darinya. Pendekatan ini mendorong pertumbuhan pribadi dan intelektual yang sehat, membangun karakter yang resilien dan adaptif terhadap tantangan (Hasriadi, 2022).
Di sisi psikologis, cara kita mengoreksi kesalahan juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan emosional. Pendekatan yang keras dan tidak empatik dalam mengoreksi kesalahan dapat menyebabkan stres, rasa malu, dan ketidakpercayaan diri. Sebaliknya, pendekatan yang penuh kasih sayang dan pemahaman, sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, dapat membantu individu memahami dan mengatasi kesalahannya dengan cara yang lebih positif dan konstruktif (Sakdiah, 2016).
Penting juga untuk mengingat bahwa dalam proses dakwah, cara mengoreksi kesalahan harus disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan individu. Tidak semua kesalahan memerlukan pendekatan yang sama. Memahami konteks, latar belakang, dan kebutuhan individu adalah kunci untuk mengoreksi kesalahan dengan efektif. Pendekatan Nabi Muhammad SAW yang fleksibel dan adaptif terhadap berbagai situasi menunjukkan pentingnya pendekatan yang disesuaikan dalam proses dakwah.
Oleh karena itu, mempelajari dan menerapkan metode Nabi Muhammad SAW dalam mengoreksi kesalahan memberikan peluang untuk mengembangkan pendekatan yang lebih bijaksana, empatik, dan efektif dalam berbagai aspek kehidupan. Baik dalam konteks personal, pendidikan, psikologi, dakwah, maupun interaksi sosial, metode ini dapat membantu kita tidak hanya mengoreksi kesalahan, tetapi juga membangun hubungan yang lebih positif, mendukung pertumbuhan pribadi, dan memperkuat tatanan sosial yang harmonis.
Buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes" oleh Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid menawarkan wawasan berharga tentang metode Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi kesalahan. Dalam buku ini, penulis menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad saw. menggunakan pendekatan yang hati-hati dan bijaksana dalam mengoreksi kesalahan, mempertimbangkan konteks dan situasi sebelum bertindak.
Pada sisi lain, metode bedah buku menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam memahami suatu karya secara mendalam. Melalui bedah buku, kita dapat menggali informasi, nilai, dan pelajaran yang terkandung dalam suatu buku. Buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes" merupakan salah satu karya yang layak untuk dibedah, mengingat relevansinya dengan isu dakwah masa kini.
Tujuan dari bedah buku ini adalah untuk memahami dan mengevaluasi metode Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi kesalahan, sebagaimana yang diuraikan oleh Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid dalam bukunya. Melalui pemahaman ini, kita dapat menarik pelajaran dan prinsip yang dapat diterapkan dalam praktik dakwah masa kini.
Selain itu, bedah buku ini juga berpotensi mengungkap korelasi antara metode Nabi Muhammad saw. dengan konsep komunikasi profetik. Komunikasi profetik adalah bentuk komunikasi yang berusaha menyeimbangkan antara kebenaran dan kasih sayang, antara hukum dan hikmah, dalam rangka membimbing umat menuju kebaikan.
Dalam konteks ini, teori library research atau penelitian kepustakaan menjadi relevan. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data dari sumber-sumber sekunder, seperti buku dan jurnal, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang subjek yang diteliti (Sitepu, 2013). Dalam hal ini, penelitian kepustakaan akan digunakan untuk memahami dan menganalisis metode Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi kesalahan, sebagaimana yang diuraikan dalam buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes".
Fenomena ini relevan dengan masalah dakwah masa kini, di mana sering kali metode yang digunakan kurang mempertimbangkan kondisi dan situasi penerima dakwah. Banyak kasus menunjukkan bahwa metode keras dan kurang bijaksana justru menimbulkan reaksi negatif dan resistensi, bukan perubahan positif.
Oleh karena itu, penting untuk mempelajari dan menerapkan metode Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi kesalahan sebagai upaya meningkatkan efektivitas dakwah. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan wawasan dan panduan bagi para mubalig, guru, dan pejuang kebajikan dalam mengoreksi kesalahan umat dengan cara yang lebih bijaksana dan efektif.
Dengan demikian, bedah buku ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya meningkatkan kualitas dakwah moderat kontemporer, melalui pemahaman yang lebih baik tentang metode Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi kesalahan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana metode-metode koreksi kesalahan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam buku “The Prophet’s Methods of Correcting People’s Mistakes” dan bagaimana implementasinya pada konteks dakwah kontemporer?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:
- Mendeskripsikan metode-metode koreksi kesalahan menurut buku “The Prophet’s Methods of Correcting People’s Mistakes”.
- Menganalisis penerapan metode koreksi kesalahan tersebut pada konteks dakwah masa kini.
D. Manfaat Penelitian
- Manfaat Akademis
- Pemahaman Teoritis: Penelitian ini memberikan pemahaman teoritis yang mendalam tentang metode Nabi Muhammad SAW dalam mengoreksi kesalahan, yang merupakan topik penting dalam studi Islam dan komunikasi.
- Kontribusi untuk Literatur Akademik: Dengan mengkaji buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes", penelitian ini menambahkan perspektif berharga ke dalam literatur akademik tentang dakwah dan pendidikan Islam.
- Referensi untuk Studi Lebih Lanjut: Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang komunikasi profetik, studi Islam, dan psikologi sosial.
- Manfaat Praktis
- Panduan untuk Praktisi Dakwah: Memberikan panduan praktis bagi para mubalig, pendidik, dan praktisi dakwah dalam mengadopsi metode Nabi Muhammad SAW untuk mengoreksi kesalahan dalam konteks modern.
- Peningkatan Efektivitas Dakwah: Meningkatkan efektivitas dakwah dengan mengadopsi pendekatan yang lebih empatik dan bijaksana, sejalan dengan metode Nabi Muhammad SAW.
- Pembangunan Hubungan Sosial yang Lebih Baik: Mendorong pembangunan hubungan sosial yang lebih baik melalui pendekatan mengoreksi kesalahan yang lebih inklusif dan memahami.
- Manfaat Sosial
- Meningkatkan Kesadaran dan Empati: Meningkatkan kesadaran dan empati dalam masyarakat mengenai pentingnya mengoreksi kesalahan dengan cara yang bijaksana dan penuh pertimbangan.
- Pengurangan Konflik Sosial: Dapat membantu mengurangi konflik sosial yang disebabkan oleh kesalahpahaman dan komunikasi yang tidak efektif.
- Penguatan Nilai-Nilai Moral dan Etika: Memberikan kontribusi terhadap penguatan nilai-nilai moral dan etika dalam masyarakat, yang sangat dibutuhkan dalam era digital dan globalisasi saat ini.
- Manfaat Pendidikan
- Peningkatan Metodologi Pengajaran: Membantu pendidik dan guru dalam mengembangkan metodologi pengajaran yang lebih efektif dan empatik, berdasarkan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
- Pembentukan Karakter Siswa: Berkontribusi pada pembentukan karakter siswa yang lebih resilien, adaptif, dan memiliki kemampuan untuk belajar dari kesalahan dengan cara yang positif.
- Pengembangan Kurikulum yang Inklusif: Memberikan wawasan untuk pengembangan kurikulum yang lebih inklusif dan berorientasi pada pembelajaran holistik di lembaga pendidikan.
- Manfaat Psikologis
- Pemahaman tentang Dampak Emosional: Memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dampak emosional dari cara mengoreksi kesalahan, pentingnya pendekatan yang empatik dan penuh pengertian.
- Pengembangan Kesehatan Mental: Mendorong pendekatan yang lebih sehat dalam menghadapi kesalahan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, yang dapat berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Bedah Buku
Bedah buku atau "book review" adalah sebuah tulisan atau analisis yang mengevaluasi, menganalisis, dan memberikan ulasan terhadap suatu buku. Tujuan dari bedah buku adalah memberikan pandangan yang kritis dan menyeluruh tentang kualitas, isi, dan nilai sebuah karya tulis kepada para pembaca potensial (Azis, 2022).
Berikut adalah beberapa poin penting dalam bedah buku:
- Penilaian Kualitas dan Isi Buku
- Ringkasan Singkat:
Umumnya, bedah buku dimulai dengan ringkasan singkat tentang isi buku, termasuk tema, plot, karakter, dan pesan utama yang disampaikan oleh penulis.
- Evaluasi Isi
Memberikan tinjauan atau analisis tentang kekuatan dan kelemahan buku, seperti pemilihan tema, cara pengembangan karakter, kelogisan plot, dan kejelasan pesan yang ingin disampaikan.
- Konteks dan Relevansi
- Konteks Penulisan
Menyelidiki konteks di mana buku tersebut ditulis, termasuk informasi tentang pengarang, latar belakang sejarah, dan faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi pembuatan buku.
- Relevansi dengan Waktu Sekarang
Meninjau relevansi buku dengan zaman sekarang atau kekinian, apakah tema yang diangkat masih relevan, atau apakah pesan yang disampaikan memiliki implikasi terhadap konteks saat ini.
- Analisis Gaya Penulisan dan Struktur Naratif:
- Gaya Penulisan
Mengevaluasi gaya bahasa pengarang, apakah penggunaan bahasa figuratif, kekhasan gaya, atau kejelasan bahasa memberikan dampak pada pembaca.
- Struktur Naratif:
Mengulas bagaimana plot dirancang, apakah alur cerita mudah diikuti, serta bagaimana pengarang menggunakan teknik penceritaan untuk mempengaruhi pembaca,
- Respon Pribadi dan Rekomendasi.
- Respon Pribadi:
Memberikan pandangan atau reaksi pribadi terhadap buku tersebut, menyampaikan kesan dan apakah buku tersebut berhasil memengaruhi pembaca secara emosional atau intelektual.
- Rekomendasi:
Menyimpulkan ulasan dengan memberikan rekomendasi kepada siapa pun yang mungkin tertarik membaca buku tersebut, serta siapa yang dianggap dapat mendapatkan manfaat dari isi buku.
- Tone dan Gaya Penulisan.
- Tone dan Gaya Tulisan:
Gaya tulisan dalam bedah buku bisa beragam, dari formal hingga informal, tergantung pada target audiens dan kebijakan penerbit atau platform yang memuat ulasan tersebut.
- Objektivitas
Meskipun bedah buku dapat mencakup pendapat pribadi, upaya objektivitas dalam mengevaluasi buku sangat penting.
Bedah buku sering ditemukan dalam berbagai media, termasuk majalah, surat kabar, blog, situs web, dan publikasi daring lainnya. Tujuan utamanya adalah memberikan pandangan yang informatif kepada pembaca untuk membantu mereka memutuskan apakah buku tersebut sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka(Azis, 2022).
B. Pengertian Mengoreksi Kesalahan
Mengoreksi kesalahan merupakan suatu tindakan korektif dengan tujuan memperbaiki atau menegur seseorang yang melakukan kesalahan. Dalam konteks komunikasi profetik, pengoreksian kesalahan bukan sekadar tindakan perbaikan perilaku yang salah, melainkan merupakan upaya mendidik dan membimbing agar individu dapat lebih mendekati norma-norma moral dan etika yang diinginkan (Thabroni, 2022).
Dalam buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes" karya Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid, ditekankan bahwa metode yang diaplikasikan Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi kesalahan tidak hanya bersifat korektif, tetapi juga empatik. Nabi mengedepankan aspek pembinaan dan pendekatan persuasif untuk mencapai pemahaman bersama. Pengoreksian kesalahan dilakukan dengan penuh hikmah dan kesabaran, tanpa meninggikan diri atau merendahkan martabat individu yang diperbaiki.
Secara konseptual, pengoreksi kesalahan dapat dipahami sebagai bagian integral dari dakwah Islam, yang bertujuan mengembangkan masyarakat yang lebih baik. Konsep ini memiliki akar dalam ajaran Islam yang menekankan pentingnya nasehat dan koreksi dalam rangka membangun umat yang sadar moral dan etika. Sejarah metode ini dapat ditelusuri melalui sunnah Nabi Muhammad saw. yang mencerminkan keteladanan dalam menegakkan kebenaran tanpa mengesampingkan nilai-nilai kelembutan dan kearifan.
Dalam konteks dakwah modern, pengoreksi kesalahan tidak hanya berfokus pada aspek perorangan, melainkan juga melibatkan tantangan dan dinamika masyarakat saat ini. Oleh karena itu, penerapan metode yang diilustrasikan oleh Nabi dalam buku tersebut memiliki implikasi yang relevan dalam upaya menyebarkan ajaran Islam di era kontemporer. Dengan memahami konsep ini secara mendalam, dakwah masa kini dapat menjadi lebih efektif, relevan, dan responsif terhadap tuntutan zaman.
C. Landasan Teologis Mengoreksi Kesalahan
Landasan teologis dari tindakan mengoreksi kesalahan dapat dipahami melalui perspektif ajaran Islam, yang mengakui pentingnya membangun masyarakat yang bermoral dan etis. Dalam konteks ini, mengoreksi kesalahan bukan hanya merupakan suatu koreksi perilaku, melainkan juga merupakan implementasi dari nilai-nilai agama yang mendorong keadilan, kebenaran, dan kasih sayang.
Landasan teologis utama untuk mengoreksi kesalahan dapat ditemukan dalam Al-Qur'an dan Hadis, yang memberikan petunjuk dan contoh dari kehidupan Nabi Muhammad saw. sebagai teladan utama. Al-Qur'an secara eksplisit menekankan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar, yaitu menyuruh kepada yang ma'ruf (kebaikan) dan mencegah dari yang munkar (keburukan). Surah Ali 'Imran (3:104) menjadi salah satu ayat yang menggarisbawahi peran umat Islam sebagai "khairu ummah" atau umat yang terbaik, yang mempromosikan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Dalam konteks landasan teologis, metode pengoreksian kesalahan yang diterapkan oleh Nabi Muhammad saw. dapat ditemukan dalam Hadis, yang mencatat tindakan dan perkataan beliau. Nabi memberikan contoh pendekatan yang penuh kasih sayang, hikmah, dan kesabaran dalam mengoreksi kesalahan. Beliau tidak hanya memberikan teguran, tetapi juga berusaha memahami situasi dan kondisi individu yang ditegurnya. Landasan teologis ini menunjukkan bahwa mengoreksi kesalahan bukan sekadar aturan formal, melainkan juga bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada konsep kebenaran dan keadilan.
Pemahaman landasan teologis ini juga mencerminkan konsep dakwah Islam, yang tidak hanya bersifat individual tetapi juga sosial. Dalam rangka menyampaikan pesan-pesan kebenaran dan kebaikan, tindakan mengoreksi kesalahan menjadi penting sebagai upaya membangun masyarakat yang lebih sadar moral dan etika. Dengan demikian, landasan teologis dari pengoreksian kesalahan tidak hanya bersumber dari norma-norma etika, tetapi juga merupakan implementasi konkret dari ajaran Islam yang mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan pemahaman terhadap sesama.
D. Prinsip Mengoreksi Kesalahan
Prinsip mengoreksi kesalahan didasarkan pada landasan etika dan ajaran agama, khususnya dalam konteks Islam. Dalam buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes" karya Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid, prinsip-prinsip ini dapat diuraikan sebagai berikut:
- Hikmah (Kebijaksanaan): Prinsip utama dalam mengoreksi kesalahan adalah kebijaksanaan. Nabi Muhammad saw. mengajarkan bahwa pengoreksian kesalahan harus dilakukan dengan penuh hikmah, yakni dengan memahami konteks dan keadaan individu yang ditegur. Kebijaksanaan dalam memberikan nasihat dapat membuka jalan untuk diterimanya koreksi.
- Empati dan Keterbukaan: Dalam memberikan koreksi, penting untuk memiliki empati terhadap perasaan dan kondisi orang yang ditegur. Keterbukaan untuk mendengarkan dan memahami perspektif orang lain dapat menciptakan dialog yang lebih baik dan meningkatkan efektivitas koreksi.
- Kasih Sayang dan Kehalusan Sifat: Nabi Muhammad saw. menunjukkan kasih sayang dalam mengoreksi kesalahan. Pendekatan yang lembut dan penuh kehalusan sifat lebih mungkin mencapai pemahaman dan perubahan positif. Kasih sayang juga mencerminkan nilai-nilai Islam yang menekankan keadilan, persaudaraan, dan perdamaian.
- Sabar dan Keteladanan: Sabar adalah prinsip yang penting dalam mengoreksi kesalahan. Nabi Muhammad saw. tidak hanya memberikan koreksi, tetapi juga menunjukkan kesabaran dan keteladanan melalui tindakan dan perilaku pribadinya. Keteladanan memiliki dampak besar dalam memotivasi orang untuk memperbaiki kesalahan mereka.
- Konsistensi: Prinsip konsistensi dalam memberikan koreksi menegaskan bahwa tindakan tersebut harus dilakukan dengan cara yang konsisten dan adil. Tidak adil jika hanya beberapa orang yang mendapatkan koreksi atau jika koreksi dilakukan dengan cara yang berbeda-beda.
- Privasi dan Hormat: Mengoreksi kesalahan sebaiknya dilakukan secara pribadi untuk menjaga kehormatan dan harga diri individu yang ditegur. Hal ini menghindari situasi yang dapat merendahkan martabat mereka di hadapan orang lain.
- Tujuan Pembinaan: Prinsip utama dari pengoreksian kesalahan adalah tujuan pembinaan. Koreksi tidak hanya dilakukan untuk menegur, tetapi juga untuk membantu individu mengembangkan diri mereka secara moral dan spiritual.
Prinsip-prinsip ini menciptakan kerangka kerja yang holistik dalam mengoreksi kesalahan, mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam tindakan korektif dengan tujuan membentuk masyarakat yang lebih baik dan sadar akan norma-norma agama.
E. Tujuan Mengoreksi Kesalahan
Mengoreksi kesalahan memiliki tujuan yang mendasar dan sangat relevan dalam konteks komunikasi profetik serta dakwah Islam. Beberapa tujuan utama dari pengoreksian kesalahan, sebagaimana dijelaskan dalam buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes" karya Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid, antara lain:
- Pembinaan Moral dan Etika: Tujuan utama dari mengoreksi kesalahan adalah membina individu secara moral dan etika. Dalam Islam, ajaran moral dan etika menjadi landasan bagi perilaku dan interaksi manusia. Dengan mengoreksi kesalahan, tujuan ini diarahkan untuk membentuk individu yang taat norma agama, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.
- Pertumbuhan Spiritual: Mengoreksi kesalahan bertujuan untuk mengarahkan individu menuju pertumbuhan spiritual. Melalui koreksi, diharapkan individu dapat mendekatkan diri kepada nilai-nilai agama, memperkuat hubungan dengan Tuhan, dan mengembangkan pemahaman mendalam tentang tujuan hidup dari perspektif spiritual.
- Perbaikan Hubungan Antar individu: Koreksi kesalahan juga memiliki tujuan untuk memperbaiki hubungan antar individu. Dalam Islam, nilai-nilai seperti keadilan, persaudaraan, dan toleransi sangat ditekankan. Dengan mengoreksi kesalahan, diharapkan hubungan antar individu dapat dibangun atas dasar kejujuran, penghargaan, dan saling membantu.
- Penyebaran Kebaikan: Tujuan dari mengoreksi kesalahan adalah menyebarkan kebaikan dalam masyarakat. Dalam ajaran Islam, umat Muslim diharapkan menjadi "khairu ummah" atau umat yang memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya. Melalui koreksi, diharapkan masyarakat dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika yang diinginkan.
- Perlindungan Terhadap Masyarakat: Mengoreksi kesalahan memiliki tujuan untuk melindungi masyarakat dari perbuatan yang merugikan. Dengan menegur dan memberikan koreksi, masyarakat dapat dijaga dari dampak negatif perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang diakui oleh agama dan masyarakat.
- Pengembangan Kesadaran Individu: Koreksi kesalahan bertujuan untuk mengembangkan kesadaran individu terhadap perbuatan mereka sendiri. Dengan menyadari kesalahan dan menerima koreksi, individu dapat mengembangkan kemampuan untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kualitas pribadi mereka.
Dengan demikian, mengoreksi kesalahan bukan hanya sekadar tindakan korektif, melainkan merupakan suatu bentuk pembinaan dan pendidikan yang bertujuan menciptakan masyarakat yang lebih sadar moral, etika, dan spiritual, sesuai dengan ajaran Islam.
BAB III
METODOLOGI
A. Pendekatan: Kualitatif Studi Kepustakaan
Pendekatan yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah kualitatif studi kepustakaan (library research) yang melibatkan serangkaian kegiatan terkait dengan pengumpulan data dari berbagai sumber pustaka (Asfar & Taufan, 2019). Menurut Abdul Rahman Sholeh, penelitian kepustakaan (library research) merupakan metode untuk menggali informasi dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di perpustakaan seperti buku, jurnal, dokumen, catatan sejarah, atau penelitian kepustakaan yang secara langsung berkaitan dengan fokus penelitian. Oleh karena itu, dalam konteks ini, penulis menguraikan langkah-langkah prosedur penelitian yang terstruktur (Evanirosa et al., 2022). Pendekatan ini dipilih untuk menyelidiki dan menganalisis secara mendalam isi dari buku "The Prophet's Methods Of Correcting People's Mistakes" karya Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid. Pendekatan kualitatif studi kepustakaan memungkinkan peneliti untuk merinci dan memahami konsep-konsep yang terkandung dalam buku tersebut melalui telaah terhadap literatur yang relevan. Pendekatan ini melibatkan analisis makna, pemahaman, dan interpretasi terhadap teks yang menjadi fokus penelitian (Assyakurrohim et al., 2023).
Penelitian ini merupakan studi mengenai teks yang termuat dalam buku “The Prophet’s Methods Of Correcting People’s Mistake”. Karena yang diteliti adalah teks tertulis yang berupa korpus (data yang dipakai sebagai sumber bahan penelitian) maka penelitian ini tergolong dalam pendekatan penelitian kepustakaan (library research). Penelitian Kepustakaan (library research) adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) baik berupa buku, catatan maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu.
Menurut M. Nazir, studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. Studi kepustakaan merupakan langkah yang penting di mana setelah seorang peneliti menetapkan topik penelitian, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan teori dan topik penelitian. Dalam pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan (Evanirosa et al., 2022). Sumber-sumber kepustakaan dapat diperoleh dari buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet, koran dll.). Bila peneliti telah memperoleh kepustakaan yang relevan, maka segera untuk disusun secara teratur untuk dipergunakan dalam penelitian. Oleh karena itu studi kepustakaan meliputi proses umum seperti mengidentifikasikan teori secara sistematis, penemuan pustaka, dan analisis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian (Danandjaja, 2014).
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam suatu penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepustakaan dan dokumentasi.
- Kepustakaan, Teknik kepustakaan merupakan cara pengumpulan data dengan bermacam material yang terdapat diruang kepustakaan seperti buku, koran, majalah, naskah, dokumentasi dan sebagainya yang relevan dengan penelitian. Menurut Sugiyono, studi kepustakaan berkaitan dengan kajian teoritis dan referensi lain yang berkaitan dengan nilai, budaya dan norma yang berkembang pada situasi sosial yang diteliti, selain itu studi kepustakaan sangat penting dalam melakukan penelitian, hal ini dikarenakan penelitian tidak akan lepas dari literatur-literatur Ilmiah.
- Dokumentasi, Untuk mendapatkan data-data dalam penelitian tokoh pada umumnya menggunakan studi dokumentasi, yaitu dengan menelusuri sumber-sumber data yang pernah ditulis oleh sang tokoh. Dengan data dokumentasi peneliti dapat mencatat karya-karya yang dihasilkan oleh sang tokoh berupa buku atau tulisan yang berkaitan dengan sang tokoh.
- Dokumentasi, yaitu salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian sosial. Pada intinya metode dokumen adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data historis. Dengan demikian, pada penelitian sejarah, maka bahan dokumen memegang peranan yang amat penting. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan, misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain sebagainya. Dokumen yang berbentuk karya, misalnya karya seni yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain sebagainya
B. Sumber Data: Buku "The Prophet's Methods Of Correcting People's Mistakes"
Sumber data utama yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah buku berjudul "The Prophet's Methods Of Correcting People's Mistakes" yang ditulis oleh Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid. Buku ini menjadi landasan utama untuk mengeksplorasi metode Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi kesalahan. Sebagai seorang ulama dan pendakwah terkemuka, Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid dikenal sebagai tokoh yang memberikan kontribusi besar dalam bidang studi Islam dan dakwah.
C. Teknik Analisis Data: Content Analysis
Teknik analisis data yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah content analysis. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk merinci, mengategorikan, dan mengevaluasi isi teks secara sistematis (Asfar & Taufan, 2019). Dalam konteks ini, content analysis digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis metode-metode yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam buku karya Syaikh Muhammed Salih Al-Munajjid.
Content analysis telah lama menjadi metode yang diandalkan dalam penelitian kualitatif untuk menggali makna-makna dalam teks. Dalam hal ini, teknik analisis data tersebut memungkinkan peneliti untuk menyajikan temuan-temuan dari buku dengan cara yang sistematis dan berbasis pada konten teks yang dianalisis.
Buku "The Prophet's Methods Of Correcting People's Mistakes" yang dijadikan sumber data dalam karya ilmiah ini diterbitkan oleh Iternational Islamic Publishing House (IIPH) pada tahun 2004, yang berasal dari judul asli:
"٣٨ طريقة من طرق النبي صلى الله عليه وسلم في إصلاح أخطاء الناس"
Terjemahan bebasnya adalah: "38 Cara Nabi dalam Memperbaiki Kesalahan Orang". yang terbit pada tahun 2002 oleh Pustaka As-Salam. Dengan merinci pendekatan, sumber data, dan teknik analisis data ini, karya ilmiah ini akan menggambarkan dengan cermat kontribusi buku tersebut dalam memahami metode Nabi Muhammad saw. dalam mengoreksi kesalahan dan implikasinya bagi dakwah masa kini.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Informasi Buku
Buku yang berjudul "The Prophet’s Methods of Correcting People’s Mistakes" awalnya ditulis dalam bahasa Arab dengan judul "Al-Asaleeb An-Nabawiyah" (الأساليب النبوية), yang berarti "Metode-Metode Nabi". Karya ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1995 dalam bahasa Arab, kemudian mengalami penyempurnaan dengan judul "38 Teknik Nabi dalam Mengoreksi Kesalahan Orang" dan diterbitkan oleh Pustaka As-Salam pada tahun 2002.
Judul asli buku ini dalam bahasa Arab adalah:
"38 طريقة من طرق النبي صلى الله عليه وسلم في إصلاح أخطاء الناس"
Terjemahan bebasnya adalah "38 Cara Nabi dalam Memperbaiki Kesalahan Orang," dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2004. Popularitas buku ini juga telah menginspirasi terjemahannya ke dalam beberapa bahasa lain, menandakan pentingnya buku ini dalam konteks global..
Syekh Muhammad Salih al-Munajjid adalah seorang ulama Islam Palestina-Saudi kelahiran Suriah. Beliau adalah pendiri situs web fatwa IslamQA.info, sebuah situs web populer untuk tanggapan ahlussunnah wal jama'ah Arab Saudi tentang topik Islam.
Gambar 1.1: Informasi Syeh Muhammad Salih al-Munajjid penulis buku “The Prophet’s Methods of Correcting People’s Mistakes” pada website islamway.net
Al-Munajjid lahir dari keluarga pengungsi Palestina di Aleppo, Suriah pada tahun 1960 dan dibesarkan di Arab Saudi. Al-Munajjid belajar ilmu syariat Islam di bawah ulama Abdul-Aziz bin Baz, tetapi tidak mendapatkan ijazah. Dia telah dideskripsikan sebagai ulama yang dihormati dari gerakan Salafi (Munandar, 2021).
Gambar1.2: Photo Syeh Muhammad Salih al-Munajjid
Al-Munajjid telah menulis banyak buku dan artikel tentang Islam. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Indonesia.
Beberapa buku yang ditulis oleh Al-Munajjid antara lain:
- The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes (2004)
- The Prophet's Methods of Teaching and Educating (2005)
- The Prophet's Methods of Dealing with the World (2006)
- The Prophet's Methods of Dealing with People (2007)
Al-Munajjid juga aktif memberikan ceramah dan seminar tentang Islam di berbagai negara. Beliau juga telah menjadi narasumber di berbagai media massa, termasuk televisi dan radio.
Al-Munajjid adalah seorang ulama yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam. Beliau telah memberikan kontribusi yang besar bagi penyebaran Islam di dunia. Karya-karyanya, termasuk buku ini, telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman Islam kontemporer dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim.
Buku "The Prophet’s Methods of Correcting People’s Mistakes" menawarkan wawasan yang mendalam tentang cara-cara Nabi Muhammad SAW dalam mengoreksi kesalahan, dengan menekankan pendekatan yang penuh kasih sayang, empati, dan kebijaksanaan. Isi buku ini sangat relevan untuk konteks saat ini, di mana umat Islam dan masyarakat umumnya menghadapi tantangan dalam mengoreksi kesalahan dalam cara yang efektif dan beretika.
Gambar 1.3: Tampilan Buku “The Prophet’s Methods of Correcting People’s Mistakes”.
Latar belakang dibuatnya buku ini berkaitan erat dengan kebutuhan umat Islam modern untuk mengadopsi metode yang sesuai dengan ajaran Islam dalam menghadapi kesalahan. Di era yang ditandai dengan tantangan sosial dan budaya yang kompleks, metode Nabi Muhammad SAW, sebagaimana digambarkan dalam buku ini, menawarkan panduan yang berharga dalam menerapkan prinsip-prinsip Islam secara praktis dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks dakwah dan pengajaran.
Buku ini telah menjadi sumber rujukan penting bagi para akademisi, mubalig, pendidik, dan siapa saja yang tertarik dalam mempelajari pendekatan Nabi Muhammad SAW dalam mengoreksi kesalahan. Kehadiran buku ini dalam berbagai bahasa menunjukkan pentingnya dan relevansinya dalam masyarakat Islam di seluruh dunia, serta minat yang luas dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
B. Struktur Buku
Buku ini terdiri dari pendahuluan, beberapa prinsip dasar dalam mengoreksi kesalahan, sejumlah metode yang digunakan Nabi Muhammad beserta contoh kasus dan kutipannya, dan kesimpulan
Berikut adalah struktur buku "The Prophet’s Methods of Correcting People’s Mistakes" yang telah saya susun dalam bentuk tabel untuk memudahkan pemahaman:
| No | Bab | Deskripsi |
|---|---|---|
| 1 | Pendahuluan | Menguraikan latar belakang, tujuan, dan pentingnya memahami metode Nabi Muhammad dalam mengoreksi kesalahan. |
| 2 | Prinsip Dasar dalam Mengoreksi Kesalahan | Menjelaskan beberapa prinsip fundamental yang harus diperhatikan saat mengoreksi kesalahan sesuai ajaran Nabi Muhammad. |
| 3 | Metode Koreksi Nabi Muhammad | Membahas berbagai metode yang digunakan oleh Nabi Muhammad dalam mengoreksi kesalahan, berdasarkan ajaran dan hadis. |
| 4 | Contoh Kasus dan Kutipan | Memberikan contoh kasus nyata dan kutipan yang menerapkan metode Nabi Muhammad dalam situasi khusus. |
| 5 | Kesimpulan | Menyimpulkan isi buku dan merangkum poin-poin penting serta implikasinya dalam praktik dakwah masa kini. |
Tabel ini mencakup bab-bab utama dari buku dan memberikan gambaran singkat tentang isi masing-masing bab. Struktur ini membantu dalam menguraikan pembahasan buku secara sistematis, memudahkan pemahaman konten dan aplikasinya dalam konteks dakwah modern.
C. Pesan Utama
Berikut adalah kutipan yang menggambarkan intisari pesan utama dari buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes," yang membahas pentingnya mengoreksi kesalahan dengan bijaksana, mempertimbangkan kondisi spesifik individu yang bersalah, tujuan utama untuk memperbaiki, bukan menghukum, dan tuntunan khusus mengenai siapa yang berhak mengoreksi (Al-Munajjid, 2004).
- Pentingnya Mengoreksi Kesalahan dengan Bijaksana
"Correcting mistakes is obligatory and very important. It is part of naseehah (giving sincere advice) and forbidding what is evil, but it should be remembered that Islam is not only about forbidding what is evil; we are also commanded to enjoin what is good." (Hal. 67)
"Memperbaiki kesalahan adalah kewajiban dan sangat penting. Ini merupakan bagian dari naseehah (memberi nasihat yang tulus) dan mencegah kemungkaran, tetapi harus diingat bahwa Islam tidak hanya tentang mencegah kemungkaran; kita juga diperintahkan untuk menyuruh kebaikan."
Mengoreksi kesalahan dengan bijaksana berarti menggunakan cara yang paling sesuai dengan situasi dan orang yang bersalah. Tidak semua kesalahan memerlukan teguran keras atau hukuman berat. Beberapa kesalahan bisa diperbaiki dengan cara yang lembut dan halus, seperti memberi isyarat, memberi contoh, atau memberi hadiah. Mengoreksi kesalahan dengan bijaksana juga berarti memperhatikan akibat dari tindakan kita, apakah itu akan membawa manfaat atau mudarat bagi orang yang bersalah dan orang lain.
- Mempertimbangkan Kondisi Spesifik Individu yang Bersalah
"The educator must be open-minded in dealing with his companions’ mistakes, so that they continue progressing on the straight path. The aim is to reform them, not alienate them." (Hal. 55)
"Pendidik harus berpikiran terbuka dalam menangani kesalahan-kesalahan teman-temannya, agar mereka terus berjalan di jalan yang lurus. Tujuannya adalah untuk mereformasi mereka, bukan menjauhkan mereka."
Mempertimbangkan kondisi spesifik individu yang bersalah berarti memahami latar belakang, motivasi, dan keadaan mereka. Tidak semua orang yang berbuat salah memiliki niat jahat atau tidak peduli. Beberapa orang mungkin tidak tahu bahwa mereka salah, atau mungkin terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal, seperti lingkungan, teman, atau media. Mempertimbangkan kondisi spesifik individu yang bersalah juga berarti menyesuaikan cara kita mengoreksi mereka, sesuai dengan tingkat pengetahuan, keimanan, dan kemampuan mereka.
- Tujuan Utamanya Adalah Memperbaiki, Bukan Menghukum
"The aim is to reform them, not alienate them... Understanding this fact will also prevent an educator from being greatly shocked by the kind of sudden mistake that could lead him to react in an inappropriate fashion." (Hal. 55)
"Tujuannya adalah untuk mereformasi mereka, bukan menjauhkan mereka... Memahami hal ini juga akan mencegah pendidik dari terkejut oleh jenis kesalahan mendadak yang bisa membuatnya bereaksi dengan cara yang tidak pantas."
Tujuan utama mengoreksi kesalahan adalah untuk memperbaiki, bukan menghukum. Ini berarti bahwa kita tidak boleh mengoreksi kesalahan dengan cara yang merendahkan, menyakiti, atau mempermalukan orang yang bersalah. Kita juga tidak boleh mengoreksi kesalahan dengan emosi, marah, atau dendam. Kita harus mengoreksi kesalahan dengan cara yang menunjukkan rasa sayang, kasih, dan peduli. Kita juga harus mengoreksi kesalahan dengan harapan bahwa orang yang bersalah akan bertaubat, berubah, dan menjadi lebih baik.
- Tuntunan Khusus Mengenai Siapa yang Berhak Mengoreksi
"Those who have an excellent track record are not immune from committing major sins... It is clear from the reports mentioned above that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) used this method is because of his position and status." (Hal 55)
"Orang-orang yang memiliki catatan prestasi yang baik tidak kebal dari melakukan dosa besar... Jelas dari laporan-laporan yang disebutkan di atas bahwa Nabi (ﷺ) menggunakan metode ini karena posisi dan statusnya." (Hal. 55-58)
Tuntunan khusus mengenai siapa yang berhak mengoreksi berarti bahwa kita harus menghormati hak dan kewajiban orang-orang yang memiliki otoritas, tanggung jawab, atau kedudukan dalam mengoreksi kesalahan. Tidak semua orang bisa mengoreksi kesalahan dengan cara yang sama. Beberapa orang memiliki hak istimewa atau kewenangan untuk mengoreksi kesalahan dengan cara yang lebih tegas atau langsung, seperti Nabi (ﷺ), para sahabat, para ulama, atau para pemimpin. Beberapa orang harus mengoreksi kesalahan dengan cara yang lebih sopan atau indirek, seperti orang tua, guru, atau teman. Beberapa orang harus mengoreksi kesalahan dengan cara yang lebih rahasia atau pribadi, seperti suami, istri, atau saudara.
D. Berbagai Metode Koreksi Kesalahan Menurut Nabi Muhammad SAW
- Hastening to deal with people’s mistakes and not putting it off (Bersikap cepat dalam menangani kesalahan orang dan tidak menundanya.)
“The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) used to hasten to deal with people’s mistakes, especially when it was not right for him to delay doing so at the moment when this was needed. His task was to explain the truth to people, teach them to do good, and warn them off from doing evil. So he hastened to correct people on many occasions, as is seen in the stories of the man who was not doing his salaah properly, the Makhzoomi woman, Ibn al-Latbiyyah, Usaamah, the three who wanted to go to extremes in worship, and others. These stories will be related in the course of this discussion, in sha Allaah.” (Hal. 22)
Terjemahan Bahasa Indonesia
Rasulullah (saw) biasanya segera mengatasi kesalahan orang, terutama ketika tidak benar baginya untuk menundanya pada saat itu. Tugas beliau adalah menjelaskan kebenaran kepada manusia, mengajarkan mereka berbuat baik, dan memperingatkan mereka dari perbuatan jahat. Oleh karena itu, beliau segera memperbaiki orang dalam banyak kesempatan, seperti yang terlihat dalam kisah tentang seorang yang tidak melaksanakan shalat dengan benar, wanita Makhzoomi, Ibn al-Latbiyyah, Usaamah, tiga orang yang ingin berlebihan dalam ibadah, dan lainnya. Kisah-kisah ini akan diuraikan dalam perbincangan ini, in sha Allaah.
Rasulullah (saw) dikenal sebagai pemimpin yang cepat tanggap terhadap kesalahan orang lain, terutama ketika menunda tindakan tidak sesuai dengan keadaan yang membutuhkan respons segera. Tugas beliau adalah memberikan penjelasan tentang kebenaran kepada manusia, mengajarkan mereka untuk berbuat baik, dan memberikan peringatan terhadap perbuatan jahat. Oleh karena itu, beliau dengan cepat menanggapi kesalahan orang dalam berbagai kesempatan, seperti yang terlihat dalam kisah-kisah tentang seseorang yang tidak melaksanakan shalat dengan benar, wanita Makhzoomi, Ibn al-Latbiyyah, Usaamah, tiga orang yang ingin berlebihan dalam ibadah, dan lainnya.
Ketidaksegeraan menanggapi kesalahan dapat merugikan kepentingan Islam dan melewatkan peluang untuk bertindak saat situasi membutuhkan tindakan cepat. Sikap tanggap terhadap kesalahan membantu memperbaiki masyarakat dan memberikan pengajaran yang efektif. Rasulullah (saw) memberikan teladan bahwa menanggapi kesalahan dengan cepat adalah suatu bentuk kasih sayang dan peduli terhadap kebaikan umat.
- Dealing with mistakes by explaining the ruling (hukm) (Menangani kesalahan dengan menjelaskan hukum.)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terkadang langsung menjelaskan kesalahan dan memberikan pengarahan solusi yang benar kepada sahabat yang bersangkutan. Sebagaimana hadits berikut:
حدث جَرْهَدُ (رضي الله عنه) قالَ: مَرَّ بي رسولُ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) وحَجُرِي مَكْشُوفَةٌ، فقالَ: "غَطِّ حَجْرَكَ، فإنَّه عَوْرَةٌ
"Jarhad (may Allaah be pleased with him) reported that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) passed by him when his thigh was uncovered. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, “Cover your thigh, for it is part of the ‘awrah.” (Sunan al-Tirmidhi, no. 2796)." (Hal. 23)
Terjemahan Bahasa Indonesia:
Jarhad (ra) berkata: "Rasulullah (saw) pernah melewatiku dalam keadaan pahaku terbuka. Beliau lalu berkata, 'Tutupi pahamu, karena itu adalah aurat.'"
Hadis ini diriwayatkan oleh Jarhad (ra), yang menceritakan bahwa Rasulullah (saw) pernah melewatinya dalam keadaan pahanya terbuka. Rasulullah (saw) kemudian menyuruhnya untuk menutup pahanya, karena itu adalah aurat.
Aurat adalah bagian tubuh yang harus ditutupi menurut syariat Islam. Bagi laki-laki, aurat adalah dari pusar sampai lutut. Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa penting untuk menutup aurat, bahkan di hadapan sesama laki-laki.
Hadis ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah (saw) sangat memperhatikan adab dan kesopanan dalam berpakaian. Beliau selalu mengingatkan umatnya untuk menutup aurat, agar terhindar dari fitnah dan pandangan yang tidak pantas.
Metode ini relevan untuk memberikan koreksi dan arahan solutif bagi umat masa kini agar tidak terjatuh dalam kesalahan. Misalnya, jika kita melihat seseorang yang tidak menutup auratnya dengan baik, kita bisa langsung menasihatinya dengan cara yang lembut dan sopan, serta memberikan contoh pakaian yang sesuai dengan syariat. Kita juga bisa memberikan referensi dari Al-Qur'an dan Hadits yang menjelaskan tentang hukum dan hikmah menutup aurat.
- Referring people back to Islam when they make mistakes, and pointing out to them the principle that they are breaking (Mengarahkan orang kembali ke Islam ketika membuat kesalahan, dan menunjukkan pada mereka prinsip yang mereka langgar.)
“When someone is indulging in a mistake, the Islamic principle is far from their minds and is lost in the clamour of the moment. In such cases reiterating the Islamic principle and announcing it loudly can be an effective way of stopping the person in his tracks and making him wake up from the stupor that has overtaken him. When we look at what happened between the Muhaajiroon and Ansaar, because of the flames of fitnah stirred up by the munaafiqoon, we will see an example of how the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) used this tactic. Al-Bukhaari (may Allaah have mercy on him) reported in his Saheeh that Jaabir (may Allaah be pleased with him) said: “We went out on a military campaign with the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), and some of the muhaajiroon went with him too, and they were very many. Among the muhaajiroon was a man who was very playful (a joker). He shoved an Ansaari (in jest), and the Ansaari got very angry with him and called others to support him, saying, ‘O Ansaar!’ The Muhaajir called out, ‘O Muhaajireen!’ The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) came out and said, ‘What is this call of the people of Jaahiliyyah all about?’ Then he said, ‘What is the matter with him?’ He was told about how the Muhaajir had shoved the Ansaari in jest. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Let it be, for it (tribalism) is evil.’” (al-Fath, 3518). According to a report narrated by Muslim, he said: “Let a man help his brother whether he is an wrongdoer or the victim of wrongdoing. If he is a wrongdoer, he should stop him, and if he is the victim of wrongdoing, he should come to his aid.” (Saheeh Muslim, no. 2584). (Hal.23)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Ketika seseorang terlibat dalam kesalahan, prinsip Islam sering kali jauh dari pikiran mereka dan hilang dalam keramaian saat itu. Dalam kasus-kasus seperti itu, mengulangi prinsip Islam dan mengumumkannya dengan keras dapat menjadi cara efektif untuk menghentikan orang tersebut dan membuatnya sadar dari kebimbangan yang telah merasukinya. Ketika kita melihat apa yang terjadi antara Muhajirin dan Ansar, akibat gejolak fitnah yang dibuat oleh munafikin, kita akan melihat contoh bagaimana Rasulullah (saw) menggunakan taktik ini. Al-Bukhari (semoga Allah memberinya rahmat) melaporkan dalam kitab Saheeh-nya bahwa Jaabir (semoga Allah meridainya) berkata: "Kami pergi dalam sebuah kampanye militer bersama Rasulullah (saw), dan beberapa muhajirin ikut bersamanya, dan mereka sangat banyak. Di antara muhajirin ada seorang yang sangat bermain-main (pendusta). Dia mendorong seorang Ansar (dengan gurauan), dan Ansar itu sangat marah dengannya dan memanggil orang lain untuk mendukungnya, berkata, 'Wahai Ansar!' Muhajirin memanggil, 'Wahai Muhajirin!' Rasulullah (saw) keluar dan berkata, 'Apa ini panggilan dari orang-orang Jahiliah?' Lalu beliau berkata, 'Ada apa dengan dia?' Diberitahu tentang bagaimana Muhajir telah mendorong Ansari itu dengan gurauan. Rasulullah (saw) berkata, 'Biarkan saja, karena itu (tribalisme) adalah kejahatan.'" (al-Fath, 3518). Menurut laporan yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau berkata: "Bantulah saudaramu, baik dia yang berbuat zalim atau yang menjadi korban kezaliman. Jika dia adalah orang yang berbuat zalim, hentikan dia, dan jika dia adalah korban kezaliman, datanglah membantunya." (Saheeh Muslim, no. 2584).
Ketika seseorang terlibat dalam kesalahan, sering kali prinsip Islam terlupakan dan tenggelam dalam kegemparan saat itu. Dalam situasi seperti itu, mengulangi prinsip Islam dengan keras dan jelas dapat menjadi cara efektif untuk menghentikan orang tersebut dan membuatnya sadar dari keadaan bingung yang telah merasukinya.
Kisah yang disampaikan oleh Jabir (ra) tentang insiden antara Muhajirin dan Ansar memberikan contoh bagaimana Rasulullah (saw) menggunakan taktik ini. Meskipun Muhajirin dan Ansar terlibat dalam pertengkaran, Rasulullah (saw) segera turun tangan dan menegaskan bahwa sikap sukuisme atau kesukuan adalah sesuatu yang buruk dan harus dihindari.
Prinsip Islam mengajarkan solidaritas dan dukungan antar sesama, baik saat seseorang berbuat salah maupun menjadi korban kezaliman. Rasulullah (saw) mengingatkan umatnya untuk saling membantu dan menghindari sikap yang dapat memicu perselisihan di antara mereka.
- Correcting misconceptions that are due to something not being clear in people’s minds (Memperbaiki pemahaman yang salah karena sesuatu tidak jelas dalam pikiran orang.)
“In Saheeh al-Bukhaari, Humayd ibn Abi Humayd al-Taweel reports that he heard Anas ibn Maalik (may Allaah be pleased with him) saying: “Three people came to the houses of the wives of the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), asking about how the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) worshipped. When they were told about it, they thought that it was little. They said, “Who are we, compared to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him)? All his sins, past and future, have been forgiven.” (They thought that the one who does not know that his sins have been forgiven needed to go to extremes in worship and do far more than the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), in the hope that their sins might be forgiven). One of them said, “As for me, I will pray every night from now on.” Another said, “As for me, I will fast for the rest of my life and will never break my fast.” The third said, “As for me, I will have nothing to do with women and I will never marry.” The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) came to them and said, “Are you the people who said such-and-such? By Allaah, I am the one who fears Allaah more than anyone, but I fast and I break my fast, I pray and I rest, and I get married.” Muslim reported from Anas that a group of the Companions of the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) asked the wives of the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) about what he did in secret. One of them (those Sahaabah) said, “I will never marry women.” Another said, “I will never eat meat.” Another said, “I will never sleep on a bed.” [The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him)] praised and thanked Allaah, then he said, “What is the matter with some people who say such-and-such? But as for me, I pray and I sleep, I fast and I break my fast, and I marry women. Whoever turns away from my Sunnah has nothing to do with me.” (Saheeh Muslim, no. 1041) (Hal.24)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Dalam Saheeh al-Bukhari, Humayd ibn Abi Humayd al-Taweel melaporkan bahwa ia mendengar Anas ibn Maalik (semoga Allah meridainya) berkata: "Tiga orang datang ke rumah-rumah istri-istri Nabi (saw), bertanya tentang bagaimana Nabi (saw) beribadah. Ketika mereka diberi tahu, mereka berpikir bahwa itu sedikit. Mereka berkata, 'Siapa kita dibandingkan dengan Nabi (saw)? Semua dosanya, yang lalu dan yang akan datang, telah diampuni.' (Mereka berpikir bahwa orang yang tidak tahu bahwa dosanya telah diampuni perlu berlebihan dalam ibadah dan melakukan lebih banyak dari Nabi (saw), dengan harapan dosa-dosanya akan diampuni). Salah satu dari mereka berkata, 'Adapun saya, saya akan berdoa setiap malam mulai sekarang.' Yang lain berkata, 'Adapun saya, saya akan berpuasa seumur hidup dan tidak akan pernah berbuka.' Yang ketiga berkata, 'Adapun saya, saya tidak akan berurusan dengan wanita dan tidak akan pernah menikah.' Rasulullah (saw) datang kepada mereka dan berkata, 'Apakah kalian orang-orang yang mengatakan ini dan itu? Wallahi, saya adalah orang yang lebih takut kepada Allah daripada siapa pun, tetapi saya berpuasa dan saya berbuka, saya berdoa dan saya istirahat, dan saya menikah.' Muslim melaporkan dari Anas bahwa sekelompok Sahabat Nabi (saw) bertanya kepada istri-istri Nabi (saw) tentang apa yang dilakukan Nabi (saw) secara rahasia. Salah satu dari mereka (para Sahabat) berkata, 'Saya tidak akan menikahi wanita.' Yang lain berkata, 'Saya tidak akan makan daging.' Yang lain berkata, 'Saya tidak akan tidur di atas tempat tidur.' [Nabi (saw)] memuji dan bersyukur kepada Allah, kemudian beliau berkata, 'Apa yang terjadi dengan beberapa orang yang mengatakan ini dan itu? Tetapi adapun saya, saya berdoa dan saya tidur, saya berpuasa dan saya berbuka, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang berpaling dari Sunahku, dia tidak ada hubungannya denganku.' (Saheeh Muslim, no. 1041)
Kisah ini menggambarkan kebijaksanaan Rasulullah (saw) dalam menanggapi orang-orang yang berniat untuk mengambil sikap ekstrem dalam ibadah, berpikir bahwa tindakan tersebut akan mendekatkan mereka kepada Allah. Rasulullah (saw) dengan tegas menegaskan bahwa kehidupan seorang Muslim seharusnya seimbang, mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti ibadah, istirahat, dan pernikahan.
Rasulullah (saw) mengajarkan bahwa ekstremisme dalam ibadah bukanlah jalan yang benar. Ia menegaskan bahwa dirinya, meskipun penuh ketakwaan kepada Allah, tetap melakukan keseimbangan dalam ibadah, termasuk berpuasa, berdoa, beristirahat, dan menikah. Beliau menunjukkan bahwa kehidupan seorang Muslim harus mencakup semua aspek kehidupan, dan meninggalkan Sunnah Rasulullah (saw) bukanlah tindakan yang bijaksana.
- Dealing with mistakes by repeatedly reminding people to fear Allaah (Menangani kesalahan dengan terus-menerus mengingatkan orang untuk takut kepada Allah.)
Jundub ibn ‘Abd-Allaah al-Bajali reported that the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) sent a group of Muslims to fight some mushrikeen, and they met in battle. One of the mushrikeen was ambushing individual Muslims and killing them. One of the Muslims wanted to catch him out and kill him. [Jundub said:] “We used to think that that man was Usaamah ibn Zayd. When he raised his sword, the mushrik said ‘La ilaaha ill-Allaah,’ but he [Usaamah] killed him. A messenger came to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) and reported to him about what had happened in the battle. When he told him about what had happened to the mushrik who said Laa ilaaha ill-Allaah, the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) sent for Usaamah and asked him, ‘Why did you kill him?’ He said, ‘O Messenger of Allaah, he had caused much grief to the Muslims, he killed So-and-so and So-and-so,’ – and he named a number of people – ‘I attacked him and when he saw the sword he said Laa ilaaha ill-Allaah.’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘And then you killed him?’ Usaamah said, ‘Yes.’ He said, ‘What will you do when Laa illaha ill-Allaah comes on the Day of Resurrection?’ He said, ‘O Messenger of Allaah, pray for forgiveness for me.’” The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) simply said, “What will you do when Laa ilaaha ill-Allaah comes on the Day of Resurrection?”; he did not say any more than that. (Reported by Muslim, ‘Abd al-Baaqi edn., no. 97). (Hal.26)
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Jundub ibn ‘Abd-Allaah al-Bajali melaporkan bahwa Rasulullah (saw) mengirim sekelompok Muslim untuk melawan beberapa musyrikin, dan mereka bertemu dalam pertempuran. Salah satu musyrikin sedang menyergap individu Muslim dan membunuh mereka. Salah satu Muslim ingin mengecohnya dan membunuhnya. [Jundub berkata:] "Kami dulu berpikir bahwa orang itu adalah Usaamah ibn Zayd. Ketika dia mengangkat pedangnya, musyrikin tersebut mengucapkan 'Laa ilaaha ill-Allaah,' tetapi dia [Usaamah] membunuhnya. Seorang utusan datang kepada Rasulullah (saw) dan melaporkan kepadanya tentang apa yang terjadi dalam pertempuran itu. Ketika dia menceritakan tentang apa yang terjadi pada musyrikin yang mengucapkan Laa ilaaha ill-Allaah, Rasulullah (saw) memanggil Usaamah dan bertanya kepadanya, 'Mengapa kamu membunuhnya?' Dia berkata, 'Wahai Rasulullah, dia telah menyebabkan banyak kesedihan bagi umat Islam, dia membunuh Fulan dan Fulan,' - dan dia menyebut beberapa orang - 'Saya menyerangnya dan ketika dia melihat pedang, dia mengucapkan Laa ilaaha ill-Allaah.' Rasulullah (saw) berkata, 'Dan kemudian kamu membunuhnya?' Usaamah berkata, 'Ya.' Rasulullah (saw) berkata, 'Apa yang akan kamu lakukan ketika Laa ilaha ill-Allaah datang di Hari Kiamat?' Dia berkata, 'Wahai Rasulullah, mohonkan ampunan untukku.'” Rasulullah (saw) hanya berkata, "Apa yang akan kamu lakukan ketika Laa ilaaha ill-Allaah datang di Hari Kiamat?"; beliau tidak mengucapkan lebih dari itu. (Dilaporkan oleh Muslim, edisi ‘Abd al-Baaqi, no. 97).
Dalam kisah ini, terdapat situasi di mana seorang Muslim, diyakini sebagai Usaamah ibn Zayd, membunuh seorang musyrik yang menyatakan "Laa ilaaha ill-Allaah" saat pedang sudah diangkat. Setelah kejadian tersebut dilaporkan kepada Rasulullah (saw), beliau memanggil Usaamah untuk bertanya mengapa dia membunuh orang tersebut.
Pertanyaan Rasulullah (saw) kepada Usaamah mencerminkan kehati-hatian dalam menanggapi situasi di mana seseorang mengucapkan kalimat syahadat saat nyawa mereka dalam bahaya. Rasulullah (saw) mengingatkan Usaamah tentang beratnya makna kalimat "Laa ilaaha ill-Allaah" dan menunjukkan bahwa kehidupan seseorang tidak dapat diambil hanya karena ucapan tersebut.
Meskipun Rasulullah (saw) tidak mencela secara langsung tindakan Usaamah, pertanyaan beliau memberikan pengajaran tentang pentingnya memahami makna dan konsekuensi dari kalimat syahadat, bahkan di tengah situasi konflik.
- Showing compassion to the one who is making a mistake (Menunjukkan belas kasihan kepada orang yang membuat kesalahan.)
“This applies in the case of those who deserve compassion, who feel remorse and show that they have repented, as is sometimes the case when people come to ask questions and find out, as in the following story: Ibn ‘Abbaas reported that a man who had divorced his wife by zihaar and then had intercourse with her came to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) and said, “O Messenger of Allaah, I divorced my wife by zihaar then I had intercourse with her before I offered kafaarah (expiation).” He said, “What made you do that, may Allaah have mercy on you?” He said, “I saw her anklets in the moonlight.” He said, “Then do not go near her until you have done that which Allaah commanded you to do.” (Abu ‘Eesa said, this is a hasan ghareeb saheeh hadeeth. Saheeh Sunan al-Tirmidhi, no. 1199) (Hal.27)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Prinsip ini berlaku dalam kasus-kasus di mana orang tersebut pantas mendapatkan belas kasihan, merasa menyesal, dan menunjukkan bahwa mereka telah bertaubat, seperti terkadang terjadi ketika orang datang untuk bertanya dan mencari tahu, seperti dalam kisah berikut: Ibn ‘Abbaas melaporkan bahwa seorang lelaki yang menceraikan istrinya dengan cara zihaar dan kemudian berhubungan dengannya datang kepada Rasulullah (saw) dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku menceraikan istriku dengan zihaar, kemudian aku berhubungan dengannya sebelum aku memberikan kafaarah (penebusan).” Rasulullah (saw) berkata, “Apa yang membuatmu melakukannya, semoga Allah memberimu rahmat?” Dia berkata, “Aku melihat gelang kakinya dalam cahaya bulan.” Rasulullah (saw) berkata, “Maka jangan mendekatinya sampai kamu melakukan apa yang Allah perintahkan padamu.” (Abu ‘Eesa berkata, ini adalah hadis hasan ghareeb sahih. Saheeh Sunan al-Tirmidhi, no. 1199)
Prinsip tersebut berlaku dalam konteks kejadian di mana seseorang, setelah menceraikan istrinya dengan metode zihaar, melakukan hubungan intim dengannya tanpa melakukan penebusan yang diwajibkan. Dalam kisah ini, seorang lelaki mengakui perbuatannya kepada Rasulullah (saw).
Rasulullah (saw) menunjukkan perasaan simpati terhadap orang tersebut dan bertanya tentang motif di balik tindakannya. Saat lelaki itu menyebutkan bahwa dia melakukan hubungan intim setelah melihat gelang kaki istrinya di cahaya bulan, Rasulullah (saw) memberikan nasihat dan menegaskan agar lelaki tersebut tidak mendekati istrinya sampai dia melaksanakan kafaarah (penebusan) sesuai dengan perintah Allah.
Kisah ini memberikan pengajaran tentang pentingnya kesadaran akan kewajiban agama, bahkan dalam situasi yang mungkin melibatkan keinginan atau dorongan yang kuat. Rasulullah (saw) menunjukkan bahwa belas kasihan dan pemahaman terhadap kondisi seseorang tidak boleh menggantikan ketaatan terhadap perintah Allah.
- Not hastening to tell someone he is wrong (Tidak terburu-buru memberi tahu seseorang bahwa dia salah.)
“Something happened to ‘Umar which he himself told about: “I heard Hishaam ibn Hakeem ibn Hizaam reciting Soorat al-Furqaan during the lifetime of the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him). I listened to his recitation, and he was reciting it differently to the way that the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) used to recite it. I nearly interrupted his prayer, but I waited until he had said the salaam, then I grabbed him by his cloak and said, ‘Who taught you to recite this soorah I heard you reciting?’ He said, ‘The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) taught me to recite it.’ I said, ‘You are lying! The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) taught me to recite it differently.’ I took him to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and said, ‘I heard him reciting Soorat al-Furqaan differently than the way you taught me to recite it.’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Let him go. Recite, O Hishaam.’ He recited it as I had heard him recite it. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘This is how it was revealed.’ Then he said, ‘Recite, O ‘Umar.’ So I recited it as he had taught me. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘This is how it was revealed. This Qur’an was revealed with seven ways of recitation, so recite it in the way that is easiest for you.’” (Reported by al-Bukhaari, Al-Fath, 4992). (Hal.28)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Suatu kejadian menimpa ‘Umar yang dia sendiri ceritakan: “Saya mendengar Hishaam ibn Hakeem ibn Hizaam membaca Surat al-Furqaan pada masa hidup Rasulullah (saw). Saya mendengarkan bacaannya, dan dia membacanya berbeda dengan cara Rasulullah (saw) membacanya. Saya hampir saja mengganggu shalatnya, tetapi saya menunggu hingga dia mengucapkan salam, kemudian saya meraih jubahnya dan berkata, ‘Siapa yang mengajari kamu membaca surah ini yang saya dengar kamu baca?’ Dia berkata, ‘Rasulullah (saw) mengajari saya membacanya.’ Saya berkata, ‘Kamu berbohong! Rasulullah (saw) mengajari saya membacanya dengan cara yang berbeda.’ Saya membawanya kepada Rasulullah (saw) dan berkata, ‘Saya mendengar dia membaca Surat al-Furqaan berbeda dengan cara yang Engkau ajarkan padaku.’ Rasulullah (saw) berkata, ‘Biarkan dia pergi. Bacalah, wahai Hishaam.’ Dia membacanya seperti yang saya dengar dia baca. Rasulullah (saw) berkata, ‘Inilah cara yang diwahyukan.’ Kemudian beliau berkata, ‘Bacalah, wahai ‘Umar.’ Jadi, saya membacanya seperti yang diajarkan padaku. Rasulullah (saw) berkata, ‘Inilah cara yang diwahyukan. Al-Qur'an ini diturunkan dengan tujuh cara bacaan, maka bacalah dengan cara yang paling mudah bagi kamu.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Al-Fath, 4992).
Kisah ini menceritakan insiden di mana ‘Umar mendengar seseorang, yaitu Hishaam ibn Hakeem, membaca Surat al-Furqaan dengan cara yang berbeda dari cara Rasulullah (saw) mengajarkannya. ‘Umar, yang mengetahui cara bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah (saw), hampir mengganggu shalat Hishaam karena perbedaan tersebut.
Namun, setelah membawa masalah ini ke hadapan Rasulullah (saw), beliau memberikan pengajaran berharga bahwa Al-Qur'an telah diturunkan dengan tujuh cara bacaan yang berbeda, dan setiap cara bacaan tersebut benar. Rasulullah (saw) menegaskan pentingnya keberagaman dalam bacaan Al-Qur'an dan memberi nasihat kepada setiap orang untuk membacanya dengan cara yang paling mudah bagi mereka.
- Remaining calm when dealing with people’s mistakes (Tetap tenang saat menangani kesalahan orang.)
“Especially when being too harsh could make matters worse and do more harm than good. We can learn this from looking at how the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) dealt with the mistake made by the Bedouin who urinated in the mosque, as was reported by Anas ibn Maalik, who said: “Whilst we were in the mosque with the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), a Bedouin came and stood urinating in the mosque. The Companions of the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Stop it! Stop it!’ But the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Do not interrupt him; leave him alone.’ So they left him until he had finished urinating, then the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) called him and said to him, ‘In these mosques it is not right to do anything like urinating or defecating; they are only for remembering Allaah, praying and reading Qur’aan,’ or words to that effect. Then he commanded a man who was there to bring a bucket of water and throw it over the (urine), and he did so.” (Saheeh Muslim, no. 285). (Hal.30)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Terutama ketika bersikap terlalu keras dapat membuat keadaan semakin buruk dan merugikan daripada memberikan manfaat. Hal ini dapat kita pelajari dari bagaimana Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) menangani kesalahan yang dilakukan oleh seorang Badui yang buang air kecil di dalam masjid, seperti yang dilaporkan oleh Anas ibn Maalik. Anas berkata, "Ketika kami berada di dalam masjid bersama Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), seorang Badui datang dan buang air kecil di dalam masjid. Para Sahabat Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata, 'Hentikan dia! Hentikan dia!' Tetapi Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, 'Jangan mengganggunya; biarkan dia.' Maka mereka membiarkannya sampai dia selesai buang air kecil, kemudian Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memanggilnya dan berkata, 'Di dalam masjid-masjid ini, tidak benar melakukan sesuatu seperti buang air kecil atau buang air besar; masjid-masjid ini hanya untuk mengingat Allah, beribadah, dan membaca Qur'an,' atau kata-kata yang sejenis. Kemudian beliau memerintahkan seorang yang ada di sana untuk membawa ember air dan menuangkannya ke atas (urin), dan dia melakukannya." (Saheeh Muslim, no. 285).
Kisah ini menggambarkan bagaimana Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menanggapi kesalahan seorang Badui yang buang air kecil di dalam masjid. Meskipun para Sahabat ingin menghentikan tindakan tersebut secara tegas, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memilih untuk tidak mengganggu Badui tersebut selama dia masih buang air kecil.
Setelah Badui tersebut selesai, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memberikan pengajaran dengan lembut dan penuh hikmah. Beliau menjelaskan bahwa masjid adalah tempat suci untuk beribadah, mengingat Allah, dan membaca Al-Qur'an. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) tidak hanya memberikan pelajaran, tetapi juga memberikan perintah praktis untuk membersihkan tempat tersebut dengan air.
Dari kisah ini, kita dapat belajar tentang kebijaksanaan, kesabaran, dan pendekatan yang lembut dalam menanggapi kesalahan orang lain, terutama dalam konteks keberagaman sosial dan pemahaman yang mungkin berbeda.
- Explaining the seriousness of the mistake (Menjelaskan seriusnya kesalahan.)
“Ibn ‘Umar, Muhammad ibn Ka’b, Zayd ibn Aslam and Qutaadah reported (the following is compiled from their reports) that during the campaign of Tabook, a man said, “We have never seen anyone who loves food and tells lies more than our reciters, or anyone who is more cowardly on the battlefield” – referring to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and his Companions. ‘Awf ibn Maalik said, ‘You are lying! You are a hypocrite, and I am going to tell the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him).’ ‘Awf went to the Messenger of Allaah to tell him, but found that Qur’aan had already been revealed concerning it. That man came to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), who was riding his camel, and said, “O Messenger of Allaah, we were only talking idly and joking, just to pass time on the journey.” Ibn ‘Umar said, “It is as if I can see him hanging onto the reins of the Prophet’s camel, with the stones hitting his feet, saying, “We were only talking idly and joking,” whilst the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) was reciting (interpretation of the meaning), ‘Say: Was it at Allaah and His aayaat (signs) and His Messenger that you were mocking?’ [al-Tawbah 9:65], no more, no less.” Ibn Jareer reported that Ibn ‘Umar (may Allaah be pleased with him) said: “During the campaign of Tabook a man said in a gathering, ‘We have never seen anyone who loves food and tells lies more than our reciters, or anyone who is more cowardly on the battlefield.’ A man who was present said, ‘You are lying! You are a hypocrite, and I am going to tell the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him),’ and Qur’aan was revealed.” ‘Abd-Allaah ibn ‘Umar said, “I saw him hanging on to the reins of the Prophet’s camel, kicking up the stones and saying, ‘O Messenger of Allaah, we were only talking idly and joking,’ and the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) was saying (interpretation of the meaning), “Say: Was it at Allaah and His aayaat (signs) and His Messenger that you were mocking?” [al-Tawbah 9:65]. (Tafseer ibn Jareer al-Tabari, 14/333, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, first edn., 1412. Its men are the men of saheeh, except Hishaam ibn Sa’d, from whom Muslim did not report except as a corroborating report, as in al-Meezaan. It was also reported by al-Tabari with his isnaad, and there is a corroborating report with a hasan isnaad recorded by Ibn Haatim from the hadeeth of Ka’b ibn Maalik. Saheeh al-Musnad min Asbaab al-Nuzool, p.71) (Hal.32)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Ibn ‘Umar, Muhammad ibn Ka’b, Zayd ibn Aslam, dan Qutaadah melaporkan (yang berikut ini dikompilasi dari laporan-laporan mereka) bahwa selama kampanye Tabuk, seorang pria berkata, "Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih menyukai makanan dan lebih suka berbohong daripada para pembaca kita, atau seseorang yang lebih pengecut di medan perang" - merujuk kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan para Sahabatnya. ‘Awf ibn Maalik berkata, ‘Kamu berbohong! Kamu munafik, dan saya akan memberi tahu Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam).’ ‘Awf pergi kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) untuk memberi tahu, tetapi menemukan bahwa Al-Qur'an telah diwahyukan mengenainya. Pria itu datang kepada Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam), yang sedang naik unta, dan berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya berbicara asal-asalan dan bercanda, hanya untuk menghabiskan waktu selama perjalanan.” Ibn ‘Umar berkata, “Sepertinya saya melihatnya menggenggam tali unta Rasul, dengan batu-batu memukul kakinya, sambil berkata, ‘Kami hanya berbicara asal-asalan dan bercanda,’ sementara Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) sedang membaca (tafsir dari makna), ‘Katakanlah: Apakah kamu mencemooh Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya?’ [at-Taubah 9:65], tidak lebih, tidak kurang.” Ibn Jareer melaporkan bahwa Ibn ‘Umar (semoga Allah meridhai mereka) berkata: “Selama kampanye Tabuk, seorang pria berkata dalam suatu pertemuan, ‘Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih menyukai makanan dan lebih suka berbohong daripada para pembaca kita, atau seseorang yang lebih pengecut di medan perang.’ Seorang yang hadir berkata, ‘Kamu berbohong! Kamu munafik, dan saya akan memberi tahu Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam),’ dan Al-Qur'an diwahyukan.” ‘Abd-Allah ibn ‘Umar berkata, “Saya melihatnya menggenggam tali unta Rasul, menginjak batu dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami hanya berbicara asal-asalan dan bercanda,’ dan Rasulullah (salallahu 'alaihi wa sallam) berkata (tafsir dari makna), “Katakanlah: Apakah kamu mencemooh Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya?” [at-Taubah 9:65]. (Tafseer ibn Jareer al-Tabari, 14/333, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, cetakan pertama, 1412. Para perawi adalah perawi yang sahih, kecuali Hishaam ibn Sa’d, dari mana Muslim tidak melaporkan kecuali sebagai laporan pendukung, seperti dalam al-Meezaan. Juga dilaporkan oleh al-Tabari dengan isnadnya, dan terdapat laporan pendukung dengan sanad hasan yang dicatat oleh Ibn Haatim dari hadis Ka’b ibn Maalik. Saheeh al-Musnad min Asbaab al-Nuzool, hlm. 71)
- Explaining the harmful effects of the mistake (Menjelaskan efek merugikan dari kesalahan.)
“Abu Tha’labah al-Khashani said: “Whenever the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) broke his journey in a place, the people would disperse in the valleys and mountains. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Your dispersing in these valleys and mountains is from Shaytaan.’ After that he never stopped anywhere but they all stayed close together, so much so that if a cloak was spread over them, it would cover them all.” (Reported by Abu Dawood (may Allaah have mercy on him), in his Sunan, 2286; classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh Sunan Abi Dawood, no. 2288). According to another report: “… until you would say that if you were to spread a cloth over them, it would cover them.” (Ahmad, al-Fath al-Rabbaani, 14/44) (Hal.32)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Abu Tha’labah al-Khashani berkata: "Setiap kali Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) istirahat di suatu tempat, orang-orang akan tersebar di lembah dan pegunungan. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, 'Penyebaran kalian di lembah dan pegunungan ini berasal dari setan.' Setelah itu, beliau tidak pernah berhenti di suatu tempat pun kecuali mereka semua tinggal dekat satu sama lain, sehingga jika selimut ditaruh di atas mereka, selimut itu akan menutupi mereka semua." (Diriwayatkan oleh Abu Dawood (semoga Allah memberikan rahmat kepadanya) dalam Sunannya, 2286; dianggap sebagai sahih oleh al-Albaani dalam Saheeh Sunan Abi Dawood, no. 2288). Menurut laporan lain: "... hingga kamu akan mengatakan bahwa jika kain dihamparkan di atas mereka, itu akan menutupi mereka." (Ahmad, al-Fath al-Rabbaani, 14/44)
Hadis ini menceritakan kebiasaan Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) ketika istirahat di suatu tempat selama perjalanan. Pada awalnya, orang-orang cenderung tersebar di lembah dan pegunungan, namun Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memberikan pengajaran bahwa penyebaran tersebut berasal dari setan. Setelah itu, beliau mengubah kebiasaan tersebut, sehingga mereka semua tinggal dekat satu sama lain.
Pergeseran ini mencerminkan nilai-nilai persatuan dan kebersamaan dalam Islam. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) mengajarkan umatnya untuk tetap bersatu dan berkumpul, bahkan selama istirahat di perjalanan. Kondisi ini sangat dekat, sehingga jika selimut ditaruh di atas mereka, selimut itu akan menutupi seluruh kelompok. Hal ini menunjukkan semangat kebersamaan dan solidaritas di antara para sahabat.
- Practical teaching of the one who is making a mistake (Mengajarkan praktis kepada orang yang membuat kesalahan.)
“In many cases practical teaching is more effective than theoretical teaching. This is what the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) did. Jubayr ibn Nufayr reported from his father that he came to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), who called for water, then said, “Do wudoo’, O Abu Jubayr.” Abu Jubayr started with his mouth, and the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, “Do not start with your mouth, O Abu Jubayr, for the kaafir starts with his mouth.” Then the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) called for water, and washed his hands until they were clean, then he rinsed his mouth and nose three times, washed his face three times, washed his right arm up to the elbow three times, and his left arm three times, wiped his head and washed his feet. (Reported by al-Bayhaqi in al-Sunan, 1/46; al-Silsilat al-Saheehah, no. 2820) (Hal.34)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Dalam banyak kasus, pengajaran praktis lebih efektif daripada pengajaran teoritis. Inilah yang dilakukan oleh Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam). Jubair ibn Nufair melaporkan dari ayahnya bahwa dia datang kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), yang memanggil air, lalu berkata, "Lakukan wudhu', wahai Abu Jubair." Abu Jubair memulai dengan mulutnya, dan Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata, "Jangan mulai dengan mulutmu, wahai Abu Jubair, karena orang kafir memulai dengan mulutnya." Kemudian Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memanggil air, dan membersihkan tangannya hingga bersih, kemudian membilas mulut dan hidungnya tiga kali, mencuci wajahnya tiga kali, mencuci tangan kanannya hingga siku tiga kali, dan tangan kirinya tiga kali, menyapu kepala dan mencuci kakinya. (Dilaporkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Sunan, 1/46; al-Silsilah al-Saheehah, no. 2820)
Hadis ini menyoroti pendekatan pengajaran praktis yang diterapkan oleh Nabi Muhammad (shalallahu 'alaihi wa sallam). Seorang sahabat, Abu Jubair, datang kepada beliau dan disuruh untuk berwudhu. Namun, ketika Abu Jubair memulai dengan mulutnya, Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) memberikan pelajaran praktis bahwa seharusnya tidak dimulai dengan mulut, karena itu merupakan tindakan orang kafir.
Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) kemudian secara langsung menunjukkan cara-cara berwudhu dengan mencuci tangan, membilas mulut dan hidung, mencuci wajah, tangan kanan hingga siku, tangan kiri, menyapu kepala, dan mencuci kaki. Pendekatan praktis ini menunjukkan keefektifan pembelajaran langsung dan tindakan nyata dalam memberikan pengajaran kepada umat Islam.
- Offering a sound alternative (Menawarkan alternatif yang baik.)
“Abd-Allaah ibn Mas’ood said, “When we prayed with the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), we used to say, “Peace be upon Allaah from His slaves, peace be upon so-and-so.” (According to a report narrated by al-Nisaa'i, he said, “Pecae be upon Jibreel, peace be upon Mikaa’eel.” Al-Mujtabaa: Kitaab al-Tatbeeq, Baab Kayfa al-Tashahhud al-Awwal. See also Saheeh Sunan al-Nisaa'i, no. 1119). The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, “Do not say, ‘Peace be upon Allaah,’ for Allaah is ‘The Peace’ (al-Salaam). But you should say, ‘Al-Tahiyyaatu Lillaahi wa’l-salawaatu wa’l-tayyibaat, al-salaamu ‘alayka ayyuha’l-Nabiyyu wa rahmat-Allaahi wa barakaatuhu, wa’l-salaamu ‘alaynaa wa ‘alaa ‘ibaad-Illaah ilsaaliheen.’ If you say this, it will include every slave of Allaah in heaven or between heaven and earth. [Then say:] ‘I bear witness that there is no god except Allaah and I bear witness that Muhammad is His slave and Messenger.’ Then choose whichever du’aa’ you like, and recite it.” (al-Bukhaari, Fath, 835). (Hal.35)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia:
Abdullah ibn Mas’ud berkata, "Ketika kami shalat bersama Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), kami biasa mengucapkan, 'Salam bagi Allah dari hamba-hamba-Nya, salam bagi fulan.'" (Menurut laporan yang diriwayatkan oleh al-Nasai, dia berkata, "Salam bagi Jibril, salam bagi Mikail.") Al-Mujtabaa: Kitaab al-Tatbeeq, Bab Kayfa al-Tashahhud al-Awwal. Lihat juga Saheeh Sunan al-Nasai, no. 1119). Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Jangan mengucapkan, 'Salam bagi Allah,' karena Allah adalah 'As-Salam' (Dzat yang Maha Memberi Keselamatan). Namun, sebaiknya ucapkan, 'Segala penghormatan, pujian, dan kebaikan adalah milik Allah. Keselamatan, rahmat, dan keberkahan atasmu, wahai Nabi, serta rahmat dan berkah Allah. Keselamatan atas kami dan atas semua hamba Allah yang shalih.' Jika kamu mengucapkannya, hal itu akan mencakup setiap hamba Allah di surga atau di antara surga dan bumi. [Kemudian katakan:] 'Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.' Kemudian pilih doa apa pun yang kamu suka, dan bacalah." (al-Bukhari, Fath, 835).
Hadis ini memberikan informasi tentang perubahan dalam formulir tashahhud yang diperintahkan oleh Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam). Awalnya, sahabat Abdullah ibn Mas'ud dan yang lainnya mengucapkan salam bagi Allah dan makhluk-Nya, seperti Jibril dan Mikail. Namun, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memberikan petunjuk bahwa ucapan tersebut seharusnya tidak disertakan, karena Allah adalah "As-Salam" (Dzat yang Maha Memberi Keselamatan).
Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) kemudian mengajarkan formulir tashahhud yang baru, yang dimulai dengan "Al-Tahiyyaatu Lillaahi wa'l-salawaatu wa'l-tayyibaat" hingga akhirnya. Pembacaan tashahhud kemudian diikuti dengan kesaksian tentang keesaan Allah dan kenabian Muhammad, diikuti dengan doa-doa yang bisa dipilih oleh individu. Perubahan ini menunjukkan praktik tuntunan langsung dari Nabi untuk memastikan bahwa umatnya mengikuti formulir tashahhud yang benar dan lebih sesuai dengan ajaran Islam.
- Guiding people to that which will prevent them from making mistakes (Membimbing orang untuk mencegah mereka membuat kesalahan.)
“Abu Umaamah ibn Sahl ibn Haneef reported that his father told him that the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) went out, and they travelled with him in the direction of Makkah, until they reached the ravine of al-Khazzaar near al-Juhfah. Sahl ibn Haneef did ghusl, and he was a white man with a handsome body and beautiful skin. ‘Aamir ibn Rabee’ah, the brother of Banu ‘Adiyy ibn Ka’b looked at him whilst he was doing ghusl and said, ‘I have never seen anything like what I have seen today, not even the skin of the virgin who is hidden away!’ [referring to the whiteness of his skin]. Sahl fell to the ground (he had an epileptic fit). The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) came and it was said to him, ‘Do you want to see Sahl? By Allaah, he cannot raise his head or wake up.’ He asked, ‘Whose fault is this?’ They said, ‘ ‘Aamir ibn Rabee’ah looked at him.’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) called ‘Aamir and rebuked him angrily, and said, ‘Why would any one of you kill his brother? If any one of you sees that his brother has something he likes, let him pray for blessing for him.’ Then he said to him, ‘Wash yourself to help him’. So he washed his face, his hands up to the elbows, his knees, the sides of his feet and inside his izaar (lower garment) in a vessel. Then the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Pour that water over him.’ So he poured the water over his head and back from behind, tilting the vessel, and Sahl went with the people and there was nothing wrong with him.” (Al-Musnad, 3/486. Al-Haythami said, the men of Ahmad are the men of saheeh. Al-Majma’, 5/107) (Hal.37)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Abu Umaamah ibn Sahl ibn Haneef melaporkan bahwa ayahnya memberitahunya bahwa Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) pergi, dan mereka bepergian bersamanya ke arah Makkah, hingga mencapai lembah al-Khazzaar dekat al-Juhfah. Sahl ibn Haneef mandi junub (ghusl), dan dia adalah seorang pria putih dengan tubuh yang tampan dan kulit yang indah. ‘Aamir ibn Rabee’ah, saudara dari Banu ‘Adiyy ibn Ka’b, melihatnya saat dia sedang mandi junub dan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sesuatu seperti yang aku lihat hari ini, bahkan kulit perawan yang tersembunyi pun tidak seputih ini!’ [merujuk pada keputihan kulitnya]. Sahl tiba-tiba jatuh ke tanah (dia mengalami serangan epilepsi). Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) datang, dan dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau ingin melihat Sahl? Wallahi, dia tidak dapat mengangkat kepalanya atau bangun.’ Rasulullah bertanya, ‘Siapa yang bersalah atas ini?’ Mereka menjawab, ‘‘Aamir ibn Rabee’ah melihatnya.’ Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memanggil ‘Aamir dan menegurnya dengan marah, dan berkata, ‘Mengapa salah satu dari kalian ingin membunuh saudaranya? Jika salah satu dari kalian melihat bahwa saudaranya memiliki sesuatu yang dia sukai, biar dia berdoa untuk mendapatkan berkah untuknya.’ Kemudian beliau berkata kepadanya, ‘Bersihkan dirimu untuk membantunya.’ Jadi, ‘Aamir mencuci wajahnya, tangan-tangannya hingga siku, lututnya, sisi-sisi kakinya, dan bagian dalam izarnya (pakaian bagian bawah) dalam sebuah wadah. Kemudian Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata, ‘Tuangkan air itu ke atasnya.’ Jadi dia menuangkan air ke atas kepala dan punggung Sahl dari belakang, memiringkan wadahnya, dan Sahl kemudian pergi bersama orang-orang tanpa ada masalah apapun.” (Al-Musnad, 3/486. Al-Haythami berkata, para perawi dalam riwayat Ahmad adalah para perawi hadis yang sahih. Al-Majma’, 5/107)
Hadis ini mengisahkan insiden di mana seorang sahabat, Sahl ibn Haneef, mengalami serangan epilepsi setelah seorang sahabat lain, 'Aamir ibn Rabee’ah, memuji keputihan kulitnya saat sedang mandi junub. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dengan tegas menegur 'Aamir dan mengingatkannya tentang pentingnya berkah dan doa untuk saudara muslim yang memiliki sesuatu yang disukai.
Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) juga menunjukkan metode pengobatan yang sederhana untuk membantu Sahl pulih. 'Aamir diminta untuk membersihkan diri, dan air yang digunakan selama proses tersebut kemudian dicurahkan ke atas Sahl. Kejadian ini menunjukkan perhatian dan perawatan Rasulullah terhadap kesejahteraan fisik dan mental para sahabatnya, serta memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya berdoa untuk keberkahan dan keselamatan sesama muslim.
- Not confronting people directly with their mistakes (Tidak langsung menghadapi orang dengan kesalahan mereka.)
“Anas ibn Maalik said: “The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘What is the matter with some people who raise their gaze to the heavens whilst they are praying?’ He spoke so harshly about them that he said, ‘They should stop doing that, or else Allaah will take away their sight.’” (Reported by al-Bukhaari, Fath, hadeeth no. 750). (Hal.37)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Anas ibn Maalik berkata, "Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, 'Ada apa dengan sebagian orang yang mengangkat pandangannya ke langit ketika mereka sedang shalat?' Beliau berbicara dengan keras tentang mereka hingga beliau berkata, 'Mereka seharusnya berhenti melakukannya, atau Allah akan mencabut penglihatan mereka.'" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Fath, hadis no. 750).
Hadis ini mengingatkan umat Islam untuk memperhatikan perilaku saat melaksanakan shalat. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menyoroti perilaku sebagian orang yang mengangkat pandangan mereka ke langit saat sedang shalat, yang dianggap tidak pantas dan mengganggu khusyuk dalam ibadah.
Peringatan Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) yang keras menekankan pentingnya fokus dan khusyuk dalam shalat. Tindakan tersebut dianggap sebagai sikap kurang hormat terhadap Allah, dan beliau menyatakan konsekuensi serius bahwa jika tidak berhenti, Allah dapat mencabut penglihatan mereka sebagai hukuman. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menjaga kekhusyukan dan tata cara dalam pelaksanaan shalat.
- Provoking public opinion against the one who has made the mistake (Membakar opini publik melawan orang yang membuat kesalahan.)
“This method is only to be used in very limited circumstances, when a great deal of thought has been given to the matter, to avoid any negative escalation of the situation. There follows an example of how the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) used this method: Abu Hurayrah said: “A man came to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) and complained to him about his neighbour. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Go and put up with him.’ The man came back two or three times, then the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Go and put your belongings out in the street.’ So he went and put his belongings out in the street. People started to ask him what was going on, so he told them, and the people started to curse (the neighbour), saying, ‘May Allaah do such-and-such to him.’ Then the neighbour came to him and said, ‘Put your stuff back, you will not see anything else from me that you dislike.’” (Reported by Abu Dawood, Kitaab al-Adab, Baab fi Haqq alJiwaar, no. 5153; Saheeh Abi Dawood, 4292). (Hal.39)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Metode ini hanya boleh digunakan dalam keadaan sangat terbatas, setelah dipertimbangkan dengan matang, untuk menghindari eskalasi negatif dari situasi. Berikut adalah contoh bagaimana Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menggunakan metode ini: Abu Hurairah berkata, "Seorang pria datang kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan mengeluhkan tetangganya. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata, 'Pergilah dan bersabarlah dengannya.' Pria itu datang kembali dua atau tiga kali, kemudian Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata, 'Pergilah dan taruhlah barang-barangmu di jalanan.' Jadi dia pergi dan meletakkan barang-barangnya di jalanan. Orang-orang mulai bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi, jadi dia memberi tahu mereka, dan orang-orang mulai mengutuk (tetangganya), mengatakan, 'Semoga Allah melakukan ini dan itu padanya.' Kemudian tetangga datang padanya dan berkata, 'Taruhlah barang-barangmu kembali, dan kamu tidak akan melihat lagi dari saya yang kamu tidak sukai.'" (Diriwayatkan oleh Abu Dawood, Kitaab al-Adab, Bab fi Haqq al-Jiwaar, no. 5153; Saheeh Abi Dawood, 4292).
Hadis ini memberikan contoh bagaimana Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menggunakan metode tindakan konkret untuk menyelesaikan konflik. Dalam situasi di mana seorang pria mengeluhkan tetangganya kepada Nabi Muhammad (shalallahu 'alaihi wa sallam), beliau memberikan solusi bertahap. Pertama, beliau menasihatkan untuk bersabar dengan tetangganya yang menyebabkan masalah. Namun, setelah beberapa kali pria tersebut kembali dengan keluhan yang sama, Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) memberikan tindakan lebih lanjut.
Pilihan tindakan tersebut adalah mengeluarkan barang-barang pria tersebut ke jalanan, yang menyebabkan kehebohan di kalangan orang-orang di sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa metode tindakan konkret dapat melibatkan komunitas dalam penyelesaian konflik. Tetangga yang disoroti oleh tindakan tersebut akhirnya datang dan berjanji untuk tidak lagi menyebabkan ketidaknyamanan.
Penting untuk dicatat bahwa penggunaan metode ini harus dipertimbangkan secara bijaksana dan hanya dalam situasi-situasi terbatas untuk menghindari eskalasi negatif.
- Avoiding helping the Shaytaan against the one who is making a mistake (Menghindari membantu setan melawan orang yang membuat kesalahan.)
“Umar ibn al-Khattaab reported that at the time of the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), there was a man called ‘Abd-Allaah whose nickname was Himaar (donkey), who used to make the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) laugh. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) had him whipped for drinking – he was brought to him one day and the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) gave orders that he should be whipped. One of the men present said, “O Allaah, curse him! How often has he been brought [to be punished because of drinking]!” The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, “Do not curse him, for by Allaah, all I know of him is that he loves Allaah and His Messenger.” (Reported by al-Bukhaari, Fath, 6780). (Hal.40)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Umar ibn al-Khattab melaporkan bahwa pada zaman Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), ada seorang pria bernama 'Abd-Allah yang julukannya Himaar (keledai), yang sering membuat Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) tertawa. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memerintahkan untuk menghukum pria tersebut karena minum khamr - suatu hari dia dibawa kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan beliau memerintahkan agar dia dicambuk. Salah satu orang yang hadir berkata, "Ya Allah, laknatilah dia! Seberapa sering dia dibawa [untuk dihukum karena minum]!" Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Jangan mengutuknya, karena demi Allah, yang saya ketahui tentang dia adalah bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Fath, 6780).
Hadis ini menceritakan tentang seorang pria bernama 'Abd-Allah yang memiliki julukan Himaar (keledai) pada zaman Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam). Meskipun memiliki sisi humor dan sering membuat Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) tertawa, 'Abd-Allah terlibat dalam perilaku yang tidak diterima, yaitu minum minuman beralkohol.
Pada suatu hari, 'Abd-Allah dibawa kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan beliau memerintahkan agar dia dicambuk sebagai hukuman atas perbuatan tersebut. Salah satu orang yang hadir bereaksi dengan mengutuk 'Abd-Allah karena perilakunya yang terus-menerus. Namun, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) melarang untuk mengutuknya dan menjelaskan bahwa yang dia ketahui tentang 'Abd-Allah adalah bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Pesan dari hadis ini adalah pentingnya memahami bahwa setiap individu memiliki sisi baik dan buruk, dan dalam menanggapi kesalahan seseorang, kita harus mempertimbangkan aspek positifnya. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menunjukkan belas kasih dan pengertian terhadap 'Abd-Allah, meskipun dia melakukan kesalahan.
- Asking the person to stop doing the wrong action (Meminta orang tersebut untuk menghentikan tindakan yang salah.)
“‘Umar reported that he said, “No, by my father.” The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, “Stop! Whoever swears by something other than Allaah, is guilty of shirk.” (Reported by Imaam Ahmad, 1/47. Ahmad Shaakir said, its isnaad is saheeh. No. 329) (Hal.41)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
‘Umar melaporkan bahwa dia berkata, “Tidak, demi ayahku.” Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, “Berhentilah! Barangsiapa bersumpah dengan sesuatu selain Allah, dia bersalah atas perbuatan syirik.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, 1/47. Ahmad Shaakir mengatakan, isnadnya sahih. No. 329)
Dalam hadis ini, ‘Umar bin al-Khattab melaporkan bahwa dia mengatakan, "Tidak, demi ayahku" dalam suatu konteks yang tidak dijelaskan secara rinci. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) merespons pernyataan ‘Umar dengan memberi peringatan bahwa bersumpah dengan sesuatu selain Allah merupakan perbuatan syirik (mempersekutukan Allah).
Penekanan di sini adalah untuk menghindari bersumpah dengan selain Allah, karena itu dianggap sebagai tindakan yang melibatkan syirik. Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam, yaitu mempersekutukan Allah dengan sesuatu atau seseorang. Oleh karena itu, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) mengingatkan umatnya agar menjauhi tindakan yang dapat membawa kepada perbuatan syirik, termasuk bersumpah dengan selain Allah.
- Explaining to the person who is making a mistake how to put things right (Menjelaskan kepada orang yang membuat kesalahan cara memperbaiki keadaan.)
“The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) did this in a number of ways, including the following:
- Drawing an individual’s attention to his mistake so that he could put it right himself.
An example of this is the report narrated by Abu Sa’eed al-Khudri (may Allaah be pleased with him), who said that he was with the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), and “the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) entered and saw a man sitting in the middle of the mosque, clasping his fingers together and talking to himself. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) gestured towards him, but he did not notice. So he turned to Abu Sa’eed and said, ‘If one of you is praying, he should not clasp his fingers together, because this clasping comes from the Shaytaan, and you are in a state of prayer so long as you are still in the mosque, until you go out.’” (Reported by Ahmad in his Musnad, 3/54. Al-Haythami said in al-Majma’ (2/25): its isnaad is hasan).
- Asking the person to do something again, correctly, if this is possible.
Abu Hurayrah (may Allaah be pleased with him) reported that a man entered the mosque whilst the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him)
was sitting in a far corner. He prayed, then he came and greeted him with salaam. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, “Wa ‘alayka alsalaam, go back and pray, because you have not prayed.” So he went back and prayed, then he came back and greeted the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), who said, “Wa ‘alayka al-salaam, go back and pray, because you have not prayed.” On the second occasion, or subsequently, the man said, “Teach me, O Messenger of Allaah.” He said, “When you stand up to pray, do wudoo’ properly, then face the qiblah and say Takbeer (‘Allaahu akbar’). Then recite whatever is easy for you of Qur’aan, then bow until you are at ease in rukoo’, then stand up until your back is completely straight. Then prostrate until you are at ease in sujood, then sit up until you are at ease in your sitting, then prostrate again until you are at ease in your sujood, then sit up again until you are at ease in your sitting. Do this in all your prayers.” (Reported by all; this version reported by al-Bukhaari, Fath, 6251).
We should note that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) used to pay attention to the actions of the people around him so that he could teach them. According to a report narrated by al-Nisaa'i: “A man entered the mosque and prayed, whilst the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) was watching him and we did not realize. When he finished, he turned and greeted the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), who told him, ‘Go back and pray, for you have not prayed’…” (2/193 Saheeh Sunan al-Nisaa'i, no. 1008).
Among the qualities of the educator is that he should be aware of the actions of those who are with him.
1. It is a part of educational wisdom to ask a person who has made a mistake to re-do his action, so that he can notice his mistake and put it right himself, especially when it is an obvious mistake that does not befit him. He may have done it out of forgetfulness, so this will remind him.
2. If the person who has made a mistake does not realize it, it must be pointed out and explained to him.
3. Giving information to a person who is interested and has asked about it himself is more effective and is more likely to be remembered than handing it out to someone who has not made any such enquiries.
The methods of teaching are many, and the educator can choose whichever are best suited in any given circumstances.
Another example of asking a person to repeat his action correctly is given by Muslim (may Allaah have mercy on him) in his Saheeh, where he reports that Jaabir said: “‘Umar ibn al-Khattab told me that a man did wudoo’, but missed an area on his foot the size of a fingernail. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) saw him and said, ‘Go back and do your wudoo’ properly.’ So he went and did it again, then he prayed.” (Saheeh Muslim, 243).
A third example was narrated by al-Tirmidhi (may Allaah have mercy on him) in his Sunan from Kildah ibn Hanbal, who said that Safwaan ibn Umayyah sent him with some milk, yoghurt and daghaabees [an edible plant] to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), when the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) was at the top of the valley. He said, “I entered upon him, and I did not greet him with salaam or ask permission to enter, so the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Go out and say “Al-salaamu ‘alaykum, may I enter?”’” (Reported by alTirmidhi, no. 2710. Al-Tirmidhi said, a ghareeb hasan hadeeth. The hadeeth is also in Saheeh Sunan al-Tirmidhi, no. 2180).
- Asking the person who has made the mistake to correct it as much as he can.
Al-Bukhaari (may Allaah have mercy on it) reported from Ibn ‘Abbaas that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, “No man should be alone with a woman unless he is a mahram (close blood relative to whom marriage is permanently forbidden).” A man stood up and said, “O Messenger of Allaah, my wife has gone out for Hajj and I have signed up for such-and-such a military campaign.” He said, “Go back and do Hajj with your wife.” (al-Fath, 5233).
- Putting right the consequences of the mistake
Al-Nisaa'i (may Allaah have mercy on him) reported in his Sunan from ‘AbdAllaah ibn ‘Amr that a man came to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) and said, “I have come to pledge allegiance to you and to make hijrah (migration) to you. I have left my parents weeping.” He said, “Go back to them and make them smile as you made them weep.” (Al-Majmaa 7/143. Classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh Sunan al-Nisaa'i, no. 3881).
- Offering kafaarah (expiation) for the mistake
If some mistakes cannot be corrected or reversed, then there are other ways offered by Islam for wiping out their effects. One of these ways is kafaaraat or acts of expiation, of which there are many types, such as kafaarat al-yameen (expiation for swearing an unfulfilled oath), and expiation for zihaar (a jaahili form of divorce in which one says to one's wife “You are to me as my mother’s back”), manslaughter, having intercourse during the day in Ramadaan, and so on.” (Hal.41-43)”
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia:
Nabi Muhammad SAW (saw) menerapkan berbagai metode untuk mengoreksi kesalahan orang lain, antara lain:
* Menarik perhatian orang tersebut pada kesalahannya sehingga dia bisa memperbaikinya sendiri.
Contohnya adalah laporan yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri (ra), yang mengatakan bahwa dia bersama Nabi Muhammad SAW (saw), dan "Nabi SAW (saw) masuk dan melihat seorang pria duduk di tengah masjid, menyatukan jari-jarinya dan berbicara pada dirinya sendiri. Nabi SAW (saw) memberi isyarat kepadanya, tetapi dia tidak memperhatikan. Maka dia berpaling kepada Abu Said dan berkata, 'Jika salah satu dari kalian sedang sholat, dia tidak boleh menyatukan jari-jarinya, karena penyentuhan ini berasal dari Setan, dan kalian sedang dalam keadaan sholat selama kalian masih di masjid, sampai kalian keluar.'" (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, 3/54. Al-Haythami berkata dalam al-Majma' (2/25): isnadnya hasan).
* Meminta orang tersebut untuk melakukan sesuatu lagi, dengan benar, jika memungkinkan.
Abu Hurairah (ra) meriwayatkan bahwa seorang pria memasuki masjid saat Nabi Muhammad SAW (saw) sedang duduk di sudut yang jauh. Dia sholat, lalu dia datang dan menyapanya dengan salam. Nabi SAW (saw) berkata, "Wa 'alayka alsalaam, kembali dan sholatlah, karena kamu belum sholat." Maka dia kembali dan sholat, lalu dia kembali dan menyapa Nabi SAW (saw), yang berkata, "Wa 'alayka al-salaam, kembali dan sholatlah, karena kamu belum sholat." Pada kesempatan kedua, atau selanjutnya, pria itu berkata, "Ajari saya, ya Rasulullah." Dia berkata, "Ketika kamu berdiri untuk sholat, berwudhu dengan sempurna, lalu menghadap kiblat dan mengucapkan Takbir ('Allaahu akbar'). Kemudian bacalah apa yang mudah bagi Anda dari Quran, lalu tunduk sampai Anda merasa nyaman dalam rukuh, lalu berdiri sampai punggung Anda benar-benar lurus. Kemudian sujud sampai Anda merasa nyaman dalam sujud, lalu duduk sampai Anda merasa nyaman dalam duduk Anda, lalu sujud lagi sampai Anda merasa nyaman dalam sujud Anda, lalu duduk lagi sampai Anda merasa nyaman dalam duduk Anda. Lakukan ini dalam semua shalat Anda." (Diriwayatkan oleh semua; versi ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, Fath, 6251).
Perlu dicatat bahwa Nabi SAW (saw) biasa memperhatikan tindakan orang-orang di sekitarnya sehingga dia bisa mengajari mereka. Menurut sebuah laporan yang diriwayatkan oleh al-Nisaa'i: "Seorang pria memasuki masjid dan sholat, sementara Nabi SAW (saw) sedang mengawasinya dan kami tidak menyadarinya. Ketika dia selesai, dia berbalik dan menyapa Nabi SAW (saw), yang menyuruhnya, 'Kembali dan sholatlah, karena kamu belum sholat'..." (2/193 Saheeh Sunan al-Nisaa'i, no. 1008).
Di antara kualitas pendidik adalah dia harus menyadari tindakan orang-orang yang bersamanya.
1. Merupakan bagian dari kebijaksanaan dalam pendidikan untuk meminta orang yang telah melakukan kesalahan untuk mengulangi tindakannya, sehingga dia dapat menyadari kesalahannya dan memperbaikinya sendiri, terutama ketika itu adalah kesalahan yang jelas yang tidak sesuai dengannya. Dia mungkin telah melakukannya karena lupa, jadi ini akan mengingatkannya.
2. Jika orang yang melakukan kesalahan tidak menyadarinya, itu harus ditunjukkan dan dijelaskan kepadanya.
3. Memberikan informasi kepada orang yang tertarik dan telah menanyakannya sendiri lebih efektif dan lebih mungkin diingat daripada membagikannya kepada seseorang yang tidak mengajukan pertanyaan seperti itu.
Metode pengajaran banyak, dan pendidik dapat memilih mana yang paling cocok dalam keadaan tertentu.
Contoh lain meminta seseorang untuk mengulangi tindakannya dengan benar diberikan oleh Muslim (rahimahullah) dalam Saheeh-nya, di mana dia melaporkan bahwa Jabir berkata: "'Umar ibn al-Khattab mengatakan kepada saya bahwa seorang pria berwudhu', tetapi melewatkan area di kakinya seukuran kuku jari. Nabi SAW (saw) melihatnya dan berkata, 'Kembali dan lakukan wudhu Anda dengan benar.' Jadi dia pergi dan melakukannya lagi, lalu dia sholat." (Saheeh Muslim, 243).
Contoh ketiga diriwayatkan oleh al-Tirmidhi (rahimahullah) dalam Sunan-nya dari Kildah ibn Hanbal, yang mengatakan bahwa Safwaan ibn Umayyah mengirimnya dengan susu, yoghurt, dan daghaabees [tanaman yang bisa dimakan] kepada Nabi SAW (saw), ketika Nabi SAW (saw) sedang berada di puncak lembah. Dia berkata, "Aku masuk ke hadapannya, dan aku tidak memberi salam kepadanya atau meminta izin masuk, jadi Nabi SAW (saw) berkata, 'Keluarlah dan katakan "Al-salaamu 'alaykum, bolehkah saya masuk?"'" (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, no. 2710. Al-Tirmidhi berkata, a ghareeb hasan hadeeth. Hadits ini juga terdapat dalam Saheeh Sunan al-Tirmidhi, no. 2180).
* Meminta orang yang telah melakukan kesalahan untuk memperbaikinya semaksimal mungkin.
Al-Bukhari (rahimahullah) meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa Nabi SAW (saw) bersabda, "Tidak boleh seorang pria berduaan dengan wanita kecuali dia adalah mahram (kerabat dekat yang pernikahannya dengan wanita tersebut secara permanen dilarang)." Seorang pria berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, istri saya telah pergi untuk haji dan saya telah mendaftar untuk kampanye militer ini-itu." Dia berkata, "Kembalilah dan lakukan haji bersama istri Anda." (al-Fath, 5233).
* Memperbaiki konsekuensi dari kesalahan tersebut.
Al-Nisaa'i (rahimahullah) meriwayatkan dalam Sunan-nya dari 'Abdullah ibn 'Amr bahwa seorang pria datang kepada Nabi SAW (saw) dan berkata, "Saya telah datang untuk berbaiat kepada Anda dan untuk hijrah (migrasi) kepada Anda. Saya telah meninggalkan orang tua saya menangis." Dia berkata, "Kembalilah kepada mereka dan buat mereka tersenyum seperti Anda membuat mereka menangis." (Al-Majmaa 7/143. Diklasifikasikan sebagai shahih oleh al-Albaani dalam Saheeh Sunan al-Nisaa'i, no. 3881).
* Memberikan kafaarah (penebus dosa) untuk kesalahan tersebut.
Jika beberapa kesalahan tidak dapat diperbaiki atau dibalikkan, maka ada cara lain yang ditawarkan oleh Islam untuk menghapus efeknya. Salah satu cara ini adalah kafaaraat atau tindakan penebusan dosa, di mana ada banyak jenisnya, seperti kafaarat al-yameen (penebus dosa karena bersumpah palsu), dan penebusan dosa untuk zihaar (bentuk perceraian jahiliah di mana seseorang mengatakan kepada istrinya "Kamu bagiku seperti punggung ibuku"), pembunuhan, melakukan hubungan intim di siang hari di bulan Ramadhan, dan seterusnya.
- Denouncing only the mistake whilst accepting the rest (Menolak hanya kesalahan sambil menerima sisanya.)
“It may be the case that not all of what a person says or does is wrong, so it is wise to limit our denunciation only to that which is wrong, and not to generalize by condemning everything that is said or done as being wrong. This is indicated in the report narrated by al-Bukhaari (may Allaah have mercy on him) in his Saheeh from al-Rubay’ bint Mu’awwadh ibn ‘Afraa’, who said: “The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) came and entered, and sat down on my bed the way you sat down. Some young girls of ours began beating on the daff (hand-drum) and singing songs eulogizing those of our forefathers who had been killed at Badr. Then one of them said, ‘Among us there is a Prophet who knows the future.’ He [the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him)] said: ‘Do not say that; say what you were saying before.’” (Fath, 5147). According to a report narrated by al-Tirmidhi: “… The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said to her: ‘Do not say this; say what you were saying before.’” (Abu ‘Eesa said: this is a saheeh hasan hadeeth. Sunan al-Tirmidhi, Shaakir edn., 1090). According to a report narrated by Ibn Maajah, he said: “Do not say this; no one knows the future except Allaah.” (Sunan Ibn Maajah, ‘Abd al-Baaqi edn., no. 1879. Classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh Sunan Ibn Maajah, no. 1539). (Hal.43-44)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Mungkin saja tidak semua yang dikatakan atau dilakukan seseorang adalah kesalahan, sehingga bijaksana untuk membatasi penolakan kita hanya pada hal yang memang salah, dan tidak menggeneralisir dengan mengutuk segala sesuatu yang dikatakan atau dilakukan sebagai kesalahan. Ini terindikasi dalam laporan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (semoga Allah merahmatinya) dalam kitab Saheeh-nya dari al-Rubay’ bint Mu’awwadh ibn ‘Afraa’, yang berkata: “Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) datang dan masuk, dan duduk di tempat tidurku seperti Anda duduk. Beberapa gadis kami mulai memukul daff (gendang tangan) dan menyanyikan lagu-lagu memuji nenek moyang kami yang tewas di Badr. Lalu salah satu dari mereka berkata, ‘Di antara kami ada seorang Nabi yang tahu masa depan.’ Dia [Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam)] berkata: ‘Jangan katakan itu; katakanlah apa yang sudah kalian katakan sebelumnya.’” (Fath, 5147). Menurut laporan yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi: “… Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata kepadanya: ‘Jangan katakan ini; katakan apa yang sudah kalian katakan sebelumnya.’” (Abu ‘Eesa berkata: ini adalah hadis saheeh hasan. Sunan al-Tirmidzi, edisi Shaakir, 1090). Menurut laporan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dia berkata: “Jangan katakan ini; tidak ada yang mengetahui masa depan kecuali Allah.” (Sunan Ibn Majah, edisi ‘Abd al-Baaqi, no. 1879. Dianggap saheeh oleh al-Albaani dalam Saheeh Sunan Ibn Majah, no. 1539).
Hadis ini mengajarkan pentingnya tidak mengutuk atau menolak semuanya secara umum. Dalam situasi yang dijelaskan dalam hadis ini, beberapa gadis sedang menyanyikan lagu eulogi untuk nenek moyang mereka yang gugur dalam Pertempuran Badr. Namun, ketika salah satu dari mereka mengatakan bahwa di antara mereka ada seorang Nabi yang mengetahui masa depan, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memperingatkan mereka untuk tidak mengatakan hal tersebut, namun melanjutkan dengan apa yang sudah mereka ucapkan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa penolakan atau kritik seharusnya hanya diberikan pada hal-hal yang memang salah atau tidak sesuai, sambil tetap memperhatikan konteks dan niat di balik tindakan tersebut.
- Restoring rights and preserving positions (Mengembalikan hak dan mempertahankan posisi.)
“Muslim reported that ‘Awf ibn Maalik said: “A man of Humayr killed one of the enemy and wanted to take his possessions as booty, but Khaalid ibn al-Waleed, who was in charge of the campaign, prevented him from doing so. ‘Awf ibn Maalik came to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and told him about it. He asked Khaalid, ‘What stopped you from giving him his booty?’ Khaalid said, ‘I thought it was too much, O Messenger of Allaah.’ The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Give it to him.’ Then Khaalid passed by ‘Awf, who pulled his cloak and said, ‘Did I not do what I told you I would do with regard to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him)?’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) heard him and got angry, and said, ‘Do not give it to him, O Khaalid! Do not give it to him, O Khaalid! Why do you not leave my commanders alone? The likeness of you and them is that of a man who is asked to take care of camels or sheep, so he takes care of them, then when it is time for them to drink, he takes them to a trough and they start to drink, and they drink the clean water and leave the dregs behind. You take the clean water and leave the dregs for them [the commanders].’” (Muslim bi Sharh al-Nawawi, 12/64) (Hal.44)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Muslim melaporkan bahwa ‘Awf ibn Maalik berkata: “Seorang dari Humayr membunuh salah satu dari musuh dan ingin mengambil harta rampasan miliknya, tetapi Khaalid ibn al-Waleed, yang bertanggung jawab atas kampanye tersebut, mencegahnya melakukannya. ‘Awf ibn Maalik datang kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan memberi tahu beliau tentang hal itu. Beliau bertanya kepada Khaalid, ‘Apa yang menghentikanmu untuk memberikannya rampasan miliknya?’ Khaalid berkata, ‘Saya pikir terlalu banyak, Wahai Rasulullah.’ Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata, ‘Beri dia.’ Kemudian Khaalid melewati ‘Awf, yang menarik jubahnya dan berkata, ‘Tidakkah saya melakukan apa yang saya katakan kepada Anda tentang Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam)?’ Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) mendengarnya dan marah, lalu berkata, ‘Jangan berikan padanya, Wahai Khaalid! Jangan berikan padanya, Wahai Khaalid! Mengapa Anda tidak meninggalkan para panglima saya sendirian? Kalian seperti seseorang yang diminta untuk merawat unta atau domba, sehingga dia merawat mereka, kemudian saat waktunya untuk minum, dia membawa mereka ke palung dan mereka mulai minum, dan mereka minum air bersih dan meninggalkan ampas. Kalian mengambil air bersih dan meninggalkan ampas untuk mereka [para panglima].’” (Muslim bi Sharh al-Nawawi, 12/64)
Dalam hadis ini, terdapat konflik antara seorang prajurit dan panglima perang, Khaalid ibn al-Waleed. Prajurit tersebut ingin mengambil harta rampasan dari musuh yang telah dia bunuh, tetapi Khaalid melarangnya karena menganggap rampasan tersebut terlalu besar. ‘Awf ibn Maalik melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), yang kemudian menegur Khaalid dan memerintahkan agar prajurit tersebut diberikan harta rampasan.
Namun, ketika Khaalid melewati ‘Awf dan ‘Awf menarik jubahnya sambil berkata bahwa Khaalid tidak memenuhi janjinya, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) marah dan melarang agar Khaalid tidak memberikan harta rampasan tersebut kepada prajurit tersebut. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memberikan analogi bahwa para panglima adalah seperti penggembala yang merawat hewan ternak dan pantas mendapatkan bagian yang terbaik dari harta rampasan.
Hadis ini mengandung pelajaran tentang pentingnya adil dalam pembagian harta rampasan, serta perlunya kepatuhan terhadap perintah Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan hirarki komando dalam situasi peperangan.
- Addressing both parties in cases where the blame is shared (Menyentuh kedua belah pihak dalam kasus di mana kesalahan bersama.)
“In many cases, the blame is shared and the person who makes a mistake may himself have been wronged, but the blame is not to be shared equally. In this case both parties must be addressed and advised. There follows an example: ‘Abd-Allaah ibn Abi Awfaa said: “‘Abd al-Rahmaan ibn ‘Awf complained about Khaalid ibn al-Waleed to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him). The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: ‘Do not upset any of those who were present at Badr, for even if you were to spend gold equal to the size of Uhud, your deeds would not equal theirs.’ He said, ‘They insulted me first, and I responded.’ The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: ‘Do not upset Khaalid, for he is one of the swords of Allaah sent against the kuffaar.’” (Al-Haythami said: the men of al-Tabaraani are thiqaat. Al-Majma’, 9/349. See also al-Mu’jam al-Kabeer by al-Tabaraani, hadeeth no. 3801). (Hal.48)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Dalam banyak kasus, kesalahan dapat dibagi dan orang yang melakukan kesalahan mungkin telah dianiaya, tetapi kesalahan tidak boleh dibagi secara adil. Dalam hal ini, kedua belah pihak harus diatasi dan diberi nasihat. Berikut adalah contoh: ‘Abd-Allaah ibn Abi Awfaa berkata: “‘Abd al-Rahmaan ibn ‘Awf mengeluhkan Khaalid ibn al-Waleed kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam). Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: ‘Jangan menyusahkan salah satu dari mereka yang hadir di Badr, karena sekalipun kamu menginfakkan emas sebanyak ukuran Uhud, amalmu tidak akan setara dengan mereka.’ Dia berkata, ‘Mereka mencela saya terlebih dahulu, dan saya merespons.’ Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: ‘Jangan menyusahkan Khaalid, karena dia adalah salah satu pedang Allaah yang diutus melawan orang kafir.’” (Al-Haythami berkata: para perawi al-Tabaraani adalah orang yang dapat dipercaya. Al-Majma’, 9/349. Lihat juga al-Mu’jam al-Kabeer oleh al-Tabaraani, hadis no. 3801).
Dalam hadis ini, ‘Abd al-Rahmaan ibn ‘Awf mengeluhkan perilaku Khaalid ibn al-Waleed kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam). Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menegurnya dan mengingatkannya untuk tidak menyakiti orang-orang yang hadir di Pertempuran Badar, karena pengorbanan dan pengabdiannya tidak dapat disejajarkan dengan harta atau uang.
Dalam kasus ini, terlihat bahwa seseorang yang telah dianiaya oleh orang lain masih dilarang untuk membalas dengan cara yang menyulitkan, terutama jika orang tersebut termasuk dalam kelompok yang berjasa, seperti para sahabat yang hadir di Badr. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menekankan bahwa tindakan mereka di Badr sangat besar nilainya dan tidak dapat diukur dengan harta atau uang. Hal ini mengajarkan umat Islam untuk menghormati dan menghargai jasa-jasa orang-orang yang berjihad di jalan Allah, bahkan jika terjadi konflik antara mereka.
- Asking the person to forgive the one who wronged him (Meminta orang tersebut memaafkan orang yang menzaliminya.)
“Anas ibn Maalik (may Allaah be pleased with him) said: “The Arabs used to serve one another when they were travelling, and Abu Bakr and ‘Umar had a man with them who was serving them. They fell asleep then woke up, and he had not prepared any food for them. One of them said to the other, ‘This man sleeps too much.’ (This is in Tafseer Ibn Katheer, Daar al-Sha’b edn. According to the version quoted by al-Albaani in al-Silsilat al-Saheehah, no. 2608, …). They woke him up and said, ‘Go to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and tell him that Abu Bakr and ‘Umar send their salaams to you and are asking for food.’ He (the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him)) said: ‘Send my salaams to them and tell them that they have already eaten.’ They got worried, so they came to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) and said, ‘O Messenger of Allaah, we sent word to you asking for food, and you told us that we had already eaten? What have we eaten?’ He said, ‘The flesh of your brother. By the One in Whose hand is my soul, I can see his flesh between your teeth” – meaning the flesh of the one about whom they had backbitten.’ They said, ‘Ask for forgiveness for us.’ He said, ‘Let him ask for forgiveness for you.’” (Al-Silsilat al-Saheehah, no. 2608. It was attributed to al-Kharaa’iti in Masaawa’ al-Akhlaaq and to al-Diya’ in al-Mukhtaarah. Ibn Katheer mentioned it in his tafseer of Soorat al-Hujuraat, 7/363, Dar al-Sha’b edn.) (Hal.48)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Anas ibn Maalik (semoga Allah meridhainya) berkata: “Kaum Arab saling melayani satu sama lain ketika mereka bepergian, dan Abu Bakr serta ‘Umar memiliki seorang pelayan ketika mereka bepergian. Mereka tertidur lalu terbangun, dan pelayan tersebut belum menyiapkan makanan untuk mereka. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Pria ini terlalu sering tidur.’ (Ini terdapat dalam Tafsir Ibn Katheer, edisi Daar al-Sha’b. Menurut versi yang dikutip oleh al-Albaani dalam al-Silsilat al-Saheehah, no. 2608, …). Mereka membangunkannya dan berkata, ‘Pergi ke Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan sampaikan bahwa Abu Bakr dan ‘Umar mengirim salam kepada Anda dan meminta makanan.’ Dia (Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam)) berkata: ‘Sampaikan salamku kepada mereka dan beritahu mereka bahwa mereka sudah makan.’ Mereka khawatir, jadi mereka datang kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami mengirim pesan kepada Anda meminta makanan, dan Anda memberi tahu kami bahwa kami sudah makan? Apa yang sudah kami makan?’ Beliau berkata, ‘Daging saudara kalian. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, aku melihat daging saudara kalian di antara gigi kalian’ – yang berarti daging orang yang mereka fitnah. Mereka berkata, ‘Mohonkan ampunan untuk kami.’ Beliau berkata, ‘Biarkan dia yang memohonkan ampunan untuk kalian.’” (Al-Silsilat al-Saheehah, no. 2608. Dikaitkan dengan al-Kharaa’iti dalam Masaawa’ al-Akhlaaq dan al-Diya’ dalam al-Mukhtaarah. Ibn Katheer menyebutkannya dalam tafsirnya terhadap Surah al-Hujurat, 7/363, edisi Dar al-Sha’b.)
- Reminding a person of the good qualities of the one whom he has wronged (Mengingatkan seseorang akan kualitas baik orang yang telah menzaliminya.)
“This is what the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) did in the situation that arose between Abu Bakr and ‘Umar, may Allaah be pleased with them. Al-Bukhaari (may Allaah have mercy on him) reported in his Saheeh, Kitaab al-Tafseer, that Abu’l-Darda’ said: “There was a dispute between Abu Bakr and ‘Umar. Abu Bakr made ‘Umar angry, so he went away angry, and Abu Bakr followed him, asking him to seek forgiveness for him, but he did not do that, and he shut his door in his face. Abu Bakr turned around and went to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), and we were sitting with him. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said: ‘This companion of yours has gotten involved in a dispute.’ Then ‘Umar regretted what he had done, so he came, gave the greeting of salaam, and sat down by the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him). He told the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) what had happened. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) got angry, and Abu Bakr started to say, ‘By Allaah, O Messenger of Allaah, I am more wrong.’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Are you going to leave my companion alone? Are you going to leave my companion alone? I have told the people: I am the Messenger of Allaah to all of you, and you (all) said, “You are a liar,” but Abu Bakr said, “You are telling the truth.”’” (Fath 4640). (Hal.48-49)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Inilah yang dilakukan oleh Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) dalam situasi yang muncul antara Abu Bakr dan ‘Umar, semoga Allah meridhainya. Al-Bukhari (semoga Allah merahmatinya) melaporkan dalam kitab Sahih-nya, Kitab al-Tafseer, bahwa Abu’l-Darda’ berkata: “Terjadi perselisihan antara Abu Bakr dan ‘Umar. Abu Bakr membuat ‘Umar marah, sehingga ia pergi marah, dan Abu Bakr mengikutinya, memintanya untuk memohonkan ampunan baginya, tetapi ‘Umar tidak melakukannya, dan dia menutup pintunya di depannya. Abu Bakr berbalik dan pergi ke Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), dan kami duduk bersamanya. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata: ‘Sahabat kalian ini terlibat dalam perselisihan.’ Kemudian ‘Umar menyesali apa yang telah dilakukannya, sehingga dia datang, memberikan salam, dan duduk di samping Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam). Dia menceritakan kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) apa yang terjadi. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) marah, dan Abu Bakr mulai berkata, ‘Demi Allah, wahai Rasulullah, saya lebih bersalah.’ Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berkata, ‘Apa kalian akan meninggalkan sahabatku sendiri? Apakah kalian akan meninggalkan sahabatku sendiri? Saya telah memberi tahu orang-orang: Saya adalah Rasulullah bagi kalian semua, dan kalian (semua) berkata, “Kamu pembohong,” tetapi Abu Bakr berkata, “Kamu mengatakan yang benar.”’” (Fath 4640).
- Intervening to calm people down and put a stop to the fitnah (Ikut campur untuk menenangkan orang dan menghentikan fitnah.)
“The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) went to Bani ‘Amr ibn ‘Awf to reconcile between them, and stayed there for that purpose until the time for one of the congregational prayers came, as is reported in al-Saheehayn and in a report narrated by al-Nisaa'i. Sahl ibn Sa’d al-Saa’idi (may Allaah be pleased with him) said: “A dispute arose between two parties among the Ansaar, to the point that they were throwing stones at one another. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) went to reconcile between them, and the time for prayer came, so Bilaal called the Adhaan and waited for the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), but he did not come. So he made the iqaamah (call immediately preceding congregational prayer) and Abu Bakr, may Allaah be pleased with him) led the prayer…” (Al-Mujtabaa, Kitaab Aadaab al-Qadaah, 8/243). According to a report narrated by Ahmad, Sahl ibn Sa’d al-Saa’idi said: “Someone came to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and said: ‘Bani ‘Amr ibn ‘Awf are fighting and throwing stones at one another.’ So the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) went out to them to reconcile between them…” (Al-Musnad, 5/338) (Hal.50)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) pergi ke Bani ‘Amr ibn ‘Awf untuk mendamaikan mereka, dan tinggal di sana untuk tujuan tersebut hingga waktu shalat berjamaah tiba, sebagaimana dilaporkan dalam al-Saheehayn dan dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh al-Nisaa'i. Sahl ibn Sa’d al-Saa’idi (semoga Allah meridhai) berkata: “Terjadi perselisihan antara dua kelompok di antara Anshar, sampai pada tingkat mereka saling melempar batu. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) pergi untuk mendamaikan di antara mereka, dan tiba waktunya shalat, jadi Bilal memanggil adzan dan menunggu Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), tetapi beliau tidak datang. Jadi Bilal membuat iqaamah (seruan segera sebelum shalat berjamaah) dan Abu Bakr (semoga Allah meridhai dia) memimpin shalat...” (Al-Mujtabaa, Kitaab Aadaab al-Qadaah, 8/243). Menurut sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Ahmad, Sahl ibn Sa’d al-Saa’idi berkata: “Seseorang datang kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan berkata: ‘Bani ‘Amr ibn ‘Awf sedang bertengkar dan saling melempar batu satu sama lain.’ Jadi Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) pergi ke mereka untuk mendamaikan di antara mereka…” (Al-Musnad, 5/338)
Hadis ini menceritakan kejadian ketika terjadi perselisihan antara dua kelompok di antara Anshar (penduduk Madinah yang membantu Rasulullah setelah hijrah). Perselisihan tersebut bahkan mencapai tingkat bahwa mereka saling melempar batu satu sama lain. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) pergi untuk mendamaikan di antara mereka. Namun, karena waktu shalat berjamaah telah tiba, dan Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) masih berada di tempat tersebut, Bilal, muadzin Rasulullah, memanggil adzan dan menunggu Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) untuk memimpin shalat. Namun, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) tidak datang, sehingga Bilal memutuskan untuk membuat iqaamah dan Abu Bakr (may Allah be pleased with him) memimpin shalat.
Meskipun perselisihan ini terjadi di antara orang-orang yang setia kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), beliau tetap berusaha mendamaikan dan menyelesaikan konflik di antara mereka. Hal ini menunjukkan kebijaksanaan dan perhatian Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) terhadap hubungan antarumat manusia, dan kesadaran beliau akan pentingnya perdamaian dan kesatuan di antara umatnya.
- Showing anger about a mistake (Menunjukkan kemarahan terhadap kesalahan.)
“When the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) saw or heard about a mistake, he would show his anger, especially if it had to do with matters of belief (‘aqeedah). This includes indulging in disputes about al-qadar (divine decree) and the Qur’aan. In Sunan Ibn Maajah there is a report from ‘Amr ibn Shu’ayb from his father from his grandfather, who said: “The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) came out to his companions, who were disputing about al-qadar, and it was as if a pomegranate seed had burst on his face, i.e., his face was red with anger. He said, ‘Is this what you were commanded to do? Is this what you were created for? Are you using some parts of the Qur’aan to contradict others? The nations before you were destroyed by this!’ ‘Abd-Allaah ibn ‘Amr said: ‘I never felt happy about missing any gathering with the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), but I was happy about missing that gathering.’” (Reported by Ibn Maajah, no. 85. He said in al-Zawaa’id: this is a saheeh isnaad and its men are thiqaat. It says in Saheeh Ibn Maajah: hasan saheeh. No. 69). (Hal.50)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Ketika Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) melihat atau mendengar tentang sebuah kesalahan, beliau akan menunjukkan kemarahannya, terutama jika itu berkaitan dengan masalah keimanan ('aqeedah). Ini termasuk dalam mempertengkarkan diri mengenai al-qadar (ketetapan ilahi) dan Al-Qur'an. Dalam Sunan Ibn Maajah ada laporan dari ‘Amr ibn Shu’ayb dari ayahnya dari kakeknya, yang berkata: “Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) keluar untuk menemui para sahabatnya, yang sedang bertengkar tentang al-qadar, dan seolah-olah biji delima telah pecah di wajahnya, yaitu, wajahnya memerah karena kemarahan. Beliau berkata, ‘Apakah ini yang diperintahkan kepada kalian? Apakah ini yang kalian diciptakan untuk melakukannya? Apakah kalian menggunakan beberapa bagian dari Al-Qur'an untuk saling bertentangan dengan yang lainnya? Bangsa-bangsa sebelum kalian hancur karena hal ini!’ ‘Abd-Allaah ibn ‘Amr berkata: ‘Aku tidak pernah merasa bahagia melewatkan pertemuan apa pun dengan Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), tetapi aku merasa bahagia melewatkan pertemuan tersebut.’” (Diriwayatkan oleh Ibn Maajah, no. 85. Dia berkata di al-Zawaa’id: ini adalah isnad yang saheeh dan para perawinya adalah orang-orang yang thiqah. Dikatakan dalam Saheeh Ibn Maajah: hasan saheeh. No. 69).
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menunjukkan kemarahannya ketika melihat para sahabatnya bertengkar tentang masalah keimanan, seperti al-qadar dan Al-Qur'an. Ketika beliau keluar untuk menemui para sahabat yang sedang bertengkar tentang al-qadar, wajah beliau memerah karena kemarahan, dan beliau menegur mereka dengan tegas. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bertanya kepada mereka apakah itu yang mereka perintahkan untuk melakukannya, apakah itulah sebab mereka diciptakan, dan apakah mereka menggunakan beberapa bagian dari Al-Qur'an untuk saling bertentangan dengan yang lainnya. Beliau menekankan bahwa perilaku semacam ini telah menyebabkan kehancuran bagi bangsa-bangsa sebelum mereka.
Reaksi ‘Abd-Allaah ibn ‘Amr yang menyatakan bahwa meskipun ia tidak pernah merasa bahagia melewatkan pertemuan dengan Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), ia merasa bahagia melewatkan pertemuan tersebut, menunjukkan bahwa suasana pertemuan tersebut begitu tegang dan penuh kecaman sehingga orang-orang tidak merasa nyaman di dalamnya.
- Turning away from the one who has made a mistake (Menjauhi orang yang membuat kesalahan.)
“Al-Bukhaari (may Allaah have mercy on him) reported that ‘Ali ibn Abi Taalib (may Allaah be pleased with him) said that the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) came to him and Faatimah’s (peace be upon her, the daughter of the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) one night and said to them, “Are you not coming to pray?” ‘Ali said, “O Messenger of Allaah, our souls are in the hand of Allaah. If He wants to bring us back to life (from sleep), He will do so!” The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) went away when ‘Ali said that to him, and he did not respond to it at all, but ‘Ali heard him as he was walking away, slapping his thigh and saying, “ ‘… But, man is ever more quarrelsome than anything.’ [al-Kahf 18:54 – interpretation of the meaning].” (The words of ‘Ali could be understood in different ways. See Al-Fath, 7347). (Hal.54)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Al-Bukhari (semoga Allah memberikan rahmat kepadanya) melaporkan bahwa ‘Ali ibn Abi Thalib (semoga Allah memberikan kepadanya keridhaan) mengatakan bahwa Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) datang kepada dia dan Fatimah (shalallahu 'alaiha, putri Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam)) suatu malam dan berkata kepada mereka, “Bukankah kalian akan shalat?” ‘Ali berkata, “Wahai Rasulullah, jiwa kami berada di tangan Allah. Jika Dia ingin menghidupkan kami kembali (dari tidur), Dia akan melakukannya!” Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) pergi ketika ‘Ali mengatakan hal itu kepadanya, dan dia sama sekali tidak meresponsnya, tetapi ‘Ali mendengarnya ketika dia pergi, memukul pahanya dan mengatakan, “... Tetapi manusia adalah yang paling suka bertengkar dari segala sesuatu.” [Al-Kahfi 18:54 – tafsir dari makna].” (Kata-kata ‘Ali bisa dimengerti dengan cara yang berbeda-beda. Lihat Al-Fath, 7347).
Dalam hadis ini, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) datang ke rumah ‘Ali dan Fatimah untuk mengajak mereka shalat malam. ‘Ali, yang telah tidur dan mungkin merasa malas untuk bangun, memberikan jawaban yang terkesan menolak dengan mengatakan bahwa jiwa mereka berada di tangan Allah, dan jika Allah menghendaki untuk membangunkan mereka, Dia akan melakukannya. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) pergi tanpa memberikan jawaban atau komentar.
‘Ali kemudian mendengar Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) berbicara sendiri ketika pergi, dengan mengutip ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa manusia cenderung suka bertengkar. Meskipun ‘Ali memberikan jawaban yang tampak menolak, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) tidak marah atau memberikan teguran, dan dia pergi tanpa memberikan komentar lebih lanjut. Hal ini menunjukkan kesabaran dan pemahaman Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) terhadap situasi tertentu, serta ketidakseriusan ‘Ali yang mungkin bersifat lucu atau menghibur.
- Rebuking the one who has made a mistake (Menegur orang yang membuat kesalahan.)
“This is what the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) did with Haatib (may Allaah be pleased with him) when he heard that he had sent word to the kuffaar of Quraysh, informing them of the Muslims’ intention to head for Makkah to conquer it. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) asked him, “What made you do that, O Haatib?” He said, “I believe in Allaah and His Messenger and I never changed, but I wanted to make some gesture towards them through which Allaah might protect my family and my wealth. All your other companions have someone there through whom Allaah will protect their families and their wealth.” [The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him)] said: “He has spoken the truth, so do not say anything but good to him.” ‘Umar ibn al-Khattaab said, “But he has betrayed Allaah and Messenger and the believers! Let me strike his neck [cut off his head]!” [The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) ] said: “How do you know? Maybe Allaah looked at the people of Badr and said, ‘Do what you like, for Paradise is guaranteed for you.’” Tears welled up in ‘Umar’s eyes and he said, “Allaah and His Messenger know best.” (Fath, 6259) (Hal.54)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Inilah yang dilakukan Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) terhadap Haatib (semoga Allah meridainya) ketika beliau mendengar bahwa Haatib mengirim pesan kepada orang-orang kafir Quraisy, memberi tahu mereka tentang niat Muslim untuk menuju Makkah untuk menaklukkannya. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu melakukan itu, hai Haatib?” Haatib menjawab, “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan aku tidak berubah, tetapi aku ingin memberikan beberapa isyarat kepada mereka melalui mana Allah mungkin melindungi keluargaku dan hartaku. Semua sahabatmu yang lain memiliki seseorang di sana melalui siapa Allah akan melindungi keluarga dan harta mereka.” [Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam)] berkata: “Dia berbicara yang benar, jadi jangan mengatakan apa pun kepadanya selain yang baik.” ‘Umar ibn al-Khattaab berkata, “Tetapi dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman! Biarkanlah aku memukul lehernya [memotong kepalanya]!” [Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam)] berkata: “Bagaimana kamu tahu? Mungkin Allah melihat kepada orang-orang Badar dan berkata, ‘Lakukanlah apa yang kamu suka, karena Surga telah dijamin bagimu.’” Air mata memenuhi mata ‘Umar dan ia berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” (Fath, 6259)
Haatib bin Abi Balta'ah (semoga Allah meridhainya) adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad (saw). Dalam konteks Pembukaan Mekah, Haatib mengirim surat rahasia kepada para pemimpin Quraisy, memberitahu mereka tentang rencana kaum Muslimin untuk bergerak menuju Mekah. Nabi (saw) mendapat informasi tentang tindakan Haatib, dan beliau memanggilnya untuk menjelaskan perbuatannya.
Ketika Haatib ditanya oleh Nabi (saw), ia menjelaskan bahwa niatnya bukan untuk mengkhianati Islam atau kaum Muslimin. Sebaliknya, ia ingin menjamin keselamatan keluarga dan hartanya, karena mereka berada di Mekah, dan ia tidak memiliki perlindungan suku untuk mereka. Nabi (saw) menerima penjelasan Haatib dan mengakui bahwa ia telah jujur dalam imannya dan tidak berubah.
'Umar bin al-Khattab, mendengar hal ini, sangat menentang tindakan Haatib, dengan mengatakan bahwa ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. 'Umar menyarankan agar kepala Haatib dipenggal sebagai hukuman atas pengkhianatannya. Namun, Nabi (saw) menjawab dengan wawasan yang mendalam tentang situasi tersebut.
Nabi (saw) mengingatkan 'Umar dan orang-orang yang hadir bahwa Allah mungkin telah melihat dengan baik para peserta Pertempuran Badar dan memberikan mereka Surga sebagai imbalan. Oleh karena itu, beliau memerintahkan mereka untuk tidak mengutuk Haatib, karena perbuatannya mungkin telah diampuni karena keadaan yang unik dan amal perbuatan masa lalu para peserta Pertempuran Badar.
Peristiwa ini menggambarkan kebijaksanaan, rahmat, dan kemampuan Nabi (saw) untuk memahami niat dan tindakan para sahabatnya. Sementara 'Umar mengekspresikan emosi yang kuat dari kemarahan, Nabi (saw) menampilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang situasi tersebut, dengan mempertimbangkan pengampunan potensial dosa-dosa masa lalu bagi mereka yang berpartisipasi dalam Pertempuran Badar.
- Blaming the person who has made a mistake (Menyalahkan orang yang membuat kesalahan.)
“An obvious mistake cannot be ignored; blame must be directed at the person who has made the mistake, and he must be rebuked from the outset, so that he will realize that he has made a mistake. Al-Bukhaari narrated in his Saheeh that ‘Ali (may Allaah be pleased with him) said: “I had a she-camel from my share of the booty of Badr, and the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) had given me another she-camel from the khums. When I wanted to marry Faatimah, the daughter of the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), I made an appointment with a goldsmith from Banu Qaynuqaa’ to go with me to Idhkhur. I wanted to sell him the two gold bracelets and use the money for my waleemah (wedding celebration). Whilst I was gathering together the saddles, sacks, ropes and other gear, my camels were sitting beside a room belonging to one of the Ansaar. After collecting the things I had to collect, I came back and found my camels with their backs cut open, their sides stabbed and their livers removed. I could hardly bear to look at this scene. I said, ‘Who did this?’ They said, ‘Hamzah ibn ‘Abd al-Muttalib. He is in that house drinking with one of the Ansaar.’ I went to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), and Zayd ibn Haarithah was with him. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) knew something was wrong from my expression. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: ‘What is the matter with you?’ I said, ‘O Messenger of Allaah, I have never seen anything like today! Hamzah attacked my two she-camels and cut their backs open and stabbed them in their sides. He is in a house, drinking.’ The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) called for his cloak and put it on, then he went walking, and Zayd ibn Haarithah and I followed him, until he reached the house where Hamzah was. He asked permission to enter, and they gave permission. They were drinking, and the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) started to hurl blame at Hamzah for what he had done, but then he noticed that Hamzah was drunk and red-eyed. Hamzah looked at the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him). He looked up at his knees, then at his navel, then The Prophet’s Methods for Correcting People’s Mistakes www.islamqa.com 56 at his face, then he said, ‘You are no more than a slave to my father.’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) realized that he was drunk, so he turned on his heels and we went out with him.” (Fath, no. 3091) (Hal.55-56)”
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia
Kesalahan yang jelas tidak bisa diabaikan; harus ada penyalahan pada orang yang telah melakukan kesalahan, dan ia harus ditegur sejak awal, agar ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa 'Ali (semoga Allah meridhainya) berkata: "Aku memiliki seekor unta betina dari bagianku dari rampasan perang Badar, dan Nabi (saw) telah memberiku seekor unta betina lainnya dari khums. Ketika aku ingin menikahi Fatimah, putri Rasulullah (saw), aku membuat janji dengan seorang pandai emas dari Bani Qainuqa' untuk pergi bersamaku ke Idhkhur. Aku ingin menjualnya dua gelang emas dan menggunakan uangnya untuk waleemah (perayaan pernikahan)ku. Sementara aku mengumpulkan pelana, karung, tali dan perlengkapan lainnya, untaku sedang duduk di samping sebuah kamar milik salah satu Anshar. Setelah mengumpulkan barang-barang yang harus aku kumpulkan, aku kembali dan menemukan untaku dengan punggungnya terbuka, sisinya ditusuk dan hatinya dicabut. Aku hampir tidak tahan melihat pemandangan ini. Aku berkata, 'Siapa yang melakukan ini?' Mereka berkata, 'Hamzah bin Abdul Muththalib. Dia ada di rumah itu minum bersama salah satu Anshar.' Aku pergi ke Nabi (saw), dan Zaid bin Haritsah bersama beliau. Nabi (saw) mengetahui ada yang salah dari ekspresiku. Nabi (saw) berkata: 'Apa yang terjadi padamu?' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihat sesuatu seperti hari ini! Hamzah menyerang dua untaku dan memotong punggung mereka dan menusuk mereka di sisi mereka. Dia ada di sebuah rumah, minum.' Nabi (saw) memanggil jubahnya dan memakainya, lalu ia pergi berjalan, dan Zaid bin Haritsah dan aku mengikutinya, sampai ia mencapai rumah di mana Hamzah berada. Dia meminta izin untuk masuk, dan mereka memberi izin. Mereka sedang minum, dan Rasulullah (saw) mulai menyalahkan Hamzah atas apa yang telah dia lakukan, tetapi kemudian dia menyadari bahwa Hamzah mabuk dan matanya merah. Hamzah melihat Rasulullah (saw). Dia melihat ke atas lututnya, lalu ke pusarnya, lalu ke wajahnya, lalu dia berkata, 'Engkau tidak lebih dari seorang budak untuk ayahku.' Rasulullah (saw) menyadari bahwa dia mabuk, lalu ia berbalik dan kami keluar bersamanya." (Fath, no. 3091)
- Shunning the one who has made a mistake (Menjauhi orang yang membuat kesalahan.)
“Imaam Ahmad (may Allaah have mercy on him) reported that Humayd said: “AlWaleed came to me and a friend of mine and said, ‘Come with me, for you are younger than me and you know more about hadeeth.’ He took us to Bishr ibn ‘Aasim. Abu’l- ‘Aaliyah said to him: ‘Will you tell these two your hadeeth?’ He said, ‘ ‘Uqbah ibn Maalik told us, Abu’l-Nadr al-Laythi said, Bahz, who was one of his group, said: the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) sent an expedition to attack some people. A man drifted away from the people, and one of the (Muslim) expedition followed him with his sword unsheathed. The man who had wandered off said, “I am a Muslim,” but the Muslim paid no attention to him, and struck him and killed him. Word of this reached the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), and he spoke out angrily against it. News of this reached the killer, and whilst the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) was delivering a speech, the killer said, “O Messenger of Allaah, by Allaah he only said that to protect himself.” The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) turned away from him and the people around him, and continued with his speech. The man said again, “O Messenger of Allaah, he only said that to protect himself.” The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) again turned away from him and the people around him, and continued with his speech. The man did not put up with that; a third time he said, “O Messenger of Allaah, by Allaah he only said that to protect himself.” The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) turned to him, and it was clear from his expression how upset he was. He said, “Allaah scorns the one who kills a believer” three times.’” (al-Musnad, 5/289. See also al-Silsilat al-Saheehah, 2/309) (Hal.56)”
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia:
Imam Ahmad (semoga Allah merahmatinya) meriwayatkan bahwa Humaid berkata: "Al-Walid datang kepadaku dan seorang temanku dan berkata, 'Ikutlah denganku, karena kalian lebih muda dariku dan kalian lebih tahu tentang hadis.' Dia membawa kami ke Bisyar bin 'Ashim. Abu'l-'Aliyah berkata kepadanya: 'Maukah kau menceritakan hadismu kepada kedua orang ini?' Dia berkata, 'Uqbah bin Malik menceritakan kepada kami, Abu'l-Nadr al-Laitsi berkata, Bahz, yang merupakan salah satu dari kelompoknya, berkata: Rasulullah (saw) mengirimkan sebuah ekspedisi untuk menyerang beberapa orang. Seorang laki-laki menyimpang dari orang-orang, dan salah satu dari ekspedisi (Muslim) mengikutinya dengan pedangnya terhunus. Orang yang menyimpang itu berkata, "Aku seorang Muslim," tetapi Muslim itu tidak memperhatikannya, dan memukulnya dan membunuhnya. Kabar tentang ini sampai kepada Rasulullah (saw), dan beliau marah karenanya. Kabar tentang ini sampai kepada pembunuhnya, dan ketika Rasulullah (saw) sedang menyampaikan pidato, pembunuh itu berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah dia hanya mengatakan itu untuk melindungi dirinya." Nabi (saw) berpaling darinya dan orang-orang di sekitarnya, dan melanjutkan pidatonya. Orang itu berkata lagi, "Wahai Rasulullah, dia hanya mengatakan itu untuk melindungi dirinya." Nabi (saw) lagi-lagi berpaling darinya dan orang-orang di sekitarnya, dan melanjutkan pidatonya. Orang itu tidak tahan dengan itu; untuk ketiga kalinya dia berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah dia hanya mengatakan itu untuk melindungi dirinya." Rasulullah (saw) berpaling kepadanya, dan terlihat dari ekspresinya betapa marahnya beliau. Beliau berkata, "Allah menghina orang yang membunuh seorang mukmin" tiga kali.'" (al-Musnad, 5/289. Lihat juga al-Silsilah al-Shahihah, 2/309)
- Boycotting the one who has made a mistake (Memboikot orang yang membuat kesalahan.)
“This is one of the effective methods used by the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) especially when a very serious mistake was made, because of the far-reaching effect that a boycott has on the person concerned. An example of this is what happened to Ka’b ibn Maalik and his two companions who stayed behind from the campaign of Tabook. After the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) had ascertained that they had no valid excuse, and they had admitted it, as Ka’b said: “The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) forbade the Muslims to speak to any of the three of us who had stayed behind. So the people avoided us and their attitude towards us changed so that even the earth I was walking on looked different to what I had known. We stayed like that for fifty days. As for my two companions, they resigned themselves and stayed in their homes, weeping, but I was the youngest and the most determined, so I used to go out and attend the prayers with the Muslims and go around in the market places, and no one would speak to me. I would come to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) whilst he was in a gathering after prayer, and greet him with salaam, asking myself whether he had moved his lips in response or not. I would pray near him, stealing glances at him. When I would turn to pray, he would turn towards me, and when I would turn towards him, he would turn away from me. When the people’s harshness had gone on too long for me, I went away and climbed over the wall of the garden of Abu Qutaadah, who was my cousin [son of my paternal uncle] and the dearest of people to me. I greeted him with salaam, but by Allaah he did not answer me. I said, ‘O Abu Qutaadah, I ask you by Allaah, do you not know that I love Allaah and His Messenger?’ He remained silent, so I repeated what I had said, pleading with him, but he remained silent. I repeated it again, pleading with him, and he said, ‘Allaah and His Messenger know best.’ My eyes filled with tears and I turned away and went and climbed back over the wall… When fifty nights had passed since the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) had forbidden anyone to talk to us, after I had prayed Fajr on the morning of the fiftieth day, and I was on the roof of our house, whilst I was sitting as Allaah has described, with my own self straitened to me and the earth, vast as it is, straitened to me [cf. Al-Tawbah 9:118], I heard the sound of someone shouting from the mountain of Sal’ at the top of his voice: ‘O Ka’b ibn Maalik, rejoice!’” (Fath, 4418). (Hal.57-58)”
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia:
Ini adalah salah satu metode efektif yang digunakan oleh Nabi (saw) terutama ketika terjadi kesalahan yang sangat serius, karena dampak yang luas yang ditimbulkan oleh pemboikotan terhadap orang yang bersangkutan. Sebuah contoh dari hal ini adalah apa yang terjadi pada Ka'ab bin Malik dan dua temannya yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Setelah Nabi (saw) telah memastikan bahwa mereka tidak memiliki alasan yang sah, dan mereka mengakuinya, seperti yang dikatakan oleh Ka'ab:
"Rasulullah (saw) melarang kaum Muslimin untuk berbicara dengan tiga orang dari kami yang tertinggal. Maka orang-orang menjauhi kami dan sikap mereka terhadap kami berubah sehingga bahkan bumi yang aku injak terlihat berbeda dengan yang aku kenal. Kami tinggal seperti itu selama lima puluh hari. Adapun dua temanku, mereka pasrah dan tinggal di rumah mereka, menangis, tetapi aku yang termuda dan paling gigih, jadi aku biasa keluar dan menghadiri shalat bersama kaum Muslimin dan berkeliling di pasar, dan tidak ada yang berbicara denganku. Aku datang kepada Rasulullah (saw) ketika beliau sedang dalam suatu majelis setelah shalat, dan aku memberi salam kepadanya, bertanya pada diriku sendiri apakah beliau telah menggerakkan bibirnya sebagai jawaban atau tidak. Aku shalat dekat dengannya, mencuri pandang kepadanya. Ketika aku berpaling untuk shalat, beliau berpaling kepadaku, dan ketika aku berpaling kepadanya, beliau berpaling dariku. Ketika kerasnya sikap orang-orang telah terlalu lama bagiku, aku pergi dan memanjat tembok taman Abu Qutaadah, yang adalah sepupuku [anak dari paman ayahku] dan orang yang paling kusayangi. Aku memberi salam kepadanya, tetapi demi Allah dia tidak menjawabku. Aku berkata, 'Wahai Abu Qutaadah, aku memintamu demi Allah, bukankah kau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?' Dia diam, lalu aku mengulangi apa yang telah kukatakan, memohon kepadanya, tetapi dia tetap diam. Aku mengulanginya lagi, memohon kepadanya, dan dia berkata, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Mataku penuh dengan air mata dan aku berpaling dan pergi dan memanjat kembali tembok itu...
Ketika lima puluh malam telah berlalu sejak Rasulullah (saw) melarang siapa pun untuk berbicara dengan kami, setelah aku telah shalat Subuh pada pagi hari yang kelima puluh, dan aku berada di atas atap rumah kami, sementara aku duduk seperti yang telah Allah gambarkan, dengan diriku sendiri sempit bagiku dan bumi, luas seperti itu, sempit bagiku [lihat Al-Taubah 9:118], aku mendengar suara seseorang berteriak dari gunung Sal' dengan suara keras: 'Wahai Ka'ab bin Malik, bersukacitalah!'" (Fath, 4418).
Metode ini berarti tidak berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang bersangkutan untuk jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah membuat mereka sadar akan kesalahan besar yang diperbuat dan merasakan konsekuensinya, sehingga bertaubat dan tidak mengulanginya. Contoh kasus yang terkenal adalah ketika Nabi (saw) melarang kaum Muslimin untuk berbicara dengan tiga sahabat yang tidak ikut perang Tabuk, yaitu Ka'ab bin Malik dan dua rekannya. Mereka dijauhi dan tidak diajak bicara selama 50 hari oleh Rasulullah (saw) dan seluruh umat Islam.
- Praying against someone who stubbornly persists in making a mistake (Berdoa melawan seseorang yang tetap keras kepala dalam membuat kesalahan.)
“Muslim (may Allaah have mercy on him) reported that a man ate with his left hand in the presence of the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him). He said, “Eat with your right hand!” The man said, “I cannot” He said, “May you never be able to!” Nothing was stopping him except pride, and he never raised it to his mouth after that. (No. 2021). (Hal.58)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Muslim (semoga Allah merahmatinya) melaporkan bahwa ada seorang pria yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam). Beliau berkata, "Makanlah dengan tangan kananmu!" Pria itu berkata, "Saya tidak bisa." Beliau berkata, "Semoga kamu tidak pernah bisa!" Tidak ada yang menghentikannya kecuali rasa bangga, dan dia tidak pernah mengangkatnya ke mulutnya setelah itu. (No. 2021).
Hadis ini menunjukkan pentingnya makan dengan tangan kanan, sebuah tindakan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad (shalallahu 'alaihi wa sallam). Ketika seorang pria makan dengan tangan kirinya di hadapan Nabi, beliau segera menegurnya dan meminta agar pria tersebut makan dengan tangan kanannya. Namun, pria tersebut dengan bangga menolak, dan sebagai hukuman, Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) mengucapkan doa, "Semoga kamu tidak pernah bisa!"
Dalam Islam, makan dengan tangan kanan dianggap lebih baik dan lebih bersih. Menolak untuk melakukannya karena alasan kebanggaan adalah perilaku yang tidak baik. Doa yang diucapkan oleh Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam) bukanlah doa kebencian, tetapi sebagai pengingat dan pembelajaran untuk pria tersebut. Setelah mendengar doa tersebut, pria tersebut tidak pernah lagi mengangkat makanan ke mulutnya dengan tangan kiri, menunjukkan dampak pengajaran Nabi yang kuat.
Metode ini berarti mendoakan agar orang yang bersangkutan merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Tujuannya adalah menakut-nakuti dan memberi efek jera agar tidak mengulangi kesalahan serupa. Seperti contoh di atas yang terjadi adalah ketika seorang lelaki menolak makan dengan tangan kanan meski Nabi (saw) sudah memerintahkannya. Maka Nabi (saw) mendoakan agar tangan kanannya tidak akan pernah bisa digunakan. Doa buruk Nabi (saw) itu terkabul, dan orang itu tidak pernah bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya setelah itu.
- Turning a blind eye to some mistakes and being content to just hint at them (Menutup mata terhadap beberapa kesalahan dan cukup memberi petunjuk padanya.)
“And (remember) when the Prophet disclosed a matter in confidence to one of his wives (Hafsah), so when she told it (to another, i.e., ‘Aa’ishah), and Allaah made it known to him, he informed part thereof and left a part. Then when he told her (Hafsah) thereof, she said: ‘Who told you this?’ He said, ‘The All-Knower, the All-Aware (Allaah) has told me.’” [al-Tahreem 66:3 – interpretation of the meaning]
Al-Qaasimi (may Allaah have mercy on him) said in Mahaasin al-Ta’weel: “‘And remember when the Prophet’ refers to Muhammad (peace and blessings of Allaah be upon him). ‘To one of his wives’ refers to Hafsah. ‘A matter in confidence’ means that she was not allowed to disclose it, or what he forbade for himself although Allaah had allowed it. ‘When she told it’ means that she told the secret to her companion (‘Aa’ishah). ‘Allaah made it known to him’ means that Allaah told him what Hafsah had told ‘Aa’ishah. ‘He informed part thereof’ means that he told her part of what she had divulged as a rebuke; ‘and left a part’ means that he did not say some of it, out of respect to her.”
It is noted in al-Ikleel: “The aayah indicates that there is nothing wrong with speaking in a secretive way to one whom you trust such as a spouse or friend, and that he or she is obliged to keep the secret. The aayah also indicates good treatment of wives, gentleness when rebuking and refraining from seeking out every fault.” (Mahaasin alTa’weel, 16/222)
Al-Hasan said: “No noble person will pick on every little fault.” Sufyaan said: “Turning a blind eye is the action of noble people.” (Hal.59)"
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia
"Dan (ingatlah) ketika Nabi menyampaikan suatu rahasia kepada salah seorang istrinya (Hafshah), lalu ketika dia menceritakannya (kepada yang lain, yaitu 'Aisyah), dan Allah menampakkannya kepadanya, dia memberitahukan sebagian daripadanya dan menyembunyikan sebagian (yang lain). Maka tatkala dia memberitahukannya kepadanya (Hafshah), dia berkata: 'Siapakah yang memberitahukan kepadamu ini?' Dia menjawab: 'Yang Maha Mengetahui, Maha Mengenal (Allah) telah memberitahukanku.'" [al-Tahrim 66:3 - tafsir makna]
Al-Qasimi (semoga Allah merahmatinya) berkata dalam Mahaasin al-Ta'wil:
"'Dan ingatlah ketika Nabi' mengacu kepada Muhammad (saw). 'Kepada salah seorang istrinya' mengacu kepada Hafshah. 'Suatu rahasia' berarti bahwa dia tidak diperbolehkan untuk membocorkannya, atau apa yang dia larang untuk dirinya sendiri meskipun Allah telah menghalalkannya. 'Ketika dia menceritakannya' berarti bahwa dia menceritakan rahasia itu kepada temannya ('Aisyah). 'Allah menampakkannya kepadanya' berarti bahwa Allah memberitahu kepadanya apa yang telah Hafshah ceritakan kepada 'Aisyah. 'Dia memberitahukan sebagian daripadanya' berarti bahwa dia memberitahu kepadanya sebagian dari apa yang telah dia ungkapkan sebagai teguran; 'dan menyembunyikan sebagian (yang lain)' berarti bahwa dia tidak mengatakan sebagian darinya, karena menghormatinya."
Dalam al-Ikleel dicatat: "Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada salahnya berbicara secara rahasia kepada orang yang kita percayai seperti pasangan atau teman, dan bahwa dia atau dia berkewajiban untuk menjaga rahasia itu. Ayat ini juga menunjukkan perlakuan baik terhadap istri, kelembutan ketika menegur dan menahan diri dari mencari-cari setiap kesalahan." (Mahaasin al-Ta'wil, 16/222)
Al-Hasan berkata: "Tidak ada orang mulia yang akan mencari-cari setiap kesalahan kecil." Sufyan berkata: "Memalingkan muka adalah tindakan orang-orang mulia."
- Helping a Muslim to correct his mistake (Membantu seorang Muslim memperbaiki kesalahannya.)
“Abu Hurayrah (may Allaah be pleased with him) said: “Whilst we were sitting with the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), a man came to him and said, ‘O Messenger of Allaah, I am doomed!’ He said, ‘What is the matter with you?’ He said, ‘I had intercourse with my wife whilst I was fasting.’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘Are you able to set a slave free?’ He said, ‘No.’ He asked, ‘Can you fast for two consecutive months?’ He said, ‘No.’ he said, ‘Can you feed sixty poor persons?’ He said, ‘No.’ The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said nothing more about the matter for a while, and whilst we were sitting there like that, the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) was brought a large vessel full of dates. He said, ‘Where is the one who was asking just now?’ The man said, ‘Here I am.’ He said, ‘Take this and give it in charity.’ The man said, ‘O Messenger of Allaah, is there anyone poorer between al-Harratayn [i.e., in Madeenah] than my family?’ The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) smiled so broadly that his eyeteeth could be seen, then he said, ‘Feed it to your family.’” (Reported by al-Bukhaari, no. 1936). (Hal.59-60)”.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya) berkata: "Saat kami duduk bersama Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam), datanglah seorang pria kepada-Nya dan berkata, 'Wahai Rasulullah, aku binasa!' Beliau bertanya, 'Apa yang terjadi padamu?' Pria itu berkata, 'Aku berhubungan badan dengan istriku ketika aku sedang berpuasa.' Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) bertanya, 'Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?' Dia menjawab, 'Tidak.' Rasulullah bertanya lagi, 'Dapatkah kamu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?' Dia menjawab, 'Tidak.' Beliau berkata, 'Bisakah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?' Dia menjawab, 'Tidak.' Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) tidak mengatakan apa-apa lebih lanjut tentang masalah tersebut untuk sementara waktu. Saat kami duduk seperti itu, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dibawa sebuah wadah besar yang penuh dengan kurma. Beliau berkata, 'Dimana orang yang tadi bertanya?' Pria itu berkata, 'Aku di sini.' Beliau bersabda, 'Ambillah ini dan berikan sebagai sedekah.' Pria itu berkata, 'Wahai Rasulullah, adakah orang yang lebih miskin di antara penduduk al-Harratayn [yaitu, di Madinah] daripada keluargaku?' Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) tersenyum lebar hingga dapat terlihat gigi seri-Nya, lalu bersabda, 'Berilah makan keluargamu.'” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1936).
Dalam hadis ini, seorang pria datang kepada Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan mengakui bahwa ia melakukan hubungan intim dengan istrinya saat sedang berpuasa, yang merupakan pelanggaran yang memerlukan kafarat (tebusan). Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memberikan opsi kafarat kepada pria tersebut, seperti memerdekakan budak, berpuasa selama dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin.
Karena pria tersebut tidak mampu melaksanakan salah satu opsi tersebut, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) memberinya karunia berupa sebuah wadah penuh kurma. Pria tersebut awalnya ingin memberikannya sebagai sedekah, tetapi setelah ditunjukkan bahwa keluarganya lebih membutuhkannya, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menasihatinya untuk memberikan kurma tersebut sebagai makanan untuk keluarganya. Hadis ini mengajarkan kasih sayang, pemahaman situasi, dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan keluarga yang membutuhkan.
- Meeting with the person who has made the mistake to talk it over (Bertemu dengan orang yang membuat kesalahan untuk membicarakannya.)
"In Saheeh al-Bukhaari it is reported that ‘Abd-Allaah ibn ‘Amr said: “My father married me to a woman from a good family. He used to come and check on his daughter in law, and ask her about her husband. She would say, ‘What a good man he is. He has never slept in our bed or disturbed us since we got married.’ When this had gone on for a long time, he mentioned it to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), who said, ‘Let me meet with him.’ So I met with him after that, and he said, ‘How often do you fast?’ I said, ‘Every day.’ He said, ‘How often do you complete the Qur’aan?’ I said, ‘Every night.’ He said, ‘Fast three days of every month, and complete the Qur’aan once a month.’ I said, ‘I can do more than that.’ He said, ‘Fast three days every week.’ I said, ‘I can do more than that.’ He said, ‘Don’t fast for two days, then fast for one day.’ I said, ‘I can do more than that.’ He said, ‘Observe the best kind of fast, the fast of Dawood, fasting one day then not fasting the next, and complete the Qur’aan once every seven days.’ I wish that I had accepted the dispensation of the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), because when I became old and weak I started to read one seventh of the Qur’aan to my family during the day, and whatever I read during the day makes it easier to complete it at night. If I want to help myself, I do not fast for a number of days, then I count the number of days I did not fast and fast the same number of days. I do not want to give up something that I promised the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) I would do before he died.” Abu ‘AbdAllaah said: “Some of them said in three, and in five, and most of them said in seven.” (al-Fath, 5052) (Hal.60)”
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia:
Dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr berkata: "Ayahku menikahkanku dengan seorang wanita dari keluarga yang baik. Dia biasa datang dan mengecek menantunya, dan menanyakan tentang suaminya. Dia akan berkata, 'Dia adalah seorang laki-laki yang baik. Dia tidak pernah tidur di tempat tidur kami atau mengganggu kami sejak kami menikah.' Ketika hal ini berlangsung lama, dia menyebutkannya kepada Nabi (saw), yang berkata, 'Biarlah aku bertemu dengannya.' Lalu aku bertemu dengannya setelah itu, dan dia berkata, 'Berapa sering kamu berpuasa?' Aku berkata, 'Setiap hari.' Dia berkata, 'Berapa sering kamu menyelesaikan Al-Quran?' Aku berkata, 'Setiap malam.' Dia berkata, 'Puasalah tiga hari setiap bulan, dan selesaikan Al-Quran sekali sebulan.' Aku berkata, 'Aku bisa lebih dari itu.' Dia berkata, 'Puasalah tiga hari setiap minggu.' Aku berkata, 'Aku bisa lebih dari itu.' Dia berkata, 'Jangan puasa selama dua hari, lalu puasa selama satu hari.' Aku berkata, 'Aku bisa lebih dari itu.' Dia berkata, 'Lakukanlah puasa yang paling baik, yaitu puasa Daud, puasa sehari lalu tidak puasa sehari berikutnya, dan selesaikan Al-Quran sekali setiap tujuh hari.' Aku berharap bahwa aku telah menerima keringanan dari Rasulullah (saw), karena ketika aku menjadi tua dan lemah aku mulai membaca satu per tujuh Al-Quran kepada keluargaku siang hari, dan apa pun yang aku baca siang hari membuatnya lebih mudah untuk menyelesaikannya di malam hari. Jika aku ingin membantu diriku sendiri, aku tidak berpuasa selama beberapa hari, lalu aku menghitung jumlah hari yang tidak aku puasa dan aku puasa dengan jumlah hari yang sama. Aku tidak ingin meninggalkan sesuatu yang telah aku janjikan kepada Nabi (saw) sebelum beliau wafat." Abu Abdillah berkata: "Sebagian dari mereka berkata dalam tiga, dan dalam lima, dan sebagian besar dari mereka berkata dalam tujuh." (al-Fath, 5052)
- Speaking bluntly to a person about the mistake he is making (Berbicara terus terang kepada seseorang tentang kesalahan yang dibuatnya.)
“Al-Bukhaari (may Allaah have mercy on him) reported that Abu Dharr said: “There was an argument between me and another man. His mother was a non-Arab, and I said something insulting about her. He mentioned this to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), who asked me, ‘Did you trade insults with so-and-so?’ I said, ‘Yes.’ He said, ‘Did you say something insulting about his mother?’ I said, ‘Yes.’ He said, ‘You are a man who still has something of jaahiliyyah in you.’ I said, ‘I said what I said because I am getting old.’ He said, ‘Yes, but they are your brothers. Allaah has given you power over them, but whoever is given power over someone, let him feed him as he feeds himself, clothe him as he clothes himself, and not give him more work to do than he is able. If he does give him too much work, let him help him.’” (Fath, 6050) (Hal.62)”
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Al-Bukhari (semoga Allah memberikan rahmat kepadanya) melaporkan bahwa Abu Dharr berkata: “Ada perdebatan antara saya dan seorang pria lainnya. Ibu pria itu adalah seorang non-Arab, dan saya mengucapkan sesuatu yang merendahkan tentangnya. Dia menyebut ini kepada Nabi (shalallahu 'alaihi wa sallam), yang bertanya kepada saya, ‘Apakah kamu saling menghina dengan si fulan?’ Saya berkata, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Apakah kamu mengatakan sesuatu yang merendahkan tentang ibunya?’ Saya berkata, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Kamu masih memiliki sesuatu dari jahiliyyah di dalam dirimu.’ Saya berkata, ‘Saya mengatakan apa yang saya katakan karena saya sudah menua.’ Beliau berkata, ‘Ya, tetapi mereka adalah saudara-saudaramu. Allah telah memberikan kekuasaan atas mereka, tetapi siapa pun yang diberikan kekuasaan atas seseorang, biarkan dia memberinya makan seperti dia memberi makan dirinya sendiri, berpakaian seperti dia berpakaian, dan jangan memberinya lebih banyak pekerjaan dari yang dia mampu. Jika dia memberinya terlalu banyak pekerjaan, biarkan dia membantunya.’” (Fath, 6050)
Hadis ini menceritakan peristiwa di mana Abu Dharr terlibat dalam sebuah perselisihan dengan seorang pria. Saat berdebat, Abu Dharr mengucapkan sesuatu yang merendahkan tentang ibu pria tersebut yang non-Arab. Pria tersebut kemudian melaporkan insiden ini kepada Nabi Muhammad (shalallahu 'alaihi wa sallam). Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) kemudian memanggil Abu Dharr dan bertanya apakah ia benar-benar bertengkar dan mengucapkan sesuatu yang merendahkan tentang ibu pria tersebut. Abu Dharr mengakui perbuatannya.
Respon Nabi Muhammad (shalallahu 'alaihi wa sallam) terhadap tindakan Abu Dharr adalah memberikan pelajaran moral dan etika Islam. Beliau mengingatkan Abu Dharr untuk tidak mempertahankan sifat jaahiliyyah (kebodohan prajahiliyah) dalam perilaku dan ucapannya. Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) mengajarkan pentingnya bersikap adil dan lembut, terutama terhadap saudara Muslim. Meskipun Abu Dharr memiliki kekuasaan atau pengaruh atas pria tersebut, Rasulullah (shalallahu 'alaihi wa sallam) menekankan agar Abu Dharr memperlakukannya dengan adil dan penuh kasih sayang, memberinya makan dan pakaian sebagaimana Abu Dharr memberikan untuk dirinya sendiri, dan tidak memberinya pekerjaan lebih banyak daripada yang dia mampu. Jika Abu Dharr memberinya terlalu banyak pekerjaan, dia diingatkan untuk membantunya. Ini adalah pengajaran yang sangat relevan dan mendalam tentang etika Islam dalam penanganan perselisihan dan hubungan antar sesama.
- Persuading a person that he is making a mistake (Meyakinkan seseorang bahwa dia membuat kesalahan.)
“Engaging in a discussion with a wrongdoer with the aim of convincing him may lead to the removal of the blinkers over his eyes and bringing him back to the Straight Path. An example of this is the report narrated by al-Tabaraani (may Allaah have mercy on him) in al-Mu’jam al-Kabeer from Abu Umaamah (may Allaah have mercy on him), who said that a young man came to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and said, “O Messenger of Allaah, give me permission to commit zinaa (fornication or adultery).” The people shouted [at him] and [the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him)] said, “Stop it!’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, “Let him calm down. Come here.” He came and sat in front of the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), who said to him, “Would you like it for your mother?” He said, “No.” He said, “Likewise, people do not like it for their mothers. Would you like it for your daughter?” He said, “No.” He said, “Likewise, people do not like it for their daughters. Would you like it for your sister?” He said, “No.” He said, “Likewise, people do not like it for their sisters. Would you like it for your (paternal) aunt?” He said, “No.” He said, “Likewise, people do not like it for their (paternal) aunts. Would you like it for your (maternal) aunt?” He said, “No.” He said, “Likewise, people do not like it for their (maternal) aunts.” Then the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) put his hand on his chest and said, “O Allaah, forgive his sins, purify his heart and make him chaste.” (Al-Tabaraani, al-Mu’jam al-Kabeer, 7679 and 7759. Additional material is included between square brackets). (Hal. 63)”
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia:
Berdebat dengan orang yang berbuat salah dengan tujuan meyakinkannya dapat menyebabkan dia membuka mata hatinya dan kembali ke Jalan yang Lurus. Sebuah contoh dari hal ini adalah laporan yang diriwayatkan oleh al-Tabarani (semoga Allah merahmatinya) dalam al-Mu'jam al-Kabir dari Abu Umamah (semoga Allah merahmatinya), yang berkata bahwa seorang pemuda datang kepada Rasulullah (saw) dan berkata, "Wahai Rasulullah, berilah aku izin untuk berzina." Orang-orang berteriak [kepadanya] dan [Nabi (saw)] berkata, "Berhenti!" Rasulullah (saw) berkata, "Biarkan dia tenang. Kemarilah." Dia datang dan duduk di depan Rasulullah (saw), yang berkata kepadanya, "Apakah kamu suka melakukannya dengan ibumu?" Dia berkata, "Tidak." Dia berkata, "Begitu pula, orang-orang tidak suka melakukannya dengan ibu mereka. Apakah kamu suka melakukannya dengan putrimu?" Dia berkata, "Tidak." Dia berkata, "Begitu pula, orang-orang tidak suka melakukannya dengan putri mereka. Apakah kamu suka melakukannya dengan saudaramu?" Dia berkata, "Tidak." Dia berkata, "Begitu pula, orang-orang tidak suka melakukannya dengan saudara mereka. Apakah kamu suka melakukannya dengan bibimu (dari pihak ayah)?" Dia berkata, "Tidak." Dia berkata, "Begitu pula, orang-orang tidak suka melakukannya dengan bibi mereka (dari pihak ayah). Apakah kamu suka melakukannya dengan bibimu (dari pihak ibu)?" Dia berkata, "Tidak." Dia berkata, "Begitu pula, orang-orang tidak suka melakukannya dengan bibi mereka (dari pihak ibu)." Kemudian Rasulullah (saw) meletakkan tangannya di dadanya dan berkata, "Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, sucikanlah hatinya dan jadikanlah dia suci." (Al-Tabarani, al-Mu'jam al-Kabir, 7679 dan 7759. Bahan tambahan disertakan di antara tanda kurung kotak).
Salah satu cara untuk meyakinkan seseorang bahwa dia membuat kesalahan adalah dengan berdiskusi dengannya. Diskusi ini bertujuan untuk memberikan penjelasan kepada orang tersebut tentang kesalahannya, sehingga ia dapat menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar.
Contohnya, ketika seorang pemuda meminta izin zina pada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berdialog dan memberikan penjelasan dengan penuh hikmah sehingga si pemuda akhirnya sadar. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada pemuda itu, "Apakah engkau suka jika orang lain berbuat zina dengan ibumu?" Pemuda itu menjawab, "Tentu saja tidak." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata, "Demikian pula, orang lain tidak akan menyukai jika engkau berbuat zina dengan ibunya."
Penjelasan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut membuat pemuda itu sadar bahwa zina adalah perbuatan yang salah dan tidak pantas dilakukan.
Dalam berdiskusi, kita perlu menggunakan bahasa yang sopan dan santun, menghindari bersikap memaksa atau menghakimi, mendengarkan pendapat orang tersebut dengan baik, memberikan penjelasan yang jelas dan logis, menggunakan contoh-contoh yang relevan, dan memberikan solusi atau alternatif yang lebih baik.
Dengan mengikuti tips-tips tersebut, diharapkan kita dapat meyakinkan seseorang bahwa dia membuat kesalahan dengan lebih efektif.
Perbedaan antara paragraf dengan point dan tanpa point adalah pada strukturnya. Paragraf dengan point memiliki struktur yang lebih jelas dan mudah dipahami. Setiap poin mewakili sebuah ide atau gagasan yang saling berkaitan. Sementara itu, paragraf tanpa point memiliki struktur yang lebih fleksibel. Ide atau gagasan dapat disampaikan secara bebas dan mengalir.
Dalam hal ini, saya memilih untuk menjadikan paragraf tersebut tanpa point karena saya ingin menekankan pada pentingnya diskusi dalam meyakinkan seseorang bahwa dia membuat kesalahan. Diskusi merupakan proses komunikasi dua arah yang memungkinkan kita untuk saling bertukar pikiran dan ide. Dengan diskusi, kita dapat lebih memahami perspektif orang lain dan menyampaikan pendapat kita dengan lebih efektif.
- Making a person understand that his flimsy excuse is not acceptable (Membuat seseorang memahami bahwa alasan lemahnya tidak dapat diterima.)
Dalam bab ini dijelaskan bagaimana Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam membuat seseorang yang sedang membuat alasan yang tidak masuk akal untuk membenarkan kesalahannya menyadari bahwa alasannya tidak dapat diterima.
“Khuwwaat ibn Jubayr reported: “We made camp with the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) at Mar al-Zahraan (a place near Makkah). I came out of my tent and saw some women talking amongst themselves. I liked them, so I went back, got out my trunk and took out a hillah (a suit of clothes). I put it on and came and sat with them. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) came out and said, ‘O Abu ‘Abd-Allaah!!” (i.e., he was reprimanding him for sitting with those non-mahrem women). When I saw the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him), I got scared and started stammering (trying to come up with an excuse). I said, “O Messenger of Allaah, my camel got lost and I am looking for a rope to restrain it” (i.e., he came up with a false excuse to justify what he had done). (Hal.63-64)”
Terjemahan teks tersebut ke bahasa Indonesia adalah:
Khuwwat bin Jubayr meriwayatkan: "Kami berkemah bersama Rasulullah (saw) di Mar al-Zahraan (sebuah tempat dekat Makkah). Aku keluar dari tendaku dan melihat beberapa wanita sedang berbicara di antara mereka. Aku menyukai mereka, lalu aku kembali, mengeluarkan petiku dan mengambil sebuah hillah (sebuah baju). Aku memakainya dan datang dan duduk bersama mereka. Rasulullah (saw) keluar dan berkata, 'Wahai Abu Abdullah!!" (yaitu, beliau menegur dia karena duduk bersama wanita-wanita yang bukan mahramnya). Ketika aku melihat Rasulullah (saw), aku ketakutan dan mulai gagap (berusaha mencari alasan). Aku berkata, "Wahai Rasulullah, untaku hilang dan aku mencari tali untuk mengikatnya" (yaitu, dia mengarang alasan palsu untuk membenarkan apa yang telah dia lakukan)
Dalam kejadian ini, Khuwwat ibn Jubayr sedang duduk bersama beberapa wanita yang bukan mahramnya. Ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya, Khuwwat merasa takut dan mulai tergagap mencari alasan dengan mengatakan untanya hilang dan dia sedang mencari tali.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menanggapi alasannya dan pergi meninggalkannya. Namun ketika bertemu lagi, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terus menanyakan perihal onta yang hilang itu hingga Khuwwat mengakui bahwa onta itu sebenarnya tidak pernah hilang dan dia telah berbohong.
Dengan cara ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membuat Khuwwat menyadari bahwa alasannya tidak masuk akal dan tidak dapat diterima untuk membenarkan kesalahan duduk bersama wanita yang bukan mahram.
- Paying attention to things that are inherent in human nature (Memperhatikan hal-hal yang melekat dalam sifat manusia.)
“An example of this is the jealousy of women, especially in the case of co-wives, some of whom may make mistakes that, if they were made by anyone else under normal circumstances, would be treated quite differently. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) used to pay special attention to the issue of jealousy among his wives and the mistakes that were made by them as a result, and the patience, justice and fairness with which he handled the matter are plain to see. An example of this is the report narrated by al-Bukhaari (may Allaah have mercy on him) in his Saheeh from Anas, who said: “The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) was with one of his wives when another of the Mothers of the Believers sent a big vessel full of food to him. The wife in whose house the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) was struck the hand of the servant, and the vessel fell and broke in two. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) picked up the pieces and put them together, then he gathered up the food that had been in the vessel and said, ‘Your mother is jealous.’ Then he asked the servant to wait until he was given the vessel belonging to the wife in whose house he was, and he sent the whole vessel to the wife whose vessel had been broken, and kept the broken vessel in the house of the one who had broken it.” (Fath, 5225)”
According to a report narrated by al-Nisaa'i (Kitaab ‘Ishrat al-Nisaa’), Umm Salamah brought some food in a vessel belonging to her to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and his companions, then ‘Aa’ishah came wrapped in a garment, carrying a stone, which she threw and broke the vessel. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) put the two halves back together and said, “Eat, your mother is jealous” twice, then he took ‘Aa’ishah’s vessel and sent it to Umm Salamah, and gave Umm Salamah’s vessel to ‘Aa’ishah.
According to a report narrated by al-Daarimi (Kitaab al-Buyoo’, Baab man kasara shay’an fa ‘alayhi mithluhu) from Anas, he said: “One of the wives of the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) sent him a vessel in which was some thareed [a dish of sopped bread, meat and broth], when he was in the house of one of his other wives, who struck the vessel and broke it. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) started to pick up the thareed and put it back into the vessel, saying, ‘Eat, your mother is jealous…’”
Women’s jealousy is an inherent part of their nature, that may cause them to do bad things and prevent them from seeing the consequences of their actions. It was said that when a woman is jealous, she cannot see the bottom of a valley from its top. (Hal.65-66)”
Berikut adalah terjemahan teks tersebut ke bahasa Indonesia:
Sebuah contoh dari hal ini adalah rasa cemburu wanita, terutama dalam hal istri-istri yang bersama, sebagian dari mereka mungkin melakukan kesalahan yang, jika dilakukan oleh orang lain dalam keadaan normal, akan diperlakukan dengan cara yang berbeda. Nabi (saw) selalu memberikan perhatian khusus pada masalah cemburu di antara istrinya dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh mereka sebagai akibatnya, dan kesabaran, keadilan, dan kewajaran yang beliau tunjukkan dalam menangani masalah ini sangat jelas terlihat. Sebuah contoh dari hal ini adalah laporan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (semoga Allah merahmatinya) dalam Shahihnya dari Anas, yang berkata: "Nabi (saw) sedang bersama salah seorang istrinya ketika seorang lain dari Ummul Mukminin mengirimkan sebuah bejana besar yang penuh dengan makanan kepadanya. Istri yang rumahnya sedang didatangi Nabi (saw) memukul tangan pelayan itu, dan bejana itu jatuh dan pecah menjadi dua. Nabi (saw) mengambil potongan-potongannya dan menyatukannya, lalu ia mengumpulkan makanan yang ada di dalam bejana itu dan berkata, 'Ibumu cemburu.' Lalu ia meminta pelayan itu untuk menunggu sampai ia diberikan bejana yang milik istri yang rumahnya sedang didatanginya, dan ia mengirimkan seluruh bejana itu kepada istri yang bejananya telah pecah, dan menyimpan bejana yang pecah di rumah orang yang telah memecahkannya." (Fath, 5225)
Menurut sebuah laporan yang diriwayatkan oleh al-Nisaa'i (Kitab 'Ishrat al-Nisaa'), Ummu Salamah membawa beberapa makanan dalam sebuah bejana yang miliknya kepada Rasulullah (saw) dan para sahabatnya, lalu 'Aisyah datang terbungkus dengan kain, membawa sebuah batu, yang dilemparkannya dan memecahkan bejana itu. Rasulullah (saw) menyatukan kembali dua belahannya dan berkata, "Makanlah, ibumu cemburu" dua kali, lalu ia mengambil bejana 'Aisyah dan mengirimkannya kepada Ummu Salamah, dan memberikan bejana Ummu Salamah kepada 'Aisyah.
Menurut sebuah laporan yang diriwayatkan oleh al-Daarimi (Kitab al-Buyu', Bab siapa yang memecahkan sesuatu maka atasnya yang semisalnya) dari Anas, dia berkata: "Salah seorang istri Nabi (saw) mengirimkan kepadanya sebuah bejana yang di dalamnya ada tharid [hidangan roti, daging, dan kuah], ketika beliau berada di rumah salah seorang istri lainnya, yang memukul bejana itu dan memecahkannya. Rasulullah (saw) mulai mengambil tharid itu dan memasukkannya kembali ke dalam bejana, sambil berkata, 'Makanlah, ibumu cemburu...'"
Rasa cemburu wanita adalah bagian dari fitrah mereka, yang dapat menyebabkan mereka melakukan hal-hal buruk dan mencegah mereka melihat akibat dari tindakan mereka. Dikatakan bahwa ketika seorang wanita cemburu, dia tidak bisa melihat dasar lembah dari atasnya.
F. Evaluasi Kritis
Buku ini memberikan pemahaman mendalam berdasarkan teladan langsung dari Nabi Muhammad tentang bagaimana seharusnya menyikapi dan memperbaiki kesalahan dengan bijaksana. Penulis menganalisis dengan detail situasi dan kondisi spesifik dari setiap kasus yang dikutip. Namun buku ini lebih fokus ke studi teoritisnya, dan bisa ditambahkan lebih banyak tuntunan praktis penerapannya.
Buku ini merupakan karya ilmiah yang komprehensif dan mendalam mengenai metode-metode koreksi kesalahan yang diambil dari teladan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Penulis buku ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, adalah seorang ulama besar yang terkenal dengan keilmuan dan kebijaksanaannya. Buku ini ditulis berdasarkan kuliah yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi di Madinah.
Buku ini terdiri dari 4 bab dan 38 metode yang membahas berbagai aspek koreksi kesalahan, mulai dari dasar hukum, prinsip-prinsip, syarat-syarat, hingga contoh-contoh kasus yang dianalisis secara detail. Penulis menggunakan referensi hadis yang sahih dari kitab rujukan besar, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa'i, Sunan Ibn Majah, dan Musnad Ahmad. Penulis juga memberikan penjelasan bijak dan hikmah di balik setiap tindakan korektif yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Salah satu kelebihan buku ini adalah penekanan pada pendekatan yang diambil oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mengoreksi kesalahan. Penulis menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya mengoreksi kesalahan secara langsung, tetapi juga menggunakan metode-metode lain yang lebih halus, seperti memberikan isyarat, bertanya, memberikan nasihat, memberikan contoh, dan lain-lain. Penulis juga menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selalu memperhatikan kondisi, situasi, dan karakteristik orang yang dikoreksi, serta tujuan dan manfaat dari koreksi tersebut.
Meskipun buku ini memiliki kelebihan-kelebihan yang disebutkan di atas, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan. Salah satu kekurangan buku ini adalah kurangnya arahan praktis dalam menerapkan metode-metode koreksi yang dibahas. Buku ini lebih banyak mengeksplorasi studi teoritis dan kurang memberikan petunjuk atau panduan khusus untuk menerapkan metode-metode tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca mungkin merasa kurang dibimbing dalam menghadapi situasi-situasi yang membutuhkan koreksi kesalahan.
Selain itu, kekurangan lain buku ini adalah minimnya rekomendasi penulis yang terkesan ambigu. Penulis hanya memberikan rekomendasi umum di akhir buku, seperti berdoa, bersabar, berhati-hati, dan berusaha meningkatkan ilmu. Pembaca mungkin mengharapkan lebih banyak rekomendasi yang spesifik dan konkret dari penulis, terutama mengenai cara mengatasi tantangan dan hambatan dalam mengoreksi kesalahan.
Secara keseluruhan, buku ini sangat layak direkomendasikan sebagai bahan bacaan dan referensi dalam konteks metodologi dakwah bijaksana yang moderat. Buku ini memberikan wawasan berharga bagi pembaca, khususnya para da'i, konselor, pendidik, dan stakeholder terkait, dalam memahami dan mengembangkan keterampilan korektif mereka berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Buku ini juga memberikan gambaran komprehensif dan mendalam mengenai metode-metode koreksi kesalahan yang diambil dari teladan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yang merupakan contoh terbaik bagi umat manusia.
G. Relevansi Metode Masa Kini
Buku sangat relevan untuk konteks kekinian, karena kesalahan manusiawi pasti terus terjadi di sepanjang zaman. Metode bijak Nabi dalam menyikapi dan memperbaiki kesalahan - dengan mendidik dan membimbing - sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai kesalahan dan tantangan umat saat ini.
Metode-metode Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam menghadapi dan mengoreksi kesalahan umat yang dijabarkan dalam 38 sub-judul buku ini sangat relevan untuk diterapkan pada masa kini, karena:
- Metode-metode tersebut bersumber dari teladan yang sempurna, yaitu Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
- Metode-metode tersebut mencakup berbagai situasi dan kondisi yang universal, sehingga dapat diterapkan pada berbagai kasus pada masa kini.
- Metode-metode tersebut mengedepankan kebijaksanaan, kasih sayang, dan keadilan, yang sangat dibutuhkan pada masa kini.
- Metode-metode tersebut bertujuan untuk meluruskan kesalahan dan membimbing ke jalan yang benar, bukan menjatuhkan dan mengucilkan individu yang bersangkutan.
- Penerapan metode-metode tersebut dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan umat Islam kontemporer akibat munculnya beragam paham dan aliran sesat.
Jadi intinya, metode dakwah dan pendidikan Islam model Baginda Nabi ini amat cocok untuk diterapkan pada masa kini karena bersifat universal dan solutif dalam menghadapi problem keumatan. Tentu dengan catatan, penerapannya harus menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada.
BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari keseluruhan isi buku "The Prophet's Methods of Correcting People's Mistakes":
- Mengoreksi kesalahan orang lain adalah kewajiban penting dalam Islam yang tercakup dalam prinsip amar makruf nahi mungkar. Ini adalah bagian dari nasihat tulus dan menjalankan perintah agama.
- Dalam mengoreksi kesalahan harus dilakukan dengan hati-hati dan bijaksana, menyesuaikan pendekatan yang digunakan dengan kondisi, situasi, dan kepribadian orang yang dikoreksi.
- Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan berbagai metode yang tepat dalam mengoreksi orang lain, seperti memberi penjelasan, menasihati secara bertahap, memberi peringatan tegas, meminta tolong berhenti dari kesalahan, dan metode lainnya.
- Metode dakwah Rasulullah sangat relevan diterapkan pada dakwah kontemporer untuk meningkatkan efektivitas, dengan prinsip mendidik dan membimbing umat agar sadar dan kembali ke jalan benar. Para da'i harus mencontoh sikap lemah lembut, penuh hikmah, kasih sayang, serta mempertimbangkan situasi terbaik yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW.
- Tujuan mengoreksi kesalahan bukanlah untuk menghukum atau mempermalukan, tetapi untuk membimbing dan menyadarkan orang tersebut dengan penuh kasih sayang agar kembali ke jalan yang benar.
- Buku ini sangat penting untuk memberi pelajaran kepada para mubalig, guru, orang tua, dan setiap muslim bagaimana menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan cara bijaksana menurut teladan Nabi Muhammad SAW.
Buku ini memberikan pembelajaran penting bahwa mengoreksi kesalahan umat membutuhkan pendekatan bijaksana, bukan menyalahkan apalagi mempermalukan mereka. Metode Nabi Muhammad SAW sangat relevan diterapkan pada dakwah kontemporer untuk meningkatkan efektivitas, dengan prinsip mendidik dan membimbing umat agar sadar dan kembali ke jalan benar. Para da'i harus mencontoh sikap lemah lembut, penuh hikmah, kasih sayang, serta pertimbangan situasi terbaik yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW.
B. Rekomendasi
Penelitian selanjutnya dapat mengambil arah yang lebih mendalam dengan melibatkan studi kasus yang lebih terinci terkait penerapan metode koreksi kesalahan ala Nabi Muhammad di lingkungan atau komunitas tertentu. Fokus penelitian dapat diarahkan pada konteks dan tantangan spesifik yang dihadapi oleh masyarakat tersebut. Sebuah dimensi psikologis dapat dimasukkan dalam penelitian dengan mengeksplorasi dampak emosional dan psikologis dari individu yang mengalami koreksi kesalahan. Selanjutnya, perbandingan efektivitas berbagai metode koreksi yang diterapkan dalam berbagai konteks dapat memberikan wawasan lebih mendalam, sementara keterlibatan langsung masyarakat dapat memperkaya perspektif penelitian. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi potensi penerapan teknologi, seperti platform digital atau aplikasi, sebagai alat untuk menyampaikan pesan koreksi dengan lebih efektif. Diversifikasi konteks, termasuk lingkungan sekuler atau multi kultural, juga dapat diperluas untuk memahami adaptabilitas metode koreksi. Analisis jangka waktu panjang tentang dampak perubahan perilaku atau pandangan setelah koreksi kesalahan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Keterlibatan lebih banyak lembaga keagamaan dalam penelitian juga penting untuk memahami implementasi prinsip-prinsip koreksi kesalahan dalam konteks keagamaan yang lebih luas. Selanjutnya, penelitian dapat mendukung pengembangan pedoman praktis dan memberikan pandangan tentang efektivitas pelatihan terkait implementasi metode koreksi kesalahan. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian selanjutnya diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman praktek koreksi kesalahan dalam berbagai konteks sosial, agama, dan psikologis.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Munajjid, M. S. (2004). The Prophet (ﷺ)’s Methods for Correcting People’s Mistakes. International Islamic Publishing House.
Asfar, I. T., & Taufan, I. (2019). Analisis naratif, analisis konten, dan analisis semiotik (Penelitian kualitatif). No. January. https://www.researchgate.net/profile/Amirfan-Asfar/publication/330337822_ANALISIS_NARATIF_ANALISIS_KONTEN_DAN_ANALISIS_SEMIOTIK_Penelitian_Kualitatif/links/5c39a386458515a4c71fe1f2/ANALISIS-NARATIF-ANALISIS-KONTEN-DAN-ANALISIS-SEMIOTIK-Penelitian-Kualitatif.pdf
Assyakurrohim, D., Ikhram, D., Sirodj, R. A., & ... (2023). Metode studi kasus dalam penelitian kualitatif. … Pendidikan Sains Dan …. https://jurnal.itscience.org/index.php/jpsk/article/view/1951
Azis, Y. A. (2022, June 17). Bedah Buku: Pengertian, Manfaat, Struktur dan Contoh. https://bukunesia.com/bedah-buku/
Budiantoro, W. (2018). Dakwah di Era Digital. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 11(2), 263–281. https://doi.org/10.24090/komunika.v11i2.1369
Danandjaja, J. (2014). Metode penelitian kepustakaan. Antropologi Indonesia. http://www.ijil.ui.ac.id/index.php/jai/article/viewArticle/3318
Evanirosa, M. A., Bagenda, S. H. C., Mh, C., & ... (2022). Metode Penelitian Kepustakaan (Library Research). Media Sains Indonesia.
Hasriadi, H. (2022). Metode Pembelajaran Inovatif di Era Digitalisasi. Jurnal Sinestesia. https://sinestesia.pustaka.my.id/journal/article/view/161
Munandar, A. (2021, February 20). Sekilas Tentang Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid. Ustadzaris.Com. https://ustadzaris.com/sekilas-tentang-syaikh-muhammad-shalih-al-munajjid
Sakdiah, H. (2016). Komunikasi interpersonal sebagai strategi dakwah rasulullah (perspektif psikologi). Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah. http://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/alhadharah/article/view/1219
Sitepu, B. P. (2013). Teknik Menyusun Resensi Buku. Pendidikan Penabur. https://www.academia.edu/download/35290748/Hal._98-105_Tehnik_Penulisan.pdf
Thabroni, G. (2022, May 8). Analisis Kesalahan Berbahasa : Pengertian, Jenis, Langkah, dsb. Serupa.Id. https://serupa.id/analisis-kesalahan-berbahasa-pengertian-jenis-langkah-dsb/