Langsung ke isi

Etika Dakwah Ushûliyyah

Permasalahan radikalisme agama telah menjadi isu global yang mengkhawatirkan. Kelompok-kelompok radikal kerap mengatasnamakan agama untuk melegitimasi aksi-aksi mereka yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka mengklaim sebagai perwakilan…

(2230100017)

Permasalahan radikalisme agama telah menjadi isu global yang mengkhawatirkan. Kelompok-kelompok radikal kerap mengatasnamakan agama untuk melegitimasi aksi-aksi mereka yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka mengklaim sebagai perwakilan dari dakwah ushûliyyah, yakni gerakan yang memperjuangkan pemurnian Islam dengan kembali kepada sumber-sumber otentik agama. Namun, retorika dan aksi mereka justru menodai etika dakwah ushûliyyah yang seharusnya didasari oleh kasih sayang, kebijaksanaan, dan toleransi.

Salah satu fenomena radikalisme agama yang memprihatinkan adalah aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti ISIS. Dengan mengatasnamakan jihad, mereka melakukan pembunuhan massal, penyiksaan, dan pengusiran warga sipil dari wilayah yang mereka kuasai (Muro, 2017). Tidaklah etis bila gerakan dakwah ushûliyyah yang semestinya menebarkan rahmat digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Aksi-aksi tersebut bertentangan dengan etika dakwah ushûliyyah yang mengutamakan perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap keragaman.

Fenomena lain yang memprihatinkan adalah sikap eksklusivisme dan truth claim dari sebagian kelompok radikal. Mereka menganggap bahwa hanya pemahaman merekalah yang paling benar dan menghukumi pihak lain sebagai kafir atau sesat (Hilmy, 2020). Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan etika dakwah ushûliyyah yang seharusnya menghargai perbedaan pandangan dan mengajak dengan cara yang bijaksana, bukan dengan intimidasi atau pengafiran.

Radikalisme agama juga seringkali disertai dengan narasi-narasi provokatif yang memperkeruh hubungan antara umat beragama. Ujaran kebencian dan propaganda anti-kelompok tertentu menjadi bagian dari retorika mereka (Harmoko, 2022). Hal ini tentu bertolak belakang dengan semangat etika dakwah ushûliyyah yang mengajarkan persaudaraan, persatuan, dan mencegah perpecahan di kalangan umat manusia.

Untuk mengembalikan etika dakwah ushûliyyah pada khittahnya yang luhur, diperlukan upaya untuk menyebarkan pemahaman Islam yang moderat dan toleran. Pembacaan terhadap sumber-sumber otentik agama harus diimbangi dengan kontekstualisasi dan penafsiran yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Gerakan dakwah ushûliyyah seharusnya menjadi motor bagi terwujudnya perdamaian, keadilan, dan kemaslahatan umat manusia, bukan justru menjadi alat legitimasi bagi tindakan-tindakan destruktif. Para da'i dan aktivis dakwah ushûliyyah perlu meneladani akhlak mulia Rasulullah saw. dalam berdakwah dengan penuh kelembutan, hikmah, dan mawaddah.

Referensi:

Harmoko, D. P. (2022). Diskursus narasi kebencian di media sosial: Studi kasus pengikut Akun "Mamahmadcybermuslim". Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, 13(1), 15-32. https://doi.org/10.32923/maw.v13i1.1994

Hilmy, M. (2020). Eksklusi dan kekerasan atas nama agama di Indonesia kontemporer. Intizar, 26(1), 77-93. https://doi.org/10.19109/intizar.v26i1.5954

Muro, D. (2017). What does radicalisation look like? Four visualised narratives of radicalisation processes in al-Qaeda and ISIS. Studies in Conflict & Terrorism, 40(7), 591-610. https://doi.org/10.1080/1057610X.2016.1211033

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Etika Dakwah Ushûliyyah. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca

Bacaan terkait

Lihat seluruh Khazanah