Pendahuluan
Dakwah memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia terutama di masyarakat modern yang semakin kompleks. Dakwah memiliki peran dalam membentuk karakter dan keyakinan masyarakat serta menyebarkan ajaran agama. Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, dakwah dapat disampaikan dalam berbagai bentuk, mulai dari dakwah lisan, tulisan, audio, visual, hingga digital (Abdi, 2021). Hal ini bertujuan agar masyarakat mudah mengakses dan mempraktikkan dakwah dengan lebih mudah, sehingga dapat membawa manfaat dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan sosial di masyarakat.
Dakwah atau amar ma'ruf nahyi munkar mengajak seseorang kepada jalan yang benar dan mencegah perbuatan yang salah merupakan suatu ciri khas dan kebiasaan bagi umat Muslim (Maharani, 2022). Setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, perlu berdakwah sebagai kebiasaan baik untuk saling mengingatkan antara satu dengan lainnya, hingga mampu menciptakan ketenteraman dan kedamaian antara sesama umat. Bahkan sebagian ulama seperti Sayyid Qutub (Abdurrahman, 2015) menyatakan bahwa berdakwah merupakan Fardu 'ain atau kewajiban bagi seluruh umat Muslim.
Retorika dan dakwah adalah dua hal yang saling terkait dalam konteks penyampaian pesan agama. Retorika merupakan seni atau keterampilan berbicara atau menulis dengan efektif dan persuasif. Penggunaan bahasa yang berdaya guna dan pengetahuan tentang cara-cara mempengaruhi dan membujuk orang lain dalam percakapan atau diskusi sangat penting dalam retorika. Sementara itu, dakwah adalah upaya untuk menyebarkan ajaran agama atau keyakinan tertentu. Dakwah bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh pemimpin agama, para penulis, atau orang-orang biasa yang ingin menyebarkan pesan kebaikan. Dakwah memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran agama sehingga dapat memengaruhi dan membawa perubahan bagi masyarakat.
Pentingnya retorika dalam dakwah sangat besar. Dengan menggunakan teknik-teknik retorika yang tepat, seorang penceramah atau pengkhotbah dapat menghadirkan pesan dakwah dengan cara yang lebih meyakinkan, sehingga pesan tersebut lebih mudah diterima oleh pendengar atau pembaca. Retorika dapat membantu meningkatkan kekuatan pengaruh dan daya tarik dakwah sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh pihak yang melakukan dakwah.
Contoh nyata tentang bagaimana retorika dapat membantu dalam dakwah adalah sosok KH Enjang Muhyidin Abdul Jabar atau Mama Cianting. Mama Cianting merupakan seorang da'i yang terkenal di Indonesia karena pandai dalam menggunakan teknik retorika dalam penyampaian dakwahnya. Pesan-pesannya disampaikan dengan cara yang meyakinkan dan persuasif sehingga banyak orang yang mempercayai dan mengikuti ajaran agama yang disampaikan.
K.H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar merupakan seorang dai yang terkenal dengan gaya dakwahnya yang menarik dan efektif dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Mama Cianting memiliki ciri khas tersendiri dalam berdakwah dan melakukan kajian Islam. Penggunaan intonasi, mimik serta gerak tubuh menjadi salah satu andalan Mama Cianting dalam berdakwah. Mama Cianting juga terbiasa melakukan kajian Islam dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat setempat, penggunaan bahasa yang sesuai dengan lingkungan ini bertujuan agar apa yang disampaikan bisa lebih mudah dipahami dan dicerna oleh mad'u atau jamaah.
Kajian-kajian yang dibahas oleh Mama Cianting di Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob merupakan ilmu-ilmu Islam fardhu yang wajib disampaikan terlebih dahulu, seperti bab fikih mengenai permasalahan wudu, Shalat, bersuci, zakat, bab tauhid, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan kecintaan Mama Cianting terhadap agama Islam dan kesungguhannya dalam menyebarkan ajaran agama kepada masyarakat. Selain itu, banyaknya jamaah yang menghadiri acara ceramah Mama Cianting di Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob menunjukkan keahliannya dalam menyampaikan retorika dakwah yang menarik dan berbeda. Kemampuannya dalam menghubungkan pesan-pesan agama dengan kehidupan sehari-hari dengan cara yang mudah dipahami dan relevan bagi banyak orang, telah berhasil menarik minat banyak orang untuk mempelajari agama dan menjalankan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun telah dikenal oleh banyak jamaahnya, gaya dakwah Mama Cianting belum pernah diteliti secara lebih mendalam, terutama dalam hal penggunaan teknik retorika dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Oleh karena itu, perlu untuk dilakukan kajian lebih lanjut untuk memahami gaya penyampaian retorika dakwah Mama Cianting, terutama saat melaksanakan kajian Islam mingguan di Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob Desa Cianting, Kecamatan Sukatani, Purwakarta. Dalam kajian ini, akan dibahas tentang "Retorika Dakwah Mama Cianting (Studi Terhadap Gaya Dakwah K. H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar di Majelis Taklim Sanrighos Al-Aqthob Cianting)".
Kajian ini akan berfokus pada teknik retorika Mama Cianting dalam menyampaikan pesan dakwahnya dan bagaimana teknik-teknik tersebut memengaruhi jamaahnya. Selain itu, kajian ini juga akan melakukan analisis terhadap efektivitas gaya dakwah Mama Cianting dalam mempengaruhi jamaahnya dan apakah teknik-teknik retorika yang digunakan dapat diadopsi atau dimodifikasi untuk meningkatkan efektivitas dakwah para dai lainnya. Diharapkan kajian ini dapat memberikan wawasan baru tentang teknik retorika dalam dakwah dan memberikan manfaat bagi para dai dan jamaah dalam menyampaikan pesan dakwah secara lebih efektif.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggabungkan metode observasi partisipan dan wawancara pada subjek penelitian Mama Cianting, seorang pendakwah yang tinggal di Desa Cianting, Sukatani, Purwakarta. Pengumpulan data dilakukan selama 120 hari melalui observasi partisipan dan wawancara dengan Mama Cianting. Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas instrumen, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teori 5 kanon retorika Aristoteles. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengungkap gaya dakwah Mama Cianting dari perspektif retorika Aristoteles.
Analisis data adalah proses mengorganisir dan mengelompokkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan dasar untuk menemukan tema dan membuat hipotesis berdasarkan data (Mahsun, 2017). Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman yang menekankan analisis kualitatif yang dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan. Tahap-tahap analisis data yang dilakukan meliputi reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Pada tahap reduksi data, data yang diperoleh dipilih dan dipilah sesuai dengan fokus penelitian. Selanjutnya, pada tahap penyajian data, data yang telah diklasifikasikan dibentuk menjadi pola keterkaitan antara data-data yang disajikan. Tahap terakhir, yaitu pengambilan kesimpulan dan verifikasi, dilakukan dengan mengkonfirmasi data dan teori yang ada untuk mengambil kesimpulan yang lebih tepat. Tahap-tahap analisis data tersebut penting untuk memudahkan peneliti dalam memahami data yang telah dikumpulkan dan mengambil kesimpulan yang lebih tepat (Prakoso, 2021).
Kajian Teori
Retorika Kanon Aristoteles
Retorika merupakan seni persuasi untuk mempengaruhi pendengar atau audiens. Kontribusi besar dalam pengembangan retorika berasal dari Aristoteles dan para ahli retorika klasik seperti Socrates dan Plato. Lima tahap penyusunan pidato dikenal sebagai Lima Hukum Retorika, yaitu Inventio (penemuan), Dispositio (penyusunan isi pidato), Elocutio (penyusunan bahasa pidato), Memoria (hafalan pidato), dan Pronuntiatio (pengucapan pidato) (Rakhmat, 2004). Retorika bukan hanya menekankan pada teknik berbicara yang baik, tetapi juga pada isi atau materi yang disampaikan dalam pidato. Untuk mempengaruhi audiens atau inventio, Aristoteles menyebutkan tiga cara, yaitu ethos (kepercayaan), pathos (emosi), dan logos (logika). Dalam tahap dispositio, selain menyusun pidato dengan baik dan terorganisir, penting untuk mempertimbangkan penggunaan struktur yang tepat. Tahap elocutio meliputi pemilihan kata-kata yang tepat dan gaya penyampaian pesan yang baik. Beberapa teknik gaya penyampaian yang sering digunakan antara lain gaya persuasif, informatif, naratif, dan deskriptif. Terakhir, tahap pronuntiatio merupakan pengucapan pidato dengan baik dan jelas sehingga dapat mudah dipahami oleh audiens.
Dakwah
Dakwah merupakan salah satu bentuk kegiatan yang sangat penting dalam agama, terutama dalam Islam (Sukayat, 2019). Tujuan utama dari dakwah adalah untuk memperkenalkan ajaran agama kepada orang lain dan mengajak mereka untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dakwah juga bertujuan untuk memperbaiki perilaku dan moralitas seseorang serta membimbing mereka menuju jalan yang benar. Oleh karena itu, dakwah bukan hanya sebatas menyampaikan ajaran agama secara verbal, namun juga melalui tindakan dan contoh nyata yang ditunjukkan oleh para dai atau pemberi dakwah (Pirol, 2017). Hal ini bertujuan untuk memperkuat pesan yang disampaikan dan memberikan pengaruh positif pada masyarakat sekitar. Karena itu, dakwah menjadi sebuah kewajiban bagi setiap orang yang menghendaki kebaikan untuk diri sendiri dan masyarakat sekitarnya, tidak terbatas pada agama tertentu (Fauzi dkk, 2020).
Arti dakwah menurut bahasa, berasal dari akar kata: دَعَا – يَدْعُوْ - دَعْوَةً (da'ā, yad'ū, da'watan) yang mempunyai arti memanggil, mengundang, mengajak kepada sesuatu, mengubah dengan perkataan, tindakan, dan amal (Sukayat, 2019). Dalam hal ini, dakwah dapat diartikan sebagai upaya untuk mengajak seseorang pada kebaikan dengan cara-cara yang tepat dan halus. Konsep dakwah ini terdapat dalam Al-Qur'an yang menggunakan kata-kata dakwah yang masih bersifat umum dan mengajak pada kebaikan. Namun, dakwah juga memiliki arti khusus dalam Islam, yaitu penyampaian ajaran Islam kepada manusia, baik secara lisan, tulisan, maupun pengajaran, serta penjabaran, penerjemahan, dan pelaksanaan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya sektor politik, pendidikan, ekonomi, sosial. Oleh karena itu, dakwah dapat diartikan sebagai suatu panggilan atau ajakan kepada manusia untuk mengikuti dan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, serta memperbaiki diri dengan amal yang baik, seperti firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Yunus (10) ayat 25:
وَاللّٰهُ يَدْعُوْآ اِلٰى دَارِ السَّلٰمِ ۚوَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Terjemahan Kemenag 2019 — Artinya: Allah menyeru (manusia) ke Dārussalām (surga) dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). (Q.S Yunus:25)
Dengan demikian, secara bahasa, dakwah memiliki makna yang bersifat umum yaitu identik dengan komunikasi (Pirol, 2017).
Hubungan Retorika dengan Dakwah
Retorika dan dakwah memiliki keterkaitan yang erat dalam konteks pengajian agama. Retorika merupakan ketrampilan dalam menggunakan bahasa secara efektif untuk mempengaruhi, mengubah sikap atau keyakinan seseorang, sedangkan dakwah adalah upaya untuk mengajak orang lain memahami dan memeluk agama Islam.
Dalam melakukan dakwah, seorang pendakwah perlu memiliki kemampuan retorika yang baik untuk menyampaikan pesan agama dengan cara yang jelas, persuasif, dan menarik bagi pendengarnya.
Keterampilan retorika yang baik akan membuat pesan dakwah lebih mudah dipahami dan diterima oleh audiens. Seorang pendakwah perlu memahami teknik-teknik retorika seperti cara berbicara yang tepat, mengatur intonasi dan volume suara, serta memilih kata-kata yang tepat agar pesan yang disampaikan mudah dipahami dan memiliki efek yang kuat bagi pendengarnya. Hal ini akan membuat dakwah yang disampaikan lebih efektif dan dapat memengaruhi pendengarnya untuk memahami ajaran Islam dengan lebih baik (Maharani, 2022).
Dalam hal ini, retorika menjadi penting dalam dakwah karena pesan dakwah yang disampaikan oleh seorang pendakwah dapat mempengaruhi dan mengubah sikap serta keyakinan seseorang. Seorang pendakwah yang memiliki kemampuan retorika yang baik akan mampu menyampaikan pesan agama dengan cara yang menarik dan dapat membangkitkan semangat para pendengarnya untuk memahami ajaran Islam lebih dalam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, retorika dapat membantu meningkatkan efektivitas dakwah dan membantu para pendakwah dalam mengajak orang lain memahami dan memeluk agama Islam.
Pembahasan
Da'i merupakan subjek dalam aktivitas dakwah. Oleh karena itu, seorang da'i perlu memahami dan menguasai ilmu retorika, karena retorika merupakan kunci keberhasilan dalam berdakwah. Retorika selalu digunakan dalam setiap dakwah lisan, sehingga penting bagi seorang da'i untuk menguasai seni retorika.
K. H. Enjang Muhyidin Abdul Jabar menyatakan bahwa dalam berdakwah terdapat faktor penting yang harus diperhatikan, yaitu ikhlas dan sabar. Ikhlas dalam berdakwah berarti menyampaikan pesan dakwah hanya untuk mendapatkan Ridha Allah SWT, bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan materi. Sedangkan sabar dalam berdakwah berarti tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi segala rintangan dan tantangan yang mungkin timbul saat menyampaikan dakwah.
Seperti pernyataan Mama Cianting saat diwawancara:
"Sebelum dakwah kepada orang lain diri sendiri dulu didakwahin, gusti abdi jalmi penuh dosa, abdi jalmi seer dosa, abdi jalmi awon, abdi jalmi teh leres, abdi bade nyebarkeun elmu piwarang Allah SWT piwarang Rasulullah SAW nyuhunkeun ikhlas nyuhunkeun rido gusti nyuhnkeun ikhlas ti gusti. Jadi menganggap orang lain itu dia atas saya, saya di bawah mereka. Ceramah di depan preman, di depan bajingan-bajingan, di depan berandalan, tetap mereka itu lebih baik daripada saya, saya lebih jelek daripada dia, kitu. Dan sebelum dakwah minta petunjuk dari Allah, minta rido dari Allah, minta ikhlas dari Allah, minta keridhoan Allah."
Terjemah: "Sebelum dakwah kepada orang lain diri sendiri dulu didakwahi. 'Ya Allah saya manusia penuh dosa, saya manusia banyak dosa, saya manusia tidak baik, saya manusia tidak benar, saya akan menyebarkan Ilmu perintah Allah SWT, perintah Rasulullah SAW. Saya minta ikhlas, minta Rido-Mu, minta ikhlas dari-Mu'. Jadi menganggap orang lain itu dia atas saya, saya di bawah mereka. Ceramah di depan preman, di depan bajingan-bajingan, di depan orang tidak baik, tetap mereka itu lebih baik daripada saya, saya lebih jelek daripada dia, begitu. Dan sebelum dakwah minta petunjuk dari Allah, minta Rido dari Allah, minta ikhlas dari Allah, minta keridhoan Allah." (Sumber: Wawancara dengan Mama Cianting, 4 April 2023)
Hal ini sangat penting, karena dakwah bukan hanya sekedar berbicara atau memberikan ceramah dengan teknik atau strategi yang baik. Namun, dakwah harus dilandasi oleh kesungguhan hati yang tulus dan keikhlasan yang mendalam untuk menyebarkan ajaran agama dengan tujuan untuk mengajak orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dalam menerapkan retorika dakwah, Mama Cianting melakukan dua persiapan penting: persiapan sebelum berdakwah dan persiapan materi dakwah. Persiapan sebelum dakwah meliputi persiapan mental dan fisik, yaitu persiapan untuk meyakinkan diri bahwa berdakwah merupakan suatu keharusan dan berdakwah haruslah ikhlas karena Allah. Sementara persiapan materi dakwah Mama Cianting menerapkan persiapan-persiapan yang bisa diambil pada teori umum kanon retorika, yaitu: inventio, despositio, elucutio, memoria, dan pronuntiatio.
Mama Cianting menerapkan dua hal dalam dakwahnya, yaitu persiapan sebelum berdakwah dan materi yang disampaikan dalam dakwah. Gaya dakwah Mama Cianting dapat dianalisis melalui perspektif retorika Aristoteles. Teori 5 kanon retorika Aristoteles, yaitu inventio (penemuan), dispotio (susunan), elucatio (gayanya), memoria (ingatan), dan pronountitio (penyampaian), dapat diterapkan dalam analisis gaya dakwah Mama Cianting.
Inventio
Untuk Inventio atau penentuan topik dan bahan, Mama Cianting mampu menemukan topik dakwah yang sesuai dengan kebutuhan jamaah. Dalam pengumpulan bahan, Mama Cianting mengumpulkan materi dari berbagai sumber, termasuk Kitab Tarqib wa Tarkib dan Hilyatul Banat wal Banin wal Jannatul Dunya wa Dinn. Selain itu, ia juga memperhatikan gejala-gejala yang sedang dihadapi oleh jamaah saat ini melalui berbagai media yang relevan seperti majalah, surat kabar, dan media sosial. Hal ini bertujuan agar topik yang dipilih dapat menjadi materi pembahasan yang relevan dan sesuai kebutuhan jamaah dalam dakwah.
Selain itu, Mama Cianting juga menerapkan konsep ethos, pathos, dan logos dalam berdakwah. Konsep ini merupakan prinsip dasar dari persuasi yang dibangun oleh Aristoteles, di mana pembicara harus memiliki kemampuan meyakinkan audiens melalui tiga elemen tersebut.
Pertama, konsep ethos mengacu pada karakter dan integritas pembicara. Pembicara harus memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat untuk bisa membangun kepercayaan dan kredibilitas dalam diri audiens. Mama Cianting menyadari pentingnya konsep ini, kesadaran mengenai konsep ethos ini beliau tunjukkan melalui cara beliau menampilkan dirinya di hadapan jamaah, seperti memakai jubah, tongkat, memakai siwak, dan sorban.
Kedua, konsep pathos mengacu pada emosi dan perasaan audiens. Pembicara harus dapat menyentuh hati audiens melalui perasaan, emosi, harapan, kebencian, dan kasih sayang mereka, atau disebut juga sebagai imbauan emosional. Mama Cianting sering menggunakan kiasan, analogi, atau cerita yang menggugah emosi dan perasaan jemaah, sehingga mereka lebih mudah terhubung dengan pesan yang disampaikan oleh Mama Cianting.
Contohnya ketika menjelaskan bab Shalat, beliau menganalogikan bahwa tiang agama itu seperti tiang bangunan yang tiangnya ada 3:
"Imah teh tihangna tilu, rugrugkeun hiji nyangeyeng, rugrugkeun dua mah ngagubrak, komo mun tiluan nana. Tah tihang agama ge sholat, diantawis tihang agama ge tilu hiji iman dua islam tilu ikhsan. Tah euweuh hiji nyangeyeng, euweuh dua ngagebru, komo tah ieu mah agama tihangna teh sholat. Tah berarti ieu si sholat teh tihang agama, sholatna teh euweuh nggeus agama nage roboh."
Terjemah: "Rumah itu tiangnya lima, robohkan satu berderit, robohkan dua ya roboh, nah tiangnya agama itu Shalat, dari 3 tiang agama yang 3, satu iman, dua, Islam, tiga Ikhsan. Nah hilang satu berderit, hilang dua roboh, apalagi ini agama yang tiangnya Shalat, nah berarti ini Shalat itu tiangnya agama, Shalat-nya hilang ya sudah agama juga roboh." (Sumber: Observasi dakwah Mama Cianting, 9 Januari 2023)
Ketiga, konsep logos mengacu pada bukti-bukti atau argumentasi yang logis dan rasional. Pembicara harus meyakinkan audiens dengan mengajukan bukti atau secara logis memperlihatkan bukti untuk mendekati audiens melalui otaknya. Mama Cianting selalu mempersiapkan diri dengan matang dalam hal materi dakwah dan argumentasi yang logis, sehingga ia bisa meyakinkan jemaah dengan pesan yang disampaikannya.
Contohnya saat Mama Cianting menjelaskan tentang kewajiban sholat, maka untuk memperkuat materi dan argumentasi Mama Cianting menyertakan hadits dalam pembahasannya.
"Wa qola" bersabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam, "Assholatu" atau Shalat "Iku Immaduddin" adalah tiang agama. "Paman tarokaha faqod hadamaddin", jadi siapa saja "Iku tarokaha" meninggalkan manusia dalam Shalat "Faqod hadama" maka sudah merobohkan "Man" "Addina" dalam Agama. Nah ini pemahaman yang perlu diperjelas, pemahaman dan pengertian, karena artinya sudah pada tahu, bahkan ada yang hafal, bahwa Shalat itu tiang Agama, iya karena sudah tahu semua juga, tapi pemahaman kalau tiang seperti apa, karena tiang itu kalau berderit takut, apalagi jika tidak ada, lalu tiangnya dirobohkan, ya roboh apa yang di topangnya. (Sumber: Observasi dakwah Mama Cianting, 9 Januari 2023)
| No | Tahap | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|---|
| 1 | Logos | Persiapan diri dengan matang dalam hal materi dakwah dan argumentasi yang logis, sehingga ia bisa meyakinkan jemaah dengan pesan yang disampaikannya. | "Wa qola" bersabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam, "Assholatu" atau Shalat "Iku Immaduddin" adalah tiang agama... |
| 2 | Pathos | Penggunaan kiasan, analogi, atau cerita yang menggugah emosi dan perasaan Jemaah. | "Rumah itu tiangnya lima, robohkan satu berderit, robohkan dua ya roboh, nah tiangnya agama itu Shalat, dari 3 tiang agama yang 3, satu iman, dua, Islam, tiga Ikhsan..." |
| 3 | Ethos | Kredibilitas Mama Cianting sebagai seorang pendakwah yang dihormati. | Mama Cianting menampilkan dirinya di hadapan jamaah, seperti memakai jubah, tongkat, memakai siwak, dan sorban. |
Dispotio
Dispositio atau menyusun materi adalah langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Mama Cianting. Ia memiliki skema Dakwah yang terdiri dari empat bagian utama, yaitu pendahuluan, pengantar, isi, dan penutup. Dengan menggunakan skema tersebut, Mama Cianting dapat menyusun dan menyampaikan materi dakwah secara terstruktur dan efektif.
Pendahuluan yaitu bagian dari sebuah pesan atau ceramah dakwah yang bertujuan untuk memperkenalkan topik yang akan dibahas dan menarik perhatian pendengar. Pendahuluan dalam dakwah memiliki peran penting untuk membuka jalan komunikasi antara pendakwah (pembicara) dengan audiens (pendengar).
Dalam pendahuluan Mama Cianting membuka ceramahnya dengan mengajak berdoa bersama:
"Ba'da salam Alhamdulillah wasyukrulillah kersaning Allah SWT dina waktos ieu urang sadayana tiasa kempel ngariung dina acara tolab elmu. Alhamdulillah wasyukrulillah urang sadayana dipasihan sehat wal afiat, dipasihan taufik sareng hidayah, dipasihan ceger bari bager, sarta aya pitulung Allah SWT..."
Terjemah: "Ba'da salam Alhamdulillah wasyukrulillah ridha Allah SWT di saat kita semua berkumpul dalam menuntut ilmu. Alhamdulillah, wasyukrulillah, kita semua sehat dan bahagia, diberi hidayah, diberi kesehatan, diberi keberkahan oleh Allah SWT... Bibarakati ummul quran al-fatihah." (Sumber: Observasi dakwah Mama Cianting, 9 Januari 2023)
Pendahuluan yang disampaikan oleh Mama Cianting pada dakwahnya diawali dengan pujian dan shalawat kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan kecintaan dan penghormatan Mama Cianting terhadap agama Islam dan Rasulullah sebagai utusan Allah SWT.
Setelah itu, Mama Cianting juga menyampaikan ucapan syukur dan doa untuk kesehatan, taufik, hidayah, serta perlindungan dari Allah SWT kepada hadirin dan hadirat yang hadir dalam acara tolab elmu. Ia juga mengajak untuk saling mendoakan antar sesama muslim, baik itu keluarga, kerabat, maupun orang lain yang ada dalam lingkungan sekitar.
Selanjutnya, Mama Cianting juga mengucapkan terima kasih dan memohon berkah kepada aparat pemerintahan, baik itu presiden, gubernur, bupati, camat, lurah, RT, RW, hansip, polisi, maupun tentara, yang telah berjasa dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia. Hal ini menunjukkan kesadaran Mama Cianting dalam memperhatikan kondisi dan situasi lingkungan sekitar serta mengajak untuk bersama-sama menjaga keutuhan dan kedamaian di negara Indonesia.
Dalam pengantar, Mama Cianting memperkenalkan kitab atau materi yang akan dibahas sehingga jamaah memiliki pemahaman awal tentang apa yang akan disampaikan. Hal ini bertujuan untuk menarik minat dan perhatian jamaah agar mereka dapat mengikuti dengan lebih baik.
Selanjutnya, bagian isi merupakan inti dari dakwah Mama Cianting. Pada bagian ini, Mama Cianting menyampaikan pesan-pesan utama, penjelasan, dan argumen yang relevan dengan topik yang telah diperkenalkan sebelumnya. Mama Cianting menggunakan contoh-contoh, ayat-ayat Al-Quran, hadis, atau kisah-kisah inspiratif untuk memperkuat dan menggambarkan pesannya secara lebih jelas. Isi dakwah tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada jamaah dan menginspirasi mereka untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan ajaran agama.
Terakhir, dalam bagian penutup, Mama Cianting mengakhiri dakwah atau ceramahnya dengan doa. Doa penutup memiliki tujuan untuk memohon kepada Allah SWT agar memberikan petunjuk dan berkah kepada jamaah serta memperkuat pengaruh pesan-pesan dakwah yang telah disampaikan. Doa penutup juga mencerminkan rasa syukur dan harapan bahwa dakwah tersebut dapat memberikan manfaat yang baik bagi jamaah.
| No | Tahap | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|---|
| 1 | Pembukaan | Mama Cianting membuka ceramahnya dengan mengajak berdoa bersama. | "...pertama kita berdoa untuk orang lain, berdoa kepada Allah SWT, terlebih dahulu kita berdoa kepada kerabat kita, tetangga kita, kerabat kita. Kerabat kita semua yang kurang sehat, mudah-mudahan berada dalam rahmat pertolongan Allah SWT." |
| 2 | Pengantar | Mama Cianting memperkenalkan kitab atau materi yang akan dibahas sehingga jamaah memiliki pemahaman awal tentang apa yang akan disampaikan. | Mengenalkan isi kitab atau Hadits yang akan dibahas. |
| 3 | Isi | Mama Cianting menyampaikan pesan-pesan utama, penjelasan, dan argumen yang relevan dengan topik yang telah diperkenalkan sebelumnya. Mama Cianting menggunakan contoh-contoh, ayat-ayat Al-Quran, hadis, atau kisah-kisah inspiratif untuk memperkuat dan menggambarkan pesannya secara lebih jelas. | Menjelaskan tentang bab Sholat dengan disertai contoh sehari-hari. |
| 4 | Penutup | Mama Cianting mengakhiri dakwah atau ceramahnya dengan doa. | اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُورِ اْلاَنْوَارِ وَسِرَّ اْلاَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ اْلاَغْيَارِ وَمِفْتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَاِنَا مُحَمَّدِ نِالْمُخْتَارِ وَاٰلِهِ اْلاَطْهَارِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَاِفضَالِهِ |
Elucatio
Dalam hal Elucutio atau pemilihan gaya bahasa, Mama Cianting memadukan beberapa gaya, seperti gaya persuasif, informatif, naratif, dan deskriptif. Ia menggunakan konsep Ethos, Pathos, dan Logos dalam berdakwah, dengan membangun kredibilitas dirinya sebagai pembicara, menyentuh emosi audiens, dan menyajikan argumen logis dan rasional. Mama Cianting juga memilih kata-kata yang tepat dan menarik seperti lalandihan, istilah, juga menggunakan bahasa majas seperti aliterasi, asindeton, eufemismus, dan pleonasme untuk memperkaya bahasa yang disampaikan.
Aliterasi, yaitu gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi konsonan yang sama. Gaya bahasa ini umumnya digunakan dalam puisi, terkadang juga dalam prosa, untuk memberikan hiasan atau menekankan sebuah kalimat. Contoh penggunaan gaya bahasa ini dapat dilihat pada data berikut:
"Ieu jelema bageur, dermawan, berehan, sok talang tulung, sok ngabantu, tapi teu solat parah moal diganjar. Nauzubillah... moal diganjar, pan disebutkeun di dieu 'qullu amalin ya maluhu la yu ajrullah amalihi' halaman genep belas."
Terjemah: "Ini orang baik, dermawan, dermawan, selalu membantu, selalu membantu, tetapi tidak Shalat dengan sungguh-sungguh tidak akan dibalas. Kan disebutkan di sini 'qullu amalin ya maluhu la yu ajrullah amalihi' halaman enam belas." (Sumber: Observasi dakwah Mama Cianting, 9 Januari 2023)
Dalam data tersebut terdapat perulangan bunyi konsonan "ng" pada kata "talang-tulung". Tujuan dari penggunaan aliterasi dalam kalimat tersebut adalah untuk memberikan penekanan bahwa meskipun seseorang baik, dermawan, dan suka menolong orang lain, namun jika meninggalkan Shalat maka perbuatan tersebut tidak akan mendapatkan pahala dari Allah.
Gaya bahasa asindeton adalah gaya bahasa yang bersifat padat dan mampat, terdiri dari beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tanpa dihubungkan oleh kata sambung. Bentuk-bentuk tersebut biasanya hanya dipisahkan dengan koma, seperti dalam ucapan terkenal dari Julius Caesar: Vini, vidi, vici, yang artinya "saya datang, saya lihat, saya menang". Contoh penggunaan gaya bahasa asindeton terdapat pada kalimat "tah enggal qodoan, enggal dibayar" (nah cepat di qodo, cepat dibayar). Artinya adalah jika Shalat yang tertinggal di masa lalu tidak segera dibayar atau di qodo, maka tidak akan ada kepastian untuk mendapatkan surga. Contoh lain penggunaan gaya bahasa asindeton adalah kalimat "Miftahul Jannah, Shalat, kunci ke surga", yang berarti bahwa Shalat adalah kunci menuju surga.
Eufemisme atau eufemismus berasal dari bahasa Yunani euphemizein yang berarti "menggunakan kata-kata dengan arti atau tujuan yang baik". Gaya bahasa ini digunakan untuk menghindari penggunaan kata-kata yang mungkin menyakitkan atau tidak menyenangkan. Salah satu contohnya terlihat pada kalimat berikut: "Oge berkah ngadoakeun batur urang sadayana sing dihampura ku Allah, sing kenging pitulung Allah SWT" (Juga berkah mendoakan orang lain, kita semua semoga di ampuni oleh Allah, semoga mendapat pertolongan Allah SWT).
Dalam hal ini, gaya bahasa eufemisme digunakan untuk menggantikan kata "diampuni dosa" dengan kata "dihampura" dan kata "pertolongan" dengan kata "pitulung", sehingga tidak menyinggung perasaan orang atau dianggap menghina. Makna yang ingin disampaikan adalah doa untuk kebaikan orang lain dan harapan agar mendapat pertolongan dan pengampunan dari Allah SWT.
Pleonasme adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata lebih banyak dari yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Sebuah kalimat dikatakan mengandung pleonasme jika kata-kata yang berlebihan dapat dihilangkan tanpa mengubah makna keseluruhan kalimat. Contoh dari pleonasme adalah: "Bapa Gubernur-gubernur sa Indonesia, para Bupati sa Indonesia, Camat-Camatna sa Indonesia" (Bapa Gubernur-gubernur se-Indonesia, para Bupati se-Indonesia, Camat-camat se-Indonesia). Pada kalimat di atas, terdapat pleonasme karena penggunaan kata "gubernur-gubernur" dianggap berlebihan dan tidak perlu. Kalimat tersebut masih dapat diartikan dengan jelas dengan menggunakan kata "gubernur" saja. Untuk memperbaiki kalimat tersebut, dapat diubah menjadi: "Bapa Gubernur sa Indonesia, para Bupati sa Indonesia, Camat-Camatna sa Indonesia." Dengan menghilangkan kata "gubernur-gubernur" yang berlebihan, makna kalimat tetap jelas disampaikan. Selain itu, Mama Cianting juga menggunakan intonasi yang sesuai dan tegas dalam penyampaian dakwahnya.
| No | Tahap | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|---|
| 1 | Aliterasi | Gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi konsonan yang sama. | Perulangan bunyi konsonan "ng" pada kata "talang-tulung". |
| 2 | Asindeton | Gaya bahasa yang bersifat padat dan mampat, terdiri dari beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tanpa dihubungkan oleh kata sambung. | Kalimat "tah enggal qodoan, enggal dibayar" (nah cepat di qodo, cepat dibayar). |
| 3 | Eufemisme | Digunakan untuk menghindari penggunaan kata-kata yang mungkin menyakitkan atau tidak menyenangkan. | "Oge berkah ngadoakeun batur urang sadayana sing dihampura ku Allah, sing kenging pitulung Allah SWT" (Juga berkah mendoakan orang lain, kita semua semoga di ampuni oleh Allah, semoga mendapat pertolongan Allah SWT). |
| 4 | Pleonasme | Gaya bahasa yang menggunakan kata-kata lebih banyak dari yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. | "Bapa Gubernur-gubernur sa Indonesia, para Bupati sa Indonesia, Camat-Camatna sa Indonesia" (Bapa Gubernur-gubernur se-Indonesia, para Bupati se-Indonesia, Camat-camat se-Indonesia). |
Memoria
Untuk memori atau mengingat materi, Mama Cianting mempersiapkan materi dakwahnya dengan sangat baik dan menggunakan teknik memori yang tepat seperti membaca berulang-ulang teks atau kitab yang akan dibahas dan menggunakan teknik jembatan keledai untuk membantu mengingat materi dan menyampaikan pesan dengan cara yang jelas dan mudah dipahami oleh jemaahnya. Sebagai contoh penggunaan teknik jembatan keledai dalam mengingat materi dakwah, Mama Cianting sering menggunakan analogi atau kiasan yang mudah dipahami oleh jemaahnya. Misalnya, dalam menyampaikan materi tentang pentingnya menjaga Shalat, Mama Cianting menggunakan kiasan "Shalat seperti tiang rumah dalam agama". Jika tiangnya tidak ada, maka runtuhlah rumahnya, begitu juga apabila Shalatnya tidak ada, maka runtuhlah agamanya. Analogi ini mudah dipahami oleh jemaahnya dan membantu mereka mengingat pesan yang disampaikan oleh Mama Cianting. Selain itu, Mama Cianting juga sering membaca teks atau kitab yang akan dibahas berulang kali untuk memastikan bahwa dia benar-benar mengingat materi tersebut. Dengan cara ini, Mama Cianting dapat menghindari sifat ragu, kaku, dan kehilangan konsentrasi saat berdakwah.
Pronountitio
Terakhir, pada pronuntiatio atau penyajian pidato, Mama Cianting selalu menyesuaikan metode dakwahnya dengan situasi dan kondisi yang ada untuk mencapai efektivitas yang maksimal. Mama Cianting juga menggunakan intonasi yang tegas saat menyampaikan dakwah, namun pada pembahasan tertentu, ia juga menggunakan intonasi yang lebih lembut untuk memperjelas pesan yang ingin disampaikan, serta selalu menyertakan dasar atas setiap argumen yang dikeluarkan. Selain itu, Mama Cianting selalu tampil dengan pakaian rapi dan mengenakan pakaian serba putih, yang telah menjadi kebiasaannya sejak belajar di pondok pesantren. Pakaian serba putih dipilih sebagai pakaian resmi Mama Cianting selama dan setelah memberikan ceramah. Mama Cianting juga memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk membantu dan mempermudah aktivitas dakwah di majelis taklim serta membangun hubungan sosial yang baik dengan masyarakat dan jamaah. Hal ini membuat jamaah terkesan dengan cara Mama Cianting menyampaikan pesan dakwahnya secara langsung dan tidak langsung dengan jelas dan mudah dipahami.
Melalui penggunaan 5 kanon retorika Aristoteles, Mama Cianting dapat menarik perhatian audiens dan menyampaikan pesan dakwah dengan efektif. Meskipun Mama Cianting menggunakan gaya dakwah yang sesuai dengan budaya lokal, namun dapat disimpulkan bahwa retorika Aristoteles masih relevan dalam analisis dakwah modern.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mama Cianting memiliki gaya dakwah yang sangat kuat dan efektif dalam mencapai tujuannya. Gaya dakwah yang dimiliki Mama Cianting dapat dianalisis dengan menggunakan teori 5 kanon retorika Aristoteles. Dalam hal ini, Mama Cianting menggunakan kekuatan persuasi dan logika dalam setiap dakwah yang disampaikannya.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan antara retorika dan dakwah sangat erat. Retorika dapat membantu dakwah menjadi lebih efektif dan persuasif, sehingga pesan dakwah dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengar. Oleh karena itu, para pendakwah perlu mempelajari teori retorika dan menerapkannya dalam praktik dakwah mereka.
| No | Tahap | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|---|
| 1 | Inventio | Memilih topik dakwah yang relevan dengan situasi pendengar. | Dakwah dan komunikasi. |
| 2 | Dispotio | Menyusun isi dakwah secara logis dan sistematis. | Membagi isi ceramah menjadi 4 yaitu pembukaan, pengantar, isi, dan penutup. |
| 3 | Elucatio | Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pendengar. | Menggunakan kata-kata sederhana, jelas, dan berbahasa Sunda. |
| 4 | Memoria | Menggunakan teknik pengulangan agar pesan dapat diingat. | Mengulang-ulang poin penting dari ceramah. |
| 5 | Pronountitio | Menyampaikan dakwah dengan gaya yang menarik dan menggerakkan. | Menggunakan intonasi lembut dan tegas tergantung pada situasi dan kondisi, menggunakan pakaian serba putih serta memanfaatkan penggunaan teknologi dalam membantu aktivitas dakwahnya. |
Secara keseluruhan, retorika memainkan peran yang sangat penting dalam kegiatan berdakwah. Umumnya setiap dai mempunyai gaya berbeda antara satu dengan lainnya, termasuk dalam gaya retorika dakwah Mama Cianting. Namun, dengan melakukan pengamatan dan penelitian terhadap retorika Mama Cianting menggunakan teori kanon retorika, maka kesuksesan Mama Cianting dalam berdakwah bisa dijadikan acuan dan ditiru oleh orang lain untuk menerapkan retorika pada dakwah di masyarakat.
Simpulan
Kegiatan berdakwah dapat lebih efektif dan berdampak positif jika menggunakan teknik retorika yang tepat. Mama Cianting sebagai contoh, memberikan bukti bahwa teknik retorika dapat membantu meningkatkan kualitas dakwah dan membantu penceramah dalam menyampaikan pesan dakwah dengan lebih baik.
Rekomendasi yang dapat diambil dari hasil kesimpulan ini, terutama bagi pembaca, adalah sebagai berikut:
- Para dai dan pendakwah perlu memperhatikan teknik retorika dalam kegiatan dakwah mereka. Untuk melakukannya, mereka dapat mempelajari teori-teori retorika yang relevan, seperti 5 kanon retorika.
- Para dai dan pendakwah juga perlu mempunyai contoh atau dai yang berhasil dalam menyampaikan dakwahnya, kemudian bisa ditiru bagaimana penerapan retorika yang dilakukan oleh dai tersebut, contohnya retorika dalam dakwah Mama Cianting.
- Selain itu, para dai dan pendakwah juga perlu memperhatikan persiapan sebelum berdakwah, termasuk persiapan mental dan fisik untuk memastikan bahwa mereka dapat menyampaikan pesan dakwah dengan ikhlas dan efektif.
- Dalam hal penyampaian dakwah, para dai dan pendakwah dapat memadukan berbagai gaya bahasa dan teknik retorika, seperti penggunaan bahasa majas, intonasi yang tepat, dan teknik memori yang tepat. Selain itu, para dai dan pendakwah juga perlu memperkaya kosa kata mereka agar mampu membuat susunan kata yang relevan dan mampu mempengaruhi jamaah agar tertarik dengan apa yang kita sampaikan.
- Selanjutnya para dai dan pendakwah perlu memperhatikan penampilan mereka, seperti berpakaian rapi dan sopan, berbaur dan bersosial secara langsung dengan jamaah dan masyarakat untuk menjalin kedekatan yang baik dengan jamaah dan masyarakat.
Dengan memperhatikan teknik retorika dalam kegiatan dakwah, para dai dan pendakwah dapat meningkatkan efektivitas dan kualitas dakwah mereka. Hal ini akan membantu mereka mempengaruhi audiens dengan lebih baik dan menyebarkan ajaran agama dengan lebih luas dan efektif.
Daftar Pustaka
- Abdi, H. (2021, December 17). Macam-Macam Dakwah, Pengertian, dan Unsur-unsurnya dalam Islam. Liputan6.com. https://www.liputan6.com/hot/read/4769793/macam-macam-dakwah-pengertian-dan-unsur-unsurnya-dalam-islam
- Abdurrahman, H. (2015). Mafahim Islamiyyah: Pokok-pokok Pemikiran Islam.
- Maharani, A. (2022). Retorika Dakwah. Guepedia.
- Mahsun, M. (2017). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan, Strategi, Metode, dan Tekniknya. http://eprints.unram.ac.id/29724/1/KUM%20C2.%20Buku%20Metode%20Peneltian%20Bahasa.pdf
- Pirol, A. (2017). Komunikasi dan Dakwah Islam. https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=3QCJDwAAQBAJ
- Prakoso, L. (2021). Deskriptif Kualitatif Methode.
- Rakhmat, J. (2004). Retorika Modern: Pendekatan Praktis.
- Sukayat, T. (2019). Ilmu Dakwah Perspektif Filsafat Mabadi 'Asyarah (I. T. Nugraha, Ed.; 2nd ed.). Simbiosa Rekatama Media.