Langsung ke isi

Relativitas Kebenaran dalam Spektrum Dakwah

Dalam era modern yang pluralistik , kebenaran seakan menjadi subjektif dan terfragmentasi. Masalah ini memunculkan diskusi mendalam tentang bagaimana mendefinisikan, menyampaikan, dan mempromosikan kebenaran Islam dalam konteks dakwah yang beragam.…

Dalam era modern yang pluralistik, kebenaran seakan menjadi subjektif dan terfragmentasi. Masalah ini memunculkan diskusi mendalam tentang bagaimana mendefinisikan, menyampaikan, dan mempromosikan kebenaran Islam dalam konteks dakwah yang beragam. Sebagaimana diungkapkan John L. Esposito (Esposito, 2018), tantangan terbesar bagi Islam saat ini adalah mempertahankan kebenaran fundamental sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat modern yang beragam.

Masyarakat modern diwarnai oleh keberagaman budaya, agama, dan ideologi yang signifikan. Setiap kelompok memiliki perspektif sendiri tentang kebenaran. Hal ini menimbulkan tantangan bagi dakwah dalam menyampaikan kebenaran Islam tanpa menafikan keberagaman tersebut (Moosa, 2022). Kebenaran seringkali diinterpretasikan secara berbeda oleh setiap individu atau kelompok, bergantung pada latar belakang dan pra-anggapan mereka. Ini menciptakan potensi konflik antara kebenaran objektif dalam dakwah dengan interpretasi subjektif (Karim, 2020). Selain itu, dalam konteks global, benturan dapat terjadi antara kebenaran universal dalam dakwah dengan nilai-nilai budaya setempat yang dianggap relatif (Esposito, 2018). Perkembangan rasionalisme dan sekularisasi juga telah mempengaruhi cara pandang masyarakat modern terhadap kebenaran, menantang klaim kebenaran agama dalam dakwah Islam (Karim, 2020).

Dalam filsafat, relativitas kebenaran menjadi topik perdebatan panjang. Realisme menegaskan kebenaran objektif, sementara relativisme menyatakan kebenaran bersifat relatif. Pragmatisme menekankan kebenaran dilihat dari manfaatnya, sedangkan koherentisme menyatakan kebenaran harus koheren dengan sistem kepercayaan seseorang (Esposito, 2018). Menurut Naquib Al-Attas (Al-Attas, 1995), "Kebenaran dalam Islam absolut, namun pemahaman manusia bersifat relatif". Pandangan ini sejalan dengan prinsip realisme, bahwa kebenaran objektif ada meski interpretasinya beragam.

Etika dakwah berperan penting mengatasi relativitas kebenaran. Ismail Raji Al-Faruqi (Al-Faruqi, 1992) menyatakan "Dakwah harus didasarkan prinsip-prinsip etika kuat, seperti kejujuran, penghargaan keberagaman, dan dialog terbuka". Tariq Ramadan (Ramadan, 2009) menyerukan kontekstualisasi dakwah tanpa mengorbankan prinsip utamanya. Menurut Ebrahim Moosa (Moosa, 2022), dakwah harus menggunakan pendekatan dekolonial, membebaskan Islam dari pemahaman yang bias dan mendorong pembaharuan sesuai dengan semangat ajarannya.

Relativitas kebenaran merupakan tantangan nyata dalam dakwah di era modern. Namun, dengan memahami perspektif filosofis tentang kebenaran dan menerapkan prinsip-prinsip etika dakwah, para da'i dapat menyampaikan kebenaran Islam secara efektif dan diterima luas. Pendekatan yang kontekstual, beretika, dan mencerminkan semangat pembaharuan Islam memungkinkan kebenaran Islam diapresiasi tanpa menafikan keberagaman pandangan dan budaya.

Daftar Pustaka:

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.

Al-Faruqi, I. R. (1992). Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life. IIIT.

Esposito, J. L. (2018). Islam and Modernism. Oxford University Press.

Karim, M. R. (2020). Debating Modernity: Islam and Western Values. Cambridge University Press.

Moosa, E. (2022). Decolonizing Islam. Cambridge University Press.

Ramadan, T. (2009). Radical Reform. Oxford University Press.

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Relativitas Kebenaran dalam Spektrum Dakwah. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca